KIM MYUNGSOO FANFICTION

[Chaptered] Remember Me – Part 15

Remember Me

REMEMBER ME

|Main cast: Kim Myungsoo (Infinite), Bae Sooji (Miss A)|Other cast: Jung Soojung (F(x)), Jang Wooyoung (2PM), Lee Jieun (IU), Lee Sungyeol (Infinite)|Genre: Drama, Angst/Sad, Romance, Fluff, Friendship, a little bit Comedy|Length: chaptered|Rating: General|

©Park Minrin

.

Ketika seseorang melupakan, sementara yang lain mengingat.

.

“Tak peduli seberapa tidak pantasnya kau untukku, aku akan tetap memilihmu.”

PART 15 : The Designer’s Party

“Desainer Bang Himsoo?” gumam Sooji begitu menerima sebuah undangan yang ditujukan padanya siang itu. Undangan tersebut adalah sebuah undangan untuk merayakan dibukanya cabang butik karya desainer Bang Himsoo di Seoul serta sebuah acara fashion show yang merangkap pesta natal.

Asal tahu saja, Bang Himsoo adalah salah satu desainer terbaik milik Korea Selatan. Dan jika ia melewatkan kesempatan ini, entah kapan ia akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi. Apalagi kenyataan bahwa Sooji diundang ke acara private party yang akan diadakan dengan suasana yang lebih privasi. Demi menggapai mimpinya menjadi seorang desainer profesional, setidaknya ia harus memiliki kenalan seorang desainer, bukan?

“Bu,” Sooji berjalan menghampiri ibunya yang berada di meja makan, mencatat sesuatu di bukunya. Ketika beliau menoleh, gadis itu kembali berbicara,

“Aku… sepertinya tidak akan pergi besok malam.”

Ibunya mengerutkan kening, otomatis meletakkan penanya dan menaruh perhatian pada Sooji. Sooji mengambil inisiatif untuk duduk di kursi yang terletak di sebelah ibunya. Gadis itu pun menunjukkan undangan yang baru ia dapatkan.

“Aku diundang dalam private party seorang desainer terkenal Korea,” Sooji berkata, lalu memberi jeda sejenak, “Jadi bagaimana?”

Ibunya mengambil undangan tersebut, kemudian membacanya. “Apa kau pergi sendirian? Bagaimana dengan Myungsoo?” beliau kemudian berkata.

Sooji terdiam. Ah ya, ia melupakan Myungsoo. Bagaimana dengan pria itu? Apakah pria itu juga turut diundang dalam pesta itu?

“Aku tidak tahu. Akan kutanyakan padanya nanti.”

Ibunya kemudian menutup undangan tersebut, meletakkannya di atas meja, lalu beralih menatap Sooji. “Aku sebenarnya tak ingin kau lebih memilih acara undangan seperti ini di malam natal dan meninggalkan keluargamu. Kau pun tahu bahwa ini bukan hanya liburan antar keluarga, bukan?”

Sooji mengangguk. Ia tahu dengan sangat pasti akan hal itu. Meskipun berjudul ‘liburan’, namun liburan dalam keluarganya tak pernah benar-benar berlibur. Pasti ada saja hal-hal seputar pekerjaan orangtuanya yang dilibatkan. Kali ini pun sama. Keluarga Bae dan keluarga Kim berniat berlibur bersama selain karena memang ingin melihat perkembangan antara Sooji dan Myungsoo, mereka pun akan menandatangani kontrak bisnis di sana. Sooji sudah cukup dewasa untuk mengerti akan hal itu. Hal tersebut—menjalin hubungan sebagai partner bisnis dengan perusahaan lain—adalah sebuah keperluan dalam pekerjaan orangtuanya. Dan ia tak keberatan.

“Tapi kau juga tak bisa melewatkan undangan ini begitu saja. Berkenalan dengan seorang desainer terkenal tentu saja dapat membantumu. Jadi menyusullah saat pesta tersebut selesai. Kita habiskan natal dan tahun baru kita bersama.”

Sooji melebarkan kedua matanya tak percaya. Ia tersenyum lebar lalu beranjak memeluk sang ibu seraya menggumamkan terima kasih. Gadis itu mengambil kembali undangannya lalu beranjak ke kamarnya dengan langkah ringan. Sesampainya di kamar, ia menyambar ponselnya lalu segera menelepon seseorang. Myungsoo. Ia berencana menanyakan Myungsoo tentang undangan dan kehadirannya pada pesta tersebut.

Tiga nada dering pun telah terlewat, namun teleponnya tak kunjung diangkat oleh si penerima. Padahal biasanya teleponnya selalu diangkat sebelum dering ketiga. Merasa tak ada gunanya menelepon, Sooji pun mengirimkan sebuah pesan.

Myung, apa kau diundang ke pesta Bang Himsoo? Aku diizinkan untuk mengikutinya. Bagaimana denganmu?

 

-o0o-

 

Sooji tidak mendapat jawaban dari Myungsoo hingga esok harinya. Ia telah menghubungi pria itu berulang kali, namun tak pernah mendapat balasan. Sooji tak tahu apa yang terjadi pada Myungsoo, ia berpikiran positif bahwa barangkali Myungsoo sedang sibuk—mungkin mengerjakan pekerjaannya—dan meskipun ia khawatir, namun Sooji berusaha untuk tidak mengganggu Myungsoo. Alhasil ia pun berhenti menghubungi Myungsoo dan berkesimpulan bahwa ia akan pergi sendiri ke pesta tersebut nanti malam. Dan entahlah, mungkin ia juga akan menyusul keluarganya seorang diri ke Incheon nanti.

Di tengah pemikiran tersebut, saat gadis itu tengah memilah-milah pakaian untuk dikenakannya dalam pesta nanti malam, ponselnya yang ia letakkan di atas tempat tidurnya berbunyi nyaring, membuatnya yang tengah tenggelam dalam wardrobe kamarnya tertarik kembali ke dunia nyata. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya Sooji mencapai ponselnya dan sedikit terkejut melihat yang peneleponnya adalah Myungsoo.

“Maaf, aku tidak memberikan kabar apapun padamu kemarin,” ujar Myungsoo setelah mereka bertukar sapa.

“Tak apa,” balas Sooji.

Ada jeda sejenak sebelum kembali Myungsoo bicara, “Aku akan menghadiri pesta itu. Aku akan menjemputmu pukul 9 nanti.”

Senyum kemudian tiba-tiba saja merekah di bibir Sooji tanpa gadis itu sadari. “Baiklah, sampai jumpa nanti malam kalau begitu!”

“Sampai jumpa.

Bahkan, setelah menutup telepon dari Myungsoo, senyum di bibir Sooji masih belum pudar. Malah gadis itu tampak lebih bersemangat mempersiapkan segala sesuatunya untuk malam nanti setelah mengetahui bahwa Myungsoo akan ikut serta bersamanya.

 

-o0o-

 

Waktu ternyata terasa sangat lambat di saat kita bersemangat menunggu waktu untuk bergulir. Itulah yang dirasakan Sooji. Gadis itu telah selesai berdandan 30 menit lalu, dan kini ia masih harus menunggu 15 menit lagi hingga Myungsoo menjemputnya, namun ia baru merasakan 15 menit terlama dalam hidupnya. Ditambah rumahnya yang sepi akibat keluarganya yang telah terlebih dulu pergi ke Incheon untuk bermalam natal di sana, rasa jenuhnya pun tak urung mencapai puncaknya.

Tapi baru saja ia hendak beranjak untuk kembali ke kamarnya—ia sedari tadi menunggu di ruang tamu rumahnya—bel pintu rumahnya berbunyi. Gadis itu sedikit tersentak mendengar bunyi bel tersebut. Benaknya bertanya-tanya apakah itu Myungsoo? Namun selama ia bertemu Myungsoo di Seoul, apalagi semenjak pria itu kehilangan ingatannya, Myungsoo tak pernah menghampirinya hingga ke depan rumah. Lelaki itu lebih senang menghubunginya via telepon atau pesan singkat dan menyuruhnya keluar untuk menemuinya di depan pagar rumahnya, bersandar pada mobil sport-nya. Dan ditambah belum adanya pesan atau telepon dari Myungsoo, membuat Sooji tidak berharap lebih terhadap seseorang yang menunggu di depan pintu rumahnya. Gadis itu pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya dan beralih membukakan pintu. Sooji tak melihat siapapun di interkom ketika ia hendak membukakan kunci pintu. Aneh, namun gadis itu masih merasa ada seseorang yang menunggu di depan pintu rumahnya. Karena itulah ia tetap membukakan pintu.

Dan ia sangat terkejut begitu mendapati Kim Myungsoo berdiri di sana sembari tersenyum ramah—nan manis—dan memegang sebuket bunga mawar.

“A-apa…,”

“Untukmu.” Ujar Myungsoo singkat, seolah hal tersebut menjelaskan segalanya. Pria itu menyodorkan buket bunga tersebut ke depan, menunggu tangan mungil Sooji untuk mengambilnya.

Sooji kehilangan kata-kata. Ini tidak biasa, pikirnya. Ini tidak normal. Kendati otaknya terus memberikan seribu satu alasan mengapa sikap Myungsoo kali ini terlihat sangat ganjil, tubuhnya seolah memiliki kuasanya sendiri. Organnya menolak memikirkan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi pada Myungsoo sehingga merubah seorang pria dingin menjadi pria yang romantis dan memilih menerima apa yang tersaji di depan mata. Hatinya menghangat. Dan meskipun aneh, namun Sooji menyukai perasaan ini. Ia tak ingin perasaan seperti ini berakhir.

Myungsoo lantas mengulurkan tangannya lagi, masih menyunggingkan senyum. “Ayo, kita berangkat,” katanya.

Sooji sekali lagi terdiam. Ia akhirnya menyambut uluran tangan Myungsoo yang kini terasa hangat, menjalari tangannya dan merangsek naik ke dada dan pipinya, membuatnya merona.

“Kita harus segera pergi kalau tidak ingin terlambat,” ujar Myungsoo lagi.

Sooji lagi-lagi tak menjawab. Bahkan hingga dirinya berada di dalam mobil mewah milik Myungsoo pun, ia masih terdiam. Otaknya merasa bingung, namun hatinya merasa lega. Seolah-olah hatinya telah lebih dulu mengenali sosok Myungsoo yang seperti ini. Seolah-olah hatinya tahu bahwa Myungsoo yang dulu, yang sempat hilang setelah sembilan tahun lamanya, kini telah kembali.

“Ada apa? Kenapa kau jadi pendiam malam ini?” tanya Myungsoo di balik kemudi, memecahkan keheningan di antara keduanya.

“A-apa? Oh… tidak, aku hanya sedang berpikir…,” ujar Sooji.

“Apa yang kau pikirkan?”

Sooji terdiam sesaat. Tiba-tiba saja merasa ragu apakah ia harus mengungkapkan pikirannya atau tidak. Tapi pada akhirnya gadis itu tetap berkata,

“Aku merasa aku telah ‘pulang’”

Hening kembali menyelimuti dalam beberapa sekon berikutnya. Myungsoo memanfaatkan hening tersebut sebagai ajang curi pandang kepada lawan jenis di sampingnya yang kini tengah menerawang sembari melihat ke depan. Diam-diam, pria itu tersenyum. Lega.

 

-o0o-

 

Pesta yang diadakan desainer Bang Himsoo diadakan di sebuah klub mewah di daerah Itaewon yang disewa khusus untuk acara tersebut. Acara itu juga dijaga oleh beberapa pengawal pribadi dan juga beberapa polisi karena beberapa tamu penting dan tokoh selebriti yang juga turut hadir ke pesta tersebut. Seperti halnya para selebriti, ketika Sooji dan Myungsoo sampai di depan klub, mereka langsung disambut oleh barisan pengawal yang langsung meminta undangan pada mereka berdua. Begitu undangan diperlihatkan, mereka dikawal masuk ke dalam klub sementara mobil Myungsoo dititipkan pada valet.

Begitu masuk, alih-alih suara perpaduan musik dubstep dan elektronik yang keras, klub itu malah memperdengarkan alunan musik klasik yang sangat berbanding terbalik dengan suasana di dalam klub yang bermandikan gemerlap lampu.

Sooji yang menyampirkan salah satu lengannya pada siku Myungsoo, mengeratkan pegangannya. Ia sedikit gugup begitu melihat banyak selebriti dan tokoh dari kalangan para pengusaha di sana. Tampaknya Myungsoo pun sama. Ia tak terbiasa dengan acara pesta seperti ini karena dulu, ia akan menolak acara pesta seperti ini. Ia tak pernah merasa nyaman berada di tengah banyak orang. Apalagi orang-orang yang ada di sini rata-rata adalah kalangan borjuis yang tak pernah disukainya pun dikenalnya.

“Kalian menghalangi pintu masuk.”

Keduanya lantas menoleh dan melihat Soojung berdiri tepat di belakang mereka berdua. Gadis itu mengenakan gaun hitam yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna sebatas paha sementara rambut gadis itu dibiarkan tergerai begitu saja. Seperti biasa, Soojung terlihat menakjubkan tak peduli bagaimana cueknya ia berdandan.

“Ah, maafkan kami.” Ujar Myungsoo yang segera mengajak Sooji bergeser sedikit untuk memberi ruang bagi Soojung.

Soojung maju selangkah kemudian menoleh menatap Sooji. Ia kemudian berdeham dan tersenyum. “Maafkan aku tentang perilakuku tempo hari, Sooji-ssi. Anyway, kau terlihat cantik dengan gaun itu.” ujarnya lantas pergi meninggalkan mereka berdua.

Sooji tak dapat membalas apapun dan hanya bisa melihat punggung ramping Soojung menghilang di balik keramaian pesta. Baru saja Soojung pergi, seseorang kembali memasuki pintu sambil menggerutu,

“Soojung, kau melupakan tasmu—ah, Myungsoo dan Sooji!” Sungyeol berhenti tepat di sebelah Myungsoo dan mengumbar senyum lebarnya. “Kalian juga datang?” tanyanya kemudian.

“Kau juga?” balas Myungsoo singkat sambil tak lupa mengulas senyum.

“Hm. Ah, kau lihat Soojung? Gadis itu melupakan tasnya di dalam mobil, dasar!” gerutu Sungyeol.

“Kau datang dengan Soojung-ssi?!” tanya Sooji tiba-tiba, seolah hanya itu yang tertangkap indera pendengarannya.

Mendengar pertanyaan Sooji, Sungyeol hanya tersenyum misterius. Sejurus kemudian, pria itu pamit pada keduanya untuk mencari Soojung. Ia juga tak lupa meminta Sooji dan Myungsoo untuk segera bergabung dengan yang lainnya di dalam yang hanya dibalas dengan anggukan.

“Bukankah itu bagus jika pada akhirnya hubungan mereka meningkat menuju tingkat yang berikutnya, Myung? Ah… maksudku tentang Sungyeol dan Soojung…,” ujar Sooji tiba-tiba untuk memecah keheningan yang menyelimuti mereka.

“Hm… sepertinya itu bagus,” balas Myungsoo. Ia kemudian menoleh menatap Sooji. “Apa kau sudah tidak gugup lagi? Mau mencoba masuk ke dalam? Jika kau merasa tidak nyaman, kita tidak perlu berada lama-lama di sini. Kita bisa langsung menyusul ke Incheon setelah kita menyapa Bang Himsoo.”

“A-ah, tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit gugup. Kita nikmati saja pestanya sampai akhir, ya?”

Myungsoo tak langsung menjawab pertanyaan Sooji. Ia memperhatikan gadis itu dengan seksama sebelum akhirnya mengangguk dan menggiringnya ke keramaian pesta.

Kedatangan Sooji dan Myungsoo langsung disambut oleh beberapa tamu pesta tersebut, terlebih Myungsoo. Pria itu dalam waktu singkat dikelilingi oleh beberapa orang yang tidak Sooji kenal. Karena hal itulah gadis itu harus melepaskan pegangannya pada Myungsoo dan membiarkan pria itu berbaur sedikit bersama para tamu. Sooji setidaknya sedikit mencuri dengar pembicaraan Myungsoo dan para tamu yang mengelilinginya, dan kebanyakan para tamu itu mengatakan bahwa mereka menyukai karya Myungsoo dan menginginkan pria itu mengikuti beberapa proyek milik mereka. Sooji tersenyum senang mendengar komentar-komentar positif tersebut. Ia tahu suatu saat nanti Myungsoo pasti akan menuai suksesnya sendiri. Dan mungkin ini adalah awalnya.

“Oh, kau Bae Sooji, bukan?”

Sooji menoleh di saat ia tengah sibuk memperhatikan punggung Myungsoo di kejauhan. Ia mendapati seorang wanita paruh baya yang mengenakan mantel bulu bermotif leopard dengan dandanan yang ‘nyentrik’ berdiri di sampingnya, tersenyum ke arahnya.

Dengan segera, Sooji membungkukkan punggungnya, begitu gugup menghadapi wanita yang satu ini.

“Ah, Bang Himsoo-ssi, senang bertemu denganmu, aku adalah penggemar beratmu,” ujar Sooji diiringi senyum yang lebar.

“Terima kasih… dan kau cantik sekali malam ini, nona,” puji desainer Bang Himsoo seraya diiringi oleh kekehan kecil sementara Sooji hanya bisa tersenyum membalasnya.

“Terima kasih, anda juga sangat memukau malam ini, Himsoo-ssi.”

Bang Himsoo tersenyum. Ia lantas melayangkan pandangannya pada panggung yang kelak akan dipakai sebagai panggung fashion show dalam beberapa jam lagi. “Kau memiliki bakat, nona Bae. Aku mengakui itu.”

“A-ah, terima ka—“

“Tapi kuharap kau tidak salah sangka.” Himsoo memotong ucapan Sooji, membuat kening Sooji berkerut samar. Wanita itu kembali mengalihkan pandangannya pada Sooji dan Sooji berani bersumpah bahwa tatapan wanita itu terlihat jauh berbeda dari saat mereka pertama berjumpa beberapa menit yang lalu. Apa yang menyebabkan pandangan wanita ini berubah dalam satuan menit seperti ini?

“A-apa maksud anda?” Sooji bertanya tak mengerti.

Bang Himsoo menghela napas. “Dalam dunia kami, desain sama halnya dengan bisnis. Dan tidak ada yang memulai bisnis ini dengan koneksi mereka sejauh yang kukenal. Semua membangunnya dari nol. Sebut saja siapa desainer favoritmu lagi dan aku bisa menjamin mereka semua membangun karir mereka dari nol.”

Kerutan di kening Sooji semakin dalam. Ia tak mengerti arah pembicaraan desainer seniornya ini.

“Kudengar kau masih baru dalam bisnis ini, Sooji-ssi?” tanya Himsoo lagi. “Berhati-hatilah, tak ada desainer yang berhasil selamat hanya mengandalkan koneksi.”

Sooji terdiam. Pernyataan tersebut jelas menohok hatinya dan membuatnya mati rasa dalam seketika. Ia melihat punggung Bang Himsoo yang menjauh dan hatinya terasa perih. Ia tidak mengerti. Ia tahu pernyataan Bang Himsoo tadi ditujukan padanya. Tapi maksud dari ‘koneksi’? Apa beliau berpikir bahwa terjunnya ia ke dalam dunia desain ini hanya mengandalkan koneksinya belaka? Hanya karena ia memang berasal dari kalangan pengusaha?

“Sooji-ah, kau menunggu lama? Maafkan aku. Kau sudah minum? Ingin makan sesuatu?” Myungsoo kembali kepadanya dengan senyum menghiasi wajahnya, menampilkan lesung pipinya yang terlihat manis.

Sooji diam, tak menjawab Myungsoo. Alih-alih, dirinya malah berpikir, Apakah mereka juga memikirkan hal yang sama tentang Myungsoo?

“Sooji?”

Sooji mengerjap. Ia kemudian menatap Myungsoo di hadapannya lalu tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Aku tidak lapar.”

“Kalau begitu kau harus minum,” Myungsoo segera mengambil dua gelas dari pelayan yang lewat sambil membawa nampan berisi minuman lalu menyerahkan satu gelasnya pada Sooji. “Nikmati pestanya, jangan tegang begitu.”

Sooji mengangguk dan meminum minuman yang diberikan Myungsoo tadi sedikit. Bagaimana ia bisa menikmati pesta sementara ia masih memikirkan perihal yang dikatakan Bang Himsoo tadi?

 

-o0o-

 

Kali ini, suasana klub sudah benar-benar berubah. Acara fashion show telah dimulai menampilkan karya-karya terbaru Bang Himsoo dan musik pun telah berganti menjadi tema dubstep yang menghentak-hentak. Lampu berwarna-warni berkerlap-kerlip menghiasi panggung, menambah  kesan menawan pada setiap model yang berlenggak-lenggok di sana.

Namun, di antara semua orang yang menikmati pesta tersebut, Sooji mungkin termasuk salah atau—atau mungkin satu-satunya—yang tidak menikmati pesta tersebut. Kata-kata Bang Himsoo tadi masih terngiang di benaknya. Begitu dangkalnya-kah pemikiran desainer senior tersebut hingga mengatakan hal seperti itu?

Sooji mengetuk-ngetukkan kukunya pada gelas yang ia pegang. Gelas itu masih gelas yang sama yang Myungsoo berikan padanya satu jam yang lalu. Dan ia masih belum melepasnya pun menghabiskannya hingga sekarang. Ia benar-benar telah kehilangan selera.

“Hei, kau menikmati pestanya?” seseorang berujar di sebelah kanan Sooji. Sooji kenal betul suara ini. Ini adalah suara Sungyeol.

Lelaki itu meminum minuman berwarna biru yang tengah dipegangnya hingga habis dalam satu teguk. “Ini adalah pertama kalinya aku hadir dalam premiere fashion show sekaligus pesta natal ini. Dan tidak buruk juga.”

Sooji hanya tersenyum menanggapi ocehan Sungyeol. Pria tu tampak sangat bersemangat. Ia bahkan sempat berteriak beberapa kali ke arah panggung seolah menonton konser.

“Kau tahu, kudengar akan diadakan acara semacam award ceremony selepas acara fashion show ini,” ujar Sungyeol.

Sebelah alis Sooji terangkat. “Oh ya?”

Sungyeol mengangguk antusias dan kembali membicarakan hal lainnya. Sementara Sungyeol kembali mengoceh, Sooji terdiam, tampak memikirkan sesuatu.

Acara fashion show itu pun berakhir dengan diiringnya Bang Himsoo ke atas panggung dengan diberi buket bunga dan taburan confetti. Panggung itu terlihat sangat gemerlap, sangat bersinar. Sayangnya, dipenuhi dengan kedengkian di mata Sooji.

“Kali ini, kita sampai ke acara spesial kita! Award ceremony! Ajang pernghargaan ini dibuat khusus pada hari ini untuk mengapresiasi karya-karya menakjubkan untuk fashion dunia! Kita mulai saja membacakan nominasi dan pemenangnya, oke? Untuk kategori pertama, kategori model wanita!” Sooji mengamati sang MC mulai membuka sebuah amplop di tangannya, lalu membacakan nominasi pada kategori tersebut. “….dan pemenangnya adalah… Krystal Jung!”

Suara tepuk tangan meriah mengiringi kepergian Soojung ke atas panggung. Gadis itu tampak terkejut. Matanya membesar dan ia menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Sungyeol bersorak heboh di sebelah Sooji, menikmati euforia tersebut. Myungsoo bertepuk tangan di sebelah kirinya. Hanya Sooji yang diam dan tak melakukan apa pun.

Sooji melihat Bang Himsoo menyerahkan sebuket bunga mawar pada Krystal serta sebuah trofi kaca. Mereka terlihat akrab. Oh tentu saja, Krystal sangat terkenal dalam industri ini.

“Sooji, apa kau baik-baik saja?” tanya Myungsoo yang terlihat khawatir karena ekspresi aneh Sooji sejak tadi.

“Mm-hm… aku baik-baik saja,” balas Sooji singkat, tanpa menoleh. Gadis itu mendesah pelan. Ia tak ingin Myungsoo tahu. Ia tak ingin menyakiti perasaan pria itu dengan perkataan orang lain.

“Jika kau merasa tak nyaman, kita bisa pulang—“

“…Kim Myungsoo!” suara MC yang nyaring memotong pembicaraan Myungsoo dan Sooji. Keduanya menoleh ke atas panggung. Rupanya, sang MC telah mengumumkan pemenang baru dalam kategori photographer dan Myungsoo memenangkan penghargaan di kategori tersebut.

Myungsoo sempat menatap Sooji sesaat. Ia masih khawatir pada gadis itu, namun Sooji tersenyum dan mengedikkan dagunya ke atas panggung, menyuruh pria itu untuk mengambil trofinya. Myungsoo masih menatap Sooji sekali lagi, meminta persetujuan. Dan begitu Sooji mengangguk, Myungsoo akhirnya mengangguk pula. Pria itu membuka mulutnya, mengatakan ‘tunggu aku’ tanpa suara yang dibalas oleh senyuman Sooji.

Sekali lagi, sorakan Sungyeol di sebelahnya terdengar. “Wah… kalian hebat! Aku berani bertaruh, Sooji, saat kategori desainer, namamu pasti muncul dalam nominasi dan kau pasti akan menang!”

Sooji terkekeh mendengar pernyataan Sungyeol. Percaya tidak percaya. Ia agaknya percaya namanya akan ada dalam nominasi, namun untuk menjadi pemenang? Ia sedikit sangsi. Bang Himsoo jelas membencinya. Ia tak mungkin menyerahkan trofi itu padanya.

“Sekarang, untuk kategori desainer! Nominasinya adalah… Rhytme, Khwan Yui, Moon Habyul, Bae Sooji, Goo Wonhee! Dan pemenangnya adalah…… Moon Habyul!”

Lihat, dugaan Sooji tidak meleset.

Kali ini, sorakan Sungyeol tidak terdengar. Alih-alih, pria itu merasa aneh sendiri. Sebagai seorang entertainer yang berarti merangkap menjadi model pula, ia pernah bekerja sama dengan para desainer dalam nominasi tersebut, namun ia bisa menjamin tak ada desainer sebaik Sooji dan karya-karyanya.

“Bae Sooji ada dalam daftar? Apa mereka bercanda?”

Samar-samar Sooji mendengar seseorang berbisik-bisik tak jauh dari mereka. Ia mencari sumber suara dan melihat dua orang gadis muda berpakaian glamor yang tengah duduk di sofa tepat beberapa meter di belakang Sooji. Suara musik yang keras seharusnya mencegah Sooji mendengar percakapan mereka, namun entah kenapa Sooji dapat mendengarnya dengan jelas.

“Gadis yang memanfaatkan koneksinya untuk masuk ke industri ini seharusnya tidak bisa masuk bahkan hanya ke dalam nominasi sekali pun! Untunglah Habyul pemenangnya, aku tak bisa melihat gadis itu menerima trofi di atas panggung!”

“Aku juga! Gadis congkak seperti itu seharusnya tak pernah ada di muka bumi ini!”

Sooji mengepalkan sebelah tangannya yang bebas kuat-kuat. Ia berusaha untuk menjaga manner-nya untuk tidak melabrak kedua wanita itu saat ini juga. Ada kesalahpahaman yang kuat di sini. Dan ia adalah korbannya. Gadis itu pun menenggak minuman yang sedari tadi terabaikan di sebelah tangannya hingga habis lalu menyimpan gelasnya di meja terdekat demi meredam api yang berkobar di dadanya.

Semua pemenang dari masing-masing nominasi telah diumumkan, dan semuanya pun turun dari panggung bersamaan. Myungsoo turun bersamaan dengan Soojung dan Bang Himsoo. Sooji melihat ketiganya tersenyum dan seolah membicarakan sesuatu. Ada sinyal buruk yang ditangkap Sooji saat melihat ketiganya. Gadis itu memang perlahan menyadari bahwa Myungsoo entah bagaimana dan entah kapan, memiliki hubungan khusus dengan Soojung. Karena itulah Soojung meminta maaf padanya tadi, atas sikap kasarnya tempo hari.

Kini, dengan mendengar rumor tentangnya, juga dengan melihat Myungsoo dan Soojung, seperti api yang disiram bensin, berbagai perasaan memenuhi hati dan perasaannya. Ia tak bisa lagi menahannya.

“Sungyeol-oppa, aku akan ke kamar mandi sebentar.” Ujar Sooji tanpa menoleh dan langsung pergi meninggalkan area panggung.

“O-oh… hati-hati,” balas Sungyeol seraya memperhatikan punggung Sooji yang berjalan menjauh.

 

-o0o-

 

“Mana Sooji?” tanya Myungsoo. Ia baru saja kembali seusai berbincang-bincang dengan Bang Himsoo dan beberapa photographer lainnya setelah ia turun dari panggung.

Sungyeol melirik jam tangannya lalu bersidekap. “Dia ke kamar mandi.”

“Oh…,” balas Myungsoo. Namun Sungyeol berdecak kesal mendengarnya.

“Oh? Hanya ‘oh’? Dia sudah pergi ke kamar mandi 45 menit yang lalu, Myungsoo!”

“Apa?!”

“Sudah kukira ada yang aneh dari gadis itu,” Sungyeol menggumam gelisah. “Bukankah sebaiknya kita susul saja?”

“Aku akan menyusul—“

“Ada apa tuan-tuan?” sapaan dari Bang Himsoo menghentikan aktivitas keduanya. Bang Himsoo datang berdampingan dengan Soojung.

“Kenapa kalian terlihat panik?” tanya gadis itu.

“Aku harus pergi ke suatu tempat, permisi—“

“Di mana gadis itu?” tanya Bang Himsoo lagi. “Bae Sooji-ssi, maksudku.”

Ketiganya menoleh dan memusatkan perhatian mereka pada Bang Himsoo. Hal itu membuat wanita paruh baya tersebut tertawa.

“Tidak usah serius begitu, aku hanya menanyakan keberadaannya,” ujar desainer senior tersebut. “Kukira mungkin dia sudah sadar tempatnya sekarang.”

Myungsoo mengerutkan kening. “Sadar tempat?”

“Yah… seorang desainer curang sepertinya tidak pantas berada di sini, bukan? Aku pun mengundangnya hanya agar kau bisa datang ke sini. Kudengar kau tidak pernah menghadiri pesta seperti ini, tapi karena aku ingin sekali kau datang, jadi kuundang—“

“Curang? Bisa anda jelaskan bagian mana yang curang tentang Sooji, Bang Himsoo-ssi?” potong Myungsoo.

“Tentu saja ia curang. Memakai koneksinya untuk menjadi seorang desainer. Bukankah itu curang?”

“Apa?! Himsoo-ssi, Sooji tidak pernah—“

“Bae Sooji tidak pernah curang, Himsoo-ssi.” Myungsoo memotong perkataan Sungyeol. “Gadis itu berusaha dengan tenaganya sendiri. Sama sepertiku. Jika pandanganmu serendah itu, maka seharusnya aku pun sama dengannya, bukan? Aku pun sama-sama berasal dari keluarga pengusaha seperti dirinya. Kenapa kau hanya melakukan fitnah itu padanya?”

“A-ah Myungsoo-ssi, kau kan sejak awal tidak pernah menggunakan koneksi—“

“Dari mana kau tahu aku tidak pernah menggunakan koneksiku?” Myungsoo memotong lagi perkataan Bang Himsoo. Pria itu mengepalkan kedua lengannya erat-erat, tak mampu lagi menahan emosi yang membara pada dirinya. “Pertanyaan yang sama kutanyakan pada anda. Dari mana kau tahu Sooji menggunakan koneksinya?”

Bang Himsoo terdiam. Diam-diam, wanita itu menelan salivanya yang kini terasa pahit di kerongkongan. Skak mat.

“Terima kasih telah menunjukkan seberapa rendah pandangan anda, Himsoo-ssi. Permisi.” Pamit Myungsoo yang langsung berlari pergi dari tempat itu.

Brengsek! Umpatnya dalam hati seraya mengarahkan kakinya menuju toilet.

 

-o0o-

 

Sooji tak dapat lagi memperkirakan sudah berapa lama ia berada di sini. Dengan gaun terbuka seperti ini adalah ajaib baginya jika penyakitnya itu belum menyerangnya hingga kini. Buku-buku jarinya telah memutih, dan ia sudah mulai mati rasa di ujung-ujung jarinya akibat kedinginan. Tapi ia tak peduli. Hal pertama yang tadi dipikirnya setelah dari toilet adalah menuju tempat terbuka. Entah teras, loteng, apa pun. Hingga ia menemukan tempat ini. Letaknya di lantai dua, seperti sebuah loteng meskipun tidak berada di tempat tertinggi gedung itu, tapi yang jelas ini adalah tempat terbuka. Sooji sebenarnya hanya ingin menenangkan dirinya sekaligus mengeringkan air matanya yang keluar di kamar mandi tadi.

Gadis itu kembali mendesah keras. Uap putih keluar begitu saja dari mulutnya. Ia tidak tahu. Jika saja ia tidak mendatangi pesta tersebut, ia tidak akan pernah tahu pandangan orang lain terhadapnya. Ia tidak tahu bahwa hal-hal yang sering ia lihat di drama-drama yang selalu ia tonton—seperti fitnah, iri, dengki—akan terjadi padanya pula. Ia tak pernah tahu bagaimana menyeramkan dan menyakitkannya hal tersebut hingga ia merasakannya sendiri tadi.

Kepala gadis itu merendah, ia meletakkan dagunya di atas kedua tangannya yang tertelungkup di atas pagar besi. Gadis itu menatap ke depan, ke arah pemandangan perkotaan di malam natal ini. Tiba-tiba saja ia memikirkan Myungsoo, dan mengingatnya membuat ia ingat tentang Soojung pula. Tiba-tiba saja, air mata mengalir ke pipinya dan ia kembali terisak pelan.

Gadis itu tak lagi peduli. Make up-nya telah hancur tadi, ketika ia membasuhnya hingga habis di kamar mandi. Dan kini, ia akan membuat matanya kembali bengkak dengan menangis di sini. Payah. Sooji benar-benar payah dalam mengatur perasaannya sendiri.

“Bae Sooji!”

Sooji berhenti terisak. Itu adalah suara orang yang paling tidak ingin ditemuinya nomor dua—nomor satunya adalah Bang Himsoo—suara itu milik Kim Myungsoo. Sooji mendengar derap langkah mendekat. Namun sebelum pria itu benar-benar mencapainya, Sooji berteriak,

“Jangan mendekat!”

Suara derap langkah itu berhenti. Sooji berusaha menghapus air matanya yang masih mengalir dengan kedua tangan, tapi sia-sia. Air matanya turun deras bak riak sungai. Tidak mau berhenti. Derap langkah itu kembali terdengar dan Sooji kembali berteriak,

“Aku bilang jangan mendekat!” serunya, ia kembali terisak. Ia tak tahu harus bagaimana menatap wajah Myungsoo nanti. Ia juga tak ingin pria itu melihatnya dalam keadaan kacau seperti ini. Dalam perasaannya yang kalut seperti itu, tiba-tiba Sooji merasakan sesuatu menutupi punggungnya. Sesuatu yang hangat.

“Bodoh, mana mungkin aku tidak mendekat! Ini sudah hampir jam 12 malam dan kau ada di luar dengan pakaian minim seperti itu. Setidaknya kau harus memakai sesuatu sebelum kau terkena hipotermia!” Sooji merasakan tangan Myungsoo di pundaknya. Dan mendadak tubuhnya melemah hingga ia menurut saja ketika Myungsoo membalikkan tubuhnya agar mereka dapat saling bertatapan satu sama lain. Sooji melihat Myungsoo yang kini melepas jasnya dan hanya mengenakan kemeja putih. Ternyata benda hangat yang menyelimuti punggungnya tadi adalah jas pria itu.

“Kau terluka Bae Sooji, karena mereka. Aku seharusnya tak pernah membawamu ke sini—“

“Myung,” Sooji memotong perkataan Myungsoo. Air mata masih mengalir deras di wajahnya, membuat dua buah jejak air mata di pipinya. “Aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Sooji…,”

“Apa kau dan Soojung… pernah menjalin suatu hubungan?”

Myungsoo terdiam. Ia tak menyangka pertanyaan semacam inilah yang keluar dari mulut Sooji. Apakah Sooji terluka karena mengetahui hubungannya dengan Soojung dulu? Tidak. Ia juga terluka akibat pembicaraan Bang Himsoo dan yang lainnya. Tapi dari mana gadis itu tahu tentang hubungannya dengan Soojung?

Sooji tiba-tiba tertawa getir. “Begitu… begitu rupanya…,” tangan gadis itu menyingkirkan kedua tangan Myungsoo di bahunya. “Aku memang tidak pantas…,”

“Apa maksudmu, Sooji?”

“Kau dengar sendiri, Myung. Mereka tidak menginginkanku! Aku tidak pantas berada di sini, aku tidak pantas menjadi desainer, dan melihatmu bersama Soojung tadi, mengetahui hubungan kalian, aku tahu seharusnya aku tidak mengatakan ini, tapi… tapi… aku… aku merasa tidak pantas menjadi pendam—“

Dan kala itu, waktu seakan berhenti bagi Sooji.

Kala ketika Kim Myungsoo menghapus jarak di antara keduanya dan menghentikan ocehannya dengan bibirnya. Membuat Sooji yang terlambat menyadari keadaan, melebarkan kedua matanya begitu sadar bahwa Kim Myungsoo menciumnya.

Untuk beberapa detik saat bibir Myungsoo masih menempel di bibirnya, Sooji tak bisa bernapas. Ia terkejut bukan main. Bukan ini reaksi yang ia harapkan dari seorang Kim Myungsoo.

Myungsoo menjauhkan dirinya secara perlahan dari Sooji, membiarkan Sooji bernapas. Pria itu kemudian menatap mata Sooji tajam. Kedua telapak tangannya menangkup kedua sisi wajah gadis itu, membuatnya tak bisa berpaling ke mana pun.

“Kau salah, Sooji,” ujarnya pelan, seolah ia hanya ingin mereka berdua yang mendengar ucapannya. “Mereka semua iri padamu, itu yang sebenarnya. Jangan pernah sekali-kali merendahkan dirimu sendiri, aku tidak menyukainya.”

Sooji tertegun. Setetes air mata kembali turun ke pipinya yang segera dihapus oleh ibu jari Myungsoo.

“Dan ingat ini, Tak peduli seberapa tidak pantasnya kau untukku, aku akan tetap memilihmu, Bae Sooji.” Ujar Myungsoo lagi. Kali ini, sambil tersenyum.

Ajaib. Kata-kata pria itu, senyum pria itu, semua berhasil menghentikan semua rasa sakit dalam hatinya. Air matanya pun berhenti. Dan ia akhirnya bisa tersenyum kembali.

Myungsoo kembali memajukan wajahnya, hendak menghapus jarak antara mereka lagi. Dan kali ini, Sooji lebih siap menerimanya. Ia memejamkan mata begitu bibir Myungsoo bertemu dengan bibirnya lagi. Waktu seakan terhenti kembali. Terdengar sorakan ‘selamat natal’ dari dalam, namun hal tersebut tak menghentikan keduanya.

Sooji menghabiskan detik pertama natalnya bersama Myungsoo, dalam hangatnya cinta. Dan ia tak tahu lagi hadiah apa yang sebanding dengan ini.

Bahkan santa claus pun tak akan bisa memberikan hadiah lain yang menandingi Kim Myungsoo untuknya.

TO BE CONTINUED

 

Halo semua^^

Iya, aku tau ini tuh rentang waktunya jauh banget aku tahu… kan sudah ku antisipasi sebelumnya bahwa rentang waktu kali ini bakal lama hehehe

anyway, ketemu lagi sama aku halo halo~~~ gimana? semoga kalian suka ya sama part ini… ini adalah pertama kalinya Myungsoo bener-bener bersikap manis pada Sooji dan aku bener-bener suka sama karakter dia di sini<3

Kalian pasti bertanya-tanya kenapa Myungsoo tiba-tiba jadi baik kaya gitu. Ini sebenarnya Myungsoo yang dulu atau Myungsoo yang sekarang? Jawabannya  adalah dua-duanya! Myungsoo yang sekarang merasa bersalah sama Sooji karena dia melewatkan banyak hal tentang gadis itu. Jadi, Myungsoo kembali menjadi dirinya yang dulu namun dengan ukuran mental Myungsoo yang sekarang. (ini ngerti gak sih) ya… pokoknya begitu! Kalau masih belum ngerti, tanya aja ya di boks komentar^^

btw, selamat tahun baru!

xoxo<3

Advertisements

34 responses

  1. salsa

    Untung Åϑª myung yg menguatkan hati suzy yg sempat bersedih. Krn kata 2 mereka yg mempitnah dan dengki. Myung bakalan tetap pilih suzy.

    January 11, 2015 at 5:29 am

    • Iyaaa untung ada myung haduh:”)
      Makasih ya udah baca^^

      January 11, 2015 at 11:30 am

  2. Baiq Yulia Astriani

    uwwaaaaa===

    sudah lama sekali FF ini menghilang..

    welcome back buat Remember Me MyungZy yg akhirnya dilanjutkan juga dgn akhir part yg cukup membuat tersenyum….

    gomawo…

    January 11, 2015 at 6:03 am

    • Iyaaa maafkan ya lama menghilangnya *bow* tapi untung deh kalau pada akhirnya bisa bikin terhibur 🙂
      Makasih udah baca yaaa

      Xoxo<3

      January 11, 2015 at 11:31 am

  3. dilla

    yeayyy author balikkkk^^
    udah nunggu nunggu ff ini iniihh….
    makin seruuu,suka sama myungsoo yg sekarangg<3
    lanjutt lagi ya thorr,fightingggg!

    January 11, 2015 at 6:51 am

    • Haha iyaaa aku balik lagi dilla:) waduh makasih udah nungguinnn:’)
      Fighting! Makasih ya udah baca 🙂

      January 11, 2015 at 11:32 am

  4. And Ryuu Haa

    Maksudnya dgn ukuran mntal yg skrang itu gmn…hahaahha…btw..seneng bgt bwt myungzy momentnya…hahahahaha

    January 11, 2015 at 9:30 am

  5. adiezty

    akhirnya … setelah ngbut baca dr part 1 smpe juga part 15.. semakin lama semakin seru.. penasaran gimana kelanjutan ceritaa myungsoo dan suzy..
    penasaran juga apa yg dikatakan dokter ttg myungsoo, mudah2an bukan hal jelek yaa.. trus mudah2an suzy juga operasinya berhasil… #hope
    di tunggu next chapternya.. soon ya authornim.. Komawo 🙂

    January 11, 2015 at 9:40 am

  6. Good 😀
    Kasian suzy, untung ada myungsoo yg menghiburnya

    January 11, 2015 at 11:27 am

  7. Publish juga nih ff. hohoooo
    Myungsoo dah lumayan gak menyebalkan. Dan malah si soojung dah tuh ahjumma gak tau diri yang ngeselin. Lol
    Itu si soojung jauh-jauh aja sono gih. gak usah ganggu suzy dan myungsoo.

    January 11, 2015 at 11:38 am

  8. wah, udah berbulan bulan nih nungguinya,,,, kundae………
    makin penasaran aja sama lanjutan ceritanya, dan semoga soojung ngak ngintilin si myungzy lagi,,,,
    daebak,,,,, semangat ya min lanjutin ff nya,,,,,,,!!!!!!!!!
    kami mendukung mu,,,,,,,,,,, TT-TT
    #jangan lama2……POST-nya

    January 11, 2015 at 1:36 pm

  9. nurul

    myung oppa uda ingat thor? issss memang parah banget sih yg fitnah suzy , untung ada myung oppa^^ semoga aja suzy eonni kuat ya di tunggu yaaa thor next partnya fighting thor 🙂

    January 11, 2015 at 5:41 pm

  10. asri

    welcome back author..
    aku seneng banget akhirnya chapter ini muncul
    uda ditungguin sekian lama
    huhuhuhu
    suka ending yang manis disini..
    ditunggu chapter selanjutnya ya thor
    aku padamuuuu 🙂

    January 12, 2015 at 4:34 am

  11. Myung ingatannya udh kembali makanya jadi manis. Hhh…kasian suzy banyak bgt masalahnya. Mulai dari penyakitnya, myungsoo sampai pekerjaan jg -_-

    January 12, 2015 at 6:24 am

  12. riky

    waaaahhhh udah lama d tunggu akhirnya dtang juga.hhee
    yg nyebarin gosip suzy pke koneksi pstinya kristal kan chingu ???
    d tunggu klanjutannya.. sangat ^_^

    January 12, 2015 at 12:28 pm

  13. noname

    yeah akhirnya di post udh sering bolak balik wp ini tp blm di post juga hehe myungsoo nya so sweet banget sih, aduh pengganggu nya nambah nih hehe ditunggu next partnya thor jangan lama2 ya sumpah penasaran banget, gmn sikapnya myungsoo ke suzy selanjutnya pengen baca moment so sweetnya mereka, please ya thor jangan lama2 🙂

    January 13, 2015 at 4:47 pm

  14. irma

    Aku terlmbt mengetahui ffnya uda dpublish,,hiks
    biar aq tenak,,siapa penyebar rumor suzy masuk sbg designer krma koneksi,,sojung kn???
    ih sebel ma sojung segitu pinginnya disandingin ma myung2
    untung myung tetep mlh suzy kasian sojung egois sih

    January 15, 2015 at 3:36 pm

  15. rulyl

    hoiiiiiii thorrrrrr!!!!!!!!!!!! its been so so so so so long time no see!!!!!!!! *ngomong apa?
    dan aku harus berteriak JACKPOT lagi untuk ini!!
    hwaaaaaaaa suka sekali Myung udah balik!! ah kurang suka sama krys nih! efek drama dan juga karakternya disini hahahaha
    wooohhhh kapan ni apdet lagi? jangan lama-lama lah thor! tega amat sih!
    eh ngomong-ngomong ID komenku bener yang ini kan? ‘-‘a (ceritanya kebanyakan nama :3)
    semangat thor! ^^)9

    January 15, 2015 at 5:05 pm

  16. rulyl

    whooooooaaaaaa!!!! its been so so so so long time no see!!! *ngomong apa?
    lagi. aku berteriak ini JACKPOT!! 😀
    hwaaaa akhirnya myung kambek bersamaan kambeknya author ㅋㅋㅋㅋ
    jadi agak asdfghjkl nih sama krys. hahaha selain karna ff juga masih kebayang drama hihi..
    suzy kenapa musti punya penyakit ya thor? ‘-‘a
    lanjutnya ditunggu sangat thor… please jangan lama-lama thor… *cakar tembok ㅠ.ㅠ
    semangat, author! ^^)9

    January 15, 2015 at 5:19 pm

  17. lee hee chul

    Daebak thor (y)

    January 16, 2015 at 3:07 pm

  18. Udah sedikit lupa sama jalan ceritanya thor
    Yang aku inget dipart sebelumnya myung udah inget semuanya kan?
    Huwaa so chessy thor
    Suka moment myungzy nya
    Yang nyebar fitnah tentang sooji siapa ya kira kira?
    Next ditunggu thor
    Jangan lama lama ne
    Gomawo^^

    January 17, 2015 at 1:00 pm

  19. Deborah sally

    Kelamaan nunggu nya TT jangan lama lagi. Itu penyakit Suzy tumben nggak kambuh

    January 21, 2015 at 3:20 pm

  20. MyungZy

    di tunggu part selanjutnya
    fighting!!

    January 26, 2015 at 8:29 am

  21. Leny

    setelah part2 awalnya agak nyebelin krn himsoo itu~~~
    Akhirnya ending manis bnget thor..aigoo myungzy jjang!!!

    January 29, 2015 at 3:01 am

  22. lily

    siapa sih yg nyebarin isu itu… soojung ya… wah akhirnya myung mulai melangkah maju lagi nih… bravo… myungzy jjang

    January 29, 2015 at 5:54 am

  23. Anna

    Daebak…myungsoo nya soooo sweet banget thor..

    January 31, 2015 at 1:23 am

  24. queenintansaryoqueeintansaryo

    telat banget sepertinya saya hahha. bahagia akhirnya myungsoo inget sooji. dan semoga segera ngasih tau sooji kalo dia udah ingat. kasian sooji. dan hmmmmm, semoa soojung ga berulah ya 🙂

    February 6, 2015 at 2:13 pm

  25. nifah

    Thor sya reader bru niiih 😁😁
    Daebaak bingit thor!!! 👍👍👍
    Lanjut trus ya thor
    FIGHTING!!🙌🙌🙌

    February 16, 2015 at 2:11 am

  26. suka sukasuka cepetan ya lanjutnyaaa

    March 2, 2015 at 2:20 pm

  27. Selamat waisak dek!! *berhubung besok waisak dan aku baru sadar kalo aku belum baca part yang ini*

    Aaaaaahhhh aku suka banget pas bagian endingnya itu looo!! Cocwit. Kapan gue digituin saa Myung ya *eh

    June 1, 2015 at 6:51 am

  28. huaaa…..
    mereka semua jahat ma sooji….
    untung ada myung… kerennn… huaaa.. myungzy kisseu…. huaaaa

    June 18, 2015 at 3:21 am

  29. ayu candra

    Udah baca part ini belom ya.. lupa. Hehe
    akhhh yaampun mnyebalkan sekali itu orangg. Iyuhhh sebel bangettttt
    myung cepet ajak sooji pergi dr sna

    June 27, 2015 at 2:57 pm

  30. kuchiki

    Jd hany perasaan bersalah? Bkn cinta?

    August 24, 2015 at 6:16 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s