KIM MYUNGSOO FANFICTION

Marriage Not Dating (10)

marriagenodating

B2utyInspirit presents

.

REMAKE OF DRAMA WITH THE SAME TITLE

.

 Marriage Not Dating

.

| Marriage Not Dating – You must not be found out till the last moment|

| Kim Liah |

|Chaptered |

| Kim Myungsoo, Park Jiyeon |

| Choi Minho, Jung Soojung, Hwang Kwanghee, Hye Jeong |

| Romance, Married Life, Friendship |

| PG-18 |

|Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) |

 Untuk chapter selanjutnya akan aku kembangkan sendiri,

jenuh mengikuti alur drama itu, ya walau konfliknya masih sama.

RCL PLEASE

Minho berlari kembali kepenginapan untuk menjemput Kwanghee. Namun pria bermarga Hwang itu malah keasikan tidur dilantai dalam keadaan masih dipenuhi aroma alcohol dari Soju yang dia minum. “SAjangnim, bangunlah, sajangnim” Minho menoel perut Kwanghee hingga pria itu menggugam pelan.

“Ne, aku mendengarkanmu chagiya” Kwanghee masih mengira kalau ia masih bersama Hyejeong dan wanitanya itu masih memaksanya untuk mendengarkan perkataannya.

“Memangnya apa yang kau dengar?” Minho menepuk pipi Kwanghee layaknya menepuk lalat “Kubilang bangunlah!! Aishh” Kwanghee malah terusik dan mencium mesra bibir Minho hingga Minho kelabakan.

Setelah selesai mencium lawan jenisnya itu KWanghee kembali terbaring ke lantai “Jangan main-main denganku. Ahahhaaa” gumamnya dengan mata masih terpejam, ia belum sadar kalau ia baru saja mencium Minho.

Minho mengusap bibirnya, ia benar-benar shock dengan ciuman haram itu. tak ada pilihan lain, ia terpaksa menyeret Kwanghee lalu menggendongnya ala bridal style bahkan Kwanghee memeluk erat leher Minho lalu Minho menceburkannya ke kolam terdekat.

Kwanghee merasa kedinginan ia menjerit keras “Mwoya?” tanyanya bingung.

Sedangkan Minho ia membasuh bibirnya dengan air itu seolah ciuman itu bisa sirna “Apa sekarang kau merasa segar?” tanyanya.

“Nan eodiega?” Kwanghee seperti ikan koi yang kehabisan nafas.

.

Minho berjalan lebih cepat mendahului Kwanghee yang masih berjalan lelet dibelakangnya dengan menenteng sebatang kayu layaknya kakek tua.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Hyejeong pergi ke kuil dan kenapa pula aku harus menemuinya?” cerocos Kwanghee bingung, ia masih mengenakan kemeja pink nya yang sekarang basah kuyup.

“KAu tidak tahu apa-apa hah?” Minho menghentikan langkahnya meladeni kalimat bodoh Kwanghee.

“Mwo?” Kwanghee mengusap rambutnya yang kiwir-kiwir karna basah kuyup.

“Lihat saja sendiri” Minho kembali berjalan namun Kwanghee tak urung mengikutinya “Palliwa” teriaknya.

Setelah menempuh perjalanan dihutan yang sepi itu akhirnya ia sampai dilokasi dimana Jiyeon dan Myungsoo menunggunya. Namun sayangnya ia harus menelan pil pahit karna ternyata Jiyeon tengah berciuman mesra dengan Myungsoo. Benar dugaannya Jiyeon lama-lama akan luluh juga dengan kebersamaannnya yang dia alami cukup lama bersama Myungsoo.

“Yaa, tunggu aku!” suara teriakan Kwanghee menghentikan ciuman Jiyeon dan Myungsoo.

Minho berpura-pura tak melihat kejadian memilukan itu “Aku kembali. Dimana truk dereknya? Apa belum datang?” tanyanya senormal mungkin.

“Minho-ya, bagaimana dengan Kwanghee?” tanya Jiyeon, dibelakangnya Myungsoo nampak kikuk.

Batang kayu itu Kwanghee gunakan untuk menyangga tubuhnya, ia bahkan memijat punggungnya seperti kakek tua “Sebenarnya ada masalah apa sampai harus membangunkanku segala hah?” umpatnya.

Minho menoleh kebelakang “Sajangnim palli, Hyejoeng sudah menunggumu” teriaknya lalu menatap Myungsoo dan Jiyeon yang sama-sama kikuk.

“Ini sudah yang paling cepat” Kwanghee membungkuk lelah.

.

Disebuah kuil Hyeojeong berusaha membungkuk lalu bersujud dan menepukkan tangannya seperti perintah Biksu, namun sayangnya ia selalu salah dan ketinggalana teman-temannya yang cekatan membungkuk dan bersujud secara bersamaan.

“Hyeojeong-a” panggil Kwanghee.

Hyeojeong segera berlari ke ruang ganti dan diikuti oleh Kwanghee.

Kwanghee menghampiri Hyejeong yang duduk bersila dilantai kayu “Hyejeong-a. aku.. aku..masalahnya aku…” ucapnya bingung.

“Geunyang chaseyo” usir Hyejeong.

Kwanghee menurut dan merangkak hendak keluar ruang ganti “Geurae, jika itu maumu” balasnya.

“Kehamilan ini hadiah buatku” kalimat Hyejeong sontak membuat Kwanghee menghentikan langkahnya dan duduk dibelakang Hyejeong.

“Mwo?”

“Ini juga adalah hadiah untuk seseorang. Karena kesalahan fatal yang tidak bisa diperbaiki dan mungkin saja hadiah ini juga jadi bencana yang sangat ingin kau hindari. Makanya kita harus merahasiakannya, sebuah hadiah dari surga yang sesungguhnta harus kita hargai” Hyejeong nampak tulus mengucapkannya hingga membuat Kwanghee menunduk lesu merasa bersalah pada Hyejeong “Pergilah, kau boleh pergi dariku. Aku akan menanggungnya sendiri jadi kau tidak akan mendapat kerugian apapun” lanjutnya.

Kwanghee meneteskan air matanya ia beranjak memeluk leher Hyejeong dari belakang “Hyejeong-a, kenapa harus dari sibrengsek sepertiku?” ujarnya.

“Oppa”

“Mianhae Hyejeong-a” Kwanghee memutar punggung Hyejeong dan memeluknya lebih erat

“Eothokae? Sejujurnya, aku tidak yakin dengan apa yang harus ku lakukan” Hyejeong membalas pelukan Kwanghee sama eratnya “AKu sangat takut” lanjutnya penuh penekanan.

“Gwaenchana ..aku akan melindungimu” Kwanghee melepas pelukannya, membelai wajah cantik Hyejeong dan beralih melepas kemeja setengah basahnya lalu tangan nakalnya hendak mengangkat kaos putih yang Hyejeong kenakan hingga perut Hyejeong yang sudah mulai berlemak terekspos.

“YAaa apa yang kalian lakukan?” namun seorang biksu menghalangi niat kotor Kwanghee.

.

Hyejeong tertawa senang meski ia dan Jiyeon tengah dimarahi oleh managernya.

“Kalian memikirkan hal lain selama jam kerja? Kalian bebas melakukan apapun yang kalian mau selama waktu luang kalian. Tapi saat sedang bekerja, kalian harus fokus pada pekerjaan kalian. Di depan pelanggan kita bukan 1 individual. Tapi wajah yang mewakili merek kita. Jadi Jangan biarkan emosi pribadi kalian terlihat” jelas manager itu panjang lebar.

“Ne, Manager!” balas Hyejeong dan Jiyeon mantap.

Mereka kembali bekerja dengan menata tas serta mengelap kaca pemajang hingga tiba-tiba sebuah panggilan dari Myungsoo merusaka suasana kerja Jiyeon. ia tak mengubrisnya “Jangan pikirkan tentang kejadian kemarin. Focus bekerja Park Jiyeon” gumamnya yang cukup jelas terdengar oleh Hyejeong.

“Mwoya igeo?” sambar Hyejeong ingin tahu.

“Ne? Aku hanya sedikit capek” Jiyeon nampak khawatir dengan kondisi Hyejeong “Keundae apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan mengidammu?” tanyanya.

“Aku tidak mengidam apa pun. Gojongma aku juga akan segera berhenti nanti” jawab Hyejeong percaya diri, karna ia pikir setelah menjadi nyonya Hwang ia hanya tinggal duduk santai.

“Berhenti?”

“Aku akan sibuk mempersiapkan pernikahan”

“Pernikahan?” Jiyeon menyangkal ucapan Hyejeong karna ia lebih tahu bagaimana Tiffany itu. Tak akan semudah itu Hyejeong masuk ke keluarga Hwang, sama seperti ia yang kesulitan masuk ke keluarga Kim “Jadi kalian sudah membicarakan masalah itu?” lanjutnya.

“Bukankah Kami harus segera mengurusnya sebelum perutku membesar? Oppa bilang dia akan bicara dengan Ibunya”

“Tidak akan semudah itu, aku tahu sifat ibunya Kwanghee” gumam Jiyeon pelan.

.

Kwanghee saat ini layaknya gelandangan yang mengemis sesuap nasi kepada Tiffany. Ia meminta belas kasihan Tiffany dengan cara menyuarakan suaranya melalui celah kotak surat rumahnya. Bahkan ia hanya mengenakan sebuah boxer bermotif macan serta tas pakaian kecil disampingnya. Sekencang apapun ia menangis Tiffany tak akan mau membukakan pintu juga.

“Eommmmmmmmmmmaaaaaaaa” teriak Kwanghee disela tangisnyakarna ia menajdi olok-olokan masyarakat yang berhilir mudik didepan rumahnya.

.

Tiffany dengan elegannya menghampiri outlet Jiyeon dan Hyejeong.

“Annyeonghaseyo” Hyejeong menunduk hormat menyambut tamunya tanpa tahu kalau yang datang itu adalah calon ibu mertuanya.

Tiffany membaca tag nama Hyejeong “Jadi Kau orangnya?”

“Ne?” ulang Hyejeong bingung.

Jiyeon yang melihat Tiffany langsung mencoba membantu Hyejeong.

“Dan siapa lagi ini? Senang bertemu denganmu disini hah?” ledek Tiffany begitu melihat Jiyeon.

“Eommonim” Jiyeon berusaha mengajak Tiffany menjauh dan meminimalisir kemungkinan buruk lainnya.

“Beraninya kau memanggilku ibu!”

Karna suara Tiffany cukup menggelegar untuk didengar maka managernya pun ikut turun tangan “Nyonya, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan.

Tiffany melihat tag nama manager itu Ahn Yojin “Jadi kau managernya?”

“Ne, apa karyawan kami berbuat salah pada anda?” jawab manager Ahn.

“Kesalahan? Kesalahan itu terjadi karna kecelakaan. Tapi dia malah melakukan kesalahan yang disengaja, apa itu bisa disebut kesalahan hah?” gertak Tiffany seraya menatap jijik Hyejeong.

“Saya tidak mengerti maksud anda…”

“Yang satunya penguntit yang bisa membahayakan kehidupan anakku dan yang satunya lagi memanfaatkan anakku untuk tujuannya…” Tiffany melirik Jiyeon dan Hyejeong secara bergantian “Mereka merencanakan ini bersama!” sungutnya.

“Pasti yang membuatmu marah adalah masalah pribadi?” sambar manager Ahn.

“Bagaimana bisa ini menjadi masalah pribadi?” Tiffany kembali melirik jijik Jiyeon dan Hyejeong “Bagaimana caramu melatih karyawanmu sehingga para SPG disini mengambil manfat dari orang lain hah?” kalimat Tiffany semakin pedas saja “Alasan kalian bekerja di sini pasti karna ingin berbaur dengan pria kelas elit bukan? Cihh…” makinya.

Jiyeon merasa terpukul dengan kalimat terakhir Tiffany “Ne kau benar sekali” jawabnya marah.

“Josonghamnida nyoya. Atas nama mereka saya meminta maaf” manager Ahn menunduk hormat.

“Manager, kami tidak berbuat salah!” tolak Jiyeon.

“Kalian berdua mengganggu pelanggan yang lain” Jiyeon mengamati ke sekeliling dimana banyak pelanggan dari outlet lain berhamburan mengamati perkelahian mereka “Josonghamnida, Jika karyawanku membuat anda marah, mohon maafkan mereka” sambar manager Ahn kekeh.

“Josonghamnida” Hyejeong membungkuk menyesal disela tangisannya lalu beranjak pergi.

“Geurae, kali ini akan kulepaskan mereka. Tapi, latih karyawanmu dengan benar!” gertak Tiffany lalu beranjak pergi pula karna ia merasa malu dilihat banyak orang.

“Aku minta maaf, manager” sesal Jiyeon.

“Sudah kubilang jangan bawa urusan pribadimu ke tempat kerja. Pastikan ini tidak pernah terjadi lagi. Jika terjadi lagi, aku tidak akan memaafkanmu”

Jiyeon menghampiri Hyejeong dikamar mandi dan memberikannya tissue. “Dia keterlaluan. Tidak seharusnya dia membuat keributan ditempat kerjamu. Bahkan kita harus minta maaf padanya mentang-mentang kita SPG di mall ini?”

Hyejeong menggeleng “Saat aku bekerja di sini aku kelihatan seperti robot. Kau tidak pernah berpikir begitu bukan? Saat aku berdiri di toko terlalu lama, aku sampai merasa menjadi sebuah tas. Itu sebabnya aku ingin dipromosikan secepat mungkin melalui menjual produk terbaru, dengan harga tertinggi dan sebelum musim panas aku bisa di pindahkan ke outlet lain”

“Hyejeong-a..”

“Gwaenchana Jiyeon-a. Kau pikir aku tidak siap dengan semua ini?” Hyejeong tertawa pelan “Ternyata ini lebih enteng dari yang kuduga. Kupikir dia akan menamparku tadi”

“Seharusnya aku menampar wajahnya” dumel Jiyeon.

.

Tiffany menemui Minyoung untuk bertukar keluh kesah dan siapa tahu Minyoung bisa membantunya.

“Si Jiyeon atau apapun itu namanya. Ia dan temannya sungguh keterlaluan. Karna menguntit Kwanghee gagal, maka ia meracuni temannya untuk menjebak Kwanghee. Dasar wanita jalang!”

“Keundae mencuri teman pacarnya dan mengencani teman mantan pacarnya adalah yang dilakukan anak kita” potong Minyoung santai.

“Jadi, kau akan membiarkan Myungsoo dan Jiyeon menikah?”

“Pertama, aku menuruti mereka hingga persiapan pernikahannya”

“Mwo?”

“Rencana tersembunyi para wanita pasti diungkapkan ketika bersama ibu mereka, termasuk alasan untuk menikah dengan cinta yang murni” jelas Minyoung mempengaruhi Tiffany agar melakukan caranya dalam menghadapi permasalahan Kwanghee.

“Majayo”

.

“Pertemuan keluarga kita?” Hyejeong yang sedang duduk berdua dengan Kwanghee di cage Kwanghee langsung tersentak dengan ajakan itu.

“Eoh sudah kubilang percayakan padaku”

“Apa mereka mengijinkan pernikahan kita?”

“Syukurlah kalau begitu. Kurasa dia langsung berubah pikiran setelah bertemu denganmu, selamat!!” sambar Jiyeon yang duduk didepan sepasang kekasih itu.

“Kapan sebaiknya kita adakan pertemuan? Ibuku ingin secepatnya” tanya Kwanghee.

“Bagaimana ya? Orang tuaku ada di kapal pesiar, jadi beberapa bulan ini mereka tidak akan di sini” kilah Hyejeong, ia sebenarnya hanyalah memiliki seorang ibu yang bekerja sebagai seorang pelayan restoran. “Kapal pesiar?” ulang Jiyeon.

“Begitukah? Memangnya orang tuamu kerja apa?” tanya Kwanghee.

“Mereka menjalankan bisnis kecil di industri fashion…” dusta Hyejeong lagi.

“Begitukah…Aku baru kali ini mendengarnya. Kau tidak pernah cerita tentang orang tuamu padaku” sambar Jiyeon bingung.

“Aku dibesarkan agar menjadi mandiri, jadi pasti mereka akan menyuruhku mengurus pernikahanku sendiri. Kita lewatkan saja pertemuan keluarganya, kau bisa bertemu orang tuaku di hari pernikahan nanti” tolak Hyejeong.

“Tapi, aku harus menyapa mereka..”

“Oppa, Myungpoomie kita lapar” Hyejeong berusaha mengalihkan pembicaraan Kwanghee.

“Myungpoomie kita lapar? Yaa” Kwanghee mengangkat tangannya tuk memanggil Minho.

“Pastamu sudah siap…” Minho menyajikan sepiring pasta.

“Makanlah” Kwanghee mengelus perut datar Hyejeong.

“Nama bayimu, Myungpoomie?” tanya Jiyeon.

“Mmakanlah sebanyak yang kau mau” bujuk Kwanghee.

“Jika aku jadi gemuk nanti gaun pengantinnya tidak muat” tolak Hyejeong.

Jiyeon sungguh bahagia melihat keakuran Hyejeong dan Kwanghee “Kukira tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi” ujarnya, ia hendak pergi namun ia urungkan karna melihat Myungsoo berjalan memasuki café.

“Wae? Bukankah kau mau pergi?” selidik Kwanghee.

“Anniya, aku akan disini sebentar lagi” balas Jiyeon kikuk.

Sialnya Myungsoo malah duduk disebelah Jiyeon “Kalian semua di sini?” tanyanya.

“Aku pergi sekarang” secepat mungkin ia berjalan menjauh keluar café dan tak menyadari kalau Minho menatap aneh sikapnya ketika bertemu Myungsoo.

Jiyeon mengatur nafasnya dan berhenti didepan café Kwanghee. ia masih merasa canggung bertemu dengan Myungsoo. Bagaimana ia menghadapi Myungsoo dengan tingkahnya semalam yang malah seolah menyambut ciuman Myungsoo.

“Semua orangpun bisa menyadarinya”

JIyeon terkaget dengan kehadiran Myungsoo dibelakangnya bahkan sikap Myungsoo biasa-biasa saja seolah semalam tak terjadi apa-apa diantara mereka “Mwo..mwonde?” tanyanya gelagapan.

“Kenapa kau tidak tulis saja sekalian dikeningmu kalau kita sudah berciuman?” goda Myungsoo.

Karna kesal maka Jiyeon membekap mulut Myungsoo dan menariknya ke klinik Myungsoo.

“MEnurutmu apa mereka berdua tidak aneh? Katanya pertunangannya palsu, tapi kenapa mereka selalu dekat. Apa mereka mulai saling suka?” tunjuk Hyejeong pada Jiyeon yang kelihatan dari jendela kaca.

“Myungsoo sendirian di rumah dan Jiyeon sering ke sana. Myungsoo itu tidak mudah mengizinkan orang lain masuk kerumahnya” jelas Kwanghee.

“Pria dan wanita bersama dalam 1 atap?” sambar Hyejeong.

Minho menepuk pundak Hyejeong dan Kwanghee “Apa kalian tidak tahu?”

“Yaa kau mengangetkanku” dumel Kwanghee.

“Aku tinggal bersama Myungsoo” jelas Minho sengaja ingin mengalihkan perpepsi Hyejeong dan Kwanghee.

“Apa? Kalian tinggal bersama?” ulang Kwanghee tak percaya. Ia saja tak pernah kerumah Myungsoo, apalagi menginap disana.

“Kami tidur sambil berpelukan erat…Aku ke dapur dulu” goda Minho.

“Jadi, alasan kenapa Myungsoo sangat tidak ingin menikah…” Kwanghee menganggap Myungsoo menyukai sesama jenis.

“Kupikir JIyeon dan Minho berkencan” desah Hyejeong kecewa.

“Mungkin hubungan mereka juga palsu” sanggah Kwanghee seraya mengelus pundaknya dan menyiramkan air mineralnya.

“Mungkin juga!”

.

“Mwoya? Kenapa kau menyeretku begini?” Myungsoo berusaha lepas dari rantaian tangan Jiyeon.

“Mulutmu. Mulutmu itu masalahku” tunjuk Jiyeon.

“Wae? Apa Jantungmu berdebar saat melihat bibirku?” Jiyeon nampak gelagapan dengan pertanyaan Myungsoo “Jantungmu berdebar? Kau menghindariku?” lanjut Myungsoo.

“Omong kosong apa ini. Kau benar. sejujurnya aku menghindarimu. Aku tahu diri, aku Aku tidak bisa tetap tenang dan bersikap seakan tidak ada yang terjadi. Saat aku di dekatmu, aku selalu saja teringat hal itu. Tapi kau..… apa kau menyukaiku?” ucap Jiyeon mantap seraya memejamkan matanya takut dengan jawaban iya Myungsoo.

Myungsoo ingin sekali mengatakan iya namun iamalah tertawa kecil “Kau tertawa?” tanya Jiyeon.

“Apa aku harus menangis?”

Jiyeon mencoba menyembunyikan kegugupan yang bercampur sedikit kekecewaan dengan duduk dikursi pasien “Syukurlah, aku takut kau jadi suka padaku. Aku agak bingung, kau tahu, tentang hubungan kita. Jelas ini cuma skenario, agar kau bisa hidup sendiri. Selain itu, aku punya Choi Minho. Aku merasa bersalah, tapi… Ku pikir aku harus membatasi…” ya Jiyeon harus membatasi masalah skinship diantara mereka.

“Apa yang mau kau batasi?! Sudah kubilang jangan melewati batas, tapi kau selalu saja melewatinya” potong Myungsoo.

“Benarkah? Kau benar tidak mungkin menyukaiku, kan? Keundae, bagaimana dengan ciuman itu?”

“Karna ka uterus mengeluh maka aku berinisiatif membungkam mulutmu” jawa Myungsoo.

“Kau menciumku hanya untuk itu?!” jelas sekali terlihat ada raut kekecewaan diwajah Jiyeon. Percuma Park Jiyeon, Myungsoo hanya menyukai Soojung si wanita sempurna itu, batinnya.

“Mwo? Mwo? Mwo?” Myungsoo sengaja menampangkan bibirnya agar Jiyeon semakin tak karuan dan itu artinya Jiyeon memang memiliki rasa yang sama dengannya “Kau sangat menyukainya? Kau bingung itu ciuman sungguhan atau tidak?”

“Anni, kau pencium yang buruk!” kilah Jiyeon, meski sebenarnya benar apa yang dikatakan Myungsoo.

“Mwo?”

“Kau pencium yang buruk dan ciuman itu sama sekali tak berarti, bukan?”

“Tentu saja tidak” dusta Myungsoo.

“Ya! kemarin hari yang membingungkan..Tiba-tiba kita berlibur, kita juga minum

lalu kakiku terluka, dan Hyejeong juga hilang! Lalu Kita kelelahan, karena bingung mencari jalan. Jadi, akal sehat kita sedang kacau, Maka terjadi kecelakaan kecil itu, begitu, kan?” pikir Jiyeon dengan tawa hambarnya.

“Eoh tentu saja itu kecelakaan yang sangat kecil”

“Dan sekarang kita harus melupakannya? Seperti tidak pernah terjadi” lanjut Jiyeon kekeh.

“Aku saja sudah lupa, kau lah yang terus mengingatnya”

“Jangan sampai orang tahu tentang ini!” Jiyeon menggebrak meja karna terus disudutkan oleh Myungsoo.

“Selama kau diam maka akan baik-baik saja” Myungsoo menunjuk bibirnya lalu bibir Jiyeon.

Karna kesal Jiyeon memilih pergi keluar, ia hendak membuka pintu namun malah Minho sudah berada didepannya.

“Kenapa kau terkejut begitu?” tanya Minho.

“Kenapa kau kesini?” tanya balik Myungsoo.

“Tentu saja untuk menjemput Jiyeon”

“Bagaimana bisa kau tahu kalau aku disini?” tanya Jiyeon bingung, bagaimana kalau Minho mendengar semua percakapannya tadi dengan Myungsoo?

“Aku tahu semuanya. Apa pun yang kau lakukan, dimanapun kau berada” Minho membisikkan sesuatu ke telinga Jiyeon “Kajja” ia merangkul pundak Jiyeon keluar kantor Myungsoo.

.

“Kemarin aku sudah kasar pada kalian” Taehee nampak menyesal dan menggenggam cangkirnya sedikit gugup.

“Sebenarnya tidak kasar…Itu tergantung orang yang menganggapnya” sungguh ucapan Taehee kemarin membuatnya bahagia, kalau bisa Minyoung berharap Taehee tidak menyesalinya dan menolak menikahkan Jiyeon dengan Myungsoo “Jika kau tidak bisa memberikan anakmu…Aku akan merasa…” lirih Minyoung palsu.

“Tidak, aku sangat terkejut saat itu, dan…Aku marah”

“Tentu saja kau akan marah jika Myungsoo memang masih dekat dengan mantan calon istrinya” potong Minyoung, ia berusaha mengojok-ojok Taehee agar tak menyukai Myungsoo.

“Aku percaya menantu Kim akan membuat Jiyeonieku bahagia”

“Aku tidak yakin…setelah dia gagal saat percobaan pertama. Semoga dia bisa lebih baik di di percobaan kedua ini. Dia harus melakukan yang terbaik” jelas Minyoung panjang lebar seolah menyalahkan Jiyeon.

“Igeo mwoya? Kenapa keadaaanya bisa berbalik begini?” Batin Taehee bingung, namun sesegera mungkin ia berbalik menyerang Minyoung “Aku berpikir salah. Aku seharusnya tidak menyerahkan semuanya padamu…Dalam menyiapkan pernikahan…seharusnya tidak hanya 1 pihak yang mengurus semuanya” serang balik Taehee.

“Apa Kau merasa tidak enak kalau aku yang mengurus semuanya?”

“Kami sebagai orang tua dari pihak wanita..Kami yang harusnya menyiapkan pernikahan. Jadi, tolong perlakukan Jiyeon kami dengan baik” pinta Taehee.

“Aku sebenarnya berniat baik. Tapi kau merasa tidak enak begini”

“Pertama, kita rencanakan tanggalnya” potong Taehee.

“Kami akan menentukan”

“Aku dengar pihak wanita yang menentukannya. Kau pasti belum pernah dengar hal itu” ledek Taehee.

“Sejauh yang ku tahu, kurasa pihak pria yang mengurus itu” jawab Minyoung kekeh ia tak mau sampai andil pernikahan ini diserahkan pada Taehee.

“Baiklah, terserah kalian saja. Aku hanya meminta kalian lebih memperhatikanku sebagai pihak dari mempelai wanita”

.

Minho dan Jiyeon berjalan berdua melewati sebuah tepian jembatan. Tak sengaja sebuah sepeda hampir saja menabrak Jiyeon namun dengan sigap Minho menarik pinggang Jiyeon hingga mereka saling berpandangan. Jiyeon merasa canggung dengan keadaan ini, sedangkan Minho ia malah semakin mengetes kecanggungan Jiyeon untuk mengetahui seberapa dalam perasaan Jiyeon telah berpindah.

“Waeyo?” Jiyeon merasa tak nyaman dengan keadaan ini.

“Aku ingin menciummu”

“Di…disini?” jawab Jiyeon gugup.

“Eoh” hampir saja Minho akan menempelkan bibirnya namun sebuah panggilan terdengar dari ponsel Jiyeon.

“Telpon, ada yang memanggilku” senyumnya memudar seiring dilihatnya nama Myungsoo dilayarnya “Myungsoo?”

Minho merebut ponsel Jiyeon “Ini aku Choi Minho, ada apa kau memanggil Jiyeon?” tanyanya dingin.

.

Myungsoo dan Taehee tengah menunggu Jiyeon disebuah cenayang. Peramal itu mengatakan kalau Myungsoo itu meskipun kaya tapi dia adalah orang yang tak beruntungnya, nasibnya selalu sial dan dia adalah pria yang kesepian. Sedangkan Jiyeon adalah wanita yang penuh keberuntungan dan banyak uang. Myungsoo akan menyesal jika sampai meninggalkan Jiyeon karna hanya Jiyeon yang mampu menyelamatkan segala kesialan hidupnya. Cenayang itu juga mengingatkan agar mereka melakukan pernikahan itu dengan serius dan bukan hanya main-main saja.

Jiyeon berjalan pulang bersama Myungsoo, mereka melewati jembatan yang tadi siang Jiyeon lalui bersama Minho.

“Aku tak bisa berbohong lagi, aku benci kebohongan, aku merasa bersalah dengan Minho”

“Kau bilang tak bisa tapi kau masih melanjutkan ini semua?” sindir Myungsoo.

“Aku sungguh tak tega melihat Minho merahasiakan kebohongan dari wanita yang dia cintai. Apa kau tak dengar kata peramal? Dia bilang jika kau mau akhiri maka akhiri saja”

“Cenayang itu hanya seorang penipu. Cihh katanya kau menyelamatkan hidupku? Bukankah kau sumber masalahku?” cibir Myungsoo dan tiba-tiba sebuah sepeda hendak menabrak Myungsoo, namun seperti kejadian tadi siang kali ini Jiyeon sigap menarik Myungsoo dalam pelukannya.

“Lihatlah, bukankah aku menyelamatkanmu lagi?”

“Baiklah beri aku waktu aku akan memikirkannya” jawab Myungsoo segan.

***

Minyoung kembali berulah dengan meminta banyak hadian untuk souvenir para tamu, hadiah untuk nenek serta bibi Han kepada Taehee. Mau tak mau Taehee pun membelikannya agar Jiyeon bisa menikah dengan Myungsoo. Bahkan Minyoung juga meminta mas kawin kepada Taehee dengan jumlah yang besar.

“Yeobeo… yeobeo bicaralah padaku” Taehee menganggu Jisung yang tengah mengepel lantai kedai ayamnya.

“Aku akan bicara kalau memang pantas dibicarakan. Untuk menikahkah putri kita kenapa kita harus menjual kedai ini hah?”

“Mau bagaimana lagi? setidaknya kita harus menghabiskan 100,000 $ untuk peralatan rumah tangga” sanggah Taehee.

“5 kasr saja 10.000 $?”

“Bukan 10.000 $ tapi 100.000 $” lirih Taehee.

“Michesseo?”

“Tapi mereka tak akan meminta apapun lagi” jelas Taehee.

“Geurae, kita jaminkan surat rumah kita untuk pinjaman” angguk Jisung mengalah.

“Tanpa kau mintapun aku sudah menjaminkan kedai ini” senyum Taehee gembira, apapun akan ia lakukan untuk bisa membuat Jiyeon menjadi nyonya Kim.

“Kenapa kedai ini juga?”

“Uangnya kurang cukup untuk upacara pernikahan di hotel bintang lima” jawab Taehee santai yang berakhir mendapat pukulan pel oleh Jisung namun Taehee lebih dulu melarikan diri.

***

“Kita akhiri saja rencana pernikahan palsu ini. aku tak tega melihat ibuku pusing memikirkan permintaan aneh dari eommonim. Bahkan ibuku sampai menjaminkan rumah dan kedai segala dan semua itu karna cincin itu” Minyoung memang merayu Taehee kalau dia akan memberikan cincin berlian kesayangannya untuk Jiyeon dengan jaminan Taehee mampu memenuhi segeala permintaan anehnya.

“Mintalah cincin itu padanya”

“Yaa memangnya aku mau menikah? Sudah kubilang …” potong Jiyeon.

“Jika dia tidak memberikan cincin itu berarti dia menentang pernikahan kita, katakan itu padanya” Myungsoo nampak serius sekarang, karna ia tahu silsilah cincin berlian berwarna pink itu.

“Jika dia memberikan cincin itu?”

“Tidak akan, dia tidak akan memberikannya” tolak Myungsoo.

“Choa, aku akan memintanya” sedetik kemudian Jiyeon menghubungi Minyoung “AKu tak akan meminta apapun, aku hanya ingin cincin berlian pink itu saja eommonim” jelasnya.

“Mwo? Kau minta apa?” Minyoung sungguh tersentak dengan permintaan Jiyeon, bahkan ia sampai menggosongkan kemeja yang sedang ia setrika.

“Cincin berlian pink, aku merasa kau akan menerimaku jika kau memberiku cincin itu. bukankah cincin itu sangat berharga bagimu? Eommonim, apakau mendengarku?”

“Kupikir lebih baik kita berbicara langsung, datanglah akhir pekan nanti” bagaimana Minyoung bisa memberikan Jiyeon cincin yang bukan miliknya?

.

“Apa pentingnya cincin berlian itu? aku juga tak akan menerimanya dan aku juga tak akan menikah dengannya. Keundae kenapa aku merasa seaneh ini?” Jiyeon nampak setengah mabuk disebuah bar bersama Hyejeong.

“Itu artinya kau menyukai Myungsoo”

“Yaa jangan berkata seperti itu, maldo andwae” tolak Jiyeon.

“Atau kau memang ingin menikah dengannya?”

“Tentu saja aku ingin menikah, tapi dengan seseorang yang benar-benar aku cintai” Jiyeon belum menyadari perasaannya.

“Karna sosok Kim Myungsoo yang menawan makanya kau jatuh hati juga”

“Mwo? Sosoknya? Aku merasa seperyi ada angin bertiup dihatiku dan rasanya aneh” Jiyeon bahkan memperagakan suara angin.

“Kau benar-benar sudah jatuh cinta pada Kim Myungsoo” kekeh Hyejeong.

“Anniya, anniya. Aku dan Myungsoo akan segera berpisah jika rencana ini berhasil”

“Apa kau tidak menyukai ini karna ini adalah yang terakhir kalinya?” jiyeon menoleh bingung dengan kalimat Hyejeong, apa benar yang dikatakan Hyejeong kalau ia merasa akan segera kehilangan Myungsoo? “Karna kau tak akan pernah melihat Kim Myungsoo lagi setelah rencana ini berhasil” lanjut Hyejeong.

“Anniya… aku punya Choi Minho. Walau penah berciuman…” Jiyeon menyentuh bibirnya mengingat ciumannya dengan Myungsoo.

“Kau berciuman dengan Myungsoo?”

“Hanya kecelakaan. Bibirku yang seharusnya tidak boleh disentuh tapi malah tersentuh olehnya” jelas Jiyeon.

“Aku dan Kwanghee oppa juga begitu dulu.

.

Ditempat lain Myungsoo dan Kwanghee sama-sama tengah menikmati segelas vodka.

“Begini…Katakan saja semuanya, karena aku sudah tahu” Kwanghee meneguk vodkanya.

“Apa yang kau tahu?”

“Kau jatuh cinta pada seseorang yang tidak seharusnya” jawab Kwanghee santai.

“Apa yang kau bicarakan?” Myungsoo berpura-pura tak mengerti arah pembicaraan Kwanghee.

“Jiyeon orangnya, kan? Kau pikir aku tidak tahu” tebak Kwanghee.

“Kapan itu terjadi” remeh Myungsoo.

“Hei! Aku teman terbaikmu! Aku bisa tahu itu dengan instingku!” Kwanghee mencegah Myungsoo meneguk vodka nya “Ada yang bisa kubantu untuk kalian berdua?” tanyanya.

“Bantu dengan berpura-pura tidak tahu apa pun. Aku tidak ingin ini terkuak”

“Apa Ini cinta bertepuk sebelah tangan?” selidik Kwanghee.

“Ayo minum” Myungsoo menyentuh punggung tangan Kwanghee yang membuat Kwanghee tersentak karna ia masih berpikiran kalau Myungsoo itu gay, ya meskipun Hyejeong sudah menceritakan semuanya mengenai Jiyeon dan Myungsoo.

“Minumlah. Ya ampun, kau pasti sangat sedih dan kesepian. Kasihan sekali kau” sekali lagi Myungsoo berusaha menggenggam tangan Kwanghee “Berhenti menyentuhku” tolaknya.

“Kenapa kau marah begitu?”

“Eummm” mana mungkin Kwanghee mengatakan kalau ia mengangap Myungsoo gay “Ayo minum”

.

Myungsoo memasuki apartmentnya dan menadapati Jiyeon tertidur pulas di sofa. Ia mengamati wajah Jiyeon yang mungkin saja tak akan mampu ia lihat lagi. karna belaiannya Jiyeon jadi terbangun “Wae?” tanya Jiyeon seraya duduk disofa.

“Mwoga?”

“Apa benar cincin itu.. kenapa aku tidak bisa menerima cincin itu?” Jiyeon berpikir mungkin cincin itu memang hanya pantas diberikan oleh menantu yang segolongan dengan Myungsoo “Ibuku berkorban segalanya agar aku bisa menerima cincin itu, apa itu belum cukup hah?”

“Jiyeon-a, kau sedang mabuk”

“Jawab aku, apa jariku tidak sesuai untuk cincin mahal itu? Apa hanya Jung Soojung yang pantas memakainya?” Jiyeon benar-benar merasa tersakiti dengan masalah cincin itu.

“Bukan begitu” Myungsoo beralih ke dapur meneguk sebotol air mineral.

“Aku tahu betapa anehnya aku sekarang. Tapi seberapa anehnya aku, aku harus mendengar penjelasanmu. Aku ingin dengar meskipun aku memang ingin sekali menikah, aku harus mengetahuinya, apa alasan utama kenapa kita tidak bisa menikah? Aku tahu kau memilihku karna kau tahu kalau aku tak mungkin menikah denganmu, aku tak mungkin bisa masuk dalam keluargamu. Aku tak memiliki uang, aku.. aku hanyalah seorang Park Jiyeon yang seperti ini”

“Cincin itu… bukan cincin ibuku”

Flashback On

Myungsoo dan Soojung hendak membeli sebuah cincin untuk pernikahan mereka. Namun mereka malah bertemu dengan Jaejong yang tengah membeli sebuah cincin bermata berlian pink. Bahkan jaejong menjatuhkan sebuah kertas berisi kata-kata manisnya untuk wanita lain dan bukan Minyoung.

Sialnya disaat sesi pemotretan profil majalah perusahaan mereka, Soojung malah membahas cincin itu yang ia kira sebagai lamaran kedua Jaejong. Padahal cincin itu untuk selingkuhannya. “Kurasa akan lebih bagus jika kita mengabadikan pelamaran kedua kalian” ujar Soojung, ia baru saja berfoto keluarga bersama keluarga Kim dan tentu saja ini akan dimuat disebuah majalah bisnis.

“Pelamaran kedua?” ulang Minyoung dengan senyumnya yang tak pernah pudar.

“Kukira ayah mertua akan merencanakan kejutan” lanjut Soojung polos.

“Abeoji aku ingin bicara” Myungsoo membawa jaejong ke kamarnya, ia menyerahkan sebuah kertas bertuliskan to J “J itu bukan ibu, kan? Kenapa kau melakukan ini abeoji?”

“Diam”Minyoung menengahi pertengkaran ayah dan anak itu “Wartawan itu akan mendengarnya”

“Ibu, kau sudah tahu semuanya?”

“Kenapa wajahmu sekesal itu? ubah ekspresi wajahmu, sembunyikan perasaan kecewamu” titah Minyoung santai, bukankah seharusnya Minyoung menangis kecewa?

“Kau khawatir orang akan mendengarnya?” ulang Myungsoo tak percaya, seharusnya ibunya memarahi ayahnya bukan?

“Myungsoo-ya..” Jaejong hendak menjelaskan semuanya.

“Dimana cincin itu? Pasangkan ke jariku” pinta Minyoung lalu mengajak suami dan anaknya kembali ke ruang tengah. Disana ia memasang wajah gembira meski jarinya harus memakai cincin milik wanita lain.

Flashback off

Jiyeon sungguh tersentuh dengan cerita Myungsoo “Bagaimana bisa dia memakai cincin wanita lain di majalah yang bisa dilihat oleh semua orang?”

“Karna semua orang melihatnya, maka kami harus menyembunyikannya” ada kesedihan dari nada suara Myungsoo “…emosi dan kebenarannya” lanjutnya.

Jiyeon berjalan menghampiri Myungsoo lalu meraih tangannya untuk ia genggam seolah genggamannya mampu menguatkan Myungsoo “Ungkapkan saja semuanya padaku, karna aku hanya calon istri palsumu” lirihnya.

Minho dan Soojung bersamaan masuk ke apartment Myungsoo, mereka berdua nampak kecewa melihat kedekatan Myungsoo dan Jiyeon.

“Minho-ya…” jangan sampai Minho berpikiran macam-macam mengenai ini.

“Aku seharusnya tdak mendengar ini dan kau seharusnya menyadarkanku ketika aku mencaritahu kebenarannya bahkan kalau bisa mencegahku mengetahui semuanya” lirih Minho, iapun ikut beranjak mengekor Soojung yang sudah lebih dulu keluar.

***

Didalam mobil yang dikendarai Myungsoo, ia dan Jiyeon sama-sama berpikir mengenai kelanjutan hubungan mereka. Bagaimana kalau rencana kali ini berhasil? Apa mereka sungguh tak akan bertemu lagi? apa mereka tak akan bertegur sapa lagi?

“Ini akan jadi yang terakhir kalinya aku kerumahmu” ujar Jiyeon seraya berjalan dalam satu payung dengan Myungsoo.

“Karna ini terakhir kalinya, buatlah kejadian yang menakjubkan mungkin”

“Eoh demi kau dan juga Minho”

Didalam rumah keluarga Kim, Minyoung nampak mengelap tiga buah batu kesayangannya. Disampingnya nenek serta Bibi Han duduk tenang menunggu Minyoung memberikan cincin itu pada Jiyeon. Mereka berdua juga sudah tahu kalau cincin itu bukan milik Minyoung.

“Eumm, kau ingin berlian merah muda itu?” tanya nenek memecah keheningan.

Jiyeon mengangguk “Ne aku sungguh menginginkannya”

“Meskipun aku tahu berlian itu adalah tanda cinta bagi para wanita. Permintaanmu itu terlalu berani bahkan menyinggungku” sindir Minyoung, ia masih focus mengelap batu-batu itu.

“Aku hanya ingin memastikan apakah kau benar-benar menginginkan pernikahanku dengan Myungsoo atau apakah akau bisa diakui sebagai menantu bagimu” jawab Jiyeon.

“Kenapa kau pelru cincin itu untuk memastikannya?” Minyoung berhenti mengelap batunya, ia yakin ini semua ide Myungsoo.

“Karna cincin itu berharga bagimu” jawab Myungsoo dingin.

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Aku akan angap kau menolakku” jawab Jiyeon mantap, meski ini sungguh berat baginya.

Minyoung tak segera memberikan cincin yang Jiyeon minta “Seperti yang kuduga, kau tak bisa menerimaku dengan tulus…” namun tangan Minyoung mengulurkan kotak merah berisi cincin yang sudah ia minta dari Jaejong.

“Bukalah” pinta Minyoung.

Jiyeon dan yang lainnya tertegun, bagaimana bisa Minyoung mendapatkan cincin itu.

“Apa kau puas?” tanya Minyoung dan hendak meminta lagi cincin itu karna ia hanya meminjam sebentar cincin itu.

“Chakkaman, apa cincin ini sungguh berharga bagimu eommonim?” Minyoung mengangguk “Jeongmal?” Jiyeon mengambil batu didepannya dan menggunakannya untuk memukul mata berlian cincin itu hingga hancur berkeping-keping, ini menandakan kalau cincin itu palsu.

“Park Jiyeon” pekik Myungsoo mewakili kegelisahan nenek dan bibi Han.

“Ini palsu. Sekarang aku sudah mengerti apa yang kau pikirkan tentangku. Karna kau menolakku seperti ini, wajar aku berdiri begini. Sebaliknya, tolong bebaskan Myungsoo. Pernikahan yang terlihat baik bagi orang lain..jangan paksa ia menjalaninya”

“Kau mengatakan semuanya padanya Myungsoo-ya” mata Minyoung nampak berair.

“Yang mana? Tentang cincin wanita lain itu atau ulahmu yang membodohi orang lain?” cerca Myungsoo penuh emosi, ia sungguh tak menyangka kalau ibunya bisa berhati es seperti ini.

“APa maksudmu meminta cincin itu? Untuk mempermalukanku? Kau ingin melihatku kalah? Kau ingin mendengarku kalah?” sungguh Minyoung sangat kecewa dengan sikap Myungsoo, ia akan tak peduli jika yang melakukan ini adalah jaejong, tapi ini Myungsoo anaknya sendiri, anak yang dengan susah payah ia pertahankan melalui hubungan keluarga palsu ini.

“Kami ingin mendengar perasaanmu yang jujur” sambar Jiyeon.

Minyoung tertawa kecil “Mworago?”

“Mendengar kebenaran kalau pernikahanmu berbeda dengan apa yang ada dimajalah” potong Jiyeon

“Tutup mulutmu, apa yang kau tahu?” bentak Minyoung.

“Kebenaran kalau kau sangat terluka dan keluargamu berantakan. Kalau kau tidak ingin Myungsoo memiliki pernikahan sepertimu hingga kau terobsesi merencanakan pernikahan yang sempurna untuk Myungsoo” Jiyeon sama bersedihnya mengatakan kalimat yang cukup menusuk hati Minyoung ini “Aku tahu betapa kau sangat menginginkan kebahagiaan Myungsoo, keundae kau harus bahagia lebih dulu” air mata Jiyeon mulai berjatuhan “jangan membodohi orang lain dengan kebahagiaan palsu, tapi tunjukkan kebahagiaan yang sebenarnya”

“Jiyeon-a” potong nenek, ia tak tega Minyoung terpojokkan seperti ini, karna semua kesalahan ada pada anaknya Jaejong.

“Josonghamnida haelmeonie…karna orang yang membuat Myungsoo menyendiri itu adalah kau eommonim” lanjut Jiyeon lalu beranjak keluar rumah keluarga Kim yang disusul oleh Myungsoo.

Semuanya bersedih, Minyoung menangis tersedu dan bibi Han terharu pula, sedangkan nenek ia malah mengejar Myungsoo dan Jiyeon keluar halaman rumahnya.

Jiyeon mengatur nafasnya dihalaman keluarga Kim, ia merasa sudah menjadi orang yang paling jahat karna sudah menyakiti Minyoung.

“Park Jiyeon”

Jiyeon segera menyeka air matanya dan berpura-pura tak bersedih “Bagaimana acting terakhirku? Jika kau suka katakanlah terima kasih, jangan hanya menatapku kosong seperti itu”

“JIka aku bilang terima kasih, aku takut itu akan menjadi kalimat terakhirku” batin Myungsoo.

“Kurasa ini akan benar-benar berakhir” Jiyeon mengulurkan tangannya untuk menjabat Myungsoo.

Myungsoo menerima jabatan tangan Jiyeon, namun ia malah menariknya dalam pelukannya, mungkin saja pelukan terakhirnya juga.

“Kau harus mulai mengeluarkan emosimu. Meskipun aku tidak akan ada disampingmu” Jiyeon menyambut pelukan Myungsoo bahkan ia menepuk hangat punggung Myungsoo.

“Aku ingin tetap berada disampingmu” batin Myungsoo.

“Skenario pernikahan palsu kita akan segera berakhir” kalimat Jiyeon ini membuat Myungsoo mengeratkan pelukannya.

“Mworago?” sepasang tunangan palsu itu tersentak mendapati nenek Kim dibelakang mereka “Apa yang kalian katakan?”

Advertisements

12 responses

  1. Ahirnya dilanjutin jga,,,, kenapa myung engak mau ngakuin prasaannya,, jangan salahkan minho lo klau dia bisa merebut prasaan jiyi lagi,, sepertinya bakalan terbongkar,,,,

    October 6, 2014 at 7:47 pm

  2. Aaah finally bisa baca ff ini lagi… Welcome back eonni.
    Yaaah ketahuan nenek deh kalo mereka cuma pura”… Sbenernya kasian juga sama Minyoung tapi dia juga tega banget sih sama keluarga Jiyi.. Mereka kan tulus dan gatau apa-apa, kasian sampe gadain rumah dan kedainya juga supaya Jiyi bisa nikah.
    Itu myung ga sadar x ya kalo emang Jiyi tuh penyelamat dia, udah berapa x coba Jiyi nyelametin dia, malah bilang sebaiknya. Mungkin hidup Jiyi emang ga beruntung, tapu dia bisa membuat hidup orang lain jadi beruntung… fightiiing eonni…

    October 6, 2014 at 11:21 pm

  3. Riri J

    Wahhhh wahhh mkin mnegangkn…
    Ap bnrn akn brkhr,,,
    pdhl mrk sling suka,,tp gk bs ngungkpin xa,,,
    thor next y,,,,d’tggu klnjtn xa..
    Hwaiting

    October 7, 2014 at 2:52 am

  4. yuli

    Ya ampun myungyeon ketahuan oleh nenek, apa yang bakal terjadi selanjutnya ya.
    Semoga mereka tidak berpisah.
    Lanjut thor.

    October 7, 2014 at 3:21 am

  5. miss deer

    welcome back chingu!! sumpah udh lama bgt ff ini, smpe yg chap 9 aja hmpir lupa cerita terakhirnya gmn, but gpp kok, mgkin kamu emg sibuk, me too, aku jg sama2 sibuk, jd ak bisa ngerti keadaanmu

    October 7, 2014 at 4:21 am

  6. elma ingga

    omo..nenek kim ada di saat tidak tepat
    next part

    October 7, 2014 at 7:42 am

  7. Aigo ottokhae? Halmonie tau? Mdh2an halmonie ga blg ke eommax myung.. myungyeon ah.. jebal saling nyatakan prsaan kalian jebal

    October 7, 2014 at 9:10 am

  8. yulisa

    masalahnya gakan jadi rumit kalo myungyeon mau nikah bneran xD wkwk,keren next eonni 😀

    October 7, 2014 at 10:22 am

  9. yul_yuli

    Itu myung ga sadar x ya kalo
    emang Jiyi tuh penyelamat dia,
    udah berapa x coba Jiyi
    nyelametin dia, malah bilang
    sebaiknya. Mungkin hidup Jiyi
    emang ga beruntung, tapu dia bisa
    membuat hidup orang lain jadi
    beruntung… fightiiing eonni

    October 8, 2014 at 8:04 am

  10. pacarnya bo-bo-ho

    aku liat filmnya, tapi aku cepetin sih 😀
    ahh dua2nya nih cinta kenapa gk bilang aja sih?? gemes… jadinya si nenek tau kan?
    nah next part bakalan dikembangin sendiri, jadi penasaran.
    ditunggu yaw 😀

    October 8, 2014 at 8:15 am

  11. indaah

    yeahh jiyeon udah mulai ngubah kepalsuan keluarga kim , sedih wktu jiyeon ngebentak minyoung kasian jg sih

    October 14, 2015 at 5:31 pm

  12. Akhirnya ktahuan jg

    June 17, 2016 at 5:37 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s