KIM MYUNGSOO FANFICTION

Marriage Not Dating (7)

marriagenodating

B2utyInspirit presents

.

REMAKE OF DRAMA WITH THE SAME TITLE

.

 Marriage Not Dating

 

.

| Marriage Not Dating – Its okay not to be ok |

| Kim Liah |

|Chaptered |

| Kim Myungsoo, Park Jiyeon |

| Choi Minho, Jung Soojung, Hwang Kwanghee, Hye Jeong |

| Romance, Married Life, Friendship |

| PG-18 |

|Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) |

.

AKU PALING GAK SUKA YANG NAMANYA DIDESAK ‘KAPAN DI POST?’ ‘KAPAN DILANJUTIN?’

MESKI FF KU BANYAK YANG BELUM KU LANJUTIN, BUKAN BERARTI AKU MAU

MENGUBURNYA DALAM-DALAM DAN MELUPAKANNYA.

BUT IF YOU PRESSURE ME TO CONTINUE IT SOON,

I’LL BE MAD AND BORED THEN THROW OUT MYSELF FROM THIS FF WORLD.

AKU JUGA PUNYA KEHIDUPAN SENDIRI, MASALAH SENDIRI DIDUNIA NYATAKU INI.

SO, UNDERSTAND ME PLEASE!

RCL PLEASE!!

(Tanda titik adalah perpindahan lokasi sementara tanda bintang adalah perubahan waktu)

.

.

Bibi Han nampak menggoda Minyoung dengan gambar hasil jepretan kamera ponselnya. “Jeongmal gwaenchasoyo? Ini sungguh buruk” bibi Han rasa jika Minyoung melihat layar ponselnya, maka kakak iparnya ini akan jatuh tak sadarkan diri atau kolesterolnya naik seketika.

Minyoung mengembangkan senyumnya, ia pikir info dari bibi Han yang terdapat diponselnya itu adalah sebuah topic hangat yang mampu meruntuhkan pertahanan percintaan Myungsoo dan Jiyeon “Gwaenchana, berikan padaku” ujarnya.

“Ada apa ini?” nenek menginterupsi percakapan antara anaknya dan menantunya, seketika mata tuanya membulat dibalik bingkai kaca mata plusnya setelah bibi Han menyodorkan gambar yang terpampang jelas dilayar ponsel itu “Eommo” pekik nenek kemudian.

“Angle-nya sangat tepat bukan?” bibi Han mengacungkan jempolnya tuk memuji jepretannya yang berupa foto Myungsoo dan Jiyeon berciuman mesra.

Karna tak sabar maka Minyoung merampas begitu saja ponsel bibi Han, kepalanya berdenyut kencang melihat foto ciuman tersebut.

_

Sementara itu Myungsoo tengah berbaring diranjang empuknya dan pikirannya kembali melayang mengingat ciumannya tadi siang dengan Jiyeon

Flashback

“Apa yang kau lakukan hah?” bisik Myungsoo seraya melirik Soojung, percuma Jiyeon berkilah dengan memarahi Soojung seperti itu, toh Soojung sudah tahu semua kebohongannya.

“Aku memang bodoh” mantap Jiyeon, kakinya berjinjit seraya mengalungkan tangannya dileher Myungsoo lalu mengecup bibir Myungsoo.

Myungsoo juga terbelalak kaget namun tiba-tiba ia malah menarik pinggang Jiyeon dan melumat bibir Jiyeon dengan mesra dan penuh perasaaan. Jiyeon yang awalnya terkejut dengan balasan Myungsoo, kini malah turut beradu kehebatan dalam berciuman, ia juga menikmati ciuman ini dengan perasaannya.

Selang beberapa menit mereka tersadar dengan ciuman konyol itu, tentu saja mereka juga saling canggung satu sama lain.

“Uri…” Myungsoo bingung dengan ciuman ini, apa Jiyeon melakukannya karna dia memiliki rasa yang sama dengannya atau ada sesuatu yang lain.

Jiyeon melirik samping kanan tepat ke bibi Han “Diamlah! Bibimu melihat kita” bisiknya.

Myungsoo segera mengedarkan pandangannya dan menemukan bibi Han yang mengenakan kaca mata hitam serta tudung hitam tengah mengintip mereka disela semak-semak. Merasa kecewa Myungsoo mengusap bibirnya seolah menunjukkan ciuman itu menjijikkan baginya.

“Kau bilang kau akan mengungkapkan semuanya hah?” bisik Myungsoo mencoba menyembunyikan kecanggungannya.

“Kau nampak aneh sekarang” ujar Jiyeon.

Flashback Off

Myungsoo berdiri duduk dan menendang selimutnya, dilain tempat Jiyeon juga melakukan hal yang sama. Keduanya sama-sama teringat dengan kebodohan masing-masing yang sudah terbawa suasana hingga menikmati ciuman yang membuat mereka menjadi canggung. Keduanya juga merasa kepanasan meskipun pendingin ruangan sudah berada diangka paling dingin.

Sedangkan Minho, ia membereskan dapur café tuk mencoba melupakan pemandangan yang bisa dibilang perselingkuhan terang-terangan didepan matanya dan Soojung lebih mmeilih lari menikmati vodka disebuah bar.

Jaejong sendiri bukannya pulang ke rumah, ia malah menghabiskan waktu bersama Aera dengan menonton movie car, wanita simpanannya, wanita yang sangat ia cintai sejak awal ia masih melajang. Namun pernikahannya dengan Minyoung membuatnya harus merelakan Aera hanya menjadi wanita keduanya saja.

“Mencintai seseorang dengan segala perbedaan, geutcji?” Aera menoleh menatap jaejong yang masih setia menangkupkan kedua telapak tangannya dengan telapak tangan Aera “Apa istrimu masih terobsesi dengan pernikahan putramu?” Jaejong melepas tautan tangannya “Pernikahan itu adalah sebuah pilihan, geutcji?” ujar Aera seraya merangkul lengan Jaejong.

**
Kegiatan rutin seorang Minyoung dipagi hari, menyiapkan sarapan, mencuci pakaian dan membersihkan rumah. Kini ia nampak sibuk membuat sebuah salad sebagai sarapan pagi seluruh penghuni kediaman keluarga Kim.

“kau nampak semakin menua, kenapa kau tak memperkerjakan pembantu saja?” ujar Jaejong.

“Apa yang kau butuhkan?” seperti biasa Minyoung kekeh dengan sikap dinginnya, suaminya ini mendekatinya jika membutuhkan sesuatu saja, untuk urusan bersenang-senang dia akan berlari kepada selingkuhannya.

“Eoh, aku ingin minum” Jaejong berencana mengutarakan apa yang Aera katakan semalam dimana dia ingin Myungsoo tuk memilih istrinya sendiri dan tidak terkekang dengan perjodohan dari Minyoung, namun sekali lagi sikap sedingin es Minyoung membuat nyalinya ciut.

Minyoung melepas segera mengambilkan segelas air mineral untuk Jaejong.

“Jung Soojung, apa dia dan Myungsoo masih ada harapan?” tanya Jaejong.

“Kau menyukai Park Jiyeon bukan?”

“Anniya” Jaejong menutupi kegugupannya dengan meneguk air mineralnya, ia menemukan alasan agar Minyoung melakukan ide Aera meskipun ia tak mendesaknya “Direktor eksekutif dan ayah Soojung sangatlah dekat satu sama lain” jelas Jaejong.

“Aku tahu maksud perkataanmu, aku selalu berperan sebagai wanita jahat” meskipun Jaejong bukan suami yang baik, Minyoung tetap akan mematuhi semua perkataan berbelit-belit seorang Kim Jaejong.

Minho baru saja akan membongkar isi tas belanjaan dan menaruhnya ke tempat penyimpanan bahan, namun sebuah bungkusan kertas coklat mmebuatnya terkejut. “Hyung, bukankah ini jamur umbi?” tunjuknya pada Sunggyu.

Sunggyu segera merampas kertas itu dari tangan Minho “Yaa sekhia, kau tahu ini berapa harganya? 5000 $” ia mengangkat kelima jarinya dan seketika Minho nampak acuh dan takut untuk menyentuh bahan mahal itu.

Didepan café Kwanghee, Jiyeon nampak memarkirkan sepeda mininya. Ia hendak menemui Minho, namun mata tajamnya berhasil menangkap sosok bibi Han yang tengah mengintai didalam mobilnya.

“Aishhh jinja, aku bisa gila” selang beberapa menit Myungsoo turun dari mobilnya “Wasseo” Jiyeon merangkul lengan Myungsoo dengan mesra, tentu saja untu mengelabuhi bibi Han.

“Yaa waeyo” belum sempat Myungsoo mengomel, Jiyeon sudah menunjuk mobil bibi Han dengan tatapannya lalu membawa Myungsoo masuk ke dalam café.

Sesampai didalam café Myungsoo langsung mendorong tangan Jiyeon menjauh, mereka duduk disebuah meja kosong. Mata elang Myungsoo langsung terfokus pada bibir mungil Jiyeon, ia teringat ciuman kemarin tentunya.

“Kita perlu meluruskan tentang kejadian kemarin” Jiyeon nampak canggung untuk mengatakannya, namun seperti biasa Jiyeon akan selalu terbuka pada Myungsoo tanpa perlu merasa malu.

Myungsoo menyilangkan kakinya dan mulai bergaya sok cool “Aku dulu yang bicara, alasan kenapa aku memilihmu…” ia menghela nafas berusaha membantah perasaan aneh yang akhir-akhir ini ia rasakan “Karna aku rasa kita tak akan mungkin memiliki perasaan lebih..” mata elangnya kembali mengarah ke bibir merah ranum Jiyeon “Hanya ada satu alasan kenapa kita bersama… untuk kesendirian” ia mencoba mengalihkan padangannya namun tetap saja mata elangnya tak bisa diajak kompromi “Jadi… jangan mendekat padaku melebihi aturan..kurangi sentuhan fisikmu padaku” jelas Myungsoo menahan gugupnya.

“Hah? Ini bukan untukku, ini semua untukmu.. tuk membantumu” Jiyeon sama gelagapannya menyanggah Myungsoo, maka untuk menghilangkannya ia memilih memukul tangan Myungsoo yang terlihat kaku dimeja “Aku menarikmu karna ada bibi Han diluar” jelas Jiyeon.

“Eohh” saking canggungnya Myungsoo sampai meneguk gelas kosong yang memang belum terisi air mineral jika belum terdapat pelanggan yang memintanya.

“Kurasa aku sudah gila” Jiyeon menoleh menghadap Myungsoo “..tuk membiarkanmu mencium bibirku didepan Minho” Jiyeon memegangi bibirnya.

“EOh, itu terlalu berlebihan” Minho menghampiri mereka tuk menuangkan air mineral “Ciuman itu terlihat nyata sekali” lanjutnya.

“Anni” Jiyeon merasa bersalah, Minho pasti berpikir kalau ia memang sengaja ingin membalas ciuman Myungsoo.

“Sebenarnya ciuman itu biasa saja, tanpa perasaan” potong Myungsoo.

“Yaaa” Jiyeon membentak Myungsoo “Aku hanya…” ia berharap Minho mengerti keadaannya kemarin.

“Arra, aku tahu kau ini sama seperti orang bodoh lainnya, kau berkahir memberi ciuman tak berarti pada pria membosankan” potong Minho meledek Myungsoo.

“Kau bilang apa?” teriak Myungsoo kesal, pria membosankan? Bagaimana bisa Minho mengatainya pria membosankan.

Minho tersenyum menggoda “Tapi aku suka wanita bodoh ini” pujinya.

“Ne?” ulang Jiyeon.

“Festival jamur umbi dimulai hari ini, kami memiliki menu jamur umbi special. Selamat menikmati” Minho membungkuk hormat layaknya kepada pelanggan lain lalu berbalik ke belakang.

“Ini sebuah pengakuan bukan?” Jiyeon merasa berbunga-bunga dengan kalimat Minho tadi.

“Anni” tolak Myungsoo.

“AKu rasa iya” ucap Jiyeon dengan senyum merekahnya.

“Sebuah pengakuan bodoh?” sindir Myungsoo.

“Aishhh” tiba-tiba ponsel Jiyeon bergetar, sebuah pesan dari Minho ‘Datanglah malam ini’ “Aku rasa aku harus pergi, annyeong” pamit Jiyeon dengan senyum menggodanya, ia tak lupa melambaikan tangan ke Minho.

Didalam limosin putih tiffany nampak mengecek daftar belanjaan café dan disebelahnya Kwanghee hanya diam mendengarkan dengan bosan.

“Tidakkah kau terlalu banyak menggunakan bahan-bahan?” Tiffany mencentang bahan-bahan makanan yang berlebihan habisnya “Cafemu bukan café terkemuka, premium jamur umbi? Ini berlebihan” gertaknya.

“Chef itu yang memesannya” sanggah Kwanghee.

“Kau yakin tak ada penggelapan?” Kwanghee menoleh kepada Tiffany “Awasi baik-baik pegawaimu” pinta Tiffany.

Setelah pulang kerja seperti pesan Minho tadi pagi, kini Jiyeon tengah memasuki café Kwanghee yang sudah tampak sepi dan lampu-lampupun juga sudah dimatikan. Minho membawanya ke dapur café, tentu saja Minho bebas berkeliaran dicafe ini karna ia memang tinggal di café ini, mejaga café ini.

“Aku merasa seperti melakukan sesuatu yang buruk” gumam Jiyeon seraya mengamati isi dapur.

“Bukan aku, tapi getaran hatiku. Ini seperti aku menemui seorang wanita yang sudah sungguh-sungguh memiliki tunangan. ini menyenangkan” sindir Minho.

“Mianhae, kita memang tidak bisa bertemu di jam yang wajar, jika mereka sampai mengetahuinya Myungsoo harus menikah dengan seseorang yang tidak dia sukai” jelas Jiyeon.

“Itu bukan masalahku”

“Apa kau ingin bertemu denganku dimalam hari demi Myungsoo?” cibir Jiyeon.

“Anniya, aku hanya ingin membuatkanmu makanan yang lezat” Minho mengambil sebuah mangkuk dari oven.

“Igeo mwoya?” tanya Jiyeon antusias.

“Sejenis telur kukus” Minho membuka penutup mangkuknya hingga memperlihatkan sebuah omelet kukus.

Jiyeon hendak memakannya namun buru-buru Minho melarangnya “Aku belum memberinya sesuatu yang paling penting” ia mengambil sebuah bungkusan kertas di lemari pendingin, mengirisnya lalu menuangkannya ke mangkuk itu.

Jiyeon menyendok omelet kukus itu “Rasanya sedikit aneh, tapi aku menyukainya” pujinya.

“Mungkin rasa aneh itu berasal dari jamur umbi ini” tunjuk Minho.

Tiba-tiba terdengar nada pintu terbuka, Sunggyu tengah membuka pintu café seraya menggumam membalas ucapan temannya di telpon “Jamur umbi, kali ini lebih mahal dari bahan lainnya” ujarnya, diam-diam ia memang menggelapkan semua bahan yang ia pesan untuk ia jual kembali kepada teman-temannya. Ia sangat beruntung memiliki bos sebodoh Kwanghee yang mudah saja percaya padanya, Kwanghee tak pernah mencurigainya meskipun bahan makanan itu tidak ia gunakan sama sekali.

“Bibi Han?” pekik Jiyeon.

“Kajja kita pergi” Minho menarik Jiyeon hingga dia tak sengaja menyenggol bungkusan jamur umbi dan menginjaknya.

“Bosku? Dia memiliki banyak waktu untuk menghabiskan uang” Sunggyu sampai di dapur tepat ketika Jiyeon dan Minho berhasil bersembunyi dibalik meja dapur “DIa tak akan peduli dengan bahan yang kuminta” seketika matanya melotot tahajm begitu mendapati bungkusan jamur umbi yang sudah terinjak dilantai “Jamur umbi? Jamur umbikuuuuuuuu” teriaknya dbalik tangisnya, gagal sudah rencananya untuk mendapat untung dari jamur mahal ini.

***

Sunggyu menyerahkan bungkusan jamur umbi yang sudah melembek terinjak Jiyeon semalam ke meja didepan Kwanghee, disebelahnya Minho nampak diam bingung.

Pagi ini Kwanghee nampak cool dan seperti seorang bos yang serius bukan seperti kemarin yang selalu bercanda dan seenaknya sendiri, ini akibat ia sudah melakukan kesalahan dengan Hyejeong “Aku tidak pernah menganggapmu hanya sebagai pegawai tapi seseorang, seseorang yang kupercayai tapi..” Kwanghee menyentuh jamur itu “..kau menginjak kepercayaanku seperti ini?” ia melempar jamur itu kepada Minho.

“Josonghamnida” Minho membungkuk menyesal, walau memang sebenarnya ada seseorang yang perlu diperlakukan lebih parah dari ini oleh Kwanghee.

“Ini harganya 5000 $” potong Sunggyu seolah ia yang membeli jamur itu dengan uangnya sendiri.

Kwanghee memijit keningnya “Aku penasaran siapa sebenarnya tikus dapur cafe ini, itu kau bukan? Jujurlah” Kwanghee melirik Minho “Kau menyelundupkan uang belanja juga bukan?” tuduh Kwanghee.

Sunggyu menelan ludah, ia kira Kwanghee mengarahkan tuduhan itu padanya, tapi ternyata malah pada Minho.

“Uang belanja?” Minho menggeleng “Itu bukan aku” tolaknya.

Sunggyu berkacak pinggang “Yaa, itu pasti kau sekhia” ia hendak memukul Minho “Kau memporak-porandakan dapur hanya untuk menggoda wanita” pekiknya kesal, hanya dengan cara ini ia bisa melindungi dirinya agar tidak dipecat oleh Kwanghee.

Wajah Minho nampak polos dan seperti tak tahu apa-apa, karna memang ia tak menyelundupkan uang belanja café “Ne, aku memasak diam-diam, aku akan mengakui fakta itu” ia menatap Kwanghee kosong “Tapi aku hanya menggunakan bahan makanan yang sudah hampir kadaluarsa saja. Semalam aku hanya pensaran dengan rasa jamur umbi itu saja, jincha hanya itu saja yang aku sentuh” bela Minho, daripada dibuang maka ia menggunakan bahan-bahan yang sudah hampir kadaluarsa untuk memasakkan makanan lezat dan membuat Jiyeon sakit perut lusa lalu.

“Aku menyesal, sungguh aku tak ingin melihat ini, CCTV” Kwanghee menunjukkan flashdisknya yang memang sengaja ia minta dari petugas keamanan karna anjuran Tiffany kemarin “Katakan yang sebenarnya dan aku akan memaafkanmu” lanjutnya.

Sunggyu membelalakkan mata sipitnya, ia tak pernah menyadari itu kalau café ini juga dipasangi CCTV.

“Aku akan mempertanggung jawabkan kesalahanku, josonghamnida” sesal Minho, jika ia tidak meminta maaf, ia pasti akan dipecat dan begitu juga Sunggyu, karna CCTV itu juga menangkap kehadiran Sunggyu semalam bukan?

Kwanghee berdiri dan menunjuk Minho yang sudah menyelonong masuk kembali ke dapur “Yaa kau bangga membuat kesalahan hah?” gertaknya.

“Pecat saja dia sajangnim” pinta Sunggyu.

“Kenapa juga kau disini semalam?” selidik Kwanghee, Sunggyu melaporkan kalau Minho yang merusak jamur mahal itu tadi padanya, mungkin alasan Minho benar kalau dia menggoda wanita dengan masakannya, sedangkan Sunggyu, untuk apa dia ke café tengah malam begitu?

“AKu meninggalkan ponselku” Sunggyu menepuk kepalanya “Argh, aku belum mematikan kompor” ia berlari ke dapur tuk menghindari penyelidikan Kwanghee.

Didapur Minho sudah menunggu Sunggyu dengan tatapan kesalnya. Ia sudah mendengar alasan Sunggyu tadi dimana dia mecari ponselnya didapur semalam.

“Gapjagi” pekik Sunggyu kaget.

“Kau datang tuk mencari ponselmu?”

“Eoh wae?”

“Semalam kau sedang menelpon seseorang ketika berada didapur” Minho ingat betul kalai semalam Sunggyu sibuk berbicara ditelpon”Bagaimana bisa kau menelpon tanpa ponselmu?” ujarnya.

“Ada apa denganmu? Kau mencurigaiku hah?” bukannya menjawab Minho malah berbalik menjauh “Yaa eodiga? Kembali kemari sekhia!” bentak Sunggyu.

Minho berbalik “AKu harus mendapatkan 5000$” ucapnya penuh penekanan.

Jiyeon dan Hyejeong tengah menghabiskan waktu istirahatnya berdua ditaman department store.

“Aku sudah memikirkannya sejak lama. Meskipun ini sudah berlalu tapi setiap mengingat kalau kau pernah terpikir untuk menikahi Kwanghee oppa, aku..merasa semakin sesak, apalagi aku selalu bertemu denganmu Jiyeon-a” Hyejeong menatap Jiyeon mantap “Aku harus keluar dari pekerjaan ini” ujar Hyejeong.

“Waeyo? Jangan pikirkan itu, aku sudah tidak ada hubungan dengannya”

“Kau mengingatkanku pada Kwanghee oppa” jawab Hyejeong sendu.

“Aigoo, kau benar-benar menyukainya?” Jiyeon menatap Hyejeong remeh, bagaimana bisa Hyejeong menyukai pria aneh itu, ia sampai lupakalau dulu ia juga pernah menyukai Kwanghee.

“Mianhae Jiyeon-a”

Jiyeon mendengus gundah, disatu sisi ia tak akan tega menyerahkan Hyejeong pada Kwanghee si pria brengsek itu, tapi ia juga tak tega melihat Hyejeong terluka seperti ini. “Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanyanya lirih.

Hyejeong sungguh terisak kecil “Jincha mianheyo Jiyeon-a, aku tak bermaksud mengkhianatimu dengan menyukai pria yang masih kau sukai” jelasnya, ia mengira Jiyeon masih menyukai Kwanghee.

.

Kwanghee dengan kaca mata bulat nerd-nya menatap tajam layar laptopnya yang berisi rekaman CCTV di sebuah meja no 2. Matanya membulat begitu melihat Minho membukakan pintu café untuk Jiyeon. ia menekan tombol pause dengan kerasa lalu melempar kaca matanya ke keyboard. Jadi sekarang Minho berusaha menggoda Jiyeon?

Tepat setelahnya Jiyeon muncul didepannya dengan ragu-ragu, ia mengetuk meja Kwanghee agar Kwanghee terfokus padanya “Ada Hyeojeong dibawah, dia serius denganmu, aku kira dia lebih baik tak terlibat denganmu. Tapi.. dia sungguh merindukanmu” Jiyeon melirik ke arah pintu dimana Hyejeong sudah menunggu Kwanghee diluar café “Jadi kau harus menemuinya” pinta Jiyeon terpaksa.

“Neo gwaenchana… jika aku dan Hyejeong berkencan?”

“Jujurlah dengannya” Jiyeon melirik ke arah lain “Jangan menyakitimu seperti kau menyakitiku” pesannya.

“Bagaimana bisa kau mengatakan ini padaku hah?” Kwanghee masih belum bisa terima jika harus melepas Jiyeon ntah untuk Myungsoo ataupun Minho, apalagi Jiyeon malah mempermainkan sahabatnya, Myungsoo.

“Yaa Hwang Kwanghee kita sudah berakhir” gertak Jiyeon.

Kwanghee membalik laptopnya ke arah Jiyeon “Berakhir untuk ini hah?” Jiyeon membulatkan matanya kaget “Kau di cafeku dengan Minho, ini sungguh menyenangkan” ujar Kwanghee.

“Mianhae, aku tak bermaksud begitu, keundae…” Jiyeon mengira Kwanghee hendak menginterogasinya mengenai jamur umbi yang kemarin ia injak, ia menoleh ke sekeliling dan tak menemukan Minho disana “DImana Minho?” ia mengeraskan nada suaranya “Kau memecatnya?” pekiknya.

“Kau malah mengkhawatirkannya hah?”

Jiyeon menggigit bibir bawahnya gusar “Ini bukan salah Minho, ini salahku” pekiknya.

“Yaa kau sungguh ahli sekali, sepanjang hari kau bersama dokter itu dan dimalam harinya kau bersama pelayan cafeku. Kau mempermainkan sahabatku hah?” geram Kwanghee.

“Mianhae, itu karna banyak mata-mata” Jiyeon mendesah lelah kalau harus menjelaskannya pada Kwanghee “Sebenarnya…” ucapnya.

“Jangan katakan lagi, ini menyakitkan” ucap Kwanghee lalu beranjak keluar café, ya Kwanghee merasa tersakiti dan merasakan kekecewaan Myungsoo jika sahabatnya itu tahu kalau Jiyeon juga menghianatinya.

“Yaa chakkaman” Jiyeon mengejar Kwanghee menuruni tangga keluar café.

Dengan tingkah sok coolnya Kwanghee menghampiri Hyejeong “Mianahae Hyejeong-ssi” Hyejeong berusaha bersikap santai “Aku bermain denganmu ketika aku menyukai wanita lain” Kwanghee mengambil jeda “Aku ini sampah” ia mengejek Jiyeon dengan sengaja mengatakan apa yang memang kebetulan juga dilakukan oleh Jiyeon terhadap Myungsoo.

“Oppa” lirih Hyejeong.

“Kwanghee…” Jiyeon mencegah Kwanghee agar tak lagi mengatakan kata-kata pedas pada Hyejeong.

“Menyukai dua orang wanita dalam waktu yang bersamaan” Kwanghee menghempas tangan Jiyeon yang mencoba menahannya “Dua waktu, dua teman dalam waktu sekejap” ia menoleh ke Hyejeong “Aku tak bisa melakukannya, mianhae” ucap Kwanghee tegas lalu menunduk sesal dan beranjak kembali ke cafénya.

“YAa Hwang Kwanghee”

“Benar bukan yang aku katakan, dia tak mungkin aku miliki. Aku membencimu Jiyeon-a” Hyejeong semakin terisak lalu berlari menjauh.

“Hyejeong-a” pekik Jiyeon kesal.

.

Malam harinya Kwanghee sengaja mengajal Myungsoo ke sebuah bar dan memberitahu semuanya tentang Jiyeon yang ada affair diam-diam dengan Minho. Ya meskipun ia dan Myungsoo bersaing mendapatkan Jiyeon, tapi ia tidak tega melihat sahabatnya terluka jika mengetahuinya lebih dalam nantinya.

“Aku tak peduli” Myungsoo mengucapkannya dengan intonasi meremehkan

Kwanghee meletakkan gelas winenya dengan kasar “Kau tidak peduli?” tanyanya tak percaya.

“Menikah dan berkencan itu berbeda, Minho bukan masalah besar bagiku” ia menggoyangkan gelas winennya “Aku memberi waktu Minho dua bulan untuk bersama Jiyeon, setelahnya Jiyeon akan kembali padaku” ucap Myungsoo lalu meneguk winenya.

Kwanghee mengamati tingkah Myungsoo yang dengan santainya meminum winenya “Kau.. benar-benar menyukai Jiyeon bukan?” pertanyaan Kwanghee ini membuat wine di tenggorokan Myungsoo terasa sulit untuk tertelan “Menyedihkan!” sindir Kwanghee.

“Menyedihkan? Aku?”

“Aku ini sudah mengenalmu bertahun-tahun, kau ini orang yang berpikir rasional dan tak mungkin kau bersikap keren dengan bersantai seperti ini… sebenarnya Jiyeon itu apa untukmu?” selidik Kwanghee.

“Aku bukannya sok bertingkah keren dengan tak marah pada Jiyeon, tapi memang aku ini keren”

“Aigoo ‘Aku memberinya dua bulan’? aku tak bisa menerima bagaimana kau memperlakukan Minho seperti ini, kau sungguh baik pada Minho” ledek Kwanghee, mungkin saja Myungsoo mulai gila dengan menyukai sesama jenis.

“Aishh, AKU SUNGGUH TAK PEDULI PADA MINHO”

“Eomma-mu pasti akan sangat cemas jika mengetahuinya”

“Eomma? Kau memberitahu ibuku?” ulang Myungsoo.

“Ibumu menelponku dan menanyakan tentang Minho. Aku bahkan hampir memberitahunya siapa penyihir jahat yang tertangkap kamera CCTV… “

“Andwae” pekik Myungsoo menarik tangan Kwanghee.

Kwanghee tersenyum senang karna sudah berhasil mengerjai Myungsoo “Tapi aku tidak jadi memberitahunya” ujarnya.

Myungsoo sungguh panic jika ibunya sampai tahu kalau Jiyeon ada affair dengan Minho, inibisa merusak rencananya nanti “Jebal, butakhae, jangan katakan padanya” pinta Myungsoo seraya memijat bahu Kwanghee.

“Aishh, sebegitu besarkah cintamu pada Jiyeon?”

Myungsoo terhempas duduk meneguk habis winenya dan nampak berpikir, ia bingung dengan apa yang ia pikirkan dan rasakan, ia cemas karna takut rencananya terbongkar atau ia memang sudah mulai menyukai Jiyeon seperti yang Kwanghee katakan?

“Gwaenchana?”

Myungsoo mengatur suaranya dengan sok cool mekipun sebenarnya ia sedang gundah “Nan Gwaenchana” jawabnya lalu memuang lagi botol winenya dan meneguknya,

.

Jiyeon berpamitan pulang dengan rekan sesama SPG-nya didepan mall hingga ia mendengar suara Minho menyerukan namanya.

“Park Jiyeon” seru Minho.

“Sebenarnya ada apa?” Jiyeon sungguh mencemaskan Minho dengan kejadian penginjakan jamur umbi yang mahal itu.

“Gojongma”

Jiyeon melirik tas pakaian dan juga tas gitar yang tergeletak disamping kaki Minho “APa itu?” tanyanya.

“Aku hanya diusir” Minho masih bisa tersenyum santai dan tampan “Jamur umbi itu mempertaruhkan semua yang ku miliki” ujarnya.

“Kau menggunakan tabunganmu untuk membayarnya? Mianhae, ini salahku”

Minho mengeluarkan smirk tampannya “JIka kau menyesalinya maka ijinkan aku tinggal selamanya disisimu” ujarnya.

.

Myungsoo sedang dengan semangatnya bermain PS di ruang tamunya, hampir saja mobilnya mengalahkan mobil lawannya dan sampai garis finish. Namun tiba-tiba bukan gambar animasi game balapan mobil yangtertera dilayar, melainkan adegan ciumannya mesranya dengan Jiyeon dan juga suara Kwanghee dimana sahabatnya itu berkata bahwa Myungsoo sangat menyukai Jiyeon. buru-buru Myungsoo menggelengkan kepalanya dan game over karna sekali lagi yang tertera dilayar adalah adegan itu serta suara Kwanghee.

Ia menyerah, ia membanting joysticknya dan menghempas punggungnya ke sofa hingga tiba-tiba terdengar suara kode password pintu terbuka.

“Eoh kau disini?AKu berkali-kali menekan bel, apa kau tak mendengarnya?”

Seketika terulas senyum diwajah tampan Myungsoo bahkan matanya tak mampu berkedip melihat wajah Jiyeon yang ntah mengapa terlihat semakin cantik saja.

“Maukah kau mengabulkan permintaanku?” Jiyeon masih mengulas senyum manisnya agar Myungsoo luluh dengan permintaannya yang memang terdengar aneh “Masuklah” terikanya ke arah pintu.

“Annyeonghaseyo hyungnim” Minho dengan ramahnya menyapa Myungsoo.

“Mwo?” pekik Myungsoo tersadar dengan suara pria yang tak ia sukai itu.

“Ijinkan dia tinggal disini” rayu Jiyeon.

“Mwo?” Myungsoo bangkit berdiri, apa Jiyeon sudah gila? Apa Jiyeon sudah lupa kalau ia tak suka hidup berdua dengan orang lain? ia ingin sendirian dan tak sudi tinggal berdua dengan siapapun, apalagi Minho.

“Wah yeppeouta” sama seperti Jiyeon dulu waktu pertama ke apartment Myungsoo, Minho bertingkah aneh melihat segala isi ruangan apartment Myungsoo dan menyentuh segala barang yang bagi Myungsoo sangat tabu disentuh oleh orang lain.

Maka mau tak mau Myungsoo mencegah dan merebut barang-barang itu dari tangan Minho yang baginya kotor. Sedangkan Jiyeon, ia hanya tersenyum saja, ternyata bukan hanya dirinya orang aneh yang takjub dengan isi rumah Myungsoo.

Minho beserta dua tas besar Minho terlempar keluar apartment Myungsoo, ia tak sudi tinggal bersama pria yang sudah mencuri perhatian Jiyeon. “Hyung” pekik Minho dan tak lama kemudian Jiyeon juga terlempar disampingnya.

“Aishh, Kim Myungsoo, ada apa denganmu? Pikirkan apa yang sudah aku lakukan untukmu!” dumel Jiyeon seraya bangkit berdiri.

“Memangnya apa yang sudah kau perbuat? Kau menggangguku? Kau membuatku jengkel?”

“Membantumu dengan pernikahan palsu dan memberikan bibir berhargaku ini” geram Jiyeon tak mau kalah berargumen.

Jika urusan bibir dan ciuman Myungsoo tak mamu berkutik lagi “Apa kau lupa dengan tujuan pernikahan palsu ini? aku sudah bilang berkali-kali KALAU AKU INGIN HIDUP SENDIRI” gertaknya lalu masuk kembali ke apartmentnya.

“Aishh” Jiyeon mengusap poninya kasar “Namppeundo” umpatnya.

“Sudah aku bilang ini tak akan berhasil” Minho meraih tangan Jiyeon dan turun ke halaman apartment Myungsoo yang megah.

Myungsoo yang berada di apartmentnya sudah geram ditambah geram lagi dengan panggilan telpon dari Soojung. “Wae?” jawabnya.

“Kau masih sedih? Kau dirumah sekarang, geutcji? Aku akan kesana sekarang” Soojung nampak menyetir mobilnya.

“Hajima, aku sendiri dirumah”

“Kau sendirian? Bagus sekali kalau begitu” Soojung melirik bangku penumpang disebelahnya “Eommonim, dia sedang sendirian diapartmentnya” ujarnya pada Minyoung.

“Kau bersama ibuku?”

“Dia membuatkanmu kimchi tapi dia bimbang jikalau mengganggumu dan Jiyeon” Soojung tersenyum memuji Minyoung “Sungguh eommonim sangat peka sekali bukan? Aku merasa bersalah padanya makanya aku mengantarkannya sekarang ke apartmentmu” ujarnya.

Myungsoo mendesah kesal dan segera mematikan ponselnya, apa lagi mau Soojung? Kenapa dia sekarang mendekati ibunya dan sok dekat seperti itu? Padahal dulu dia dan Minyoung hanya sekedar bercakap ketika membicarakan hal penting saja. Mereka pasti akan berlama-lama di apartmentnya dan Minyoung akan mulai membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan.

Jiyeon dan Minho, Myungsoo segera berlari keluar mencari mereka berdua, akan menjadi masalah besar jika Minyoung sampai melihat Jiyeon bersama pria lain selain Myungsoo.

Diluar halaman apartment Jiyeon masih mendesah mengeluh kelakuan Myungsoo yang terlewat kejam. Bagaimana bisa pria itu melemparnya seperti tadi? Harus kemana lagi ia mencari tumpangan untuk Minho?

“AKu rasa aku akan menginap disauna saja” ucap Minho, tidak ada pilihan lain, ia anak sebatang kara tanpa orangtua, apalagi keluarga.

Jiyeon mengacak poninya kasar “Ini semua salahku, bagaimanapun juga aku akan mencoba mendapatkan 5000$” sesalnya.

“Gwaenchana, lagipula aku juga tak akan menerimanya”

“Tapi ini salahku” Jiyeon menunduk sedih.

“Aku yang membawamu dan Myungsoo dalam masalah, kau tertangkap basah oleh Soojung karna aku, jadi kita impas” Minho menyunggingkan senyum menggodanya dan menepuk kepala Jiyeon lembut.

Tiba-tiba Myungsoo menghampiri mereka “Yaa kau masih disini?” gertaknya.

Jiyeon menghalangi Myungsoo yang mungkin saja hendak mendorong Minho lagi “Yaa dia bahkan peduli dengan hubungan palsu kita” larangnya.

“Rasanya aku ingin memukulnya” Minho merasa kesal juga “Kajja Jiyeon-a” ajaknya.

Namun Myungsoo malah membopong tas pakaian dan juga gitar milik Minho kemudian menyembunyikannya dibelakang pilar besar.

“Yaa apa yang kau lakukan?” tanya Jiyeon.

“Ibuku akan segera datang” jawab Myungsoo, ia dan Jiyeon bahkan kerja sama mendorong Minho agar bersembunyi dibalik pilar yang berada didepan pintu utama apartment megah itu.

Tepat beberapa detik mobil Soojung berhenti didepan halaman apartment. Minyoung menatap tak suka pada Jiyeon dan Myungsoo yang tampak berangkulan dengan mesra.

“Annyeonghaseyo emmonim” sapa Jiyeon seraya mengeratkan kalungannya dipinggang Myungsoo.

“Bukankah kau bilang kau sedang sendirian?” selidik Soojung yang kini sudah berdiri didepan Myungsoo.

“AKu hanya tidak ingin diganggu” Myungsoo mengecup puncak kepala Jiyeon agar Minyoung dan Soojung percaya.

“Ngomong-ngomong gumawo sudah menyambut kami disini” sindir Soojung, acting mantan tunangannya ini sungguh berlebihan, mana mungkin pasangan sungguhan akan rela menyambut ibunya didepan halaman dan bukan di apartmentnya yang terletak jauh dilantai atas.

“AKu kesini untuk menolak kedatanganmu” sindir balik Myungsoo.

“Kami kesini hanya untuk melihatmu, apa ada masalah?” potong Minyoung.

“Memangnya untuk apa kau kemari? Aku tahu apa yang eomma pikirkan” tantang Myungsoo.

“Dia hanya memikirkan apakah anaknya baik-baik saja” Soojung menyerahkan sekotak kimchi buatan Minyoung.

“Mwoya? Kau bawa lagi saja pulang! Aku tidak mungkin bisa menghabiskannya dan itu akan berakhir ditempat sampah” ledek Myungsoo.

“Kim Myungsoo” seru Soojung, tak seharusnya Myungsoo melampiaskan kekesalannya pada Soojung dengan bersikap kasar padanya ibunya seperti ini.

“Kenapa kau harus membuangnya?” Jiyeon merebut kotak besar itu dari tangan Soojung “Gojongma eommonim, kami akan menghabiskannya sampai tak tersisa sedikitpun” senyum merekah tulus di wajah Jiyeon “Kalau eommonim ingin kemari kenapa eommonim tak menelponku saja, kenapa eommonim malah bersama Soojung-ssi?” lanjut Jiyeon.

“AKu lebih mengenalnya lama daripada kau” sindir Minyoung.

“Argh jadi ini bukan karna kau tak menyukaiku?” Minyoung terpaku dengan pertanyaan Jiyeon “Kau menolakku bukan?” Soojung tertawa kecil merasa menang karna sudah pasti Minyoung akan memilihnya daripada Jiyeon “Kalau kau tetap bersikap seperti ini, maka kau akan membuat Myungsoo SENDIRIAN selamanya” lanjut Jiyeon.

Minyoung tertawa kecil “Kau berani mengancamku?” ucapnya.

Jiyeon masih memasang wajah cerianya “Aku hanya mencemaskan keluarga Kim, bagaimana jika keluarga tak akan berkembang lagi dan hanya berhenti sampai Myungsoo saja?” jelasnya.

Myungsoo mengerutkan keningnya, benar juga ucapan Jiyeon, kenapa wanita ini terlihat pandai sekali bersilat lidah dalam membela hubungan palsu mereka? Minyoung pasti akan kehabisan kata-kata.

“Gojongma, aku tak menolakmu. Itu hanya perasaanmu saja” jawab Minyoung.

Jiyeon kembali tersenyum ceria lagi “Taengida, aku senang sekali eommonim” ia menyentuh lengan Minyoung “AKu juga ingin dekat denganmu eommonim” namun Minyoung lekas menghempas tangan Jiyeon “AKu juga ingin shopping dan makan bersamamu eommonim. Kajja kita tinggalkan sejenak si kasar Myungsoo dan berkencan berdua, hanya aku dan kau saja” jelas Jiyeon yang mampu membuat Soojung muak sekaligus was-was.

“Kajja” Minyoung malah mengajak Soojung agar segera mengantarkannya pulang, ia juga muak mendengar ucapan Jiyeon karna ia memang tak menyukai Jiyeon.

“Annyenggaseyo eommonim” Jiyeon melambaikan tangan kepada Minyoung dan Soojung yang mulai menghilang seiring menjauhnya mobil Soojung “Sekali lagi aku sudah membantumu, jadi ijinkan Minho tinggal untuk beberapa hari, arra?” Minho menghampiri mereka berdua dan merangkul bahu Jiyeon.

Sontak mata elang Myungsoo terarah kepada tangan kekar yang sudah berani melingkar dibahu Jiyeon. karna merasa tak nyaman maka ia terpaksa mengiyakannya.

Dialam apartment Myungsoo, ia dan Minho masih sama-sama saling bersaing. Sungguh Myungsoo tak menyukai Minho. Ia memberi banyak aturan pada Minho dimana Minho dilarang menyentuh barang-barangnya, memakai dapurnya, memainkan gitarnya dan hanya boleh tidur disofa tamu.

.

Minyoung menghela nafas dengan sikap Myungsoo “AKu sungguh sangat malu” sesalnya.

“Annimida, aku sudah sering seperti ini. Myungsoo adalah pria yang popular, dia sering dekat dengan wanita-wanita lain ketika kami berusia 20an. Kami hanya teman, tapi wanita-wanita itu selalu cemburu padaku” jelas Soojung bangga seraya menyetir mobilnya.

“Geurokunyo, tapi semua wanita itu sudah pergi dan hanya kau yang tersisa untuk Myungsoo”

“Karna kami adalah teman” jawab Soojung, teman yang terlalu terobsesi dengan Myungsoo.

“Argh bagaimana dengan ayahmu? Apa dia masih kecewa dengan kejadian dua tahun yang lalu?”

“Anniya, meskipun pernikahan sudah gagal, tapi dia masih menyukai Myungsoo. Appa ingin membawa myungsoo kedalam Jung hospital” jawab Soojung.

“Geurayo? Gamsaheyo” ini sungguh peluang besar bagi Myungsoo, anaknya itu akan semakin sukses jika berada di rumah sakit besar itu.

“Dia selalu ingin bertemu dengan Myungsoo, keundae…” Soojung mulai bersilat lidah, sebenarnya ini memang tujuannya agar Minyoung menyukainya dan membujuk Myungsoo atau memaksa Myungsoo untuk kembali berhubungan dengannya.

“Keundae?”

“AKu merasa tak enak dengan Jiyeon, aku tak ingin ada kesalahpahaman. Myungsoo juga tak mungkin menginginkannya, selama Jiyeon juga tak melepasnya” jelas Soojung.

Minyoung mengerti kode dari perkataan Soojung “Aku akan membantumu mengatasinya” ucapnya mantap yang dibalas senyuman senang oleh Soojung.

**

Cahaya matahari menembus jendela kaca, namun Myungsoo masih saja merasa kedinginan tepatnya sejak ia mulai tertidur nyenyak. Ia mengeratkan kakinya dan tangannya memeluk dirinya sendiri, tidurnya sudah semakin tak nyaman lagi, tangannya mencoba menarik selimut dibelakangnya kemudian membalik posisi tidurnya dengan miring ke kanan hingga ia merasakan gumpalan empuk yang bisa ia peluk.

“Yaaa, kenapa kau tidur disini?” ia melompat kaget mendapati Minho tertidur pulas disebelahnya.

“Aku hanya kedinginan saja lagipula lebih nyaman tidur disini” balas Minho santai.

“Keluar!” bentak Myungsoo lalu menjauh dari kamar tidurnya dan mulai melakukan aktifitas rutinnya dengan membuat sandwich dan kopi. Ia mengoles roti tawarnya dengan mentega “Mwoya? Apa kau gila?” bentaknya pada Minho yang saat ini menampu kepalanya dimeja seraya mengamati Myungsoo makan.

“Bukankah Kau juga melarangku makan? Jadi, aku hanya akan melihatmu saja seperti ini” jawab Minho lirih seperti anak anjing.

“Sudah kubilang keluarlah!”

Minho mengangkat kepalanya “Bukankah aku sudah keluar dari kamarmu?” tanyanya balik.

“Aissh, kau pasti sengaja membuatku stress eoh?” pria ini bodoh sekali, apa Minho tak sadar kalau dari semalam memang Myungsoo sangat teramat terpaksa menerima Minho menginap di apartmentnya.

Minho menunjuk wajahnya “Naega? Waeyo?” balasnya bingung.

Myungsoo menggerbrak pisau olesnya “Yaaa apa kau sungguh tidak punya tempat lain untuk tinggal? Apa kau tidak punya keluarga, kerabat atau teman?” geramnya.

“Semua teman-temanku perempuan, aku kehilangan kontak dengan kerabatku, Aku tidak punya ayah dan ibuku pergi meninggalkanku” gumam Minho sendu.

“Kau mencoba mencari simpatiku hah!” Myungsoo menggeleng meski sebenarnya ia merasa sedikit tidak tega juga “Aku tak akan terpedaya” lanjutnya.

“Tapi ini Jiyeon bersimpati padaku” Minho menunjuk telur rebus disebelah piring roti Myungsoo “Kau tidak memakannya, kalau begitu aku makan saja telurnya” ujarnya seraya menyambar telur rebus yang memang tak sempat Myungsoo makan karna dia merasa kesal jika mengingat Jiyeon begitu peduli dan bersimpati pada Minho

“Cuci piringnya” Myungsoo bangkit berdiri dan bersiap-siap pergi ke kantornya setelah mematut diir dengan kemeja dan jas yang sesuai.

“Kau mau pergi?” Minho mengejar Myungsoo memasuki kamarnya namun terkunci. Setelah beberapa menit Myungsoo nampak sudah rapi dengan jas hijaunya “Aku ikut berangkat bersamamu ne?”pintanya seraya mengejar Myungsoo hingga ke parkiran, namun Myungsoo sama sekali tak mengijinkan Minho memasuki mobilnya “Yaa chakkaman! Kau tidak mau memberiku tumpangan?” teriaknya namun tak dihiraukan oleh Myungsoo yang kini sudah melajukan mobilnya menjauh.

Myungsoo terbatuk-batuk dimobilnya ini karna semalam ia tidur kedinginan “Si brengsek itu sudah mengambil selimutku” gerutunya seraya memukul setir mobilnya.

.

Kini myungsoo sedang berada di kliniknya dan menjelaskan konsultasi yang diperlukan oleh pasiennya sebelum melakukan permak diwajahpasiennya itu. “Tulang rawanmu melengkung seperti huruf C” ia menggerakkan mouse-nya hingga menunjuk gambar CT scan wanita itu dilayar komputernya “Kita harus memperbaiki ini tuk menyembuhkan rhinitis-mu” dan tiba-tiba ia bersin tepat didepan wajah pasiennya “Josonghamnida” sesalnya.

Setelah menyelesaikan pasien pertamanya itu kini ia berada di meja recepsionist “Kurasa aku mau pulang cepat hari ini. Tolong batalkan semua janji-ku” titahnya kepada pegawainya di recepsionit itu.

“Ne uisangnim, beristirahatlah” recepsionist itu mengangguk hormat.

“Bukankah hari ini ada perbaikan listrik?”

“Ne, dari pukul 20:00 sampai besok pagi pintu akan terkunci uisangnim listrik dan telepon juga tidak aktif. Bahkan generatornya juga sedang di perbaiki”

“Tempatkan lemak, ketamin, dan juga botox ke tempat yang dingin” pinta Myungsoo seraya terbatuk-batuk.

“Gwaenchana uisangnim?”

“Ne, Gumapta” Myungsoo berjalan keluar dari kliniknya.

Selepas Myungsoo pergi Tae Hee menelpon kliniknya dan recepsionit itu memberitahunya kalau Myungsoo sedang sakit.

.

“Mwoya? Menantuku sedang sakit?” Tae Hee berjalan ke kamar Jisung dan membangunkannya “Jiyeon appa, ireona” panggilnya seraya menepuk pipi Jisung agar terbangun.

“WAe? Aku bekerja sepanjang malam. Jangan bangunkan aku” Jisung hanya mengeliat pelan dan tak ingin membuka matanya walau hanya sebentar.

“Memangnya hanya kau yang bekerja? Aku juga bekerja bersamamu” kali ini tepukan Tae Hee membuat suaminya itu terbangun “Pergilah bawakan beberapa ekor ayam dari restoran. Yang paling gemuk dan segar, arra?” titah Tae Hee.

“Memangnya untuk apa?” tanya Jisung seraya terduduk dari tidurnya.

“Aku mau memasak ayam, untuk menantu kita”

“Haishhh….Sulit sekali menikahkan anak perempuan” Jisung mendorong Tae He eke smaping karna menghalanginya untuk turun dari ranjang “Minggirlah!” lanjutnya lalu melaksanakan perintah istrinya.

Hari ini Jiyeon hanya mendapat jatah bekerja sampai siang, ia yang baru saja sampai mendengus harumnya sup ayam buatan ibunya. “Sup ayam” ia membuka penutup panci yang ada didapur “Eomma tahu saja kalau aku akan pulanglebih awal hari ini” gumamnya.

“Yaa” Tae Hee mencegah Jiyeon yang hendak mencicipi sup ayam yang masih hangat itu “Bawakan ini untuk menantu kami” perintahnya.

“Eomma! Kau sungguh berpikir kalau aku bisa menikah dengannya? Kasta kita berbeda dengannya!”

“Aku memberimu kecantikan dengan level yang berbeda juga” puji Tae Hee seraya mencubit dagu Jiyeon.

Jiyeon merasa tersanjung dengan pujian ibunya, ia memang sama cantiknya dengan ibunya.

Tae Hee mematikan kompornya “Apa orang tuanya…Menentang pernikahanmu?” tanyanya tiba-tiba setelah mendengar ucapan Jiyeon mengenai derajat keluarga mereka yang memang sangat berbeda jauh.

“Anni, hanya saja belum keundae mereka pasti akan segera menentangnya”

“Kenapa kau khawatir pada hal yang belum terjadi? Haishh” Tae Hee sangat menyukai Myungsoo dan tak ingin ucapan Jiyeon itu didengar Tuhan hingga keluarga Myungsoo sungguh menolak anaknya “Bawalah sup ini” ia menyerahkan panci sup yang besar itu kepada Jiyeon “Kau harus menemani menantuku yang sedang sakit” ujarnya.

“Myungsoo sakit?”

“Kau tidak tahu?” bagaimana bisa anaknya ini tidak mengetahui keadaan calon suaminya “Pergilah sekarang” pinta Tae Hee seraya mendorong Jiyeon agar segera berangkat ke apartment Myungsoo.

“Eomma aku lelah sekali” cegah Jiyeon.

“Kau ingin aku yang pergi?”

“Anni, arra aku yang akan pergi!” Jiyeon mendumel kesal sepanjang perjalanan mengayuh sepeda mininya “Supku! Hiks” tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah pangilan dari Minyoung “Yeobeseo, eomma” jawabnya.

“Kau ingin lebih dekat denganku, bukan?”

Tiba-tiba sepeda Jiyeon hampir terjatuh dan bisa memuntahkan isi sup itu “Ne, ne” jawabnya seraya menahan panci besar itu.

“Apa kau sedang tidak sibuk sekarang?” tanya Minyoung, ia akan berusaha menjalankan rencananya menjauhkan Jiyeon dari Myungsoo.

“Sekarang?” pekik Jiyeon.

.

Jiyeon sampai disebuah butik seraya mendekap panci besar itu didadanya, didepannya beberapa pelayan sudah menyambutnya dengan hormat.

“Selamat Datang” sapa pelayan-pelayan itu.

“Ne” dengan kikuk Jiyeon memasuki butik itu.

“Kenapa kau membawa panci besar ini?” tanya bibi Han yang memang ditugaskan oleh kakak iparnya itu untuk mencegah Jiyeon menemui Myungsoo untuk hari ini saja.

“Aku dengar Myungsoo sakit. Jadi, aku bawakan dia sup ayam”

Singkirkan dulu itu” bibi Han memilih gaun-gaun yang terpajang manis di sebelahnya “Cobalah ini” pintanya

“Ne?” Jiyeon bingung dengan permintaan bibi Han.

“Bukankah kau bilang pada eonni-ku kalau kau ingin pergi shopping dengannya?”

“Keundae aku harus memberikan sup ini sebelum dingin.”

“Myungsoo akan bergabung dengan kita malam nanti” jelas bibi Han seraya mendorong Jiyeon ke ruang ganti.

Jiyeon menurut begitu saja dan mencoba gaun-gaun itu di ruang ganti namun sudah 4 kali ia mencoba bibi Han selalu tak menyukainya dan menyuruhnya mencoba gaun lainnya. Ia kini berada diruang ganti lengkap dengan gaun-gaun baru pilihan bibi Han dan juga panci supnya.

.

Myungsoo terduduk di ranjangnya karna mendapat telpon dari Minyoung “Makan malam? Aku lelah. Aku ingin sendirian dengan Jiyeon” tolaknya.

“Dia juga akan datang. Kita akan mengadakan pertemuan dengan Jiyeon” jelas Minyoung, padahal pertemuan itu adalah pertemuan antara anaknya dan juga keluarga Soojung.

“Ne?”

“Dia sepertinya marah padaku. Jadi aku ingin mentraktir kalian di restoran mewah. Sampai bertemu nanti di restoran Perancis” Minyoung mematikan sambungan telponnya dan tersenyum sinis.

“Apa yang dia rencanakan sekarang?” Myungsoo kini mencoba menghubungi Jiyeon untuk meminta penjelasan atas rencana Minyoung yang tentu saja selalu diiyakan oleh Jiyeon.

Di ruang ganti Jiyeon nampak kesulitan memakai gaun merah muda namun begitu menapat telpon dari Myungsoo ia merasa lega “Myungsoo-ya, palli tolong aku! bibimu itu menyuruhku mencoba setiap pakaian. Dia bilang aku tidak boleh terlihat jelek. Kenapa tiba-tiba dia begini? Ibu pasti benar-benar menyukaiku” cerocosnya tiada jeda.

“Gojongma, jelas saja Itu tidak mungkin” Myungsoo kembali terbatuk kecil “Aku tidak tahu apa rencananya. Tapi, terima saja apa yang dia beli untukmu” ucapnya.

“Shirreo” Jiyeon merasa tidak enak jika menerima pemberian mahal dari Minyoung.

“Beli semua yang kau inginkan. Seperti bimbo yang menghabiskan uang secara kilat” kali ini batuk Myungsoo lumayan terdengar keras oleh Jiyeon.

“Kau sedang sakit.. Tapi, tetap jahat seperti biasa”

“Kau masih di sana? Bibi Han mengetuk pintu ruang ganti karna Jiyeon tak kunjung keluar juga dengan gaun pilihannya “Kenapa kau lama sekali?” tanyanya.

“Aku akan segera keluar gomonim! Gudno” Jiyeon mematikan sambungan telponnya dan segera keluar lengkap dengan membopong panci supnya.

“Astaga. Bisa kau berbalik?” bibi Han mengamati gaun yang dikenakan Jiyeon, sebenarnya gaun-gaun itu pantas sekali dgunakan oleh Jiyeon, namun karna Minyoung menyuruhnya untuk membuat Jiyeon kesal dan menyita banyak waktu maka ia mengatakan hal sebaliknya “Tidak bagus. Coba yang lain” ucapnya seraya menyerahkan gaun lainnya yang baru ia comot.

Mereka mencoba dan memilih berbagai baju mulai dari lantai atas sampai bawah dari butik satu ke butik lainnya. Hingga bibi Han merasa menyukai sebuah gaun putih dan memilihnya. Setelah itu mereka ke salon langganan Minyoung, disana penderitaan Jiyeon belum juga selesai, rambutnya, wajahnya, kukunya, semuanya terlalu diatur oleh bibi Han. Berkali-kali rambutnya diombang-ambing dengan berbagai style dan ia masih setia memangku panci sup itu.

“Beri dia rambut yang mengembang besar, makeup yang glamor dan warna kukunya juga penting. Semuanya harus bagus” bibi Han mengomando para pegawai salon.

Jiyeon berakhir dengan gaya rambut berwavy ke samping dan makeup standar “Kita coba gaya yang lebih elegan saja!” pekik bibi Han.

“Andwae gomo. Ini sudah cukup!” Jiyeon sudah lelah dipermak dengan gaya tak menentu seperti itu “Restoran mewahnya dimana?” tanyanya.

“Kajja kita pergi sekarang..” ajak bibi Han.

.

“Masuklah” bibi Han membawa Jiyeon ke ruang tunggu di klinik Myungsoo, alasannya karna mereka harus menunggu Myungsoo menjemput Minyoung “Enak sekali di sini” ia terduduk lelah disofa, meski ia hanya mengomando ini itu, namun ia juga sama lelahnya seperti Jiyeon.

“Di sini adalah surga” Jiyeon merasa sangat kelelahan sekaligus mengantuk.

“Apa maksudmu? Kita harus ke restoran mewah. Keundae kenapa mereka belum datang juga” bibi Han mengecek arlojinya “Pasti sedang macet” dustanya.

Jiyeon mengeluarkan ponselnya dari tasnya “Aku akan meneleponnya” gumamnya.

“Andwae!” bibi Han merebut ponsel itu, bisa gawat jika Jiyeon smapai menelpon Myungsoo, semua rencana Minyoung akan gagal “Maksudku jika kau ingin mengomeli pria…karna terlambat datang, dia pasti akan sangat kesal” jelasnya.

“Geutcji, dia selalu memarahiku” angguk Jiyeon.

“Lebih baik kita tidur dulu sembari menunggunya datang” bibi Han menepuk bahu Jiyeon “Tidurlah…” dan dalam sekejap Jiyeon sudah tertidur lelap karna kelelahan “Jiyeon-a….” bibi Han mengibaskan tangannya didepan wajah Jiyeon “Jiyeon-a…” setelah merasa yakin kalau Jiyeon memang sudah tertidur pulas maka ia memasukkan ponsel Jiyeon ke dalam tasnya “Mianhae, aku juga tidak ingin sejahat ini” sesal bibi Han lalu berjalan mengendap-endap keluar dari klinik Jiyeon.

“Dia di klinikmu” jawab Minyoung santai, mau tak mau ia harus mengaku juga.

“Klinik? Dia disana…Sendirian?” Myungsoo melihat arlojinya dan mengingat pembicaraannya dengan recepsionistnya tadi siang “Kau menculik dan mengurungnya di sana?” bentaknya kemudian.

“Menculik dan mengurungnya? Jangan membesar-besarkan. Pelankan suaramu” titah Minyoung santai.

“Apa kau tidak malu?” bentak Myungsoo penuh emosi, bagaimana bisa ibunya sejahat ini pada Jiyeon.

“Jangan berteriak padanya. Aku yang memintanya melakukan itu!” Soojung menghela nafas “Aku sungguh menyesal” sesalnya seraya menunduk hormat pada Minyoung.

“Gwaenchana, ini bukan salahmu” tolak Minyoung.

“Aku juga merasa sangat menyesal pada Jiyeon” lanjut Soojung lirih.

“Sudah kubilang tidak apa” jawab Minyoung.

Myungsoo hanya memperhatikan dua orang wanita iblis ini saling memasang topeng kebohongan “Tapi, aku tidak baik-baik saja! Aku tidak bisa membiarkan Jiyeon sendirian. Aku tidak akan pernah, meninggalkannya sendirian” gertaknya lebih kencang.

.

“Dia tertidur?” tanya Minyoung yang kini berdiri diluar pintu VIP sebuah restoran mewah.

“Aku bingung caraku menahannya lagi. Keundae untunglah dia tertidur” jawab bibi Han.

“Tapi, kenapa kau meninggalkan dia sendirian di sana? Bagaimana jika dia bangun? Myungsoo pasti sudah tahu rencana palsu kita ini” tanya Minyoung cemas.

“Gojongma, aku sudah mengambil ponselnya” bibi Han merogoh tasnya dan menyerahkan ponsel putih milik Jiyeon “Igeo, kau saja yang menyimpannya” ujarnya.

Selang beberapa menit kemudian Myungsoo telah diantar oleh seorang waiter ke ruangan yang memang sengaja dipilih Soojung dan Minyoung untuk pertemuan keluarga mereka kembali.

Seketika mata Myungsoo membulat sempurna melihat Soojung yang tengah duduk santai meneguk kopinya tanpa kehaidran Minyoung maupun Jiyeon “Kenapa kau di sini?” selidiknya bingung.

“Ayahku akan segera datang. Dia ingin bertemu denganmu” Soojung meletakkan kembali cangkir kopinya ke meja.

“Mwo?”

“Dan ibumu sepertinya juga membutuhkan ayahku” lanjut Soojung sombong, Minyoung membutuhkan tuan Jung karna Minyoung ingin membuat Myungsoo lebih dikenal lagi dan lebih sukses lagi didunia perbedahan dengan jalan membawa Myungsoo ke rumah sakit Jung.

“Apa maksudmu ini? Kau memakai orang tua kita….”

“Aku juga merasa tidak nyaman melibatkan mereka. Bagaimana jika kita pergi sekarang, agar mereka bisa bicara dengan nyaman” Myungsoo merasa jijik dengan kesombongan dan keangkuhan Soojung “Jika kau pergi denganku, aku akan memberimu hadiah” ia menyodorkan sebuah kartu kunci sebuah kamar hotel serta sebuah microsd berisi foto mesra Jiyeon dan Minho kemarin ditaman “Mereka akan segera datang, jadi kau harus segera memutuskannya. Jika kau tidak ingin Ibumu melihat apa yang ada didalam microsd ini” ancam Soojung panjang lebar.

Tiba-tiba Minyoung menghampiri mereka “Apa aku terlambat?” sapanya.

Soojung menyambar kartu dan microsd itu dari atas meja tuk menyembunyikanya “Anniya, kau tepat waktu eommonim” balasnya sopan.

“Dimana ayahmu?” tanya Minyoung seraya duduk didepan Soojung dan Myungsoo tetap berdiri bingung.

“Appa bilang dia sedikit terlambat. Dia ada operasi darurat” jawab Soojung.

“Dimana Jiyeon? Kau pasti menyuruh Bibi menahannya, kan?” sambar Myungsoo tajam ke Minyoung.

“Gojongma, mereka berbelanja dan ke salon bersama. Mereka menikmati waktu yang menyenangkan” kilah Minyoung.

Maka Myungsoo memutuskan menelpon Jiyeon dan anehnya malah ponsel Minyoung yang berdering, ia merasa mengenal dering ponsel ini yang sepertinya memang dering ponsel Jiyeon. “Ponselmu berdering. Jawablah!” titahnya.

“Eoh geurae” Minyoung menyambar tasnya dan hendak menjauh untuk menjawab ponsel itu.

“Chakkaman, boleh aku melihatnya?” cegah Myungsoo seraya mencoba merebut tas Minyoung.

“Apa yang kau lakukan?” gumam Minyoung, ia takut jika Myungsoo sampai menangkap basah tipu dayanya.

“Ini pasti ponsel Jiyeon” Myungsoo menarik tas Minyoung.

“Lepaskan. Kau salah paham, ini ponselku”

“Marhaebwa, dimana Jiyeon?” gertak Myungsoo.

.

Diklinik Jiyeon nampak terbangun dari tidurnya karna kepalanya tergantung ke tepi sofa tanpa sebuah bantal.

“Mwoya, igeo eodieya?” ia terduduk dengan kepala sedikit pening karna posisi tidurnya “Gomonim, gomo” tak ada sahutan dan ia merasa sepertinya ia memang sendirian di klinik ini “Dimana dia?” ia mencoba mencari ponselnya didalam tasnya “Ponselku.. dimana ponselku” jarum jam tepat ke angka 8 malam danlistrik sungguh dipadamkan “Mwoya?” ia ketakutan dan mulai berjalan tanpa arah untuk keluar dari ruang tunggu itu “Gomonim! Leluconmu terlalu berlebihan. Kau dimana?” ia menggebrak sebuah pintu kaca “Ini pasti ulahmu, Myungsoo-ya? Ayo keluar. Aku tahu kau ada di sana. Yaa!” sekali lagi tak ada sahutan “Jeogiyo, apa ada orang di sini? Aku terkunci!” telpon ia ingin menelpon menggunakan telpon klinik ini, jadi ia berjalan berbalik ke ruang tunggu dan sayangnya ia malah menabrak pancinya hingga sup itu membasahi sekujur tubunya “Arghhhh, sup ayamnya, Bagaimana ini…” ia bangkit bangun dan kembali berjalan kemana kakinya menuntunnya “Aku sendirian di sini” keluhnya dengan isakannya.

.

Didalam mobilnya Myungsoo mengingat semua perkataan Jiyeon yang mengatakan kalau dia hampir mati waktu berusia 5 tahun dan juga permintaan Jisung yang mengatakan agar ia menjaga Jiyeon. karna terlalu mengebut dan mengkhawatirkan Jiyeon, ia hampir saja menabrak mobil.

“Kenapa kau kemari? Gedungnya sudah tutup dari tadi, apa kau tidak tahu kalau ada perbaikan listrik?” tanya Minho yang baru saja berjalan keluar dari café Kwanghee.

“Sudah berapa lama pemadamannya?” Myungsoo tergesa-gesa hendak tak menghiraukan Minho.

“Dari pukul 8, sekitar 30-40 menit. Keundae wae?” tanya balik Minho bingung melihat sikap Myungsoo yang terlihat begitu cemas.

“Jiyeon terkunci di klinikku” Myungsoo segera berlari memasuki kliniknya, ia mencoba membuka pintu kaca yang memang sudah terkunci otomatis meskipun listrik mati. Minho tiba-tiba datang dan membawa sebuah besi kemudian membantu Myungsoo mencongkel pintu kaca itu, lalu mereka berpencar mencari Jiyeon

Myungsoo akhirnya menemukan Jiyeon bersembunyi dibelakang sofa “Apa kau bodoh hah? Bagaimana bisa kau berada disini hah” bentaknya, ia terbawa mosi karna kebodohan Jiyeon yang mengakibatkan Jiyon terkurung disini.

“Myungsoo-ya” Jiyeon hendak berdiri memeluk Myungsoo, namun bentakan Myungsoo membuatnya semakin melemas “Bibimu menyuruhku menunggu di sini” bentaknya tak kalah kencang.

“Kenapa kau tidak bisa menangkap tipu dayanya hah?” Myungsoo melirik sup ayam yang berserakan disamping Jiyeon “Dan ada apa dengan sup ayam ini?” gertaknya lagi.

“Kenapa kau berteriak padaku? Apa Kau tidak tahu betapa menderitanya aku? Aku sangat takut” isak Jiyeon kencang dengan tangisannya.

Dan tiba-tiba minho memeluk Jiyeon dengan hangat “Gwaenchana, gwaenchana” ucapnya yang seketika mebuat Myungsoo panas dingin.

.

“Jadi terbuang supnya. Ibuku sudah membuatnya untukmu” Jiyeon bangkit berdiri “Aku akan mandi dulu” pamitnya, kini mereka berada di apartment Myungsoo.

“Masih banyak sisanya” Minho membuka penutup pancinya “Kita semua bisa memakannya” gumamnya.

“Memangnya kau Tuhan? Kau tidak bisa menciptakan mukjizat” tolak Myungsoo.

“Tentu saja bisa. Jika kau mengizinkanku memasaknya” Minho membawa panci itu ke dapur dan menyulapnya menjadi pasta.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jiyeon yang baru saja selesai mandi.

“Tada! Aku membuat pasta ayam” Minho menghidangkan pasta itu ke meja tamu.

“Kau membuatnya dari sup ayam ibuku?”

“Pasta adalah hidangan yang mudah tuk orang yang tidak bisa memasak” sindir Myungsoo. Jiyeon mencoba mencicipi pasta itu “Massita” pujinya.

“Benarkah?” ulang Minho bangga.

Jiyeon mencoba menyuapi Myungsoo pasta itu “Cobalah!” titahnya.

“Dwaesseo” tolak Myungsoo.

“Ppali, ayo cicipi” kali ini Myungsoo melahap suapan Jiyeon “Enak bukan?” tanya Jiyeon.

“Kaldu ayam Ibumu yang enak” tolak Myungsoo, meski masakan Minho memang enak.

“Majayo, Aku tidak berbuat banyak. Ini semua berkat keterampilan ibumu” bela Minho merendah.

“Huft, aku merasa bersalah pada ibumu. Aku tidak pantas menerima ini” sesal Myungsoo.

“Gwaenchana, Ibuku tidak akan pernah…mewujudkan mimpinya punya menantu dokter jika bukan karenamu, mereka kini bisa menikmati mimpi manis mereka..Meskipun tidak akan berlangsung lama” jawab Jiyeon.

“Apa kau memanggilku?” tiba-tiba Minho menghampiri Myungsoo dan Jiyeon untuk memecah suasana.

“Dia ini selalu ikut campur” dumel Myungsoo kesal.

“Ayo kita minum wine juga” saran Jiyeon.

“Call” maka Jiyeon dan Minho mengambil 3 gelas serta wine dari nakas wine.

“Yaa, aku sedang sakit di sini!” teriak Myungsoo namun tak dihraukan oleh mereka.

Mereka saling tertawa bersama meneguk sebotol wine itu hingga habis. Minho menyuapi Jiyeon pastanya sementara Jiyeon balik menyuapi Myungsoo pasta tersebut.Tidak mau!

“Aku akan menyuapkanmu” ucap Jiyeon seraya menyuapkan pastanya.

“Roti” Myungsoo menunjuk potongan roti agar Jiyeon juga menyuapkannya.

Minho bahkan menyanyikan sebuah lagu untuk Jiyeon sementara Myungsoo juga dipaksa oleh Jiyeon untuk menari.

.

Sementara itu Soojung nampak melampiaskan kekesalannya karna kegagalan rencananya dan Minyoung dengan meminum wiski di bar. Ucapan Myungsoo tadi siang bahawa dia tak akan meninggalkan Jiyeon membuatnya semakin pening. Ia juga mengingat dulu Myungsoo slalu menemaninya minum di bar ini.

Flashback on

2 Tahun Lalu setelah pertengkaran mengenai pembatalan pernikahan mereka. Mereka masih berteman dekat seperti biasa meski sebenarnya dalam hati mereka masih tersisa perasaan yang sama.

“Maafkan aku” Myungsoo meneguk winenya.

“Aku merasa lega sekarang. Aku sangat stress.. Untuk mempersiapkan pernikahan kita” soojung berpura-pura terlihat baik-bak saja “Kupikir, pilihan ini tidak benar. Anni, aku sangat menyedihkan bukan?” sungguh sebenarnya ia merasa sangat terluka “Gumapta..telah memberitahuku terlebih dahulu” jawabnya.

“Neo.. gwaenchana?” tanya Myungsoo was-was.

“Eoh nan gwaenchana”

Flashback off

“Ottokhae Kim Myungsoo” Soojung menangis pelan “Aku tidak baik-baik saja, aku terluka”

.

Seperti biasa Myungsoo selalu bangun lebih awal jam 7 pagi, ia terbatuk karna masih flu. Ia berjalan keluar menuju dapur untuk mempersiapkan sarapannya. Sialnya ia malah melihat dapur masih berantakan dan belum dibereskan. Disaat ia hendak membereskan gelas-gelas dan piring itu ia melihat Jiyeon tertidur disebelah Minho dan memeluk Minho.

Ia memikirkan pertanyaan Kwanghee lusa yang lalu di bar, pertanyaan recepsionistnya kemarin diklinik dan pertanyaan Jiyeon sendiri yang mengkhawatirkannya ketika ia sedang sakit. Degg… jantungnya berdetak kencang melihat pemandangan menyakitkan ini “Anni, aku tidak baik-baik saja” gumamnya.

Advertisements

11 responses

  1. nazha

    Cinta yg rumit dgn adanya minho. Yg selalu ada disekitar jiyeon – myungsoo.
    Ditambah minyoung dan krystal

    August 31, 2014 at 11:36 am

  2. Wah myungsoo udh mulai ada tanda2 suka sama jiyeon ya, bukti nya dia gk suka klo liat jiyeon dkt2 sma yg lain kecuali myungsoo hahah
    tenang eon, aku gk maksa eonni buat update tiap mggu ko, aku jga tau klo author itu jga kan pasti pnya ke sibukan nyata nya ya
    Fighting

    August 31, 2014 at 2:10 pm

  3. jiyeon sama myung knpa tambah rumit sihh hubungan mereka..
    kpan mereka jatuh cinta

    August 31, 2014 at 4:04 pm

  4. Ditunggu next partny^^

    August 31, 2014 at 6:41 pm

  5. Riri J

    Moga aja jiyi sdar sma prsaan xa sndri..
    Si myung mulai sdar tuh…xixi

    September 1, 2014 at 1:52 am

  6. elma ingga

    ahhh..myungsoo udah ngerasain suka sama jiyeon tapi ga mengaku
    next part

    September 1, 2014 at 3:33 am

  7. yulisa

    beneran kesel ama soojung minyoung n bi2 han :@ kasian jiyi hampir k kurung d klinik myung, .acieee kaya nya myung ada hati ni ama jiyi xD mskipun nambah rumit 😦 kpanpun d postnya aku setia nunggu qo eon ^^

    September 1, 2014 at 1:04 pm

  8. alma puteri

    rumit banget eon cinta mereka…

    September 2, 2014 at 2:26 pm

  9. good :v. Bikin ngakak masa bacanya xD

    September 3, 2014 at 2:26 pm

  10. indaah

    asikk myung udah mulai cemburu ma minho dan jiyeon ..
    tinggal perasaan nya jiyeon lg ..

    October 14, 2015 at 6:56 am

  11. Mm nggak sabar sama kehidupan pernikahan myungyeon thour

    November 25, 2016 at 9:11 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s