KIM MYUNGSOO FANFICTION

Missing You

Missing You

 

| Missing You |

| Xiaocya |

|Oneshoot|

| Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Bae Sooji|

| Romance, Fantasy, Angst |

| PG-13 |

|Warning: This story purely comes from my mind based on Kara Secret Love series. No plagiarism. Be careful of typo(s)  |

 

“Kenangan itu tak akan pernah hilang dalam ingatanku” nampak seorang wanita bergaun merah muda sedang melamunkan seseorang yang sampai sekarang masih sangat melekat dalam hatinya. Perpaduan antara cinta dan penyesalan itu seakan menghantuinya meski kejadian itu sudah berlalu terhitung tahun.

Kamar minimalisnya yang nampak membumi dengan dikelilingi pemandangan kehijaun dari jendelanya, selalu dipenuhi putaran video yang menggambarkan setiap bidikan foto dirinya dan kekasihnya.

Jiyeon berdiri ditengah jalan dengan perasaan yang kalut hingga ia tak menyadari sebuah mobil sedang melaju cepat ke arahnya. Mobil itu semakin mendekat bahkan lampu mobil itu seakan membutakan penglihatannya. Ia yakin sebentar lagi tubuhnya akan terpental jatuh ke aspal dengan berlumuran darah segar.

Namun mujurnya sebuah lengan panjang menariknya minggir ke tepi jalan, mengganti posisinya dengan si pria berkemeja hitam itu hingga pria itu kini yang terpental ke aspal dengan kepala berlumuran darah.

Air mata berjatuhan dari kedua mata indahnya “Myung…Myungie-ya” pekiknya seraya berlutut memangku tubuh yang ntah masih bernyawa atau tidak, hingga sebuah kepastian serasa meluruhkan sebagian nyawanya.

Ingatan itu selalu membayanginya, mencekat jalan hidupnya yang sepertinya masih tertulis panjang dalam suratan takdirnya. Ia bahkan vakum sementara didunia modelingnya selepas kepergian fotographer kesayangannya itu.

Suara dari layar lebar itu menyuarakan suara sang photographer beserta semua gambar-gambar bersejarah mereka. Air matanya kembali menetes dan mulai berhalusinasi bahwa pemilik suara itu ada disampingnya saat ini.

“Gadis kecil itu, Aku harap aku bisa menghiburnya. Itulah yang aku pikirkan saat pertama melihatmu menangis seperti orang linglung. Tapi pada akhirnya aku yang terhibur karna sudah bertemu denganmu, Jiyeonie. Setelah bertemu denganmu aku menemukan keinginan untuk fotografi lagi, padahal aku pikir itu sudah hilang. Aku menemukan kebahagaiaan sekali lagi. Namun terkadang aku masih merasa takut. Takut, jika aku mungkin membawamu ke dunia yang terlalu keras untukmu”

.

Kini Jiyeon tengah mabuk berat gelasan vodka, bahkan ia sampai tak menyadari kalai bartender di bar itu tengah mengkhawatirkannya. Ditangannya terdapat sebuah fotonya bersama Myungsoo. Ia mulai berhalusinasi lagi, ia melihat Myungsoo menjemputnya pergi. Ia ikuti bayangan Myungsoo hingga berada diatap bar berlantai 3 ini.

“Jiyeonie, bukankah ini adalah perpisahan terindah? Pergi sebelum merasakan kebahagiaan yang lebih bersamamu” kalimat Myungsoo ini membuatnya teringat ketika Myungsoo mengulurkan tangannya untuk membantunya melewati segala kesedihannya. Ia juga meraih uluran tangan Myungsoo khayalannya, kakinya ia pijakkan ke tepi atap gedung. Selangkah lagi ia akan benar-benar bisa bertemu Myungsoo didunia kematian.

Namun tangan lain menariknya dan membawanya ke sebuah menara disamping bar. “Kau merindukannya bukan?” Woojin, bartender tampan itu, ia bukan hanya seorang bartender biasa, tapi ia seorang malaikat penjaga Jiyeon.

“Bagaimana kau…”

“Apa kau ingin dia kembali?”

Jiyeon tak peduli apa pria ini penipu atau bukan, kalau mengenai mengembalikan hidup Myungsoo, ia akan langsung mengiyakan. “Eoh. Jika kau bisa, kumohon bantulah aku menemuinya”

Woojin menyerahkan sebuah ponsel kepada Jiyeon “Kau dan pria itu memiliki ikatan kehidupan yang kuat. Jika kau ingin pria itu kembali kau harus mencegahnya bertemu denganmu dikali pertama pertemuan kalian. Luruhkan ikatan takdir kalian” ia menunjukkan video mengenai pertemuan pertama Jiyeon dengan Myungsoo “Masuklah dan ubahlah takdir kalian” titahnya.

Kaki Jiyeon melangkah masuk tanpa memikirkan jika mungkin saja hal buruk akan menimpanya. Pintu tertutup dan tiba-tiba ia berada dilantai dua sebuah museum. Ini museum dimana ia pertama bertemu dengan Myungsoo. Manic matanya menangkap sosok dirinya yang masih berkuncir dua dan mengenakan seragam SMA dilantai dasar.

Gadis SMA itu tengah berbicara ditelpon “Mwo? Kau menemukan ibuku? Dia…” kebahagiaannya luntur begitu saja begitu lawan bicaranya menambahkan kata meninggal “Ibuku.. meninggal?” tangan mungilnya tak mampu menyangga ponsel lipatnya lagi. ia berjalan linglung ke arah Myungsoo yang berjarak 5 meter darinya.

Jiyeon berusia 22 tahun itu segera berlari menuruni tangga menghampiri Myungsoo yang berseberangan dengannya dan mencegah kejadian dimana Jiyeon 18 tahun akan menabraknya sehingga membuat ikatan takdir keduanya tercipta.

“Yaaa” Myungsoo tercengang dengan pelukan tiba-tiba dari Jiyeon “Nuguseyo?” tanyanya.

Tanpa menjawab Jiyeon segera menarik tangan Myungsoo namun pria tampan itu tak berkutik. Ia mengingat perkataan Woojin bahwa ia akan mendengar suara lonceng jika dirinya yang masih SMA itu mendekat. Mengetahui kalau Jiyeon 18 tahun akan semakin dekat dengan Myungsoo maka ia memutuskan merampas kamera DSLR Myungsoo dan membawanya lari ke depan pintu masuk.

“Yaaa, kembalikan” Myungsoo berhasil mengejar Jiyeon “Kau ini sebenarnya siapa? Berani sekali kau mengangguku”

“Oppa, nan Jiyeonie, apa kau mengingatku? Kau pasti tak mengingatku. Aku tahu ini kedengarannya gila, tapi kau harus tetap mendengarkanku” Jiyeon mengingat pesan terakhir Woojin sebelum ia memasuki pintu menara ‘Ingatan tentangmu juga akan menghilang selepas kau memisahkan takdir kalian’ tak apa meski ia tak lagi berada dalam kehidupan Myungsoo “Aku kemari untuk menyelamatkanmu” lanjutnya.

“Menyelamatkanku?” Myungsoo menyimpulkan bahwa wanita cantik didepannya ini adalah korban film superhero “Kembalikan kameraku sekarang juga” ia merebut kamera DSLRnya kembali.

“Dengarkan baik-baik oppa” meskipun Jiyeon tak akan mampu dicintai oleh Myungsoo lagi, ini sudah keputusannya “Kau tak boleh berbicara padaku, bertemu denganku apalagi mencintaiku” air mata Jiyeon mulai menggenang “Hanya itulah satu-satunya cara agar oppa tetap bisa hidup 4 tahun kemudian”

“Jadi kau kesini karena kau takut aku akan mati 4 tahun ke depan?” sungguh wanita ini memang sedikit suka menghayal.

“Berjanjilah oppa, berjanjilah bahwa kau akan tetap hidup”

Mendengar suara Jiyeon yang semakin melemah sendu, ia jadi tak tega melihatnya “Baiklah, aku janji takkan mengenalimu” tak mau berurusan lagi dengan Jiyeon, ia memutuskan pergi begitu saja.

Namun sayangnya Jiyeon berusia 18 tahun tengah berjalan berlawanan arah dengan Myungsoo. Terdengar suara lonceng lagi, Jiyeon masa depan segera mengedarkan pandangan dan berlari mendorong dirinya dimasa lalu agar tak menubruk Myungsoo.

.

Jiyeon kembali berada di tahun 2014 dan disampingnya sudah ada Woojin yang menyambutnya.

“Aku sudah berhasil mencegah pertemuanku dengannya, jadi apakah Myungsoo oppa sudah hidup lagi?”

“Tidak semudah itu” Woojin menyerahkan ponselnya dan menunjukkan rekaman kejadian kedua pertemuan Jiyeon dengan Myungsoo “Apa kau ingat ini?”

“Ne” Jiyeon sungguh bahagia bisa melihat rekaman kenangannya ini.

“Jika kau masih mengingatnya itu berarti kalian masih terikat, usahamu tak membuahkan hasil, dia masih mengingat gadis yang tak sengaja berada disekelilingnya ketika di museum”

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku bisa kembali lagi kesana? Apa aku bisa hidup disana untuk selalu mencegahnya?” Jiyeon mengingat semua kebaikan Myungsoo, dimana Myungsoo selalu membantunya dan melindunginya, sedangkan ia sendiri hanya bisa mengeluh dan mengacuhkan Myungsoo “Saat kami bersama aku tak pernah mencintainya sepenuh hati. Aku hanya membiarkannya mencintaiku” sesalnya.

“Jika kau punya satu hari untuk dihabiskan bersamanya…”

“Apa itu bisa?”

“Tapi kau harus berhati-hati. Kau akan segera kembali ke masa sekarang jika kau tak bisa mencegah momen pertemuan itu. Kau akan kembali jika kau bersentuhan dengan dirimu yang dulu. Kau mengalaminya kemarin bukan?” jelas Woojin.

*

Keesokan malamnya Jiyeon sudah kembali berada didepan menara itu, tas ransel besar tertempel dipunggungnya.

“Ingat, kau hanya punya waktu untuk mencegah momen itu. Kau akan mati jika terlalu lama disana. Lakukan apapun yang kau mau di hari terakhir dengannya sebelum kau benar-benar musnah dari kehidupannya dan kembalilah ke masa sekarang. Satu lagi, Kau harus kembali segera saat suara peringatan berbunyi” Woojin menyerahkan ponselnya yang sudah tersetel ke kejadian pertemuan kedua Jiyeon dan Myungsoo di sebuah jembatan.

.

Myungsoo tengah membidik sebuah gedung dengan gaya pembidikan yang bisa membuat orang salah persepsi, ia berdiri disebuah kursi dan memijakkan kaki kirinya ke tepi jembatan yang berpagar 60 cm ini. Dibelakangnya Jiyeon masa lalu tengah berjalan lemas setelah terbangun dari pingsannya karna Jiyeon masa depan telah berkontak fisik dengannya.

Ia hendak menghampiri Myungsoo dan mencegah pria yang ia anggap gila karna sudah memilih jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya itu. Namun sayangnya niatnya tak terlaksana, Jiyeon masa depan lebih dulu mendorong Myungsoo kepinggir jembatan dan menciumnya untuk membuat Jiyeon masa lalu tak mendekati Myungsoo lagi.

Myungsoo tersentak kaget, wanita ini lagi, kenapa dia menganggu kenyamanannya lagi? “Yaa michesseo?” bentaknya seraya mendorong Jiyeon dan bangkit berdiri hendak menjauh. Kameranya hamcur karna ulah Jiyeon.

“Myungsoo oppa!” Jiyeon menarik bahu Myungsoo

“Sebenarnya apa maumu?” bentak Myungsoo kesal.

“Oppa, dengarkan aku. Ayo habiskan waktu sehari bersama”

“Ne? Kemarin kau merampas kameraku dan hari ini kau menghancurkan kameraku. Lalu sekarang kau memintaku menghabiskan sehari bersamamu? Kenapa aku harus menghabiskan hariku denganmu? Siapa yang tau apa yang akan kau lakukan padaku” Myungsoo? Wanita aneh ini mengetahui namanya, padahal ia saja tak mengenalnya “Dan kenapa kau berbicara informal? Bagaimana bisa kau tau namaku?” Myungsoo mengangkat kursi lipatnya “Katakan yang sebenarnya sebelum aku menelepon polisi. Jangan sampai kau bilang kau hendak menyelamatkanku lagi”

“Igeo…” Jiyeon tidak boleh memberitahu kebenarannya “Jebal jangan salah paham photographer Kim Myungsoo. Aku ini seorang model dan aku hanya memperkenalkan dirku sebelum pemotretan nanti”

“Model? Josonghamnida kau salah orang, aku bukan seorang photographer”

“Tolong jangan merendah begitu. Aku tau kau berhenti karena direkturmu memarahimu. Sebenarnya itu bukan salahmu, oppa. Tolong jangan berhenti dari fotografi”

“Aigoo, kau ini benar-benar!” Myungsoo menggeleng bingung dengan ucapan Jiyeon yang benar adanya.

“Oppa chakkaman”

.

Myungsoo meremas foto matahari terbenam yang tertempel dimeja kamarnya. Ia teringat ucapan Jiyeon mengenai keputusannya untuk berhenti memotret. Ia memutuskan membersihkan diri dikamar mandi.

Begitu ia selesai mandi, ia dibuat bingung dengan keadaan ruang tengah rumahnya. “Apa ini?” Ada jus dan omelet dimeja makan dan juga ruangannya nampak lebih rapi dari sebelumnya.

“Apa kau suka?”

“Gapjagi” Myungsoo menoleh kaget dengan kehadiran Jiyeon, bagaimana bisa wanita ini memasuki rumahnya? Mana mungkin ia lupa menutup pintu dan mana mungkin pula wanita ini tahu kode pintu rumahnya “Bagaimana kau bisa kesini?”

“Tenanglah. Aku datang karena Hyeyeon eonnie mengirimku. Dia sepupumu, bukan?”

“Hyeyeon noona? Benarkah??”

“Kalau tidak, bagaimana bisa aku tau kode rahasiamu? Aku model dari agensi Hyeyeon eonnie. Aku harus menyelesaikan pemotretanku sebelum aku pergi ke New York.

“Shirreo, walaupun begitu, aku takkan melakukan pemotretan itu denganmu” Myungsoo sudah kekeh akan berhenti memotret “Aku akan memberitahu Hyeyeon noona kalau aku tak bisa” ucapnya seraya hendak mengangkat gagang telpon disamping meja.

Jiyeon merebut gagang telpon itu “Baiklah. Jangan memotret jika kau tak mau. Aku akan menunggu sampai kau terinspirasi untuk memotret. Karena foto dengan hati dan jiwamu… itu yang aku butuhkan”

“Foto dengan hati dan jiwa?”

“Aku yakin kau akan cepat berubah pikiran. Aku bukan model yang terlalu buruk. Aku akan membayarnya dimuka” Jiyeon menyerahkan sebuah amplop ke atas meja “Kau pasti butuh kamera?” ia mengeluarkan beberapa macam kamera super canggih dari pocket sampai DSLR dari ranselnya

Myungsoo begitu tertarik dengan kamera-kamera itu “Bukankah kamera ini…” ia mencoba lensa kamera pocket ditangannya.

“Pilihlah yang kau suka”

“Kamera ini sudah tak diproduksi, bagaimana bisa kau mendapatkannya?” selidik Myungsoo takjub.

“Lensa ini…”

“Siapa yang memasang lensa ini begitu sempurna?” Myungsoo membongkar kamera DSLR kecil.

“Kau masih sama. Apa kau merasa seperti fotografer lagi sekarang?” puji Jiyeon dengan senyum mengembangnya.

“Kau bicara informal lagi?” Myungsoo menoleh kepada Jiyeon “Sebenarnya berapa umurmu?” tanyanya.

“Aku 22 tahun” lirih Jiyeon.

“Apa kau tidak bohong? Kau seperti lebih muda dariku” dimasa lalu ini Myungsoo berusia 19 tahun “Aku akan menganggapmu lebih muda dariku. Walaupun aku tak tau kenapa Hyeyeon noona mengirimmu kesini…” ia menatap kamera DSLR dimeja “…tapi aku akan mempertimbangkan usahamu membawa semua ini dan akan kucoba” ia angkat kamera pocket disana “Tapi… jika terasa tak cocok, aku takkan memotret, arra?”

“Geurae” Jiyeon melonjak senang dengan perubahan sikap Myungsoo “Jadi bolehkah aku berpikir ini adalah sebuah kencan pemotretan?” tanyanya seraya mengingat ucapannya dulu ketika ia bertemu Myungsoo kedua kalinya dijembatan tadi siang.

“Kencan pemotretan?” Myungsoo mengambil sebuah kamera jadul berwarna merah yang masih menggunakan roll photo “Geurae kalau begitu kita ambil pakai ini saja. Kau bisa mengambil fotoku juga” ujarnya.

Jiyeon teriang dengan kenangannya ketika bersama Myungsoo dulu dimana kamera ini memang menjadi kamera pertama yang mengabadikan kebersamaan mereka.

“Yaa kau kenapa?” tanya Myungsoo bingung melihat ekspresi sendu diwajah Jiyeon.

“Kenapa kau memilih ini?” lirih Jiyeon.

“Aku hanya tak ingin menganggap ini seperti pemotretan” Myungsoo masih dihadapkan pada kegalauan hatinya mengenai meninggalkan dunia pemotretan.

“Apa kau akan memotretku juga dengan ini jika ini adalah kencan sungguhan?”

“Eoh” Myungsoo meneguk jusnya.

Jiyeon tersenyum tipis dibalik wajah sendunya “Aku yakin kau bisa memotret dengan baik” gumamnya.

“Yaa gadis kecil. Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa kau seperti ingin menangis” selidik Myungsoo.

“Anniya. Aku hanya ingin ke toilet” Jiyeon bangkit berdiri dan menaiki tangga.

“Toiletnya… di atas…” Myungsoo mengamati Jiyeon yang tanpa komandonya sudah menaiki tangga “Bagaimana dia bisa tahu kalau toiletnya hanya ada diatas?” gumamnya bingung.

Jiyeon mengamati wajahnya yang terpantul sempurna memperlihatkan wajah sedihnya. Suara Myungsoo yang menyalahkan kematiannya kembali teriang ditelinga Jiyeon “Jiyeonie, apa kau…bahagia sekarang?”

Flashback On

Dirumah Myungsoo yang ia tempati bersama Jiyeon, Myungsoo memberikan sebuah kotak cincin kepada Jiyeon. “Jiyeonie…” ia hendak membuka kotak cincin itu.

“Mianhae oppa. Jangan sekarang” tolak Jiyeon, karir permodelannya sedang naik daun, ia tak mungkin mengakhirinya dengan menikahi Myungsoo.

“Waeyo?” Myungsoo bingung, apa kurang cukup kebersamaannya selama 4 tahun ini?

“Oppa tak tahu bagaimana aku bisa seperti ini sekarang. Bagaimana aku melewati semua penghalang dan menjadi model terkenal seperti ini” Jiyeon sampai lupa kalau selama ini Myungsoo-lah yang selalu menemaninya dan membantunya hingga berada dikelas tertinggi dunia permodelan.

Myungsoo meraih tangan Jiyeon “Kita akan melewatinya bersama. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan selalu ada untukmu” ia tahu apa yang dimaksud Jiyeon, tapi bukankah selama ini mereka bisa melewatinya berdua? “Aku mencintaimu. Menikahlah denganku, Jiyeonie” pintanya, ia hendak menyematkan cincin dijari manis Jiyeon.

Jiyeon menghempas tangan Myungsoo hingga cincin bermata berlian putih itu tergelinding ke lantai “Anni, aku akan membintangi film itu. Aku sudah memimpikan ini sepanjang hidupku. Aku tak akan melepas kesempatan ini hanya karnamu” bentaknya seraya berlarian keluar rumah.

Flashback Off

“Inilah saatnya, oppa. Aku akan membuatmu sangat bahagia” gumam Jiyeon seraya membasuh mukanya, ia tak akan mengulang kebodohannya yang sudah menyia-nyiakan dan mengacuhkan Myungsoo hanya karna karir permodelannya.

.

Jiyeon menuruni anak tangga dengan mengenakan gaun merah mudanya, ia kelihatan anggun dan cantik hingga Myungsoo terpana melihatnya. Myungsoo bahkan tak mampu berkedip dan menekan tombol shutter di kamera pocket jadul ditangannya.

“Kajja” ajak Jiyeon. ia mengajak Myungsoo ketempat-tempat kenangannya. Dimulai dari jembatan hingga taman bermain. Bukannya Jiyeon yang dipotret oleh Myungsoo tapi malah Jiyeon yang tak bosa-bosannya mengabadikan setiap gerakan dan ekspresi Myungsoo dalam kamera pocket jadul itu. Myungsoo yang ceria bermain dengan anak-anak Tk, Myungsoo yang tak pandai main baseball, Myungsoo yang kelelahan, semuanya ia abadikan sebagai kenangan terakhirnya sebelum ia benar-benar melupakan Myungsoo dimasa depan.

.

Jiyeon telah selesai menghidangkan berbagai makanan untuk makan malamnya bersama Myungsoo. Ia ingat kebiasaan Myungsoo dimana dia selalu makan nasi dipiring kecil dengan nasi yang sudah ia ratakan mengelilingi piring.

“Bagaimana kau bisa tahu aku makan nasi seperti ini?” tanya Myungsoo bingung.

“Bukankah orang-orang makan nasi seperti itu?”

“Semua ini benar-benar mencurigakan. Beritahu yang sebenarnya. Kau sebenarnya siapa?” Myungsoo menunjuk Jiyeon dengan sumpit yang ia pakai “Apa kau… stalker?” mata elangnya menangkap sebuah cincin dijari manis Jiyeon “Keundae cincin di jarimu itu… argh kalau begitu kau tak mugkin menguntitku” tolaknya.

“Kalian berdua sangat mirip. Kau sama dengannya”

“Kau bilang aku mirip dengan pacarmu?” Myungsoo melahap nasi itu “Memangnya dia pria seperti apa?” lanjutnya penasaran.

“Aku dulu…bekerja dengannya. Dia selalu berkata padaku untuk bahagia disetiap waktu. Tapi aku selalu bilang padanya kita bisa bahagia di masa depan jika memang itu membahagiakan” lirih Jiyeon, pria riang itu selalu menyuruhnya untuk berbagahia apapun yang terjadi.

“Pasti dia merasa kesepian. Pria… takkan bersama dengan wanita yang tidak dia suka. Tapi selama kau ada disisinya… aku yakin kau sudah membuatnya bahagia dan melupakan kesepiannya” Myungsoo meneguk air mineralnya “Tapi kenapa kau mengatakan dulu? Apa…” ia berpikir mungkin alasan Jiyeon mengikutinya karna ia memang mirip dengan kekasihnya yang sudah meninggal.

Jiyeon bangkit berdiri dan menatap langit malam melalui jendela kaca. Bagaimana ia bisa bilang kalau pria itu sebenarnya adalah Myungsoo? Itu hanya saja akan membuatnya gagal mengembalikan Myungsoo ke tahun 2014. Ia melihat kilatan blitz di kaca “Apa kau baru saja memotretku?” ia menghampiri Myungsoo dengan riang “Kau telah memotretku bukan?” ulangnya.

“Begitukah?” Myungsoo bingung harus beralasan apa “Ekspresi wajahmu kelihatan menarik saat membicarakan kekasihmu. Keundae.. kurasa aku masih belum tahu siapa namamu” lanjutnya.

“Jiyeon. Park Jiyeon” jawab Jiyeon dengan senyum manisnya.

“Park Jiyeon? Geurae, mari bekerja sama sampai kau pergi ke New York” angguk Myungsoo.

“Apa aku mengganggu kalian?” seorang wanita berambut blonde memasuki ruangan makan itu, Bae Sooji.

“Sooji-a, kenapa kau kemari?” tanya Myungsoo kaget.

“Tentu saja aku kemari untuk menemuimu” jawab Sooji.

Jiyeon kembali teringat dimana ia telibat adu mulut dengan Sooji tepat setelah ia mendapat tawaran main film.

Flashback On

“Beraninya kau!” Sooji menampar pipi mulus Jiyeon setelah menyelesaikan pemotretan untuk majalah ELLE.

“Jika aku tahu kau adalah model bodoh dalam skandal itu…” Jiyeon dan Sooji memang saling bersaing dalam dunia permodelan, hanya saja Sooji semakin terkenal setelah memiliki skandal.

Sooji hendak menampar Jiyeon lagi namun tangan Myungso berhasil mencegahnya “Geumanhe” bentaknya.

“Kim Myungsoo, jadi kau fotografer yang selalu bersamanya?” bagaimana bisa Myungsoo malah membela Jiyeon daripada dirinya mantan pacarnya “Jangan berpikir bodoh, Park Jiyeon. Kau pikir kau akan jadi model top dengan mendapatkan film ini?” geram Sooji.

Flashback Off

“Nuguya?” Sooji merasa asing dengan sosok Jiyeon, seingatnya Myungsoo tak pernah membawa wanita ke rumahnya selain keluarganya dan juga dirinya.

“Dia tamuku” Myungsoo tahu betul kalau Sooji adalah type wanita pecemburu dan licik.

“Tamumu siapa? Kenapa dia ada disini?” cerca Sooji marah.

“Aku tanya sekali lagi kenapa kau kesini?”

“Karena kau selalu menutup teleponku. Apa kau benar-benar akan berhenti jadi fotografer? Karena aku? Karena putus denganku?”

“Mianhae Jiyeon-a, bisakah kau keluar sebentar?” pinta Myungsoo, ini masalah pribadinya bersama Sooji.

Jiyeon kaget dengan kenyataan yang tak pernah ia ketahui kalau sebenarnya Myungsoo dan Sooji pernah berkencan sebelum bersamanya. “Kim Myungsoo..Kau berkencan dengan Bae Sooji?” batinnya.

.

Kini Myungsoo menghampiri Jiyeon yang ternyata malah minum soju dikedai dekat rumahnya. Jiyeon nampak kesal dan berwajah aneh setelah kedatangan Hyeyeon tadi.

“Apa…ini karena Sooji tadi?” tanya Myungsoo sungkan, ia takut salah persepsi.

“Tentu saja” ekpresi wajah marah namun manja terpampang diwajah Jiyeon, ia sudah setengah mabuk “Sooji-ssi pasti adalah mantan kekasihmu bukan? Seharusnya kau memberikannya perpisahan yang sepantasnya. Katakan padanya kau bahagia ketika dengannya dan kau juga akan berbahagia ketika berpisah dengannya” ntah kenapa Jiyeon berkata nglantur seperti ini.

“Mwo?”

“Ada aturan tak tertulis mengenai seorang mantan. Walaupun cinta telah berakhir…kenangan itu masih ada. Tapi jika kau tetap dingin dan mengingatnya…itu hanya akan terlalu menyakitkan” air mata bertetesan dipipi Jiyeon.

Myungsoo menertawakan ucapan Jiyeon yang memang terbukti benar “Menarik” ia menuangkan soju ke gelasnya dan gelas Jiyeon “Jika kau terus mabuk seperti ini…aku akan memotret orang lain” ancamnya.

“Kau mulai lagi… Jincha Kim Myungsoo kau…benar-benar menyebalkan” Jiyeon meneguk sojunya dan hanya dibalas tawa kecil Myungsoo.

.

Jiyeon mabuk berat dan terpaksa ia harus digendong pulang oleh Myungsoo. Sepanjang perjalanan Jiyeon tak henti-hentinya mengoceh tak jelas dan menyanyikan lagu cry cry.

“Oppa…Oppa…” panggil Jiyeon, ia setengah sadar bersandar dipundak Myungsoo.

“Eoh Park Jiyeon”

“Panggil aku Jiyeon saja atau panggil aku ‘gadis kecilku'”

“Geurae…Kenapa kau minum terlalu banyak? Gadis kecil?” tanya Myungsoo.

“Nan bogoshippeoyo, oppa” hati Myungsoo seperti tersengat mendengar ucapan Jiyeon
Nan jeongmal bogoshippeo” air mata jatuh membasahi bahu Jiyeon “Kenapa kau begitu? Kenapa kau meninggalkanku dan pergi sendiri? Jika aku melakukan kesalahan…seharusnya kau memarahiku saja. Tapi kenapa kau meninggalkanku sendiri dan pergi seperti itu? Kenapa kau berbaring di tempat dingin itu?” Jiyeon semakin sesenggukan “Maafkan aku oppa. Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf” Jiyeon mengeratkan pelukannya dileher Myungsoo “Kau berkata mencintaiku. Tapi aku malah sibuk dengan diriku sendiri. Kau bahkan mengajakku menikah…tapi aku malah bertanya kenapa harus menikah sekarang. Aku adalah segalanya untukmu…tapi yang aku pedulikan hanya mendapatkan apa yang aku inginkan. Melepaskan tanganmu…Maafkan aku oppa” ujar Jiyeon yang sukses mmeilukan hati Myungsoo.

Myungsoo membaringkan Jiyeon ke ranjangnya dan menyelimutinya “Kau benar-benar wanita aneh” gumamnya.

*

Jiyeon menempel kembali foto matahari terbenam yang sudah diremas dan dibuang oleh Myungsoo. Namun Myungsoo melepasnya lagi.

“Yaa Kenapa kau mau buang itu lagi? Kau tak tahu betapa kau akan menyesal jika membuang itu nanti!” Jiyeon melonjak mengambil foto itu dari tangan Myungsoo, kenapa Myungsoo setinggi ini.

“Menyesali apa? Apa istimewanya ini?” Myungsoo terduduk di sofa.

“Kau menunggu selama 2 bulan untuk mendapatkan foto itu. Kau menghargai itu lebih dari foto manapun. Benar bukan?” jawab Jiyeon. ketika Myungsoo merenungi ucapan Jiyeon, Jiyeon segera merebut foto itunamun ia malah berakhir berada dalam pangkuan Myungsoo.

“Kau gelisah bukan? Kau tak bisa memotret gambar yang diminta. Kau takut kau tak bisa hidup seperti yang diharapkan. Kau bahkan tak tahu gambar apa yang ingin kau potret. Karena lebih mudah untuk menyerah….” jelas Jiyeon.

“Geumanhe” Myungsoo menoleh dan tepat berhadapan dengan Jiyeon dalam jarak 5 jengkal saja, ia merasa jantungnya berdetak aneh “Apa yang kau tau dengan berkata seperti itu?” lanjutnya.

“Karena aku juga begitu. Karena aku merasakan gelisah dan takut. Aku terus berjalan ke depan, ke arah apa yang ada di depanku. Myungsoo-ssi takkan berhenti dari fotografi dan akan menjadi fotografer terbaik. Karena senimu punya kekuatan untuk menenangkan orang” jawab Jiyeon, itulah harapannya meskipun mereka tak akan bersama, ia tetap berharap Myungsoo menjadi fotografer handal.

“Sampai kapan…kau mau berada dipangkuanku?” tanya Myungsoo.

“Mianhae” Jiyeon melompat turun dari pangkuan Myungsoo.

.

Ini hari kedua Jiyeon bersama Myungsoo di masa lalu ini. Kali ini ia menemani Myungsoo bermain basket, membawakan minuman, mengelap peluhnya dan menyemangatinya untuk yang terakhir kalinya karna dimasa depan ia tak akan mampu lagi melihat Myungsoo bermain basket seperti ini.

Setelahnya ia berkencan berdua disebuah taman pinggir sungai Han. Myungsoo berbaring dan membaca komik favoritenya. Merasa diacuhkan Jiyeon hendak merebut komik itu namun gagal. Lalu ia memutuskan menelpon makanan cepat saji untuk mereka makan berdua.

Mereka bahkan menikmati sunset berdua sama seperti dulu saat mereka bersama dan Myungsoo mengambil foto pertama Jiyeon untuk yang kedua kalinya dalam kamera pocket jadul nan bersejarah itu. “Apa kau dan kekasihmu… selalu pergi berkencan seperti kita hari ini?” tanya Myungsoo.

“Pernah, dulu sekali. Kita berhenti tak berkencan seperti ini setelah beberapa lama. Jika aku dan dia berkencan…pasti dia akan senang. Aku bukanlah kekasih yang baik” sesal Jiyeon.

“Tapi tetap saja bagi pria yang mencintaimu…setiap momen yang kalian habiskan bersama…Pasti akan seindah matahari terbenam yang ada di depan kita. Karena dia jatuh cinta” potong Myungsoo seraya mengamati sunset.

“Oppa..” air mata Jiyeon hendak tumpah lagi “…mianhae. Aku tau seharusnya seperti ini” sesalnya, ia tahu Myungsoo pasti menganggapnya aneh.

“Gwaenchana, kau juga seorang manusia. Menangislah jika ingin menangis, tersenyumlah jika ingin tersenyum dan marahlah jika kau marah” Myungsoo menepuk lengan Jiyeon “Jika boleh aku…aku akan di sini mendengarmu menangis” siapa tahu Jiyeon salah sangka mengenai ucapannya ini “Kau bilang kekasihmu dan aku mirip. Anggap saja ini sebagai hadiah. Karena aku bisa di sini mendengarkan ceritamu” jelasnya.

“Apa maksudmu aku harus melepaskannya? Tapi bagaimana aku bisa melakukan itu? Untuk menangis, tersenyum, marah lagi dan cinta lagi. Melakukan itu akan membuatnya merasa kesepian. Jadi apa yang harus kulakukan?”

“Itu bukan kesalahanmu” jawab Myungsoo.

“Ini salahku. Dia mati karena aku. Jika kau adalah dia…tidakkah kau akan marah?”

“Mungkin saja. Jika aku dia, maksudku aku akan sangat marah. Memikirkan…wanitaku sengsara karenaku. Itulah kenapa aku mungkin marah pada diriku sendiri…karena tak bisa membuat senyum di wajahnya. Jadi Itu bukan salahmu. Maka jika kau benar-benar peduli padanya….jika kau sungguh-sungguh perhatian padanya…lakukan semua yang kau bisa untuk hidup dengan sepenuhnya dan bahagia. Jika aku adalah dia, itulah yang sangat ingin aku lihat”

“Gomawo sudah menenangkanku. Aku akan selalu ingat ini sampai aku pergi” Jiyeon hendak menatap matahari lagi.

Myungsoo menahan tangan Jiyeon “Bisakah… kau tetap tinggal…Bersama denganku? Tak masalah bagiku jika kau hanya memikirkan dia saat kau menatapku. Aku hanya…ingin bersama denganmu sekarang. Jika kau setuju dengan itu…Aku berjanji akan berusaha mengambil tempatnya dihatimu” melihat Jiyeon malah menangis lagi, Myungsoo menyimpulkan bahwa pria itu sangatlah sulit untuk ia gantikan “Mungkin ini sulit bagimu. Mianhae … karna aku meninggalkanmu sendiri, membuatmu merasakan cemas dan sakit sendiri.… jeongmal mianhae” ujarnya seraya memeluk Jiyeon erat, ntah mengapa Myungsoo merasa ialah yang sudah meninggalkan Jiyeon hingga Jiyeon seperti ini.

.

Kini Jiyeon tengah makan malam disebuah restoran bersama Myungsoo setelah menitipkan roll fotonya ke studio pencucian foto terdekat. Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari Woojin “Jika kau terlalu lama, kau akan mati. Saat alarm berbunyi, kau harus kembali secepatnya”

“Kenapa kau terlihat sangat cemas?” selidik Myungsoo yang mengiris steaknya.

“Aku hanya terlalu gembira menunggu foto untuk dicuci”

“Tapi aku tak pernah gelisah seperti dirimu sekarang hanya karna sebuah foto” tolak Myungsoo

“Myungsoo-ssi…”

“Eoh” Myungsoo melahap irisan steaknya.

“Apa kau bahagia hari ini?”

“Eoh” Myungsoo meletakkan sendok dan garpunya “Apa kau mau jadi modelku setelah kembali dari New York? Ada festival film internasional di Prancis dan aku…” kenapa ekspresi wajah Jiyeon kembali sendu dan kosong? “Jiyeon-a. Kenapa sejak tadi kau bertingkah aneh begini? Apa ada sesuatu yang terjadi??” ulangnya.

“Anni. Sepertinya fotonya sudah jadi” Jiyeon bangkit berdiri dan segera berlari “Aku akan mengambilnya” ia merasa tak ingin berpisah dari Myungsoo, tapi jika ia tetap bertahan ditempat ini, ia akan mati.

“Jiyeon-a” Myungsoo hendak mengejar Jiyeon, namun ia malah tertarik dengan ponsel Jiyeon. belum sempat ia membuka layar ponsel Jiyeon, sebuah panggilan dari Hyeyeon mengurungkannya “Ne, Hye Yeon noona” jawabnya. Seraya mengamati ponsel Jiyeon yang ada dimeja.

“Apa kau tadi menelepon? Ponselku mati rapat tadi. Apa ada sesuatu?”

“Anniya. Pemotretan dengan Jiyeon berjalan baik jadi jangan khawatir”

“Jiyeon? Nugu?”

“Model yang kau kirim untuk pemotretan”

“Apa yang kau bicarakan? Aku tak mengirim siapapun” tolak Hyeyeon.

Myungsoo jadi semakin curiga dan penasaran ingin membuka ponsel Jiyeon “Baiklah kalau begitu, geureum” pamitnya. Ia segera menggeser layar ponsel Jiyeon dan langsung terarah kepada galeri foto dan video.

Sebuah foto Jiyeon tengah bersama Myungsoo “Dia mirip sekali denganku” ia amati tanggal yang tertera di foto “26 oktober 2014? 2014?” ia menggeser lagi hingga sebuah video terbuka, video yang selalu Jiyeon lihat untuk mengenang kepergian Myungsoo.

‘Gadis kecil itu, Aku harap aku bisa menghiburnya. Itulah yang aku pikirkan saat pertama melihatmu menangis seperti orang linglung. Tapi pada akhirnya aku yang terhibur karna sudah bertemu denganmu, Jiyeonie. Setelah bertemu denganmu aku menemukan keinginan untuk fotografi lagi, padahal aku pikir itu sudah hilang. Aku menemukan kebahagaiaan sekali lagi. Namun terkadang aku masih merasa takut. Takut, jika aku mungkin membawamu ke dunia yang terlalu keras untukmu’

Myungsoo mengingat semua usaha Jiyeon dari berkata bahwa dia kemari untuk menyelamatkan Myungsoo sampai segala usaha untuk mmebuat Myungsoo kembali tertarik dengan dunia fotografi.

Segera saja ia berlarian keluar restoran mencari sosok Jiyeon ke studio dan jalanan, namun ia tak menemukan Jiyeon. Ponselnya berdering, sebuah telpon dari Sooji “Ne Sooji-a”

“Yaa Kim Myungsoo…Perempuan di tempatmu semalam…apakah dia anak SMA?”

“Wae?”

.

Jiyeon kembali masuk ke lift menara disana sudah ada Woojin yang menunggunya “Apa kau masih menyesal karna sudah meninggalkannya?” tanya Woojin.

“Anni, dia bilang dia bahagia”

Ponsel Jiyeon yang ntah sejak kapan sudah ditangan Woojin berdering “Sebuah pertemuan tak diduga-duga akan terjadi” ucap Woojin cemas.

Jiyeon segera merebut ponsel itu yang menampakkan video dimana Jiyeon 18 tahun akan bertemu dengan Myungsoo dibar karna Myungsoo sudah membantu dirinya yang tengah terjatuh ditampar oleh penagih hutang ibunya.

“Andwae, kau tak bisa pergi” Woojin menahan lengan Jiyeon “Tak ada cukup waktu. Jika kau tak kembali ke masa sekarang kau akan mati. Apa kau ingin mati?” gertaknya.

.

Jiyeon 18 tahun berada disebuah bar, ia diseret pakas aoleh dua orang berpakaian hitam dan dihadapkan pada seorang ahjussi menyeramkan yang memluk dua wanita sexy. Ia membaca kertas yang disodorkan padanya, sebuah perjanjian pembayaran hutang dengan cara menyerahkan tubuhnya.

Myungsoo berada di bar itu setelah mendapat kabar dari Sooji kalau dia melihat Jiyeon di bar tengah dibawa oleh dua orang pria menyeramkan. Ternyata benar, Jiyeon tengah dipaksa mencap jarinya ke kertas perjanjian itu. ia hendak menolong Jiyeon, namun Jiyeon 22 tahun mencegahnya.

“Oppa”

“Jiyeon-a” Myungsoo bingung melihat bergantian Jiyeon didepannya dan juga Jiyeon yang tengah bersama dua pria berpakaian hitam, ia tidak bisa tinggal diam, ia nekat membantu Jiyeon 18 tahun menghajar pria-pria itu setelah melihat tangan Jiyeon berdarah tersayat tepi meja.

Jiyeon 22 tahun mulai melemah bahkan ia merasakan sayatan ditangannya juga. Ia berlari mengejar Myungsoo dan menghentikan Myungsoo berinteraksi dengan Jiyeon 18 tahun.

“Jiyeon, larilah” titah Jiyeon 22 tahun kepada Jiyeon 18 tahun. Setelah itu ia berlari bersama Myungsoo pula.

“Kenapa kau tak beritahu aku? Kenapa kau tak beritahu bahwa dia yang kau rindukan itu adalah aku? Kita ditakdirkan untuk jatuh cinta. Kenapa kau pergi tanpa mengatakan apapun?” cerca Myungsoo setelah mengatur nafasnya.

“Aku tak bisa memberitahumu. Oppa mati karena aku. Jika aku…bisa membuatmu bahagia selama satu hari…maka aku ingin meninggalkanmu dengan kenangan itu”

“Aku bahagia. Gumawo” Jiyeon semakin melemas dan ambruk jatuh ke tanah, untung Myungsoo lincah menangkapnya dalam pelukannya “Jiyeon-a… Jiyeon-a, kau kenapa?”

“Waktuku…pasti sudah habis.

“Aku akan menolongmu kembali. Beritahu aku harus bagaimana”

Jiyeon bangkit dari pelukan Myungsoo “Berjanjilah padaku. Berjanji kau akan tetap hidup. Berjanji kau takkan bertemu denganku…dan kau takkan jatuh cinta padaku. Berjanjilah bahkan jika kita tak pernah bertemu…kau akan hidup lama dan bahagia”

“Lalu kau akan baik-baik saja? Dengan berjanji padamu…menjamin kau akan baik-baik saja?” Jiyeon mengangguk “Baik, aku berjanji. Jadi kembalilah ke masa depan dan tunggu aku. Aku akan tetap hidup…dan akan menemukanmu” ucap Myungsoo seraya menggenggam erat tangan Jiyeon.

“Aku…takkan mengingatmu”

“Tapi aku akan mengingatmu. Aku akan mencarimu. Aku mencintaimu, Jiyeon-a. Aku mencintaimu” air mata turut tumpah diwajah tampan Myungsoo.

“Saranghae oppa”

Myungsoo mengecup mesra bibir Jiyeon sebelum ia benar-benar berpisah selamanya dari Jiyeon. Namun akhirnya Jiyeon menghilang pula karna Jiyeon 18 tahun berada didekat mereka dan juga waktu Jiyeon memang sudah habis.

“Apa…anda yang menyelamatkanku tadi?” tanya Jiyeon 18 tahun.

Myungsoo mengingat janjinya pada Jiyeon untuk tidak mengenali Jiyeon ataupun mencintainya. Ia bangkit berdiri dan berjalan mengacuhkan Jiyeon.

*

4 years later

Myungsoo kembali mengunjungi museum dimana ia pertama kali bertemu Jiyeon, kenangannya tentang Jiyeon masih terkenang jelas “Saat dua orang bertemu…selalu ada satu saat yang menentukan sisa hidupnya. Apakah saat penting kami sudah terlewat? Atau waktunya memang belum tiba saja?” ia edarkan pandangannya ke sekeliling, ia menemukan seorang wanita bergaun merah muda sama seperti Jiyeon, namun ternyata itu bukan Jiyeon, hanya saja ia memang melihat Jiyeon mengenakan gaun itu disana sama seperti wanita itu “Aku belum menemukannya dan dia belum menemukanku” lanjutnya.

.

Myungsoo, Hyeyeon dan Sooji bertemu untuk pertama kalinya setelah kepergian Myungsoo ke Perancis selama 4 tahun ini.

“Kau bahkan tak mau menginjakkan kaki di Korea selama 4 tahun. Kenapa tiba-tiba sekarang kau bersungguh-sungguh mencari seseorang?” tanya Hyeyeon seraya meneguk jusnya.

“Apa mungkin itu kekasihmu?” sambung Sooji.

“Apa ini? Kupikir kauingin hidup sendirian. Kau tahu berapa banyak wanita menangis karena kau menolak mereka?” ledek Hyeyeon.

“Atau… karena aku? Karena kau masih menyukaiku?” canda Sooji.

“Jangan bercanda. Suamimu memperlakukanmu dengan baik bukan? Dia gila bekerja kan?” balas Myungsoo.

“Yaa aku yang membuat agensimu berhasil. Benar kan, eonni?” namun tiba-tiba Sooji merasa mual dan pergi ke toilet.

“Yaa Bae Sooji. Kau baik-baik saja? Aku lihat dia dulu ya” pamit Hyeyeon.

“Ini makanannya, Pak” Jiyeon menghidangkan sebuah steak ke meja Myungsoo “Saya akan membawakan sisanya saat yang lain sudah kembali. Silahkan menikmatinya” ujarnya seraya membungkuk dan menunggu jawaban dari Myungsoo. Ia adalah chef di restoran itali ini.

“Massita” Myungsoo nampak gugup, apa ini benar-benar Jiyeon? Jiyeon-nya masih hidup dan kini bertemu dengannya.

“Sepertinya anda tidak terlalu menyukainya. Anda mungkin tidak menyukainya tapi aku belajar di Itali selama 2 tahun untuk semua ini”

“Kenapa…anda memutuskan belajar masak?”

“Setiap waktu adalah momen berarti. Lakukan semua yang bisa membuatmu bahagia. Itu yang diberitahukannya pada saya. Membuat seseorang bahagia dengan memberikannya makanan hangat…Saya pikir itu adalah hal terbaik yang bisa kulakukan untuk membuatku senang” Jiyeon mengamati steak yang sudah dicicipi Myungsoo “Anda menikmati makananku…Apa itu membuatmu bahagia, Kim Myungsoo-ssi?” tanya Jiyeon.

“Mungkinkah kau…” bagaimana bisa Jiyeon mengetahui namanya sementara ia tak pernah bertemu ataupun berkenalan.

“Ne, saya penggemar anda” Jiyeon mengambil album foto hasil karya Myungsoo dan menunjukkan foto sunset yang indah “Bagaimana bisa anda memotret foto yang bisa membuat seseorang merasa tenang? Saya sangat tersentuh saat membaca tulisan anda tentang foto ini. apa ada yang salah” tanyanya melihat Myungsoo tiba-tiba seperti hendak menangis.

“Makanannya begitu enak. Terima kasih, Jiyeon-ssi” Myungsoo berjalan keluar restoran untuk menenangkan diri.

“Bagaimana bisa dia tau namaku?” Jiyeon mengejar Myungsoo keluar lobby restoran “Josonghamnida, Jika tak ada masalah, bisakah anda menikmati hidangan penutupnya?” tanyanya.

Myungsoo mengingat perkataan Jiyeon kalau Jiyeon tak akan mengingat Myungsoo, namun ia mengingat Jiyeon, mencarinya dan sekarang menemukannya. Segera ia tarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya “Aku mencintaimu, Jiyeon-a. Aku mencintaimu” dan ntah mengapa Jiyeon lamban laun menempelkan tangannya dipunggung Myungsoo.

END

NOTE:


I just wanna say anything that propping up on my mind. This is my last FF here. I’m Jiyeon multishipper.

Aku tahu aku ini author yang jahat, pelit dan gak legowo seperti author senior atau author junior lainnya, itu kan anggapan kalian? Kalian juga bilang ‘Itu author pergi ya udah, mang author cuma dia’ siapa yang ngomong? ada deh, kalau gw bilang dia juga gak akan berani nongol. Semuanya salah gw ye sebagai author jahat dan readers selamanya benar, begitu kan? Sekarang aku tahu mana readers yang memang tertarik padaku dan menungguku karna karyaku ATAU readers yang hanya mengikuti arus karna aku bikin FF terutama myungyeon.

Iye iye gw akan pergi…. Are you loyal readers? Wanna still stalk me? click here

Advertisements

11 responses

  1. djeany

    jadi ini ff terakhirmukah,liah.biar bagaimanapun.q menerima keputusan
    hanya bisa mendoakan smoga sukses.kalau bisa buat novel.karna semua tulisanmu q suka…

    October 26, 2014 at 8:26 am

  2. djeany

    tapi kami riders setiamu tetap berharap.kamu masih berkarya gak apa namjanya bkan myungsoo tapi yeoja tetap jiyeon

    October 26, 2014 at 8:27 am

  3. djeany

    ampe lupa koment ffnya.ni ff beda dg fgmu yg lain,eh tapi ada satu ffmu yg alurnya sama.kalau gak salah judulnya back to desember??tapii senang akhirnya myungsoo selamat.tinggal berusaha membuat jiyeon jatuh cinta dgnya.

    October 26, 2014 at 8:32 am

  4. Baiq Yulia Astriani

    cerita ini memang berasa beda…

    mau koment NB author nich… (jgn tersinggung ne).. ini kan Kimmy world jadi yg bias utama namjanya ya berarti namja marga Kim itu.. kalau Jiyeon multishipper trus ada karya author yg pairing jiyeon bareng namja lain marga Kim itu mungkin ga pas dipost di blog ini. lain halx kalau karya tsb dipost diblog HSF kan di sana main biasx 4 org (Ji, Zi, L, n Ho) atau mau dipost di blog pribadinya (jika ada)..

    emm, moga tetap semangat melahirkan karya2 yg lebih baik lagi.. SEMANGAT….

    October 27, 2014 at 5:23 am

    • Wah berarti lo termasuk sider gw donk. Diem2 lo kykna tau semua ff gw. Sorry ye, gw sebage author tau aturan jg. gw di kimmy hny post myungyeon. Klu jiyeon shipper lainna tentu aje gw post di wp pribadi ato hsf.
      Bisa lo tunjukin buktina gak omongan lo itu? Klu yg lo maksud MY LOVELY CAT, apa bahasana kurang jelas ye, disono itu lebih menitik beratkn myung jg. Lagian ff author lain disini myungzy, myungeun semua na malah topik permasalahan ada di sooji ato naeun na dan myung cm jd tokoh kedua jg. Gw gak marah, gw cuma membela diri

      October 27, 2014 at 9:22 am

  5. Hiks Hiks Hiks ;( nggak tau mau ngomong apa, ffnya keren 🙂
    aq can mau blang Fighting! 😀

    October 29, 2014 at 12:45 am

  6. mecca

    Itu kok critanya mirip crita secret love kara yya.. Mirip 99%..
    Maaf klo saya salah.. Tpi saya yakin 100 % itu plagiat secret love kara

    November 18, 2014 at 2:59 am

    • EMANGNYA LO PENULIS SCRIPT SECRET LOVE KARA? HELLO, DILUARAN SANA BANYAK AUTHOR YANG NGREMAKE DRAMA ATAUPUN MV BAHKAN TANPA NGASIH TAHU KALAU FF-NYA ITU MERUPAKAN REMAKE. MAKANYA KALAU BACA YANG TELITI JANGAN CUMA SETENGAH-SETENGAH, DARI AWAL GUE UDAH NEKANIN KALAU GUE AKAN NGREMAKE SECRET LOVE KARA. KETAHUAN BEUD LO ITU SIDER. LO KIRA GUE INI AUTHOR BARU YANG RU NULIS SATU DUA BUAH FF, NOH LIHAT 50AN FF KARYA GUE UDAH TERPAMPANG DI BEBERAPA WP. KALAU NGOMONG MIKIR DULU YE, JANGAN SEENAK TU JIDAD. SORRY GUE EMOSI

      November 18, 2014 at 12:19 pm

    • Mecca liat nggak tuh di atas ada tulisan based on? Sebelum komen yang enggak-enggak, mohon dibaca dengan teliti ya. Karena kamu tau perasaan author yang dibilang enggak-enggak itu pasti sakit.

      November 18, 2014 at 2:07 pm

  7. nissa

    emangnya author mau pergi kemana ?.
    ceritanya bagus.
    ngk tau mau koment apa lagi ceritanya bagus bgt

    November 28, 2014 at 5:50 am

  8. Anyeonghaseo
    Aku reader baru

    January 22, 2015 at 4:35 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s