KIM MYUNGSOO FANFICTION

SWEET SCANDAL (Part 2)

sweet-scandal-screine

SWEET SCANDAL (Part 2)

Clairsaca

Poster by: rosaliaocha

Main Cast: Bae Suzy, Kim Myungsoo | Other Cast: Miss A member, Infinite member | Genre: Romance, Mature, Comedy, Sad | Rating: PG-16 | Length: Chaptered

Note: FF ini menggunakan Suzy POV. Jika tulisan bercetak tebal, maka itu merupakan Author POV.

SEBELUMNYA

Aku mendudukkan diriku di depan mejaku begitu aku sampai di kantor. Mendapatkan tatapan mata seperti itu saja sudah membuatku lelah, apalagi nanti dengan komennya tentangku. Aigoo~ kalau begini lebih enak untuk mewawancarai k-actor. Mereka semua ramah. Walaupun aku tidak meliput kehidupan pribadi mereka, hanya mewawancarai mengenai kejadian yang menimpa mereka. Tapi, heyy.. jika diwawancari karena ada seusatu bukankah lebih menyakitkan, daripada meliput tentang keseharian mereka yang tidak ada hubungannya dengan rumor ataupun gossip mereka sendiri. Astagaa~ pulang dari sana, aku membuat pikiran yang berat seperti ini.

“bagaimana? Apa dia memberikanmu izin untuk meliput tentang dirinya?” Tanya Min eonni padaku.

Aku hanya menggelengkan kepalaku lemah.

“kalau tanda tangannya? Ohh.. ayolah, pasti sebelum itu, dia sempat memeberikanmu tanda tangannya kan?” tanyanya lagi kali matanya dipenuhi dengan cahaya-cahaya.

Aku masih saja menggelengkan kepalaku, tidak memedulikan tatapannya yang penuh harapan itu.

“ohhh.. astaga.”

Aku hanya menganggukkan kepalaku.

“ohh.. astaga.” Gumamku juga sembari meletakkan kepalaku di atas meja.

“bagaimana hari ini, Bae Suzy?” tanya Fei sunbae begitu sampai di meja kerjaku.

Aku menegakkan tubuhku di kursi, lalu menatapnya dengan mata puppy eyes. Aku memohon agar diberikan pekerjaan lain saja. Walaupun tidak full cover, tidak masalah.

“ahaa.. tidak ada satupun karyawan disini yang boleh menggunakan mata itu.” Jawabnya seolah dia tau apa yang terjadi.

“tapi, sunbae.. dia mengusirku.”

“dan kau menurutinya? Seorang jurnalis tidak akan dikatakan jurnalis, jika bahan artikelnya tidak selesai. Apalagi itu full cover. Ahh.. no, no.” tegurnya lagi.

“tapi, sunbae..”

“tidak ada tapi-tapi. Kau pasti punya jalan keluar untuk ini kan?” senyumnya padaku seolah berkata ‘kau akan berlibur panjang lagi, jika yang satu ini tidak selesai’. Dan seketika itu juga membuat bulu kudukku naik.

“ahh.. n.. ne, sunbae.” Jawabku ketakutan.

———-

“aku pulang” ucapku begitu sampai di apartementku.

“Selamat datang.” Balas seseorang dari arah dapur.

“eonni.. Kau sudah pulang? Tumben cepat sekali.” Tanyaku begitu sampai di dapur dan menemukan Jia eonni sedang memasak disana.

“eoh.. Proyekku sudah selesai dan dikasih waktu untuk liburan.”

Seketika mendengar kata liburan, aku menelan salivaku dengan suah payah. Aku teringat dengan ucapan Fei sunbae. Walaupun dia tersenyum manis, tapi kata-katanya masuk dan tersimpan di otakku.

“bagaimana denganmu? Apa masih libur makanya pulang cepat lagi?” tanya Jia eonni masih focus dengan kegiatannya.

“aniya.. aku sudah dikasih tugas untuk artikel baru dan itu full cover.”

“mwo?! Jnjja?! Chukkae!” balasnya girang.

“geunde eonni, orang yang sekarang lebih susah diajak kerjasama.”

“hmm.. emang siapa dia? sampai dia tidak mau kerjasama dengan adikku ini?”

“L Infinite.” Jawabku lemas.

“YA~! JINJJA?!”

“eohh..” jawabku lemas lagi.

“aigoo~ mungkin aku bisa mengajak mereka kerjasama melalui kau jika aku memiliki proyek dari departementku.”

“aihh~ minta diwawancarai saja payah. Apalagi, minta kerjasama untuk proyekmu.”

Jia eonni, dia adalah kakak tiriku. Appaku menikah lagi dengan yeoja asal China, yang merupakan eomma dari Jia eonni sesudah 5 tahun kepergian eommaku dari dunia ini. Lalu kami memutuskan untuk tinggal berdua, terpisah dari appa dan eommaku. Agar mereka berdua bisa menikmati masa tua mereka dengan romantis. Setelah itu aku memutuskan untuk menjalani cita-citaku menjadi jurnalis. Sedangkan Jia eonni sekarang bekerja sebagai pegawai sipil negri, di department budaya dan seni.

“memangnya ada masalah apa sampai dia menolak untuk diwawancarai?”

“lebih buruk dari menolak, dia mengusirku mentah-mentah.” Aduku.

“jinjja? Hmm.. mungkin dia trauma pada jurnalis dan reporter.”

Aku langsung menatap Jia eonni dengan tatapan penasaran sekaligus bingung. Trauma? Apa dia memiliki trauma terhadap orang semacam kami? Tapi kenapa dia trauma? Bukankah kami membantunya menaikkan popularitasnya?

“maldo andwae.. kami yang seorang jurnalis dapat membantunya untuk menaikkan popularitasnya.”

“who knows? Bisa sajakan? Tidak ada yang tidak mungkin, sayang.”

Benar juga kata eonni. Bisa saja dia diam-diam memiliki trauma terhadap kami dan kami para jurnalis tidak mengetahuinya. Tapi kenapa dia bisa traumanya?

“Bagaimana kalau kita jalan berdua di sungai han? Sudah lama rasanya.” Tawar Jia eonni sembari tersenyum manis.

“makan malam?”

“kita makan malam disana saja. Piknik malam..” jawabnya sembari mengeluarkan kekehen kecil.

———-

Masih dalam suasana malam hari. Di lain tempat di kawasan Cheongdamdeong, seorang namja bermata elang berdiri di balkon apartementnya. Matanya yang tajam menulusuri setiap sudut kota Seoul. Tapi sepertinya tatapan matanya itu kosong, dan seperti memikirkan sesuatu.

FLASHBACK

“Aku benci dengan kehidupan idolmu itu.”

“dengarkan aku dul..”

“apa kau tidak tau? Aku lelah bersembunyi dari reporter, dan jurnalis.”

“kita bisa.. kita harus..”

“tapi aku muak dengan ini semua. Kau tidak tau? Reporter dan jurnalis itu.. setiap menemukanku, mereka bertanya hal-hal yang menyakitkan.”

“aku tau.. ma..”

“terlebih lagi gara-gara jurnalis dan reporter itu, aku mendapatkan berbagai macam kritik dan hinaan dari fansmu.”

FLASHBACK END

“Hyung.. ayo kita makan malam.” Suara panggilan Sungjong memecahkan pikiran Myungsoo.

“Aku mau keluar dulu.” Ucap Myungsoo sembari mengambil kunci mobilnya. Lalu berlalu keluar begitu saja.

“YA~! KIM MYUNGSOO, KAU MAU CARI SENSASI?!” pekik Sunggyu kesal, namun terlambat orang yang membuatnya kesal terlanjur pergi.

———-

“Huahh.. Yeppuda.” Ucapku terkagum-kagum melihat pemandangan di depanku.

Kami baru saja sampai di Sungai Han. Seperti permintaan eonniku, kami disini untuk melakukan piknik malam. Dulu beberapa kali kami sering bermain di sungai han. Bukan hanya untuk piknik, tetapi juga untuk menikmati hari santai kami.

“Suzy-ya.. ayo duduk sini, kita makan dulu.” Jia eonni memanggilku kuat.

Aku menganggukkan kepalaku. Lalu, menyusul Jia eonni yang sudah duduk terlebih dahulu.

“woahhh~ eonni, kau membuat nasi goreng kimchi?” tanyaku begitu Jia eonni membuka rantang pertama.

Jia eonni hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu membuka rantang kedua.

“woahhh~ sannakji?!” pekikku lagi.

Jia eonni hanya terkekeh saja begitu melihat responku. Yahh.. wajar saja sih, eonni selalu pulang malam sehingga membuatnya jarang memasak. Ini membuatku sangat terkejut karena dia baru menunjukkan kemampuannya dalam memasak saat ini. Biasanya aku yang selalu memasak. Sarapan, aku yang memasak karena eonni terlalu kecapekan pulang larut malam. Makan siang pastinya di kantin kantor masing-masing. Dan makan malam, aku selalu sendiri dikarenakan eonni pulang larut juga.

“eonni, chankam.. Aku ke toilet dulu.” Izinku lalu beranjak berdiri dan berjalan menuju ke toilet umum.

———-

“hmm.. segar.” Kataku begitu keluar dari toilet.

Namun baru selangkah aku ingin beranjak dari tempat ini, aku melihat sosok hitam di depanku. A.. apa itu? Mak.. maksudku, si.. siapa dia? tubuhnya seperti manusia utuh. Dan kakinya juga masih menyentuh tanah. Tidak mungkin hantu kan? Atau jangan-jangan.. pen.. pencuri?!

Aku menelan salivaku, lalu memutar tubuhku agar berjalan menjauh dari orang itu.

“astaga.. kenapa?” ucapku ketakutan dan mencoba untuk berlari.

GREPP~

DEGG~ hatiku lompat dari tempatnya. Kedua telapak tanganku sudah mengeluarkan keringat dingin. Ter.. terlambat. Dia sudah memegang bahu kananku dengan sangat kuat. Eonniii~ tolong aku.

“neo..”

Ya Tuhann.. Jaga aku, kumohon. Aku tidak memegang uang saat ini. Jangankan memegang, kepikiran untuk membawanya saja tidak.

“kau mengikutiku?” tanyanya yang sukses membuat tubuhku menegang.

Chankam.. mengikutinya? Hahh.. tidak salah dengar? Sejak kapan aku mengikutinya? Tau dia saja tidak.

“kau ini keras kepala sekali ya? Sudah kukatakan aku tidak mau, kenapa sekarang kau diam-diam mengikutiku? Apa kau penguntit?”

MWO?! AKU PENGUNTIT?! Ishh.. geu saram!

“YA~! SIAPAAA..” kataku terhenti pada saat aku memutar tubuhku dan melihat bahwa yang ada di hadapanku sekarang bukanlah pencuri melainkan..

“L!” kagetku.

“ne, aku L. jadi siapa lagi menurutmu?” tanyanya sinis.

“ehehe.. kukira pencuri.” Kekehku sekaligus lega mengetahui bahwa dia bukan pencuri.

“MWO?! PENCURI?”

“Joesonghabnida. Aku ketakutan tadi.” Ucapku sembari membungkukkan tubuhku.

“ketakutan? Cihh~ seharusnya aku yang mengatakan itu.”

“ne?”

“YA~! Aku yang harusnya ketakutan. Apa yang kau lakukan disini? Aku kan sudah mengusirmu tadi. Apa kau penguntit?”

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali karena terkejut setelah mendengar perkataannya barusan. Apa semua idol bersikap sama sepertinya? Selalu merasa bahwa dunia ini hanya tentang mereka saja? Apa dia tidak tau bahwa perkataannya barusan menyakiti hatiku? Aku memang masih harus berusaha memintanya agar mau bekerja sama denganku, tapi tidak dengan cara menguntit seperti yang dia pikirkan. Aku memang bisa dikatakan sama seperti reporter, tapi aku juga tau batasanku agar bisa menjauhi urusan privasinya.

Aku mengepalkan telapak tanganku, menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Aku harus bisa mengontrol kemarahanku. Jika tidak, mereka yang sedang berada di sungai han ini akan mengetahui bahwa seorang L berada disini.

“jika itu yang memang ada di pikiranmu. Silakan berpikiran seperti itu, L-ssi. Per..”

KRUKKK~ tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh kecil yang berasal dari perut idol tersebut.

Begitu aku tau bahwa itu merupakan suara perutnya, dia memalingkan wajahnya dariku. Terlihat semburat merah keluar dari kedua pipinya. Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak. Namun harus kutahan, karena kutau itu akan membuatnya malu.

“sepertinya kau lapar. Kau mau makan denganku?” tawarku berusaha tersenyum manis walaupun masih ada sedikit tersisi rasa kekesalanku dengannya tadi.

“mwo?!” jawabnya terkejut.

“tidak perlu gengsi. Kau sedang lapar, dan kau juga sudah lelah bekerja seharian penuh. Kasihan perutmu itu jika harus kosong.” Tawarku lagi.

———-

“eonniii~” seruku pada Jia eonni yang melamun memandang ke arah sungai han.

“eoh.. Suzz..” suaranya tiba-tiba memelan. Mungkin karena melihat orang yang berjalan bersamaku.

Begitu kami semua sudah duduk di kursi masing-masing. Jia eonni menatapku heran. Ahh.. aku tau dia pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa bersamanya.

“eonni.. dia L. kebetulan kami bertemu di toilet tadi. Geunde karena kecelakaan kecil, aku mengajaknya makan bersama kita. Gwenchana?”

“eoh.. Gwenchana. Geunde sepertinya..”

“gokjeongma dia akan memakan bagianku saja, eon. Eonni makanlah dengan tenang.” Jawabku berbisik agar L tidak mendengarnya.

“geure? Arraseo.” Balas Jia eonni mengalah.

Aku hanya tersenyum. Lalu memberikan rantangku yang berisikan nasi goreng kimchi kepada L. Semenjak kejadian perutnya bergemuruh tadi, kuperhatikan dia menjauhi tatapanku jika aku menatapnya. Mungkin saja dia merasa malu karena kejadian tadi.

“cahh~ makanlah, L-ssi.”

“eoh? N.. ne.”

Ehehe.. aigoo~ kyeo. Jadi kalau dia kelaparan, tingkahnya jadi seperti ini. Seperti anak anjing. Kyeooo~

Ehh.. Chankam! Apa yang kupikirkan barusan? Kyeo? Astagaa~ Aniyo, aniyo.. Bae Suzy, ayolah.. kembalilah ke alam sadarmu.

“geunde..”

Begitu mendengar suaranya keluar, aku dan Jia eonni sontak menatap ke arahnya yang masih saja focus ke makanan itu.

“ini.. bukan.. taktikmu agar aku mau diwawancari olehmu kan?”

DEGG~ mendengar pertanyaannya, aku hanya diam. Sedangkan Jia eonni mengerjapkan matanya berkali-kali. Mungkin karena terlalu terkejut dengan pertanyaannya L.

Apa dia akan selalu begini? Menganggap dunia ini semua tentang dirinya? Aku memang sedang mencari cara agar dia mau bekerja sama denganku,tapi tidak dengan cara kotor yang ada dipikirannya. Aku tidak pernah akan menyogok. Jangankan menyogok dengan makanan, menyogok dengan uang saja tidak pernah aku pikirkan. Aku memang bercita-cita sebagai seorang jurnalis, tapi tidak dengan cara kotor seperti itu. Ppabo namja! Nappeun!

“YA~!” pekikkan  Jia eonni memecahkan keheningan sekaligus memecahkan pikiranku.

“eonni, sudahlah. Gwenchana.” Cegahku berbisik pasalnya Jia eonni tidak pernah marah. Dan jika dia sudah marah, pasti segala macam uneg-unegnya dia keluarkan dan itu sangat menyakitkan.

“tapikan..”

“L-ssi.. jika memang itu yang ada dipikiranmu, aku tidak akan mengatakan apa-apa.” Ucapku mencegah tindakan Jia eonni.

“suzy!”

Aku hanya tersenyum manis pada Jia eonni seolah berkata aku baik-baik saja. Tapi aku tau bahwa dia tau, kata-kata L tadi menyakiti hatiku. Kemudian kuperhatikan namja itu menatapku intens sebentar, lalu melanjutkan makanannya.

“eonni, kau juga lanjutkan makanmu.” Perintahku karena sejak dia marah, dia tidak melanjutkan makanannya.

“dwesseo! Aku mau ke toilet dulu.” Kesalnya lalu meninggalkan aku dengan L berdua saja.

Aku hanya mengangkat kedua bahuku untuk meresponnya. Setelah itu aku menatap L yang masih saja terlihat lucu bagiku. Yahh.. walaupun aku masih merasa sakit hati dengannya.

Lho? Kenapa L tidak memakan sannakjinya? Sedari tadi kuperhatikan sepertinya dia hanya memakan nasi goreng kimchi itu.

“L-ssi.. ini sannakjinya. Silakan dimakan.” Tawarku meletakkan sannakji tersebut ke dalam rantangnya menggunakan sumpit Jia eonni.

Tiba-tiba saja dia melototkan matanya ke arah sannakji yang kuletakkan di dalam rantangnya.  Dan seketika itu juga wajahnya menjadi pucat pasi.

OMOO~ Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya pucat begitu? Apa dia sakit? Atau jangan-jangan.. dia punya riwayat penyakit lambung? Astagaa~ berarti dengan kata lain dia sudah telat makan saat ini. Aishh~ eottoke?  Penyakit lambungnya sudah akut sekali.

“L-ssi.. neo gwenchana? Apa kau sakit? Kenapa kau pucat sekali?” tanyaku mengeluarkan berbagai macam pertanyaan sembari meletakkan telapak tanganku di dahinya.

Dipun menggelengkan kepalanya sembari menjauhkannya dari telapak tanganku.

“sing.. sing.. singkirkan makanan aneh itu.” Pintanya masih berwajah pucat dan tidak suka.

“ne?”

“sa.. sa.. sannakji itu. Tolong sngkirkan.” Pintanya lagi.

“ne? wae?”

“jebal.” Pintanya lagi, namun lebih kepada memohon.

“iya, tapi kenapa?” tanyaku lagi masih tidak mau menyingkirkan sannakji itu dari rantangnya.

“a.. a.. aku tidak suka.. segala macam makanan yang dimakan mentah.” Akuinya lalu memalingkan wajahnya lagi dariku.

Mwo?! Apa aku tidak salah dengar? Dia bilang tidak suka? Seorang L tidak suka makan makanan mentah?

“pfftt~ ahaha..” ketawaku meledak seketika.

L masih saja betah memalingkan wajahnya dariku karena merasa dipermalukan lagi olehku. Pertama gara-gara perutnya yang bergemuruh meminta makan. Dan yang kedua adalah pengakuannya yang tidak suka makanan mentah. Mungkin dia merasa sudah banyak menunjukkan sisi lainnya padaku.

Selang beberapa menit, tawaku mulaiberhenti dan tenggorokkanku terasa kering. Dengan cepat aku meneguk air putih di atas meja, tanpa memedulikan bahwa air tersebut milik Jia eonni.

“sudah puas?” tanyanya dengan nada kekesalan.

“hahh.. hahh.. aigoo~ aku sesak nafas.”

“cihh~ nafsu makanku jadi hilang.” Ucapnya lagi meletakkan sumpitnya begitu saja diatas meja.

Aigoo~ cuman karena aku tertawa saja, dia sudah tidak nafsu makan. Heoll~

Eoh? Ehehe.. aku punya ide. Mungkin dengan ide ini, dia pasti akan menelan sannakji itu. Hmm.. begitu melihat aku masih mempunyai kesempatan untuk menjalankan ideku, kugapai tangannya yang berada di atas meja dan kucubit tangannya saat itu juga.

“auww.. a.. ap..” begitu dia membuka mulutnya, secara cepat kumasukkan sannakji itu kedalam.

Setelah yakin dia sudah mengatupkan mulutnya rapat-rapat, barulah aku melepaskan cubitanku darinya. Kutatap wajahnya secara mendalam. Terlihat ada ekspresi  terkejut disana. Aku hanya tersenyum manis menunggu dia selesai mengunyah dan menelan sannakji itu.

“eotte?” tanyaku penasaran setelah melihatnya sudah menelan sannakji tersebut.

“YA~! Apa kau gila? Cubitanmu itu sakit.” Pekiknya kesal.

“arra, mianhae. Geunde eoote? Joah?” tanyaku penasaran lagi.

“aishh~ molla.” Jawabnya acuh.

Kedua sudut bibirku semakin mengembang. Kenapa tidak? Pasalnya walaupun namja di depanku ini mengatakan kalau dia tidak tau, pada akhirnya dia menyantap kembali nasi goring kimchinya yang sudah tercampur dengan sannakji itu. Aigoo~ tidak tau kenapa aku merasa bahagia seperti ini.

“di dunia.. kita tetap harus menjalani dan merasakan semuanya, L-ssi. Suka-tidak suka, mau-tidak mau.. semua itu harus kita lewati. Memang memuakkan. Tapi begitulah gambaran kehidupan.” ucapku terus menatapnya makan.

Sedangkan dia yang tadinya menyantap kembali makanannya, terdiam dan menatap balik ke arahku.

———-

(TBC)

Annyeong..

Bagaimana ceritanya di part 1? apa kalian sudah menyukai awal ceritanya?

ehehe.. semoga saja suka, ya..

Advertisements

2 responses

  1. dilla

    lanjutt thorrr

    February 14, 2015 at 9:22 am

  2. Rifa Hasna A

    seru thor
    next next

    February 25, 2015 at 9:03 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s