KIM MYUNGSOO FANFICTION

[Drabble] Early Morning

 

early-morning-cover-myungsoo-oc

A Fiction

.

Called, “Early Morning

Scripwriter : Scarlettli.

Release 01.07.2014

Main-cast : Kim Myungsoo (L) [INFINITE], OC (Eunjoo).

Genre : Romance, Fluff, Drama

Rating : PG 13

Duration : Drabble

Pada suatu pagi pukul tujuh, ketika manik matanya bersibobrok dengan pria di sampingnya, nampak begitu pulas tertidur dalam kedamaian. Seketika ada sesuatu yang menggelitik pikirannya—ia berpikir keras mengapa ia menyukai pria itu.

 ∅∅∅

 

Matanya dengan tajam menilik dari setiap sudut dari pria di hadapannya. Berkali-kali ditemukan bibirnya mengerut, keningnya berkedut. Tampak berpikir keras, entah suatu apa. Sekali lagi, bibirnya bergerak menggumam kecil dan kerutan di dahinya semakin nampak jelas. Ia menghela napas kecil, lalu menyentuh lembut salah satu sisi pipi dari pria tersebut. Dingin, itulah gagasan utamanya saat menyentuhnya. Namun selanjutnya, yang dirasakannya adalah kelembutan dari bulu-bulu halus di pipi pria tersebut yang menggelitik jari-jarinya ketika ia sentuh.

Ia tersenyum ketika merasakan kelembutan dari pipi pria tersebut menggelitiknya. Selanjutnya, jari-jari lentiknya mencoba untuk meraih pada segaris wajah tengah yang dimilikinya.

Hidung mancung yang tegas. Ia menyentuhnya sekilas, lalu menggeleng pelan.

Bukan, bukan. Itulah yang ia pikirkan.

Ia mengambil napas panjang lalu meraih salah satu tangan pria itu. Ia menggenggamnya lembut dan tersenyum. Setelah puas menggenggamnya, ia menarik tangan tersebut mengikuti gerak tangannya untuk menyentuh pipinya sendiri.

Berbeda dengan pipi lembut itu, tangan besar milik pria itu begitu hangat. Beberapa kali ia mengusap pipinya menggunakan tangan besar milik pria di sampingnya, namun tetap tak bisa memusnahkan pemikiran sekilasnya ini.

Mengapa? Apa yang ia sukai dari pria itu?

Apa sih…” gumamnya sembari menatap lekat wajah polos tersebut. Mata terpejam dan bibir yang sesekali mengecap tak cukup membuatnya tampak manis. Seketika tatapannya terfokus pada bibir tipis miliknya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, perlahan salah satu tangannya terangkat untuk menyentuh bibir mungil tersebut. Bibir yang selalu tersenyum menyapa sehabis pulang kantor, bibir yang selalu menenangkan dirinya, bibir yang selalu tersenyum untuknya.

Dingin. Ia tersenyum sesaat setelah ia menyentuhnya. Bertolak belakang dengan sentuhan, sebuah perasaan menghangat dalam dada seketika menyeruak setelah ia menyentuhnya. Ia segera menarik tangannya lalu tersenyum lebar. Sebuah jawaban yang ia dapatkan.

 

Ia menyukai bibir itu.

 

“Oke, sudah sepuluh menit kau menggerayangiku.”

Ia berjengit kaget saat bibir itu bergerak. Kedua matanya terbuka dan seakan tersenyum padanya. Tak cukup puas untuk mengejutkannya, pria itu kini bangun dan duduk bersandar pada tubuh kasur. Menatapnya dengan kedua mata yang selalu menghipnotisnya ketika bersitatap. “Good morning, my dear.

Perlu waktu beberapa saat untuk memeroses hal tersebut. Eunjoo berkali-kali membuka dan menutup mulutnya, matanya terbuka lebar menatap Myungsoo. “Se-sejak kapan kau sudah bangun?” tanyanya. Perkataan yang berhasil ia ucapkan akhirnya.

“Kapan?” Kim Myungsoo terdiam sejenak lalu tersenyum lebar. “Lima belas menit lebih dulu ketimbang dirimu, sepertinya.”

“Berarti… berarti…” ia terdiam sejenak lalu menatap Myungsoo yang kini tersenyum lebar padanya. “Kau sudah sadar sedari pertama kali aku menyentuh pipimu, bukan?”

Myngsoo semakin menaikkan bibirnya melihat tingkah wanita di hadapan”Tepat sekali.”

“Lalu… lalu… lalu mengapa kau tidak membuka matamu dan membiarkanku… menggerayangimu…” ia terdiam sejenak, mencoba menetralisir rona merah pada wajahnya kini. Ia menatap Myungsoo yang kini tetap memberikan senyuman lebar padanya. “Pokoknya… menyentuhmu?”

“Memangnya mengapa aku harus menghentikannya?” tanya Myungsoo berbalik.

“Tapi, kan—”

“Kau boleh menyentuhku, karena memang kau bisa.” kata Myungsoo lalu merentangkan tangannya. “Apa yang selanjutnya ingin kau sentuh dariku? Bahuku? Dadaku?”

Ia menunduk lalu merengut kesal. “Kim Myungsoo!”

Myungsoo tergelak. Menertawakan tingkah wanita di hadapannya ini. Ia mengerti maksud wanita di hadapannya ini. Ketika ia sudah meneriakkan namanya dengan lengkap, pastilah ia merasa malu atau kesal. Seperti saat ini.

“Kau bahkan sudah sering menyentuhnya, lalu mengapa pagi ini kau bertingkah aneh? Ah, aku tahu. Jadi kau merindukanku setelah kutinggal lima hari ke Tokyo kemarin, ya?”

“Kim Myungsoo!”

“Baiklah, baiklah. Aku berhenti.” katanya di sela-sela sisa tawanya. Lama ia menatap wajah yang memerah akibat malu tersebut, lalu tersenyum. “Mengapa kau masih bertingkah seperti itu?”

Eunjoo menghela napas lalu merangkak bangun, mencoba menghindari pria yang merusak hari cerahnya. Akan tetapi Myungsoo menahan sebelah tangannya. Ia menatap Myungsoo sengit. “Aku ingin membuat sarapan. Kau ingin kelaparan?”

Myungsoo menatapnya lalu menggeleng. “Kau melupakan sesuatu.”

Eunjoo mendengus. “Apa?” tanyanya setengah menahan kesal.

Namun gerakan Myungsoo terlampau lebih cepat berbanding pemikirannya. Dengan sigap pria itu menariknya ke dalam tubuhnya dan memeluknya hangat. Tangan besarnya itu mengikat tubuhnya begitu erat, perasaan hangat seketika memenuhi rongga dadanya. Suhu tubuh pria itu pun terasa dalan kulitnya. Seketika perasaan itu seperti terlahir kembali. Perasaan berdegup kencang yang terasa abstrak, tak bisa dikendalikannya. Myungsoo mengecupnya sekali sebelum melepaskannya, dan pria itu tersenyum menatap Eunjoo.

“Aku merindukanmu.” katanya. Sementara Eunjoo menghela napas—mencoba menetralisir rasa degupan yang ekstrem tersebut dan berharap banyak pria di hadapannya ini tak mendengarnya—lalu mendengus.

“Kau selalu tahu cara membuatku luluh.” katanya. Sementara Myungsoo tertawa sembari menariknya dalam pelukan.

“Itulah aku.” kata Myungsoo penuh percaya diri sehingga mendapatkan pukulan pelan di dadanya. Ia mengaduh lalu mengeratkan pelukan dan tersenyum.

“Terima kasih.” Myungsoo berkata lalu mencium hangat kepala Eunjoo.

“Untuk apa?” tanya Eunjoo

Sekali lagi, ia mencium kepala Eunjoo. “Untuk bersedia berada di sampingku selamanya.”

Dan untuk sepuluh menit ke depan mereka menghabiskan waktu untuk bersama, melepas rasa rindu dalam rongga. Di tengah sinar matahari sepenggal naik, di hari minggu yang begitu menenangkan untuk dihabiskan berdua.

Dan Eunjoo sadar, ia pun menyukai pelukannya… pelukannya yang begitu hangat menyentuhnya.

∅∅∅

Haloo. Sekian lama hiatus, akhirnyaaa. Maaf baru kembali setelah sekian lama berkelana *bow*. Maaaaaaafff bangeeett

Berterima kasih untuk para pembaca yang senang dengan karyaku. Namun akan lebih menyenangkan jika memberi apresiasi untuk karya ini. Terima kasih udah baca ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s