KIM MYUNGSOO FANFICTION

[CHAPTERED] Remember Me – Part 10

Remember Me

REMEMBER ME

|Main cast: Kim Myungsoo (Infinite), Bae Sooji (Miss A)|Other cast: Jung Soojung (F(x)), Jang Wooyoung (2PM), Lee Jieun (IU), Lee Sungyeol (Infinite)|Genre: Drama, Angst/Sad, Romance, Fluff, Friendship, a little bit Comedy|Length: chaptered|Rating: General|

©Park Minrin

.

Ketika seseorang melupakan, sementara yang lain mengingat.

.

Dan apa kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?”

PART 10 : The Return

Setelah menyebrangi lautan dan tiba di pelabuhan lalu diantar Myungsoo, Sooji barulah sampai di rumahnya. Ia tak melihat jam tangannya, namun ia bisa memastikan bahwa ia sampai tepat tengah malam—atau mungkin lebih. Ketika memasuki rumahnya,  ia hanya disambut oleh pelayan rumah tangganya yang membantunya membawa tasnyasementara ia sendiri beranjak menuju kamarnya.

Jujur, Sooji merasa sangat lelah saat itu. Terlebih lagi ia tak sempat beristirahat setelah bekerja dan setelah kencannya dengan Myungsoo. Sekarang, disaat dirinya sadar betul ia harus menidurkan dirinya, ia malah tak bisa tidur akibat ulah Myungsoo tadi. Sooji menggenggam tangan kanannya sendiri dengan tangan kirinya lalu tersenyum lebar seperti orang bodoh. Ia masih bisa merasakan tangan Myungsoo di sana. Betapa jemari lelaki itu yang kurus sangat pas di sela-sela jemarinya, betapa hangat dan protektifnya genggaman pria itu padanya, ia bisa merasakan semuanya.

“Biarkan begini saja. Sampai kita kembali ke penginapan.”

Sooji bahkan masih sering merona ketika memutar memori beberapa jam yang lalu di kepalanya. Kadang, ia sering mencoba mencubit dirinya sendiri. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang barusan ia alami bukan sebatas mimpi belaka. Dan ternyata memang bukan. Hal tersebut memang benar-benar terjadi.

Oh, mungkin ini juga yang menyebabkannya enggan menutup mata dan digiring ke dunia mimpi. Karena pada akhirnya, dunia nyatanya lebih indah daripada dunia mimpinya.

 

-o0o-

 

Pagi harinya, sekitar jam 6, ponsel Sooji yang ia letakkan di atas tempat tidur, tepat di sebelah bantal tidurnya, berbunyi nyaring. Membangunkan dirinya yang masih terlelap. Tentu saja, ia baru saja tidur pukul 3 pagi! Itu berarti, total waktu tidurnya hanya 3 jam. Dan itu masih jauh dari jam tidur rata-ratanya. Karena itu, dengan mata masih terpejam, lengan gadis itu bergerak mencari ponselnya lalu mengangkat teleponnya dan menempelkannya di telinga.

“Hm?” gumamnya.

“Kau masih tidur?!” pekik seseorang di sebrang telepon. Sepertinya orang tersebut tampak terkejut setelah mendengar suara setengah sadarnya Sooji. Dan Sooji mengenali suara ini sebagai milik Kim Myungsoo.

“Hm…,” sekali lagi, Sooji menjawab dengan gumaman samar.

Ya! Jam berapa ini? Kita harus sampai di Namsan Tower jam 7!”

Ara,” balas Sooji singkat. “5 menit lagi…,” tambahnya.

“Kau tidak bisa menunggu 5 menit lagi! Kita akan terlambat jika seperti itu…,” Myungsoo terdiam di sebrang telepon, menggantung kalimatnya yang belum selesai sementara Sooji masih mendengarkan dengan mata terpejam dan keadaan setengah sadar.“Jika kau masih belum mau bangun, aku akan ke sana dan kau tidak mau tahu bagaimana caraku membangunkanmu nanti, bukan?”

Mata Sooji yang semula terpejam rapat tiba-tiba terbuka lebar. Ia melotot dengan kening berkerut mendengar apa yang baru saja dikatakan pria itu. Seketika, kesadarannya pulih. “Apa katamu?” tanya Sooji, takut ia salah dengar.

“Cepat keluar sekarang atau aku akan menyusulmu ke sana, Bae Sooji—“

“B-baiklah, baiklah, aku bangun sekarang! Tunggu aku di sana!” seru Sooji cepat-cepat. Ia segera bangkit dari posisi berbaringnya dan mendesah keras. Ia bisa membayangkan Myungsoo tersenyum di sebrang telepon. Tapi kemudian Sooji memikirkan sebuah hal gila,“Oh, atau kau ingin masuk ke rumahku dan menunggu di ruang tamu bersama ibuku? Kebetulan beliau sedang di rumah. Bukankah ini cara yang baik untuk mengenal calon mertuamu? Setidaknya kau tidak begitu mengingatnya, bukan?” tantang Sooji.

Untuk sesaat, tidak ada jawaban. Tapi kemudian suara Myungsoo kembali terdengar. “Kedengarannya bagus.”

Sooji mengernyitkan keningnya. “Kau serius?”

“Tawaran itu tidak buruk, kau tahu? Lagipula itu lebih baik daripada membeku di luar sini. Kau tahu, salju sudah turun dan jalanan ditutupi salju. Meskipun indah, tapi salju tetap saja memperburuk keadaan. Sepertinya aku akan masuk sebentar.”

Ya! Jangan coba-coba melakukannya, kau mengerti? Aku hanya bercanda… jadi jangan coba-coba melakukannya!”

“Terlambat, aku sudah di depan rumahmu. Karena itu, lebih cepat kau turun, lebih baik.”

Sooji mendecakkan lidahnya dan segera memutus sambungan telepon lalu segera pergi ke kamar mandi. 20 menit kemudian, gadis itu sudah siap lengkap dengan mantel panjang berwarna coklat, sepatu boots, dan syal berwarna putih. Dengan tergesa, ia berjalan keluar dari kamarnya. Dan begitu ia mencapai ruang tamu, ia mendesah lega mendapati tak ada siapa pun di sana.

Bukannya ia tak ingin Myungsoo bertemu hanya berdua dengan ibunya, bukan berarti juga ia tak ingin ibunya mengenal Myungsoo lebih jauh—lagipula ibunya sudah mengenalnya sejak dulu. Tapi Sooji hanya takut pria itu akan ditanyai macam-macam oleh ibunya dan diingatkan pada sesuatu yang tidak pria itu ingat. Pria itu sudah bilang padanya ia benci hal seperti itu, bukan? Ya, dan ia tak ingin hal itu terjadi. Karena Sooji percaya, jika Myungsoo dan ibunya ditinggalkan berdua, ibunya pasti akan menanyai hal semacam itu. Ibunya termasuk orang yang penasaran dan hati-hati juga detil jika berhubungan dengan orang lain—mungkin itu pengaruh pekerjaannya?—entahlah, yang penting, Sooji lega Myungsoo tak bertemu dengan ibunya dan ia lega ibunya ternyata sudah tak berada di rumah pagi itu.

Begitu Sooji keluar dari rumahnya, ia melihat mobil Myungsoo yang berada di depan rumahnya. Dengan segera ia menghampiri mobil tersebut dan melihat Myungsoo berada di dalam dan tak menyadari kedatangannya, Sooji segera masuk ke bangku penumpang di samping pengemudi. Barulah setelah ia masuk, Myungsoo menyadari keberadaannya.

Pria itu melirik jam tangannya dan mendesah. “24 menit.” Ujar pria itu seolah memberitahu letak kesalahan Sooji.

“Kau tidak masuk ke rumahku!” tuding Sooji tiba-tiba pada Myungsoo setelah mengetahui pria itu berbohong—meskipun ia sendiri merasa lega.

“Untuk apa aku masuk? Tunggu dulu, bukan berarti aku pengecut dan tidak mau bertemu dengan ibumu, tapi aku yakin seratus persen wanita karir seperti ibumu itu pasti tidak mau diganggu di pagi buta seperti ini sebelum berangkat kerja. Jadi aku memutuskan untuk tidak memberikan kesan buruk pada ibumu.”

Myungsoo mengantisipasi Sooji akan cemberut, merasa kesal, atau mengadu argumennya dengan mengatakan hal tersebut sebagai alasan agar pria itu tak bertemu ibunya. Tapi yang ia lihat sangat jauh dari ekspektasinya.

Sooji tersenyum, ya, tersenyum. Myungsoo bahkan tak mengerti mengapa gadis itu tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Myungsoo pada akhirnya.

Sooji mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah mencoba menyadarkan dirinya sendiri. “Eo-eoh? Tidak, tidak apa-apa. Cepat nyalakan mobilnya! Katanya kau tidak mau kita terlambat?” seru Sooji untuk mengalihkan percakapan mereka. Jujur, ia sendiri merasa malu tertangkap basah sedang tersenyum sambil memperhatikan Myungsoo berbicara.

“Hei, kau semakin mahir mengalihkan pembicaraan, huh?”komentar Myungsoo sambil menarik salah satu sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah smirk yang tak dimengerti artinya oleh Sooji sebelum akhirnya pria itu menyalakan mesin mobilnya. “Oh, jangan lupa pasang sabuk pengamanmu.” Ujar Myungsoo.

 

-o0o-

 

“Selama empat hari ini kita akan melakukan pemotretan di sekitar menara Namsan dan jembatan Banpo. Meskipun letak keduanya berdekatan dan bahkan dekat dengan kantor kita, namun kalian harus tetap mempersiapkan diri kalian. Kita bisa saja selesai larut malam dan harus kembali pagi-pagi sekali di keesokan harinya. Aku tidak ingin ada yang sakit, terlebih salju sudah mulai turun sekarang. Jaga kondisi kalian, dan fighting!” Myungsoo berpidato sebelum semua memulai aktifitasnya masing-masing ketika mereka sampai di kawasan menara Namsan. Semua orang bertepuk tangan dan saling menyemangati lalu mulai kembali ke tempat masing-masing.

Pemotretan berlangsung lancar seperti biasa. Hanya saja, kali ini ada penambahan model perempuan sebagai pendamping Sungyeol. Model tersebut adalah model ternama yang sudah terkenal di dunia modeling, bernama Choi Sohyun—dan Sungyeol senang bukan kepalang setelah mengetahui sosok cantik pasangannya.

Setelah pemotretan di bawah menara Namsan selesai, mereka berpindah ke atas menara, ke puncaknya di mana banyak gembok-gembok yang dipasang di pagar pembatas bagi orang-orang yang mempercayai mitos yang beredar di Seoul tentang gembok pasangan tersebut. Ketika Myungsoo melihatnya untuk pertama kali—ia yakin itu memang pertama kalinya ia melihat jejeran gembok-gembok tersebut—Myungsoo bahkan tak perlu repot-repot menyembunyikan rasa kagumnya karena bahkan Sooji pun melakukan hal yang sama; terkagum-kagum melihat jejeran gembok tersebut.

Selain hal itu, yang lebih membuatnya kaget adalah suhu yang lebih rendah daripada di bawah, ditambah angin yang bertiup cukup kencang ke arah mereka. Myungsoo berkali-kali memperingatkan para kru agar menjaga kondisi tubuh masing-masing dan agar segera menghentikan pemotretan jika cuaca semakin memburuk.

Dan benar saja, cuaca semakin memburuk sehingga tidak memungkinkan mereka untuk melanjutkan pemotretan. Pemotretan pun dengan terpaksa harus diakhiri demi kesehatan para kru dan model.

Tak berapa lama setelah semua properti pemotretan dibereskan, Myungsoo, Sooji dan Sungyeol akhirnya memilih berdiam diri di sebuah kafe yang berada di dekat menara Namsan untuk sekedar beristirahat dan menghangatkan diri dari dunia luar yang terasa beku. Hari sudah gelap saat mereka berada di sana, dan di luar sedang terjadi badai salju. Mereka tentu saja tidak bisa pulang dengan cuaca seperti itu, bukan?

Mereka bertiga berpisah dengan para kru dan memilih menikmati waktu pribadi mereka sendiri saat itu. Berada di kafe bernuansa Eropa, mereka duduk di sebuah meja yang terletak di tengah-tengah kafe—asalnya Sooji ingin duduk di dekat jendela, namun kafe yang penuh membuat mereka terpaksa duduk di tengah ruangan—dengan Sooji dan Myungsoo yang duduk bersebelahan sementara Sungyeol duduk di hadapan Sooji.Myungsoo memesan kopi Americano panas sementara Sungyeol dan Sooji memesan cappuccinohangat. Tak perlu waktu lama hingga minuman mereka datang, dan tak perlu waktu lama pula bagi mereka untuk menyerbu minumannya masing-masing.

Sebelum meminum kopinya, Myungsoo menggenggam gelas kopinya dengan kedua tangan, merasakan kehangatan yang merasukinya, mengusir rasa beku di ujung-ujung jarinya. Dan ia mendesah lega. Melihat itu, Sungyeol terkekeh setelah meminum cappuccino-nya.

“Kau masih lemah terhadap dingin, Myungsoo-ya?” tanyanya.

Myungsoo sedang meminum kopinya saat mendengar pertanyaan tersebut, sehingga ia mendesah lega terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Sungyeol yang nampaknya merupakan sebuah pertanyaan retoris yang tidak perlu ditanyakan lagi karena sudah terlihat secara nyata bahwa ia masih tidak kuat terhadap dingin.

“Sepertinya begitu. Apa dulu aku juga seperti ini?” Tanya Myungsoo.

“Tentu saja! Mungkin dulu malah lebih parah. Kau pasti terkena flu berat saat cuaca dingin sedang sangat ekstrim seperti sekarang, dan kami pun pada akhirnya menghabiskan liburan musim dingin kami di rumahmu, menemanimu yang sedang sakit.”

Myungsoo mengangkat sebelah alisnya sambil membuka mulutnya membentuk huruf ‘o’ sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Sementara itu diam-diam Sooji yang duduk di sampingnya tersenyum melihat Myungsoo tak lagi menyangkal atau menyanggah tentang sesuatu yang terjadi pada dirinya di masa lalu seperti dulu.

“Oh, Sooji, kau juga. Apa kau masih mengalami alergi itu?” Tanya Sungyeol yang pandangannya kini mengarah pada Sooji.

Sooji menoleh menatap Sungyeol sambil mengerutkan kening, tak mengerti arah pertanyaan pria itu sekaligus menyatakan agar Sungyeol mengulang pertanyaannya.

Sungyeol mendesah lalu kembali bertanya, “Apa kau masih memiliki alergi itu?”

Sooji terdiam beberapa saat. Ia bisa merasakan mata Myungsoo yang juga menoleh ke arahnya, dan entah mengapa ia bisa merasakan tangannya mengepal di bawah meja. “Oh… itu… kau tidak tahu alergiku sudah sembuh sejak lama? Ibuku menemukan obat mujarab yang mampu menyembuhkan alergi itu!”

Mata Sungyeol membesar. “Oh ya? Baguslah kalau begitu,” ujarnya. “Sepertinya kau harus memberikan obat itu pada Myungsoo juga agar ia tidak menggigil berlebihan di musim dingin lagi,” tambah pria itu sambil mengedikkan bahu pada Myungsoo yang melotot kepadanya.

Sooji hanya tertawa menanggapi pernyataan Sungyeol. “Obat itu untuk alergi, oppa. Dan Myungsoo tidak memiliki alergi itu. Ia hanya… lemah,”

Pernyataan Sooji tentu saja kembali membawa tawa dalam meja itu. Sementara Myungsoo, orang yang menjadi bahan tertawaan mereka hanya bisa mendesah pelan sembari memutar bola matanya dan menyesap kopinya. Setelahnya, Sooji dan Sungyeol mulai bernostalgia kembali, menceritakan awal pertemuan mereka, dan bagaimana mereka bertiga bisa dekat. Lalu Sungyeol juga bercerita bagaimana mereka berpisah saat SMA. Myungsoo pindah ke Amerika sementara Sungyeol berkuliah di luar kota, dan Sooji yang masih SMA tetap tinggal di sekolah mereka. Hal itulah yang memisahkan mereka dalam waktu yang lama, dan mereka baru benar-benar berkumpul lagi beberapa bulan lalu, saat mereka bertiga bekerja sama sebagai satu tim dalam sebuah pemotretan. Dan Sungyeol mengatakan betapa bersyukurnya ia menerima tawaran sebagai model majalah ini saat itu.

Setelah puas bernostalgia dan gelas mereka telah kosong, badai juga nampaknya sudah reda, mereka memutuskan untuk pulang, menyiapkan tenaga untuk esok hari karena ada kemungkinan esok hari juga mereka akan menghadapi cuaca ekstrim seperti ini namun mereka harus tetap berada di lokasi karena pemotretan mau tak mau harus diselesaikan. Sebelum pergi, Myungsoo sekali lagi mengingatkan,

“Besok persiapkan tenaga dan daya tubuh kalian. Pemotretan di sekitar Namsan harus selesai besok pukul 2 siang dan setelah itu kita akan pergi ke jembatan Banpo dan melakukan pemotretan pada malam hari. Jika ada beberapa kendala besok yang membuat kita tidak bisa melakukan pemotretan di  jembatan Banpo, kita akan melakukannya lusa. Jadi persiapkan dirimu, Sungyeol, karena aku yakin kau akan menjadi yang paling merasa lelah dalam pemotretan ini.”

Sungyeol mengacungkan sebelah jempolnya. “Tenang saja, kau lupa aku memiliki tenaga sebesar kuda?—ah ya, kau pasti lupa—pokoknya jangan khawatir!”

Myungsoo mengangguk. Ia pun menoleh menatap Sooji di sampingnya. “Dan Sooji, ada seorang designer ternama yang tertarik dengan karyamu. Kebetulan saat majalah kita terbit sebulan yang lalu, dia sedang berada di Seoul dan membeli majalah kita. Ia tertarik dengan karyamu dan langsung menghubungi manajer Yang. Ia ingin berbincang denganmu dalam acara makan malam besok,” ujarnya.

Sooji mengernyitkan keningnya tidak mengerti. Melihat hal itu, Myungsoo kembali berbicara, “Designer itu adalah Kris Choi, anak dari designerlegendaris Choi Bok Ho. Tidak mungkin kau tidak pernah mendengar namanya, bukan?”

Sooji membelalakkan matanya dan ia menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Myungsoo bisa melihat raut bahagia di mata jernih gadis itu, dan mau tak mau itu membuatnya tersenyum juga.

“Benarkah? Benarkah?!” Tanya Sooji histeris.

 

Myungsoo mengangguk. “Selamat, Sooji, kau selangkah lebih dekat dengan mimpimu. Karena itu, tampil baguslah besok, jangan sampai membuatnya meremehkanmu saat melihatmu. Buat kesan pertama yang menyenangkan. Aku yakin kau ahli dalam hal itu,”

Sooji mengangguk-anggukan kepalanya riang. Myungsoo bisa melihat gadis itu tersenyum meskipun ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, karena saat itu, mata Sooji juga ikut menyipit, membentuk sebuah eye smile yang manis. Setelah pengumuman itu, mereka pun memutuskan untuk segera pulang. Mereka sempat kehilangan Sungyeol yang sibuk melayani fans yang mengenalinya dan mengajaknya berfoto bersama, namun pada akhirnya mereka berhasil pulang bersama, berjalan ke mobil masing-masing, dan berkendara ke rumah masing-masing. Namun sebelum mengendarai mobilnya, Sungyeol sempat memanggil Myungsoo.

“Oh, Myungsoo-ya, besok aku minta izin keluar di jam 1. Ada seseorang yang harus kujemput di bandara,” ujarnya.

Myungsoo hanya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. “Tapi kau hanya punya waktu paling lambat 2 jam.”

“Aku mengerti. Tidak apa, kan, jika aku mengajak orang itu ke lokasi? Untuk jaga-jaga jika aku tak bisa mengantarnya dulu ke rumahnya karena telah melewati batas dua jam yang kau berikan itu.”

“Tentu. Bawa saja ke sini.”

Sungyeol pun mengangguk-anggukan kepala dan masuk ke dalam mobilnya, diikuti dengan Myungsoo.

 

-o0o-

 

Sooji tahu ia berlebihan hanya karena seorang designer ternama tertarik pada karyanya dan mengajaknya makan malam, ia jadi tersenyum seperti orang gila di sepanjang perjalanan pulang yang hampir membuat Myungsoo jengkel. Tapi hei, ini adalah Kris Choi! Putra sulung dari Choi Bok Ho, designer yang selalu menjadi panutannya. Dan terlebih, ia pernah mendengar isu bahwa putranya tersebut selain jenius karena sifat ayahnya turun padanya, ia juga dianugerahi oleh wajah tampan dan tubuh tinggi semampai yang membuatnya terkadang menjadi model karyanya sendiri. Dan oh satu lagi, Sooji tidak sabar untuk bertemu dengan pria itu.

“Apakah kau sebegitu senangnya?” Tanya Myungsoo suatu ketika saat mereka memasuki kawasan jembatan Banpo untuk kembali ke Gangnam.

Sooji mengangguk. Ia mengalihkan pandangannya ke arah sungai Han di sampingnya, menikmati keindahannya dimana airnya yang jernih bersinar memantulkan cahaya dari gedung-gedung di sekitarnya. Sooji selalu menyukai sungai Han, karena menurutnya sungai tersebut memiliki pesona tersendiri, bukan hanya karena terletak di dekat kawasan perkotaan.

“Bagaimana jika ia tidak seperti yang kau bayangkan?” Tanya Myungsoo lagi.

Sooji berbalik untuk menatap Myungsoo yang matanya masih tertancap pada jalanan di hadapannya. Keningnya berkerut samar, “Tidak seperti yang kubayangkan?” ulang Sooji.

Myungsoo mengangguk. “Bagaimana kalau ia tidak tampan? Aku tahu banyak rumor yang mengatakan bahwa ia sangat tampan, tapi hei, kurasa ia tidak bisa mengalahkan ketampananku.”

Oke, Sooji rasa ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Myungsoo cemburu, dan itu membuatnya tersenyum.

“Kurasa ia seperti apa yang orang-orang bicarakan. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kalau ternyata ia lebih tampan darimu dan mungkin saja ia tiba-tiba tertarik bukan hanya pada karyaku, tapi juga padaku?” Tanya Sooji yang memang sengaja memperpanas suasana.

Myungsoo memutar bola matanya. “Jangan bermimpi yang tidak-tidak, Sooji.”

“Tapi benar, kan? Bisa saja ia benar-benar tertarik padaku. Jika seperti itu, apa yang akan kau lakukan?”

Myungsoo terdiam untuk beberapa saat. “Jika kau bertanya padaku beberapa minggu yang lalu, kau pasti akan mendapat jawaban seperti ‘tentu saja aku akan melepasmu dengan suka hati’.”

Pandangan mata Sooji terfokus pada pria di sampingnya sementara pria itu masih sibuk mengemudi. Myungsoo menahan lanjutan perkataannya cukup lama, hingga mereka berada di perempatan lampu merah dan mobil berhenti, barulah Myungsoo kembali menatap Sooji lalu melanjutkan kata-katanya yang mampu membuat Sooji—lagi-lagi—tertegun,

“Jika kau bertanya padaku sekarang, aku akan menjawab ‘aku tidak akan melepaskanmu.’ Tak peduli meskipun kau memohon kepadaku.”

 

-o0o-

 

Myungsoo turun dari mobilnya yang telah terparkir manis di garasi dengan setengah membanting pintu mobilnya sehingga menghasilkan suara bedebum keras. Ia menggumamkan beberapa perkataan yang hanya dimengerti dirinya sendiri ketika ia melangkah memasuki rumahnya. Dan hal itu dilihat oleh adiknya. Moonsoo mengernyit menatap kakak laki-lakinya yang tak biasanya menggerutu tersebut dari sofa ruang tengah ketika Myungsoo hendak berjalan menuju kamarnya.

Hyung, ada apa denganmu?” Tanya Moonsoo.

Myungsoo berhenti lalu menatap Moonsoo sekilas sembari mengibaskan tangannya, tanda bahwa ia menolak menjawab lalu kembali berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di sana, Myungsoo langsung meletakkan tasnya di atas tempat tidur sementara dirinya sendiri langsung berjalan menuju cermin yang berada di pintu lemarinya seraya memperhatikan wajahnya sendiri.

Myungsoo memang bukan orang yang narsis, ia bahkan terbiasa tidak peduli pada wajahnya. Ajaibnya, wajahnya tetap baik-baik saja sampai sekarang, bahkan setelah kecelakaan itu pun, wajahnya—untungnya—tidak ikut hancur. Namun meskipun ia tak peduli, pria itu tetap saja menyadari bahwa ia memiliki satu kelebihan pada wajahnya yang mampu membuat para wanita bertekuk lutut hanya karena ia menatap mata mereka dengan intens atau hanya dengan ia tersenyum pada mereka sekalipun. Hal itu terbukti pada betapa populernya ia dulu, saat ia kuliah. Namun, selama ini, ada dua orang gadis yang belum pernah memuji penampilannya sejak mereka pertama kali bertemu. Orang itu adalah Soojung dan Sooji.

Lelaki itu memperhatikan wajahnya dengan seksama, memutarnya 45 derajat, menoleh ke kanan, ke kiri, memperhatikan keningnya, dagunya, matanya, bibirnya, lalu kembali menjauhkan wajahnya dari cermin dan mengernyitkan kening. Tidak ada yang salah dengan dirinya. Adalah hal yang pertama kali digumamkannya dalam hati.

Tapi sungguh! Ia memiliki kening yang tidak terlalu lebar, rambut tertata sempurna, mata dengan sorot tajam, pipi tirus, bibir tipis, dagu lancip, rahang tegas, leher jenjang. Dan sekarang coba jelaskan, kekurangan apa yang dimiliki wajah seorang Kim Myungsoo?Lalu bagaimana bisa gadis itu berkata bahwa ia akan berpaling pada pria designer itu jika pria itu lebih tampan darinya—oh, Sooji jelas tidak mengatakan hal itu secara gamblang, namun ia mengerti bahwa itulah yang dimaksud gadis itu dalam obrolannya tadi—dan Myungsoo tidak percaya ada orang yang bisa mengalahkan ketampanannya.

Myungsoo mungkin terdengar seperti seorang yang pencemburu, tapi bukan itu letak masalahnya. Gadis itu adalah tunangannya! Dan ketika ia baru saja membuka hatinya pada gadis itu beberapa hari yang lalu,gadis itu tiba-tiba saja mengatakan bahwa ia akan berpindah ke lain hati. Mungkinkah kepala gadis itu butuh diketuk dengan palu sembari diingatkan sekali lagi bahwa ia memiliki seorang tunangan di sini, seseorang yang suatu hari akan ia nikahi dan akan menjadi pemimpin keluarganya. Haruskah?

Myungsoo mendesah, ia menyerah dan memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Sebelum ia keluar, iPad-nya sempat berbunyi, menandakan adanya email baru yang masuk. Namun Myungsoo mengabaikannya karena berpikir itu adalah junk mail yang belakangan sering ia dapatkan lalu melengos meninggalkan kamarnya.

 

-o0o-

 

Esok hari ternyata datang lebih cepat dari yang Sooji bayangkan. Satu hal yang ia sadari adalah pagi harinya, ia telah berada di dalam mobil Myungsoo, mengenakan pakaian terbaik yang ia punya dan berdandan secantik yang ia bisa. Sooji sempat bercerita pada ibunya yang kebetulan berada di rumah kemarin tentang pertemuannya ini dan hal tersebut membuat ibunya ikut senang. Wanita paruh baya itu bahkan sempat ingin membelikan baju baru yang lebih berkelas untuk Sooji sebelum gadis itu menolaknya. Ia ingin tampil apa adanya dirinya, bukan menjadi orang lain.

Namun tetap saja, bagi Myungsoo, persiapan gadis itu kali ini berlebihan. Ia memang menyuruh gadis itu berpakaian dan berdandan yang terbaik yang bisa ia lakukan, ia memang berkata bahwa gadis itu harus mempersiapkan segalanya dan jangan sampai membiarkan kesempatan ini terbuang sia-sia, namun jika melihat dandanan gadis itu sekarang, jangan salahkan dirinya jika ia tiba-tiba merasa marah.

Karena sekarang, Sooji terlihat ribuan kali lebih cantik dari biasanya.

Myungsoo tidak pernah menyangkal kecantikan yang dimiliki gadis itu, namun ia baru benar-benar menyadarinya lagi sekarang—tentunya setelah pesta pertunangan tempo hari—bahwa gadis itu memang benar-benar cantik. Sooji memakai make up tipis berupa eyeliner dan eye shadow berwarna pink tipis, lipstik berwarna pink dan pemoles pipi berwarna peach. Ia juga mengenakandress berwarna putih gading selutut yang dilapisi oleh coat panjang berwarna coklat, ditambah syal berwarna merah terang. Kakinya dibalut dengan stocking hitam dan heels pendek berwarna hitam. Gadis itu juga sengaja membawa tas tangan bermerknya yang semakin memperkukuh penampilan gadis itu. Meskipun terkesan sederhana dan modern, jika diperhatikan, gadis itu memang berdandan cukup berlebihan untuk ukuran seseorang yang hanya akan makan malam bersama.

“Ini bukan makan malam biasa,” gadis itu berujar dan diselingi oleh senyum lebar. Mendengarnya, Myungsoo hanya bisa mendesah berat.

Ada dua hal yang ia khawatirkan; pertama, ia takut pria tampan bernama Kris Choi itu benar-benar akan jatuh hati pada Sooji dan yang kedua, ia tak tahu kenapa ia merasa takut.

Ketika sampai di puncak menara Namsan, sudah bisa dipastikan bahwa semua mata tertuju ke arah mereka—tepatnya Sooji—dengan polos dan percaya diri, gadis itu tersenyum dan menyapa semua kru sebelum akhirnya bergabung dengan staffdesigner-nya. Myungsoo pun kembali ke tempatnya yang telah disediakan para kru lalu membuka laptopnya dan membuka beberapa file foto untuk diedit selagi menunggu para stylist mempersiapkan model mereka.

Pemotretan kali itu berjalan lancar. Untungnya, cuacanya cukup terang sehingga cukup bersahabat bagi mereka. Jam 1 siang, mereka sudah bisa menyelesaikan hampir semua sesi pemotretan di menara Namsan, dan kali ini mereka hendak melakukan sesi pemotretan terakhir.

Sementara para model bersiap, Sooji yang memperhatikan dari belakang layar, pada akhirnya merasa bosan dan ia pun mulai berjalan-jalan ke dalam untuk melihat gembok-gembok yang dijual di sana. Sooji sempat terpana melihat berbagai gembok lucu dan unik dijual berpasangan di sana. Ada yang menurutnya sangat lucu tetapi harganya sangat murah, ada yang menurutnya biasa saja tapi ketika dilihat harganya selangit. Dan pilihan Sooji pun jatuh pada sepasang gembok berwarna hijau tosca dengan motif ukiran hati di tengahnya dan kunci yang memiliki ujung hati dengan warna tosca pula. Hati Sooji tergerak untuk membeli gembok tersebut setelah mengetahui harganya yang terjangkau. Ia tak tahu mau diapakannya gembok tersebut, tapi ia hanya ingin membelinya. Siapa tahu ia bisa memasangnya nanti bersama pasangannya dan membuang kuncinya ke bawah menara Namsan selagi berharap cinta mereka akan abadi selamanya. Bukankah itu romantis?

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Sooji terperanjat. Suara itu seolah mengusiknya dari dunia mimpi dan menginterupsi ketenangannya. Sooji berbalik dan matanya menyipit menatap Myungsoo yang berdiri di belakangnya.

“Memangnya kenapa? Aku tidak boleh melihat-lihat?” Tanya Sooji. “Kenapa kau tidak mempersiapkan diri melakukan sesi terakhir? Setelah ini kita bisa cepat pergi ke Banpo, bukan?”

Myungsoo bersikap seolah tidak mendengarkan seraya mengarahkan matanya pada jejeran gembok yang ada di dalam etalase kaca. Dan matanya menatap gembok berwarna hijau tosca yang disukai Sooji.

“Ah, itu bagus.” Myungsoo pun memanggil penjaga toko dan memintanya mengeluarkan gembok tersebut dari etalase tersebut dan memberikannya pada Myungsoo. Ketika melihat gembok incarannya diambil dari etalase dan diberikan pada Myungsoo, kerutan di kening Sooji semakin dalam.

Ya, itu milikku! Aku sudah mengincarnya dari tadi!” seru Sooji kesal, seperti seorang anak kecil yang baru saja direbut mainannya.

“Tapi aku yang mendapatkannya terlebih dulu,” ujar Myungsoo santai sembari membayar gembok tersebut. Pria itu juga meminjam spidol lalu membuka kemasan gembok tersebut dan menuliskan sesuatu di atasnya. Dan hal itu membuat Sooji semakin kesal.

“Permisi, Kim Myungsoo-ssi, itu milikku! Ya!” seru Sooji sekali lagi.

“Pilih yang lain saja,”

“Tidak mau!”

Myungsoo tidak mendengarkan dan tiba-tiba melenggang pergi menuju salah satu sudut pagar yang dipadati oleh berbagai jenis gembok pasangan. Sooji masih tak mau menyerah dan mengikuti kepergian Myungsoo. Gadis itu berbicara di sepanjang perjalanan mereka tentang betapa ia telah menyukai gembok itu sejak pertama kali melihatnya dan betapa tidak sopannya Myungsoo merebut benda itu darinya di saat ia hampir saja membelinya, gadis itu juga berbicara tentang betapa seharusnya pria itu mengalah padanya. Mulut gadis itu baru benar-benar terkunci ketika Myungsoo mulai memasang gembok tersebut pada salah satu pagar besi, namun bukan itu yang membuat Sooji tertegun. Ia melihat sebuah tulisan familiar di gembok tersebut.

“Oh… itu namaku…,” ujarnya sembari menunjuk gembok tersebut.

Myungsoo sempat melirik Sooji lalu diam-diam tersenyum. Ia kemudian selesai memasangkan gembok tersebut lalu menyimpan kuncinya di telapak tangannya yang terbuka dan menyodorkannya ke hadapan Sooji.

“Itu… namaku dan namamu… kenapa… apa ini?” kebingungan Sooji bertambah ketika melihat Myungsoo menyodorkan kunci kedua gembok tersebut padanya. Melihat reaksi tersebut, Myungsoo mengedikkan kepalanya seolah meyakinkan Sooji untuk mengambil kuncinya. Gadis itu tidak mengerti, tapi ia tetap mengambil kunci tersebut lalu lengannya bergerak cepat dan melemparkan kunci tersebut ke luar pagar diikuti oleh teriakan Myungsoo yang segera menahan lengannya. Namun terlambat. Kunci tersebut sudah terlanjur meluncur dan jatuh entah ke mana.

Ya!” gerutu Myungsooo kesal.

W-wae? Apa yang salah?” Tanya Sooji tak mengerti.

Myungsoo pun melepaskan tangannya dari lengan Sooji lalu mengacak rambutnya frustasi. “Tadinya aku ingin kau menyimpannya, agar suatu hari jika kau merasa kecewa padaku kau bisa melepaskan gembok ini dan memutuskan hubungan formal ini. Aku takut suatu hari akan mengecewakanmu. Karena itulah…,” Myungsoo menarik napas sejenak. “Tapi kau membuangnya!”

Sooji mengerjap beberapa kali lalu mengangkat bahu. “Yah… kunci itu memang sudah seharusnya dibuang, bukan?”

“Tapi…”

“Sudahlah, kau sudah terlanjur memasang gembok itu untuk kita. Sepertinya pada akhirnya kita akan tetap bersama juga. Dan apa kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?” kali ini giliran Sooji yang terlihat jengkel. “Apa dengan hitungan tahun itu kau masih berpikir bahwa kau bisa mengecewakanku lebih dari apa yang selama ini kau lakukan? Kurasa tidak. Jadi jangan khawatir.” Lanjutnya sambil diakhiri dengan senyum manis.

Myungsoo terdiam menatapnya dan mereka pun dikelilingi oleh keheningan, tanpa melepaskan kontak mata. Keheningan itu barulah terusik ketika terdengar suara Sungyeol di belakang mereka.

“Permisi, dua orang yang sedang kasmaran! Kita sedang syuting di sini, kapan kita akan mulai lagi?”

 

-o0o-

 

Ketika Myungsoo pergi meninggalkannya untuk kembali memulai pemotretan, Sooji membiarkan senyumnya mengembang seperti orang gila. Ia mendekati gembok yang baru saja dipasang dan memperhatikannya dengan seksama. Terdapat tulisan sederhana di dua gembok tersebut.

Myungsoo dan Sooji.

Hanya itu.

Tunggu, hanya itu?!

Kening Sooji mengerut dan kembali membalik gembok tersebut, mencoba mencari tulisan lain di sana, namun hasilnya  nihil. Tidak tambahan seperti harapan mereka di sana, tidak ada sebutan-sebutan konyol yang biasa dituliskan para pasangan di gembok mereka masing-masing. Tidak ada apa pun! Pada akhirnya, Sooji hanya bisa mendengus sembari berdecak.

“Benar-benar tidak romantis.” Putusnya.

 

-o0o-

 

Mereka selesai tepat ketika matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Sambil menunggu para kru membereskan properti dan membawanya ke mobil mereka di bawah menara Namsan, Sooji terus menerus melirik jam tangannya. Merasa gelisah karena waktunya bertemu dengan designer Choi itu semakin dekat. Kaki Sooji bahkan terus bergerak tanpa disadari. Itu karena ia gugup.

“Kerja bagus, Sooji-ssi, kau tidak akan bergabung dengan kami malam ini?” Tanya seorang staff designer yang dikenalnya.

Sooji tersenyum simpul sambil mengangguk. “Ehm, aku ada beberapa urusan.”

“Apa kau akan bertemu dengan seorang pria?”

“Apa?”

“Ah… karena itu kau berdandan? Aku bisa memakluminya.” Ujar staff itu lagi. “Ah, tapi jangan sampai kau berpaling dari Myungsoo-ssi. Sepertinya ia seram jika sedang marah.”

Sooji tertawa sambil menganggukkan kepala lalu staff itu pun pergi meninggalkannya. Ia mencari sosok Myungsoo dan mendapati pria itu tengah sibuk berbicara dengan kru ligthing-nya lalu mendesah sembari mengulum senyum. Ia pernah melihat pria itu marah. Dan ya, ia juga memiliki pikiran yang sama dengan staff tadi. Pria itu menyeramkan jika sedang marah.

Ketika Myungsoo selesai berdiskusi dengan beberapa kru lainnya, barulah pria itu menghampiri Sooji yang sudah menunggu di depan lift sejak tadi. Myungsoo mendesah sebelum akhirnya mengajak gadis itu masuk ke dalam lift. Setelah menaiki kereta gantung untuk sampai di bawah menara Namsan dan menaiki mobil mereka untuk menuju ke jembatan Banpo.

“Ah, Sooji, tadi manajer Yang meneleponku. Ia mengatakan bahwa acara makan malammu dengan si Choi itu akan berlangsung jam 6 di restoran H&G di daerah Banpo. Dan itu artinya… 15 menit lagi. Aku akan mengantarmu.”

Sooji mengangguk mendengar penjelasan Myungsoo sambil tersenyum senang. Tidak ada yang bisa menutupi kebahagiaannya saat ini. Dan ia sangat tidak sabar dengan pertemuan ini.

 

-o0o-

 

Bandara Incheon seperti biasa ramai dengan kedatangan dan kepergian orang-orang baik dari mau pun akan ke luar negeri. Sungyeol baru sampai di sana jam 5 sore, tepat 2 jam setelah meminta izin pada Myungsoo pada pukul 3. Pria itu segera memakai kostum penyamaran terbaiknya—topi, masker, kacamata hitam—dan berjalan memasuki bandara.

Sekitar empat jam yang lalu, saat ia hampir saja izin pada pukul 1, tiba-tiba Soojung menghubunginya dan mengatakan bahwa penerbangannya sempat di delay selama dua jam sehingga ia baru tiba di Seoul sekitar pukul 5. Setelah mendengar itu, Sungyeol bisa merasa tenang sedikit karena sebenarnya pemotretan belum selesai saat itu. Namun, ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, ia mulai panik dan buru-buru minta izin lalu segera melesat ke Incheon saat itu juga. Mengabaikan rasa lelah dan pegal yang melandanya karena ia hampir belum istirahat seharian.

Ketika Sungyeol memasuki bandara, mungkin memang karena aura selebritinya, orang-orang tetap saja mengenali dirinya dan mengambil gambar, hal itu membuatnya bingung bukan kepalang seraya memaksa otaknya memikirkan cara bagaimana menjemput Soojung tanpa orang-orang mengambil gambar mereka dan menyebarkan yang tidak-tidak. Karena sungguh, Sungyeol datang bukan karena menginginkan skandal, tapi karena ingin menjemput seorang teman. Karena sorotan itu, ia memutuskan untuk menunggu sambil berdiri di pojok ruangan, berharap semoga pesawat yang ditumpangi Soojung segera mendarat.

15 menit kemudian, terdengar sebuah pengumuman bahwa pesawat dengan tujuan dari Amerika telah mendarat dengan selamat dan itu berarti sebentar lagi Soojung akan muncul.

Sungyeol pun bergerak mendekati kerumunan yang menunggu di dekat pintu sembari membawa beragam banner bertuliskan nama orang-orang yang akan mereka jemput. Sementara itu, Sungyeol hanya berdiri di antara mereka tanpa membawa banner apapun. Firasatnya mengatakan bahwa tanpa membawa banner sekali pun, Soojung akan segera mengenalinya. Mengapa?

Jawabannya sederhana; karena ia Lee Sungyeol.

Tampaknya hal tersebut tidak hanya berlaku pada Soojung. Tapi orang-orang di sekelilingnya semakin ramai mengambil gambarnya dan membuatnya tidak nyaman. Sungyeol bahkan harus memperingatkan orang-orang dengan lembut untuk tidak mengambil gambar hingga akhirnya mereka berhenti—meskipun pandangan mereka masih tertuju ke arahnya. Setelah hilangnya beragam blitz kamera yang semula memburunya seolah ia adalah rusa yang terkena perangkap, Sungyeol kembali memfokuskan penglihatannya ke arah pintu kepulangan. Dan sosok yang ia tunggu akhirnya muncul juga.

Sungyeol melambaikan tangan panjangnya dan berkat tinggi tubuhnya yang mencolok, ia berhasil meraih perhatian gadis itu yang langsung tersenyum dan berjalan ke arahnya sembari mendorong troli berisikan dua buah kopernya—entah apa saja yang dibawa gadis itu bersamanya.

Soojung memakai coat berwarna merah mencolok dengan bulu-bulu di bagian kerahnya. Gadis itu juga mengenakan sepatu boots panjang berwarna hitam, senada dengan leggingyang dikenakannya sementara itu ia mengenakan sweater biru di balik coat-nya. Rambut panjang kecoklatan miliknya terlihat bersinar dan gadis itu mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi matanya. Ia tersenyum.

“Kau tidak menunggu terlalu lama, bukan? Bandara itu memang keterlaluan! Tidak seharusnya mereka—”

“—sudahlah, tak apa, aku baru saja sampai, tidak sampai satu jam!” ujar Sungyeol sembari memasang kembali maskernya yang sempat ia buka ketika menyapa Soojung tadi.

“Ah begitu?” Soojung tersenyum malu sambil kembali mendorong trolinya yang segera diambil alih oleh Sungyeol. “Ah, apa kau sibuk? Tidak apa, bukan, jika kau—”

“Nanti kita bicarakan di dalam mobil. Terlalu banyak mata di sini,” ujar Sungyeol sambil mendorong trolinya lebih cepat untuk segera sampai di mobilnya yang terparkir di bagian valet.

Setelah mereka berada di dalam mobil, barulah Sungyeol melepas masker dan kacamata hitamnya lalu memasang sabuk pengamannya diikuti Soojung di sebelahnya.

“Ah… terlalu banyak netizen. Berdoalah ini tidak akan menimbulkan skandal,” ujar Sungyeol.

Soojung juga melepas kacamata, menampilkan iris coklatnya. “Ew… apakah wartawan di sini benar-benar semenakutkan itu? Lebih daripada di Amerika sana?”

“Kau bisa merasakannya sendiri tadi. Apa kau tidak merasakan berbagai tatapan menghujanimu?”

Soojung terdiam dan kembali mengingat momen ketika ia berjalan bersama Sungyeol menuju mobilnya. Ya, ia merasakan semua tatapan itu. Mulai dari tatapan bingung, kaget, dan benci. Dan memikirkan itu semua membuatnya merinding.

“Aish… aku merinding memikirkannya!” seru gadis itu ngeri sembari mengelus-elus tangannya sendiri.

“Sudah kubilang,” ujar Sungyeol seraya menyalakan mesin mobilnya. “Ah, bagaimana perjalananmu?”

“Melelahkan! Kau tahu, aku bahkan tak ingat kapan aku berhenti untuk transit saking lelahnya. Di dalam pesawat saja aku terus tidur. Kau tidak melihat kantung mataku ini? Oh… my precious eyes…,” keluh Soojung sembari berkaca pada kaca mobil di sampingnya, memperhatikan penampilan matanya yang dikelilingi sebuah kantung mata kecil.

“Tidak, aku tidak melihatnya. Kantung mata itu tak terlihat, jadi tidak usah khawatir.”

“Bagaimana mungkin kau tidak melihatnya?! See? Ini sangat jelas! Ah… aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi!” gerutu Soojung lagi sambil memakai kembali kacamata hitamnya dan bersandar pada kursi mobil sambil melipat kedua tangan di atas dada.

Melihat hal tersebut, Sungyeol hanya bisa terkekeh. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka bertemu setahun yang lalu untuk sebuah pemotretan di Jeju dan ia tidak menyadari bahwa ia ternyata sangat merindukan gadis itu—terutama tingkah kekanakannya—Sungyeol dan Soojung bertemu pertama kali tiga tahun yang lalu, saat Sungyeol pertama kali menerima tawaran sebagai wajah baru sebuah majalah untuk satu tahun penuh. Di sana, ia melakukan pemotretan dengan bermacam-macam model perempuan termasuk Soojung. Ia melakukan pemotretan dengan Soojung di sebuah tempat ski di Jepang. Dan ia masih ingat dengan jelas bagaimana gadis itu terus menggerutu mengenai ini-itu—entah tentang betapa dinginnya keadaan di sana, tentang rambutnya yang masih belum ditata, make up-nya yang kurang tebal, bahkan ia menggerutu tentang salju yang tiba-tiba turun!—dan mungkin bagi sebagian orang yang mendengarnya, hal itu akan terdengar menyebalkan. Namun bagi Sungyeol, pria itu malah tertarik. Karena Soojung tidak mengucapkannya dengan cara yang menyebalkan dan tingkah menyebalkan, melainkan tingkah lucu seperti anak kecil dibalik sosok anggunnya, sehingga membuatnya ingin mencubit pipi gadis itu.

Mungkin semenjak itulah Sungyeol mulai tertarik dan tanpa sadar mendekati gadis itu. Hingga sekarang.

Sungyeol sudah mulai memasuki jalur bebas hambatan ketika ia ingat bahwa ia belum memberitahu Soojung bahwa ia tidak akan mengantarkannya langsung ke rumah, melainkan akan membawanya ke tempat pemotretannya.

“Soojung-ah,” panggil Sungyeol. “Sepertinya kita tidak bisa langsung ke Gangnam. Kau tahu aku sedang melakukan pemotretan hari ini, bukan? Sepertinya aku akan membawamu ke lokasi. Apa tidak apa?”

Soojung tidak menjawab. Dan ketika Sungyeol menoleh sekilas untuk melihat apa yang gadis itu lakukan, ia membulatkan matanya kaget.

“Jung Soojung, kau tidur?!”

 

-o0o-

 

Myungsoo menghentikan mobilnya tepat di depan restoran H&G, tempat di mana Sooji akan makan malam dengan designer ternama itu. Dan ia bisa melihat bahwa gadis itu tengah merasa sangat gugup saat ini.

“Ada apa?” Tanya Myungsoo yang merasa tak nyaman dengan kegugupan Sooji yang tak biasanya. Karena selama Myungsoo mengenal gadis itu beberapa bulan ini, ia selalu menampilkan sosok seorang yang sangat percaya diri dan bahkan tak peduli apa kata orang-orang. Tapi sekarang? Apa seperti inikah sosok seorang Bae Sooji yang sedang gugup?

Eoh? Tidak… aku tidak apa-apa…,” ujar Sooji sambil mencoba tersenyum semanis mungkin yang tetap saja terlihat kaku di mata Myungsoo. Gadis itu mulai membuka sabuk pengamannya dan tersenyum sekali lagi pada Myungsoo. “Aku pergi dulu, terima kasih mau mengantarku.” Gadis itu kemudian membuka pintu mobilnya lalu keluar dari mobil tersebut dan berjalan menjauh, memasuki restoran tersebut.

Sebelum Sooji sempat mencapai pintu, Myungsoo memanggilnya kembali, membuatnya berbalik dan menatap lelaki itu bingung. Myungsoo mengisyaratkan Sooji untuk mendekat yang diikuti gadis itu dengan patuh layaknya sebuah robot.

“Ada ap—”

“Semoga berhasil, Bae Sooji,” ujar Myungsoo sembari mengetukkan keempat jari tangannya di puncak kepala gadis itu, seolah sedang mentransfer keajaiban—atau apa pun—pada gadis itu.

Dan Sooji tertegun. Ia masih merasakan jemari Myungsoo yang bergerak secara bergantian di puncak kepalanya dan hatinya terasa hangat. Bukan hanya karena Myungsoo yang melakukan ini, namun karena pria itu jelas pernah—selalu—melakukan hal ini di masa lalu untuk menghiburnya, memberinya kekuatan, dan menenangkannya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ada sebuah rasa yang menyeruak di dalam dada Sooji saat Myungsoo melakukannya, yang membuatnya sesak dan ingin menangis. Membuatnya yakin bahwa suatu hari Myungsoo akan mendapatkan ingatannya kembali.

Setelah beberapa saat, Sooji mengangguk dan tersenyum. Refleks, ia menarik wajah Myungsoo keluar dari jendela mobil dan mengecup pipinya singkat sebelum melambai dan menjauh memasuki restoran. Membiarkan Myungsoo yang tertegun karena gerak tiba-tiba Sooji.

Dan Myungsoo bisa merasakan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

 

-o0o-

 

Sepeninggal Sooji, karena ia masih belum bisa menetralkan hatinya, lelaki itu memutuskan untuk membuka ponselnya dan mengecek akun SNS miliknya yang telah lama dibiarkannya. Ia sudah lama tidak membuka akun SNS-nya sehingga rasanya agak aneh ketika ia kembali membuka akunnya. Ketika ia tengah memeriksa timeline-nya, sesuatu membuat matanya kembali membesar dua kali lipat.

Di sana, ia melihat update terbaru dari Soojung. Gadis itu memang sering men-update akunnya, namun bukan hal itu yang mengejutkan.

Myungsoo melihat gadis itu menyerti postingannya dengan sebuah selca-nya dengan sebuah boneka harimau yang dibelikannya saat gadis itu ulang tahun 2 tahun lalu di atas kepalanya. Gadis itu tampak baru saja berdandandengan mengenakan sweater berwarna biru. Dari tempatnya, sepertinya gadis itu tidak berada di rumahnya saat foto itu diambil. Dan foto tersebut dilengkapi dengan tulisan;

‘Last day with Mogu-ya~ aku tidak akan pergi terlalu lama, aku janji! Seoul, aku datang~~~^^’

Mogu adalah nama yang ia berikan pada boneka singa tersebut. Dan apa maksudnya dengan Seoul?

Myungsoo tiba-tiba merasa panik. Ia membuka akun milik Soojung tersebut dan mencermati tanggal yang tertera. Kemarin. Gadis itu memposting tulisan itu kemarin. Yang artinya, jika ia memang benar-benar datang ke Korea, seharunya gadis itu telah tiba beberapa saat yang lalu. Dan satu lagi yang baru disadari Myungsoo. Gadis itu menulis menggunakan bahasa Korea—biasanya ia menulis menggunakan bahasa Inggris karena sekarang ia tinggal di sana—dan itu bukanlah hal baik bagi pria itu.

Tiba-tiba saja Myungsoo teringat dengan email yang didapatkannya beberapa jam yang lalu dan penasaran ingin membukanya. Ternyata benar saja, itu bukanlah junk mail seperti yang ia perkirakan. Itu adalah email dari Soojung.

Subject: Aku ke sana.

Kau menyebalkan, Kim Myungsoo! Kenapa kau tidak membalas atau mengangkat pesan dan telepon dariku?! Aku mengirim lewat email karena berharap kau akan membukanya (karena kau tidak akan membalas pesanku). Aku tahu ini memang sedikit tiba-tiba, tapi dalam beberapa jam aku akan tiba di Seoul. Jadi tunggu aku~

Aku tahu aku adalah orang yang paling bersemangat saat kau berkata kau akan kembali ke kampung halamanmu, tapi jika seperti ini keadaannya, aku jadi curiga kau menyembunyikan sesuatu dariku. Kau tidak berpaling pada gadis lain di sana, bukan?

Jangan berpaling, karena ketika aku bertemu denganmu, aku ingin memberikan jawaban yang telah kau tunggu-tunggu itu! Kekekeke~~~

 

Dan setelah membaca email tersebut, Myungsoo merasa setengah nyawanya pergi meninggalkan raganya.

 

-o0o-

 

Sungyeol menghentikan mobilnya dan membuka sabuk pengamannya. Ia menatap Soojung yang masih terlelap di sampingnya. Awalnya, ia berniat membiarkan gadis itu tertidur di dalam mobil selagi ia melakukan pemotretan, namun karena tak tega, ia pun menggoyang-goyangkan tubuh Soojung hingga gadis itu bangun.

“Ah, ada apa? Apa kita sudah sampai?” erang Soojung.

“Hm, kita sudah sampai. Tapi kita tidak berada di Gangnam.” Ujar Sungyeol.

Soojung melepas kacamata hitamnya dan memperhatikan langit gelap di hadapannya. Ia melepas sabuk pengamannya lalu kepalanya menoleh ke sana ke mari. “Lalu kita berada di mana?” tanyanya.

Sungyeol mengedikkan dagu ke sebuah kerumunan orang di luar mobil, tepat beberapa meter dari tempat mereka. “Aku sedang mengadakan pemotretan, dan aku tidak bisa meninggalkannya. Jadi aku akan mengantarmu pulang setelah aku selesai, oke?”

Soojung mengangkat alisnya lalu mengangguk-anggukan kepalanya.

 

-o0o-

 

“Ah, itu dia mobil Sungyeol-ssi!”

Seruan seorang staff itu mau tak mau membuat semua orang menoleh ke arah sebuah mobil yang baru saja diparkir di dekat lokasi. Myungsoo termasuk ke dalam salah satu orang yang mengamati mobil itu dari kejauhan sambil mengelap lensa kameranya. Ia mendesah sambil geleng-geleng kepala. Pria itu terlambat beberapa menit dari yang ia janjikan, dan Myungsoo terlanjur malas menanggapinya karena ia yakin 100% bahwa Sungyeol akan memberinya 1001 alasan mengapa ia terlambat. Mengapa ia bisa yakin? Karena itu adalah ciri khas Lee Sungyeol.

Selagi para staff mengkhawatirkannya, Myungsoo hanya diam sambil mempersiapkan diri sendiri. Ia memang sedang malas dan terlanjur tidak peduli—mungkin efek berita yang baru saja ia dapatkan—mungkin juga karena lelah seharian bekerja, ia tidak tahu.

Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu mobil dibuka dan ditutup. Dua kali. Dan para staff pun seketika ramai kembali. Mereka bukan hanya membicarakan Sungyeol, tapi sosok lain. Myungsoo tidak menyadarinya, hingga Sungyeol datang menghampirinya dan tersenyum lebar. Membuat Myungsoo mendongak malas.

“Kau terlambat.”

“Maaf, kau tidak tahu sekarang di Seoul banyak terjadi kemacetan? Aku adalah salah satu korbannya!” ujar Sungyeol membela diri.

“Ya, ya, ya, lebih baik kau cepat persiapkan dirimu!” perintah Myungsoo yang langsung disetujui Sungyeol.

“Ah, Myungsoo-ya,” ujar Sungyeol lagi sebelum berbalik. Myungsoo kembali menatap sahabat lamanya tersebut dengan pandangan bertanya. “Aku membawanya ke lokasi seperti katamu, tidak apa, bukan? Aku tak sempat mengantarnya ke rumah, jadi aku membawanya ke sini.” Lanjutnya sambil mengedik ke belakang punggungnya.

“Tentu saja tak apa—” Myungsoo menggantung kalimatnya begitu ia mengintip ke balik punggung Sungyeol dan ia langsung terdiam. Jika saja ia ceroboh, mungkin lensa yang berada di tangannya sudah jatuh ke tanah karena badannya benar-benar terasa lemas kali ini. Matanya membesar dan ia menahan napasnya.

Seperti melihat hantu, ia melihat Soojung berdiri di belakang sana. Gadis itu turut menatapnya dan membesarkan kedua matanya dengan mulut yang setengah membuka.

Seketika, Myungsoo memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi padanya.

 

TO BE CONTINUED

Haaaaai readers yeoreobun!!!

Maaf update-nya super lamaaaa… dan maaf kalau ada typo atau keganjilan alur, keganjilan cerita, sungguh sangat dianjurkan jika mendapati hal-hal seperti di atas tolong kasih tau aku ya^^ I will gladly fix it!

Dan akhirnya… happy reading!!!

Advertisements

55 responses

  1. rianaevi

    ahhh…. uda ada kemajuan mulai datang pengganggu.. ckckc~k.. banyak banget sih tembok nya (?)..
    next part nya d tunggu sangat ya.. hwaiting~~

    June 23, 2014 at 11:46 am

  2. anggita

    DAEBAK!!!

    June 23, 2014 at 12:06 pm

  3. veda

    OMO ada soojung ottoke??? apa prsaan myung k suzy bkln goyh??? Smoga prsaan myung k suzy gx goyah #jebal
    NEXT PART 😀

    June 23, 2014 at 12:18 pm

  4. KIMBAE

    Annyeong author,,
    Beberapa bln lalu aku baca chaptered ini dan karna itu udh lama jd aku mulai commentnya pas author ngepost part 9 kmrn…
    Ceritanya makin menegangkan,,
    Aku tkt Myungsoo bakalan berpaling lg ke Soojung dan nglupain Suzy tuk yg ke-2kalinya,,
    Ngebayanginnya aja aku udh kesel sendiri…
    Aku jg penasaran ama penyakitnya Suzy,,kyknya gk mungkin kalo Suzy cm alergi biasa aja…
    Bakalan trz nungguin ff ini,, Remember Me ini salah satu ff favorit sejjak q baca pertama kali jd berharap author trs ngelanjutin ampe slesai…
    Fighting ne thor….
    Myungzy jjaanngg… Author jjaanngg…..

    June 23, 2014 at 12:27 pm

    • Annyeong juga^^ iya gapapa kok 🙂
      Penyakitnya suzy emang bukan alergi kok. Dia bohong sama Sungyeol dan Myungsoo dari dulu soalnya dia gamau mereka khawatir 🙂
      Aduuuuh makasih banyaaaak{} insyaAllah bakal aku lanjutin sampe akhir kok, doain aja ya dan minta semangatnya^^
      Fighting jugaaa^^ makasih yaaa~

      June 28, 2014 at 4:19 am

  5. Annyeong….
    Omonaaa….
    Andwae…..
    Myungzy harus bersatu. ….
    Myungsoo gak boleh goyahh…
    Makin seru aja ceritanya. …
    Myungzy jjang.
    Author jjang.
    Fighting buat next…

    June 23, 2014 at 1:10 pm

  6. Tambah penasaran dek!!
    Tapi ngomong-ngomong, Myungsoo itu gebetannya Krystal atau udah pacaran sih? Aku lupa -_-v

    Ditunggu dengan sangat lanjutannya!!

    June 23, 2014 at 1:19 pm

    • Jadi Myungsoo sama Krystal itu dulu pernah deket pas di Amerika soalnya mereka sering kerja bareng kan… nah, Myungsoo itu pernah nyatain perasaannya sama Krystal tapi sama Krystal belum dijawab (semacam digantungin gitu). Cuma, pas saat itu perasaan Myungsoo masih belum berubah, dia masih deketin Krystal. Dan meskipun hubungan mereka belum jelas, tapi Krystal itu seolah udah menganggap bahwa Myung itu pacarnya, miliknya (padahal dia blm ngasih jawaban pasti). Jadi aja mereka sering kontakan kaya orang pacaran. Nah, tapi sekarang, mungkin Myungsoo capek digantungin, jadi dia membuka hati sama Suzy wkwk~ tapi kalo Krystal kembali lagi sih… gatau ya hehe~
      Semoga penjelasannya ngebantu kak 🙂

      June 28, 2014 at 4:27 am

      • Oh haha jadi ceritanya Krystal itu tukang PHP? /? Huh dasar -_- Kalo gitu ditunggu lanjutannya yaaaa dek 😉

        June 28, 2014 at 4:29 am

  7. Akhirnya setelah sekian lama, akhirnya dilanjut juga nih ff. 🙂
    Hubungan myungzy dah ada kemajuan. Tapi kenapa harus ada pengganggu lagi sih? Itu si soojung mending dilempar lagi aja ke tempat asalnya, di mana pun itu asalkan jangan dekat2 MyungZy. Kecentilan banget si soojung trus kepedean pula. Iiihhhhhhhhhh
    Jadi ngerasa alurnya sangat lambat atau emang karena updatenya selalu lama yah???. Tapi gpp deh yg penting ntar myungzy tetap bersatu dan myungsoo gak ngelirik2 itu si soojung pengganggu. Heol

    June 23, 2014 at 1:20 pm

  8. kuchiki

    Omo,padahal myungsoo da membuka hati,knp soojung muncul??gmn nasib suzy??

    June 23, 2014 at 1:23 pm

  9. putriadesya

    Ige mwoyaa?? Dasar soojung dtng disaat yg ngga tepatt ahhh disaat myungzy mulai mnunjukan kemajuan sama perasaaan nya myungsoo dan tiba2 dtng ~ heh smoga gkada pertumpahan darah (?) kekeke
    FF nya ttep bgus!!! Ttep setia nntiin di setiap part nya!! Ahh gomawo ne ffnya next part nya ditunggu^^

    June 23, 2014 at 1:48 pm

  10. fitri

    Penasaran gimana kelanjutannya.
    Duhh, apa suzy bakal tersingkir lagi? gk tega baca suzy yg sedih terus
    Ditunggu nextnya thor

    June 23, 2014 at 2:21 pm

  11. myungzyshipper

    Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa pls pls pleaseeeee myung jangan berpaling lg ke soojung huhuhu kesian suzynyaaaa haa next part ditunggu yah thor, pokonya happy ending ok hihi fighting!

    June 23, 2014 at 2:30 pm

  12. novYsuzY

    Aiiggoooo bakalan sad lgi ni.
    tdi aq senyum” sibdiri bacanya . Hehehe
    lanjut ne thor
    lw bsa jgn lama” ngepostnya hehehe
    Penasaraaann tingkat dewaa. .

    MyungZy jjang.
    Thornya juga jjang

    June 23, 2014 at 3:01 pm

  13. akkhhh akhirnya update juga..
    wah soo jung udah di korea, suzy myung udah mulai deket bahkan myung udah mulai cemburu, yaampun myung apa yang akan kau lakukan sekarang.
    akkkhhhh

    June 23, 2014 at 3:04 pm

  14. intan

    kenapa setelah myungzy udah mulai saling suka ada aj a halangannya??
    next thor, jgan lama”^^

    June 23, 2014 at 3:22 pm

  15. Prameta

    Ap yang trjadi slnjutny?bgaimana hubungan myungzy?ap myung bkalan sm suzy ato sm soojung?next part ditunggu thor

    June 23, 2014 at 3:33 pm

  16. Reblogged this on LOTUSKim and commented:
    Omona jadi bener nih soojung suka sama soo oppa???? Aigoo dia kan udah bertunangan pula! Ayolah relakan~ relakan~ relakan~ hihihi
    Joah!
    Kris Choi? Uro krisseu?? Omona! Hihihi
    Fighting!

    June 23, 2014 at 4:41 pm

  17. iec_4

    Hmmm…bru mo mntepin dri..eee pngganggu dtg..(*mg myung g goyah y..
    atau mngkn buat myung lbih sadar, n jealous liat suzy d dktin namja laen..dg bgtu..dy g lg ragu dg prsaanny..
    soojung..mg g mksain dri..dah si..ma sungyeol ajj noh..

    June 23, 2014 at 6:19 pm

  18. HimaSayA

    aduh orang ke-2 udh pada dateng #pirasat sih soojung dan kriss
    apa myung bakal ngelepas suzy? secara hatinya belum sepenuhnya ingat suzy
    tapi kasihan suzy jga, thor suzy alergi? or penyakit parah??
    disini kayaknya kunci ada pada myung deh. sikap myung bakal nentuin semua dan qw harap myung ga salah ambil sikap
    hah qw malah takut thor, soojung ambisius kayaknya. ga bakal lepasin myung gitu aja deh
    next nde thor

    June 23, 2014 at 7:29 pm

  19. jirongie

    plisss myungsoo jgn gara” krystal dateng jd labil sm perasaan sendiri. ayolahh buruan sadar kasian suzy

    June 23, 2014 at 8:58 pm

  20. akhhh waeyo? kenapa soojung datang disaat yg gak tepat sih. ayolah myung jangan sampai hatimu berpaling dari suzy. semakin rumit 😦

    June 23, 2014 at 9:07 pm

  21. oh no!!!!!myung udah membuka hatinya untuk suzy kan? myung udah suka suzy kan? jadi kedatangan soojung gak akan jadi penghalang untuk hubungan mereka kan? myung udah nerima pertunangan mereka jadi soojung gak akan memperngaruhinya kan?
    author…please jgn sampe myung berpaling ne….aku tunggu nextnya…

    June 23, 2014 at 9:23 pm

  22. Hmmm myungzy baru aja baekan n myung membuka hati tuk suzy.ehhh si soojung dtang. Gmn dngan sooji?
    Next

    June 23, 2014 at 10:25 pm

  23. myungzy udh mulai membaik kenapa ada pengganggu datang? ._.
    aigoo semoga aja myungsoo perasaannya gak goyah -..-
    ditunggu part selanjutnya 🙂

    June 23, 2014 at 11:11 pm

  24. ika NF

    nah lho soojung d.korea trus myungzy gmna

    June 23, 2014 at 11:36 pm

  25. riska10

    aq slalu nunggu ff nie thor. . . kpikiran trus ma pnyakitny suzy wkwkwk

    hwaitting^^

    June 24, 2014 at 12:08 am

  26. ji

    wah wah seeprtinya ini awal dari adanya keburukan kekekekke…
    di tunggu next partnya fighting^^

    June 24, 2014 at 10:33 am

  27. dyyyy

    apa yg kan terjadi?
    myungsoo kan berpaling lg k soojung tdk?

    June 24, 2014 at 1:45 pm

  28. Bel_L

    kenapa tiba2 ada soojung sih. padahal hubungan Myungzy ada kemajuan.
    jangan sampai myung berpaling dari suzy..
    next thor..

    June 24, 2014 at 3:56 pm

  29. kakashi

    omo.. soojung datang,
    aduh myung tepati kta2mu buat slalu brsma suzy selamany dong..
    tambah seru nui.. bkal byak konflik..

    June 24, 2014 at 4:48 pm

  30. Leny

    Myung dulu suka soojung,tp soojung blum jawb ya??^
    sepertinya tambah panas..ditunggu kelanjutannya thor!!!

    June 24, 2014 at 6:28 pm

  31. aidilla

    daebak…
    senangnya waktu myung cemburu
    neomu kyeopta~
    aigoo,, gimana kelanjutan hubungan myung-soojung ya
    penasaran!!!
    next chap,, ditunggu^^

    #jangan lama2

    June 24, 2014 at 7:53 pm

  32. fauzia_15

    Waduhh si soojung kembali….huwaa andwaeyo…
    Makin seru aja thor. Ditunggu next part nya authoorr

    June 25, 2014 at 2:02 pm

  33. kereen

    June 26, 2014 at 12:57 am

  34. suzyholic

    Hikkkkss..
    Kenapa si soojung dateeng segalaaa..
    Myung jadi galaau niih mestiii 😢

    June 26, 2014 at 10:54 pm

  35. asri

    author, aku gatau musti komentar apa
    tapi yang jelas, aku gamau kalau myungsoo dan suzy pisah 😦

    June 27, 2014 at 6:13 am

  36. ibaegyu

    Disaat Myung udah suka Suzy. Mlh ada soojung ><

    June 27, 2014 at 3:58 pm

  37. dilla

    Yaelahhhhh myungzy nya udh mulai bersatu,ini siojung munculllll…
    Jangan buat myungzy pisah okeee thorrrr… ditunggu sangat kelanjutannnya thorrr

    June 30, 2014 at 3:17 pm

    • dilla

      Deuh kan aku typo–” maksudnya soojung ituuu

      June 30, 2014 at 3:19 pm

  38. noname

    akhirnya aku nemu lagi ini ff udh sekian lama aku lupa sma ini ff 🙂 seru thor, mudah2an myungsoo tetep sma suzy, penasaran banget dr part2 sebelumnya sma penyakitnya suzy, ditunggu next partnya thor jangan lama2 ya 🙂

    July 1, 2014 at 1:07 am

  39. dinii

    Wahh krystal beneran dikorea , mudah mudahan aja gak ganggu hub suzy sama myungsoo yaa .
    Tapi tetep gak yakin kalo dia gak bakal ganggu . dan kayanya dia udh mulai suka sama myungsoo wahh gawatt.
    Okee ditunggu next partnya ya thor 😉

    July 1, 2014 at 10:35 pm

  40. lily

    wah apa ya yg bakal terjadi…secara myungsoo udh berpindah hati nih ke kekasih masa lalunya…. tetap mendukung myungzy jjang…soojung ama sungyeol aja ya…. segera di update next partnya ya thor…

    July 2, 2014 at 3:56 am

  41. Myungzy140114

    aaaa ini keren !! next next next

    July 6, 2014 at 5:44 am

  42. ginevratri

    lanjuttttt thooooorrrrr

    July 6, 2014 at 11:38 am

  43. anggita

    sebelum publish ff terbaru, bisa ga ff ini dSelesaiin dulu?? thanks n’ sorry

    July 28, 2014 at 4:52 pm

    • Aku belum mau publish FF baru kok… itu kan baru prolog. Dipostnya gatau kapan 🙂 dan kalaupun ada ff baru pun aku juga pasti nyelesain yang ini kok. Sabar ya 🙂

      July 29, 2014 at 11:15 am

  44. And Ryuu Haa

    Maaf aq bru coment di part ini…jujur aja part 1 smpe 7 aq coment tpi di wp lain…entah dmn tpi lpa..hehe..brhub…udah luuaama pke bgt g update aq lngsung bca part 10 z..masi inget dkit2 critanya….

    August 3, 2014 at 1:04 am

  45. eun hye

    Omo……. Daebak thorr(Y)
    Kereeeeeennnnn ceritanyaaa. Lanjutnyaaaaaaaa pleaseee. 😀

    August 6, 2014 at 10:05 am

  46. Deborah sally

    Yah ada PHO nya >_<

    October 5, 2014 at 12:57 pm

  47. Lim

    Penganggu dateng!!! Argghh bikin gereget hahah next, tambah seru thor.

    October 7, 2014 at 1:01 am

  48. via

    wow gimane tuhh soojung myungsoo

    October 11, 2014 at 1:01 am

  49. OMG…
    ini benar-benar burukk…
    soojung datang apa yang akan terjadi selanjutnya ya…

    June 17, 2015 at 6:55 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s