KIM MYUNGSOO FANFICTION

Love Him Not

LMN

B2utyInspirit presents

| Love Him Not |

| Kim Liah |

|Ficlet|

| Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Kim Taehyung |

| Romance |

| PG-18 |

|Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) |

Tuhan, apa aku salah telah jatuh cinta padanya?

Kim Myungsoo

Sayup-sayup aku gerakkan kelopak mataku untuk melihat setitik cahaya yang kian lama semakin terlihat jelas dimataku. Kepalaku terasa pening, tubuhku juga terasa kaku digerakkan. Nampak seorang gadis tengah berteriak menggemakan nama dokter sehingga tak berapa lama kemudian seorang pria berseragam putih dan juga seorang perawat menghampiriku. Tangan dokter itu cekatan memeriksa mataku lalu mengamati layar kotak berisi rekaman denyut nadi dan jantungku.

Tangan dokter itu membentuk angka 3 “Bisa kau sebutkan ini angka berapa?” ia nampak menunggu jawaban bodoh itu terucap dari mulutku. Tentu saja aku tahu itu angka 3, meskipun aku sakit aku tidak setolol itu dokter.

“Tiga”

“Siapa namamu?”

Lagi-lagi aku ingin tertawa jika urat tawaku tak sekaku ini “Myungsoo, Kim Myungsoo” aku berusaha meminta bantuan pada gadis yang sedari tadi nampak menghela nafas lega setelah mengetahuii keadaanku “Jiyeonie, aku sehat.. dan aku tahu semua tentang jati diriku. Bukankah kemarin aku baru saja melamarmu? Kenapa aku tiba-tiba berada disini?” ntah kenapa wajah Jiyeon nampak menegang.

“Agashi bisa kita bicara sebentar?” Jiyeon mengekor dibelakang dokter itu dan kembali meninggalkanku sendirian dikamar beraksen serba putih serta berbau obat ini.

Park Jiyeon

“Park agashi, seperti yang anda saksikan tadi” dokter dihadapanku ini nampak mengambil jeda, aku tahu apa yang akan dia katakan padaku “Pasien Kim Myungsoo mengalami amnesia sementara. Dia kehilangan sebagian ingatannya. Apa benar dia pernah melamar anda?” selidiknya.

“Noona, uisangnim, bagaimana keadaan kakak saya?” Taehyung, adik Myungsoo nampak cemas dan teramat ingin tahu kondisi kakaknya.

“Benar uisangnim, dia pernah melamar saya” mungkin benar jika aku menyesal karna menolak lamaran itu, bukan menyesal karna tidak bisa menjadi istrinya. Tapi menyesal karna berakibat seperti ini.

“Jadi noona-lah penyebab kecelakaan ini?” benar sekali, mungkin jika aku tak melukai perasaannya, dia tak akan pulang dalam keadaan terpuruk dan kecelakaan yang sudah membuatnya terbaring kaku 2 minggu ini juga tak akan terjadi padanya.

“Mianhae Taehyung-a, noona…” alasan terbesarku menolaknya bukan karna aku tak mencintainya atau aku tak ingin menikah dengannya, tapi Tuhan. Aku sudah berjanji kepada Tuhan bahwa aku akan mengabdikan diriku dan mengesampingkan cinta

“Untuk bisa mengembalikan ingatannya kembali, kalian berdua harus membuatnya nyaman dan jangan sampai mendengar kabar yang bisa mengguncang pikirannya. Jika sekali saja dia terguncang, ini bisa berakibat fatal pada kesembuhannya. Depresi berat bisa membuatnya melakukan hal buruk” ini artinya Myungsoo tidak boleh tahu kalau aku sudah menolak lamarannya bahkan memintanya melupakanku.

Aku bangkit berdiri menunduk kecil untuk berpamitan kepada dokter itu karna aku tak mau mendengar anjuran lainnya yang semakin membuatku bingung. Ada janji lain yang aku ucapkan begitu aku melepas Myungsoo, janji dimana aku tak akan lagi menemui maupun menjalin hubungan lagi dengannya.

“Noona” sebuah tangan mencengkeram lenganku “Apa kau akan semakin berbuat kejam pada Myungsoo hyung? Apa kau tak bisa membantunya mengembalikan ingatannya?” pria yang mempunyai kemiripan dengan Myungsoo ini nampak tersenyum kecut “Kau bilang kau seorang ahli ibadat, bukan begitu?” jelas sekali dia sedang mengejekku.

Aku mengangguk “Mianhae Taehyung-a, aku harus pulang sekarang” kugunakan tangan kananku untuk melepas genggaman itu dari lengan kiriku.

“Lalu untuk apa selama 2 minggu ini kau mengunjungi Myungsoo hyung?” ucapan itu menahan langkah kakiku “Jika kau ingin melihatnya mati seharusnya dari awal kau tak menjenguknya apalagi mengkhawatirkannya dalam setiap doamu” bagaimana bisa Taehyung tahu kalau untain doa terbesarku adalah kesembuhan Myungsoo “Kau harus mengakuinya noona, kau mencintai Myungsoo hyung. Kau teramat mencintainya, itulah yang terpancar dikedua matamu” terdengar langkah kaki yang menandakan kepergian Taehyung.

Aku terduduk lemah bersandar pada sebuah tiang bangunan, semua yang Taehyung katakan memanglah benar. Aku mencintainya, aku selalu mendoakannya dan aku selalu menantikannya. Tapi cintaku padanya tak sebesar cintaku pada Tuhan. Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Apa?

Kim Myungsoo

Taehyung kembali memasuki kamarku namun dia sendirian tanpa Jiyeon. Kini dia nampak memaksakan senyum konyolnya dan mengupaskan sebuah jeruk untukku.

“Kenapa kau sendirian? Dimana…” belum sempat aku melanjutkan kalimatku, sebuah potongan jeruk sudah mendarat ke dalam mulutku.

“Dokter bilang kau harus makan yang banyak hyung” Taehyung kembali menyuapiku jeruk kali ini setengah bulir jeruk utuh sehingga membuatku susah berbicara.

“Jiyeon… dimana dia” aku kesulitan mengucapkan kalimat singkat ini karna bulir jeruknya memenuhi mulutku.

“Hyung, bagaimana kalau aku mengenalkanmu dengan noona cantik kenalanku?” kenapa anak ini tiba-tiba berkata seperti ini? Apa dia lupa kalau aku sudah punya Jiyeon? Ya walau hubungan kami belum jelas karna aku sama sekali tak ingat jawaban atas lamaranku itu.

“Sepertinya kau tertular benturan dikepalaku ini” aku tunjuk perban yang masih melilit keningku “Jiyeon itu adalah noona tercantik yang pantas menjadi kakak iparmu” memang ada tak ada gadis lain secantik Jiyeon.

“Anni, banyak gadis yang lebih cantik darinya”

“Yaa kau ini kenapa?” aku lempar kulit jeruk ke wajahnya “Apa kau lupa kalau aku hanya mencintai Jiyeon saja? Bahkan aku sudah melamarnya, MELAMARNYA”

“Kau hanya melamarnya bukan menikahinya hyung” seenaknya Taehyung kembali meninggalkanku sendirian dikamar inapku ini

*

Seminggu setelah kesadaranku, kini aku sudah dijinkan pulang kembali ke rumah. Namun perban ini masih menempel dikepalaku. Sudah seminggu pula Jiyeon tak mengunjungiku, telponku tak pernah diangkat olehnya bahkan Taehyung juga tak membantuku karna dia nampak acuh dengan keberadaan Jiyeon.

“Kajja” aku sudah duduk dibangku samping kemudi dan adikku itu tengah memutar kunci mobil dan menset tujuan kami pergi melalui GPS.

“Taehyung-a, bisa kau antarkan aku ke rumah Jiyeon?” ntah mengapa aku merasa Taehyung pura-pura tak mendengarku dan malah menyalakan musik dengan kencang “Yaa Taehyung-a, putar kemudinya” dengan gilanya kuputar kemudi itu ke arah kiri untuk menapaki jalan menuju rumah Jiyeon.

Dan sebuah decit rem terdengar “Hyung, apa akalmu sudah terkontaminasi dengan wanita khusuk itu?” nampak sekali kemarahan disetiap ucapan Taehyung “Kita bahkan bisa mati jika aku tak tanggap menginjak rem” memang kami hampir saja menghantam sebuah truk besar didepan kami.

Tapi kenapa Taehyung berbicara sekasar ini mengenai Jiyeon. Memangnya salah jika Jiyeon rajin beribadah? “Apa begini caramu berbicara mengenai kakak iparmu? Aku sungguh tak mengerti kenapa kau tiba-tiba membenci Jiyeon” benar sepertinya Taehyung memang membenci Jiyeon.

“Sudahlah kita pulang saja” Taehyung hendak memutar mobilnya.

“Baiklah kau pulang saja dulu, aku bisa ke sana dengan taksi”

Jelas sekali bibir Taehyung hendak mengumpatiku sesuatu namun dia urungkan dan malah melajukan mobilnya menuju tujuan yang kuminta.

Park Jiyeon

Kegiatan rutin yang kulakukan disore hari seperti ini, memanjatkan doa kepada Tuhan dan mendekatkan diri padanya dengan melafalkan pujian-pujiannya. Sama seperti hari-hari lainnya, doaku tak pernah khusuk karna pikiranku terbagi dua. Niat awalku untuk semakin berserah diir padanya bahkan terpecah oleh perasaan yang disebut cinta itu. Myungsoo, kenapa pria itu selalu mengganggu ketenangan beribadahku?

Aku rasakan seseorang tengah duduk disampingku sehingga mau tak mau aku membuka mataku. Senyum indah itu, mata elang itu, apa aku sedang berhalusinasi sekarang? Bukankah aku meminta agar dijauhkan darinya, Tuhan?

“Jiyeonie, apa kau sudah selesai beribadah? Aku ingin menanyakan sesuatu padamu?” bagaimana bisa dia tahu aku ada disini?

“Myungsoo?”

“Eoh, Na-ya Kim Myungsoo. Memangnya ada pria lain berwajah sepertiku?” yang mampu kulakukan adalah menghindarinya dengan cara menjauhinya “Yaa, kenapa kau seaneh ini?” ia lingkarkan tangannya memeluk punggungku.

“Ini tempat ibadat, kau tak boleh bersikap seperti ini disini” aku berusaha menghempas pelukannya hingga ia melonggarkan pelukan itu. Tanpa berkata sepatah katapun aku segera berlari keluar ruangan sakral itu dan langkahku kembali terhenti dengan sosok dingin penuh kebencian dihadapanku, Taehyung.

“Apa kau tak lelah terus berlari noona?” Taehyung masih bersandar dikap mobil merahnya “Aku bahkan terlalu bingung dengan caramu berpikir itu”

Nampak Myungsoo menghela nafas lega “Kerja bagus Taehyung-a” ia menggenggamkan jemarinya ke jemari kananku “Kau tak akan bisa pergi lagi Jiyeonie” senyumnya nampak tulus dan memancarkan kebahagiaan “Aku bahkan belum menanyakan pertanyaanku, tapi kau malah pergi begitu saja” tangan kanannya yang bebas membelai pipiku “Park Jiyeon, will you marry me?”

Aku nampak gugup dan sedikit gemetaran mendengar pertanyaan itu lagi. Haruskah aku menjawab tidak seperti dulu?

“Kau tak sebodoh itu noona untuk mengulang kesalahan yang sama”

Myungsoo nampak mendelik melempar deathglare-nya kepada adiknya “Mwoya?” mungkin dia berpikir bahwa dulu aku juga menerimanya sehingga dia sedikit terusik dengan perkataan Taehyung yang terdengar menyebalkan sekali.

“Mungkin kali ini Tuhan akan benar-benar mengambilnya jika terulang lagi”

“Yaa kau ini bicara apa? Memangnya apa yang Tuhan pernah ambil?” Myungsoo bahkan hampir melepas sepatunya dan melemparkannya ke kepala Taehyung.

Aku memejamkan mataku seolah tengah berkomunikasi dengan Tuhan “Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” kubuka mataku dan menatao kedua kakak beradik itu.

“Cinta itu angurah dari Tuhan, ingat itu noona”

Maafkan aku Tuhan jika aku melanggar janjiku, aku mencintainya, aku sungguh mencintainya. Aku anggukkan kepalaku dan memeluknya erat. Mungkin benar jika aku ingin lebih mendekatkan diri pada Tuhan, tapi mencintai juga sebuah jalan untuk lebih dekat pula dengan Tuhan.

“Saranghae Myungsoo-ya” kalimat itu mantap terucap dibibirku seiring dengan kepergian Taehyung yang meninggalkan kami berdua larut dalam kebahagiaan.

Advertisements

One response

  1. Mengabdikan diri dan mencintai Tuhan ada banyak cara. Tidak harus menjadi biarawati, salut sama cerita ini. Jarang jarang ada yang mengangkat tema seperti itu.

    March 2, 2015 at 8:32 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s