KIM MYUNGSOO FANFICTION

Marriage Not Dating (5)

marriagenodating

B2utyInspirit presents

.

.

.

 Marriage Not Dating

REMAKE OF DRAMA WITH THE SAME TITLE

.

| Marriage Not Dating – The Worlds that I could say to You |

| Kim Liah |

|Chaptered |

| Kim Myungsoo, Park Jiyeon |

| Choi Minho, Jung Soojung, Hwang Kwanghee, Hye Jeong |

| Romance, Married Life, Friendship |

| PG-18 |

|Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) |

NOTE:

  1. Apa aku juga suka ng-RECAPE drakor dan katanya FF-ku ini mirip dengan recap yang dia baca. Aku nulis FF ini sendiri, I translated it by myself using my own words and not at all part or conversations were I put it in. Aku nulis ndiri, nonton ndiri yang eng version not bahasa version, nerjemahin ndiri apa yang aku tangkep, jika percakapannya gak penting gak aku masukin. Jadi maaf jika u bilang FF-ku ini mirip isinya dengan recap blog itu, berarti blog itu yang perlu diwaspadai. Coz, aku juga punya banyak kenalan recaper drakor di blogspot dan kebanyakan bernasib seperti itu. Dan aku nulis FF bukan baru sekali dua kali, udah setahunan, masa iya aku mau jerumusin diriku sendiri ke jurang? Bisa kasih tahu link nya?? Makasih #Myungmyung untuk infona ^^
  2. Maaf Math-ku jelek beud ya, 23-5=13 wkwkw, yang bener 18 tahun yang lalu, thanks Aya. heehee ^^

Previous story: Myungsoo membuat Jiyeon terlihat buruk di upacara peringatan kematian kakek Kim. Bahkan Jiyeon semakin dibenci oleh Minyoung karna Jiyeon terlalu ikut campur urusan pribadinya mengenai suaminya yang berselingkuh. Soojung meminta Minho mencari tahu kebenaran hubungan Myungyeon. Akibat kesombongan Myungsoo yang terlalu mencintai kesendirian, akhirnya ia terkurung 2 hari di kamar mandi dan Jiyeon-lah yang pertama menemukannya.

RCL PLEASE

.

Jiyeon mengeliat pelan karna temaram sinar matahari yang mengintipnya dari kaca jendela café. Ia mengeratkan selimutnya agar menutupi wajahnya. Tak lama Minho membuka matanya melirik Jiyeon tertidur dengan lucunya. Namun kesenangannya harus terganggu karna ia mendengar suara kode pintu café yang terbuka. Ia menepuk bahu Jiyeon untuk membangunkannya namun Jiyeon malah mengeliat merasa terganggu, pilihan terakhir bagi Minho adalah bersembunyi.

Kwanghee melangkahkan kakinya ke ruang tengah café, matanya menemukan seseorang tengah tertidur dibangku sofa. Ia memiringkan badan Jiyeon hingga wajah Jiyeon tertangkap matanya.

“Jiyeon-a” Jiyeon terbelalak kaget karna Kwanghee sudah menghapus jarak diantara mereka.

“Yaaaaa mwoya” pekik Jiyeon seraya mengeratkan selimutnya, ia kebingungan dimana ia sekarang.

“Kenapa kau disini?” selidik Kwanghee.

“Ini dimana? Kenapa aku bisa di sini?” Jiyeon mengedarkan ke penjuru ruangan hingga ia bertemu pandang dengan Minho yang tengah bersembunyi dibelakang sofa, mata Minho mengisyaratkan agar Jiyeon mengalihkan perhatian Kwanghee untk sementara.

“Jiyeon-a, mianhae, kau pasti sengaja menungguku disini. Aku khawatir padamu. Aku tahu wanita seperti apa yang bibi Minyoung sukai” Kwanghee memeluk Jiyeon erat.

Sehingga lehernya tercekik, namun Jiyeon mencoba bertahan agar Minho bisa kabur lebih dulu. Minho menampakkan eyesmilenya sebagai tanda terima kasih pada Jiyeon.

“Yaaa, aku tidak bisa bernafas” Jiyeon mendorong Kwanghee hingga dia terjatuh dari bangku “Jangan ganggu aku lagi, arra?” Jiyeon hendak keluar café namun ia malah bertemu dengan Tiffany.

“Ommo si penguntit gila ini!” maki Tiffany, tatapan kesalnya meluruh begitu melihat Kwanghee ada dibelakang Jiyeon sekarang.

“Eomma, kenapa kau menggertak Jiyeon-ku” dengan gagah beraninya Kwanghee berdiri didepan Jiyeon sebagai tameng jika ibunya akan memaki Jiyeon lagi.

“Dia penguntit itu bukan? Kenapa kau malah membelanya?” geram Tiffany.

“Penguntit?” Minyoung tiba-tiba muncul disamping Tiffany “Apa yang kalian bicarakan? Penguntit?” selidiknya.

“Eoh, dialah penguntit tak tau malu itu” tunjuk Tiffany.

“Josonghamnida, nan..” Jiyeon rasa, riwayatnya sudah tamat dan ia harus mengaku pada Minyoung.

“Eomma, ini salah paham” bela Kwanghee, ia benar-benar menjadi tameng bagi Jiyeon sekarang.

“Salah paham? Bahkan dia sudah kau laporkan ke kantor polisi karna kejadian beberapa hari yang lalu” cerca Tiffany, kenapa anaknya malah membela Jiyeon? bukankah Kwanghee tidak menyukai wanita penguntit itu?

“Insiden? Tolong jelaskan semuanya” pinta Minyoung, ia yakin sekali kalau Jiyeon memang ada sesuatu dengan Kwanghee.

“Wanita nakal ini sudah mengikuti anakku baik di rumah maupun café” Tiifany menatap Jiyeon dengan pandangan jijik “Beberapa hari lalu kau masuk kantor polisi karena membuat keributan dengan mengacungkan botol di café ini dan sekarang kau masih berani kemari lagi hah? Sepagi ini hah?” sungutnya.

“Beberapa hari yang lalu? Berarti insiden itu terjadi baru baru ini?” Minyoung merasa menang sekarang, yungsoo tak akan lagi berkilah

“Aku yang salah, aku seharusnya tidak begitu pada Jiyeon” Kwanghee menyesali kebodohannya.

“Aku tidak boleh diam, aku harus menelpon polisi” Tiffany merogoh ponselnya di handbagnya.

“Aku mencinta Jiyeon”

“Mwo?” Tiffany memukul Kwanghee “Michesseo?” gertaknya.

“Mianhamnida, nan..” Jiyeon benar-benar tersudut, tak ada pilihan lain selain mengaku.

“Ne,ini semua salahku” Myungsoo merangkul Jiyeon “Aku.. merebut kekasih temanku, kekasih Kwanghee” akunya.

“Mworago?” pekik Minyoung, Tiffany dan Kwanghee.

“Aku diam-diam menaruh hati pada Jiyeon bahkan sebelum dia resmi berpisah dari Kwanghee” jelas Myungsoo.

“Jincha? Kau menyukai wanita nakal ini? aissh, apa kau tak salah?” maki Tiffany.

“Anniya, nan..”

“Geumanhe, kajja kita pergi” ajak Minyoung keluar café dan pergi ke klinik Myungsoo, ia benar-benar dipermalukan oleh Myungsoo, masa anaknya mengencani bekas mantan kekasih temannya sendiri.

“Dasar anak bodoh, bagaimana bisa kau mencintai wanita konyol itu hah” omel Tiffany.

“Molla, aku mau Jiyeon hanya Jiyeon” Kwanghee menginjakkan kakiknya dengan manja.

“Yaa apa tak ada wanita lain? Apa kau tak malu mengencani wanita yang sama dengan Myungsoo?” cibir Tiffany.

“Nan? Bukankah eomma juga sama hah?” balas Kwanghee.

“Eoh, kau sungguh memalukan”

“Eomma juga membeli apa yang sudah dibeli bibi Minyoung, kau selalu yang kedua karna kau yang menirukannya. Sementara aku, Myungsoo-lah yang merebut Jiyeon dariku” sindir Kwanghee.

Tiffany memukul Kwanghee dengan handbagnya “Yaa beraninya kau menuduhku seperti itu hah” makinya, walau memang benar ia selalu mengikuti style minyoung.

“Terserah, apa eomma ingin menjadi yang kedua saja? Jika eomma menyetujui hubunganku dan Jiyeon, maka bibi Minyounglah yang kalah darimu, bukan kau yang selalu menirukannnya” gertak Kwanghee lalu berjalan keluar café.

Sementara itu diklinik Minyoung mencerca Myungsoo dan Jiyeon habis-habisan. Ia melampiaskan semua kecurigaannya dan keksalannya karna Jiyeon sudah berani mengobarkan bendera perang lusa diupacara kematian kakek.

“Jangan mencoba membohongiku lagi”

“Sejak kapan aku membohongimu, aku dan Jiyeon memang serius, aku mencintainya. Terserah eomma akan mempercayainya atau tidak, yang pasti aku akan menikah, hanya menikah dengan Jiyeon seorang” balas Myungsoo.

Minyoung tertawa sinis, anaknya ini menuruni sifatnya “Baiklah, kita liat saja, siapa yang akan terbongkar lebih dulu” ancamnya lalu pergi meninggalkan klinik.

“Yaa, kenapa kau disana hah?” gertak Myungsoo.

“Aku.. ini semua salahmu. Aku rasa kita harus segera menghentikannya, eommonim mulai curiga” jelas Jiyeon.

“ANDWAE, aku tak akan pernah mengalah untuk eomma. Aku akan pernah mau menikah, aku hanya mau sendiri” tegas Myungsoo, ia menarik lengan Jiyeon.

“Yaa kita mau kemana?”

“Akan ku antar kau pulang” jawab Myungsoo.

Kini mereka berada di sebuah outlet ponsel, Myungsoo merasa menyesal sudah merusakkan ponsel jadul Jiyeon. jadi ia membelikannya ponsel baru, lagipula jika Jiyeon tak memiliki ponsel, bagaimana ia akan menghubunginya?

“IGeo mwo?” Jiyeon menatap ponsel berlayar 5 inch yang disodorkan Myungsoo.

“Pakailah”

“Anni, aku akan membeli ponsel sendiri”

Myungsoo tertawa mengejek “Kau akan membeli ponsel jadul lagi? Yaa kau bukanlagi hidup ditahun 90an” makinya.

“Aishh kau benar-benar menyebalkan” Jiyeon beranjak hendak keluar.

“Apa kau yakin tak menginginkan ini? bagaimana jika minho menghubungimu?” ucapan Myungsoo sukses membuat Jiyeon berbalik.

“Baiklah, aku akan menerimanya, keundae…” Jiyeon menangkup wajah Myungsoo “Aku minta maaf sudah merusakkan ponselmu, Jiyeon-a” ia melafalkan apa yang seharusnya Myungsoo katakan padanya.

“Geurae, mian” ucap Myungsoo singkat dan Jiyeon tersenyum puas

**

Jiyeon nampak menikmati memakai ponsel barunya yang tak lagi harus mengetikkan huruf dengan qwerty tapi touchscreen. Ia mengirim pesan kepada Minho bahwa ia baik-baik saja meskipun ia sudah mabuk dan menghabiskan waktu berdua dengan Minho semalaman. Ia mengkhawatirkan kalau Minho tertangkap basah oleh Kwanghee dan pria itu akan memecatnya tapi untungnya tidak. Sebagai balasan atas bantuan Jiyeon kemarin pagi, Minho berencana menraktir Jiyeon makan. Ia berencana pergi makan dengan Minho sepulang kerja namun Myungsoo merusak segalanya karna dia akan mengajak Jiyeon pergi dan sebagai ancaman agar Jiyeon tak menolaknya, Myungsoo menggunakan taehee sebagai ancaman.

Myungsoo: Temui aku setelah pulang kerja

Jiyeon: Andwae, aku sudah punya janji

Myungsoo: Jangan menemui Minho dulu sebelum kita menyelesaikan kebohongan kita

Jiyeon: Waeyo? Nan shirreo

Myungsoo: Aku punya suatu ancaman yang akan ampuh

Myungsoo membalikkan punggungnya mengecek ibu mertuanya yang sedang mendapat perawatan dikliniknya.

“30 menit lagi anda akan segera dioperasi” ujar perawat yang sudah selesai mengoleskan krim ke wajah Taehee.

“Apa ini tak akan menyakitkan?” tanya Taehee, ia belum pernah melakukan perawatan kecantikan sejenis ini.

Myungsoo menghampiri Taehee “Anniya, gojongmasaeyo, kau akan secantik selebriti” rajuknya.

Taehee tersenyum senang “Remaja zaman sekarang selalu mengatakan filler, sebenarnya filler itu apa? semua berkat menantu Kim, jadi aku bisa mendapatkannya, mian, jika aku membebanimu” pujinya.

Myungsoo menerima sebuah jarum suntik dari perawat, ia bersiap menyuntikkannya pada wajah Taehee. “Anniya eomonim, kau sama sekali tak MEMBEBANIKU, mertua” balasnya.

Dirumah Taehee nampak mengamati pantulan dirinya dikaca “Aku hanya mendapat perawatan ringan dari menantuku tersayang” jawabnya menyahut panggilan telpon Jisung.

Dikedai ayamnya Jisung sangatlah kerepotan menggoreng pesanan pengunjung yang lumayan ramai. “Ucapanmu sungguh manis, makanya aku tak mau berbicara denganmu. Cepatlah kemari, aku sungguh kewalahan” sindirnya seraya membalas sahutan pesanan dari pelanggan.

“Kau hanya bisa mengomel saja, cukup, aku tak mau lagi berbicara denganmu. Guddno” pamit Taehee.

Kita beralih ke sebuah café eskrim, Jiyeon telihat tak senang bersama Myungsoo. Seandainya Myungsoo tak mengajaknya pergi maka ia bisa berduaan dengan Minho.

“Ini semua gara-gara eomma” dumel Jiyeon.

Myungsoo menyodorkannya eskrim “Makanlah” namun Jiyeon menolaknya hingga Myungsoo memutuskan menempelkan sedikit eskrim ke hidung Jiyeon.

“Yaa” tepat dengan pekikan Jiyeon, kamre ponsel Myungsoo mengabadikan moment mereka tentu saja dengan pose Myungsoo yang nampak romantic.
“Apa ini?” kenapa Myungsoo mengambil foto bersama Jiyeon seperti ini?

Bukannya menjawab Myungsoo malah sengaja menempelkan eskrim corn itu ke bibir Jiyeon hingga belepotan lalu kembali mengambil gambar.

“MWOYA”

“Hanya untuk membuat alibi kalau kita ini adalah sepasang KEKASIH” balas Myungsoo santai seraya menguploasnya ke SNS, ia tahu kalau Minyoung akan mencari tahu sebrapa dekat ia dan Jiyeon.

Mereka mengambil scene lain berupa meminum jus segelas berdua dan saling berhadapan, lalu mereka berpindah ke toko bunga. Myungsoo dengan romantisnya memberi Jiyeon mawar merah, namun sayang hanya sebagai alibi, bukan keseriusan. Diam-diam Jiyeon mencium mawar itu dan ia merasa tersentuh, sedikit berharap kalau Myungsoo memang benar-benar memberinya mawar ini.

Mereka berpindah menonton film di bioskop, seperti pasangan lainnya, sekotak popcorn besar dan segels besar cola untuk berdua. Mereka benar-benar berbagi berdua layaknya kekasih.

“Chang” Myungsoo dan Jiyeon saling bersulang jus di sebuah café kemudian mengambil gambar lagi, mereka terlihat semakin dekat dengan memilih gambar yang bagus dan menguloadnya.

Di café Minho mengintip isi timeline Myungsoo yang penuh dengan foto mesra bersama Jiyeon. ia merasa kecewa melihatnya hingga ia mengirim pesan agar Jiyeon menemuinya di café. Myungsoo nampak mengintip isi pesan Jiyeon, namun dengan segera dihalangi oleh Jiyeon. ia tahu pesan itu pasti dari Minho.

“Gumawo” Jiyeon mengangkat bunga mawarnya dan tersenyum samar.

“Segeralah tidur dan jangan pergi lagi” pesan Myungsoo.

Jiyeon memasuki café Kwanghee dengan mengenakan masker, ia takut jika bibi Han mengintainya dan menangkap basahnya. Minho menunjukkan sebuah sup kerang yang ia buat sebagai uji coba setelah mempelajarinya secara diam-diam dari Sunggyu.

Myungsoo tersenyum melihat hasil foto mesranya dengan Jiyeon, namun tiba-tiba ia curiga jika Jiyeon sedang bersama Minho. Untungnya ia sudah menaruh pelacak map di ponsel Jiyeon dan benar saja, di map itu Jiyeon terlihat berada di café Kwanghee.

“Yaa eodiya?”

“Aku..” bisik Jiyeon.

“Aku tahu kau bersama Minho. Pulang sekarang!” titah Myungsoo.

“Ini melanggar privasi” bisik Jiyeon setengah menggertak.

“Jangan percaya pada Minho, apa kau mau terluka lagi karna mudah mempercayai pria?” dumel Myungsoo kesal namun segera ditutup oleh Jiyeon, semudah itu Jiyeon menjalin hubungan setelah Kwanghee menyampakkanya, apa dia tidak berkaca pada pengalaman? Apalagi Minho itu setara dengan Kwanghee, sama-sama pemain wanita.

“Kau membeli ponsel baru?” tanya Minho yang sedari tadi hanya diam mendengarkan Jiyeon selesai menelpon.

“Anni, igeo.. Myungsoo membelikannya untukku”

“Sejauh itukah hubunganmu dengan Myungsoo hingga dia rela mengeluarkan uang untuk ponsel mahal ini?” jika wanita sudah menerima banyak barangdari pria, itu berarti pria itu serius.

“Anni, ponselku yang sudah menemaniku selama 6 tahun ini jatuh ke wastafel” Jiyeon membayangkan dulu ketika pertama kali membeli ponsel flipnya “Membelinya sendiri dengan uanga hasil kerja keras sendiri itu rasanya membanggakan dan kini aku malah kehilangannya, menyedihkan sekali” ujarnya sendu.

“Daebak, kurasa tak ada yang akan memakai ponselnya sampai 6 tahun, kebanyakan berganti baru jika ada trend baru” puji Minho.

“Aku tidak mudah membuang sesuatu yang sudah aku miliki, aku akan menjaganya selamanya. Itulah moto hidupku” sanggah Jiyeon, apapun akan ia jaga sampai kapanpun, termasuk cinta, namun sayang Kwanghee melukainya.

“Lalu kenapa kau bisa menyukai Myungsoo?”

Jiyeon teringat dengan perkataan Myungsoo kalau Minho ini berbahaya, mungkin berbahaya yang dimaksud adalah Minho itu seorang pengintai yang diam-diam mendekatinya. “Kenapa kau menanyakannya?” tanyanya balik.

“Hanya ingin tahu saja, jika bukan karna uang lalu apa?” secara tidak langsung Minho akan mengetahui perasaan Jiyeon.

“Waeyo? Keudae, kau.. kau orang macam apa?” apa benar Minho itu seburuk yang Myungsoo katakan.

“Aku orang yang berkonsep” Minho mengangkat manci sopnya dan hendak membuangnya.

“Kau akan membuangnya? Andwae” Jiyeon melepas kemejanya lalu duduk bersila dimeja dapur dan menutupi rok seprempat pahanya dengan kemejanya. Ia hendak memakan sup merah itu namun dihalangi oleh Minho.

“Andwae, ini hanya sup dari bahan sisa” cegahnya.

“Anniya” Jiyeon dengan lahapnya memakan sup itu dengan ekspresi menggemaskan dan tentu saja membuat Minho semakin terpikat “Waah massita”pujinya.

Minho menghapus jarak dengan tiba-tiba dan membuat Jiyeon terbelalak kaget “Bolehkah aku mencobanya?” Minho mengecup singkat bibir Jiyeon “Eoh massita” sedetik kemudian ia kembali melumat bibir Jiyeon dan tentu saja dibalas oleh Jiyeon. saking menikmatinya Jiyeon sampai mengaduk kuah supnya, namun selang beberapa lama Minho memindahkan panci itu dengan posisi masih berciuman.

Di halaman apartment Myungsoo, ia terlihat keluar dengan tergesa-gesa, ia ingin menyusul Jiyeon ke café Kwanghee.

“Wanita itu sungguh..” ia menunduk merasakan kejanggalan dikakinya, ternyata ia memakai sepatu dikaki kananya dan sandal dikaki kirinya “Aishhh” karna hujan turun ia mengurungkan niatnya, lagipula untuk apa ia bersikap seperti ini? ia saja tak sungguh berkencan dengan Jiyeon.

***

Nenek dan bibi Han tengah melakukan vilates diruang keluarga dan tiba-tiba Jaejong pulang kerumah. pria itu selalu pulang untuk berganti pakaian saja. Minyoung yang tengah menyetrika segera menyiapkan kemeja biru untuk Jaejong.

“Mungkinkah Myungsoo memberitahu wanita itu?” Jaejong mengenakan kemeja birunya “Aku harap kau akan mengunci mulutnya segera” perintahnya lalu mengenakan jasnya dan kembali pergi.

Jiyeon tersenyum aneh seperti orang gila, ia mengingat betapa manisnya ciumannya Minho semalan.

“Waeyo? Apa kau sakit?” tanya Hyejeong.

“Anniya, aku..” Jiyeon membisikkan sesuatu ke telinga Hyejeong.

“Mwo? Kiss? Kau berciuman dengan Minho?”

“Jangan keras-keras, aku malu” cegah Jiyeon.

Jiyeon hendak ke kamar mandi, perutnya terasa sangat mulas. Tak lama Minyoung mengajak Jiyeon berbicara, ia ingin menyuruh Jiyeon mengakui semua kebohongannya selama ini dan merekamnya. “Katakanlah semuanya” pintanya.

“Aku sangat menyukai Myungsoo, kami berusaha saling mengenal satu sama lain. jadi aku mohoneommonim memberi kami restu” ntah kata-kata darimana itu hingga Jiyeon bisa semendramalisir seperti ini.

“Geumanhe, berhentilah berbohong”

“Mianhae eommonim, seharusnya kata-kata itu kau tunjukkan padamu sendiri. Jebal eommonim, berhentilah membohongi dirimu sendiri, katakan sakit jika kau merasa sakit dan katakan senang jika kau merasa senang” pinta Jiyeon.

“Kau mencoba mengguruiku?” manic mata Minyoung menangkap seorang wanita bergaun merah yang tengah berbicara ditelpon, sebelum wanita itu melihatnya ia sudah berbsembunyi dibelakang handbag yang terpajang.

Jiyeon meras kebingungan namun ia akhirnya mengingat wajah wnaita itu, bukankah ia wanita yang ia lihat di taman bersama Jaejong?

“Eommonim, igeo..” Minyoung tak menjawab dan segera pergi, ia begitu terpukul melihat wanita yang sudah merebut suaminya itu.

**

Minho mengamati Sunggyu yang tengah menata pasta “Hyung, maukah kau mencicipinya?” Minho menyodorkan manci sup yang semalam dimakan Jiyeon.

“yaa apa kau memakai dapurku?” selidik Sunggyu seraya menyendok sup itu.

“Anniya, aku hanya memakai barang yang hampir kadaluarsa saja. Otte hyung?” tanya Minho balik.

Sunggyu menyemburkan sup itu “Makanan apa ini” lalu melempar sendoknya ke manci.

Minho merasa kecewa dan kembali melayani pengunjung didepan café “Eoh” gumamnya.

“Bagaimana bisa bocah itu memasak seenak ini?” gumam Sunggyu seraya menyendok habis sup itu.

Tiffany mengingat perkataan Kwanghee, ada benarnya juga perkataan anaknya yang bodoh itu, ia selalu mengekor dibelakang Minyoung, membeli apa yang Minyoung beli, memakai apa yang Minyoung pakai. Ia turun dari kursi keramasnya lalu menyapa seseorang didepannya, Minyoung yang berada didepannya mengira kalau dialah yang Tiffany sapa. Tapi ternyata bukan, Tiffany malah menyapa Soojung dengan sok dekatnya.

“Annyeonghaseyo, bukankah kau Jung Soojung?” sapa Tiffany.

“Ne? Mianhamnida, aku tak mengenal anda” balas Soojung sopan.

“Aku ibunya Hwang Kwanghee”

“Argh, aku tidak terlalu dekat dengannya” tolak Soojung.

Tiffany merasa malu sekali, bagaimana bisa anaknya tidak dekat dengan wanita sesempurna Soojung. “Oh kurokuna” lirihnya.

“Eoh kau disini? Aku lupa kalau kau adalah mantan tunangan Myungsoo” sapa Minyoung yang kini disamping Tiffany, ia sengaja ingin semakin mempermalukan Tiffany.

“Tunangan?” untuk menghilangkan kecanggungannya, Tiffany mencba mengajak Soojung ke pesta anggir di cafenya nanti “Bagaimana kalau kau datang ke pesta kami nanti?” tawarnya.

“Tak apa kalau kau sibuk” balas Minyoung dengan hangatnya.

“Anniya, aku pasti akan datang” jawab Soojung, ia memang sengaja ke salon langganan ini untuk lebih dekat dengan Minyoung. Dulu ketika berkencan dengan Myungsoo, ia smaa sekali belum pernah diperkenalkan dengan keluarga besar Myungsoo. Ia hanya bertemu sekali ketika acara perkenalan dengan masing-masing keluarga saja.

Tiffany berbalik untuk segera kabur “Ommo akuharus segera memberitahu Kwanghee” pekiknya.

Setelah mendapat telpon dari ibunya, Kwanghee berusaha memberitahu Myungsoo “Yaa Myungsoo-ya” Kwanghee berlarian mengejar Myungsoo yang tengah berjalan santai didepan kliniknya “Ibu kita akan mengadakan makan malam di cafeku malam ini. Soojung juga akan datang” jelasnya.

“Memangnya kenapa?”

“Mereka ingin kita mengajak Jiyeon” sebenarnya ini kebohongan dari Tiffany, ia ingin mempermalukan balik Minyoung didepan para teman-temannya terutama istri direktur yang sangat mereka hormati “Bagaimana ini? Jiyeon pasti akan dipermalukan disana” jelas Kwanghee, ia tahu ibunya masih tak menyukai Jiyeon.

Bukannya menjawab Myungsoo malah berlari segera untuk menjemput Jiyeon di department store.

Jiyeon baru saja meminta ijin pada managernya untuk ke rumah sakit karna perutnya semakin kesakitan. Namun ditengah jalan Myungsoo sudah menghadangnya.

“Aku ada lembur malam ini” dusta Jiyeon ditelpon.

“Geotjima” pekik Myungsoo yang memang sudah berada di department store, ia langsung menuntun Jiyeon dengan setengah memaksa.

Mereka sudah sampai didepan café Kwanghee, Jiyeon masih saja menolak mengikuti pesta itu karna perutnya semakin terasa mulas. Namun Myungsoo malah menariknya mendekati seorang wnaita anggun yang sedang berbicara dengan Minyoung.

“Annyeonghaseyo” sapa Myungsoo.

“Eoh, dr. Kim, apa kabar?” sapa Seyi, ia paling menonjol diperkumpulan ibu-ibu ini.

“Sangat baik, dia ini…”

Belum sempat Myungsoo memperkenalkan Jiyeon didepan istri direktur itu karna Minyoung sudah lebih dulu membawanya masuk ke café.

“Sudahlah, aku harus segera pergi” Jiyeon sudah semakin kesulitan menahan sakit perutnya.

“Hanbeoman”

“Aishh, baiklah, tapi aku ingin ke kamar mandi dulu” percuma menolak toh Myungsoo akan tetap memaksanya.

Setelah memasuki café, Jiyeon ingin segera ke kamar mandi tapi Myungsoo menahannya. Setidaknya ia harus memperkenalkan Jiyeon kepada mereka terlebih dahulu agar ibunya tak mencoba menentang Jiyeon lagi, karna jika ibunya menentang maka dia akan merasa malu besar.

“Annyeonghaseyo, ini calon istriku, Park Jiyeon” dengan lantangnya Myungsoo memperkenalkan Jiyeon dihadapan kedelapan wanita metropolis itu.

“Eoh kurokuna, makanya tadi aku merasa bingung kenapa kau terlihat mesra dengannya” balas Seyi ramah.

“Ne Park Jiyeon imnida. Arh, aku harus pergi dulu” Jiyeon membungkuk hormat lalu pergi pamit kekamar mandi. Ia berjalan sempoyongan kakinya bergetar menahan ingin segera mengaluarkan apa yang begitu melilit didalam perutnya.

“Majayo, orang asing haruslah pergi” sungut Minyoung seraya meneguk tehnya

“Haruskah aku pulang sekarang?” Soojung berjalan dengan anggunnya sambil membawa sebotol anggur.

“Anniya, duduklah” Minyoung gagal mengusir Jiyeon karna kedatangan Soojung.

“Eoh Bukankah kau putri pemilik Jung hospital?” tanya Seyi.

“Ne” angguk Soojung.

Jiyeon diam-diam ke kamar mandi dan diikuti oleh Kwanghee.

“Jiyeon-a, chakkaman kau harus mendengarku, aku sungguh sudah benar-benar mencintaimu” jelas Kwanghee seraya menahan lengan Jiyeon.

“Kita bi..cara nanti saja” Jiyeon menghempas tangan Kwanghee.

“Yaa Jiyeon-a” pekik Kwanghee.

Sekali lagi Jiyeon harus semakin tersiksa dikamar mandi yang memang hanya ada 2 buah itu, ia berebutan dengan Sunggyu yang juga tengah kesakitan menahan perut mulasnya.

“Bukankah ini kamar mandi wanita”

“Kali ini saja agashi, kamar mandi sebelah sedang dipakai” Sunggyu segera menyerobos masuk dan Jiyeon ia hanya mampu menahan kesakitan dengan menggerakkan kakinya.

Karna terlalu lama maka ia kembali ke pesta lagi tentu saja dengan semakin menahan sakitnya.

“Ommo, menakjubkan, Myungsoo duduk dengan 2 orang terdekatnya sekarang. Sebelah kanan mantan tunangannya dan sebelah kiri calon istrinya” sindir Tiffany.

Minyoung merasa terpukul “Eoh jadi begitu” lirih Seyi.

“Yaa kenapa makanannya belum tersaji juga” Tiffany memukul lengan Kwanghee.

Kwanghee pun ke dapur dan tak menemukan makanan yang tersaji karna Sunggyu sedan berkutat dengan kamar mandi untuk meluapkan isi perutnya yang tiba-tiba melilit sakit. Kwanghee akhirnya menyuruh Minho menyajikan apa saja. Karna Minho mengingat perkataan Jiyeon, maka ia menyulap kimchi yang Jiyeon berikan menjadi pancake kimchi.

Semuanya merasa makanan ini tidak cocok dimakan dengan anggur, melihat Jiyeon juga tak memakannya, maka Minho segera pergi ke dapur dan mendumel kecewa karna ia sudah merubah tabiatnya yang akan dengan mudahnya membuang apapun, tapi kali ini karna Jiyeon, ia malah memasak kimchi itu dan menerima penghinaan.

Namun setelah Minho pergi, Seyi mengatakan kalau pancake nya enak dan semuanya juga memujinya enak, kecuali Minyoung, ia merasa mengenal rasa kimchi ini, ini seperti kimchi buatannya. Sekali lagi Jiyeon kembali untuk ke kamar mandi siapa tahu kamar mandinya sudah kosong. Belum sempat ia ke kamar mandi, Minho menahannya dan menghempasnya ke kamar mandi.

“Ternyata kau seperti itu juga, kau menghina masakanku dihadapan mereka” sungut Minho, ia mengira Jiyeon tak suka pancake buatannya karna Jiyeon tak menyentuhnya.

“Ne?”

“Kita sudah berciuman tapi sekarang kau mengacuhkanku seperti ini jika bersama Myungsoo” lirih Minho kecewa.

“Anniya, bukan seperti itu” Jiyeon meremas perutnya “Sebenarnya aku dan Myungsoo tak ada apa-apa… nan.. joahe” pekiknya.

Tepat dibelakang mereka, Soojung tengah menuruni tangga, Myungsoo memintanya mengecek keadaan Jiyeon, karna sedari tadi Jiyeon mondar-mandir mulu ke kamar mandi. Ia tersenyum sinis mendengar kenyataan yang menggembirakannya ini. jadi selama ini Myungsoo hanya berkilah saja, ia tahu Myungsoo memang tak akan tertarik dengan wanita lain lagi setelah ia menyakitinya.

“Bagaimana dengan Jiyeon?” bisik Myungsoo setelah Soojung duduk disebelahnya.

“Kyeopta” puji Soojung, ada dua kemungkinan kenapa Myungsoo menipunya dan juga keluarga Kim, pertama Myungso memang tak akan memikirkan wanita lagi dan kedua Myungsoo memang masih mencintainya.

Jiyeon kembali dari kamar mandi setelah mengungkapkan kebenaran hubungannya kepada Minho.

“Jeogi, acara belum selesai tapi aku harus segera pergi” pamitnya dengan senyum mengembang yang dipaksakan karna sakit perutnya.

“Kau mau pulang?” tanya Myungsoo.

“Cepat sekali, kita belum meminum anggurnya” sanggah Seyi.

“Kau tidak sopan sekali, apa kau ada masalah dengan nyonya Kim?” sungut Tiffany.

“Geureum, aku akan minum satu gelas” Jiyeon segera duduk dan menunggu Kwanghee menuangkan wine kepada semua tamu pesta. Saking sakitnya Jiyeon sampai berkunana-kunang melihat Kwanghee dan yang lainnya. Sialnya lagi, Minyoung malah mengambil alih mencoba wine itu dengan dituang ke teko kaca dan mengaduknya.

Setelah dituangkan wine, tanpa menunggu yang lainnya, Jiyeon segera meneguk wine-nya tanpa step-step klasik seperti menggoyangkan gelasnya dan menyicipinya pelan-pelan. “Aku sudah meminumnya, kalau begitu aku..” pamitnya.

“Kau tak memakan pancakenya?” potong Tiffany.

“Ne” Jiyeon segera menyantap potongan kimchi itu dengan tangannya tanpagarpu dan pisau seperti para nyonya besar itu.

“Wah, seharusnya memang paling nikmat memakannya selahap itu” puji Seyi pada Jiyeon.

Lain halnya dengan Minyoung ia kurang menyukainya karna rasanya mirip dengan kimchi buatannya.

“Waeyo, apa kau tak berselera makan?” tanya Seyi.

“Anniya”

“Atau kau kurang nyaman dengan menantumu yang memilikicatatan criminal itu” potong Tiffany sinis, ini yang ia rencanakan, mempermalukan Minyoung melalui Jiyeon.

“Eomma” pekik Kwanghee kesal, ia tidak terima ibunya menghina Jiyeon.

Jiyeon meneguk winenya lagi hingga habis “Ne aku memang mmeiliki catatan criminal. Maaf sudah mengganggu” ia membungkuk dan segera berlari keluar café. Diluar café cuaca sedang berangin mendung. Dengan menunduk memegangi perutnya, ia kebingungan harus kemana hingga petir menyambar mengagetkannya dan sesuatu lolos dari pantatnya.

“Jiyeon-a” lirih Myungsooo dibelakangnya, ia merasa bersalah sekali lagi harus melibatkan Jiyeon hingga Jiyeon dihina lagi.

“Kajima, jangan mendekat” Jiyeon setengah bergetar dan matanya berkaca-kaca “Kajima” tolaknya seraya menutupi pantatnya dengan handbagnya.

“Waegurae? Mianhae.. aku…” Myungsoo mengira Jiyeon berlari keluar karna dia merasa terhina sama seperti ketika upacara peringatan kakeknya.

“Cha” pekik Jiyeon, ia tak ingin Myungsoo mengetahui hal memalukan ini.

Sekali lagi Jiyeon memang sedang apes, angin tiba-tiba berdesir hingga menyebarkan bau aneh yang mampu tertangkap oleh indra penciuman Myungsoo. “Kau…” Myungsoo melirik pantat Jiyeon.

“Kajima” sungguh sangat memalukan sekali.

Tiba-tiba Minyoung menghampirinya dan menempelkan mantelnya ke bahu Jiyeon “Jangan ikuti kami” ia menuntun Jiyeon keklinik Myungsoo dan memberinya celana ganti. Ia tadi sengaja keluar café mengejar Myungsoo karna ia ingin menampakkan wajah malaikatnya, jika ia hanya duduk diam saja melihat Jiyeon dihina, maka ia akan terlihat jahat dimata teman-temannya.

“Gamsahamnida” Jiyeon sudah mengganti celananya pendeknya dengan celana panjang putih.

“Kita anggap saja kita sudah impas, aku akan menjaga rahasiamu ini dan kaupun juga harus menjafga rahasiaku” ucap Minyoung lirih.

“Aku mengerti sekarang, ini seperti kotoran yangkeluar didalam celanamu bukan? Semua terjadi tanpa kemauan kita, kau takut dan malu.. kau juga sangat terluka, karna kau tidak tahan melihatnya maka kau hanya bisa berdiam saja seperti ini bukan?” lirih Jiyeon.

“Apa kau.. hanya puas setelah mengatakan apa yang ingin kau katakan?”

“Gojongma, aku tak akan meberitahu siapa-siapa” angguk Jiyeon.

Minyoung pergi kembali ke temna-teman sosialita, ia sempat mengantarkan Seyi pulang. Seyi memuji Jiyeon dan menyukainya.

“Mianhamnida sudah merusak semuanya” sesal Minyoung seraya membungkuk hormat.

“Anniya, aku sanat senang hari ini. Aku kira kau akan membawa menantu robot sepertimu, tapi ternyata aku salah besar. Jiyeon snagatlah hangat dan ceria” puji Seyi yang membuat Minyoung terlonjak kaget antara senang dan juga kecewa.

“Sebenarnya apa yang terjadi” Myungsoo tengah berjalan keluar klinik bersama Jiyeon.

“Kita hentikan saja semuanya, aku sudah memberitahu rahasia ini pada Minho”

“Semuanya?”

“Eoh, aku juga sudah mengungkapkan perasaanku” Angguk Jiyeon.

“Yaa kenapa kau mengatakn semuanya” ntah Myungsoo marah karna Jiyeon membeberkan rahasia hubungan palsunya dengan Jiyeon atau ia kecewa karna Jiyeon sudah mengakui perasaaanya pada Minho.

“Tentu saja, lagipula hubunganku dengannya adalah kencan sungguhan dan bukan palsu seperti ini” sanggah Jiyeon, tiba-tiba ia melihat Minho dan Soojung didepan café.

“Gumawo, akhirnya aku mendapatkan rahasia Myungsoo” Soojung menyerahkan amplop merah pada Minho tanpa mengetahui kalau Myungsoo dan Jiyeon menatap mereka dengan emsi.

Advertisements

11 responses

  1. ningnurna

    Owhhhhhh minhoo ternyata kamu?????? Jiyeon pasti sakit hati bgt dihohongin sama minho??? Ayoo myungsoo bantu jiyeon udah jadian bneran aja!!!!

    July 27, 2014 at 5:45 am

  2. Minho tu emang jahat,,, jiyi pasti sakit hati lagi,,,,

    July 27, 2014 at 7:06 am

  3. huh…
    Sebel sama minho dan kwanghee..,
    Ini jiyi kok gak kapok kapok sih…
    Next part ditunggu ne

    July 27, 2014 at 8:25 am

  4. Aigoo!!!
    Jiyi bnr2 polos, smpi2 ϑi tipu oleh minho
    N dy bhkn G̲̮̲̅͡å’ sadar,
    Dr awal q dh curiga dg minho,
    Jiyi lebih brhati2 lh dlm urusn pria,,
    Kshn dri mu ϑi prmaen kn mulu

    July 27, 2014 at 9:43 am

  5. elma ingga

    tuh kan harusnya jiyeon dengerin kata myungoo
    minho itu ga baik

    July 27, 2014 at 10:03 am

  6. Aigoo~ minho sebenarnya suka nggak sihh sama jiyi ?? ._. Kasihan ehh jiyi.. 😦

    July 27, 2014 at 12:30 pm

  7. lira hafidah*

    minho ketahuan sama jiyeon dan myungsoo

    July 27, 2014 at 3:20 pm

  8. olv

    minho jahat nya??
    wah wah,,
    lsnjut thorr,,

    July 29, 2014 at 5:12 pm

  9. Arre

    Memalukan itu,, haha 😀
    tingkah konyol jiyeon emang deh, aneh. Hoho
    next part,,
    trnyta minho suruhan si soojung ya, hmm bsa gawat nih..

    July 31, 2014 at 6:38 am

  10. indaah

    bingung ma minho , dia itu baik ato jahat juga sih ..
    jiyeon cepet bgt deh percaya ma org

    October 14, 2015 at 6:53 am

  11. Aduuh jiyi kasian amat untung cm mmhnya myung yg tau kkkkkkkk

    June 17, 2016 at 4:18 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s