KIM MYUNGSOO FANFICTION

[Chaptered] Remember Me – Part 14

Remember Me

REMEMBER ME

|Main cast: Kim Myungsoo (Infinite), Bae Sooji (Miss A)|Other cast: Jung Soojung (F(x)), Jang Wooyoung (2PM), Lee Jieun (IU), Lee Sungyeol (Infinite)|Genre: Drama, Angst/Sad, Romance, Fluff, Friendship, a little bit Comedy|Length: chaptered|Rating: General|

©Park Minrin

.

Ketika seseorang melupakan, sementara yang lain mengingat.

.

“Kenapa aku merasa buruk setelah mengetahui semua hal itu?”

PART 14 : A Road to Remember

Gangnam, Seoul, kediaman keluarga Kim, 2000

Sebuah mobil pengangkut barang berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terletak di samping rumah keluarga Kim. Ayahnya berkata pada Myungsoo, bahwa rumah di sebelah mereka akhirnya dibeli oleh seorang kenalannya, dan keluarganya akhirnya akan mendapatkan tetangga baru. Saat orang-orang mulai mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil pengangkut, keluarga Kim tengah berada di luar rumah, bersiap menyambut tetangga baru mereka. Myungsoo yang baru berumur 9 tahun pun berada di sana, ikut menjadi saksi kedatangan tetangga baru mereka.

Kemudian sebuah mobil hitam datang dan parkir tepat di belakang truk pengangkut tadi. Beberapa orang pun keluar dari sana. Dan selanjutnya yang Myungsoo ingat adalah ia bertemu dengan tetangga baru mereka. Seorang pria yang berumur sama dengan ayahnya, dan seorang istrinya yang terlihat lebih muda dari ibunya. Kemudian, seorang anak perempuan dengan rambut dikepang dua muncul dan berdiri di hadapan Myungsoo. Kata-kata gadis kecil itu selanjutnya yang membuatnya membesarkan mata.

“Kau pasti Kim Myungsoo, bukan?”

Myungsoo terdiam sementara gadis kecil berpipi tembam itu tersenyum lebar.

“Aku Bae Sooji. Sooji. Kau boleh memanggilku itu.” ujar gadis itu lagi. “Oh ya, ayahku bilang, aku akan bersekolah di sekolah yang sama denganmu! Tolong bantu aku, ya!” tambahnya dilanjut dengan sebuah tundukan sopan.

Dan begitulah ia mengenal Bae Sooji.

 

Pantai Incheon, 2001

Ini adalah pertama kalinya keluarga Kim dan Keluarga Bae berlibur bersama. Mereka memilih berlibur ke Incheon karena di sana keluarga Kim memiliki sebuah villa besar yang dapat mereka tinggali bersama. Hubungan Myungsoo dan Sooji sudah cukup dekat saat itu. dan kemana pun Sooji pergi, pasti ada Myungsoo di sana. Entah mengapa, ada sesuatu yang membuat Myungsoo merasa bertanggung jawab akan keselamatan Sooji. Gadis itu terlalu bebas—itu yang Myungsoo pikir. Terlalu bebas untuk seorang pewaris yang agaknya terlalu aneh. Dan menakutkan.

Begitu sampai di Incheon, satu hal yang langsung Sooji teriakkan padanya adalah,

“Pantai!!!”

Dan gadis itu pun berlari menuju pantai terdekat begitu mereka sampai di villa. Saat itu, Myungsoo bahkan harus bersusah payah menyusul gadis itu karena larinya yang sangat kencang.

Setibanya di pantai, seolah itu belum cukup, ketika mata Sooji menemukan sebuah batu karang terbesar di dekat pantai, gadis itu langsung berlari ke sana dan memanjatnya, membuat Myungsoo kepayahan.

Matahari yang bersinar tepat di atas matanya, membuat Myungsoo harus menyipitkan mata untuk menatap ke depan. Ia menatap Sooji yang memanjat dengan bersemangat di depannya.

“Hati-hati! Nanti kau jatuh!”

“Tenang saja, aku tidak akan jatuh!” balas Sooji.

Myungsoo masih berusaha menaiki batu karang tersebut, selangkah demi selangkah, akhirnya ia sampai di  puncak batu karang.

“Kau lama sekali, Kim Myungsoo!” protes Sooji yang tengah berdiri di ujung batu karang tersebut, menatap ombak-ombak kecil yang menghantam batu karang yang ia pijak. “Lihat ke sini, waaah… indah sekali! Kalau aku terjun ke bawah, bagaimana rasanya, ya?” ujar anak perempuan itu tanpa sadar.

Myungsoo membelalakkan mata mendengar perkataan tersebut. Anak laki-laki itu segera bergerak cepat dan memegangi Sooji. Rasa takut yang teramat sangat tiba-tiba menghantuinya hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Takut jika sewaktu-waktu Sooji benar-benar melompat. Ternyata tepat seperti apa yang ia duga; ada yang aneh dengan Sooji.

“Kau tidak boleh melompat!” seru Myungsoo.

Sooji diam-diam tersenyum, “Jika aku melompat dan jatuh pun, aku tidak akan mati, kau tahu?” ujar anak perempuan itu lagi. Lalu anak perempuan itu menoleh sambil tersenyum menatap Myungsoo. “Karena kau akan menyelamatkanku,”

Mendengar itu, Myungsoo terdiam. perlahan, genggaman tangannya mengendur tanpa ia sadari.

“Ah ya, mulai bulan depan, aku akan mulai sekolah di sekolahmu.” Ujar Sooji lagi. “Haaah… segar sekali! Ayo, kita kembali dan ambil banyak foto bersama! Sepertinya aku akan betah berada di dekatmu, jadi kau jangan bosan-bosan padaku, ya!” lanjutnya seraya menarik tangan Myungsoo dan membawanya menuruni karang, lalu menyeretnya kembali ke villa.

 

Seoul, 6 bulan berikutnya (2001)

Sooji benar-benar memasuki sekolahnya 1 bulan kemudian. Gadis itu berada dua tingkat di bawah Myungsoo, sehingga pria itu tak selalu bisa memantau keadaannya. Namun seperti kali ini, ia mendapati dirinya kembali berlari ke daerah tingkat satu untuk mencari Sooji. Myungsoo tidak mengerti mengapa, namun sejak ia masuk sekolah, teman-temannya nampak tak begitu menyukainya. Beberapa kali, gadis itu sempat mendapat masalah dengan teman-temannya yang membuat Myungsoo harus turun tangan. Teman-temannya mengatakan bahwa mereka tidak menyukai sifat Sooji. Sooji yang sedikit tomboi dan cerewet, juga terus terang.

Tapi bukankah tidak adil namanya jika membenci seseorang karena sifat mereka? Terlebih karena mereka tidak berpura-pura menjadi orang lain dan menjadi diri mereka sendiri? Sampai sekarang, Myungsoo tidak mengerti akan hal itu.

Kali ini, ia kembali berlari ke daerah tingkat satu karena salah seorang guru bertanya padanya mengenai keberadaan Sooji karena ternyata, setelah pelajaran olahraga, gadis itu tak kembali ke kelas.

Sooji memang pernah sesekali membolos kelas ketika teman-temannya baru saja membuat masalah dengannya atau ketika ia tidak sedang dalam keadaan yang cukup fit untuk menerima pelajaran. Dan sedikit banyak, Myungsoo tahu di mana saja tempat Sooji membolos.

Namun Myungsoo telah mengunjungi setiap tempat itu, dan tak menemukannya pula. Itulah yang membuat anak laki-laki itu khawatir. Ia terus berlari menyusuri setiap ruangan yang ada lalu beralih keluar.

Setelah mengelilingi taman hampir 10 menit, ia akhirnya mendengar suara itu,

“Myungsoo-ya!”

Myungsoo berhenti. Kepalanya tak henti mencari sang sumber suara. Ketika ia melihat ke atas, ia mendapati seorang gadis kecil dengan rambut pendek sebahu—rambut panjangnya dipotong ketika ia masuk sekolah—tengah berada di atas dahan pohon yang cukup tinggi seraya menggendong seekor anak kucing.

Anak laki-laki itu melebarkan matanya. “Ya! Apa yang kau lakukan di sana! Cepat turun!”

“Hehe… aku hanya ingin menolong anak kucing ini… tapi… aku tidak tahu bagaimana caranya turun…”

Myungsoo mendesah keras. Ia kemudian mendekati pohon itu dan memanjatnya—meskipun sebenarnya ia tak bisa memanjat dan takut ketinggian. Ketika ia telah sampai di dekat Sooji, Myungsoo mengulurkan sebelah tangannya yang segera disambut Sooji. Mereka berdua pun dengan perlahan turun dari pohon. Namun ketika kaki Myungsoo hampir menginjak tanah, anak kucing yang digendong Sooji tiba-tiba saja berontak dan melompat dari dekapan gadis itu, membuat Sooji terkejut, hingga akhirnya Myungsoo terpeleset dan mengakibatkan mereka berdua jatuh ke atas rerumputan dengan suara yang cukup keras.

Myungsoo dan Sooji hanya bisa meringis beberapa saat sebelum akhirnya keduanya tertawa.

Ya! Kau tidak dapat menolong dirimu sendiri dari teman-temanmu tapi kau menolong seekor kucing tanpa bisa turun. Kau itu benar-benar sesuatu, kau tahu?” ujar Myungsoo.

“Tapi bukankah itu tidak masalah? Aku memilikimu yang akan menjagaku. Jadi aku tidak perlu menjaga diriku sendiri!” balas Sooji.

Myungsoo berdecak. “Bagaimana jika suatu saat aku pergi?”

Sooji balas berdecak. “Tidak mungkin. Kau tidak akan tahan sehari tanpaku.”

Dan mendengar itu, mereka kembali tertawa.

 

Seoul, 2006

Myungsoo dan Sooji kembali memasuki sekolah menengah yang sama. Mungkin lebih tepatnya Sooji yang kembali memasuki sekolah yang sama dengan Myungsoo karena Myungsoo tentunya telah lebih dulu memasuki sekolah tersebut. Di sekolah menengah, sosok Sooji sudah sedikit lebih dewasa. Gadis itu tak lagi diam jika seseorang bermasalah dengannya, dan ia mulai mandiri.

Di sekolah menengah pula, Sooji dikenalkan oleh Sungyeol, yang merupakan teman dekat Myungsoo sejak tingkat pertama. Dan dalam pertemuan singkat tersebut, ketiganya bisa langsung berteman akrab.

 

Seoul, 2007

Ketika Sooji memasuki tingkat dua, Myungsoo dan Sungyeol beranjak memasuki sekolah menengah atas. Untungnya, sekolah mereka berada di kawasan yang sama sehingga mereka masih sering bertemu. Untuk tahun ini, Myungsoo merasa ada sebuah perubahan pada diri Sooji. Gadis kecil yang dikenalnya dulu adalah gadis kecil dengan sifat tomboi dengan rambut pendek atau rambut yang diikat satu ke belakang. Namun kali ini, Sooji tampak berbeda.

Ketika bertemu dengannya pertama kali, saat upacara kelulusannya saat sekolah menengah pertama, Myungsoo pertama kalinya melihat rambut Sooji yang panjang digerai dengan gadis itu memakai bando yang sewarna dengan bajunya. Saat itu tengah musim semi, dan melihat perubahan Sooji di bawah guguran bunga sakura ternyata tak membuat keadaan lebih baik.

Karena pada saat itulah Myungsoo menyadari bahwa ia menyukai Sooji.

 

Seoul, 2008

Myungsoo berlari. Ia berlari sekuat tenaga. Rasanya seperti dejavu. Semua tampak sama seperti beberapa tahun yang lalu, saat ia berlari di sekolah dasar hanya untuk mencari Sooji. Sekarang pun kejadiannya hampir sama. Hanya saja, perbedaannya adalah gadis itu tak lagi menjadi korban bully dan Myungsoo tak tahu pasti apa yang terjadi. Karena itulah ia lebih khawatir kali ini.

Ia mendapat kabar saat ia sedang berada di kamarnya, bahwa adiknya menanyakan keberadaan Sooji padanya yang belum pulang dan tak dapat dihubungi. Berbekal insting, Myungsoo pun nekat berlari menyongsong Sooji di mana pun ia berada.

Beberapa belas menit berlari, ia pun sampai di lokasi sekolah Sooji. Ia bermaksud memasuki gerbangnya yang—untungnya—masih terbuka ketika ia melihat seseorang tengah duduk di halte bus yang tak jauh dari sana. Myungsoo menghampirinya, dan benar saja. Itu adalah Sooji.

Namun pemandangan yang ia lihat tidaklah mengenakkan.

Tubuh gadis itu penuh memar. Ia babak belur. Ada bekas biru di ujung bibirnya hingga bibirnya bengkak, rambutnya berantakan, bahkan seragamnya pun penuh dengan tanah.

“Sooji!”

Gadis itu menoleh dan hanya meringis melihat keberadaan Myungsoo di sana.

Ya, apa lagi yang terjadi padamu?!” Myungsoo panik sembari duduk di samping Sooji. Ia menarik wajah gadis itu, mengamatinya dengan seksama, kemudian menarik lengan Sooji dan mengamati luka-luka lainnya pada tubuh gadis itu.

“Tadi ada seorang adik kelas yang kesulitan, jadi kubantu. Tapi aku malah terkena beberapa pukulan… hehehe…”

“Lalu bagaimana keadaannya?”

“Anak itu terluka banyak sekali! Bahkan lebih parah dariku, ternyata bully itu menyeramkan, ya! Aku tak habis pikir—“

“Bukan dia, tapi kau!” seru Myungsoo. Pria itu memegang erat pundak Sooji, membuat gadis itu menatapnya tepat di manik mata. “Bagaimana keadaanmu? Di mana lagi luka yang kau dapatkan? Di mana lagi yang terasa sakit?!”

Sooji terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, “Aku… baik-baik saja. Ini tidak seberapa.” Ujarnya sambil tersenyum.

Myungsoo mendesah. “Lalu kenapa kau tidak langsung pulang? Dengan begitu luka-lukamu akan dapat terobati, bukan? Seharusnya—“

“Aku menunggumu.” Potong Sooji.

Myungsoo terdiam.

“Baterai ponselku mati, jadi aku tak bisa menghubungimu. Aku malu pulang sendirian seperti ini. Tapi aku percaya kau pasti akan datang mencariku. Jadi aku menunggumu.” Lanjut gadis itu.

Myungsoo melepaskan pegangannya pada pundak Sooji sekaligus mendesah. “Sooji, dengarkan aku.” Sooji mengangkat sebelah alisnya, bersiap mendengarkan. “Bagaimana jika aku tidak datang? Apa kau tidak akan pulang?”

“Tapi kau datang—“

“Bukan itu maksudku.” Potong Myungsoo. “Kau harus belajar mandiri, Sooji. Aku tak akan selamanya ada di sini untuk membantumu, untuk mencarimu, untuk menemanimu, kau tahu? Kau harus belajar mengatasi rasa malu dan rasa takut itu sendiri. Bayangkan betapa sulitnya kau jika kau terus seperti ini beberapa tahun lagi. Aku akan segera memasuki universitas, dan tak bisa terus berada di sisimu.”

Sooji terdiam. Kepalanya tertunduk dalam.

Myungsoo mendesah sekali lagi. Ia pun berbalik dan membelakangi gadis itu. “Naik ke punggungku. Apa kau bisa berjalan? Untuk kali ini saja, aku akan menolerir kemandirianmu. Kajja!”

 

Kediaman rumah Sooji, 2008

Beberapa minggu sejak kejadian itu, Myungsoo kembali mendapat kabar buruk tentang Sooji. Gadis itu rupanya mencoba menyembunyikan kabar ini sejak satu tahun yang lalu, namun sayangnya ibunya terlanjur memberitahu ibu Myungsoo hingga akhirnya sampai ke telinga Myungsoo.

Sooji sakit. Dan itu bukanlah sakit biasa. Ada gen istimewa pada diri Sooji yang membuat gadis itu menderita emfisema paru-paru.

Myungsoo telah mencarinya di internet, dan dari hasil pencariannya, penyakit itu tidaklah baik. Umumnya, penyakit itu adalah untuk para perokok, yang membuat sekat di antara paru-paru mereka menipis sehingga mereka akan sulit bernapas dan satu-satunya cara mengatasinya adalah rutin meminum obat atau jika sudah parah, maka operasi adalah satu-satunya jalan keluar.

Ibunya bilang emfisema yang diderita Sooji masih dalam tahap awal, sehingga yang diperlukan gadis itu hanyalah pengobatan dengan obat-obatan biasa.

Tapi tetap saja, hal itu membuat Myungsoo lagi-lagi khawatir sehingga pria itu segera menuju rumah Sooji dan menghampiri gadis itu yang tengah berada di taman belakang rumahnya, menggambar sesuatu.

“Oh, Myungsoo! Lihat apa yang kugambar? Aku menggambarmu! Apakah gambarku bagus?” ujar Sooji sembari memperlihatkan hasil gambarannya.

Myungsoo menghiraukan pertanyaan gadis itu dan berdiri tepat di hadapan Sooji. “Kau… sakit?” ia merasa tercekat ketika mengatakan kata terakhir.

Sooji tersenyum lalu mengangguk. “Aku… ternyata  sangat lemah, bukan?”

Myungsoo tak menjawab. Ia kemudian duduk di salah satu kursi di sana, tepat di hadapan Sooji, hanya saja dihalangi oleh meja kayu bundar yang terletak di tengah. Pria itu kemudian mengambil gambar Sooji dan tersenyum.

“Gambarmu sangat bagus, Sooji.” Pujinya. “Dan tidak… kau tidak lemah Bae Sooji, kau istimewa.”

 

Kediaman rumah Myungsoo, awal 2009

Saat itu Myungsoo tengah belajar untuk ujian kelulusannya bersama Sooji setelah mereka merayakan pesta tahun baru kemarin malam. Mereka tengah berada di ruang tengah rumah Sooji dengan Myungsoo yang berkutat dengan buku-buku tebal dan Sooji yang mengamatinya sembari sesekali menonton televisi dan membaca-baca buku yang tengah dikerjakan Myungsoo untuk kemudian berkomentar,

“Urgh… aku tidak mau ikut ujian kelulusan SMA! Kenapa kau rajin sekali sih, belajar padahal belum tingkat akhir.”

Myungsoo hanya tertawa mendengar komentar tersebut. “Tapi kau harus mengikutinya, Sooji. Hanya dengan begitu kau bisa melanjutkan ke universitas. Dan aku hanya sedang mempersiapkan diri. Ujian tidak semudah kedengarannya, kau tahu?”

“Iya, iya, aku tahu!” cibir Sooji.

“Hei, apa kau memakan obat-obatmu dengan benar?”

“Tentu saja! Jika tidak, aku mungkin sudah mati saat ini.”

Myungsoo mendelik tajam mendengar kata-kata Sooji. “Jangan bermain-main dengan kematian, Sooji. Sejak awal aku tak suka sikapmu yang seperti itu.”

“Oke-oke, aku minta maaf.” Ujar Sooji sambil terkekeh. Gadis itu kemudian kembali sibuk dengan dirinya sendiri dan tak menyadari sepasang mata tengah mengawasinya.

“Oh ya, Myung, aku penasaran. Apa kau belum pernah mempunyai kekasih?” tanya Sooji tiba-tiba. “Kupikir dengan wajah dan sifat seperti itu, kau akan mudah menarik perhatian para gadis.”

“Memang  belum.” Jawab Myungsoo singkat. Pandangannya tak pernah lepas dari Sooji.

“Kenapa?”

“Karena aku menyukaimu.”

 

Bandara Incheon, Februari 2009

“Apakah kau sangat harus belajar ke luar negeri?” tanya Sooji sembari cemberut saat ia tengah mengantar kepergian Myungsoo ke Amerika di bandara Incheon. Beberapa bulan lalu, Myungsoo tiba-tiba saja memberitahunya bahwa pria itu akan pergi ke Amerika dan meneruskan sekolahnya di sana.

Myungsoo mengangguk. Saat itu ia tengah memeriksakan tiketnya pada petugas. Keluarganya telah terlebih dahulu masuk ke dalam sementara ia dipaksa tinggal lebih lama oleh Sooji yang enggan melepaskan pegangan tangannya. Keluarga Sooji berada jauh di belakang, tak kuasa menahan putri mereka.

“Apa kau tidak penasaran dengan jawabanku? Aku belum menjawab pernyataan cintamu itu, kan?”

“Bukankah kau bilang kau akan menjawabnya saat kau telah beranjak dewasa? Kalau begitu jawablah sekarang.” Tantang Myungsoo.

Sooji terdiam. Kepalanya menunduk dalam dan ia yakin pipinya memerah. Dalam sekejap, ia kehabisan kata-kata.

Myungsoo terkekeh dan mengacak-acak rambut gadis itu. “Jawablah nanti, jika kau sudah siap. Aku akan menunggu.”

“Tapi aku tidak akan lagi berada di dekatmu—“

“Aku akan mengirimimu surat. E-mail. Aku juga akan sering-sering meneleponmu. Aku janji.”

 

Los Angeles, Amerika Serikat, September 2010

Myungsoo tersenyum senang begitu menghampiri teman-temannya. Selama setahun awal kehidupannya di Amerika, sejauh ini tidak buruk. Komunikasinya dengan Sooji pun masih baik. Mereka sepakat menggunakan surat untuk berkomunikasi. Kini, ia baru saja mendapat balasan terbaru dari Sooji. Namun karena pagi tadi ia terlambat ke sekolah, ia tak sempat membacanya dan malah membawanya ke sekolah. Siangnya pun, sepulang sekolah, ia belum memiliki waktu untuk membaca surat balasan dari Sooji. Dan kini, teman-temannya mengajaknya merayakan pesta kejutan ulang tahun untuk salah seorang temannya; Mark.

Rencananya adalah teman-temannya akan pergi terlebih dahulu ke rumah Mark. Dan tugas Myungsoo adalah menghalang-halangi Mark pulang hingga teman-temannya memberi kabar bahwa kejutannya telah siap, barulah mereka boleh menaiki bus untuk menuju ke rumah Mark.

Sejauh ini, keadaan berjalan sesuai rencana. Myungsoo dan Mark baru memasuki bus saat Myungsoo telah menerima sinyal dari teman-temannya yang lain. Mereka kini berdiri di tengah bus—karena tak ada kursi yang kosong.

Mark adalah salah satu teman dekat Myungsoo di Amerika. Mungkin karena pria itu keturunan Korea, jadi Myungsoo merasa lebih dekat dengan pria itu. Dan hanya pada Mark-lah ia bercerita tentang kehidupannya, dan tentang Sooji.

“Jadi, kau baru saja menerima balasan dari Sooji?” tanya Mark begitu mereka berada di dalam bus.

Myungsoo mengangguk. Senyum tak dapat sirna dari wajahnya ketika nama gadis itu disebut.

“Hei~ look at you~ you’re smiling like an idiot when you hear her name, now?” goda Mark.

Myungsoo terkekeh. “Tapi aku belum membaca suratnya.”

“Kalau begitu bacalah!”

Myungsoo pun mengeluarkan surat tersebut dari tasnya. Hanya beberapa baris, namun mampu membuat Myungsoo melayang.

Myung, kapan kau kembali ke sini? Jika kau tidak bisa kembali, telepon aku. Aku ingin memberi jawaban atas pernyataan cintamu itu. Kurasa aku sudah cukup dewasa kali ini. Segera telepon aku, oke?

Ya! You should calling her!” seru Mark bersemangat.

Should i?” tanya Myungsoo sambil tersenyum lebar.

“Tentu saja, bodoh!”

“Baiklah, aku akan meneleponnya begitu sampai di rumah.” Putus Myungsoo akhirnya sementara Mark hanya bisa menganggukkan kepalanya.

Mark pun mulai bertanya tentang mengapa Myungsoo ingin ke rumahnya, yang memaksa pria itu untuk menyusun serangkai kebohongan demi kebaikan Mark sendiri. Sama seperti teman-temannya yang lain, ia belum mengucapkan selamat ulang tahun pada pria itu karena menunggu teman-teman mereka mempersiapkan kejutan.

Saat tengah mengobrol seperti biasa, tiba-tiba saja sesuatu terjadi.

Rasanya seperti berada dalam mimpi.

Bus yang ia dan Mark tumpangi menabrak sesuatu sehingga menimbulkan suara super keras dan hal terakhir yang Myungsoo tahu adalah ia tak lagi berdiri. Ia terjatuh, berguling, terlempar, tertindih hingga seluruh badannya sakit terutama punggung dan kepalanya. Ketika semua pergerakan tersebut berhenti, kesadarannya sudah hilang sebelum ia sempat mencari keberadaan Mark.

Pada akhirnya, ia tak pernah menelepon Sooji. Pesta kejutan itu pun tak pernah terjadi.

Ingatan Myungsoo hilang, bersamaan dengan nyawa Mark.

 

-o0o-

 

Ketika rasa sakit di kepalanya hilang dan kenangan-kenangan itu kembali, hal terakhir yang Myungsoo sadari adalah ia menangis. Ada air mata mengalir deras di pipinya. Ingatan-ingatan itu menyakitkan. Ia merasa bersalah. Bersalah karena tidak mengingat kematian Mark, karena tidak mengingat Sooji. Kini ia tahu bahwa gadis itu memiliki banyak kelemahan dibalik penampilannya yang selalu tak mau mengalah.

Mendadak, seluruh badannya lemas. Dengan susah payah, ia mengambil ponselnya di atas nakas lalu dengan jemari yang gemetar, ia memasukkan sebuah nomor telepon.

“Ha… lo… dokter… Park…” suaranya bahkan bergetar.

“Ini aku… Kim Myungsoo.”

Myungsoo menggigit bibirnya dan memeluk dirinya sendiri yang mulai sesenggukan. “Apakah… jika ingatanku kembali… itu adalah pertanda bagus, dok?”

Myungsoo terdiam mendengarkan penjelasan seseorang di seberang telepon. Namun tubuhnya tak berhenti gemetar. Album foto yang semula berada di pangkuannya kini telah berada di atas lantai, terbuka di halaman terakhir, pada fotonya ketika tengah berada di bandara.

“Tapi kupikir kau salah, dok…” ujar Myungsoo. “Kenapa aku merasa buruk setelah mengetahui semua hal itu?” lanjutnya lalu memutus sambungan telepon. Pria itu menjatuhkan ponselnya ke lantai lalu mengusap wajahnya yang basah. Dan tak lama, isakan tangis itu terdengar lagi. Bahkan kali ini lebih keras.

TO BE CONTINUED

Naaah~ ayo kita bahas rame-rame!

Jadi, sekarang kalian tahu penyakit Sooji itu… penyakit Emfisema itu memang ada, aku nyari di google dan itu memang umumnya diderita oleh orang yang perokok. Makanya di chapter 13 Sungyeol sempat bingung karena Sooji ga merokok tapi dia menderita penyakit itu. Terus dia ingat bahwa penyakit emfisema bisa diderita oleh dua macam kondisi; perokok dan kelainan genetis. Nah, kasus Sooji ini adalah kasus yang genetisnya. Dia punya gen–apa aku lupa–yang bikin dia punya penyakit itu. Di masa lalu, Myungsoo udah tahu hal ini. Tapi pas ketemu Sooji lagi, dia gak ingat karena ingatannya ilang~

Nah, terus aku mau ngomongin masalah waktu di sini…

Aku cuma mau ngasih penjelasan. Kalo di Introduction cast dulu, aku ngasih tau kan kalo Myungsoo pergi ke AS umur 16 sampe 25 tahun. Ternyata kalau dikalkulasi, gak sesuai. Jadi kini aku ganti; umur Myungsoo ke AS itu 17 tahun (umur internasional, umur korea: 18) sampai umur 26 tahun (umur internasional, umur korea: 27). Hehe nanti aku ganti di Introductionnya. Dan mau ralat… waktu Sooji nunggu Myungsoo itu bukan 11 tahun (dasar mtk ginian aja udah ga becus-_-) ternyata dia nunggu cuma sekitar 9 tahun. (CUMA?!) Yah… pokoknya selamat menikmati~

Pokoknya kalau ada yang gak ngerti lagi, tanyain aja yaaaa~ karena setelah ini, masih ada rahasia-rahasia lainnya yang menanti, juga kejutan-kejutan yang bikin *greget* =))) jadi tunggu tanggal mainnya ya…

btw, aku posting double gini soalnya aku yakin pasti bakal lama lagi postingnya. Karena kasian ke kalian nunggu lama, jadi aku posting double deh biar menebus kesalahan gitu wkwkwk=))

sabar nunggu chapter berikutnya ya! i love you all<3 Enjoy!

Advertisements

45 responses

  1. Novita Lzy Sueweeties EXOL

    aaiiiggooo aaiiggooo sedih 😥 huaaaa eonniku sakit …..
    keren thor next di tunggu
    lama juga ngak apa”kok yg penting di post 😀

    September 14, 2014 at 1:20 pm

  2. angeliaineke

    Akhirnya terjawab juga penasaranku
    Keren sis
    Wah sis bener2 jjang
    Thx sis

    September 14, 2014 at 1:50 pm

  3. rianaevi

    kasian juga ya si myung gk inget temennya meninggal.. penyakit nya suzy juga lumayan.. heh… di tunggu next part nya… ^^

    September 14, 2014 at 1:54 pm

  4. Baiq Yulia Astriani

    oowwww.. kilasan ingatan Myung ya…. iya thor nim.. lamaaaaaaaaa… tapi gpp kalau double gini…
    memangx rahasia apalagi yg perlu diungkap?? apa ke depanx diceritakan kilasan masa lalu terus????
    ameutdeon,, tetap semangat ya utk FFx… jujur tapi nich, lebih seru dari awal smp chapter 12 terakhir, mungkin ini belum berasa karena bacanya malem n kurang fokus,,, miyanhamnida kalau komentx kurang berkenan,,

    September 14, 2014 at 2:02 pm

  5. alia

    waaa bagussss bgt thorrrrr uuhuhhuu sedih 😦
    kasian myungzy suzynyya ssaakkiit :((
    gomawo thorr uda dipposttttttttt

    September 14, 2014 at 2:04 pm

  6. Part ini hampir semuanya flashback. Eeummm… ada mark juga tapi sayang ceritanya di sini dia dah meninggal. Uu’uuuu
    Jadi ingatan myungsoo dah kembali seutuhnya nih?

    September 14, 2014 at 2:15 pm

  7. Ninda13

    akhirnya myungsoo ingatannya kembali juga, tapi aku masih bingung ada hubungan apa myungsoo sama soojung di masa lalu?
    kasian ya sooji ;( sooji bakalan sembuh kan? bakal happy ending kan? 😦
    next
    keep writing and fighting!

    September 14, 2014 at 2:20 pm

  8. irma

    Lahhh…knp myung mrasa buruk saat ingatannya kmbl???ahhh ditunggu ja dah lanjutannya ,,,author fighting !!!!!

    September 14, 2014 at 2:39 pm

  9. Ditnggu kekanjutannya thor,,;)

    September 14, 2014 at 3:02 pm

  10. Rifa Hasna

    Kasian suzy,punya penyakit kaya gitu

    September 14, 2014 at 3:38 pm

  11. aisyah amini

    sedih bgt thor baca part ini.. akhirnya myung inget, walaupun tau kenyataan yg sbnrnya.. huwwwaaaa pengen cepet2 baca kelanjutannya..hehe lanjuut thor

    September 14, 2014 at 4:00 pm

  12. fitria

    wah kalo drama pasti bakal menyedihkan banget nih, apalagi ditambah efek sound yang menyayat hati.
    Bagus thor, seneng banget myungsoo udah kembali ingatannya. Jadi dia bisa mencintai suzy sepenuh hati.

    Ditunggu part selanjutnya

    September 14, 2014 at 4:15 pm

  13. And Ryuu Haa

    kasian bgt uri suzy,,,aigoo,,,,myung2 km hrus jgain suzy trus,,,,

    September 14, 2014 at 4:19 pm

  14. Super saaaad story 😦

    September 14, 2014 at 4:25 pm

  15. noname

    aduh itu myungsoonya knp lagi ? pasangan kok malah sakit dua2 nya ._. Ditunggu next partnya thor penasaran banget 🙂

    September 14, 2014 at 4:26 pm

  16. Leny

    Semuanya terungkap dipart ini..myung selalu dalam keadaan menunggu sepertinya ..sabar ya..keke
    kasian sm myung,pasti sakit bnget,makanya dia ga mw ngingat masalalunya dulu ya??
    lanjut thor..penasaran~~~

    September 14, 2014 at 4:53 pm

  17. Oh my god 😦 sedih banget baca flashbacknya thor 😥 hikssssss
    Jdi msalalu mreka seperti itu toh…psti nyesek jdi suzy, nunggu” telepon myung yg tdk kunjung dtg 😥
    Jdi penyakit suzy itu toh?hehe aku bru dengar penyakit itu thor…tpi bisa disembuhkankan??bukan penyakit yg berujung kematian kan??aku harap sih gitu…
    Myung udah ingat semuanya…tpi ad yg aneh?? Kok dia gak seneng??
    Nextnya aku tunggu ^^

    September 14, 2014 at 9:04 pm

  18. veda

    sdih bngt ingt flashbacknya 😥
    apa g bkln myubg lkuin stlh ini????
    NEXT PART 😀

    September 14, 2014 at 9:40 pm

  19. vie_3

    kasihan suzy……nyesek bgt nie part…lnjut thor

    September 15, 2014 at 12:23 am

  20. myungzy-ier

    oh ternyata gitu critanya, kasian bgt suzy, tp skrg myung udah inget smua nya semoga dia gak ninggalin suzy lagi lah, trus binggung kenapa monsoo tiba” kyk brontak gitu ya?

    September 15, 2014 at 1:34 am

  21. Kenapa Mark malah meninggal? 😥 *salah fokus*
    Maap ._.v Soalnya Mark salah satu bias aku! 😀 Keren juga kalo dia terlibat cinta segitiga dengan Myungzy *smirk*

    Jadi Myungsoo yang “lama” tau kalo Suzy sakit parah? Omeji!! Benar-benar penasaran dengan kelanjutanya!! Ditunggu banget!! Fighting dek!!

    September 15, 2014 at 1:38 am

  22. hik hik hik myung kasian sekali dirimu
    begtu ingatannya kembali dy inget mark yg meninggal ama sakitnya sooji
    sekarang gemna kelanjutannya myung.
    akh sooji harus cepet dioperasi myung
    ditunggu lanjutannya ya thor
    oia ngomong2 soojung kemana ya?

    September 15, 2014 at 3:05 am

  23. Dezee

    Suzy dah menderita penyakit lama bnget, kasihan. Ehhh mlah ditambah myung ilang ingatan

    next jha thor pokok’y

    September 15, 2014 at 4:06 am

  24. Ki2s

    Akhirnya ingetan myung dah blik.. Pantes aja myung mlah mrsa bruk n nangis pas tau kenyataan tmn.a meninggal sma suzy yg udah lama sakit.
    Next ditunggu thor

    September 15, 2014 at 6:38 am

  25. nurul

    aaah thor sedih kali baca part ini thor 😥 sedih myungsoo gak jadi ingat telpon suzy sama kematian mark 😦 semoga suzy bisa sembuh yaaa thor di tunggu yaa thor next partnya fighting thor 🙂

    September 15, 2014 at 11:05 am

  26. F_Hae

    akhirnya gak penasaran lagi ama penyakitnya sooji.. hehh..
    apa sih myungsoo pas udah mau diterima malah amnesia. tapi gak papa sih namanya juga musibah..

    tap kata2 terakhirnya itu loh yang bikin gregetaannn, merasa gak enak karena ingatannya kembali? apa merasa tertekan karena penyakit sooji, next part ditunggu thor, kalo bisa sih double post lagi yah yah yah kkkkk~

    September 15, 2014 at 12:59 pm

  27. Patria Gurasi Sanjiwini Dharmista

    Selalu ditunggu walopun mungkin hampir lupa alurnya,apa myungsoo merasa buruk karna melypakan suzy setelah kecelakaan itu dan mengganti posisi suzy dengan soojung???tapi bukankah kini myungsoo telah kembali pada suzy

    September 15, 2014 at 1:40 pm

  28. suzyholic

    oh mai good ! Akhirnya dipost jugaaa..double lagii.. *kecups*
    Akhirnya ingata nmyung kembalii..
    kasiaan dia apsti merasa bersalah bgt awal2 ketemu suzy malah dijudesin..
    terus inget suzy punya penyakit pulaa :((

    September 15, 2014 at 2:30 pm

  29. ini flaback yg cukup menjawab teka teki selama part 1-13 thor 🙂
    qw harap setelah ingt semua myung ga bakal terlambat, penyakit suzy udh parah tapi suzy ga mo oprasi di tambah knp dengan sangmoon. knp dia marah thor, apa ini ada hub. dengan keadaan suzy? dan mereka siapa yg dia maksut
    thor penyakit suzy kalo gini ga bisa sembuh ya, soalnya genetik 😦 tapi kalo oprasi gitu masih bisa sembuh ga, ya kayak semacam asma gitu. meski asma kronis tapi kalo diobatikn ga papa tapi penyakitya ga hilang. gmn dengan ini?

    September 15, 2014 at 8:21 pm

  30. lily

    hmm… memori yg teringat kembali malah membawa duka…. so ditunggu kelanjutannya… dengan tidak sabar keliatannya… hehehe… jangan lama2 ya thor… soalnya bener2 penasaran

    September 16, 2014 at 1:33 am

  31. fauzia_15

    Huwaaaa aku ikutan nangis klo myungsoo oppa nangis kyk gitu….
    Ternyata menyedihkan bgt yaa kejadian sebelum dia kecelakaan….
    Semoya setelah ini hubungan myungzy bs semakin erat dan makin baik2 aja…
    Ditunggu next partnya ya author-nim…seneng bgt deg klo post nya double begini hehehe….Semangat nulis dan kuliahnya yaa author

    September 16, 2014 at 1:54 am

  32. moon

    Omg akhirnya myung inget juga, ingatan ttg kecelakaannya sedih banget

    September 16, 2014 at 7:37 am

  33. iec_4

    Kesian..kesian..kesian…
    jgn buat myungzy kmbli b‘pisah donk…

    September 16, 2014 at 11:36 am

  34. weh penyakit suzy cukup parah ya? ternyata dulu myung udh tau penyakit suzy ._.
    ditunggu part selanjutnya…

    September 16, 2014 at 1:39 pm

  35. Pada akhirnya, ia tak pernah menelepon Sooji. Pesta kejutan itu pun tak pernah terjadi.
    Ingatan Myungsoo hilang, bersamaan dengan nyawa Mark.
    Sedih bangat baca scene ini 😭

    Itu dokternya bilang apa? Penasaran bgt.
    Next ditunggu hwaiting! ✊

    September 18, 2014 at 12:18 am

  36. asri

    huhu sedih banget bacanya
    tapi harus sabar nunggu chapter berikutnya
    semoga cepet ya thor 🙂

    September 18, 2014 at 6:07 am

  37. dilla

    ditunggu banget kelanjutannyaaaa

    September 19, 2014 at 1:45 pm

  38. aidilla

    akhirnya… myung inget juga
    jngan nyesel dong myung
    kmu gak ingat janji kamu dan lupa dgn kematian mark bukan kemauanmu juga
    jd jngan nyesel
    next ~~

    September 21, 2014 at 2:52 am

  39. Aaah penasaran kelanjutanya
    Di tunggu chapter selanjutnyaaa♥

    September 23, 2014 at 3:56 pm

  40. inchan

    next next eonni!!!!

    September 28, 2014 at 2:25 am

  41. Deborah sally

    Gak nyangka loh ya kalo Myungsoo tahu penyakit Suzy. Jadi chapter ini Myungsoo udah ingat semua kan?

    October 5, 2014 at 2:59 pm

  42. kuchiki

    hal baru terkuak…

    October 7, 2014 at 5:59 am

  43. kha

    cepet-cepet,,, next
    udah kepalang gerget eonni….

    October 31, 2014 at 5:23 am

  44. riky

    akhirnya myung inget juga
    tp chingu.. bwat suzy ma myung bhagia jngan smpai suzy meninggal akibat pnyakitnya.. kasian kan stlh lama pngorbanannya bwat nyadari myung klo hrus klah ma pnyakitnya
    sngat d tunggu next chapternya

    December 24, 2014 at 9:41 pm

  45. sumpah mw nangis bacanya….
    akhirnya myung ingat masa lalunya, ternyata myung kecelakan bareng mark.. huaaa…..

    June 18, 2015 at 2:20 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s