KIM MYUNGSOO FANFICTION

Still Ya!

SY

B2utyInspirit presents

Still Ya! |

| Kim Liah |

|Ficlet|

| Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Kim Taehyung |

| Romance, Tragedy |

| PG-18 |

|Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) |

Lemme have third chance!

Kim Myungsoo

Ntah mengapa kedua kakiku membawaku ke tempat ini bahkan aku tak menyadarinya jika kamera DSLR-ku tak kehabisan baterai. Taman Yeuido, bagaimana bisa aku berani menginjakkan kakiku disini lagi? Tenang Myungsoo, tenang, anggap saja ini adalah sebuah taman yang baru kau kunjungi. Benar, aku baru saja mengunjungi taman ini setelah sepuluh tahun lamanya.

Yaa, apa ini? Pandanganku memburam seiring gumpalan air mata memadati kelopak mataku. Aku selalu menanamkan satu hal yang memang wajib aku lakukan. Jangan menangis dan jangan mengingat kisah lama. Namun sepertinya hal itu tak berlaku ditempat terkutuk ini.

Aku tertawa getir dan mendudukkan pantatku disebuah bangku taman yang terletak dibawah pohon sakura. Suasananya masih sama, angin musim gugur menerbangkan kelopak bunga sakura dan menghujaniku bunga berwarna merah muda itu.

Merah muda, dia teramat menyukai warna yang terkesan childish ini. Bahkan ia tak pernah bosan memakai warna yang sama namun dengan perpaduan warna lain yang tak terlalu kentara. Samar-samar aku seperti tertarik kembali ke waktu 10 tahun lalu.

Gadis bergaun putih dengan aksen sakura merah muda itu tengah berdiri bosan menungguku. Bagaimana bisa dia memakai gaun setipis itu dicuaca dingin ini? Angin musim semi bisa membuatnya sakit nanti.

“Pabo, Myungsoo pabo” dia memakiku seraya menendang-nendang kelopak sakura yang nampak menggunduk dibawah kakinya. Dia menghela nafas lalu meringkuk memeluk kedua lututnya, sepertinya dia mulai kedinginan.

“Jiyeonie, mianhae” aku samakan posisiku dengan berjongkok didepannya tepat didepan bangku taman itu. “Kau pasti kedinginan” aku tarik syal merah dileherku dan hendak melingkarkannya dileher Jiyeon, namun syal itu malah terbang jatuh ke tanah dan sosok Jiyeon turut menghilang pula.

Aku pungut syal itu dan menepuk tanah yang menempel padanya. Senyum tipis melengkung diwajahku. “Neo eodiya, Jiyeonie? Mwo haseyo Jiyeonie?” aku amati syal merah yang kini berada dalam pangkuanku “Apa kau juga merindukanku?” kuremas syal itu dengan kuat, ingin sekali aku memeluk tubuh kurus itu “Apa kau juga ingin kupeluk, Jiyeonie?” dan tiba-tiba kurasakan tubuh dingin itu berada dalam pelukanku.

Erat sekali pelukannya seakan dia tak ingin jauh dariku. “Yaa pabo Jiyeonie, kau hampir saja membuatku berhenti bernafas” air mata bahagia kembali menetes membasahi bahu Jiyeon “Kau bahkan terus menyiksaku dengan bergelut dalam kepalaku. Meski aku mencoba menghapusnya, kau akan tetap kembali lagi seperti sekarang” sungguh kali ini aku terlalu cengeng seperti anak perempuan.

Jiyeon melepas pelukannya lalu tersenyum sangat manis kepadaku. Ntah mengapa senyumnya itu serasa seperti sebuah kata perpisahan. Dia bangkit berdiri dan hendak memunggungiku. “Hajima, jebal Jiyeonie, jangan tinggalkan aku. Aku akan berubah, aku.. aku tak akan mengabaikanmu lagi. Jincha yaksokae Jiyeonie” aku kehilangannya begitu luka yang kutabur semakin dalam.

Jiyeon menepuk punggung tanganku dan kembali tersenyum padaku hingga tiba-tiba sosok itu sirna begitu saja dari hadapanku. Seperti orang kehilangan arah, kupendarkan pandanganku ke segala sudut taman ini dan meneriakkan namanya sekencang mungkin. “Jiyeonie, eodieya? Eodieya?” hingga kurasakan seseorang memeluk pundakku dan turut berjongkok disampingku.

Sosok bertopi rajut ini mirip sekali dengan Jiyeon “Geumanhe, jebal geumanhe” kenapa gadis ini menangisiku seperti ini? “Berhentilah menyiksaku Myungie-ya, berhentilah hidup dalam penyesalanmu ini” dia seenaknya menarik kedua tanganku untuk mendakup wajahnya.

Ajaib, gadis ini sangat mirip sekali dengan Jiyeon. Senyum kagumku luntur begitu aku sadar kalau dia bukan Jiyeonie-ku. “Yaaa” kudorong bahunya hingga dia terpental ke tanah “Jangan mencoba meniru Jiyeonie-ku. Jiyeon hanya satu dan itu bukan kau” geram sekali aku dengan kepura-puraan gadis penipu ini, dia kira aku setolol itu?

Ada sosok lain disana tengah memapah gadis itu untuk bangkit berdiri, bahkan dia menepuk gaun ungu gadis itu. “Taehyung-a, jauhi dia. Dia itu penipu” aku tarik lengan adikku itu “Kajja, kurasa kau bisa mengantarkanku pulang”

Park Jiyeon

Hal buruk yang tak pernah terpikirkan olehku terjadi juga, seharusnya aku bahagia dengannya memulai hidup baru kami. Tepatnya hidup baruku yang mencoba cara lain untuk lebih dekat dengan Tuhan dengan mencintai dan menerima Myungsoo sebagaimana hati ini berkata mantap.

Namun ntah bagaimana bisa tiba-tiba Myungsoo mengingat hari dimana aku menjadi gadis paling bodoh sedunia, menolak lamaran Myungsoo dan membohongi diriku sendiri bahwa aku membutuhkan Myungsoo.

Mungkin kalau di film imajinasi manusia, pria amnesia itu akan tersadar dan memaafkanku. Namun berlawanan dengan Myungsoo, kemungkinan terburuk yang dikatakan dokter itu yang kini menimpa Myungsoo. Hati dan pikirannya tidak bisa menerima fakta penolakanku meski kini aku sudah menerimanya dengan sepenuh hati.

Kontra batin dalam dirinya membuatnya semakin tersiksa hingga dia menganggapku tak ada. Dia selalu berbicara sendiri dan seperti tak melihatku. Akan tetapi ia juga slalu bergumam seolah tengah berbicara padaku, menyesal mengabaikanku. Memangnya kapan dia pernah mengabaikanku? Bukankah aku yang sudah mengambaikan cinta tulusnya hingga membuatnya mengalami amnesia?

“Noona, kajja” Taehyung, adik Myungsoo itu kembali lagi membantuku dan sekarang kami sedang menjalankan rencananya dengan membawa Myungsoo ke lokasi kenangan kami. “Tenanglah, aku yakin kita akan berhasil. Bukankah ini tempat favorite kalian?” dia menunjuk Myungsoo yang tengah berjalan santai disekitar taman Yoeudo dengan menenteng kamera DSLR-nya. Dia nampak tampan sekali dengan jas merah muda itu, tersenyumlah selalu Myungie-ya dan segeralah sembuh.

Namun tiba-tiba kebiasaan anehnya muncul, dia berbicara sendiri lagi. Sekarang dia melingkarkan syal ke benda tak terlihat yang tentu saja berakhir jatuh ke tanah. Kedinginan? Apa dia mengingat waktu dia membuatku menunggu lama? Bahkan sekarang dia memeluk angin dan menangis tersedu. Bagaimana bisa dia menyuruhku jangan pergi sementara dia sendiri yang kini telah pergi ke dunia asingnya dan meninggalkanku dalam penyesalan seperti ini.

Aku tak tahan melihatnya seperti orang gila, aku harus menyadarkannya. “Noona” Taehyung nampak melarangku menghampirinya. Namun sikeras kepala ini memilih memeluk Myungsoo dengan erat.

“Geumanhe, jebal geumanhe. Berhentilah menyiksaku Myungie-ya, berhentilah hidup dalam penyesalanmu ini”

Dia nampak mengamatiku erat seolah aku ini orang asing baginya. “Jangan mencoba meniru Jiyeonie-ku. Jiyeon hanya satu dan itu bukan kau” dia bahkan mendorongku hingga terduduk ditanah.

Namun dengan sigap Taehyung membantuku berdiri dan hal ini membuat Myungsoo kesal.

“Taehyung-a, jauhi dia. Dia itu penipu. Kajja, kurasa kau bisa mengantarkanku pulang” dia menarik Taehyung menjauh.

Tiba-tiba Taehyung menghempas tangan Myungsoo dan sorot kemarahan nampak jelas dimatanya. “Geumanhe hyung! Kau…” dia mendorong dada Myungsoo “Kau yang menipu dirimu sendiri. Kau yang menyiksa dirimu sendiri dan menyiksa Jiyeon noona” kali ini dia mengguncang bahu Myungsoo “Sadar hyung, sadar! Jiyeon noona masih bisa kau lihat, dia disini, dia tak meninggalkanmu, dia selalu menunggumu” ulah Taehyung itu membuat Myungsoo memegangi kepalanya yang sepertinya terasa sakit lagi.

“Myungie-ya, gwaechana?” lagi-lagi dia menolak uluran tanganku yang mencemaskannya.

“Cukup noona, biarkan dia mencari tahu sendiri ingatan mana yang benar dan ingatan mana yang palsu”

“Keundae Taehyung-a, aku… dia…” Taehyung merangkul bahuku untuk berjaga-jaga jika aku akan terkapar ke tanah.

Dengan teganya Taehyung membiarkan Myungsoo mengeluh kesakitan begitu. “Semua akan baik-baik saja noona”

“Anni” aku hempas rangkulannya dan memeriksa keadaan Myungsoo yang kini berlutut memegangi kepalanya “Mianhae Myungie-ya, mianhae. Aku.. aku tak akan membohongimu lagi, aku tak menyakitimu lagi. Jadi kumohon tenanglah, jebal” tak lama kemudian dia terjatuh dalam pangkuanku, rasa sakitnya membuatnya pingsan “Myungie-ya” teriakanku seakan merenggut pita suaraku saking tak menggemanya.

“Hyung” Taehyung mengangkat Myungsoo ke punggungnya dan membaringkannya di bangku taman.

“Ini semua salahmu Taehyung-a, jika saja aku..”

Taehyung mencoba memeriksa denyut nadi Myungsoo dan mendengarkan detak jantungnya. Untung saja dia sudah memperkirakan kemungkinan buruk yang akan terjadi, tas yang dia bawa ternyata berisi obat-obatan. Dia oleskan sebuah minyak kayu putih ke hidung Myungsoo dan tak berapa lama kemudian Myungsoo tersadar.

“Myungie-yaaaa” segera saja aku genggam erat tangan Myungsoo “Mianhae, jeongmal mianhae. Geurae, aku tak akan mengusikmu lagi. Selama kau masih bisa menghirup nafas, aku akan membiarkanmu hidup dalam dunia fanamu itu.”

Ekpresi diwajah taehyung menandakan kalau dia sangat tidak setuju dengan pengutaraanku tadi. “Sudahlah noona, sebaiknya kita bawa Myungsoo hyung..” dia hendak membantu Myungsoo berdiri namun Myungsoo menghempasnya.

“Aku sehat Taehyung-a” Myungsoo menegakkan badannya duduk bersandar dibangku taman “Jadi..” dia menunduk menatap manik mataku yang sudah sembab air mata “…kau lebih memilih aku jadi pria tak waras?” kenapa dia berkata seperti ini?

“Hyung kau…” Myungsoo tak membiarkan Taehyung melanjutkan kalimatnya.

“Apa kau yakin akan meninggalkanku dan tak akan menemuiku lagi?”

Aku mengangguk dalam keraguanku, ini demi kesembuhan Myungsoo.

Namun gelak tawa meremehkan membuatku semakin bingung “Jadi kau akan mencari pria lain dan membuatku ditolak untuk yang kedua kalinya?”

“Kau…” ada apa dengan Myungsoo?

“Sekali lagi aku tanya padamu, APA… KAU… YAKIN … AKAN MENINGGALKANKU?”

Aku hampir berkata iya sebelum dia mengambil jarak dengan manutkan bibirnya untuk mengecup bibirku singkat. “Aku tak akan pernah melepasmu, selamanya” melihat ekspresiku yang masih seperti orang linglung, dia mencubit pelan pipiku “Yaa, Park Jiyeon, na-ya Myungsoo, Kim Myungsoo, pria gila yang pernah kau tolak lamarannya lalu kau terima kembali dan malah berakhir semakin gila lagi.”

Taehyung seperti memberiku kemantapan bahwa didepanku sekarang adalah Myungsoo-ku yang dulu, Myungsoo-ku yang sudah mengingatku dan tak mempermasalahkan penolakanku. “Sepertinya aku memang harus pergi” dia menunjuk seorang gadis berkaos merah yang ntah sejak kapan tengah mengamati kami “Kajja Nahyun-a, tugasku sudah selesai” mungkin dia kekasihnya karna dia merangkul pinggal gadis itu dan membawanya pergi dengan mobilnya.

“Yaa Park Jiyeon, apa kau akan benar…”

“Eoh, narang gyeolhon hae jullae, Myungie-ya?”

Senyum menggodanya diwajah dinginnya itu menjawab semua pertanyaan lantangku. “Eoh gyeolhon hae ja” dan Tuhan masih memberiku kesempatan lagi, meski aku sudah menduakannya sesaat jika tengah bersama Myungsoo.

Advertisements

2 responses

  1. myungsoo sembuhhhh..
    daebakk!! kirain tadinya jiyeon udh meninggal~ ternyata myungsoonya yg error..

    March 3, 2015 at 1:24 pm

  2. mels

    Daebak, percaya atau tidak aku juga pernah kepikiran cerita myungyeon ky gini. Aku kira juga jiyeonnya udah meninggal, hahahaaaaa. Keren!

    June 6, 2015 at 5:59 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s