KIM MYUNGSOO FANFICTION

Old School Memories

Old School Memories

Old School Memories

 

Al’s Project

 

► Infinite Kim Myungsoo (L) and Lee Soohae (OC) ◄

Ficlet | Slice of Life, Romance | G

Find me on http://idorable.wordpress.com/ 😀

A short story dedicated for our Amoeba ❤

.

.

.

Lee Soohae tahu, kembali ke sekolah berarti kembali membuka kisah masa lalunya.

 

*****

Bohong jika Soohae bilang ia tak merindukan sekolahnya. Ia merindukan bau bunga-bunga yang tumbuh di depan kelasnya, bau roti panggang dari kantin, dan juga bau parfum pria yang dulunya duduk di belakangnya.

 

Langkah-langkah heels Soohae melangkah mantap memasuki gerbang sekolah. Gerbang besi tua itu masih sama seperti lima tahun lalu saat ia meninggalkannya. Hitam dan kokoh.

 

Soohae rasa, tidak ada yang berubah dari sekolahnya ini. Semua tetap sama pada tempatnya. Hanya saja, sore ini ia melihat banyak orang yang berkumpul di tengah lapangan sekolah. Teman-temannya.

 

“Hai,” sapanya ramah kepada teman-temannya.

 

Satu persatu, ia mulai berbicara pada teman-teman lamanya. Saling bertukar cerita selama lima tahun terakhir semenjak mereka lulus. Sesekali, canda dan tawa mengiringi kisah mereka.

 

Satu dering nyaring dari ponsel Soohae membuatnya harus menyingkir dari kerumunan, mengangkat ponselnya.

 

“Ya?”

 

Suara di seberang sana membuat Soohae mengerutkan keningnya. Ia mengetuk-ngetukkan ujung heels-nya tak sabar pada lantai batu lapangan sekolah. Tak lama akhirnya ia menutup teleponnya dan pergi dari tengah lapangan.

 

Soohae berjalan menuju koridor kelas. Langkahnya terasa berat dan ia ingin mengutuk peneleponnya tadi, jika orang itu ada di depan matanya sekarang ini. Orang itu menagih naskahnya di hari reuni sekolahnya. Bagus.

 

Langkah kakinya berhenti di depan salah satu pintu kelas. Kelasnya dulu saat masih di sekolah. Ia mengulas senyum tipis tatkala membuka pelan kenop pintu kayu yang masih sama seperti dulu.

 

“Permi– oh!” Soohae berjengit kaget melihat sesosok pria di dalam kelas. Pria itu tinggi, berpotongan rapi, dan ia sedang duduk di salah satu kursi sambil mengutak-atik ponsel di tangannya.

 

Mata Soohae membulat memerhatikan sosok pria itu. Ia mengenal betul sosoknya. Meski begitu, Soohae akui pria itu banyak berubah. Menjadi lebih tinggi dan… lebih tampan?

 

“Maaf aku… tidak… aku akan keluar,” ujar Soohae salah tingkah sambil menutup pintu kayu itu, sebelum suara sang pria menghentikannya.

 

“Masuk saja… Soohae?”

 

Soohae menelan ludah, pria itu ingat siapa dirinya meski mereka kehilangan kontak selama lima tahun. Meski Soohae kini lebih banyak berubah.

 

“Eum… hai… Myungsoo?” ujar Soohae ragu ketika akhirnya ia memasuki kelas.

 

Myungsoo –pria itu- mengulas sebuah senyum pada Soohae sebelum kembali mengalihkan pandangan pada ponselnya lagi.

 

Soohae menggigit bibir bawahnya cemas dan duduk tepat di bangku di hadapan Myungsoo, tempatnya dulu. Ia mengeluarkan notebook kecil dari tas jinjingnya dan memulai pekerjaannya. Mengedit naskah yang harus ia serahkan hari ini pada editornya.

 

“Kau menulis apa?” suara Myungsoo membuyarkan konsentrasi Soohae dari notebook-nya. Bulu kuduknya sedikit berdiri tatkala ia menyadari Myungsoo mencondongkan tubuhnya ke arahnya. Hidungnya dapat mencium parfum Myungsoo, yang terasa sama seperti lima tahun lalu.

 

“Pekerjaanku,” jawab Soohae singkat berusaha kembali berkonsentrasi. Ia menggeser sedikit kursinya, agak menjauhi Myungsoo.

 

Myungsoo mengangguk dan kembali bersandar pada kursinya sendiri. Soohae meliriknya dari sudut matanya. Ia merasa jantungnya berdegup lebih cepat saat ini, dan ada suatu perasaan aneh menjalari seluruh tubuhnya. Perasaan aneh yang sudah lama tak ia rasakan.

 

Keheningan kembali menyergap mereka berdua. Soohae kembali pada notebook-nya meski sekarang konsentrasinya sudah terpecah. Myungsoo tampak santai, kembali pada ponsel di genggamannya.

 

Suara dering nyaring ponsel dalam genggaman Myungsoo membuat Soohae menoleh, menghentikan pekerjaannya. Myungsoo membuat gesture mintaa maaf pada Soohae sebelum ia mengangkat ponselnya.

 

Mata Soohae terpaku pada Myungsoo. Pembicaraan pria itu tampak menyenangkan. Ia sesekali mengulas senyum yang membuat jantung Soohae tak keruan. Soohae kini penasaran, dengan siapa sebenarnya pria ini bertelepon?

 

Agak lama, akhirnya Myungsoo mematikan telepon. Suara pria itu tadi terdengar begitu lembut dan menenangkan. Sekali lagi Myungsoo mengulas senyum sambil menatap layar ponselnya, membuat Soohae tak bisa melepaskan pandangan dari Myungsoo.

 

Kali ini Myungsoo menoleh padanya, menangkap Soohae sedang memerhatikannya.

 

“Ada yang salah di wajahku?” tanya Myungsoo dengan satu alis terangkat.

 

Soohae merasakan rona kemerahan menjalari pipinya dan ia menggeleng kuat. Ia merasa malu tertangkap basah sedang memerhatikan Myungsoo.

 

“Aku hanya… eum…” Soohae buka suara, “Penasaran dengan siapa kau di telepon tadi.”

 

Tak disangkan, senyum Myungsoo merekah, wajahnya terlihat berseri-seri. Bertahun-tahun mengenal Myungsoo, jarang sekali ia melihat pria itu dengan wajah bahagia seperti ini.

 

“Yah… kau tahu… tadi itu… kekasihku,”

 

Oh tidak. Soohae paling tidak ingin mendengar itu.

 

.

.

.

 

“… kami akan merencanakan pernikahan bulan depan.”

 

*****

 

A/N: /peluk cium buat Soohae/

Met ultah keenambelas tahuuuuuuunnnnnn. Ini sudah aku tulis dan aku kasih ke Soohae sebenernya sejak sebulan lalu… Tapi baru nge-post sekarang soalnya mager (?) hahaha~ Biarin.

Tolong abaikan posternya… dan setiap lihat Kim Myungsoo itu semacam: Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

KBye~

 

Advertisements

One response

  1. bagus

    December 21, 2014 at 7:43 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s