KIM MYUNGSOO FANFICTION

Marriage Not Dating (2)

marriagenodating

B2utyInspirit presents

.

REMAKE OF DRAMA WITH THE SAME TITLE

.

 Marriage Not Dating

.

 

.

| Marriage Not Dating – People Management |

| Kim Liah |

|Chaptered |

| Kim Myungsoo, Park Jiyeon |

| Choi Minho, Jung Soojung, Hwang Kwanghee, Hye Jeong |

| Romance, Married Life, Friendship |

| PG-18 |

|Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) |

 

.

NOTE:

Sebelum kalian membaca sebaiknya kalian baca juga coretanku ini mengenai comment kalian.

  1. Kenapa isinya berbeda dengan teaser? Karna teaser itu hanya ringkasan dari keseluruhan cerita, jangan langsung ngJUDGE ‘ceritanya jelek, gak sesuai teasernya’ ini kan baru jalan dua part aja, masih ada 14 biji lagi menunggu.
  2. Kwanghee dan Jiyeon hubungannya sejauh apa kok sampai dihotel? Kalau penangkapanku dari itu drama, mereka mungkin belum melakukan hubungan lebih ya hanya kencan normal, kiss seperti biasa. mungkin yang udah nonton bisa kasih pendapat nanti dicomment.
  3. Ini sebenarnya pakae POV SIAPA? Jelas sekali disini aku pakai POV orang ketiga alias POV author, kalau POV orang pertama pasti dari awal aku sudah menjabarin pakai kata ‘aku’ yang mengacu kepada tokoh yang dipakai.
  4. Jangan pakai ‘katanya’ ‘ujarnya’ donk. Sebenarnya kalau kalian cermat kata ‘ujarnya, katanya’ itu sudah mengacu pada si SUBJEK diawal kalimat.
  5. Aku awalnya juga seorang READER, tapi aku bukan reader yang hanya membaca setengah-setengah sehingga bisa menyimpulkan ini bukan Myungyeon. I’m Myungyeon 4eva, ya walau aku sering juga bikin Jiyeon couple lainnya. Tapi kalau udah aku cantumin tokoh utamanya Myungsoo pasti akhirnya Myungyeon walau harus melalui beberapa step rintangan dulu, kalian bisa tanya pada reader yang udah lumayan ngenal aku lama melalui saling comment di FF
  6. Kok PANJANG banget sih? Mungkin ada yang udah terbiasa baca FF-ku yang emang pendek-pendek, tapi ini demi kebutuhan cerita sesuai DRAMA aslinya. Karna kalau ada yang aku skip, nanti kalian akan kehilangan momen menariknya. Lagipula author senior dan yang Kece-kece di HSF ini FF-nya pada panjang-panjang juga bukan?
  7. Terakhir MAAF sudah banyak cincong melalui coretan ini dan aku harap kalian yang udah baca dan lum sempet meninggalkan jejak sekiranya mau berbesar hati meninggalkan comment and like. Bukannya aku gila comment, tapi MELALUI COMMENT KITA BISA SALING MENGENAL Bukan, walau hanya sebatas beberapa kalimat berupa kesan kalian setelah membaca. TERIMAKASIH untuk reader yang sudah sudi RCL, read, comment and like. Saranghaja chingudeul ^^

  RCL PLEASE

.

.

Myungsoo berjalan mundur dan mensejajarkan langkahnya dengan Jiyeon, ia berharap Jiyeon akan tergugah hatinya dan bersedia membantunya agar rumah kesayangannya tak akan tersewakan kepada pihak lain.

“Jadi wanita itu ibumu dan dia berpikir kalau kita ini berpacaran?”ulang Jiyeon mencoba mencerna ucapan Myungsoo yang mengatakan bahwa wanita yang mengundangnya adalah ibunya dan bukan ibunya Kwanghee.

“Eoh”

“Lalu kau ingin aku berpura-pura berkencan denganmu?”

“Eoh” Myungsoo sangat merasa canggung sekaligus gengsi karna ia terpkasa meminta bantuan Jiyeon, wanita yang sama sekali belum ia kenal.

“Jadi aku harus bertemu dengan orangtuamu?”

Sekali lagi Myungsoo hanya bisa menggumam iya “Eoh”

Jiyeon menghentikan langkahnya dan menatap Myungsoo “Apakah aku terlihat begitu ingin menikah?” tanyanya.

“Ye?”

Jiyeon kembali menggerutu “Kau bukannya mengajakku menikah, tapi kau mengajakku menjalin hubungan palsu denganmu” ia menghela nafas “Kau pasti berpikir kalau aku ini tergila-gila dengan pernikahan, sungguh konyol sekali” gerutunya.

“Memangnya kau mau menikah denganku jika aku benar benar memintanya?”

“Huft, mwoya?” mungkinkah Myungsoo menyukainya? “Jadi, kau sungguh tertarik padaku?” Jiyeon tertawa renyah “Gumawo, tapi aku sama sekali tak tertarik padamu. Meskipun kau orang terakhir di bumi ini, aku tetap tidak akan memilih-mu, tidak akan pernah” lanjutnya penuh penekanan.

Myungsoo merasa Jiyeon ini terlalu percaya diri, mana mungkin ia tertarik pada wanita seperti Jiyeon. Hey, wanita itu terlalu biasa, bahkan jauh dibawah standar biasa.

“Gamsahamnida. Itulah sebabnya aku membutuhkanmu” Myungsoo menunjuk Jiyeon “Alasanku membawamu rumahku adalah AGAR AKU TIDAK USAH MENIKAH, aratcji?” tegasnya.

Jiyeon mengangguk paham “Jadi kau ingin terlihat seolah kau punya kekasih dan tak akan ada lagi kencan buta, begitukah rencanamu?” tebaknya.

Myungsoo menjentikkan jarinya “BINGO!” angguknya senang.

“Jika kau tidak mau menikah, beritahu saja mereka”

“Jika semudah itu, untuk apa aku mencarimu?” ingin rasanya Myungsoo segera membungkam mulut Jiyeon agar dia segera diam dan menuruti permintaannya “Ekonomi keluargaku sedang genting, jebal, bantu aku sampai semuanya terselesaikan” pintanya.

“Jadi untuk apa aku membantumu jika kau tidak ingin hidup seperti yang mereka inginkan? Kenapa juga aku harus membantumu melakukan rencana licik itu?” sambar Jiyeon, tidak ada untung baginya membantu pria asing ini.

“Aku akan membayarmu. Berapa gajimu perjam setiap harinya? Akan kubayar 3x lipat lebih besar” Jiyeon nampak mencibir “Baiklah 5x lipat” sambar Myungsoo seraya mengangkat kelima jarinya, mungkin saja jika diiming-imingi dengan uang maka JIyeon akan mengiyakannya.

Jiyeon menggeleng “Meskipun 1 juta dollar sekalipun, AKU TIDAK AKAN MELAKUKANNYA! Aishhh” tegasnya kesal lalu meninggalkan Myungsoo yang sama berdecak kesalnya.

Bagaimana bisa ada wanita seperti Jiyeon yang menolak diberi uang dengan mudahnya? Apa susahnya hanya berpura-pura sementara saja?

“Jadi kau ingin kembali kepada Kwanghee?” tanya Myungsoo seraya berlari mengejar langkah Jiyeon.

“Aku saja hampir dipenjara karna dia” tolak Jiyeon, walau sebenarnya ia masih mengharap Kwanghee meminta maaf padanya.

“Bagaimana kalau kubantu kau kembali padanya?” Jiyeon menghentikan langkahnya dan nampak tertarik dengan tawaran Myungsoo “Aku ini dokter bedah, semuanya bisa aku lakukan. Kau tahu bukan kalau pria itu suka melihat wanita yang berpenampilan menarik” ucap Myungsoo bangga.

Memang benar jika pria menyukai wanita yang berpenampilan lebih menarik, mungkin saja Kwanghee memutuskannya karna Jiyeon jelek dan tidak sesempurna wanita yang sudah dipoles meja operasi.

“Kau tidak percaya?” Myungsoo mengambil kartu namanya didalam dompet dan menyodorkannya pada Jiyeon “Lihatlah!”pintanya.

Jiyeon sama sekali tak peduli jika Myungsoo memangdokter bedah atau bukan. Ia sudah mensyukuri dengan tubuh yang sudah Tuhan berikan padanya.

“Banyak wanita dicampakkan datang padaku agar bisa cantik dan bisa balas dendam. Bagaimana denganmu? Wajahmu bisa buat balas dendam” Myungsoo kembali menempelkan kartu namanya diwajah Jiyeon “Aku akan membantumu” tegasnya.

Sungguh Jiyeon sudah sangat lelah dengan masalahnya dipengadilan karna Kwanghee, jadi ia sudah tak mau lagi membuat masalah baru lagi meskipun dengan teman Kwanghee ini.

Jiyeon melirik sekilas deretan kata di kartu nama Myungsoo lalu menatap wajah Myungsoo yang terlihat membanggakan dirinya “Ada apa denganmu? Sebenarnya semua ini salahmu. Semuanya di mulai saat kau muncul kemarin dan kau ada disana di moment yang paling memalukan” ia menunjuk-nunjuk Myungsoo dengan kesal “Bahkan aku dipermalukan di rumahnya juga karenamu dan aku narapidana sekarang” gertaknya.

“Ini bukan 100% salahku, kau saja yang…” kilah Myungsoo.

“Kau pikir aku orang bodoh? Beraninya kau bilang begitu” Jiyeon mengeraskan suaranya dan mengusir Myungsoo seperti mengusir seekor anjing “Cha! Pergilah sebelum aku membuatmu lebam” bentaknya seraya hendak menedang kaki Myungsoo.

Sungguh wajah Myungsoo nampak seperti orang ketakutan, jadi ini alasan Kwanghee begitu ketakutan pada Jiyeon? Harus ia akui, JIyeon memang menyeramkan kalau sudah marah seperti ini. ia tak menyerah, ia harus tetap mmebawa Jiyeon sebelum rumahnya disewakan kepada orang lain. maka ia membuntuti Jiyeon dari belakang dan wanita itu masih saja mengacuhkannya.

Jiyeon menghentikan langkahnya didepan department store mereka, disana Hyeojeong sudah menunggunya dengan masih menggunakan seragam SPG.

“Jiyeon-a” Hyeojeong melambaikan tangan kepada Jiyeon.

“Hyejeong-a, kau sudah menunggu lama?” sapa balik Jiyeon.

Tiba-tiba Myungsoo muncul dan menyapa Hyeojeong “Apa kau temannya Jiyeon-ssi?” tanyanya.

“Nugu..” tanya Hyeojeong.

Myungsoo menyodorkan kartu namanya dan membuat Hyeojeong membulatkan matanya takjub.

“Jangan pedulikan dia” pinta Jiyeon.

“Kalian mau kemana?” tanya Myungsoo sok akrab.

“Kami mau ke club” jawab Hyeojeong santai.

“Club? Dengan bajuku seperti ini? kau bilang kau mau menaktrirku kimchi tofu” pekik Jiyeon, bagaimana bisa Hyeojeong mengajaknya ke club?

“Lain kali saja dan tenang saja aku sudah membelikan baju untukmu” Hyeojeong mengangkat tasnya “Kayo, Jiyeon-” dengan santainya Hyeojeong menggandeng tangan Myungsoo dan beranjak duluan ke sebuah club.

***

Hyeojeong menari dengan santai dikerumunan pria-pria dengan menggunakan gaun birunya. Sementara Jiyeon, ia hanya duduk saja seraya meminum bergelas-gelas whisky.

” 1 gelas lagi di sini” pesan Myungsoo pada bartender.

Mata Jiyeon sudah berkunang-kunang dan nampak layu seperti kurang tidur ” Kau pikir aku akan bergabung dalam skenario penipuan-mu itu?” ia melambaikan tangannya seolah mengatakan tidak ” Kau membuatku jadi narapidana dan merampas kimchi tofuku” geramnya.

“Mianhaneyo. Aku salah paham padamu dan tidak sengaja menyakitimu” Myungsoo berpura-pura memasang wajah menyesal “Keundae, aku juga sial karena-mu” ia berbicara cukup tegas seakan ludahnya akan terciprat ke wajah Jiyeon Kau menyiram jus padaku, memukulku dengan botol bir jadi kita anggap saja kita berdua ini impas!” jelasnya seraya mengebrak meja.

Jiyeon terlonjak kaget dan menegakkan tubuhnya hendak pergi.

“Yaa kau mau kemana?” tanya Myungsoo, jangan bilang Jiyeon mau kabur darinya.

“Toilet! Kepalaku sakit” keluh Jiyeon, dengan sempoyongan ia berjalan menujukamar mandi.

Disana sudah ada Hyeojeong yang tengah memperbaiki riasannya “Dari mana kau bisa bertemu dokter bedah plastik itu?” tanyanya.

Jiyeon memijat kepalanya yang semakin pening “Bukan seperti itu, dia hanya temannya Kwanghee” tolaknya.

“Pria yang membuatmu jadi penguntit? Lalu kenapa dia bersamamu?” tanya balik Hyeojeong.

“Molla” Jiyeon hanya memijat kepalanya yang masih pening.

Hyeojeong menarik Jiyeon keluar “Tapi tenang saja, kita masih punya ribuan rencana B. Hanya karena kau kehilangan 1 pria, bukan berarti dunia berakhir. Kajja kita cari pria baru!” ajaknya.

“Yaa Apa kau ingin aku terlibat cinta 1 malam?” tanya JIyeon kaget.

“Maksudku sembuhkanlah jiwa-mu. Sembuhkan!” jelas Hyeojeong yang sukses menarik Jiyeon ke kerumunan clubber.

Jiyeon menari konyol dikerumunan pada clubber lainnya. Sementara Hyejeong, ia malah berbicara dengan pria asing dan saling berdiskusi berapa banyak orang dalam pestanya.

 

“Ada berapa orang dalam kelompokmu?” tanya Baekhyun seraya menari bergesekkan dengan tubuh Hyeojeong.

“Dua orang” jawab Hyeojeong menggoda.

“Call, sama denganku. Kajja” ajak Baekhyun, ia menghampiir seorang pria berjas merah muda.

Dan Hyeojeong juga mengajak Jiyeon agar lebih dekat dengan Baekhyun, mereka saling menari bersama. Hyeojeong dengan Baekhyun dan Jiyeon dengan pria berjas muda. Tiba-tiba Jiyeon dan pria itu saling menoleh dan BLAM, ingin sekali Jiyeon melempar high heelsnya ke wajah pria itu.

“Yaaa Park Jiyeon, kau mengikutiku?” tuduh pra berjas merah muda yang tak lain adalah Kwanghee.

“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Baekhyun.

” Kau pikir, aku ke sini mau menemui-mu?” tolak Jiyeon geram.

“Jadi ini cuma kebetulan? Kau pasti ke club ingin cinta 1 malam dengan para pria dan sialnya ternyata itu adalah aku, bukankah begitu?” dumel Kwanghee.

“Mwo? Cinta 1 malam? ” Jiyeon memekik kesal ” Kau pasti mau menggoda para wanita untuk bersenang senang malam ini, kan? Aku menjadi narapidana karnamu” pekikan Jiyeon membuat semua pengujung menghentikan tariannya.

Hyeojeong menunjuk Kwanghee “Jadi dia adalah pria yang menuduhmu sebagai penguntit?” ulangnya.

“Dia wanita yang kau ceritakan itu? penguntit itu? dan dia juga punya teman penguntitnya” tanya Baekhyun pula.

“Kau yang menggodaku duluan” tolak Hyeojeong.

“Katakan padaku yang sebenarnya. Kenapa kalian ke sini?” selidik Kwanghee.

“Kau tidak dengar, dia jadi narapidana hari ini? Jadi, dia ingin melupakannya” gertak Hyeojeong.

“Jadi kau menyalahkanku?” pekik Kwanghee.

“Memangnya aku tidak boleh pergi clubbing? Sedangkah kau boleh bersenang-senang dan aku tidak boleh, begitukah?” balas Jiyeon semakin geram seraya menepuk dada Kwanghee.

Myungsoo tiba-tiba datang dan merangkul bahu Jiyeon “Argh kau disini? Aku mencarimu sejak tadi” ucapnya menggoda seolah ia sedang berkencan dengan Jiyeon.

“Kim Myungsoo, kenapa kau disini?” pekik Kwanghee kaget, kenapa Jiyeon bisa bersama Myungsoo?

“Tentu saja mendekati Jiyeon” balas Myungsoo dengan seringaiannya.

“Mwo?” pekik Kwanghee, sungguh ini sudah gila, kenapa Myungsoo malah mendekati Jiyeon? Apa dia tertarik pada Jiyeon?

“Kita bicara nanti” pamit Myungsoo lalu mengejar Jiyeon keluar bar.

“Kenapa kau membantuku? Bukankah kau temannya Hwang Kwanghee” gumam Jiyeon seraya berjalan cepat diparkiran bar.

“Itulah sebabnya aku membantumu, aku akan membantumu balas dendam” Jiyeon menghentikan langkahnya “Aku akan membuatnya jatuh cinta padamu, lalu kau bisa membuangnya, mencampakkannya sama seperti apa yang telah dia lakukan” jelas Myungsoo.

Jiyeon menoleh menatap Myungsoo dengan ragu “Akankah aku bisa melakukannya? Apa aku bisa bala dendam padanya?” tanyanya.

“Makanya kau turuti saja apa yang kukatakan. Kajja” Myungsoo menarik tangan Jiyeon dan membawanya ke kedai ramen.

Disana Jiyeon nampak lahap memakan semangkuk besar ramen dan bisa menghilangkan pusing dikepalanya. “Bagaimana kalau aku gugup ketika bertemu orangtuamu?” tanyanya.

“Kau tak perlu repot-repot bersikap baik, JADILAH DIRIMU SENDIRI, aratcji?” tegas Myungsoo.

“Setidaknya aku tak boleh membawa tangan kosong” Jiyeon bangkit berdiri dan mencari toko terdekat yang sudah buka dipagi buta seperti ini.

**

Disebuah dapur keluarga Kim, Minyoung nampak memotong tofu dan bersiap menuangkannya ke dalam kaldu supnya.

“Apa akan ada tamu besar?” tanya nenek.

“Myungsoo akan membawa wanitanya kemari” jawab Minyoung bangga.

“Paling Myungsoo akan menipu kita lagi” gumam nenek lalu pergi dari dapur.

Setelah menyelesaikan masakannya Minyoung menghubungi bibi Han ditelpon “Segera taken kontrak sewanya” ujarnya lalu menutup telpon, ini sudah hampir jam 6 pagi, tapi Myungsoo belum juga berada dirumah ini.

Setelah selesai berbelanja Myungsoo langsung menyeret Jiyeon kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya ke kediaman keluarga Kim. Jiyeon menatap aneh rumah Myungsoo, bukan karna terpesona tapi karna ia takut bertemu keluarag Myungsoo.

“Kajja” Myungsoo terpaksa menarik Jiyeon.

“Chakkaman, chakkaman” Jiyeon menahan langkah Myungsoo dengan mengijakkan kakinya kuat agar tidak tertarik “Aku rasa aku harus ganti baju dulu, mana mungkin aku berpenampilan seperti ini” jelasnya, ia masih memakai tanktop kuning seperempat dada yang memperlihatkan pusarnya serta celana pendek seperempat paha pula, dilehernya terkalung kalung rantai berliontin tengkorak, bahkan rambutnya acak-acakan.

“Tidak perlu” dengan sekuat tenaga Myungsoo menarik Jiyeon masuk.

Mereka disambut oleh Jaejong, Minyoung dan nenek, ketiganya nampak penasaran dengan sosok berambut coklat yang bersembunyi dibelakang Myungsoo. Maka Myungsoo melangkahkan kakinya kesamping hingga menampakkan Jiyeon yang sukses membuat keenam mata tua itu berlonjak kaget.

“Annyeonghaseyo” Jiyeon menunduk hormat seperti biasa “Nan Park Jiyeon imnida. Igeo..” ia menyerahkan sebungkus plastic namun tak juga segera diterima oleh Minyoung maupun nenek.

“Gumawo” Jaejong terpaksa menerimanya.

“Mianhae, karna aku membujuknya semalaman jadi aku terlambat datang” sesal Myungsoo.

“Jadi kalian bersama sepanjang malam?” tanya nenek.

“Ne” angguk Jiyeon santai.

“Silahkan duduk” pinta Minyoung dingin.

Kini Jiyeon duduk canggung dihadapan Jaejong dan juga nenek. Mata Jaejong jelalatan melirik paha mulus Jiyeon yang terpampang sempurna. Minyoung yang baru saja datang segera menutupi paha Jiyeon dengan selimut, ia tahu suaminya ini jelalatan jika melihat wanita cantik. Namun ia selalu berusaha memendamnya.

Minyoung menghubungi bibi Han ditepon untuk menghentikan transaksi penyewaan rumah Myungsoo dikamar sembari mengambil handuk “Jeogie” Minyoung duduk disebelah Jiyeon lalu menyerahkan selimut ditangannya padanya dan Myungsoo membantu Jiyeon untuk menutupi paha Jiyeon dengan selimut itu.

“Sebenarnya aku selalu menghangatkan diri dengan minum” gumam Jiyeon yang sukses membuat Minyoung menumpahkan teh yang dia tuang ke cangkir.

“Kau pasti sangat tahan pada alcohol yang tinggi?” sambar nenek.

Jiyeon tersenyum ramah “Ne, orangtuaku mempunyai kedai soju” jelasnya santai yang sekali lagi membuat ketiga paruh baya itu ternganga kaget. Lain halnya dengan Myungsoo, ia sangat puas dengan tingkah konyol Jiyeon.

Jiyeon menoleh pada Minyoung “Mianhae, aku tidak bisa datang kemarin” sesalnya.

Minyoung menyerahkan secangkir teh pada Jiyeon “Aku mengerti, itu bukanlah keputusan yang mudah. Kau pasti belum yakin pada hubungan kalian” balasnya dingin seperti biasa.

Jiyeon tersenyum senang, ternyata ibunya Myungsoo sangatlah baik “Gamsahamnida atas pengertiannya” ia menoleh menatap Myungsoo yang hanya duduk diam “Sebenarnya kami baru saja saling mengenal, jadi kami masih saling mencoba terbiasa” ia menarik nafas “Jadi kami harap kalian bisa mengamati pertumbuhan hubungan kami” keluarga Myungsoo nampak menghela nafas namun Myungsoo hanya tersenyum kecil “Aku tidak mengerti kenapa kami perlu mendapatkan ijin keluarga seperti ini? geurae, orangtua memang bisa menentukan dengan siapa anaknya akan menikah, tapi kan yang menjalani pernikahan adalah orang yang menikah itu sendiri” jelas Jiyeon seraya menepuk dadanya.

Minyoung menghentakkan cangkirnya kesal “Jadi kau tidak ingin kami terlibat?” tanya nenek yang dibalas anggukan oleh Jiyeon.

“Kami akan saling mencintai dan berjuang seperti orang gila” Jiyeon meninjukkan kepalan tangannya “Saat kami sudah yakin, kami akan kesini untuk meminta ijin resmi. Jadi tunggulah saja saat itu” jelasnya yang sukses membuat Myungsoo bersorak gembira dalam diam.

Myungsoo membantu Jiyeon meneguk tehnya seolah ingin menujukkan betapa mesra dan dekatnya ia dan Jiyeon. “Massita?” tanyanya.

“Ini sangatlah hangat dan menghilangkah mabukku” puji Jiyeon seraya meletakkan cangkir ke meja.

“Tidakkah seharusnya kau mengetahui tentang keluarga Myungsoo? Aku yakin kau tidak tahu, tapi dia adalah satu-satunya pewaris selama 3 generasi. Kami bukannya sangat pemilih, tapi kami punya cara sendiri dalam memilih menantu. Kau harus mengubah gaya hidupmu nanti jika menikah dengannya, camkan itu” ucap Minyoung dingin, ternyata asumsinya kemarin salah, ia kira Jiyeon adalah wanita baik-baik.

Tiba-tiba Jiyeon menjatuhkan kepalanya dipundak Minyoung, ia ketiduran saking masih mabuk dan semalam sama sekali belum tidur bahkan ia mengorok kencang. Ini semakin membuat Minyoung ilfeel padanya. Myungsoo hanya bisa terbatuk kecil untuk menutupi tawanya, sungguh ibunya tak salah mengira Jiyeon adalah kekasihnya kemarin. Dengan begini akan mempermudahnya agar keluarganya tidak mendesaknya menikah, karna mereka tak menyukai sikap Jiyeon.

Minyoung menodorng kepala Jiyeon hingga dia terjatuh berbaring disofa. Myungsoo berusaha membangunkan Jiyeon, namun Jiyeon malah mengangkat kakinya ke pangkuanya hingga memperlihatkan paha mulusnya dan sukses membuat Jaejong melirik senang. Namun tak lama Minyoung memberinya tatapan dingin hingga Jaejong terpaksa menghentikan menikmati pemandangan indah itu.

“Myungsoo disini? Jadi Myungsoo benar disini?” bibi Han yang baru saja datang dari rumah Myungsoo, ia nampak penasaran dengan wanita yang dibawa Myungsoo “Nugu?” tunjuknya pada Jiyeon.

Setelah 10 menit tertidur akhirnya Jiyeon bisa juga dibangunkan oleh Myungsoo. Kini ia dan Myungsoo sudah berada didepan gerbang kediaman Kim lengkap dengan keluarga Myungsoo.

Berkali-kali Jiyeon membungkuk minta maaf “Josonghamnida, aku ketiduran tadi” sesalnya seraya menyapu poninya kebelakang.

“Terima kasih sudah merasa nyaman bersama kami” ucap Jaejong, Myungsoo menatap illfeel pada Jaejong.

“Sayang sekali aku melewatkan” bibi Han hendak mengatakan ia melewatkan hal lucu yang telah Jiyeon lakukan sebelum ia datang “Maksudku kita tidak bisa mengobrol banyak” kilahnya.

“Ne bibi, sayang sekali” dengan santainya Jiyeon menanggapi seolah ia tak merasa sudah membuat kekacauan.

“Kau bisa datang lagi lain kali dan akan kami sajikan anggur beras terbaik” sambar nenek.

Jieyon menepuk tangannya “Kedengarannya menarik, aku juga akan membawa pancake buatan-ku. Pasti aku akan berkunjung lain kali” balasnya.

“Geureum, hati-hati dijalan” pamit Minyoung dingin, ia berharap Jiyeon tak akan pernah ke rumahnya lagi.

“Ne, gamsahamnida” Jiyeon kembali membungkuk dan memasuki mobil Myungsoo.

“Kami pergi dulu” pamit Myungsoo setelah menutup pintu jok penumpang.

“Geuruem kami pergi dulu” pamit Jiyeon dengan wajah polosnya seraya melambaikan tangannya.

“Anni eomma” bibi Han mencegah nenek membalas lambaian tangannya pada Jiyeon yang masih terlihat meskipun mobil Myungsoo sudah berjarak 3 meter.

Jiyeon menghentikan lambaian tangannya “Mereka semua sepertinya orang yang baik. Aku merasa tidak enak telah berbohong pada mereka” sesalnya.

“Kau sungguh pandai berakting” puji Myungsoo.

“Aku hanya bilang apa yang ada di pikiranku saja” Jiyeon mendengus kesal “Ini sungguh buruk, aku berulah dipertemuan santai seperti itu. Bagaimana jika mereka benar-benar ingin kita menikah?” tanyanya.

“Gojongma, Kau tidak kenal ibuku” sanggah Myungsoo seraya mengelus dagunya.

“Aku malah paling khawatir padanya, dia selalu baik padaku” sesal Jiyeon.

“Dia bukannya baik padamu.. Dia sedang melatih-mu” balas Myungsoo.

“Melatih?”

Diruang tamu keluarga Kim, nampak nenek sedang meneguk sebotol kopi yang dibawa Jiyeon, namun selang beberapa menit Minyoung langsung mengambilnya.

“Ini penuh dengan kafein, nanti kau tidak bisa tidur” cegah Minyoung.

“Tidak apa kalau sekali-sekali” tolak nenek, namun tetap saja ia harus menurut pada menantunya.

“Aku akan buatkan teh plum saja” Minyoung berbalik hendak ke dapur.

“Aku menyukainya, Aku yakin kau akan menolak dia” Minyoung menghentikan langkahnya “Bagaimana menurutmu?” tanya nenek pada Jaejong.

“Pendapat-ku tidak akan banyak berarti. Aku selalu menghormati dan mengikuti pendapat istriku” jawab Jaejong.

“Kau tidak terlalu peduli tentang hal seperti ini” potong Minyoung dingin.

“Kau sepertinya menyukainya, oppa. Dia kan tipe-mu, Oppa” bibi Han tertawa mengejek Jaejong namun ia meredam tawanya setelah mendapat tatapan dingin dari Minyoung “Aku menolak dia. Aku benci wanita yang lebih cantik dariku” kilahnya takut.

“Sudah 3 tahun dia tidak pulang dan ini pertama kalinya dia membawa wanita ke rumah kita. Kita beri saja mereka waktu. Katakan sesuatu, Minyoung-a!” sambar nenek.

“Dia bilang dia tidak perlu izin kita bukan?” Minyoung benar-benar menuju dapur sekarang.

“Eomma, kau sungguh menyukai wanita itu?” bisik bibi Han.

“Dia itu wnaita yang lucu, dia pasti bisa membuat Minyoung kewalahan” jawab nenek dengan tawa liciknya.

Minyoung baru saja mengambil teh siap saji di lemari pendingin “Aneh sekali, ini bukan Myungsoo yang ku kenal” gumamnya.

Didalam mobil Myungsoo memberitahu semua rahasia ibunya, agar Jiyeon tidak mudah terkecoh.

“Kau harus tahu eomma-ku itu snagat pandai dalam management orang, dia akan bertingkah baik layaknya malaikat pada setiap orang tapi dibelakang dia akan memasang wajah iblisnya tanpa sepengetahuan orang lain” jelas Myungsoo.

“Sungguh bermuka dua, aku tak percaya eommonim seperti itu” tolak Jiyeon.

“Dia hanya berpura-pura menerimamu tapi dibelakang dia akan berusaha membuatmu terlempar dengan sendirinya tanpa terlihat licik” tambah Myungsoo.

“Jincha?”

“Turunlah” Myungsoo melirik pintu disamping Jiyeon, mereka sekarang berada diklinik Myungsoo. Ia menggambari wajah Jiyeon yang ia rasa perlu dirubah hingga wajah Jiyeon nampak seperti badut.

“Apa yang kau lakukan?” Jiyeon nampak risih dengan tingkah Myungsoo yang seakan menatap tubuhnya lekat.

“Para pria sensitif terhadap perubahan fisik” Myungsoo menunjuk dada Jiyeon “Payudaramu bisa di implant silicon ukuran 200cc” lalu menujuk paha Jiyeon “Sedot lemak paha” lalu ke lengan Jiyeon “Botox untuk lengan-mu” jelasnya seraya hendak menyentu pundak Jiyeon.

“Jangan sentuh aku!” Jiyeon berlarian keluar ruang praktek Myungsoo, ia sudah sangat bersyukur dengan tubuhnya ini.

**

Kini mereka berada di department store tempat Jiyeon bekerja. Ia sengaja ingin merubah gaya berpakaian Jiyeon. Sedari tadi Jiyeon diharuskah berganti macam-macam pakaian. Ia keluar ruang ganti dan menari konyol mengenakan tanktop pink serta celana pendek sepanjang lutut.

“Kau harus bisa mengesankan para pria” Jiyeon tersinggung dengan ucapan Myungsoo, ia kembali masuk ke ruang ganti dan memakai gaun abu-abu. Sekali lagi ia keluar dengan gaya menggoda, ia kibaskan rambutnya dan berjalan sexy bahkan melempar flying kiss pada Myungsoo.

“Jangan terlalu menggoda, tetap lembut tapi menarik” tolak Myungsoo.

Dengan kesal Jiyeon kembali memasuki ruang ganti dan memakai gaun putih biasa serta bersikap lembut dan malu-malu seperti yang Myungsoo katakan.

Myungsoo kembali tak suka dengan pakaian Jiyeon, ia menyuruh pelayan butik memberikan Jiyeon sebuah baju.

Kali ini Jiyeon tak bertingkah macam-macam, ia hanya diam menunggu reaksi Myungsoo setelah melihatnya menggunakan kemeja tranparan bermotif bunga dengan padanan celana kain seperempat paha.

Mata Myungsoo berbinar senang, sungguh Jiyeon sangatlah cantik. Ia menyerahkan kartu kreditnya kepada pelayang untuk membayar pakaian Jiyeon.

**

Kini Jiyeon berjalan anggun dan mengibaskan rambutnya menuju café milik Kwanghee. Ia ingin mencari Kwanghee dan menarik perhatian mantan kekasihnya itu. Namun seperti biasa Minho menyambutnya.

“Kau? Kenapa kau kemari?” tunjuk Minho dengan senyum ramahnya yang terkesan ingin menarik perhatian siapa saja.

Jiyeon berbalik dan hendak pergi namun ia mengingat pesan Myungsoo ‘Player itu adalah penggoda yang menggerikan kapanpun’ ia memasang senyum terbaiknya kepada Minho. Ia menujuk papan menu “Jus jeruknya satu” pesannya.

“Satu jus jeruk?” ulang Minho memastikan.

Jiyeon kembali mengingat pesan Myungsoo ‘ Pikirkan semua pria sebagai orang yang bisa kau dapatkan’.

“Keundae, kenapa kau terlihat begitu cantik hari ini?” puji Minho yang langsung mendapat tawa kecil penjaga kasir café Kwanghee.

Jiyeon tertawa kecil merasa tersanjung mendengar pujian Minho, namun tiba-tiba ia ingat pesan Myungsoo lagi ‘Jangan biarkan dia menipu-mu’ “Aku hanya sedikit mengubah style-ku” suara Jiyeon terdengar datar namun tetap mengembangkan senyumnya “Kenapa kau tidak mengubah stylemu juga?” ia menunjuk badan Minho yang tinggi tegap ” Kau punya badan yang bagus” pujinya, ya ia harus murah pujian pada siapapun itulah pesan Myungsoo.

“Kalau begitu maukah kau memilihkan baju untukku? Kau bekerja di department store bukan?” kalimat rayuan Minho sepertinya sudah sangat dihafal oleh pelayan lainnya hingga mereka hanya tertawa pelan.

‘Beri kartu pengenal sekarang’ Jiyeon kembali teringat pesan Myungsoo “Geurae, hubungi aku” ia menyerahkan sebuah kartu nama pada Minho dan pesan Myungsoo terngiang lagi dikepalanya ‘kapanpun’ “Kapanpun hubungi aku” lanjut Jiyeon.

“Ini pesananmu” Minho menyerahkan segelas jus jeruk yang diberikan pelayan lainnya kepada Jiyeon “Aku saja yang bayar” tambahnya.

Kwanghee baru saja masuk ke cafenya, matanya berbinar melihat kaki mulus Jiyeon dari belakang “Andwae, aku saja. Aku pemilik café ini” ia ingin menarik perhatian Jiyeon karna ia kira itu adalah wanita lain.

Jiyeon membalik punggungnya dan sontak membuat Kwanghee kaget “Park Jiyeon” ia melyilangkan tangannya didepan dada “Kenapa kau ke sini?” pekik Kwanghee.

Jiyeon mengangkat jusnya “Hanya membeli jus” jawabnya santai, ia mengusap pundak Minho lalu berjalan keluar cafe.

“Kau ke sini cuma mau beli jus?” Kwanghee mengejar Jiyeon menuruni tangga keluar café.

“Memangnya mau apalagi selain beli jus ke sini?” tiba-tiba mobil Myungsoo menghampiri Jiyeon dan membawa Jiyeon masuk.

“Kau..” Kwanghee menatap tak percaya pada Myungsoo, jadi mereka sungguh sedang saling mengenal satu sama lain?

**

Didalam mobil Jiyeon mengangkat tangannya senang “Kau lihat ekspresi Kwanghee? Si pria paruh waktu itu juga jatuh cinta padaku. Aku memang punya pesona yang alami” pujinya bangga.

“Itu baru awalnya saja, kau mau makan malam?” tawar Myungsoo.

“Anni, turunkan saja aku ke stasiun” tolak Jiyeon.

“Shirreo, bibi Han sedang mengikuti kita” Jiyeon hendak menoleh ke belakang “Andwae, dia akan curiga” cegah Myungsoo seraya masih fokus mengemudikan mobilnya.

Dengan terpaksa Jiyeon ikut makan alam bersama Jiyeon, ia kasihan dengan bibi Han yang sedari tadi membuntuti mereka. Ia menoleh ke belakang tepat ke jendela kaca dimana bibi Han mengintip “Dia pasti kelaparan” gumamnya.

“Kau jangan terlalu baik” saran Myungsoo.

“Wae? Kau harus ajak dia bergabung dengan kita” pinta Jiyeon.

Myungsoo menarik kepala Jiyeon agar menatapnya “Tetap memandang-ku! Mata kita harus saling memandang terus, tak usahkau pedulikan yang lain. Tatap saja aku!” ujarnya.

“Kau mengatakan kata-kata romantic dengan ekspresi tidak romantis begitu, mereka akan bisa menebak wajahmu” cibir Jiyeon.

Tiba-tiba pelayan datang membawa sebotol anggur “Ayo kita minum anggur” gumam Myungsoo.

Jiyeon merasa kasihan melihat pelayan ini kesulitan membuka tutup anggur “Aku saja yang melakukannya” ia mengambil pembuka botol dari tangan pelayan itu.

“Anniya, saya saja” tolak pelayan itu.

“Gwaenchana” jawab Jiyeon, ia sungguh mampu membuka penutup anggur dengan cepat.

“Jincha, kau harus rubah sikap baikmu itu” decak Myungsoo.

Bibi Han masih mengikuti Myungsoo sampai kerumah Jiyeon “Pergilah, gumawo” ujar Jiyeon.

“Chakkaman” Myungsoo memberikan sebuah undangan lalu memeluk Jiyeon “Jaljayo” ucapnya.

“Igeo mwoya?” geram Jiyeon dipelukan Myungsoo.

“Ada bibi Han, besok aku tunggu didepan café Kwanghee” bisik Myungsoo seraya melepas pelukannya.

“Geureum” Jiyeon berjalan memasuki rumahnya dan Myungsoo pergi melajukan mobilnya.

“Eonnie, mereka seharian berkencan dan ini aku dirumah Jiyeon” lapor bibi Han.

***

Jiyeon nampak menata dompet di stand department store “Jiyeon-a, ada yang mencarimu” ucap Hyeojeong.

“Annyeong” sapa Minho dengan senyum menggodanya.

“Kenapa kau..” tanya Jiyeon kaget.

“Bukankah kau bilang kau akan membantuku memilih baju?” ujar Minho.

“Argh igeo” Jiyeon menggaruk lehernya yang tak gatal, ia tak terlalu tertarik dengan Minho, namun ketika ia tak sengaja melihat Kwanghee yang tengah mengintipnya, maka ia mengiyakannya “Kajja” dan ia sengaja menggandeng lengan Minho untuk memanas-manasi Kwanghee.

“Aishh jadi mereka sungguh..” gumam Kwanghee yang berdiri didepan pintu stand dompet.

“Yaa sedang apa kau?” gertak Hyeojeong.

“Anni, aku..aku ingin membeli sesuatu” Kwanghee memasuki stand butik tas dan dompet lalu memilih sebuah dompet “Bungkus 20 dompet” pintanya.

“Eoh, untuk apa kau membeli sebanyak itu?” sanggah Hyejeong.

“Temanku mengadakan pesta amal, aku akan memyumbangkannya” jawab Kwanghee seraya mengedipkan matanya.

“Wow daebak, aku kira kau pria bejad dan pecundang”

“Ne?” ulang Kwanghee.

“Karna Jiyeon kecewa padamu, maka dia mengumpatmu seperti itu” sanggah Hyeojeong lalu pergi membungkus 20 dompet.

Di butik kemeja pria, Jiyeon nampak memilihkan berbagai kemeja dan setelan jas untuk Minho. Berkali-kali Minho mencoba namun belum ada yang Jiyeon rasa pantas hingga Minho keluar menggunakan kemeja abu-abu dengan setelan jas tipis pula berwarna senada.

“Ini saja” ucap Jiyeon, sungguh Minho tampan sekali.

“Gumawo, maukah kau membayarkannya juga?” goda Minho.

“Ne?” ulang Jiyeon tak percaya, ‘Orang-orang sering mengambil keuntungan darimu, kau bukanlah dicintai, tapi dimanfaatkan’ pesan Myungsoo itu terngiang dikepalanya.

Minho tertawa kecil “Lupakan!” lalu menyerahkan kartu kredit ke pelayan butik.

Setelah selesai berbelanja, Minho kembali ke café dan menyerahkan kartu kredit emas itu kepada Soojung “Aku sudah memakainya, gumawo” ucapnya.

“Kau sudah membeli baju yang mewah?” tanya Soojung seraya memasukkan karyu kredit itu ke dompetnya.

“Keundae, apa alasanmu menyuruhku membeli baju mewah?” tanya Minho bingung.

“Tamu pestaku harus berpenampilan menarik” jawab Soojung santai.

“Kau disini Soojung-a?kau pasti ingin menemuiku. Pergilah!” sapa Kwanghee pada Soojung seraya mendorong Minho menjauh dari meja Soojung.

“Aku pergi dulu” Soojung bangkit berdiri “Sampai jumpa minggu depan” pamitnya pada Minho.

“Yaa kau juga datang ke pesta Soojung?” Kwanghee berbicara menggebu-gebu kesal “Kau bahkan juga mendekati Jiyeon” lanjutnya.

“Dia yang mengundangku” jawab Minho.

“Yaaa” Kwanghee menunduk menatap meja kosong “Ini masih kotor, bersihkan dengan benar” makinya.

“Apa perlu ku ajak Jiyeon juga?” gumam Minho dengan tawa menyindirnya.

Didalam mobil Soojung nampak riang bercengkerama dengan seseorang diseberang “Besok kau harus datang Myungsoo-ya” paksanya.

“Kenapa kau memaksaku datang?” Myungsoo berhenti mengamati hasil laporan pasiennya “Aku besok ada kencan” kilahnya.

“Berhentilah berbohong, sejak kapan kau berkencan dengan wanita selain aku” tolak Soojung, ia sangat tahu kalau Myungsoo sudah tidak tertarik lagi pada wanita lain, bukannya dia berkelainan seksual, tapi dia sengaja tak mau lagi berurusan dengan yang namanya wanita setelah dia berpisah dengannya selama dua tahun ini.

“Kau lihat saja aku akan membawa kekasihku kesana” ucap Myungsoo mantap.

“Geurae, aku tunggu” Soojung yakin, Myungsoo hanya akan membawa wanita palsunya saja.

**

Jiyeon berdiri didepan café Kwanghee tepat ketika Kwanghee keluar café.

“Jiyeon-a, chakkaman” Kwanghee menarik pergelangan tangan Jiyeon, Jiyeon cantik sekali dengan gaun merah muda ini “Mianhae, aku sungguh tulus minta maaf padamu” sesalnya.

Jiyeon hampir saja luluh dengan kata maaf Kwanghee yang ntah tulus atau tidak “Mianhae, dia sekarang kekasihku, jangan ganggu dia. Kajja” Myungsoo memutar pundak Jiyeon agar emnuju mobilnya.

“Chakkaman” Jiyeon menahan langkah Myungsoo “Dia sepertinya tulus padaku” lirihnya.

“Dia hanya menipumu, ingat itu” tegas Myungsoo.

Pesta Soojung ternyata adalah sebuah pesta kolam renang, Myungsoo menuntun Jiyeon menyapa Soojung.

“Acara amal apa ini?” cibir Jiyeon.

“Kita semua harus menikmati pesta ini” Soojung menghampiri Myungsoo dan Jiyeon, benar bukan kalau Myungsoo membawa wanita palsunya yang tak lain adalah mantan kekasih Kwanghee, lagipula bukankah kemarin hidungnya tersakiti karna Jiyeon “Annyeong Jung Soojung imnida” Soojung mengulurkan tangannya kepada Jiyeon.

“Park Jiyeon imnida” Jiyeon menerima jabatan tangan Soojung.

“Aku kira kau tak akan nyaman dipesta ini” Kwanghee melepas kaca matanya “Kau sudah melupakan masa lalumu bukan?” sindirnya, karna Soojung adalah mantan kekasih serta calon istri Myungsoo.

“Masa depan lebih penting dari masa lalu” balas Myungsoo seraya merangkul Jiyeon.

“Myungsoo-ya, dr Jang sudah disini. Kajja kita temui” Soojung seenaknya menggandeng tangan Myungsoo dan menemui dr Jang dan meninggalkan Jiyeon sendirian karna Kwanghee juga melenggang pergi.

“Putri pemilik rumah sakit Jung yang mengadakan pesta ini, jadi semua dokter ada disini” gumam tamu lain.

Tiba-tiba seluruh wanita dipesta ini berteriak histeris melihat Minho menghampiri Soojung. Mereka terpesona dengan ketampanan Minho, itulah mengapa Soojung mengundangnya kemari.

Jiyeon menatap Minho senang apalagi ketika Minho melambaikan tangannya, maka ia balas melambaikan tangannya. Namun sayang ternyata Minho berjalan melaluinya, dia malah terus berjalan dan masih melambaikan tangannya yang ternyata ditujukan kepada Soojung.

Kwanghee menerima telpon dari Hyejeong, wanita itu sengajamengantar dompet pesanan Kwanghee untuk semakin dekat dengannya.

“Mianhae kami terlambat mengantarnya, jadi aku sengaja secara pribadi memberikannya padamu” sesal Hyeojeong, ia bahkan sudah memakai gaun putih dan berdandan cantik.

“Dwaesseo, gumawo” Kwanghee menerima sebuah tas berisi dompet.

“Begupo” keluh Hyejeong.

“Kau lapar? Bagaimana kalau kau ikut berpesta saja?” saran Kwanghee.

“Jincha?” Hyejeong bersorak girang dalam hati.

Kwanghee menghampiri Soojung dan menyerahkan tas itu “Soojung-a, igeo, aku sengaja membeli ini untuk ku sumbangkan” ujarnya.

Soojung merogoh tas itu dan menemukan sebuah dompet “Mianhae Kwanghee-a, acara amal ini tidak seperti acara amal lainnya” ia menyerahkan kembali dompet itu.

Kwanghee memasang wajah bingung lalu menghampiri Hyejeong “Wae oppa?” tanya Hyejeong.

“Anniya, kajja kita makan” balas Kwanghee.

Jiyeon merasa kesal sudah diacuhkan oleh Myungsoo dan juga Minho, maka ia menyambar sebuah piring dan hendak mengambil makanan sebanyak mungkin. Namun setiap makanan yang ia sumpit malah tersumpit oleh sumpit Minho.

“Kau tampan sekali, siapa yang memilihkan baju itu untukmu?” sindir Jiyeon seraya memilih makanan lainnya.

“Ternyata kau ini selalu baik pada semua orang” ucap Minho dingin dan seolah mengejek.

Jiyeon hendak mengambil daging sapi panggang, namun lagi-lagi Minho merebutnya.

“Kupikir kau tertarik padaku” nada bicara Minho nampak kecewa.

“Memangnya kau juga akan tertarik padaku, tidak bukan? Aishh” gerutu Jiyeon sambil mengambil sebuah kimchi namun lagi-lagi Minho menghalanginya.

“Jangan langsung menilai orang seperti itu. Dengan semua kekacauan itu dan disaat kau menyiram jus pada Myungsoo” gumam Minho.

Mungkinkah saat ini Minho sedang sangat teramat mengejeknya dimana ia telah berpisah dengan Kwanghee dan malah berkencan dengan Myungsoo “Yaa sebenarnya apa maumu?” bentak Jiyeon.

Tiba-tiba Minho meletakkan piringnya diatas piring Jiyeon “Aku tidak suka melihatmu kembali pada Kwanghee sajangnim” ucapnya yang terdengar tulus bagi Jiyeon, apalagi ternyata Minho sengaja mengambilkan Jiyeon makananan meski caranya terlihat seperti tak suka pada Jiyeon.

“Minho-ssi, aku sudah menyiapkan tempat duduk disana” seorang wanita 40 tahunan menghampiri mereka dan mengajak Minho pergi.

“Sekarang mari kita mulai acara utama kita, pelelangan para pria” koar MC, ternyata pesta amal yang Soojung maksud itu adalah penggalangan dana dengan menjadikan para pria sebagai lelang dari para ahjumma disini.

Para pria tampan mulai menaiki panggung termasuk Minho.

“Apa ini sebabnya kau memaksaku datang hah?” Soojung menyeret Myungsoo agar mau menaiki panggung.

“Ini untuk amal, Myungsoo-ya” jawab Soojung santai.

“Andwae, aku bisa berikan sumbangan langsung” bagaimana bisa Soojung memaksanya menjadi barang lelang seperti ini?

“Shirreo” Soojung kali ini berhasil mendorong Myungsoo berbaris dideretan para pria tampan diatas panggung.

“Soojung-a, apa kau butuh relawan?” tanya Kwanghee yang tiba-tiba muncul disamping Soojung.

“Geu..rae” Soojung ragu akan ada yang melelang Kwanghee, pria ini jauh-jauh dari kata tampan jika dibandingkan dengan sederet pria diatas panggung itu.

Pelelangan segera dimulai, setiap pria berhasil dilelang hingga menyisakan Myungsoo, Minho dan Kwanghee.

“Silahkan perkenalkan diri kalian bertiga” pinta MC

“A,,aku dokter bedah” ucap Myungsoo malas.

“Aku pintar memasak” semua wanita bersorak senang mendengar perkenalan dari Minho.

“Aku pemilik café yang sangat tampan” ucap Kwanghee yang langsung dapat cibiran dari para tamu wanita.

“Silahkan dimulai melelang pria berjas abu-abu ini dulu” ucap MC

“700$”

“800$”

“1000$” seru wanita 40 tahunan yang tadi mengajak Minho.

“Bagaimana kalau kita beralih ke pria berjas hitam ini dulu” tawar MC.

“800$”

“1000$”

“1500$” sorak seorang ahjumma gendut.

Myungsoo melirik Jiyeon seolah memohon agar dia melelang berapapun angkanya dan nanti akan ia bayar dengan uangnya. Namun Jiyeon hanya menghendikkan bahunya, mana mungkin ia punya uang lebih dari 1500$.

“Persaingan semakin ketat, bagaimana kalau kalian berdua menunjukkan kemampuan terpendam kalian?” tawar MC.

Minho tanpa malu menari dengan penuh menggoda hingga para wanita mulai menaikkan nilai lelangnya sampai 5000$ dan yang melelangnya adalah wanita berumur 40 tahunan itu.

“Apa kau tak mau menunjukkan kemampuanmu?” Myungsoo sedikit ragu mana mungkin ia menari seperrti Minho “Baiklah kalau begitu kau terlelang pada nyonya itu” MC menunjuk ahjumma gendut yang tadi melelangnya.

“Geurae” Myungsoo akhirnya menari dengan sedikit malu-malu.

“10000$” seru Soojung, ia memang sengaja ingin membeli waktu Myungsoo melalui acara lelang ini.

“Keseluruhan acara sudah berakhir sekarang” ujar MC.

“Aku belum” pekik Kwanghee.

“Aku lupa dan menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir. Baiklah inilah kontestan terakhir kita. Bisa kau jelaskan kemenarikanmu?” pinta MC.

“Aku punya café makanan Perancis. Wanita kan suka pasta, aku akan membelikannya pasta selamanya” ucap Kwanghee bangga.

“Penawarannya dimulai” ucap MC, namun tak ada yang mau melelang Kwanghee hingga terlihat seorang wanita mengangkat tangannya tinggi.

Jiyeon mengangkat tangan kanannya tinggi seraya menutupi ketiaknya dengan tangan bebasnya “10$” ujarnya dengan penekanan.

“Angka yang lucu. Maka pemenangnya…” ucap MC.

“Chakkaman, aku akan menunjukkan kemampuanku dulu ketika mengikuti kontes idol” Kwanghee menari lucu.

“Cukup, bagaimana kalau melompat kedalam air saja?” tawar MC.

“Shirreo”

“Baiklah kalau begitu pemenangnya adalah..”

“Geurae, aku akan melompat ke air” jawab Kwanghee tegas, selang beberapa menit ia melompat ke dalam kolam renang.

Namun lagi-lagi tak ada yang menawarnya “Bagaimana kalau gratis saja jika kalian menolongnya?” tawar MC.

Semua mata tertujupada Jiyeon, sekali lagi ia tidak tega melihat Kwanghee kedinginan didalam air dan tak ada yang menawarnya. Myungsoo tertahan kesal karna Jiyeon tak mau mendengar pesannya dulu agar jangan terlalu baik pada orang lain. Tanpa sadar sepatu high heels Jiyeon terlepas ditepi kolam, dengan bodohnya ia menuntun Kwanghee ke meja kosong dan memberinya handuk.

“Gumawo Jiyeon-a, tak kusangka kau mau melakukannya untukku. Apa kau masih berharap kita bisa bersama lagi?” tanya Kwanghee seraya mengeratkan handuknya.

“Michesseo!”

“Aku rasa kita berteman saja” ucap Kwanghee terdengar tulus.

“Teman? Kau pikir kau bisa berteman dengan mantan kekasih yang sudah kau campakkan?” gertak Jiyeon meremehkan.

“Aku pikir aku tidak bisa, tapi denganmu aku yakin aku bisa” Kwanghee nampak mencemaskan Jiyeon “Kau terlihat terlalu matre jika tiba-tiba menjalin hubungan dengan Myungsoo seperti ini. Kenapa pasangan yang putus harus jadi musuh? Kita bisa saling mendukung walau sebagai teman. Yang terima kasih sudah membantuku, aku akan membelikanmu..” ujar Kwanghee.

“Anni, mari kita tidak bertemu lagi bahkan walau sebagai teman”

“Wae?” tanya Kwanghee bingung.

“Perasaanku padamu adalah tulus. Aku masih malu dengan perasaan ini” lirih Jiyeon, bukan ini yang ia inginkan dari Kwanghee, setidaknya ia ingin mendengar katamaaf dari Kwanghee karna sudah menyakitinya. Ia berjalan meninggalkan Kwanghee dan berpapasan dengan Myungsoo didekat kolam renang. “Kita lupakan saja balas dendamku” lirih Jiyeon.

Myungsoo menatap iba pada Jiyeon, wanita itu masih setengah basah dan kakinya berjinjit karna hanya memakai sebuah high heels dikaki kirinya “Chakkaman, akan aku ambilkan handuk” pamitnya.

Jiyeon merasa lelah berjinjit jadi ia putuskan melepas sebelah high heelsnya lalu berjalan pergi, ia tak akan menunggu Myungsoo.

“Park Jiyeon” Namun tiba-tiba Minho menyambar sebelah high heelsnya dari tangan Jiyeon lalu berjongkok didepannya, ia memakaikan sebelah high heels yang tadi iapungut ditepi kolam serta yang dibawa Jiyeon. Terlambat, Myungsoo terlambat karna Minho lebih dulu membantu Jiyeon.

“Tidak peduli apakah dia cuma kasihan dan tidak peduli apakah dia hanya me-manajemen orang atau tidak” Jiyeon menyandarkan tangannya dibahu Minho ketika Minho memakaian sepatunya “Aku tetap merasa senang, kalau orang itu bersama-ku” batin Jiyeon

Perut Jiyeon keroncongan, ia tadi memang tak sempat memakan makanan yang sudah Minho ambilkan untuknya “Ayo kita makan” kini Minho melepas jasnya lalu menyampirkannya dibahu Jiyeon agar Jiyeon tidak kedinginan.

“Onje?” lirih Jiyeon sedikit ragu.

“Jigeum” balas Minho, mereka berjalan bersebelahan dengan tangan Minho merangkul bahu Jiyeon untuk menuntun langkahnya.

“Kapan kau mau berkencan denganku?” tanya Soojung yang kini sudah berdiri disamping Myungsoo.

“Kau sengaja melakukannya” gumam Myungsoo lirih, ntah mengapa ia tak suka Jiyeon diberi perhatian lebih oleh Minho seperti itu

Soojung tertawa kecil “Aku melakukannya untuk beramal pada anak yatim piatu saja” jawabnya tak merasa bersalah karna sudah melelangkan Myungsoo.

“Lalu apa yang bisa aku lakukan atas 10000$ yang sudah kau bayarkan?” Myungsoo menoleh menatap Soojung masih dengan tatapan malas.

“Belikan saja aku makanan”

“Geurae, nanti” jawab Myungsoo masih terdengar lirih.

“Aku inginnya sekarang” tolak Soojung.

Dimeja belakang Hyeojeong menghampiri Kwanghee dengan iba “Apa kau mau makan?” tawarnya.

“Sekarang?” tanya Kwanghee yang dijawab anggukan oleh Hyeojeong.

Ponsel flip Jiyeon bergetar panggilan dari ibunya “Yeoboseyo? Ne?” ia berbalik melirik Myungsoo yang sama kagetnya dengan panggilan diponselnya.

Advertisements

21 responses

  1. elma ingga

    pasti mereka disuruh menikah haha
    next

    July 23, 2014 at 6:15 am

  2. yuli

    Next part thor.

    July 23, 2014 at 7:08 am

  3. miss deer

    semakin kompleks masalahnya,, ahaaii i like it

    July 23, 2014 at 7:39 am

  4. lira hafidah*

    myungsoo dan soojung kenapa putus ya.

    July 23, 2014 at 7:59 am

  5. dayni

    Anyeong Reader baru disinii hhee
    Keren thor (y), kliatan ya yg udah brpengalaman mah tulisannya kecehh 😀
    Jiyi jgan sedih ditinggalin kwanghee msih ada minho sama myungie wlau myungie memanfaatkan jiyi..-_- sbar
    Myungie mlai ada feel nih sama jiyi
    Hayohh
    jiyi sma myungie knapa sling pndang, jgan2 ibunya myungie udah ktmu sama ibunya jiyi..*eehhSoToydehh

    July 23, 2014 at 8:53 am

  6. miss rara panda

    aigoo, myung mulae ad rza tc ma jiyi, yoohoo.
    good good.
    wahh, gk sbar nunggu moment2 yg laen, hehe

    July 23, 2014 at 10:10 am

  7. aa_azzahra

    next..

    July 23, 2014 at 10:21 am

  8. Sungguh sng publish na cpt,,
    Horeeeeeee (งˆ▽ˆ)ง

    Aigoo!! Myungie appa bnr2 mata kranjang,
    Myungie eomma trnyta muka 2, hahahaa sungguh G̲̮̲̅͡å’ nyangka
    Aduuhh jiyi, jgn hrp kn lgi mntn pcr mu tu,
    Dy org yg nyebelin,
    Ommo!!! Npa jiyi eomma nlpn???

    Next jgn lamaaaa ^^

    July 23, 2014 at 11:05 am

  9. kim dedeh

    ah thor sbelum nya mf bgt,, aku gk tau hrus koment apa krena tadi aku udah nulis koment nya panjaang bgt di HSF eh tapi mlah gagal,, ya udah aku coba deh dsini.. yg jlas ff nya super duper daebakk deh.. myungyeon hrus lbih romantis yaa..kkkk
    next part ditnggu

    July 23, 2014 at 12:58 pm

  10. Arre

    Wae3x? Ada apa? Kog da panggilan d ponsel? Kya…!
    Ini mah cerita comedy abis. Hoho 😀
    lucu jga nih myungyeon moment’x. Next chap d tunggu..

    July 23, 2014 at 2:54 pm

  11. kyeon

    Aigoo jaejoong knpa neo melirik paha yx akan menjadi menantu kamu si… hahahahah.
    Halmoni myungsoo n omma myungsoo berbeda pndptan..
    Hwa.. kwanghee kasian bgt Ъќ ad yx sudi melelangkan dy,, kecuali jiyeon.. next y…

    July 23, 2014 at 3:11 pm

    • jaejong mata keranjang.
      gak akur nenek ma minyoung.
      iya mau semurah apapun gak ada yg mau ^^

      July 27, 2014 at 3:53 am

  12. Nggak tau harus komen apa tapi update soon yaa author-nim ^^ ceritanya semakin seru ^^ nggak sabar baca lanjutannya ^^)b

    July 24, 2014 at 9:17 am

  13. aku suka kok ff yg panjang, apalagi MyungYeon 😀

    August 6, 2014 at 12:43 pm

  14. indaah

    tu soojung sifat nya kayak eomma nya myungsoo deh , muka dua ckck
    jiyeon baik bgt k minho nya ..
    siapa ya yg nelpon tu

    October 14, 2015 at 6:48 am

  15. Jiyi bner3 polos waktu ktemu ortunya myungsoo apaadanya kk

    June 16, 2016 at 10:38 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s