KIM MYUNGSOO FANFICTION

[CHAPTERED] Remember Me – Part 9

Remember Me

REMEMBER ME

|Main cast: Kim Myungsoo (Infinite), Bae Sooji (Miss A)|Other cast: Jung Soojung (F(x)), Jang Wooyoung (2PM), Lee Jieun (IU), Lee Sungyeol (Infinite)|Genre: Drama, Angst/Sad, Romance, Fluff, Friendship, a little bit Comedy|Length: Chaptered|Rating: General|

©Park Minrin

.

Ketika seseorang melupakan, sementara yang lain mengingat.

.

Malam ini jam 7, aku akan menunggumu di depan penginapan.

PART 9 : Unplanned Date

Myungsoo kini duduk di hadapan seorang pria yang berumur kira-kira 50-an untuk mendengarkan sebuah penjelasan dari seseorang yang menyandang gelar dokter tersebut, yang sedang memperlihatkan sebuah scan otaknya.

Dokter Park menopang dagu dengan sebelah tangan sembari memperhatikan hasil CT scan yang baru dilakukan Myungsoo beberapa puluh menit yang lalu. Keningnya berkerut samar dan matanya sedikit menyipit di balik kacamata tebalnya.

“Kau berkata kau ingin mendapatkan ingatanmu kembali, Myungsoo-ssi?” tanya Dokter Park.

Myungsoo mengangguk. “Apakah benar-benar tidak ada harapan? Masalahnya, ingatan-ingatan itu sering melintas di penglihatanku beberapa kali. Tapi aku masih tidak mengerti dan mengingatnya. Bagaikan sebuah film lama yang tidak pernah kau tonton sebelumnya, aku selalu tidak tahu siapa dan apa yang dimaksud dalam setiap kilasan itu.”

“Sebenarnya, Myungsoo-ssi, kesempatanmu untuk mendapatkan kembali ingatanmu itu ada. Hanya saja, karena kau telah menghentikan terapimu sejak lama, maka akan sedikit lebih sulit.” Ujar dokter Park. “Sekarang coba beritahu aku apa saja yang biasanya kau lihat dalam kilasanmu itu.”

Well, aku sering melihat seorang anak laki-laki, seorang anak perempuan, suara tawa, suara tangis, desir ombak, cahaya matahari yang bersinar terik, sesuatu yang menghantam punggungku, suara seorang pria, senyum pria itu, jabatan tangan, suara keras benda berbenturan, rasa sakit… hal-hal semacam itu,” jelas Myungsoo.

Dokter Park mengangguk-anggukan kepalanya. “Sebenarnya itu sudah lebih dari cukup untuk memulihkan ingatanmu. Sekarang yang perlu kau lakukan hanyalah mengembangkan kilasan ingatan itu menjadi ingatan yang utuh.”

“Aku sering mencobanya!” ujar Myungsoo cepat. “Tapi semakin aku ingin mengingatnya, semakin aku tidak ingat.”

“Coba dekatkan dirimu dengan hal-hal yang bersangkutan dengan kilasan ingatanmu itu. Hal itu akan mengembalikan ingatanmu secara perlahan, menyatukan kilasan-kilasan itu dan menjadikannya sebuah ingatan yang utuh. Akan lebih bagus jika kau sering melihat kenangan-kenanganmu sejak kecil dulu. Apa kau masih memilikinya?”

Myungsoo menggeleng. “Rasanya aku tidak pernah menemukan hal seperti itu di rumahku,” ujar Myungsoo. “Tapi akan kucoba cari,”

“Atau, jika kau ingin cara yang lebih cepat, kau bisa mengikuti hipnoterapi di sini. Setiap hari Minggu,”

“Akan kuhubungi jika aku setuju,”

Dokter Park mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Myungsoo pun akhirnya bangkit dari duduknya dan menjabat tangan sang dokter. “Terima kasih banyak, dokter,”

Pria bersandang gelar dokter itu mengangguk sambil tersenyum. “Jangan lupa periksakan dirimu secara rutin ke sini,”

Myungsoo mengangguk pasti sebelum akhirnya keluar dari ruangan dokter tersebut.

 

-o0o-

 

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang menyeberangi lautan yang cukup luas, mereka akhirnya sampai di pelabuhan pulau Nami. Ketika mereka tiba, waktu sudah hampir tengah malam, sehingga wajar saja tidak ada banyak orang di sana. Sebaliknya, suasana di sana sangat sepi, seperti kota mati. Mungkin para turis yang berada di sana pun lebih memilih tidur nyenyak dalam penginapan atau hotel-hotel mereka dan menunggu hingga matahari berada cukup tinggi untuk keluar menikmati pemandangan alam.

Karena jujur saja, jika Myungsoo adalah mereka, ia pasti akan seperti itu.

Ketika turun dari perahu yang membawa mereka, dinginnya angin laut yang cukup kuat menerpanya dan langsung membuatnya menggigil. Sedari tadi, sepanjang perjalanan mereka menuju hotel, pria itu tak henti-hentinya bertanya; “Apakah sudah sampai? Kapan kita akan sampai? Apakah masih lama?” hingga kuping Sooji yang duduk di sebelahnya terasa panas.

Sooji pun menoleh menatap Myungsoo yang sedang menyembunyikan wajahnya yang memutih di balik mantel yang dikenakannya. Melihatnya seperti itu, membuat Sooji mau tak mau tersenyum. Ia teringat Myungsoo kecil yang berlaku persis seperti itu. Dan mengingatnya, membuat Sooji melupakan semua amarahnya terhadap pria itu beberapa jam yang lalu.

“Ini,” ujar Sooji sembari menyodorkan sebuah bungkusan kecil.

Myungsoo mendongak menatap Sooji. Sedikit wajahnya akhirnya terlihat setelah beberapa menit tenggelam dalam mantelnya sendiri. Pria itu mengerutkan sebelah alisnya bingung.

Hot pack. Aku mempersiapkan beberapa dari Seoul. Ini dapat menghangatkanmu, kau hanya tinggal menaruhnya di tanganmu, atau di pipimu,” jelas Sooji.

Tangan Myungsoo yang semula membeku dan gemetar, akhirnya terulur untuk mengambil hot pack yang ditawarkan Sooji. Pria itu pun menggenggamnya dengan kedua tangan sambil mendesah pelan.

“Bagaimana? Hangat, bukan?” tanya Sooji.

Myungsoo mengangguk-anggukkan kepalanya yang masih ditenggelamkan di dalam mantelnya. Tapi Sooji bisa merasakan pria itu tersenyum.

“Seharusnya kau mempersiapkan hal-hal seperti ini dari Seoul. Kenapa kau datang tanpa persiapan begini? Bukankah kau yang akan paling sibuk besok pagi?” tegur Sooji lagi.

“Aku tidak tahu ada benda seperti ini. Tak seorang pun memberitahuku,” tutur Myungsoo lirih.

Sooji ingin tertawa, tapi ditahannya. “Sudahlah, sekarang lebih baik kau beristirahat. Aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai di penginapan,”

 

-o0o-

 

Kim Myungsoo merasa bodoh. Oh, jangan lupa juga malu. Ia baru menyadari letak kesalahannya ketika keesokan paginya, ketika kondisi badannya sudah stabil, ketika penghangat ruangan di kamarnya menyala dengan energi maksimum, ketika ia baru saja menyantap sarapannya kemudian teringat dengan kejadian semalam. Ketika ia bahkan tak bisa bergerak dari tempatnya di dalam mobil yang mengantarnya dan para kru ke sini dan Sooji-lah orang yang menuntunnya menuju kamarnya.

Semakin diingat, Myungsoo semakin merasa bodoh. Seharusnya ia yang menjaga seorang wanita, bukan malah sebaliknya! Sebagai pria, ia merasa benar-benar gagal. Harga dirinya runtuh setiap ia ingat momen itu. dan kini, ia tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan Sooji nanti.

Beruntungnya, ia pergi ke lokasi pemotretan terlebih dulu daripada tim designer dan stylist, sehingga ia tak perlu melihat Sooji untuk sementara waktu.

Myungsoo menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras guna menghilangkan risau di hatinya. Ia segera bergerak menghampiri kru kamera lain yang tengah memasang setting pemotretan sembari turut mengatur segala rupanya.

Meskipun ia merasa tidak terlalu baik hari ini—pada perasaannya—ia tetap berusaha menampilkan yang terbaik di hadapan kru dan staff pemotretan. Ia bangun pagi-pagi sekali, membangunkan para kru dan staff yang lain, lalu ia pula yang sibuk merancang penataan kamera dan setting untuk dibicarakan pada kru kamera dan lighting. Karena ia yang memimpin proyek musim ini, setidaknya ia harus sedikit lebih banyak berkorban dari yang lain. Itu adalah caranya bertanggung jawab terhadap posisinya.

“Wah… lihat photographer kita yang satu ini! Kau pasti bangun pagi-pagi sekali!” seru seorang pria di belakang Myungsoo ketika pria itu tengah memperhatikan penataan setting oleh para kru kamera dan kreatif.

Myungsoo terkekeh. Ia menoleh ke sebelahnya dan mendapati Sungyeol berada di sana sambil bersidekap dan tersenyum. “Annyeong haseyo, model Lee Sungyeol,” sapa Myungsoo terlebih dulu.

“Tumben sekali kau memanggilku model. Sepertinya ini juga pertama kalinya kita bekerja sama sebagai seorang teman lama, eoh?”goda Sungyeol.

“Sepertinya begitu,” ujar Myungsoo sambil terkekeh. “Bagaimana tidurmu semalam? Apa kau mendapatkan istirahat yang cukup?”

Sungyeol tertawa mendengar pertanyaan Myungsoo. “Cukup baik. Tapi bukankah seharusnya aku yang bertanya? Kulihat kemarin kau ke kamar diantar Sooji. Apa kondisi badanmu baik-baik saja?”

Myungsoo menelan ludah mendengar pertanyaan Sungyeol. Ia memalingkan pandangannya sambil berdeham. Berusaha menutupi rasa malu dan gugupnya. “Tentu saja, aku baik-baik saja,” ujarnya singkat. “Ya! Turunkan lighting-nya sedikit! Geser sedikit property yang berada di dekat pohon itu! Ya, sedikit lagi!” seru Myungsoo pada kru yang sedang menyiapkan setting.

Sungyeol mendengus. “Tampaknya kau sangat sibuk.”

“Hm, aku sangat-sangat sibuk,” ujar Myungsoo sambil memberi penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.

“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengganggumu, tuan photographer.Fighting!” seru Sungyeol sambil menepuk pundak Myungsoo dan berbalik. Baru saja berbalik, tiba-tiba pria itu kembali berseru—setengah berteriak, “Oh, Bae Sooji! Annyeong!”

Myungsoo menegang di tempatnya mendengar nama Sooji disebut. Ia tak berani berbalik. Ia juga hanya bisa berharap Sooji tidak akan mendekatinya atau Sungyeol karena dua hal itu sama saja. Jika Sooji mendekati Sungyeol, berarti Sooji mendekatinya juga karena ia berada di dekat Sungyeol. Dan ia masih tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Sooji jika ia bertatap muka dengan gadis itu.

“Oh, Sungyeol oppa!” seru Sooji sambil melambaikan sebelah tangannya.

Myungsoo mendengar suara langkah kaki ke arahnya dan Sungyeol. Sial, sepertinya gadis itu benar-benar menghampiri mereka berdua.

“Wah… kau cantik sekali pagi ini, nyonya designer!” seru Sungyeol.

Sooji tersenyum. “Kau juga begitu, tuan model ternama kami.”

Sungyeol tertawa. “Ya, kau semakin mahir bicara, huh?”

Selagi Sooji tengah sibuk berbincang dengan Sooji, dengan perlahan dan sangat hati-hati, Myungsoo beranjak pergi dari sisi Sungyeol. Berusaha berpindah ke tempat yang lebih jauh dari mereka berdua agar Sooji tak menyapanya. Namun rencananya tampaknya gagal ketika ia baru saja melangkah, dan Sungyeol sudah bertanya,“Eodiga?” sambil menoleh menatap Myungsoo.

Sooji pun mau tak mau turut mengikuti arah pandang Sungyeol dan gadis itu mengangkat sebelah alisnya menatap seorang pria yang membelakanginya dan sedang berjalan menjauh.

“Ada sesuatu yang harus kukerjakan—“

“Kim Myungsoo!” seru Sooji memotong ucapan Myungsoo pada Sungyeol.

Myungsoo terdiam di tempatnya. Dalam hati, ia merutuk dalam-dalam aksi bodohnya yang tak segera pergi dari sana sedari tadi. Dengan setengah hati, pria itu berbalik sambil menunjukkan wajah datarnya. “Eoh?” gumamnya sebagai balasan sapaan Sooji.

“Apa kau baik-baik saja? Kemarin malam… kau tak terlihat baik-baik saja,” tanya Sooji.

Ne, aku baik-baik saja. Terima kasih… atas bantuanmu kemarin malam. Aku permisi dulu,” ujar Myungsoo sambil kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya yang tertunda menuju para kru kamera. Sebenarnya hal itu hanya alibi agar ia bisa menjauh dari gadis itu.

Sooji hanya menatap pria itu dengan pandangan aneh. Ada sesuatu yang mengganjal. Ada sesuatu yang aneh, namun Sooji sendiri tidak tahu apa. Ia hanya merasa pria itu bertingkah aneh padanya. Ia merasa pria itu sedang berusaha menjauh darinya. “Ada apa dengannya?” tanpa sadar, ia bergumam sendiri.

Ya, ya! Ternyata benar yang kemarin kulihat adalah kalian, bukan? Kau yang mengantarkan Myungsoo ke kamarnya, benar, kan?” ujar Sungyeol bersemangat.

Sooji menatap Sungyeol dengan ekspresi datar. “Benar, Memangnya kenapa?” tanyanya dingin sambil berlalu untuk kembali pada kru designer dan stylist-nya.

Sungyeol mengernyitkan keningnya sambil menunjuk ke arah Sooji dan Myungsoo secara bergantian. “Ah benar, mereka sekarang bertunangan! Tapi… kenapa mereka terlihat saling menghindari satu sama lain? Apa mereka bertengkar? Lagi?!” gumamnya pada dirinya sendiri.

 

-o0o-

 

Pemotretan berjalan lancar. Semua berjalan persis seperti yang telah direncanakan dan Myungsoo pun merasa puas terhadap hal itu. Namun, sepanjang pemotretan berlangsung, interaksi antara Sooji dan Myungsoo sangat jarang terjadi. Mereka hanya bicara jika merasa ada yang perlu dibicarakan saja. Ini yang membuat para kru dan staff pemotretan, bahkan Sungyeol merasa bahwa sedang ada masalah di antara keduanya. Percakapan antara keduanya pun sangat canggung dan sangat berbeda dengan saat mereka belum bertunangan dulu. Apakah karena mereka telah bertunangan jadi hubungan mereka pun menjadi canggung? Tidak mungkin, bukan?

“Kerja bagus! Terima kasih atas kerja kerasnya!” seru Myungsoo ketika pemotretan berakhir sembari menunduk berkali-kali pada para staff, kru, dan juga Sungyeol yang menjadi model mereka.

Para staff dan kru pun balas menunduk sebelum kembali ke tempat mereka untuk membereskan barang-barang mereka, property, dan lain sebagainya.

Myungsoo pun melakukan hal yang sama. Ketika para kru dan staff sudah mulai membereskan barang masing-masing, ia kembali ke meja tempatnya menyimpan laptopnya lalu memindahkan foto hasil pemotretan tadi ke dalam laptopnya untuk selanjutnya masuk proses editing dan cetak.

Baru saja Myungsoo memindahkan foto dan membuka beberapa foto, sebuah suara sudah merusak suasana tenang yang tengah dinikmatinya. “Ya, ternyata aku benar-benar tampan, huh?”

Myungsoo berbalik dengan kening berkerut dan memutar bola matanya melihat Sungyeol yang telah berdiri di belakangnya. Pria yang lebih tinggi darinya itu dengan leluasa dapat melihat hasil pemotretan dari belakang punggungnya.

“Bukankah fotoku tak perlu lagi masuk proses editing?” tanya Sungyeol penuh percaya diri.

Aish… sepertinya aku mengenal sifat percaya dirimu ini. Apa sejak dulu kau selalu sepercaya diri ini?” tanya Myungsoo tajam.

“Aku memang lahir dengan penuh percaya diri.”

Myungsoo mendengus namun ia juga tertawa setelahnya. “Sudahlah, sana! Lebih baik kau istirahat! Sudah hampir malam dan kau harus mempersiapkan dirimu untuk lusa. Besok kita sudah harus kembali ke Seoul, kau ingat?”

Ara, aku ingat!” ujar Sungyeol kesal. “Cih, padahal aku ingin menikmati jam-jam terakhir di sini,” keluh Sungyeol kemudian.

“Kau bisa menikmatinya nanti, jika proyek ini telah selesai,” ujar Myungsoo.

Sungyeol mendecakkan lidahnya kesal. “Baiklah, baiklah, aku pergi duluan!” seru Sungyeol pada akhirnya sambil menepuk pundak Myungsoo. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, Sungyeol berbisik, “Kau juga, nikmati waktumu, Kim Myungsoo.”

Ketika Sungyeol telah pergi dan Myungsoo baru menyadari apa yang dikatakan pria itu, kening Myungsoo berkerut. Ia tak mengerti apa pun yang dikatakan pria itu padanya. Tak ingin berpikir panjang, Myungsoo meneruskan aktifitasnya semula. Beberapa belas menit kemudian, setelah selesai menyeleksi foto-foto yang sekiranya akan dicetak, Myungsoo mematikan laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas miliknya sementara kameranya ia masukkan ke dalam tasnya untuk kemudian digantung di atas lehernya. Ketika ia mendongak, matanya membulat melihat Sooji berada di hadapannya.

“O-oh, ada apa?” tanya Myungsoo canggung.

“Para staff bilang buku sketsaku ada padamu,” ujar Sooji.

Myungsoo mengerutkan kening bingung. “Buku sketsa?”

Sooji mengangguk. “Hm, dari tadi aku mencarinya tapi aku tak bisa menemukannya di mana pun! Aish… kalau buku itu hilang, aku bisa gila! Di sana ada design proyek ini untuk dua bulan ke depan dan aku belum menyalinnya!”

“Benarkah?!” Myungsoo ikut kaget mengetahui betapa pentingnya buku tersebut.

Sooji mengangguk. “Tapi… dari reaksimu, sepertinya buku itu tidak ada padamu. Kalau begitu, aku pergi dulu,” ujar Sooji sambil berbalik.

Ketika Myungsoo melihat punggung Sooji yang menjauh, pria itu terdiam. Tiba-tiba saja ia teringat kata-kata Sungyeol padanya tadi,

“Nikmati waktumu, Kim Myungsoo.”

Setelah melihat Sooji, lambat laun Myungsoo mengerti apa maksud Sungyeol.

“Tunggu, Bae Sooji!” seru Myungsoo.

Sooji yang sudah berada cukup jauh darinya berhenti melangkah kemudian berbalik menghadap Myungsoo dengan wajah penuh tanya.

“Akan kubantu kau mencarinya!” seru Myungsoo lagi sambil tersenyum dan berjalan mendekati Sooji.

Mwo?!” tanya Sooji setengah berteriak. Tak percaya.

Myungsoo berjalan mendekati Sooji hingga akhirnya ia berada di samping gadis itu. “Sepertinya aku bisa menduga apa yang terjadi. Tapi untuk memastikannya, lebih baik kita ke kamarmu terlebih dulu,” ujar pria itu.

Sooji masih menatapnya tak mengerti. Namun Myungsoo sepertinya tak ingin menjelaskan pula, jadi Sooji memilih menurut dan turut berjalan menuju kamarnya.

 

-o0o-

 

Myungsoo dan Sooji terdiam begitu mereka memasuki kamar Sooji dan melihat buku sketsa yang sedang dicari-cari gadis itu berada tepat di atas tempat tidurnya, bersama barang-barangnya yang lain.

Sooji menarik napas lega begitu melihat buku sketsanya sembari mengucapkan beberapa kata syukur. Ia kemudian menoleh pada Myungsoo sambil tersenyum kikuk. “Terima kasih, sudah berniat membantuku mencarinya. Sepertinya ada seseorang yang sedang menjahiliku hari ini,” ujarnya sedikit jengkel dengan ulah siapa pun yang mengatakan bahwa bukunya ada pada Myungsoo dan membuat aktifitas pria itu terganggu.

Myungsoo mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian menoleh menghadap Sooji. “Hm, sama-sama.”

“Sudah hampir malam. Sebaiknya kau juga kembali ke kamarmu. Jam 10 kita akan kembali ke Seoul, bukan?” tanya Sooji kemudian.

“Hm,” Myungsoo hanya menggumam sebagai jawaban.

“Kalau begitu biar aku mengantarmu sampai pintu,” ujar Sooji. “Sebagai ucapan terima kasih,” tambahnya.

Mereka pun kembali berjalan menuju pintu kamar Sooji. Myungsoo keluar dari kamar Sooji, sementara Sooji berada di ambang pintu.

“Selamat malam, kalau begitu,” ujar Sooji sambil mengangkat sebelah tangannya.

Myungsoo hanya terdiam menanggapinya.

Sooji yang menyadari bahwa tidak akan menerima tanggapan berarti dari Myungsoo, kemudian—dengan sedikit kecewa—beranjak menutup pintu. Namun, sebelum pintu benar-benar ditutup, lengan Myungsoo menahannya, membuat Sooji kembali membukakan pintu kamarnya, semacam gerakan refleks akibat terkejut dengan apa yang Myungsoo lakukan.

“Ada apa?” tanya Sooji.

“Malam inijam 7, aku akan menunggumu di depan penginapan. Kudengar pemandangan malam hari di pulau Nami sangat indah. Aku ingin melihatnya denganmu. Bolehkah?”tanya Myungsoo sambil menatap tepat ke manik mata Sooji.

Sooji mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia hampir merasa tak percaya bahwa Myungsoo baru saja mengajaknya berkencan. Hei, kencan?!

“O-oh, baiklah,” balas Sooji setelah beberapa saat.

 

-o0o-

 

Myungsoo tidak tahu apa yang merasukinya sehingga ia berani mengajak Sooji untuk berkencan. Tunggu, ia bahkan tidak sadar ini adalah kencan! Yang ia pikirkan saat itu hanyalah ia harus mengajak Sooji ke suatu tempat untuk bicara malam itu. Ia hanya merasa bahwa ia perlu bicara pada Sooji malam itu, juga untuk meminta maaf karena telah merepotkan gadis itu kemarin malam. Lagipula, banyak orang bilang suasana malam di pulau Nami sangat indah. Ia juga tak mau melewatkan hal tersebut. Terlebih, ia tak mau melewatkannya seorang diri.

Malamnya, pukul 7 kurang, Myungsoo telah berada di depan penginapan dengan setelan rapi dan tebal. Tampaknya ia benar-benar serius dengan acara kencan dadakannya ini mengingat ia yang tak terlalu menuntutketepatan waktu kini datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Myungsoo tak suka menunggu, tapi kali ini, akan jadi pengecualiannya khusus. Karena pertama; suasana hatinya sedang bagus, dan kedua; ia sedang menunggu Bae Sooji—meskipun entah mengapa alasan kedua tampak begitu ganjil.

Pukul 7 lebih 10 menit, dengan sedikit tergesa, Sooji berjalan cepat menghampiri Myungsoo yang telah menunggunya di depan penginapan. Ia berdiri di samping pria itu sambil menstabilkan napasnya yang memburu karena pergi terburu-buru dan karena ia tengah menghadapi Kim Myungsoo, juga kencan pertamanya.

“Apa kau sudah lama menunggu?” tanya Sooji sebagai pemecah keheningan begitu bertemu dengan Myungsoo.

Myungsoo menoleh ke arah Sooji lalu melirik jam tangannya. “Kau terlambat 10 menit.” Ujarnya pendek.

“Ma-maaf, aku tak bermaksud terlambat, tadi ada sesuatu—“

“Sudahlah, tak apa,” potong Myungsoo. Pria itu tersenyum manis sembari menatap lurus ke manik Sooji. “Bagaimana kalau kita mulai sekarang? Selagi kita memiliki banyak waktu sebelum jam 10.”

“Begitu? Baiklah,” Ujar Sooji pendek.

Myungsoo mengernyitkan kening begitu mendengar jawaban pendek Sooji. Ia kemudian berkacak pinggang sambil menatap gadis itu. “Ya, bisakah kau tak canggung begitu padaku? Tidak bisakah kau seperti dulu sebelum kita bertengkar? Setelah kita bertengkar kemarin rasanya ada yang berubah,” protesnya.

“Benarkah? Tapi kau juga begitu padaku!” Sooji balas menuduh.

Wajah Myungsoo yang mengeras akhirnya melunak. Ia baru saja tertangkap basah dan ia tak bisa menyangkalnya bahwa ia memang berlaku canggung pada gadis itu akhir-akhir ini.Bodoh, rutuknya. Kapan sebenarnya seorang Kim Myungsoo bisa mengalahkan seorang Bae Sooji dalam berdebat?

“Baiklah, aku mengaku!” ujar Myungsoo cepat diikuti desahan keras yang menimbulkan gumpalan uap putih di depan wajahnya. “Aku hanya merasa malu karena kemarin malam aku tak berdaya dan kau membantuku mengerjakan segalanya. Itu saja. Maafkan aku karena telah merepotkanmu.”

Sooji yang melihat permohonan maaf dari Myungsoo, terdiam sesaat lalu tiba-tiba tertawa. Membuat Myungsoo mengernyitkan kening dan menatapnya tajam, merasa tak mengerti. Apakah apa yang barusan ia katakan mengandung unsur humor sehingga gadis itu tertawa?

“Kenapa kau tertawa?” tanya Myungsoo sedikit tersinggung.

“Ah, maaf. Hanya saja, kau tak perlu merasa tidak enak berlebihan seperti itu,” ujar Sooji. “Aku melakukannya dengan sukarela. Suka membantu adalah nama tengahku, kau tahu? Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Jika kau tak mampu, jangan memaksakan diri. Sekali-kali menerima bantuan orang lain tidak ada salahnya, bukan?Bahkan, aku siap membantumu lagi jika kali ini kau kembali tumbang.Well, kau kan secara ‘resmi’ sudah menjadi… ehm… tunanganku.”

Myungsoo terdiam mendengar penjelasan gadis itu. Ia kemudian tersenyum simpul ketika mendengar Sooji mengucapkan kata ‘tunanganku’ sembari mengalihkan pandangan dan berdeham. Bahkan, jika Myungsoo tak salah lihat, pipi gadis itu sempat merona.

Ya, kita jadi berjalan-jalan, tidak? Hari sudah semakin larut! Kajja! Tempat mana yang kau ingin kunjungi terlebih dahulu?” seru Sooji cepat, tak ingin berlarut-larut dalam suasana canggung yang kembali muncul diantara mereka.

 

-o0o-

 

Sooji hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar dan lihat ketika Myungsoo mengajaknya kencan beberapa jam yang lalu. Saat itu ia tak bisa berpikir banyak, sehingga ketika Myungsoo menanyakan kesediaannya, gadis itu langsung mengiyakannya. Ketika pria itu pergi dan ia menutup pintu kamarnya, Sooji sempat terdiam di belakang pintu untuk sekedar menenangkan diri agar tidak berteriak saat itu juga.Karena sungguh, rasanya sangat, sangat, sangat menyenangkan menerima sebuah ajakan kencan dari orang yang telah lama kau sukai—ya, Sooji pasti berbohong jika ia berkata ia tidak menyukai Myungsoo lagi. Apalagi, beberapa hari yang lalu, selalu dirinya yang berinisiatif dan bergerak agresif terhadap Myungsoo sementara pria itu malah bersikap apatis.

Apakah pada akhirnya kerja keras dan pengharapannya akan benar-benar terwujud sekarang?

Sooji menggenggam cappucino panas di gelas kertasnya dengan kedua tangan untuk menghangatkan diri. Ia dan Myungsoo baru saja dari kafe terdekat untuk membeli sesuatu yang hangat karena Myungsoo berkata ia tak akan mampu bertahan tanpa sesuatu yang hangat di tangannya. Sooji dapat memaklumi hal tersebut, karena saat pria itu kecil dulu, ia pun selalu seperti ini.

Ah… akhirnya ada sesuatu yang hangat,” ujar Myungsoo setelah meneguk cappucino-nya.

Sooji ikut meneguk cappucino-nya dan merasakan cairan kecoklatan itu menuruni tenggorokannya dan menghangatkan perutnya. Benar-benar minuman yang cocok diminum di musim dingin.

“Katanya pulau Nami terlihat paling indah saat musim dingin karena salju-salju akan menutupi pepohonan di sepanjang jalanan ini dan membuatnya berwarna putih. Sayang sekali salju belum turun.” Komentar Myungsoo sambil menatap sekelilingnya. Suasana remang-remang yang berasal dari lampu-lampu taman di sekitar jalan setapak tersebut tak menghalangi mereka menikmati pepohonan gundul—yang tampak eksotis berkat penerangan lampu-lampu taman—yang mengelilingi mereka. Hanya saja, memang sangat disayangkan salju belum turun hingga saat ini. Karena bisa dipastikan, putihnya salju yang menutupi jalan setapak ini pasti akan menambah efek eksotis yang sudah tercipta.

“Tapi seharusnya salju pertama sudah turun beberapa hari yang lalu,” ujar Sooji.

“Benarkah?Mungkin salju pertama akan turun sedikit lebih terlambat sekarang. Kau tahu, global warming.”

Sooji mengangguk setuju. Ia mengedarkan pandangannya lalu beberapa saat kemudian ia menoleh menatap Myungsoo yang berjalan di sampingnya. “Myungsoo-ya, aku selalu penasaran. Bagaimana kehidupanmu di Amerika?”

Myungsoo melirik Sooji di sampingnya lalu kembali meminum cappucino-nya sebelum akhirnya menjawab, “Sepertinya kau lupa, bahwa aku hanya ingat 6 tahun kehidupanku di sana. Aku mengalami kecelakaan saat umurku 19, kau ingat?”

Ara, aku hanya ingin tahu bagaimana kehidupanmu setelah tiba-tiba kau tidak lagi menghubungiku. Aku ingin tahu apa yang kulewatkan selama itu.”

“Apakah dulu aku sering menghubungimu?” tanya Myungsoo.

Sooji mengangguk. “Hampir setiap hari kau menggangguku dengan teleponmu, kau tahu?”

“A-ah…,” Myungsoo mengangguk-anggukan kepalanya lalu ia mengangkat sebelah tangannya untuk menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Well, kau tahu, saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku sempat berpikir, ‘jika aku bertemu denganmu lebih awal, pasti aku sudah jatuh cinta padamu.’ Karena kuakui kau itu… ehm… menarik. Tapi kemudian, ketika kau mulai bersikap seolah-olah mengenalku dan memaksaku untuk mengenalmu, aku merasa kau sangat menyebalkan.”

“Aku tahu. Terima kasih, kau menunjukkannya dengan sangat jelas waktu itu,” ujar Sooji setengah mencibir.

“Baiklah, maafkan aku. Itu karena dulu, aku benci sekali jika seseorang memintaku mengingat sesuatu yang tak bisa aku ingat. Aku juga mempunyai seorang teman di Amerika yang sangat berambisi membuatku mengingat masa laluku, dan aku tidak pernah mengerti apa motifnya.” Myungsoo terdiam sesaat. Tiba-tiba ia teringat Soojung. Ah, ia lupa. Sudah dua minggu ia tidak menghubunginya. Dan sudah dua minggu pula gadis itu tak lagi menghubunginya. Ia tak tahu apakah Soojung marah padanya di Amerika sana, namun, mau tak mau ia juga merasa bersalah. Ia hanya berharap Soojung tidak marah padanya. Karena jika gadis itu marah, ia bisa saja melakukan sebuah hal nekat, contohnya: menyusulnya ke sini.

“Yah… kalau kupikir-pikir, tak ada salahnya bersikap seperti itu. Jika aku jadi kau, aku juga pasti akan bersikap seperti itu.” Sooji berkomentar.

Myungsoo tersadar dari lamunannya kemudian berdeham. “Sebenarnya aku selalu mengikuti terapi di Amerika sana, namun itu tak pernah berhasil. Terapi malah membuatku trauma karena aku hanya mengingat kenangan-kenangan buruk dan rasa sakit yang tak terkira. Karena itu aku membencinya. Aku memutuskan untuk menyerah karena aku berpikir aku tak akan bertemu dengan masa laluku lagi, tapi aku salah.” Myungsoo menghentikan langkahnya, lalu bergerak menghadap Sooji.

Menyadari Myungsoo menghentikan langkahnya, Sooji pun ikut menghentikan langkahnya dan menghadap Myungsoo. Kepala Sooji sedikit menengadah menatap Myungsoo yang lebih tinggi darinya tersebut dan menyadari pandangan Myungsoo terhadapnya melembut. Ada sesuatu pada tatapan Myungsoo yang tak bisa ia artikan.

“Lalu aku bertemu denganmu.” Lanjut Myungsoo dengan suara pelan dan dalam, seolah ia hanya ingin mereka berdua yang mendengarnya. Sooji bisa merasakan jantungnya kembali berdegup kencang mendengarnya. “Meskipun awalnya aku merasa kau sedikit menyebalkan, namun akhir-akhir ini ada sebuah perasaan baru yang muncul. Perasaan yang mendorongku untuk mengingat masa laluku. Mengingatmu. Sepertinya aku ingin mengenalmu lebih jauh.”

 

-o0o-

 

Sore hari di Los Angeles, USA.

Seorang gadis bertubuh ramping, berambut panjang, dengan wajah sedikit angkuh tengah duduk di sebuah meja di kafe yang terletak di pusat kota Los Angeles sembari mengangkat cangkir tehnya untuk kemudian dihirupnya dengan gerakan anggun. Kacamata hitam yang membingkai kedua matanya juga mantel dan tas bermerek yang dibawanya menambah kesan mewah pada dirinya, sekaligus menandakan bahwa gadis itu bukanlah gadis biasa. Tentu saja, tak mungkin gadis dengan postur tubuh dan wajah secantik itu dibiarkan berkeliaran dan terbebas dari mata jeli para produser. Setidaknya, gadis itu pasti pernah ditawari sesuatu—entah model atau aktris—dan tampaknya gadis itu telah memilih salah satunya.

Setelah gadis itu meletakkan kembali cangkir tehnya di atas meja, tiba-tiba seorang gadis berambut pirang duduk di hadapannya.

I’m sorry i’m late. You know, traffic jam is everywhere! It’s driving me crazy!(Maaf aku terlambat. Kau tahu, kemacetan terjadi di mana-mana! Aku bisa gila!) keluh gadis itu sambil mengekspresikan kekesalannya dengan gerakan tubuh dan ekspresi wajahnya. Setelah puas mengekspresikan kekesalannya, ia memanggil seorang pelayan untuk memesan minuman.

Gadis yang duduk di hadapan gadis pirang tadi hanya tersenyum—well, ketika gadis ini tersenyum, image angkuh yang semula melekat padanya bisa dipastikan runtuh seketika itu juga. Karena sungguh, senyumnya sangat manis!

It’s okay, Brenda. Just take your time. (Tidak apa-apa, Brenda. Nikmati saja waktumu.) komentar gadis itu.

Gadis berambut pirang bernama Brenda itu menarik napas panjang kemudian segera meminum teh dietnya begitu teh tersebut tiba lalu mulai berbicara, “So, you really going back to Korea, huh? (Jadi, kau benar-benar akan pergi ke Korea, huh?)

Gadis itu mengangguk. “I have something to do. Someone need to be punished for what he did to me!(Ada sesuatu yang harus kulakukan. Ada seseorang yang harus dihukum atas apa yang ia lakukan padaku!) ujarnya berapi-api.

So, it’s all about Myungsoo all over again?(Jadi, lagi-lagi ini tentang Myungsoo?)

“Yeah,” gumam gadis itu pelan.

But what if he already going out with another girl there? You say Korea is his hometown, right? Something might happen. It’s already his second months!(Tapi bagaimana jika ia telah berpacaran dengan gadis lain di sana? Kau bilang Korea adalah kampung halamannya, bukan? Sesuatu bisa saja terjadi. Lagipula ini sudah bulan keduanya di sana!)

Dalam hati, gadis itu mengamini apa yang dikatakan Brenda, namun hatinya tak mau terima apa yang baru saja diasumsikan. Ia percaya Myungsoo masih memiliki perasaan terhadapnya dan saat ini, ia siap menjawab perasaan Myungsoo tersebut. Karena itulah ia merasa ia harus pergi ke Korea.

That’s not gonna happen. Just hand me the ticket,(Itu tidak akan terjadi. Serahkan saja tiketku,) pinta gadis itu sambil mengulurkan tangannya.

Brenda mendesah lalu merogoh tas tangannya dan mengeluarkan selembar tiket pesawat. “You know i have to cancel my date just to bring you the ticket. You should repay me later!(Kau tahu, aku harus membatalkan kencanku hanya untuk memberikanmu tiket ini. Kau harus membayarku nanti!)

Gadis itu tersenyum begitu menerima tiket pesawat tersebut di tangannya. “Sure, i will pay you back. Just call me if you want anything,(Tentu, aku akan membayarmu. Katakan saja padaku jika kau ingin sesuatu.)

Brenda tersenyum lebar. “Make sure you remember your promise, Krystal.(Pastikan kau mengingat janjimu, Krystal.)

Gadis itu mengangkat wajahnya mendengar namanya disebut. Ia kemudian tersenyum. “You had my promise.(Kau bisa memegang janjiku.)

 

-o0o-

 

9 PM at Nami Island, South Korea.

Sungyeol baru saja keluar dari kamar mandi setelah ia berendam dengan air hangat untuk menghilangkan rasa lelah yang melingkupinya berkat kerja kerasnya berpose di tengah cuaca dingin selama lebih dari 10 jam. Namun, beruntungnya ia adalah seorang aktor yang pandai berakting. Ia selalu berusaha terlihat seceria mungkin di luar meskipun sesungguhnya ia merasa sangat lelah. Hanya ketika ia sendiri sajalah ia bisa menjadi diri sendiri dan melepaskan kepenatannya.

Setelah berganti pakaian dengan pakaian tidur yang cukup hangat, Sungyeol pun beringsut menuju tempat tidurnya. Ia berniat untuk tidur beberapa belas menit sebelum ia harus kembali mengendarai kapal dan kembali ke Seoul. Baru saja ia hendak membaringkan tubuhnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring dari nakas di samping tempat tidurnya. Setelah mengumpat beberapa kali, Sungyeol pun mengurungkan niatnya untuk berbaring dan mengambil ponselnya lalu tanpa melihat siapa yang menelepon, ia langsung menempelkan ponselnya di telinga.

“Ada apa?” tanyanya ketus.

“Sungyeol oppa!” suara seorang gadis tampak menyapanya dari sebrang.

Sungyeol mengernyitkan kening karena merasa familiar dengan suara yang baru saja menyapa telinganya namun ia yakin orang tersebut hampir mustahil menghubunginya di saat-saat seperti ini setelah lama tak bertemu. Untuk meyakinkan diri, ia menjauhkan ponselnya dan melirik nama kontak yang muncul di layar ponselnya. Setelah melihatnya, mata pria itu terbelalak. Ia kembali menempelkan ponselnya ke telinga.

“Krystal?” tanyanya tak yakin.

“Eoh, ini aku.” Sungyeol dapat merasakan tubuhnya seolah segar kembali begitu mendengar suara gadis itu.

“A-apa yang membuatmu meneleponku? Maksudku… kita sudah lama sekali tidak saling berkomunikasi… apa ada sesuatu yang penting?” tanya Sungyeol.

“Hm, sangat, sangat penting!”

“Apa itu?”

“Aku akan kembali ke Korea, dan sampai di sana 3 hari lagi sekitar jam 8 pagi. Kau mau menjemputku di bandara, kan? Karena jujur saja. Lama tak ke Korea membuatku buta. Aku hampir tidak ingat lagi nama-nama jalan di sana.”

Sungyeol terpaku sesaat. Meskipun begitu, dalam hati, ia merasa senang juga. Krystal adalah partner modelnya 2 tahun lalu, untuk pemotretan sebuah galeri fashion. Kemudian mereka kembali dipertemukan di fashion show di Paris, Perancis tahun kemarin. Jujur, Sungyeol sempat terpikat pada Krystal—mungkin masih hingga saat ini—dan mendapatkan sebuah telepon dari gadis itu saja membuatnya seolah terbang ke angkasa. Kini, gadis itu memintanya menjemputnya? Tanpa diminta pun Sungyeol akan dengan senang hati mengajukan diri.

“Tentu saja! Aku akan menjemputmu! Berapa lama kau akan tinggal?” Sungyeol tampak bersemangat menjawab permintaan Krystal.

Baguslah! Terima kasih banyak! Mungkin sebulan? Dua bulan? Aku belum merencanakannya. Ah, dan aku akan tinggal di apartemen kakakku yang kosong di Gangnam. Di sana juga ada seseorang yang kukenal.”

“Begitu. Baiklah, aku bisa menjemputmu sebelum jadwalku dimulai.”

“Terima kasih banyak, oppa, aku berhutang banyak padamu.”

“Tidak usah repot-repot, Krystal. Ah… apa boleh kupanggil saja dengan nama aslimu?”

“Mengingat aku akan ke Korea dan akan lebih mudah jika orang memanggilku dengan nama asliku… boleh saja.”

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa nanti, Soojung-ah,”

Ne,Sampai jumpa!”

 

-o0o-

 

Malam semakin larut dan kini, mereka telah berada di pinggir danau. Menatap gelapnya air danau dibalik kilaunya lampu-lampu taman. Mereka terdiam sesaat menikmati pemandangan danau dalam keheningan. Masing-masing telah menghabiskan cappucino mereka di perjalanan mereka ke sana, sehingga saat ini mereka tak lagi memegang apa pun. Sooji memilih menggosok-gosok kedua tangannya untuk menghangatkan tangannya yang membeku sementara Myungsoo memilih memasukkan kedua telapak tangannya ke saku mantelnya untuk menghangatkannya—meskipun menurutnya percuma.

Ada satu hal yang terus berubah setelah pengakuan Myungsoo di jalan setapak beberapa saat yang lalu. Bukan hanya terjadi pada mereka, namun pada alam. Suhu di luar sepertinya terus merosot tajam tak terkendali. Dan itu hampir membuat Myungsoo menggigil di balik mantelnya.

“Oh, salju!” seru Sooji tiba-tiba.

Myungsoo melebarkan matanya. “Apa?”

“Salju, Myungsoo-ya! Salju pertama!” sekali lagi Sooji berteriak kesenangan sambil menengadahkan tangannya. Dan benar saja, sebutir salju mendarat dengan mulus di tengah telapak tangannya dan segera mencair. Tak lama setelah itu, butiran salju lainnya menyusul menghujani mereka. Membuat langit yang asalnya berwarna hitam sedikit berwarna dengan titik-titik putih dari langit.

Myungsoo juga ikut larut dalam kebahagiaan Sooji tentang munculnya salju pertama. Ini adalah pertama kalinya ia melihat salju pertama seumur hidupnya. Bahkan di Amerika pun, ia tak pernah tahu kapan salju pertama kali turun. Tiba-tiba saja ketika keesokan paginya, yang ia lihat adalah halaman rumahnya yang berwarna putih karena tertutup salju.

Di tengah euforia tersebut, Sooji merapatkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya sebatas dada sambil memejamkan mata dan mengucapkan sesuatu. Myungsoo yang menyadari perubahan sikap Sooji hanya mampu menatap Sooji bingung. Beberapa saat kemudian, Sooji kembali membuka mata sembari tersenyum.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Myungsoo.

Sooji melirik Myungsoo sekilas lalu kembali menengadah menatap salju. “Berdoa. Kau tahu, katanya, ketika kau melihat salju pertama dan berdoa, maka doamu akan terkabul.”

“Benarkah?”

Sooji menganggukkan kepalanya bersemangat.

Myungsoo mendecakkan lidahnya lalu bergumam, “Kenapa wanita selalu mempercayai mitos semacam itu?”

“Bukan hanya itu! ada lagi!” seru Sooji, masih bersemangat. “Katanya, jika ada sepasang pria dan wanita yang melihat salju pertama bersama-sama, maka mereka akan bersama selamanya…,”ujarnya sambil menatap Myungsoo yang balik menatapnya kemudian ia terdiam.

Untuk beberapa waktu, mereka tenggelam dalam tatapan masing-masing. Sooji seolah terkunci pada mata tajam Myungsoo dan anehnya, ia menyukainya. Ia menyukai sorot lembut yang menguar dari mata tajam pria itu. Dan ia yakin, ia tak akan pernah bosan menatap mata pria itu.

Sebaliknya, Myungsoo pun entah mengapa seolah terkunci dan dirinyabaru sadar bahwa ia menyukai cara Sooji menatapnya dengan mata besarnya. Mata Sooji memancarkan sorot innocent yang membuat Myungsoo ingin mengerahkan tenaganya untuk melindungi sorot itu agar tetap di sana. Dan ia juga yakin, ia tak akan pernah bosan menatap mata gadis itu.

Setelah puas menatap mata masing-masing, Myungsoo tiba-tiba tersenyum kecil.Tangannya terulur dan menarik sebelah tangan Sooji untuk mengaitkan jemari masing-masing dan merasakan betapa tangan mereka terasa pas satu sama lain. Dan saat tangan mereka menyatu, entah mengapa mereka merasa mendapatkan kehangatan yang selama ini mereka cari.

“Aku…,” Myungsoo mulai angkat bicara. “Sepertinya tidak keberatan jika harus bersama denganmu selamanya.”

 

TO BE CONTINUED

 

Hai Haloooooo~~~ masih ingat sama aku ga nih? wkwkwk =)))

Maaf banget aku baru kembali setelah beberapa bulan._. karena jujur aja setelah UN kemarin aku sebenernya udah bebas banget tapi laptop aku bermasalah dan file RM ada di sanaaa!!! Tapi sekarang karena aku bisa menyelamatkan hardisk-ku, jadi aku akan mulai posting ff ini lagi ya! Masih ada yang nunggu-nunggu-kah?;)

Anyway, makasih buat yang masih nungguin :’) dan aku minta maaf sebesar-besarnya kalau aku lama banget ngeposting ini 😦

Advertisements

58 responses

  1. huaaa….. akhirnya myung bisa so sweett jg.. kekeke…
    jiahhh krystal kembali.. apa sooji akan baik-baik saja y???

    June 17, 2015 at 6:06 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s