KIM MYUNGSOO FANFICTION

[Chaptered] Remember Me – Part 12

Remember Me

REMEMBER ME

|Main cast: Kim Myungsoo (Infinite), Bae Sooji (Miss A)|Other cast: Jung Soojung (F(x)), Jang Wooyoung (2PM), Lee Jieun (IU), Lee Sungyeol (Infinite)|Genre: Drama, Angst/Sad, Romance, Fluff, Friendship, a little bit Comedy|Length: chaptered|Rating: General|

©Park Minrin

.

Ketika seseorang melupakan, sementara yang lain mengingat.

.

“Jika kau bisa berlaku egois, aku pun bisa melakukannya.”

PART 12 : Selfishness

Sooji menurunkan ponsel dari telinganya begitu melihat Myungsoo menutup telepon dan tersenyum padanya dari kejauhan. Pria itu kemudian mengisyaratkan padanya untuk segera masuk ke dalam karena cuaca yang semakin membeku. Sooji mengangguk lalu melambaikan tangannya sebelum melangkah masuk ke dalam rumahnya.

Hatinya terasa sedikit ringan begitu berbicara dengan Myungsoo. Sekarang, jika orangtuanya sudah kembali ke rumah, ia tinggal memberitahu mereka tentang tawaran baik ini.

Sebelum masuk ke dalam rumah, gadis itu sempat melirik jam tangannya untuk memastikan apakah ia harus membunyikan bel atau tidak agar tidak mengganggu kenyamanan orang-orang yang sedang tidur. Dan ketika mengetahui bahwa jamnya menunjukkan pukul setengah dua belas malam, ia pun memilih untuk memasukkan kode sendiri dan tidak menekan bel. Pintu pun akhirnya terbuka dan keadaan gelap segera menyambutnya begitu ia masuk ke dalam rumah. Dengan perlahan, Sooji menutup pintu di belakangnya dan baru hendak berbalik untuk berjalan menuju kamarnya, ketika lampu ruang tamu tiba-tiba menyala.

Gadis itu terkejut karena nyatanya masih ada orang yang bangun—atau lebih tepatnya, ia khawatir kehadirannya mengganggu tidur orang tersebut. Sooji mengangkat kepalanya dan kemudian terdiam begitu melihat orangtuanya sedang duduk di sofa ruang tamu. Menatapnya. Sementara adiknya tengah berada tepat di samping saklar, bersandar pada dinding seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

Ada apa ini? Pikir Sooji. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari tatapan keluarganya padanya.

Tapi gadis itu tak sempat berpikiran buruk. Ia terlanjur tenggelam dalam kebahagiaannya sendiri sehingga ia bahkan tak menyadari di tangan ibunya terdapat sebungkus obat-obatan yang ia sembunyikan jauh di dalam laci kamarnya, di antara tumpukan buku-bukunya.

Eomma, aku mendapat—“

“Jelaskan pada kami tentang ini.” Potong ibunya sambil mengangkat bungkus obat-obatan tersebut sebatas kepalanya.

Sooji terdiam. Matanya membesar dan bulu kuduknya meremang. Ia menghentikan niatnya untuk mendekati kedua orangtuanya dan membeku di depan pintu. Sekarang ia tahu alasan kenapa semua anggota keluarganya berkumpul begini untuk menunggunya.

Mereka telah mengetahuinya.

“Bibi Ahn menemukannya di laci kamarmu saat ia tengah membereskan kamar. Jelaskan pada kami apa ini?!” seru ibunya. Terdengar nada marah dan frustasi dalam suaranya. Beliau bahkan mulai menangis.

Sooji terdiam. Ia ingin bicara, ingin menjelaskan semua penjelasan yang telah ia latih sejak lama jika suatu saat rahasianya ini terbongkar. Namun tidak ada suara yang keluar. Ia seolah bisu.

Noona, penyakit itu… tidak kembali, bukan?” kali ini suara Sangmoon yang menyapa gendang telinganya.

Sekali lagi, Sooji terdiam. Lidahnya terasa begitu kelu untuk digerakkan bahkan sesekon pun. Tanpa sadar air mata mulai bergumul di pelupuk matanya, membuat penglihatan gadis itu buram. Lantas kakinya kehilangan kekuatannya, membuat lututnya lemas dan sekonyong-konyong tubuhnya jatuh hingga lututnya menyentuh lantai.

Noona!” Sangmoon segera berlari menyusul Sooji begitu melihat gadis itu jatuh.

“Maafkan aku….” suara itu bagai sebuah bisikan yang mungkin tak dapat didengar siapapun kecuali dirinya sendiri. Namun Sooji merasa energinya habis hanya untuk mengucapkan dua kata itu.

“Sooji…” suara ibunya terdengar dekat. Beliau rupanya telah berjalan dan berjongkok di hadapan anak gadis sulungnya, kemudian memeluk gadis itu erat. “Kenapa kau tidak memberitahu kami?”

“Maafkan aku… maafkan aku…” ada banyak yang ingin Sooji katakan, namun ia seolah tak bisa menjelaskan semuanya. Kata-kata yang keluar hanyalah kata maaf yang tak banyak berarti. Tapi ia tak bisa mengatakan kata lain.

Sang ibu kemudian hanya bisa mendesah dan memeluk tubuh Sooji erat-erat. Sooji membalas pelukan ibunya sama erat. Gadis itu kini mulai merasa takut—entah kenapa.

“Kosongkan jadwalmu besok. Kita akan ke rumah sakit.” Ujar ayahnya yang akhirnya angkat bicara.

Sekali lagi Sooji tak berani menjawab. Alih-alih gadis itu malah terisak semakin keras di pelukan ibunya.

Ada banyak hal yang ia khawatirkan saat ini. Kenyataan bahwa keluarganya mengetahui penyakitnya adalah salah satunya. Ia juga khawatir yang lain akan tahu. Wooyoung, Jieun, Sungyeol, dan… Myungsoo. Ia masih tidak ingin mereka tahu, namun secara sadar Sooji tahu bahwa mereka akan segera tahu. Tetapi selain dari kekhawatirannya akan menyebarnya info tentang kembalinya penyakit yang telah menghantuinya selama bertahun-tahun lalu itu, ia memiliki satu ketakutan besar lainnya.

Ia takut bahwa ia akan meninggalkan mereka semua.

-o0o-

Bulan Desember diumumkan sebagai bulan terdingin untuk tahun ini di Korea. Salju semakin tebal dan menumpuk di setiap sisi jalan sementara suhu semakin menurun setiap harinya. Namun Kim Myungsoo tetap tak bisa membiarkan proyek yang sedang dijalaninya berhenti begitu saja. Hari ini ia dan timnya akan menuju ke taman nasional Gyeryongsan, tempat yang menyimpan segudang pesona alam. Seharusnya mereka pergi ke puncak gunung hari ini, namun melihat cuaca yang tak kunjung membaik selama beberapa hari belakangan, Myungsoo membatalkan rencananya untuk mengambil gambar di puncak gunung dan memilih mengambilnya di kaki gunung yang tak kalah kaya akan pemandangan alam.

Ia dan timnya berencana berkumpul di kantor mereka di Seoul sebelum berangkat bersama-sama menuju Daejeon. Seharusnya Myungsoo berangkat dengan Sooji ke kantor, namun kali ini pria itu harus berangkat sendiri.

Pagi-pagi sekali, Myungsoo mendapat telepon dari Sooji bahwa gadis itu tidak akan bisa ikut ke Daejeon hari ini karena ada sesuatu yang harus gadis itu kerjakan dan ia tak bisa membatalkannya. Semula, Myungsoo terus mendesak Sooji agar menunda keperluannya tersebut karena dirinya yakin, mereka akan kerepotan tanpa gadis itu—bukan hanya karena urusan pribadinya semata. Namun begitu Sooji sekali lagi meyakinkan bahwa dirinya benar-benar tak bisa, barulah Myungsoo percaya dan terpaksa menerima kenyataan pahit bahwa kali ini ia harus bekerja sendirian tanpa Sooji di sekitarnya.

Kenyataan bahwa Sooji mulai berpengaruh besar terhadap kehidupannya baru Myungsoo rasakan setelah ia berada di atas aspal bersama kendaraan besinya sendirian. Pria itu terlalu terbiasa dengan keberadaan Sooji di sampingnya, mengoceh hal ini-itu atau barangkali membicarakan masa lalu mereka, atau membicarakan rencananya dan mimpi-mimpinya. Namun kali ini, ia hanya ditemani alunan lagu-lagu lawas dari CD yang ia punya. Tanpa komentar dan tanpa sanggahan di tiap lagu—biasanya Sooji yang selalu melakukannya karena gadis itu mengomentari hampir apapun yang ia lihat dan dengar. Dan mendadak satu perasaan asing kembali menelusup ke dalam hati Myungsoo.

Ia merasa… hampa?

Kehampaan itu bahkan terus berlanjut hingga ia tiba di Seoul dan sampai di gedung kantornya. Kehampaan itu bahkan masih terasa saat ia berada di basement, saat ia menaiki lift dan saat ia sampai di kantornya dan menyapa beberapa orang krunya.

“Myungsoo-ssi, di mana Sooji-ssi?”

Dan kehampaan itu berlanjut setiap kali ada seseorang yang menyebutkan nama itu.

“Ia tidak akan hadir hari ini. Mungkin ia akan menyusul di hari kedua atau ketiga atau tidak sama sekali. Ia memiliki suatu urusan mendadak yang tak dapat ditundanya. Jadi, untuk para staff desainer, aku harap kalian tahu apa yang kalian lakukan karena ketua bagian kalian tidak ada. Selain itu, semuanya berjalan lancar dan 10 menit lagi kita bisa berangkat.” Ujar Myungsoo, membagikan sebuah pengumuman pada semua telinga yang ada di sana.

Para staff dan kru mengangguk-angguk mengerti dan mulai sibuk bergerak ke sana kemari untuk mempersiapkan perjalanan mereka ke Daejeon. Sementara itu, para staff desainer mulai bergerak lebih sibuk dari biasanya. Mungkin mereka harus membicarakan strategi mereka atau bahkan menentukan siapa ketua sementara di tim mereka yang biasa menjadi salah satu jalan keluar—dan melihat itu, Myungsoo tidak ingin tahu apa yang terjadi. Ia hanya berharap semuanya bisa sempurna.

“Oh ya, di mana Lee Sungyeol?” tanya Myungsoo yang tak kunjung menemukan sosok tinggi sahabatnya di masa lampau itu di mana pun.

Beberapa kru menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala dan yang lainnya mengedikkan bahu.

“Aku di sini!” seru sebuah suara dari arah pintu masuk.

Mendengar suara Sungyeol, Myungsoo merasa sedikit lega karena setidaknya pria itu telah berada di sini. Namun, saat ia berbalik matanya seketika membulat begitu melihat sosok lain di belakang pria itu. sosok seorang wanita yang tak seharusnya berada di sini karena ia bukanlah anggota dari timnya. Sesosok wanita yang malam tadi merajai mimpi buruknya—padahal biasanya ia merajai mimpi indahnya—Jung Soojung.

Tampaknya semua kru juga menyadari kehadiran Soojung karena tak lama setelah suara Sungyeol, terdengar ribut-ribut di belakang Myungsoo. Pria itu kemudian menunjuk lurus ke arah wajah Soojung, lalu menanyakan hal yang semua orang di ruangan itu pikirkan,

“Untuk… apa dia di sini?”

-o0o-

Sungyeol berencana akan datang lebih awal ke kantor pagi ini ketika tiba-tiba ia menerima sebuah telepon dari nomor yang tidak ia kenal. Dengan sedikit terburu-buru karena ia sedang memakai sepatu, lelaki itu menaruh ponselnya di atas meja, menjawab telepon yang masuk tersebut sembari memasang mode speaker phone.

“Halo?” sapa Sungyeol seraya mengikat tali sepatunya.

“Oppa! Ini aku!

Sungyeol menghentikan gerakan tubuhnya dan tertegun sejenak. Tangan lelaki itu kemudian mengambil ponselnya dan mengarahkannya lebih dekat ke wajahnya seolah hal itu akan membantu meyakinkan dirinya bahwa yang tengah menelepon adalah seseorang yang sedang ia pikirkan.

“So-Soojung?”

Hm. Ini aku.”

Pria itu menelan ludahnya, merasa tiba-tiba gugup tanpa alasan. “Ada apa?”

Apakah hari ini kau sibuk?”

“Yah… sampai dua hari ke depan, aku memang sedikit sibuk karena jadwal pemotretan yang padat. Memangnya ada apa?”

Begini… aku… bosan. Bolehkah aku ikut?”

“Ikut ke mana? Ke lokasi pemotretan, maksudmu?”

Hm! Aku… aku akan melakukan apapun yang bisa membantu kalian di sana! Aku tidak akan merepotkan, aku janji!”

“Tapi aku belum meminta izin Myungsoo untuk membawa orang luar ke lokasi. Dan lokasinya cukup ekstrim. Kau tahu Gyeryongsan Daejeon? Dengan suhu seperti ini, tempat itu pasti dipenuhi salju dan alam liar terlalu berbahaya untukmu. Kami juga akan menginap di sana hingga dua hari ke depan. Apa kau tetap ingin ikut?” tanya Sungyeol, berusaha meyakinkan. Bukannya ia menakut-nakuti Soojung atau menolak keinginan gadis itu, namun ia hanya khawatir. Terlebih lagi, ia tak tahu bagaimana tanggapan Myungsoo jika ia membawa gadis itu ke lokasi.

Untuk Myungsoo, aku bisa mengatasinya. Oh Gyeryongsan? Gunung yang terkenal itu? Aku sudah lama ingin ke sana! Biarkan aku ikut, ya ya ya? Untuk hotel atau penginapan, aku akan mengurusnya sendiri, kau tidak  usah khawatir! Biarkan aku ikut oppa~”

Sungyeol terdiam sesaat, memikirkan keputusannya untuk mengizinkan atau menolak kedatangan Soojung bersamanya. Jika gadis itu sudah bicara seperti itu, apa lagi alasan yang bisa ia buat? Untuk urusan izin Myungsoo, ia yakin dirinya dan Soojung bisa mengatasinya karena nyatanya Myungsoo pun mengenal Soojung. Lagipula, mungkin timnya juga membutuhkan pengalaman Soojung yang sudah lebih profesional.

Setelah mendesah pelan, Sungyeol akhirnya berkata, “Baiklah, persiapkan barang-barangmu. Aku akan menjemputmu 10 menit lagi.”

-o0o-

Soojung mengerti bahwa Myungsoo tak bermaksud kasar padanya dengan menanyakan pertanyaan itu, ia hanya menanyakan pertanyaan umum yang selayaknya ditanyakan padanya sebagai orang luar yang tiba-tiba datang. Tapi gadis itu merasa tidak merasa nyaman pada tatapan Myungsoo. Entah sejak kapan, namun gadis itu sadar bahwa tatapan Myungsoo padanya tak lagi sama. Pria itu bukanlah pria yang sama yang ia temui di Amerika.

Dan sejujurnya, Myungsoo memang merasa kurang nyaman dengan kedatangan Soojung. Apalagi di saat tidak ada Sooji di sekitarnya. Kata-kata gadis itu tadi malam cukup membuatnya memasang peringatan waspada di kepalanya.

 “Apa aku masih memiliki kesempatan?”

“Jika kau diam saja, aku akan menganggapnya sebagai ‘iya’, Kim Myungsoo.”

Aku tak peduli siapa tunanganmu nanti. Selama kau tidak menyukainya namun tak bisa lepas darinya, aku juga tidak akan melepaskanmu.

Mau tak mau, mendengar perkataan seperti itu, siapa yang tidak merasa takut? Myungsoo sudah mengenal Soojung selama bertahun-tahun. Pria itu tahu sifat baik dan buruknya gadis itu. Dan ia juga tahu, bahwa terkadang, Soojung bisa bertindak nekat. Dan kedatangan gadis itu kali ini mau tak mau membuatnya berprasangka. Mungkin Soojung sedang merencanakan sesuatu.

“Dia—“

“Aku datang atas keinginanku sendiri.” Soojung memotong perkataan Sungyeol yang berusaha membelanya. “Aku meminta Sungyeol agar aku bisa datang karena aku merasa bosan berada di rumah seharian, terlebih lagi waktuku masih tersisa cukup banyak di sini. Dan kurasa, aku bisa sedikit membantu kalian di sana. Mungkin di bagian design atau stylist?”

“Maaf Soojung, tapi tim kami sudah lengkap.” Ujar Myungsoo.

Mendengar kata ‘lengkap’, nampaknya anggota timnya yang lain mulai sensitif. Ya, mereka memang tidak lengkap karena tak ada kehadiran Sooji di sana. Dan tampaknya anggota timnya memiliki perbedaan pendapat dengan Myungsoo tentang kehadiran Soojung. Sementara Myungsoo berusaha menolak kehadiran gadis itu dan secara tak langsung menyuruhnya untuk kembali pulang ke rumah, anggota timnya yang lain berpikir bahwa kehadiran Soojung tampaknya bagus untuk mereka. Selain karena pengalaman bermodel Soojung yang tentunya sudah sangat senior, Soojung juga mereka pikir dapat membantu mereka terutama para anggota tim desainer.

“Hm? Kudengar anggota timmu membantahmu.” Ujar Soojung. Gadis itu menarik salah satu ujung bibirnya ke atas.

“O-oh… meskipun begitu, kau tetap tidak bisa berada di sini. Kau bukan salah satu anggota tim kami—“

“Tapi kurasa kedatangannya cukup bagus, Myungsoo-ssi.” Tiba-tiba sosok manajer Yang muncul dan berjalan mendekati Myungsoo. “Soojung bisa membantu kalian di tim desainer. Kudengar Sooji tidak dapat hadir selama pemotretan di sana. Kau yakin pemotretan akan berjalan lancar tanpa kehadiran ketua salah satu tim?”

Myungsoo melirik manajer Yang sekilas. “Tapi aku yakin tim desainer sudah mengantisipasi hal ini. Mereka sudah pasti memiliki pemimpin cadangan, bukan?”

“Sebenarnya… kami belum memutuskannya, Myungsoo-ssi.” Sahut salah satu anggota tim desainer.

Myungsoo terdiam. Ketika ia beralih menatap Soojung, gadis itu telah tersenyum penuh kemenangan begitu mengetahui bahwa tak ada lagi alasan bagi Myungsoo untuk menolaknya. Pada akhirnya Myungsoo menyerah. Pria itu kemudian bergerak menyisi, memberi jalan bagi Sungyeol dan Soojung.

“Baiklah, hanya untuk kali ini.” Ujarnya pasrah.

-o0o-

Sooji melepas jaket wol yang membalut tubuhnya sepulang dari rumah sakit di kamarnya. Ia tengah duduk di atas tempat tidur sembari menatap lurus ke sebuah cermin besar di sudut kamar. Menatap kondisi dirinya sendiri yang tak dapat dikatakan baik. Sekarang, setelah penyakitnya telah benar-benar terungkap, Sooji seolah dibangunkan dari tidur panjangnya. Dibangunkan dari mimpi yang indah dan harus kembali menghadapi kenyataan yang pahit. Bahwa ia sakit, tidak sehat.

Gadis itu pun kini seolah dapat melihat dirinya lebih jelas. Kulitnya bertambah pucat, cahaya rambutnya memudar, pipinya menirus, dan terdapat lingkaran hitam di bawah matanya. Tubuhnya juga nampaknya semakin ringan dari hari ke hari. Sooji masih menatap cermin lekat-lekat. Ia tak mengerti mengapa ia baru menyadari kondisi tubuhnya seperti ini sekarang? Kenapa dulu ia terlihat baik-baik saja?

Apakah ini efek dari penyakitnya ataukah efek dari rasa putus asanya?

Ya, bahkan ketika gadis itu baru saja keluar dari ruangan dokter, ia bahkan sudah merasa putus asa. Dokter mengatakan bahwa penyakitnya telah berkembang. Lagi. Dan lagi-lagi, beliau menyarankannya untuk melakukan operasi jika setidaknya ia ingin merasakan bagaimana rasanya hidup normal. Tapi sekali lagi, hanya ada kemungkinan sekitar 60% bagi keberhasilan operasinya dan 40% gagal.

Mendengar itu, tentu saja Sooji takut. 60 persen jelas masih termasuk angka yang besar, namun 40 persen juga merupakan angka yang besar bagi sebuah kegagalan. Bagaimana jika tiba-tiba operasi itu tidak berjalan sesuai yang diharapkan dan 40 persen itu menjadi 100 persen? Dokter pun mengatakannya sendiri, jika operasi tersebut tidak berhasil, maka kemungkinannya ia akan terus seperti ini atau bahkan harus menggunakan alat penyangga agar tetap bernapas. Hal yang paling buruknya, ia tidak akan bisa bernapas lagi. Dalam artian lain, mati.

Sooji tidak ingin mengambil resiko. Karena itu, ia sedang merasa sangat bingung saat ini. Gadis itu termasuk tipe seseorang yang kerap kali berpikiran negatif jika sudah dihadapkan dalam dua pilihan. Dan karena kebiasaan buruknya itulah, ia mengalami hari yang berat.

Selain itu, keabsenannya dalam pekerjaan membuatnya tak dapat mengalihkan pikirannya pada sesuatu yang lain. Dan hal itu buruk. Sangat buruk.

Sebuah ketukan di pintu kamarnya membuat Sooji kembali dari alam bawah sadarnya. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum beringsut bangkit dari tempat tidurnya sembari melipat jaketnya kemudian berseru,

“Masuklah!”

Pintu kamar pun terbuka dan sosok mungil seorang gadis berambut panjang muncul dari baliknya. Tersenyum cerah menatap Sooji.

“Sooji-ah!”

Sooji menoleh lalu matanya berbinar. Gadis itu tersenyum—senyum pertamanya hari ini—lalu merentangkan tangannya untuk menerima pelukan dari gadis yang baru memasuki kamarnya.

“Jieun eonni, aku merindukanmu!” ujar Sooji dalam pelukannya.

“Na do, Sooji-ah….” balas Jieun seraya melepaskan pelukannya. Gadis itu tersenyum dan menatap Sooji lekat-lekat. Tangannya bergerak menyentuh pipi Sooji dan membelainya lembut. “Bagaimana kabarmu? Kenapa kau terlihat pucat? Apa kau sakit?”

Sooji tersenyum kemudian menggeleng, menolak mengatakan sepatah kata pun. Ia memang belum memberitahukan perihal penyakitnya pada Jieun dan Wooyoung, dua orang terdekatnya. Dan gadis itu juga berpesan pada orangtuanya agar merahasiakan hal tersebut karena Sooji berniat memberitahukannya dengan mulutnya sendiri.

Seseorang kemudian berdeham dari arah pintu. Sooji mengalihkan pandangannya dan tersenyum melihat Wooyoung berada di sana, bersandar pada kayu penyangga pintu sambil bersidekap.

“Apakah kau tidak merindukanku, Sooji?” godanya, seperti biasa.

Aish… apa kau begitu ingin dirindukan?” cibir Jieun yang dibalas pelototan oleh Wooyoung. Pria itu kemudian kembali menatap Sooji, menunggu jawaban gadis itu.

Sooji tertawa—tawa pertamanya hari ini—lalu berkata, “Aku juga merindukanmu, Wooyoung oppa.”

Wooyoung tersenyum puas. Ia kemudian berjalan mendekati Sooji dan Jieun kemudian mengacak rambut Sooji sambil menggumamkan beberapa kata pujian yang membuat gadis itu tertawa.

Dalam sekejap, mereka sudah kembali terlibat dalam perbincangan panjang di kamar Sooji. Ketiganya duduk di karpet yang terdapat di sana sambil mendengarkan cerita masing-masing. Wooyoung berkata bahwa di universitas mereka, Jieun adalah yang terbaik dan belakangan gadis itu ditawari beasiswa ke luar negeri namun dia menolaknya.

“Aku tidak mengerti mengapa kau menolak kesempatan langka seperti itu.” ujar Wooyoung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jika aku berada di posisimu, aku pasti akan menerimanya dengan suka hati.”

Jieun mendelik ke arah Wooyoung tajam. “Hei, itu bukan karena aku tidak ingin pergi, kau tahu. Tapi karena ada seseorang yang memohon-mohon padaku untuk tidak pergi, karena itulah aku tidak pergi.” Balasnya.

Wooyoung berdecih kesal karena kehabisan kata-kata. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Sooji yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka berdebat. Ia akui, Sooji agak sedikit berbeda sekarang. Gadis itu hanya menanggapi perdebatan mereka beberapa kali dan bahkan tak mencoba melerai mereka seperti biasanya. Hal tersebut tentunya bukan kebiasaan gadis itu. Sooji yang ia kenal adalah Sooji yang selalu tak bisa berhenti bicara dan hobi mengganggu ketenangan orang lain.

“Sooji-ah, bagaimana dengan pekerjaanmu? Kudengar kau cuti hari ini. Kenapa?” tanya Wooyoung, penasaran dengan kehidupan Sooji.

Sooji terdiam beberapa saat seolah sedang memikirkan jawaban yang tepat. Gadis itu pun kemudian menjawab, “Aku mendapatkan tawaran bekerja sama dengan Kris Choi di Paris Fashion Week 6 bulan lagi.”

Baik Wooyoung maupun Jieun yang mendengar hal tersebut membulatkan kedua mata mereka. Sooji memang sengaja mengalihkan pembicaraan, dan nampaknya hal tersebut berhasil.

“Benarkah?! Waaah!!! Itu hebat sekali!” ujar Jieun bersemangat.

Ya! Ya! Jika kau bertemu Candice Swanepoel*, tolong minta tanda tangannya untukku, oke?” ujar Wooyoung.

Jieun sekali lagi mendelik ke arah Wooyoung kemudian memukul kepalanya cukup keras hingga membuat pria itu mengaduh dan berteriak ke arahnya, menanyakan alasan Jieun memukulnya.

“Kau pikir model impianmu itu akan berada di sana? Fashion show itu berbeda dengan fashion show pakaian dalam yang sering kau lihat itu! Demi Tuhan, kapan kau akan mengenyahkan pikiran-pikiran kotor itu dari kepalamu, sih?” cecar Jieun dengan volume tinggi.

“Hei, apa salahnya mengidolakan seseorang?! Aku juga tak pernah protes ketika kau mengelu-elukan nama Tony saat ia muncul di tv atau saat kau menonton konsernya dan menyeretku untuk ikut bersamamu. Kau pikir itu menyenangkan bagiku?” balas Wooyoung tak mau kalah.

“Tapi tetap saja, fantasimu itu tentang—“

“Bisakah kalian berdua berhenti?” Sooji memotong perkataan Jieun sambil tertawa kecil. Entah mengapa, Sooji merasa geli melihat dua sahabatnya ini. Ia tahu mereka berdua memang sangat hobi berdebat, namun gadis itu juga menyadari ada sesuatu yang berubah dalam perdebatan mereka. Tepatnya, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang saling merasa cemburu karena pasangannya mengidolakan orang lain selain dirinya.

Mendengar perkataan Sooji, keduanya kemudian berhenti dan suasana di antara keduanya mendadak canggung. Melihat itu, senyum Sooji semakin mengembang. Ia tahu bahwa tebakannya benar.

“Jadi, haruskah aku mengucapkan selamat pada kalian berdua?” tanya Sooji.

Keduanya kemudian melongo menatap Sooji. Mereka pun berdeham secara bersamaan lalu Jieun tersenyum dengan rona merah di pipinya. Tampaknya baik Jieun maupun Wooyoung juga tak berani mengelak. Sehingga keduanya hanya bisa menerima ucapan selamat tulus dari Sooji.

“Terima kasih,” ujar Jieun malu-malu.

“Hei, kau harus tahu betapa sulitnya menunggu jawaban darinya. Aigo… gadis ini benar-benar!” ujar Wooyoung yang membuat Sooji kembali tertawa sementara untuk kesekian kalinya, Jieun mendelik kesal ke arah Wooyoung.

Hari ini, Sooji merasa masalahnya hampir pergi karena humor-humor yang dilemparkan Wooyoung dan kebersamaan mereka bertiga membuatnya tak dapat berhenti tertawa. Namun, gadis itu juga sadar bahwa kebahagiaan itu tak seharusnya berlangsung selama ini.

Mengingat kembali masalahnya, membuat Sooji kembali terdiam. Lalu gadis itu mulai menangis, memunculkan tanda tanya besar di atas kepala Jieun dan Wooyoung. Namun mereka belum berani bertanya dan menunggu tangis Sooji reda dalam pelukan Jieun.

“Hei, Sooji-ah… kenapa kau menangis?” tanya Jieun lembut. Gadis itu membelai lembut rambut Sooji, berharap hal tersebut dapat menghentikan tangisnya.

Kemudian Sooji mengatakannya. Mengatakan bahwa penyakit itu kembali lagi dan kali ini bahkan lebih parah. Ia mungkin saja mati karena penyakit ini.

Sesaat kemudian, gadis itu merasakan pelukan Jieun makin erat padanya. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di salah satu bahu Sooji, lalu ia bisa merasakan punggung Jieun bergetar. Sooji tak dapat melihat wajah Wooyoung, namun gadis itu tahu Wooyoung juga nampaknya tengah memikirkan sesuatu. Tak biasanya pria itu diam selama ini.

Kemudian setelah memangis bersama selama beberapa menit, Jieun mengangkat kepalanya sedikit lalu berbisik di dekat telinganya,

“Semua akan baik-baik saja, Sooji. Semua akan baik-baik saja.”

Dan kata-kata itu membuatnya kembali menangis.

Karena ia tahu bahwa tidak ada yang baik-baik saja di sini.

-o0o-

Myungsoo sekali lagi tidak percaya pada kenyataan bahwa ia benar-benar bekerja bersama Soojung lagi di tempat berbeda, dan dalam keadaan yang sangat berbeda pula.

Gadis itu rupanya benar-benar serius membantunya—atau mengusiknya—dengan membantu tim desainer dan sama sekali tak membiarkannya sendirian.

Ini adalah hari keduanya berada di gunung Gyeryongsan, dan Myungsoo masih merasa bahwa keberadaan Soojung di sini adalah kesalahan besar. Salah satu kesalahan terbesarnya. Yah, tapi mungkin itu hanya pikirannya saja. Karena nyatanya, kebanyakan kru dan staff tampak sangat menikmati waktu mereka dengan Soojung.

Satu-satunya waktu yang dapat ia curi untuk menghindari Soojung adalah saat makan siang. Di hari pertama, Myungsoo sengaja mengambil jatah makan siangnya dan membawanya ke kamar hotelnya untuk memakannya di sana sekaligus menghindari kontak dengan Soojung. Terdengar jahat memang, namun Myungsoo hanya tak mau memberi harapan lagi pada Soojung. Ia tahu gadis itu sedang bingung karena tiba-tiba saja pria yang mengejarnya mengatakan bahwa ia akan menikah. Dan jika ia terus meladeni keinginan gadis tersebut, bisa jadi Soojung benar-benar tidak menyerah. Dan Myungsoo tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya jika ia membiarkan Soojung seperti itu.

Karena jujur saja, Myungsoo tak ingin lagi menyakiti Sooji. Dan ia mematri pemikiran itu di benaknya dalam-dalam.

Untuk makan siang kali ini pun sama. Myungsoo berencana membawa makan siangnya sejauh mungkin dari lokasi pemotretan—jika bisa, ia akan membawanya ke kamarnya lagi—demi menghindari Soojung. Namun sial baginya, ternyata Soojung sudah terlebih dulu menyelesaikan tugasnya sehingga tiba-tiba saja gadis itu muncul di hadapannya dengan sepiring makan siang ekstra.

“Ini. Makananmu. Ayo kita makan bersama.”

Myungsoo mengutuk dalam hati sebelum menerima piring berisi makan siangnya tersebut. Ia sudah tertangkap basah, dan mau tak mau harus mengikuti kemauan Soojung.

Soojung membawanya makan di atas sebuah bangku yang letaknya berada di bawah pohon mapel besar yang daunnya sudah sepenuhnya menghilang dan berganti dengan putihnya salju yang memenuhi seluruh dahan dan rantingnya. Gadis itu menepuk tempat kosong di sebelahnya begitu melihat Myungsoo bergeming di tempatnya. Sesaat setelahnya, Myungsoo pun berakhir duduk di sebelah Soojung.

“Bagaimana pekerjaanku?” tanya Soojung saat Myungsoo baru menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.

“Entahlah. Lumayan.” Ujarnya kemudian.

“Kau tahu, kukira seluruh anggota tim desainer menyukaiku. Mereka langsung mengangkatku menjadi ketua tim dan menuruti semua perintahku. Aku penasaran, apakah mereka begini juga pada ketua yang lama? Jika tidak, bukankah itu bagus untukku? Berarti mereka lebih menurutiku—“

“Jangan bicara yang tidak-tidak.” Potong Myungsoo. “Mereka senang ketika kau datang karena kau adalah seorang model terkenal, sadarlah! Kau bahkan tidak bisa bekerja sebaik ketua tim yang sedang tidak hadir itu. Dan jangan katakan bahwa dia adalah ketua yang lama. Karena kau tidak akan menjadi ketua yang baru, Jung Soojung.”

Soojung tertegun. Ini adalah kali pertamanya ia dimarahi atau dikritik oleh seseorang. Berkat keprofesionalannya dan sifat perfeksionisnya, ia sangat jarang menerima kritikan atau bahkan rasa tak puas di wajah orang-orang termasuk fotografer yang mengambil gambarnya. Dan sekarang, ia bahkan mendapatkan kritik pertamanya dari seseorang yang bahkan tak pernah marah atau berdebat dengannya sebelumnya, tentu saja ia terkejut.

“Hei… kenapa kau bicara seperti itu? Aku kan hanya—“

“Jangan pernah mengatakannya lagi kalau begitu. Tak peduli kau hanya bercanda atau apapun, jangan pernah mengatakannya lagi.” Potong Myungsoo lagi. Pria itu menyelesaikan suapan terakhirnya setelah berhasil menyelesaikan hampir seluruh makanannya ekstra cepat, lalu kemudian berdiri. “Aku selesai.” Ujarnya singkat lalu berbalik membelakangi Soojung untuk melangkah menjauh.

Baru saja beberapa meter, Myungsoo melihat Sungyeol berlari ke arahnya seperti orang kesetanan. Ketika sampai di hadapannya, pria itu nampak tersengal-sengal dan uap putih bertebaran di sekitar hidung dan mulutnya.

Ya! Ke mana saja kau ini? Aku… mencarimu ke mana-mana, kau tahu?” ujar Sungyeol. Ia menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil napas panjang. “Sooji… dia ke sini. Dia ada di sini sekarang.”

“Apa?!” tanpa bertanya lebih lanjut, Myungsoo kemudian memberikan piring kosongnya pada Sungyeol lalu berlari ke lokasi pemotretan.

-o0o-

Sooji merasa buruk karena tak dapat melakukan apapun di rumahnya. Sepeninggal Wooyoung dan Jieun—yang mati-matian berusaha membawa suasana kembali seperti biasa setelah pernyataannya yang tiba-tiba dan seolah menganggap tak pernah terjadi apa-apa, namun tentu saja gagal—Sooji baru merasakan kesepian yang kentara di setiap helaan napasnya. Rumahnya terlalu besar, dan terlalu sedikit orang yang berada di dalamnya. Orangtuanya sangat jarang pulang ke rumah, dan hanya pulang jika ada sesuatu yang penting atau jika urusan bisnis mereka sudah selesai. Adiknya, Sangmoon, selalu pulang larut malam akibat aktivitas kuliahnya yang menyita hampir seluruh waktunya hingga hal yang dilakukan laki-laki itu ketika pulang hanyalah tidur untuk dapat beraktivitas di esok paginya. Jadi, selain mengajak ngobrol beberapa pembantu rumah tangga yang disewa keluarganya, Sooji hampir tak memiliki kegiatan lain. Ditambah lagi dengan aturan bahwa ia tak boleh menggunakan tubuhnya secara berlebihan.

Namun hari ini, para pembantu pun bahkan tak dapat diajak mengobrol. Mereka terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sooji sebelumnya sudah berusaha mendesain sesuatu di kamarnya, di buku note miliknya yang selalu ia bawa ke mana pun, namun hal tersebut rupanya tak begitu berguna. Rasa bosan itu kembali menghantuinya.

Alhasil, Sooji dengan nekat berniat menyusul rombongan timnya ke Gyeryongsan seorang diri.

Namun rupanya niatnya tersebut diketahui oleh Wooyoung yang pagi itu mampir ke rumahnya terlebih dahulu tepat di kala ia baru saja keluar dari rumah. Dan seperti yang gadis itu duga, Wooyoung melarangnya mati-matian. Pria itu memintanya untuk memikirkan keputusannya sekali lagi, dan memikirkan kesehatannya, juga orang-orang yang mengkhawatirkannya. Perdebatan antara Sooji dan Wooyoung berlangsung cukup lama hingga akhirnya Wooyoung menyerah. Ia membiarkan Sooji pergi dengan syarat dirinya yang harus mengantarkan gadis itu hingga sampai di tempat dengan selamat.

Dan dengan begitulah Sooji dan Wooyoung berangkat ke Gyeryongsan siang itu.

Gyeryongsan yang letaknya tak begitu jauh menyebabkan perjalanan mereka terasa singkat. Hanya butuh waktu dua jam dan mereka telah sampai di lokasi. Sooji dan Wooyoung berpisah di pintu masuk—setelah mewanti-wantinya untuk tidak lupa minum obat dan menjaga kondisi tubuh—gadis itu pun masuk sendirian ke lokasi pemotretan.

Jalan setapak yang sedikit menanjak, hampir membuat Sooji kewalahan meskipun jaraknya tak seberapa. Untunglah ia berhasil mengatur napasnya dan meminimalisir terjadinya hal-hal tak menyenangkan di hari pertamanya kembali bekerja.

Orang pertama yang menyadari kehadirannya adalah Sungyeol yang kebetulan tengah makan seraya berbicara dengan penata riasnya di lokasi pemotretan. Mata besar Sungyeol langsung membulat, lalu pria itu meletakkan piring makanannya di atas meja dan berlari menyongsong Sooji sambil berkata,

“Sooji?!”

Seruan Sungyeol yang cukup keras tentunya menarik perhatian kru dan staff yang lain, sehingga dalam waktu singkat, Sooji sudah menjadi pusat perhatian setiap orang yang ada di sana. Respon mereka sangat baik, terlebih ketika kru desainer menghampirinya dan menyatakan betapa mereka bersyukur Sooji kembali.

“Oh, tunggu, aku akan memanggil Myungsoo. Dia harus tahu bahwa kau ada di sini. Apa kau memberitahunya?” Sooji menggeleng menjawab pertanyaan Sungyeol. “Kalau begitu kau tunggu di sini.”

Selanjutnya, yang terdengar adalah teriakan Sungyeol sembari berlari ke sana ke mari mencari sosok Myungsoo sementara Sooji masih dikerubungi oleh beberapa staff dan kru yang menanyakan apa alasan keabsenannya, lalu menawarkannya tempat duduk dan makanan. Beberapa menit kemudian, saat ia tengah duduk di atas kursi sambil meminum air putih, Myungsoo datang menghampirinya dengan napas yang tersengal-sengal. Pria itu bahkan harus menopang tubuhnya dengan sebelah tangan bertumpu di atas meja di hadapan Sooji agar dapat berdiri tegak.

Ya… kau… seharusnya… memberitahuku…” ujar Myungsoo patah-patah. “Apa yang menyebabkan kedatanganmu ke sini?”

Sooji tersenyum lalu menggeleng. “Entahlah, sepertinya aku merindukan pekerjaan ini lebih cepat dari yang kukira.”

Myungsoo tersenyum. Setelah deru napasnya beralih normal, pria itu kemudian menarik sebuah kursi ke dekat Sooji dan duduk di sana. “Jadi urusan apa yang kau katakan itu hingga kau harus meninggalkan pemotretan terakhir ini? Dan jika urusan itu sangat penting hingga kau harus meninggalkan pemotretan hingga tiga hari, lalu kenapa kau berada di sini sekarang? Apa kau selesai dengan urusanmu?”

Sooji mengangguk lagi. Sementara Myungsoo menatapnya dengan penuh curiga—namun Sooji tentu saja mengabaikan hal itu.

“Yah… bagaimanapun, untunglah kau kembali, Bae Sooji.” Ujar Myungsoo lagi disertai senyum lebar hingga matanya menyipit dan membentuk sebuah eye smile. Senyum kesukaan Sooji. Senyum yang sudah lama sekali tidak ia lihat.

Lamat-lamat, di saat Sooji tengah menikmati senyum Myungsoo, gadis itu mendengar suara langkah kaki mendekati mereka berdua. Lalu kemudian seseorang yang berdiri beberapa meter dari mereka angkat bicara.

“Siapa kau?”

Sooji menoleh, ia melihat seorang wanita tinggi dengan badan kurus bak model tengah menatapnya seolah kedatangannya ke sana adalah kesalahan besar. Terlihat jelas bahwa wanita di hadapannya ini tidak menyangka ia akan berada di sini—meskipun Sooji sendiri tak tahu siapa dia meskipun wajahnya terlihat familiar.

Namun ketika diamati, Sooji juga melihat ekspresi lain dalam manik itu. Seperti ekspresi… cemburu?

Tapi kenapa?

Siapa gadis ini?

-o0o-

 

Soojung tercengang begitu menyaksikan Myungsoo yang tiba-tiba berlari pergi meninggalkannya begitu Sungyeol memberitahunya bahwa seseorang bernama Sooji berada di sini. Soojung tidak tahu siapa itu Sooji, pun tak pernah mendengar namanya. Gadis itu pun kemudian menghampiri Sungyeol yang berdiri diam sambil menatapnya dengan sebuah piring kosong di tangannya.

“Siapa itu Sooji?”

Sungyeol mengangkat sebelah alisnya. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada sepiring makanan yang hampir masih utuh di tangan Soojung.

“Kenapa kau ada di sini? Kau makan bersama Myungsoo?!” tanya Sungyeol sedikit terkejut. Entah kenapa, dalam hatinya, pria itu merasa terluka begitu mengetahui kenyataan ini. “Jadi karena itu kau menolak makan siang denganku?”

“Siapa Sooji?” tanya Soojung setengah memaksa. Gadis itu menggunakan jurus merajuknya yang membuat Sungyeol mau tak mau mendesah pasrah.

“Dia adalah ketua tim desainer yang sekarang kau pimpin itu—ah, mungkin tak lagi mengingat ia sudah kembali.” Ujar Sungyeol. Lalu pria itu maju mendekati Soojung, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. “dan lagi, dia adalah tunangan Myungsoo.”

Mata Soojung membulat sempurna. Tunangan? Jadi pria itu serius? Batin Soojung. Lambat laun, amarah dan rasa penasaran mulai merambati akal sehatnya. Ia penasaran. Sangat penasaran pada sosok seorang wanita yang berhasil merebut Myungsoonya secara pria itu sadari atau tidak.

“Karena itu, kau sebaiknya menjauhinya, Jung Soojung. Entah kau mengajaknya makan berdua sebagai teman atau hal lain, tapi kau lebih baik tidak membuatnya berpisah dari Sooji, karena aku tidak akan mengizinkannya—hei!” Sungyeol berseru begitu melihat Soojung yang tampak tak mendengarkan perkataannya dan melengos pergi begitu saja dengan langkah seribu setelah meletakkan piringnya yang penuh di atas piring Myungsoo yang kosong di tangan Sungyeol. Melihat hal itu, Sungyeol sekali lagi mendesah kesal dan mengikuti kepergian gadis itu dari belakang.

Soojung tak tahu apa yang merasukinya hingga ia berbuat demikian. Namun, amarahnya seolah terbakar habis dan ia tak bisa diam saja begitu melihat sosok Myungsoo yang tengah duduk di sebuah kursi yang berada dekat sekali dengan seorang wanita yang juga tengah duduk di kursi yang lain. Semula, Soojung hendak meluapkan amarahnya pada siapapun orang yang telah merebut Myungsoonya itu. Namun, ketika melihat Myungsoo tersenyum dari kejauhan, gadis itu terdiam.

Senyum itu…

Seumur hidupnya, meskipun Soojung mengenal Myungsoo selama bertahun-tahun lamanya, namun Soojung tidak pernah melihat senyuman itu sebelumnya. Lebih tepatnya, Myungsoo tidak pernah tersenyum padanya seperti itu meskipun pria itu berkata bahwa pria itu menyukainya.

Apakah perasaan Myungsoo benar-benar telah berubah kini? Apakah sudah benar-benar tak ada ruang lagi untuknya di hati pria itu? Apa Myungsoo benar-benar telah menghapus segala kenangan tentang dirinya?

Soojung maju selangkah. Dua langkah. Dengan raut tercengang, gadis itu pun mengatakan satu kata yang membuat keduanya menoleh.

“Siapa kau?”

Soojung menatap Sooji dengan kening berkerut. Ia mengamati wajah gadis itu dengan teliti. Mengingat-ingat dalam hati bagaimana rupa orang yang telah merebut hati Myungsoo yang seharusnya menjadi miliknya. Soojung menatap Sooji seolah gadis itu adalah pencuri yang tertangkap basah meskipun Sooji tidak merasa demikian.

Sooji kemudian menatap Myungsoo yang kemudian berkata,

“Sooji, dia adalah Krystal, Jung Soojung, model dari Amerika. Dia adalah temanku di sana dulu.” Ujar Myungsoo. “Dan dia berada di sini sekarang untuk membantu tim kami karena kepergianmu.”

Sooji membulatkan mulutnya dan menyuarakan ‘o’ pelan. Ia kemudian tersenyum pada Soojung lalu berdiri dan mengulurkan sebelah tangannya ke depan. “Namaku Bae Sooji. Maaf… aku pasti sudah banyak merepotkanmu karena ketidakhadiranku, ya? Aku benar-benar minta maaf…”

“Aku tidak merasa kerepotan.” Ujar Soojung. “Aku menyukainya. Sangat menyukainya.” Sambungnya kemudian disusul dengan sebuah tatapan angkuh.

Sungyeol yang tiba di tempat beberapa saat sebelumnya dan berdiri di sebelah Soojung, sempat menyikutnya, memperingatinya bahwa kata-kata itu sangat tidak baik digunakan dalam perkenalan pertama, namun nampaknya Soojung tak peduli. Gadis itu terbakar cemburu hingga habis tak tersisa. Dan sepertinya, gadis itu tak pernah belajar bagaimana caranya menguasai api tersebut.

Dengan canggung, Sooji menarik kembali tangannya yang terulur. Gadis itu kemudian tertawa canggung. “A-ah… begitu…,” ujarnya.

Myungsoo mendelik tajam menatap Soojung, namun gadis itu tak peduli. Ia bahkan tak mengalihkan pandangannya dari Sooji sedikit pun. Mengamati penampilan gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. Hal yang selanjutnya ia lihat adalah Myungsoo yang tiba-tiba berdiri lalu memegang kedua bahu Sooji untuk kemudian memutar tubuh gadis itu.

“Sooji, kau pasti lelah. Biar kuantar kau ke kamarmu.” Ujar lelaki itu seraya mendorong tubuh Sooji untuk maju ke arah yang ia inginkan. Meninggalkan Soojung dan Sungyeol di tempat.

Melihat kepergian Sooji dan Myungsoo membuat Soojung menggigit bibir kesal. Gadis itu kesal setengah mati hingga hatinya terasa sakit dan rasanya ia ingin menangis. Diam-diam, ia mengepalkan kedua telapak tangannya yang berada di kedua sisi tubuhnya.

-o0o-

“Ini dia kamarmu.” Ujar Myungsoo begitu mereka sampai di sebuah kamar untuk dua orang di hotel yang disewa perusahaan mereka. “Kau akan sekamar dengan Ahreum dari tim stylist.”

Sooji mengangguk-anggukkan kepalanya mengamati seisi ruangan sementara Myungsoo yang membawakan tas ransel berisi barang-barang Sooji sejak tadi, memindahkan benda tersebut ke pojok ruangan lalu berjalan kembali ke arah sang gadis. Untuk beberapa saat, mereka bertukar tatap.

“Myung, ada apa?” tanya Sooji.

Myungsoo sedikit terkejut begitu menerima pertanyaan semacam itu dari Sooji yang tak ia perkirakan sebelumnya. Matanya sedikit bergetar dan hal itu membuat kecurigaan Sooji meningkat. Pria itu tak ingin Sooji tahu tentang apa yang ia pikirkan. Gadis ini tak seharusnya tahu.

“Tidak ada apa-apa. Kenapa kau bertanya seperti itu?” Myungsoo berbohong sambil sedikit tersenyum.

Sooji menyipitkan matanya, tak percaya dengan ucapan pria di hadapannya. “Apa ada sesuatu tentang Soojung yang mengganggumu?” tanya Sooji lagi.

Myungsoo terdiam. Tak menyangka tebakan Sooji bisa sejitu itu. Namun pria itu pun rupanya tak lelah berbohong. Ia menggeleng, lalu meletakkan tangan kanannya di pundak kiri gadis itu seraya meremasnya lembut.

“Tidak ada apa-apa, beristirahatlah sebentar, setelah itu kau boleh menyusul kami kembali. Oke? Aku akan menunggumu di lokasi.” Ujar Myungsoo dengan seulas senyum lalu pria itu pun pergi setelah melepaskan tangannya dari bahu Sooji dan menerima anggukan samar dari gadis itu.

Namun, meski pintu telah ditutup dan suara langkah kaki Myungsoo yang berjalan menjauh telah hilang, perasaan janggal itu tak mudah hilang dari benak Sooji. Gadis itu masih terdiam, berpikir keras. Karena ia yakin ada sesuatu yang terjadi dan ia tidak mengetahuinya.

-o0o-

Ketika Sooji kembali bekerja, ia kembali menjadi pemimpin tim desainer dan hal itu membuat Soojung mau tak mau merasa tersingkirkan. Gadis itu dalam sekejap kehilangan pekerjaannya sehingga ia lebih banyak menganggur di lokasi. Meskipun Soojung termasuk gadis yang lahir dan tumbuh dalam keluarga berada, gadis itu tak bisa diam. Ia tak tahan ingin melakukan sesuatu, sehingga akhirnya ia bersedia melakukan apapun yang ia bisa di sana—meskipun kebanyakan para staff mengabaikannya atau bahkan melarangnya melakukan hal-hal tersebut. Sungyeol pun sempat melarangnya melakukan pekerjaan sembarangan seperti itu, namun Soojung mengabaikannya.

Hari pun berganti, dan keesokan harinya, pagi-pagi sekali, pemotretan sudah dimulai demi menuntaskan pekerjaan mereka lebih awal. Dan di hari itu, Soojung kembali menjadi satu-satunya orang tanpa pekerjaan di sana. Sungyeol menyuruhnya untuk pulang kemarin malam, namun Soojung menolak dan berkata bahwa dirinya tidak akan pulang sebelum mereka pulang. Lagipula, nampaknya Myungsoo pun tak peduli—yah, omong-omong pria itu memang terus mengabaikannya sepanjang hari kemarin, setelah Sooji kembali. Di pagi itu, Soojung bahkan melihat pemandangan romantis yang tidak diinginkannya.

Ketika mereka baru berkumpul di lokasi pemotretan, Soojung melihat Sooji menghampiri Myungsoo dengan sebuah sandwich di tangannya. Dan Myungsoo menerimanya dengan wajah sumringah seolah sandwich itu adalah hadiah paling berharga di dunia. Kala itu, Soojung hanya bisa berdecak kesal.

Barangkali ia cemburu.

Lagipula, siapa yang tidak cemburu melihatnya?

Kembali ke lokasi pemotretan, Soojung nampak terdiam di dekat sebuah pohon sembari mengamati pemotretan tersebut dengan raut bosan. Sesekali, gadis itu mendesah begitu adegan pagi tadi terputar di benaknya. Membuatnya mengeluarkan uap putih dari mulutnya.

Saat sedang melamun, tiba-tiba properti yang berupa bola basket menggelinding ke arahnya lalu tanpa sempat ia tangkap, bola tersebut terus menggelinding ke jurang di belakangnya hingga akhirnya berhenti beberapa meter karena tersangkut pada sebuah batang pohon.

“Aku akan mengambilnya!” seru Soojung sambil beranjak begitu ia sadar bahwa hanya dirinyalah satu-satunya orang terdekat dengan posisi bola tersebut.

Ya! Diam di sana! Jangan bergerak!” seru Myungsoo.

Soojung mendesis lalu membalikkan kepalanya sebelum benar-benar melangkah. “Wae? Kau tidak suka aku membantumu? Aku bisa menjadi orang yang berguna di sini, Kim Myungsoo!”

“Bukan begitu, tempat itu berbahaya, lagipula kau tidak bisa menjaga keseimbangan!” seru Myungsoo yang berusaha secepat mungkin berlari menuju ke arah Soojung.

Soojung memutar kedua bola matanya. Tak mendengarkan perintah Myungsoo, gadis itu akhirnya meneruskan langkahnya. Lagipula, meskipun jurang tersebut agak curam, namun Soojung yakin ia bisa mencapai bola tersebut. Bola itu hanya berjarak sekitar 2 meter dari tempatnya berdiri, bukan jarak yang sulit dicapai.

Di setiap langkah yang diambil Soojung demi mencapai bola tersebut, gadis itu selalu memegang batang-batang pohon terdekat dengannya. Ia akui keseimbangannya memang buruk, sehingga mau tak mau ia harus seperti itu jika tidak ingin terjatuh. Saat dirinya telah berada di depan bola, Soojung tersenyum. Ia melepaskan pegangannya pada batang pohon di dekatnya lalu berjongkok dan mengambil bola tersebut. Namun, ketika ia berbalik, keseimbangannya mendadak hilang dan hal terakhir yang ia ingat adalah ia mendarat pada sesuatu yang keras dan tubuhnya terasa sakit semua. Ia juga hanya ingat mendengar suara teriakan histeris Myungsoo, dan merasakan seseorang menggendongnya sebelum kesadarannya hilang.

Beberapa saat kemudian, ketika kesadarannya kembali, Soojung menoleh dan melihat Myungsoo berada di sampingnya sambil menatapnya khawatir. Sepertinya mereka telah berada di pos kesehatan kini mengingat Soojung dapat merasakan betapa ia berbaring di tempat yang empuk namun tak seempuk tempat tidur di hotel.

“Jam berapa sekarang?” tanya Soojung.

“Jam 9.” Balas Myungsoo. “Pemotretan dihentikan karenamu. Berbangga hatilah.” Lanjutnya.

Soojung terkekeh. “Begitu? Maaf…”

“Tak apa.” Myungsoo mendesah sebelum melanjutkan, “Lagipula kami telah mendapatkan cukup banyak gambar untuk diterbitkan. Sebenarnya cepat atau lambat pemotretan akan berhenti juga, bukan?”

Soojung tak menjawab. Hal itu menyebabkan Myungsoo untuk kembali bungkam. Membawa keheningan bersama mereka.

“Myungsoo—“

“Aku tidak ingin kita bertemu lagi setelah ini.”  Potong Myungsoo.

Mendengar pernyataan tiba-tiba itu, Soojung terdiam. Tanpa sadar, napasnya tercekat dan gadis itu menahan diri untuk tidak mengeluarkan air mata. “Ap-apa?”

“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Setidaknya tidak seperti ini. Tidak ketika kau masih memiliki perasaan itu terhadapku.”

“Tapi… kenapa?”

“Soojung, aku telah bertunangan!” Myungsoo meninggikan nada suaranya frustasi. “Dan gadis itu telah begitu baik padaku selama ini. Ia adalah bagian dari masa lalu yang kulupakan dan sekarang aku menyesal melupakannya. Dulu kau mati-matian memaksaku mengingat masa laluku, bukan? Kurasa jika aku bersamanya, aku akan ingat dengan masa laluku lebih cepat. Bukankah itu yang kau inginkan?”

Ya, itu yang Soojung inginkan. Dulu. Namun jika keadaannya seperti ini, maka ia tak dapat membiarkan hal itu terjadi.

“Tapi kenapa? Kenapa kau ingin mempertahankan pertunanganmu? Kau bilang kau tidak mencintainya, Myungsoo-ya! Kau bilang kau mencintaiku!”

Myungsoo menundukkan kepalanya. “Soojung, pertunangan ini bukan hanya tentangku atau tentangnya, ini tentang keluarga kami. Dan kami tidak bisa berbuat apapun tentang hal itu. Ini untuk membantu keluarga masing-masing.”

Soojung bangkit dari posisi tidurnya. “Dengar, dengar, kau yang mengatakannya sendiri! Berarti ini adalah perjodohan! Kau tidak menyukainya dan kau terpaksa melakukannya, bukan?!”

“Aku…” Myungsoo terdiam sesaat sebelum melanjutkan, “Aku tidak pernah berkata bahwa aku tidak mencintainya.”

Gadis itu membelalakkan mata dan rasa tertohok di dadanya tak dapat dihiraukan begitu saja. Rasanya sangat sakit hingga ia hampir tak bisa bernapas, membuat seluruh air matanya bergumul di pelupuk mata, menghalau penglihatannya.

“Dan aku memang mencintaimu, Soojung, sungguh! Tapi itu dulu…”

“Hentikan!”

“Kini aku sedang mencoba mencintainya. Dan gadis itu tidak sulit untuk dicintai.”

“Berhenti!!!” Soojung memekik. Kini, air matanya tumpah dan mengalir bebas di kedua pipinya. Kepala gadis itu tertunduk sementara kedua tangannya mencengkeram erat seprai tempat tidur yang ditempatinya.

“Kau tahu, kau begitu egois! Kenapa? Karena kau bahkan bicara tanpa mementingkan perasaanku!” seru Soojung. “Kau berkata bahwa kau mencintaiku dua tahun lalu dan kau bersedia menunggu hingga aku siap mengatakan perasaanku! Kau berkata kau akan menunggu! Kau menunggu selama dua tahun! Tapi hanya dalam dua bulan pilihanmu berubah? Perasaanmu berubah?!”

“Jung Soojung, dua tahun adalah waktu yang cukup lama bagi seseorang untuk—“

“Aku bahkan pernah membuat seseorang menunggu selama lima tahun, Myungsoo! Dan mereka tidak goyah!”

“Jung Soojung…”

Tiba-tiba pintu ruangan mereka terbuka dan sosok Sungyeol muncul dari sana. Sungyeol tak sempat melihat keadaan dan tampaknya tak menyadari bahwa Soojung sedang menangis karena ia terlihat panik. Matanya langsung bertemu dengan Myungsoo.

“Myungsoo, Sooji kolaps. Dia ada di ruangan sebelah. Lebih baik kau ke sana. Sekarang!” ujarnya lalu dengan cepat kembali keluar dari kamar dan menutup pintu dengan terburu-buru sehingga menimbulkan suara berisik.

Myungsoo tertegun sejenak. Lalu kemudian matanya membesar dan sontak, ia segera bangkit dari duduknya. Baru saja ia hendak pergi meninggalkan Soojung untuk menuju Sooji, tangannya terlebih dulu ditahan oleh gadis itu, mencegahnya untuk pergi.

Myungsoo berbalik dan menemukan Soojung telah berdiri di belakangnya sambil memegang salah satu tangannya.

“Jika kau bisa berlaku egois, aku pun bisa melakukannya.” Ujar Soojung.

Myungsoo terdiam, namun sesaat kemudian, pria itu sadar apa yang akan terjadi. “Tunggu, jangan bicara. Jangan dilanjutkan!”

“Aku mencintaimu.” Ujar Soojung lagi. “Itu adalah jawabanmu untuk dua tahun ini.”

Myungsoo tercengang. “Soojung, jang—“

Sebelum pria itu melanjutkan kata-katanya, Soojung telah terlebih dulu menarik lengannya, memegang belakang lehernya, mengikis jarak di antara mereka, dan menempelkan bibirnya pada bibir Myungsoo. Mengunci mulutnya dari apapun yang ingin pria itu katakan pada Soojung.

TO BE CONTINUED

 

Haaaaaaaaaaiiiii~~~~

Plis, aku tau kalian pasti akan kesel setengah mati abis baca part ini. PASTI! DIJAMIN! Karena jujur aja, aku juga kesel-_- dan lebih keselnya lagi, karena aku bakal update lebih lama dari biasanya soalnya kuliah udah dimulai:( Padahal RM lagi greget bangetttt udah masuk klimaks iniiiii aaaaaaaa!!!!!

Aaaah… waktu emang ga kerasa, ya! Aku inget banget aku ngerjain FF ini dari taun lalu, dan sekarang udah mulai pertengahan tahun lebih dan aku masih di sini, ngerjain hal yang sama :’) maaf banget ternyata aku updatenya lama banget ya:( Yah… abisnya gimana:(

Yah… pokoknya selamat menikmati part ini!!! Maaf mungkin di sini akan banyak banget scene yang bikin kalian kesel karena banyaknya scene myungstal. Tapi percayalah, itu karena keperluan cerita. Karena udah aku ingetin juga genre FF ini adalah ‘angst’. Dan ‘angst‘ itu berarti menguras emosi. Dan itulah yang aku coba capai di sini. Jadi cukup sabar ya… inget aja. Hidup gak selamanya manis. Kalian harus melihat hujan dulu sebelum melihat pelangi :’) #apasih wkwkwk

Ya pokoknya selamat menikmati part yang kubuat lebih panjang hampir dua kali lipat ini! Love you all<3

Advertisements

46 responses

  1. irma

    yeayyy akhirnya dipost …author daebak

    August 25, 2014 at 2:40 pm

  2. fauzia_15

    ANDWAEEEE……knp hrs TBC????
    Huwaaa lg seruuu….author pliss bgt dong next partnya jgn lama2….pliisssss……
    aduuhh aku bs ga tidur nyenyak nih klo msh gantung bgt kyk gini…aku penasaran bgt sm scene terkahit.
    suzy colaps knp? Dan apaansih tuh soojung main cium myungsoo sembargn aja dehh..
    Aduy author jebal jebaall buthakhaeyo….jgn lama upadetanya..
    gapapa deh meskipun ga pjg word nya tp author bs update lancar aja aku udh seneng bgt kok..ciyus deh
    Ya ya ya author yg baik hati dan calon mahasiswa teladan….update ff ini segera yaa….jebaall

    August 25, 2014 at 2:58 pm

  3. KIMBAE

    Udh lama bgt nunggu”in lanjutan ff ini,,
    Dan emng bener aku kesel setengah mati entah kesel ama Myungsoo atau Soojung…
    2 orng itu bener” bikin emosi….
    Bisakah Soojung mengalah ?? Taw kah Soojung kalo Suzy bahkan udh nungguin Myungsoo ampe bertahun”???
    Jangan ampe Suzy meninggal thor,, di ff ini aku gk rela kalo nanti Myungsoo ampe ama Soojung… 😦
    Myungsoo bahkan blom ingat dgn jelas kedekatannya dengan Suzy dulu,,
    Pkoknya gk rela ampe Myungzy pisah..
    Next part ditunggu thor…
    Fighting…
    Myungzy jjaanngg… Author jjaanngg….

    August 25, 2014 at 3:16 pm

  4. aisyah amini

    bener2 klimaksnya.. aseli deg deg an bacanya.. aigoo suzy sakit apa sih sebenernya? aku yg lupa atau memang belum dijelasin.hehe
    lanjuuut thor..

    August 25, 2014 at 4:02 pm

    • Memang belum dijelasin penyakitnya^^

      August 27, 2014 at 10:09 am

  5. Dezee

    Akhir’y d post jg thor….
    Emang buat ksel n jg buat pnasaran heheheh
    jangan2 uri suzy dengarin apa yg diomong’in antara myung n kristal. Terus knp myung gk ,mau mlepas ciuman krista? Msih mengharap kristalkah myung?

    Next jngan lma2 thor.udah pnasaran nie

    August 25, 2014 at 4:22 pm

  6. yammpun pas liat ini udah update, seneng baget. ihhh soo jung relakan suzy ama myung
    jgn egoiss
    akhhh sooji kolaps. yaampun penyakitnya makin parah.akkkhhh tidah
    updateanmu sangat ditunggu thor

    August 25, 2014 at 4:23 pm

  7. rianaevi

    aigoo.. makin rumit.. moga myungzy bersatu deh. semangat ya.. ^^

    August 25, 2014 at 4:40 pm

  8. kuchiki

    Suzy mendengar pembicaraan myungsoo dgn krystal?apa hati myungsoo akn goyah lg?

    August 25, 2014 at 4:53 pm

  9. iec_4

    Bnr“ mnguras emosi..
    sooji skit ap?? klo myung tau?? apkh myung akn ttap d sisiny??

    August 25, 2014 at 5:48 pm

  10. speechless!!!gak tau mau ngomong apa….aaahh soojung benar” issssshhhhh…
    suzy lagi kolaps tuh…myung cepat pergi dari sana…ooohhh soojung pake main cium segala astaga!!!!!!!!!

    August 25, 2014 at 8:01 pm

  11. ika NF

    omo… soojung nekat ishh

    August 25, 2014 at 9:53 pm

  12. Ninda13

    yaampun, soojung bner” keterlaluan. myungsoo knapa kamu bisa janji sama soojung bkal nunggu dia, knapa kmarin ga bilang klo kamu cinta sooji biar soojung ngga kaya gitu. sebel jadinya sama myungsoo. sooji kolaps, cepetan kesana. jangan peduliin soojung lagi, ah bete. sooji sbenernya sakit apa? 😥
    next
    keep writing and fighting!

    August 25, 2014 at 10:28 pm

  13. And Ryuu Haa

    Iissh soojung mwnyebalkan…..aaaarrrrrrggghhhh….apa suzy dengerin myung sma soojung smpe bsa kolaps…aiigoo….

    August 25, 2014 at 10:30 pm

  14. fitria

    Iya thor, aku kesel banget sama chapter ini. Myungstal banyak, tapi enggak bikin cemburu, karena kedekatan mereka masih wajar. Tapi kenapa di akhir harus ada adegan kissnya sih? aku kesel.
    Khawatir keadaan sooji, tapi sempet bekaca-kaca juga saat sooji cerita ke temen2nya, sedih banget itu.
    Yah.. bakal lama yah thor, padahal lagi seru2nya.
    Yaudah deh, ditunggu chapter selanjutnya

    August 25, 2014 at 10:54 pm

  15. vie_3

    aigoooo….jung soojung jinjja…..suzy kolaps mlah nahan ‘2 myung main cium sgala….
    aissssss……ksihan suzy……bete bgt tuc sm si krystal….smoga suzy baik”2 sja
    lnjut thor

    August 26, 2014 at 12:55 am

  16. alia

    klimaksss bangett thorrrr 😀
    waaa suzy sebenernya sakit apaa si thorr?? hehe
    next parttt yaaaaa pleaseeeee
    gomawo 🙂

    August 26, 2014 at 1:32 am

  17. Leny

    Kyaaa…sumpah part ini nyesek banget.,wuahh
    suzy sakit apa sih???.part ini the best..feelnya dapat banget..keren thor~~~~~!!!!

    August 26, 2014 at 2:22 am

  18. Myungzy-ier

    aarrgggghhhh…
    jung soojuuuunnngggggg, di part ini nyebelin bgt dah, myung yg teges dong jadi cowok, kalo emang milih sooji ya tinggalin soojung, sooji kolaps lagi, semoga bisa sembuh,
    aish gregetan
    next thor ^^

    August 26, 2014 at 4:34 am

  19. novita Lzy sueweeties

    aiiggoo kasian eonniku 😥 Suzy .

    aiiggoo Myungsoo Oppa and soojung eonni Sma” Egois . izzzz

    ffnya kerenn

    next di tunggu

    August 26, 2014 at 4:34 am

  20. veda

    Yaaaaa jung soojung NAPPEUUUUNNN JINJA NAPEUUUUUINNNNNN
    NEXT PART 😀

    August 26, 2014 at 10:13 am

  21. dyyyy

    thor jgn buat suzy meninggal…..sy ingin myungzy bersatu….
    soojung egois bgt…..

    August 26, 2014 at 1:48 pm

  22. moon

    Ahhh gilak soojung ngeselin banget sumpaahhh.
    Sebenernya suzy sakit apa sih?

    August 26, 2014 at 4:37 pm

  23. HimaSayA

    astaga myung, suzy kolabs dan U masih aja ama soojung meski ditahan. knp ga nolak dan langsung pergisih
    myung terlalu lemah di sini , lemah dgn perasaandan plin pan
    sampe kpn mnesia trus thor? sampe suzy bner2 parah nnt?
    next thor

    August 26, 2014 at 11:04 pm

  24. Huaaa ending nya bikin gregettttt ><
    Yah update bakal lama … yg penting pasti update deh unn 🙂
    Lanjut trs unn

    August 27, 2014 at 3:11 am

  25. asri

    Aaaa krystal gila banget.. ayo myung cepet samperin suzy dong

    August 27, 2014 at 3:50 am

  26. aidilla

    soojung keras kepala banget sih
    sebenarnya suzy itu sakit apa sih? aku masih bingung
    yeay,, myung lebih milih suzy ketimbang soojung
    itu memang HARUS
    next »

    August 27, 2014 at 11:38 am

  27. nurul

    aaaah thor kenapa tbc kan jadi penasaran -,- thor semoga aja suzy bisa sembuh yaaa thor biar myungzy bersatu 😦

    August 27, 2014 at 1:07 pm

  28. suzyholic

    Omooo akhirnyaaaa dipoost *terharu* 😂😂
    Waah penyakit suzy akhirnya diketahui yaa.. myung jg harus taau biar bisa jagain suzy lebih ketaat..

    Aduuh jgn sampe myumg goyaah.. tapi sih kayaknya walo adegan terakhir menyesakkan semoga akhirnya suzy bisa bahagia 😊

    August 27, 2014 at 2:23 pm

  29. snowwhite679

    uwaaa,,keren

    August 28, 2014 at 3:40 pm

  30. snowangel

    Thor plese jangan sad ending ya 😦

    August 28, 2014 at 5:52 pm

  31. noname

    aduh knp tbc thor ._. gedeg banget sma myungsoo disini ._. apalagi sma soojung ._. aduh si suzy kasian banget lagi tuh ._. thor plissss jangan lama2 next chapter nya ya udh penasaran banget banget banget ._.

    August 28, 2014 at 10:26 pm

  32. Ditnggu kelanjutannya thor,,;)

    August 28, 2014 at 11:34 pm

  33. dewi yanti

    Apa2an tuh Soojung ngak bisa ngalah bgt…Duh suzy collapse..bahaya ngak???
    Moga suzy cepet sembuh ya..n myung ngak goyah lagi..
    Lanjut thor..jangan lama2..

    August 29, 2014 at 1:00 pm

  34. Reblogged this on LOTUSKim's and commented:
    RM
    Sial sial sial~
    Ah benci banget! Feelnya bener” dipermainkan nih kkk
    Soo oppa abis di kiss, tampar! Tampar!
    Jii eonni di ruangan sebelah soo oppa!!!!!
    Udah deh jii eonni pergi aja, tapi bukan ‘pergi’.
    Mwoya~ gimana nih masa soo oppa malah sama soojungi bukan nemenin jii eonni! Penyakit jii eonni ga usah dikasih tau sekarang ah. Sebel banget!
    Fighting!

    August 30, 2014 at 4:13 am

  35. daebakk..bikin penasaran …di tunggu next chapternya yaaaahhhhh author…saranghe 😀

    August 30, 2014 at 6:43 am

  36. ginevratri

    ahhhhh part iini bikin frustasi bgt deh…
    lanjut thor

    August 30, 2014 at 9:46 am

  37. 김 수 어 연

    ige mwoya..?????

    August 31, 2014 at 5:58 pm

  38. ditecadell

    omo omo,, frustasi bacanya… soojung gak nyerah2 aihhh..
    sudahlah yaaa.. ditunggu next part nyaa

    September 1, 2014 at 3:24 am

  39. inchan

    sebenarnya suzy sakit apa sih?

    September 3, 2014 at 9:24 am

  40. dilla

    ihhh greget bangettt thorrr
    aaaaa kasian suzynyaaaaa
    lanjutt thorrr

    September 6, 2014 at 12:08 pm

  41. Dan aku baru sadar kalo aku belum baca part 12 nya -_- Btw, aku masih kesal sama Soojung :v

    September 15, 2014 at 1:24 am

  42. lily

    kadang cinta bisa begitu egois…. pantaskah… apakah suzy mendengar pembicaraan mereka sehingga dia kolaps… kyknya sooji akan mengalah nih thor… karena penyakitnya… begitukah??? ataukah dia juga akan berjuang mempertahankan cintanya??? seharusnya sih ya thor… hehehe… so aku lanjut ya ke next partnya

    September 15, 2014 at 10:20 am

  43. Kasihan Suzy 😭

    September 16, 2014 at 4:16 pm

  44. Deborah sally

    Aku benci 2 orang itu. Yang satu egois, yang satu kurang tegas!

    October 5, 2014 at 2:04 pm

  45. OMG…
    sooji kolaps dan myung dan soojung kissue walaupun itu dipaksa soojung…
    huaaa… sabar ne sooji…
    myung gk tegas ni…. tegas dong…

    June 17, 2015 at 7:36 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s