KIM MYUNGSOO FANFICTION

Don’t You Remember Me? (Part 4)

Cover Dont You Remeber Me 3

Title: Don’t You Remember Me?

Author: Kikyindriyani

Main Cast:

Kim Myungsoo (Infinite)

Son Naeun (Apink)

Other Cast:

Lee Howon (Infinite)

Jung Eunji (Apink)

Jung Soojung/Krystal (Fx)

Genre: Romance, Sad, Angst, Hurt

Ratting: PG 15

Length: Chaptered

Disclaimer: Semua cast adalah milik Tuhan dan agensi mereka masing-masing. But this story is MINE dan ide cerita pure dari hasil pemikiranku sendiri. Please don’t copas this story. Don’t be a silent reader. RCL please…

.

.

.

Annyeong…^^

Author Kiky is back 😀

Three weeks I don’t post anystory here 😥

Hueee gak nyangka banget kalo aku udah tiga minggu lebih hiatus 😥

Ok sorry for late update.

Today…  I post next part of this fanfic.

Daripada baca note author yang bikin pusing mending turunin aja deh ni halaman -_-

Happy reading^^

.

.

.

Before Story: Love For A Year

Sequel

Previous: Part 1, Part 2, Part 3

.

.

.

Part 4

Myungsoo memasuki rumahnya dengan perasaan yang rapuh. Dengan langkah yang lemas, ia menaiki tangga menuju lantai atas. Myungsoo membaringkan tubuhnya di ranjang super empuk miliknya. Ia menatap kosong langit-langit yang berada di hadapannya dan perlahan menutup matanya.

“Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya. Ia langsung membuka matanya.

“Aku merasa menjadi lelaki yang paling jahat…” Myungsoo bangkit dari tempat tidurnya.

“Aku telah membohongi Naeun… dan bagaimana jika anak yang di kandung Krystal benar-benar…” Myungsoo menggantungkan kalimatnya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sebuah kontak. Tak lama kemudian terdengar suara yeoja dari seberang sana.

“Nde oppa?” Ternyata Myungsoo menghubungi Krystal.

“Jangan memanggilku seperti itu. Sekarang jelaskan padaku apa yang sedang kau rencanakan eoh?!” Myungsoo sedikit meninggikan suaranya.

“Rencana? Apa maksudmu dengan rencana? Aku tidak merencanakan apapun.” Myungsoo memutar kedua matanya.

“Aku tahu kau pasti merencanakan sesuatu dengan kehamilanmu itu.”

“Kau sudah mengetahuinya? Baguslah.”

“Kau… Berhenti mengganggu hidupku Krystal! Belum cukupkah kau menghancurkan hubunganku?”

“Menghancurkan? Kau fikir hanya aku penyebab dari semua kekacauan ini. Bukankah kau sendiri yang menggodaku? Dan salahmu sendiri menjadikanku sebagai simpananmu.” Myungsoo mengepalkan tangannya.

“Ok… aku tahu, aku salah. Aku yang salah karena telah membohongimu dan Naeun. Tapi… tidak bisakah kau melepaskanku setelah ku ucapkan kata perpisahan?”

“Tidak bisakah kau melepaskanku dan membiarkanku kembali bersamanya…? Haruskah aku berlutut dan memohon padamu agar kau menjauh?” Myungsoo mengendurkan kepalan tangannya.

“Eumm… tidak dan tidak akan pernah.” Myungsoo menutup mata menahan kesal.

“Aku belum bisa mempercayaimu, sebelum  melihatnya sendiri.”

“Geure… datanglah ke apartementku jika kau ingin melihatnya sendiri.”

“Baik! Aku akan kesana besok!” Pip. Telepon pun terputus. Myungsoo kembali membaringkan tubuhnya.

“Aku harus  melihatnya sendiri. Baiklah… aku akan mengunjunginya besok.”

~~~~

Sementara itu di kamarnya, Naeun terus menyentuh kalung pemberian Myungsoo. Ia membuka liontin itu dan takjub mellihat isinya. Yang tidak lain adalah foto dirinya dan Myungsoo. Naeun meraih ponselnya dan menghubungi kontak Myungsoo. Tak lama kemudian terdengar suara dari seberang sana.

“Nde chagiya?” Naeun tersenyum mendengarnya.

“Kau sudah sampai rumah?”

“Eoh. Apa kau begitu merindukanku hingga kau menelpon?” Semburat merah muncul di pipi Naeun.

A… Aniya… kau percaya diri sekali.” Jawab Naeun gugup.

“Kau tak perlu membohongiku Naeun-ah. Aku benar bukan?”

“Baiklah kau menang Mr.Kim. kau tahu? Aku begitu sangat merindukanmu sampai tak pernah berhenti memandangi fotomu.”

“Benarkah? Hehe. Aku disini chagi… aku akan selalu bersamamu.” Naeun tersenyum mendengarnya.

Gomawoyo chagiya…

“Nde… sekarang pergi tidur atau aku akan menghantuimu dalam mimpi.”

“Coba saja kalau kau berani. Keuno.” Telpon pun terputus. Naeun terus mendekap ponselnya. Ia begitu sangat bahagia.

“Inilah yang dinamakan cinta. Di awal bahagia, tapi di akhir… belum tentu semua akan berakhir bahagia.” Gumamnya.

Naeun bangkit dan duduk menghadap meja belajarnya. Ia mengeluarkan sebuah catatan harian yang biasa ia tulis sebelum ia terlelap. Naeun membuka lembaran-lembaran kertas dari buku itu dan mencari lembaran kosong untuk menuliskan isi hatinya.

Seoul,14th May 2015

Aku begitu sangat menikmati hari ini. Dimana seorang yang sangat ku sayangi mengajakku pergi dan kami menghabiskan waktu bersama seharian. Saat kami menaiki perahu, ia memberikanku sebuah kalung liontin yang sangat indah.

Aku begitu sangat bahagia saat ia memelukku erat. Dapat ku rasakan kasih sayang tulus yang ia berikan padaku. Hingga saat ini aku tak bisa memungkiri bahwa aku begitu sangat merindukannya. Jantungku berdebar kencang jika ku ingat sosoknya yang begitu sangat sempurna. Dan bila ku sebut namanya… tanpa ku sadari kedua sudut bibirku terangkat. Melekuk membentuk sebuah senyuman.

 

“Naeuh-ah!!” Naeun menghentikan aktivitas menulisnya karena sang Ibu berseru memanggil namanya.

Nde eomma?!” jawab gadis itu dari dalam.

“Keluarlah dulu. Ada yang sesuatu yang ingin eomma berikan padamu!” Naeun menghela nafas dan menutup buku catatan itu. Naeun melangkah ke arah pintu dan membukanya perlahan.

Waeyo?” tanyanya malas pada sang Ibu.

Cha…” Nyonya Son memberikan Naeun sebuah gaun putih yang cantik. Naeun menatap heran gaun itu.

Ige mwoya?” Nyonya Son memutar kedua matanya.

“Tentu saja gaun. Gaun untuk acara pertunanganmu minggu depan.”

Deg….

M…mwo?” tanyanya terbata-bata.

Eoh. Dan dalam waktu singkat kita akan mendekor rumah ini sedemikian rupa untuk acara pesta pertunanganmu bersama Howon. Ingat! Jangan berbuat hal yang aneh.” Nyonya Son berlalu meninggalkan Naeun yang masih diam mematung di ambang pintu.

Naeun tak kuat menompang berat badannya dan terduduk lemas di lantai. Ia tak menyangka jika pernikahannya bersama Howon akan tetap dilanjutkan. Naeun menangis tersedu, sesak… itulah yang ia rasakan saat ini.

“Apa yang harus aku lakukan Myungsoo-ya…”

****

Myungsoo melangkah di koridor gedung apartement. Setelah menemukan alamat yang di tuju, ia mengangkat tangannya ragu dan perlahan mengarahkan tangannya menuju tombol bel. Ia menekan tombol itu dan menunggu sejenak. Tak lama kemudian pintu terbuka, dapat ia lihat seorang yeoja menampakan dirinya di ambang pintu.

“Kau datang.” Myungsoo hanya mengedipkan kedua matanya.

“Masuklah.” Titah yeoja itu pada Myungsoo.  Ia pun memasuki ruangan apartement yang terbilang cukup megah dan mewah itu. Myungsoo menatap perut yeoja yang tak lain adalah Krystal.

“Kau… benar-benar sedang mengandung?” Krystal mengangguk.

Eoh.”

“Kau yakin itu adalah anakku?” Krystal mengedipkan kedua matanya.

Eoh. Kau ingin melihat surat pernyataan dokter?”

Geureom. Aku ingin melihatnya.” Krystal berlalu meninggalkan Myungsoo. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah map berwarna biru.

Dengan cepat Myungsoo meraih map itu dan mengecek isinya. Dapat ia lihat hasil tes dan surat pernyataan dokter yang menyatakan bahwa Krystal sedang mengandung. Dan usia kandungannya kini sudah berumur tiga bulan.

“Ti… tidak mungkin… ini pasti tidak benar…”

“Kau harus menerima kenyataannya oppa. Bahwa aku… sedang mengandung anakmu.” Myungsoo terduduk di sofa. Ia menyentuh kepalanya yang berdenyut.

“Aku ingin kita lakukan tes DNA.” Krystal sedikit tersentak.

Mwo?! Kau masih belum bisa mempercayainya?”

Eoh. Dan aku akan seratus persen mempercayaimu jika kita sudah lakukan tes DNA.”

Geure… mari kita lakukan tes DNA. Dan jika hasil tes positif menyatakan bahwa aku benar-benar mengandung anakmu… kau harus menikahiku.” Tantang Krystal pada Myungsoo.

“Baik. Aku akan menikahimu jika hasil tes menunjukan bahwa aku adalah ayah biologis dari anak yang kau kandung.”

Geure… ayo kita pergi ke rumah sakit dan ayo kita lakukan tes DNA.”

“Baik. Aku tunggu kau di mobil.” Myungsoo bangkit dan melangkah keluar dari apartement.

Singkat cerita, kini mereka telah tiba di rumah sakit. Setelah registrasi, Myungsoo dan Krystal menunggu di ruang tunggu. Tak lama kemudian mereka di panggil untuk memasuki lab. Setelah melakukan serangkaian tes. Myungsoo dan Krystal keluar dari gedung rumah sakit.

“Baik, mari kita tunggu hasil tes ini satu minggu ke depan. Jika hasilnya negatif, maka kau harus pergi dari kehidupanku.” Ucap Myungsoo dingin.

Geure… aku akan pergi dari kehidupanmu jika hasil tes negatif.” Myungsoo mengangguk dan mengantarkan Krystal ke apartementnya.

~~~~

Sementara itu di sebuah kamar bernuansa pink. Seorang gadis membenamkan wajahnya di bantal. Terlihat punggungnya berguncang menyembunyikan kesedihannya. Jung Eunji, gadis yang satu bulan terakhir menjadi kekasih Howon menangis tersedu ketika mendapati sebuah undangan pesta pertunangan antara Howon dan Naeun.

Eunji tak kuasa menahan tangisnya. Ia tak menyangka jika Howon akan tetap bertunangan dengan Naeun sekalipun ia sudah mengungkapkan perasaannya satu bulan yang lalu. Ia merasakan ponselnya berdering dan dapat ia nama pemanggil yang tidak lain adalah Howon.

Eunji yang masih kesal dan kecewa pada Howon langsung mereject panggilan Howon. Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering dan dengan cepat gadis itu menekan tombol merah memutus panggilan telpon dari namja bernama Lee Howon itu.

Tak lama kemudian ia mendapatkan satu pesan. Ia membuka pesan yang ternyata dari Howon.

Aku tunggu kau di taman. Ku mohon datanglah…

Eunji melempar ponselnya asal.

“Sampai kapanpun aku tidak akan datang.” Jawabnya sambil kembali membenamkan wajahnya. Tak lama kemudian ia pun kembali menerima pesan. Ia langsung membaca pesan itu.

Aku akan menunggumu. Aku tidak akan pergi meninggalkan tempat ini sebelum kau datang menemuiku.

Eunji menghiraukan pesan itu dan kembali membenamkan wajahnya.

Di lain tempat Howon terus menunggu kedatangan Eunji. Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 waktu setempat. Dan ia masih tetap duduk di kursi panjang yang tersedia disana. Ia akan terus menunggu hingga Eunji mau menemuinya.

Eunji terbangun dari tidurnya, ia melirik jam wekernya dan waktu sudah menunjukan pukul 20.30. Eunji memeriksa ponselnya dan banyak sekali pesan yang masuk. Eunji terkejut melihat pesan terakhir yang Howon kirimkan padanya.

Aku masih menunggumu Eunji. Aku tidak akan pergi sampai kau mau menemuiku.

Eunji meliriki jendela rumahnya dan hujan turun cukup deras. Dengan cepat ia meraih jaketnya dan pergi keluar dengan menggunakan payung.

Ia mengunjungi taman yang di katakan Howon di dalam pesannya. Dengan perasaan khawatir Eunji mencari keberadaan namja itu. Ia mengelilingi taman tersebut dan menemukan Howon dengan setia menunggu kedatangannya . Eunji melangkah menghampiri namja yang pakaiannya sudah basah kuyup tersebut.

Paboya!” Howon mendongkak dan menemukan gadis yang sejak sore ia tunggu, kini telah berada di hadapannya.

“Mengapa kau melakukan hal bodoh seperti ini eoh?! Kau membuatku menjadi sangat bersalah.” Howon tak menjawab dan langsung memeluk erat gadis itu membuat payung yang digenggam Eunji terjatuh membiarkan hujan membasahi mereka.

“Aku senang kau datang. Aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Ku mohon dengarkan penjelasanku.” Eunji terdiam tak menjawab.

“Aku tahu kau pasti telah menerima undangan itu. Ku mohon jangan berburuk sangka terlebih dahulu.” Eunji yang berada dalam dekapan Howon, meneteskan airmatanya mengalir bersama air hujan.

“Kau juga sudah tahu bukan jika Naeun sudah memiliki Myungsoo. Orangtuaku dan Naeun, merencanakan pertunangan kami tanpa bertanya terlebih dahulu padaku ataupun Naeun.” Eunji memejamkan matanya.

“Baik aku ataupun Naeun… tidak ada yang menginginkan perjodohan ini terjadi.” Howon melepaskan pelukannya dan menatap mata gadis itu.

“Karena aku sudah memilikimu… yang mencintaiku sepenuh hati. Dan Naeun juga telah memiliki Myungsoo, yang juga sangat menyayanginya.” Howon mencium dahi Eunji lembut. Eunji dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari Howon. Tak lama kemudian Howon pun melepaskan ciumannya dan meraih wajah Eunji.

“Aku mencintaimu Jung Eunji… tak bisakah kau merasakannya?” Eunji menatap lekat mata namja itu. “Hanya kau yang aku cintai, hanya kau yang bisa membuat jantungku berdebar.” Eunji masih menatap mata hazelnut milik Howon. Howon menempelkan dahinya membuat jarak diantara mereka semakin sempit.

“Kau mempercayaiku bukan?” Eunji dapat merasakan hembusan nafas Howon di wajahnya. Ia mengangguk mengiyakan pertanyaan Howon. Howon tersenyum dan…

Chu…

Howon mencium bibir Eunji lembut. Di bawah guyuran hujan, mereka membuktikan bahwa cinta mereka tidak akan pernah luntur walau cobaan terus menghampiri. Mereka yakin, semua akan indah pada waktunya. Tak lama kemudian Howon pun melepaskan ciumannya.

“Mari kita buktikan kepada dunia, bahwa kita akan terus bertahan, walau cobaan terus menghampiri kita.” Eunji mengangguk dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Howon.

Nde… aku tidak akan menyerah… aku akan terus bertahan.” Howon tersenyum dan membalas pelukan Eunji.

Saranghae Jung Eunji…”

Nado saranghae Lee Howon…”

~~~~

Sementara itu di rumahnya Myungsoo menatap kosong undangan pesta pertunangan Naeun bersama Howon yang akan dilaksanakan dalam enam hari kedepan. Myungsoo menunduk sambil menutup matanya. Terlalu banyak hal yang ia pikirkan saat ini, mulai dari kehamilan Krystal, hasil tes DNA dan kini di tambah dengan pesta pertunangan Naeun.

“Argh!” Myungsoo mengacak rambutnya frustasi.

“Begitu banyak hal yang ku pikirkan saat ini.” Myungsoo menyandarkan kepalanya di sofa empuk miliknya. Tak lama kemudian ia merasakan ponselnya berdering. Dapat ia lihat nama Naeun di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang ia menggeser layar ponselnya dan menempelkannya di telinga kanannya.

Nde Naeun-ah?” jawab Myungsoo tenang.

“Myungsoo-ya…” dapat ia dengar suara gadis itu bergetar, menandakan bahwa ia sedang menangis.

“Naeun-ahwae geureyo?” Tanya Myungsoo panik.

“Myungsoo-ya… o… orangtuaku…”

Wae? Ada apa dengan orangtuamu?”

“Mereka… mereka akan melaksanakan pertunanganku dengan Howon… aku tidak mau berpisah denganmu Myungsoo-ya…” Myungsoo menutup matanya. Ia tahu Naeun pasti akan mengatakan hal ini padanya.

Arra. Aku sudah menerima undanganmu.”

“Jinjayo?! Eotteokkhae… aku hanya ingin bersamamu Myungsoo-ya.” Mata Myungsoo mulai berkaca-kaca.

Nado Naeun-ah… aku tidak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya.” Jawab Myungsoo spontan.

“Mwo? Dua kali? Kapan pertama kali aku memilikimu?” Myungsoo tersadar ia telah melontarkan kalimat yang salah.

A… Aniya… maksudku aku tak ingin kehilanganmu Naeun-ah.” Dengan cepat Myungsoo meralat ucapannya.

“Ah nde… lalu bagaimana denganku Myungsoo-ya? Aku tidak ingin pertunangan ini terjadi.” Myungsoo terdiam memikirkan jalan terbaik.

“Aku akan memikirkan jalan keluarnya Naeun-ah.”

****

Howon terus berbaring di ranjangnya. Ia merapatkan selimutnya dan sesekali terdengar suara batuk dan bersin dari dalam selimut itu. Ya, sepertinya namja itu mengalami gejala flu. Setelah kemarin, hampir 5 jam ia duduk menunggu di taman yang diguyur hujan lebat. Tidak heran jika keadaannya menjadi buruk.

“Uhuk! Uhuk! Haaacim!!” Howon kembali batuk dan bersin. Tak lama kemudian ia merasakan ponselnya berdering. Tertera nama Eunji di layar ponselnya.

Nde… chagiya…” jawab Howon dengan suara serak.

“Gwenchanayo? Sepertinya keadaanmu sedang tidak baik chagiya.”

Aniya… uhuk… nan gwenchana…”

“Aish! Kau ini… sudah batuk masih saja menyangkal. Kau sedang sakit sayang. Ini salahku karena tidak langsung menemuimu kemarin.”

Gwenchana chagiya… aku senang kau mengkhawatirkanku.”

“Kau harus meminum obat. Aku ingin kau sehat kembali.” Howon tersenyum mendengarnya.

Ne… aku akan sembuh, aku akan meminum obat agar bisa kembali menemanimu.”

“Ne… saranghae chagiya…”

Nado saranghae chagiya…”

~~~~

Sementara itu di kamarnya, Myungsoo membuka matanya. Dapat ia lihat cahaya matahari yang cukup menyilaukan pandangannya menerobos masuk melalui celah jendela kamarnya. Ia bangkit dan duduk di tepi ranjangnya. Namja itu menguap menahan rasa kantuk yang masih menyelimutinya.

Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Entah karena pengaruh dari rasa kantuknya ia begitu lambat mengangkat kakinya menuju kamar mandi yang jaraknya kurang dari satu meter. Setelah tiba di dalam, ia menyalakan shower, membiarkan air dingin itu membasahi tubuhnya.

Sejenak Myungsoo kembali memikirkan Naeun. Ia belum mengetahui kabar gadis itu, terakhir kali gadis itu menghubunginya adalah tadi malam dengan suara yang bergetar. Myungsoo memejamkan matanya memikirkan jalan keluar untuk semua masalahnya, namun semua terasa berat bagai memikul batu besar di punggungnya.

Setelah selesai membersihkan diri ia pergi ke dapur dan mencari makanan yang bisa ia konsumsi hari ini. Tangan kekarnya meraih pegangan kulkas dan menariknya membuat ia dapat melihat semua bahan makanan yang ia miliki. Ia mengambil sebotol air mineral dan meneguk habis setengah dari botol itu.

Myungsoo menutup kembali pintu itu dan melihat bayangan yang tidak begitu jelas terpampang di pintu berbahan metal . Ia menyentuh rambutnya yang sudah sedikit panjang.

“Sepertinya aku butuh suasana baru.” Gumamnya sambil menyentuh rambut hitamnya.

Myungsoo meraih ponselnya dan menghubungi sebuah kontak. Setelah beberapa saat menunggu ia mendengar suara gadis dari seberang.

“Yeobuseyo?”

Yeobuseyo. Eunji-ya, apa kau sibuk hari ini?”

“Hmm… hari ini aku akan menjenguk Howon. Waeyo?”

“Hmm geureaniya… ah iya, kau bilang akan menjenguk Howon? Memangnya apa yang terjadi padanya?”

“Dia sedang sakit, karena menungguku kemarin. Aish jangan kau tanyakan kenapa. Aku sedang tidak ingin membahasnya. Keuno!” sambungan pun terputus. Myungsoo menatap sebal ponselnya.

Aish yeoja itu. Aku yang menelpon mengapa ia yang mematikannya. Ish!” gerutu Myungsoo

“Sebaiknya aku pergi sendiri saja.” Myungsoo meraih jaketnya yang tergantung di dekat pintu. Dan melesat bersama mobilnya.

~~~~

Myungsoo keluar dari mobil sport miliknya dan masuk ke dalam gedung besar yang tidak lain adalah barber shop. Para pegawai menyambutnya ramah. Ia melangkah menuju resepsionis yang tak jauh dari pintu masuk.

Setelah registrasi ia memasuki ruangan dimana para pria sedang di potong rambutnya sedemikian rupa. Ia pun duduk di sebuah kursi menunggu namanya di panggil. Setelah beberapa saat kemudian namanya di panggil dan ia pun duduk menghadap sebuah cermin berukuran besar.

“Model seperti apa yang kau inginkan?” Tanya seorang namja bertubuh atletis tiba-tiba.

“Aku ingin mengubah warna rambutku. Warna apa yang sedang booming saat ini?”

“Hmm… warna blonde sangat digemari saat ini. Kau mau mencobanya?” Myungsoo berfikir sejenak.

“Baiklah, sepertinya warna itu cocok untukku. Dan tolong potong juga rambutku.” Namja itu mengangguk dan mulai melakukan pekerjaannya.

Semoga mengganti warna rambut dapat memerikan suasana baru untukku. Batin Myungsoo

Dua jam telah berlalu. Myungsoo keluar dari gedung itu dan menutup rambutnya dengan topi yang ia kenakan sebelumnya. Seperti seorang artis yang dikejar media, ia langsung memasuki mobilnya dan melajukannya meninggalkan tempat itu.

Sebelum pulang ia mengunjungi supermarket terlebih dahulu. Myungsoo mengambil keranjang dan memasukan bahan makanan seperti sayuran, daging, roti dan yang lainnya dengan jumlah yang cukup banyak. Padahal bahan makanan di rumahnya terbilang masih banyak dan lengkap.

Setelah membayar semuanya Myungsoo kembali memasuki mobilnya dan melesat ke suatu tempat. Myungsoo tersenyum menatap beberapa kantung plastik yang berisi bahan makanan itu. Ia kembali fokus ke jalanan. Di perempatan ia membelokkan mobilnya ke arah kanan. Ia menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah kontrakan yang terlihat cukup kumuh.

Ia keluar dari mobil dan membawa kantung yang berisi bahan makanan yang telah ia beli di supermarket. Myungsoo tidak peduli jika celananya menjadi kotor karena jalanan yang becek dan berlumpur. Yang ia inginkan sekarang adalah menemui seseorang yang tinggal di dalam sana.

“Myungsoo hyung!!” teriak seorang anak laki-laki berumur 6 tahun yang langsung berlari menghampiri dan langsung memeluknya.

“Ah Jaewon-ah…”

Hyung, mengapa kau baru kemari? kami semua sangat merindukanmu.”

Mianhae Jaewon-ah… aku sibuk akhir-akhir ini.”

“Hey semuanya Myungsoo oppa datang!” teriak gadis kecil berumur 9 tahun pada yang lainnya. Dan setelah itu sekumpulan anak berusia 5-10 berlari menghampirinya.

“Myungsoo oppa! Kami sangat merindukanmu. Mengapa tidak mengunjungi kami?” Myungsoo tersenyum menatap gadis yang memanggil anak-anak lain untuk datang.

Mianhae Minhae-ya… aku sangat sibuk akhir-akhir ini.” Jawabnya.

Yah! Mengapa kalian semua berada disini? Cepat bantu dia membawa belanjaannya.” Pekik seorang namja berumur 22 tahun tiba-tiba.

Nde…” semua menjawab dan langsung membantu Myungsoo membawa belanjaannya. Myungsoo tersenyum menatap sekumpulan anak-anak yang mengerubuninya tadi memasuki rumah itu.

Yah. Ku pikir kau sudah melupakan tempat ini dan tidak akan datang lagi kemari.” ucap namja itu dingin. Myungsoo menaggapinya dengan sebuah senyuman.

“Tentu saja aku tidak akan pernah lupa. Aku hanya sibuk akhir-akhir ini dan-”

“Ya, ya baiklah terserah kau saja.” Potong namja itu mebuat senyum Myungsoo kembali merekah.

“Tunggu dulu…” namja itu memperhatikan gaya rambut myungsoo. “Kau mengganti warna rambutmu?” Myungsoo hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan itu. “Dan gaya rambutmu mirip denganku. Hanya warnanya saja yang berbeda.” Myungsoo tersenyum mendengarnya.

“Kau memperhatikan penampilanku? Apa ini artinya kau sudah memaafkanku.” Namja itu memalingkan wajahnya sambil mendengus.

“Jangan berfikir aku sudah memaafkanmu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkanmu dan keluargamu.” Myungsoo tersenyum hambar dan kembali menatap namja itu.

“Baiklah aku tahu orangtuaku memang bersalah. Tapi… tidak bisakah kau memaafkanku saja?” Namja itu menatap Myungsoo tajam.

“Tidak. Sebaiknya kau pergi dari sini.” Jawab lelaki itu dan langsung menutup pintu rumahnya. Myungsoo menghela nafas dan membuangnya perlahan.

“Jika dulu eomma tidak membuangmu. Kita pasti sudah sangat akrab sekarang.” Myungsoo menunduk dan berjalan gontai menuju mobilnya. Ia memasuki mobilnya dan menutup matanya sejenak.

“Dia masih belum bisa memaafkanku…” gumamnya sambil membuka matanya.

“Tapi setidaknya aku sudah menemukannya. Aku tidak menyangka eomma tega melakukan hal seperti ini.”

Flashback

Lima tahun yang lalu, sepulangnya Myungsoo dari sekolah ia mendengar percakapan orangtuanya di ruang tengah. Mereka tidak menyadari kedatangan Myungsoo. Saat Myungsoo akan menyapa mereka ia terkejut mendengar ucapan Ibunya.

”Aku sangat merindukan anak itu. Mengapa eommonim tidak mengizinkanku merawatnya?” Myungsoo terdiam di tempatnya.

“Selain Sunggyu dan Myungsoo… bukankah kita memiliki satu anak laki-laki lainnya?” Tanya Nyonya Kim pada suaminya. Myungsoo yang tak jauh dari sana terkejut mendengar perkataan eommanya. Ia terduduk lemas bersandar di dinginnya dinding.

“Ia adalah adik Myungsoo. Aku belum sempat memberinya nama karena eommonim terus memaksaku untuk menyimpannya di depan panti asuhan.” Ucap Nyonya Kim sambil berlinang air mata.

“Aku hanya sempat memberikan nama inisial padanya. L…” Myungsoo yang  mendengar percakapan itu, kini mengetahui bahwa ia memiliki seorang adik berinisial… L.

“Aku… harus menemukannya! Bagaimanapun caranya… aku harus menemukannya!” tekad Myungsoo.

 

Flashback end

Myungsoo kembali ke rumahnya dan membaringkan tubuhnya di sofa. Namun dengan cepat ia bangkit kembali ketika mendengar suara ribut didapurnya. Ia melangkah dengan hati-hati menuju ruangan itu. Sesampainya disana ia bisa bernafas lega karena kakaknya Sunggyulah yang sedang menggunakan dapurnya.

Yah hyung! Kau mengagetkanku saja.” Sunggyu menoleh sebentar dan kembali fokus pada masakannya.

“Kau sudah pulang? Tunggulah di meja makan. Ada yang ingin ku tanyakan padamu.” Ucap Sunggyu tak menatap Myungsoo sedikitpun. Myungsoo mendengus dan menuruti ucapan sang kakak dengan duduk menunggu di ruang makan.

Beberapa menit kemudian Sunggyu datang dengan membawa sepiring penuh spaghetti dan dua buah garpu.

“Ayo kita makan!” Myungsoo mengangguk dan membiarkan Sunggyu meletakan piring itu di meja. Mereka menyantap spaghetti itu bersama hingga habis tak bersisa.

“Aku merindukanmu hyung…” ucap Myungsoo tiba-tiba. Sunggyu menaikan sebelah alisnya.

Wae? Bukankah aku sudah disini sekarang?”

“Bukan itu hyung…” Sunggyu menunggu jawaban Myungsoo. “… Aku rindu makan malam bersamamu.” Sunggyu tertawa lepas mendengarnya.

“Hahaha… aigoo… aku fikir ada apa.” Myungsoo tersenyum mendengarnya. “Ok kau sudah membuatku tertawa kali ini. Awalnya aku ingin menanyakan masalahmu dengan Krystal. Tapi karena moodku sedang baik. Sebaiknya kita minum bersama.” Senyum Myungsoo perlahan luntur setelah mendengar nama Krystal. Ia pun mengangguk mengiyakan perkataan hyungnya.

“Ah iya. Aku baru menyadarinya.”

Waeyo?”

“Rambutmu… kau mengubah warna rambutmu?” Myungsoo mengangguk dan bangkit ke dapur untuk mengambil wine.

Singkat cerita, Myungsoo dan Sunggyu sudah menghabiskan sebotol penuh wine, membuat keduanya mabuk. Namun diantara keduanya hanya Sunggyu yang paling banyak minum, membuatnya mabuk berat.

“Kim Myungsoo…”

“Nde hyung…?” jawab Myungsoo yang masih sadar.

“Tidakkah kau tahu bahwa aku… menyukai Krystal sejak dulu?” Myungsoo terhenyak mendengarnya.

M…Mworago?” Sunggyu tersenyum sinis.

“Aku ingin sekali menghajarmu ketika mengetahui bahwa kau menjadikannya simpananmu dulu.” Myungsoo terdiam tak menjawab.

“Aku menyukainya! Ah ani. Lebih tepatnya aku mencintainya!” seru Sunggyu cukup keras.

“Semua sudah terbayar ketika kau pergi meninggalkannya. Tapi…” Sunggyu menggantungkan kalimatnya.

“Mengapa kau menghamilinya eoh?!!” bentaknya membuat Myungsoo semakin menundukkan kepalanya.

“Jika ia benar-benar sedang mengandung anakmu… aku tidak akan sudi tinggal satu rumah denganmu.” Myungsoo mengangkat kepalanya menatap hyungnya yang sudah tidak sadarkan diri. Ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya.

Mianhae hyung…” ucap Myungsoo sambil menatap hyungnya.

“Aku tidak tahu jika kau menyukai Krystal sebelum aku mengenalnya.”

****

Tiga hari kedepan adalah hari yang tidak di harapkan oleh Naeun ataupun Howon. Howon memilih untuk berkencan dengan Eunji sebelum hari menakutkan itu tiba. Sementara Naeun, Naeun hanya berdiam diri di rumah.

Sebenarnya ia juga ingin pergi keluar bersama Myungsoo. Namun entah mengapa namja itu sangat sulit untuk di hubungi. Naeun berdiri di balkon kamarnya yang berada di lantai atas. Kebetulan kamarnya menghadap kearah barat. Sehingga ia dapat melihat matahari yang akan terbenam sebentar lagi.

Naeun menutup matanya memikirkan namja yang selama dua bulan ini mengisi hatinya. Ia begitu sangat merindukan sosok namja itu. Tanpa terasa butiran bening jatuh membasahi kedua pipinya.

“Myungsoo-ya…” gumamnya memanggil namja itu.

Jeongmal bogoshippeoyeo…” Naeun menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Tak lama kemudian ia mendengar ponselnya berdering. Tanpa melihat nama pemanggil, ia langsung mengangkat telpon itu.

Yeobu-“

“Naeun-ah ini aku Myungsoo.” Naeun terdiam sesaat, ia masih belum bisa mempercayainya. Bahwa namja yang menelponnya saat ini adalah Myungsoo.

“Naeun-ah… kau disana?” Naeun tersadar saat suara itu kembali menyerukan namanya.

“Ah nde Myungsoo-ya? Aish! Mengapa kau baru menghubungiku? Kau tahu… aku sangat merindukanmu…” jawab Naeun dengan suara sedikit bergetar.

“Mianhae Naeun-ah… aku tidak sempat menghubungimu karena aku memiliki sedikit masalah dengan keluargaku. Tapi kau tak perlu khawatir. Aku sudah menyelesaikan semuanya.” Naeun bernafas lega mendengarnya.

“Ah iya Naeun-ah…”

Waeyo?”

“Bisakah kau pergi ke taman yang berada di seberang rumahmu?”

“Aku bisa kesana. Wae?”

“Aku disini. Berada di taman yang ku sebutkan tadi. Jika kau merindukanku, datanglah kemari.” Dengan cepat ia meraih jaketnya dan pergi keluar dari rumah.

Ia berlari menuju taman dan mencari sosok namja itu. Ia melirik ponselnya dan panggilan telpon belum terputus. Ia menempelkan benda itu di telinganya sambil melirik ke sekelilingnya.

Eodigayo?”

“Aku duduk di bangku yang menghadap ke area bermain anak-anak.” Naeun berlari ke arah area permainan. Dan menemukan seorang namja dengan rambut pirang tersenyum melihat anak-anak bermain disana.

Naeun melangkahkan kakinya ragu. Ia tidak yakin jika namja itu adalah kekasihnya Kim Myungsoo. Namja itu menyadari kehadiran Naeun dan tersenyum padanya. Naeun tidak mengenalinya karena namja itu mengenakan kaca mata hitam dan topi.

Nuguseyo?” Tanya Naeun pada namja itu. Namja itu tersenyum, melepaskan topi dan kacamata yang terpasang padanya. Naeun terkejut melihat sosok itu yang ternyata adalah Myungsoo.

“Myungsoo-ya… kau…”

“Mengubah warna rambutku?” Naeun mengangguk perlahan.

Wae?” Myungsoo tersenyum mendengarnya.

“Hanya mencari suasana baru. Bagaimana? Bagus tidak?” Naeun melihat penampilan Myungsoo yang berbeda.

“Kau…” Naeun menggantungkan kalimatnya. “…Sangat tampan!” Naeun menghambur ke pelukan Myungsoo, membuat namja itu tersenyum sambil membelai rambut gadis itu.

Gomawo. Sebaiknya kita pergi, tidak baik jika anak-anak melihat kita berpelukan seperti ini.” Naeun mengangguk. Myungsoo menggenggam tangan Naeun erat. Mereka melangkahkan kaki meninggalkan area itu.

Myungsoo dan Naeun menatap pemandangan danau kecil yang menampakkan bayangan matahari senja yang hampir sepenuhnya terbenam. Disaat itu Myungsoo membalikkan tubuh Naeun memaksa pandangan mereka bertemu tanpa bersuara sedikit pun. Perlahan Myungsoo mendekatkan wajahnya dan Naeun pun perlahan menutup matanya. Tepat disaat matahari terbenam sepenuhnya…

Chu…

Myungsoo mencium bibir cherry gadis itu lembut. Mengungkapkan betapa ia sangat merindukan gadisnya. Begitupun Naeun, begitu sangat menikmati kecupan di bibirnya. Menandakan bahwa ia juga sangat merindukan lelaki itu.

****

Hari demi hari telah berlalu. Kini semua orang di kediaman keluarga Son sedang mendekor rumahnya untuk pesta pertunangan putri semata wayang mereka Son Naeun. Namun sang empunya tidak bersemangat menantikan acara yang akan dilaksanakan nanti malam.

Naeun terus mengurung diri di kamarnya. Ia sedang tidak ingin berjalan-jalan keluar ataupun melakukan hal lainnya. Yang ia inginkan hanya satu. Batalkan acara pertunangan ini sehingga ia dapat menjalani hidupnya bersama Myungsoo.

“Myungsoo-yajebal… batalkan acara ini untukku.”

~~~~

Myungsoo berjalan mondar-mandir, menimang apakah ia harus pergi atau berdiam diri di rumahnya. Sementara itu Sunggyu kesal melihat adiknya yang terlihat seperti sebuah setrika.

Aish! Jika kau ingin pergi, pergi saja! Aku pusing melihat tingkahmu  yang seperti ini.” Myungsoo menghela nafas dan memutuskan untuk pergi ke pesta pertunangan Naeun dan Howon.

Sebelum masuk ke kamarnya ia merasakan ponselnya bergetar dan melihat nama Eunji tertera di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang, Myungsoo langsung mengangkat panggilan itu.

Nde Eunji-ya?”

“Myungsoo-ya. Apa kau akan datang ke pesta pertunangan Naeun dan Howon?”

“Aku berencana akan datang. Waeyo?”

“Kau yakin akan tahan melihat gadis pujaanmu bertunangan dengan lelaki lain.” Myungsoo terdiam sejenak.

“Aku tahu… tapi… Aku tidak ingin ia kecewa karena aku tidak datang dan tidak melakukan apapun. Walaupun sebenarnya… aku pasti akan lebih mengecewakannya.”

“Ah geure… aku memutuskan untuk tidak datang karena Howon yang menyuruhku. Kau akan tetap datang?” Myungsoo menghela nafas dan membuangnya perlahan.

“Aku akan tetap datang. Walaupun kedatanganku hanya akan membuatnya semakin sedih.”

“Geure… semoga kau kuat melihatnya.”

Negomawo Eunji-ya.”

“Ne cheonma. Keuno.” Telpon pun terputus dan dengan segera Myungsoo memasuki kamarnya untuk bersiap-siap.

~~~~

Detik demi detik telah berlalu. Naeun menatapi bayangan dirinya di cermin yang berukuran cukup besar. Dengan gaun putih yang seminggu lalu telah disiapkan orangtuanya, Naeun terlihat sangat cantik dan anggun. Namun semua itu tak sedikitpun membuatnya bahagia.

Naeun menatap layar ponselnya. Kosong- tak ada satu pun panggilan masuk atau pesan yang datang. Naeun menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan muncullah sosok Ibunya yang mengenakan gaun berwarna merah marun.

“Naeun-ah… sudah saatnya kau turun sayang.” Naeun terdiam sesaat dan mengangguk menuruti perkataan Ibunya.

Chakamman!”

Wae?”

“Mengapa kau tidak mengganti kalungmu? Cepat lepaskan kalung itu dan gunakan kalung yang telah eomma siapkan!” dengan berat hati Naeun melepas kalung itu dan mengenakan kalung pemberian Ibunya.

Mianhae Myungsoo-ya…

Di lantai bawah para tamu terlihat sedang berbincang-bincang, sambil menunggu mereka menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh Keluarga Son. Tuan Son terlihat asyik bercakap dengan Tuan Lee. Sedangkan Howon… ia tidak tampak senang dengan acara ini.

Sama halnya dengan Naeun, Howon tidak pernah menginginkan acara ini terjadi. Ia akui jika dulu ia sempat menyukai Naeun. Tapi kini semua telah berubah, ia sudah memiliki Eunji yang sudah sebulan ini mengisi dan mewarnai hari-harinya.

“Howon. Sudah saatnya kau ke tempatmu.” Ujar Nyonya Lee mengingatkan. Howon mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya. Langkah kakinya tertuju pada sebuah meja yang sudah di hiasi sedemikian rupa.

Dengan kemeja berwarna hitam dan dibalut setelan jas berwarna senada. Ia menunggu kedatangan Naeun. Tak lama kemudian suara ketukan high heels menggema di seluruh ruangan. Para tamu menghentikan aktivitasnya dan menatap kedatangan Naeun dari lantai atas yang kini sedang menuruni tangga bersama sang Ibu tercinta.

Para tamu kagum dengan kecantikan dan keanggunan gadis yang sedang menuruni tangga tersebut. Saat tiba disana, Nyonya Son melepaskan Naeun agar gadis itu melangkah menuju tempat Howon berdiri menunggunya. Howon tersenyum hambar begitu pun dengan Naeun. Mereka benar-benar mengharapkan seorang datang dan menghentikan acara ini.

“Para hadirin sekalian. Marilah kita mulai acara pertunangan antara Nona Son Naeun dan Tuan Lee Howon. Beri tepuk tangan yang meriah untuk kedua insan ini.” Para hadirin bertepuk tangan setelah MC mengakhiri kalimatnya.

“Baik, terimakasih. Acara selanjutnya adalah penyematan cincin di jari manis pasangan. Kita mulai dari tuan Lee Howon. Kepada tuan Lee Howon kami persilahkan untuk mengambil cincin yang tersedia di atas meja dan sematkanlah di jari manis Nona Son Naeun.” Perlahan Howon mengambil cincin itu dan menyematkannya di jari manis Naeun. Para tamu memberikan tepuk tangan pada mereka. Naeun melihat ke sekelilingnya, berharap menemukan sosok yang ia harapkan sepanjang hari ini.

“Nona Son Naeun, kami persilahkan untuk menyematkan cincin itu di jari manis tuan Lee Howon.” Naeun tersadar dan menatap cincin berwarna silver tersebut. Perlahan Naeun mengambil cincin itu dan meraih tangan Howon. Naeun kembali menatap pintu masuk, berharap orang itu akan datang dan membatalkan semuanya. Namun harapannya sirna karena sosok itu belum juga tiba.

Naeun pun menyematkan cincin itu di jari manis Howon. Tepat setelah cincin itu terpasang di jari manis Howon. Ia menemukan sosok yang ia tunggu. Seorang yang mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan rambut pirangnya memasuki pintu masuk dan menatapnya intens.

Para tamu kembali memberikan tepuk tangan mereka untuk kedua insan yang telah terikat oleh pertunangan tanpa dilandasi perasaan cinta. Sosok yang Naeun tunggu pun ikut memberikan tepuk tangannya.

Naeun menatap sosok itu kecewa. Ia seolah memberikan tatapan yang mengatakan “Aku kecewa padamu.”  Sosok yang tidak lain adalah Myungsoo itu tersenyum hambar dan membalas tatapan kecewa Naeun yang seolah mengatakan “Mianhae Naeun-ah… aku tidak bisa memberimu jalan keluar untuk masalah ini.”

****

Dengan langkah yang tergesa-gesa Myungsoo memasuki gedung rumah sakit yang seminggu lalu ia datangi bersama Krystal. Myungsoo mendatangi resepsionis dan menanyakan apakah dokter yang memeriksanya minggu lalu ada di ruangannya. Setelah memastikan keberadaan dokter itu Myungsoo berlalu meninggalkan resepsionis dan berlari menuju lift.

Sesampainya di lantai atas ia mencari ruangan dokter itu. Myungsoo tersenyum ketika menemukan ruangan itu. Tangannya terangkat dan mengetuk pintu itu perlahan. Setelah mendapatkan respon dari dalam, Myungsoo memutar knop pintu itu dan melewati pembatas ruangan itu.

“Oh, Tuan Kim kau datang.” Sapa dokter itu ramah. Myungsoo mengangguk dan member hormat.

“Silahkan duduk.” Dokter mempersilahkan Myungsoo untuk duduk di kursi yang menghadap kearahnya. Myungsoo pun duduk dan menatap dokter yang berada dihadapannya.

“Bagaimana hasilnya dok?” Dokter tersenyum dan menyodorkan Myungsoo sebuah amplop panjang berwarna putih. Myungsoo meraih amplop itu dan menatapnya heran.

“Anda bisa melihatnya sendiri disana. jika ada yang tidak Anda mengerti silahkan bertanya dan saya akan menjawabnya.” Myungsoo membuka amplop itu, mengambil kertas yang ada di dalamnya dan memeriksanya dengan teliti. Matanya melebar setelah melihat hasil tes DNA yang telah ia lakukan minggu lalu.

“Apakah ini benar-benar hasil dari tes yang ku lakukan seminggu lalu?” Dokter mengangguk.

“Berdasarkan serangkaian tes yang kami lakukan. Kami mendapatkan titik temu yang mengatakan bahwa Anda…” Dokter menggantungkan kalimatnya.

“Adalah ayah biologis dari anak yang sedang dikandung oleh Nona Jung Krystal.”

.

.

.

TBC

.

.

.

Yapp…

Akhirnya selesai juga post part 4 dari FF ini 😀

Gimana nih ceritanya?

Seru, gereget, bikin kesel atau malah gaje? -_-

Sesuai permintaan kemarin dengan keluhan “Kurang panjang ceritanya.”

Aku tambahin nih ceritanya wkwk.

Gomawo udah nyempetin waktu kalian buat baca FF ini. 🙂

Gamsahamnida #bow

See you later ^_^

Advertisements

14 responses

  1. pcr

    kenapa harus ayahnya?!?!? huwaaaa eonniiiiii
    kenapa naeun harus tunangan?!?!?! andwaeeeeeeeee
    next eon next T.T

    November 7, 2014 at 8:31 am

    • huhu mianhae saeng 😥
      tenang saeng…
      Myungsoo tetep sama Naeun ko.
      pokoknya bakal complicated banget deh hehe
      gomawo udah ninggalin jejak saeng^^

      November 7, 2014 at 8:42 am

  2. Oke, Eonni ini ceritanya sumpah Complicated banget.

    Pertama, Naeun sama Myungsoo saling suka tapi Naeun tunangan sama Howon.
    Kedua, Myungsoo itu ayah biologisnya (Atau semacamnyalah) Krystal.
    Ketiga, Howon itu sebenernya suka sama Eunji bukan sama Naeun (Iya gak Sih???)
    Terakhir, aku bingung mau comment apa#Gubraaakkk…

    Tapi serius deh Eonni, aku nungguin FF ini sampe lumutan -___-
    Tapi pas comeback (?) hasilnya memuaskan sih, don’t want to say anything. NICE FANFICTION 🙂

    November 7, 2014 at 1:09 pm

    • Hehe mian saeng harus nunggu selama itu kkk
      Habis eon waktu itu kehabisan ide buat nerusin ff ini 😥
      Ini juga baru pertama kalinya eon buat ff pengen banyakin konfliknya kkk
      Di next chapter bakal ada kejutan saeng hehe
      Gomawo udah setia nunggu kelanjutannya saeng ^_^
      Ditunggu nde next’nya 🙂

      November 8, 2014 at 5:37 am

  3. jayanthi

    Aisshh jinjaa… Uuaaa… Itu bneran anknya myung ? Huueee gmna ntar sma naeun,, di psti cma rekayasanya kristal kan ia kan ? Aduh thorr peuliss jgn dong jgn,, aduhh,, (╥﹏╥) myungeun momentnya kurang banyak 😦 uuaaa.. Tlong prstukan myungeun ya ya ya ya /puppy eyes/ ayoo thorr mangat lnjutnya fighting ☆L(´▽`L )♪

    November 8, 2014 at 4:14 am

    • Itu emang beneran anaknya Myung 🙂
      Tapi Myung tetep sama Naeun ko 🙂
      Cuma buat sampai sana harus ngeliling dulu hehe
      Gomawo untuk komentarnya 🙂
      Di tunggu aja ne next’nya 😀

      November 8, 2014 at 5:46 am

  4. COMPLICATED SEKALIIIIIIIII ><
    Naeun cintanya sama Myungsoo eeh malah tunagan sama Howon. Myungsoo harusnya sama Naeun kok malah jadi ayah biologisnya anaknya krystal. bener bener complicated banget.
    ditunggu lanjutannya 😀

    November 8, 2014 at 2:43 pm

    • hehe gomawo chingu 🙂
      di tunggu aja nde next’nya 😀
      gamsahamnida ^_^

      November 9, 2014 at 1:33 am

  5. Pingback: Don’t You Remember Me? (Part 5) | Kimmy World

  6. Pingback: Don’t You Remember Me? (Part 6) [END] | Kimmy World

  7. wulan

    Hikzhikzhikz…gmn ini…mkn rumit adja….

    January 5, 2015 at 2:39 pm

  8. Pingback: Love, Life Of Us [Teaser] | Kimmy World

  9. Pingback: [Chaptered] Love, Life Of Us (Part 1) | Kimmy World

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s