KIM MYUNGSOO FANFICTION

[CHAPTERED] A WEIRDOS BOY CHAP 8

awb8

 

Author : Meongnamji  | Length : Chaptered [TEASER] [CHAP 1] [CHAP 2] [CHAP 3] | [CHAP 4] [ CHAP 5 ] [CHAP 6] [ CHAP 7]| Genre : School life romance, fiction, fantasy | Main Cast : Kim Myungsoo INFINITE, Lee Jieun [IU] | Minor Cast : Sungyeol, Sunggyu and the rest of INFINITE members, others. | Poster : GDesign (Meongnamji)

 

PART 8

“ngomong-ngomong, kita mau kemana?”Tanya Jieun sambil memasang sabuk pengamannya. Myungsoo hanya meletakkan secarik kertas di hadapan Jieun tanpa bicara, lalu memasang sabuk pengamannya sendiri.

“kesini?”Tanya Jieun, ia meletakkan kertas itu kembali. Jujur saja, meskipun ia sudah diberitahu, ia masih tetap tak tahu dimana alamat itu. tapi Jieun harap perjalanan ini akan memakan waktu cukup lama. Jangan permasalahkan si Myungsoo itu untuk sekarang, ia bisa mengabaikannya.

Myungsoo menyalakan mobilnya dan mulai melaju. Dan ia mulai berpikir, kenapa ia mengijinkan bocah satu ini ikut dengannya? Akan lebih mudah menyuruhnya bicara dengan Sungjong seharian untuk menghindari pulang ke rumah, tapi Myungsoo malah memilih opsi yang sulit, maksudnya, menyulitkan dirinya sendiri. Oke, baiklah – pikirnya. Abaikan saja bocah satu ini, antarkan dengan cepat, dan pulang. Setelah itu, terserah dia sendiri, toh ini bukan masalahnya.

Perjalanan itu berlangsung hening. Tanpa Jieun ketahui, perjalanan ini memang memakan waktu yang lama, dan untuk pertama kalinya Myungsoo dan Jieun yang sama-sama menyukai keheningan merasa risih dengan keheningan ini.

Jieun berpikir keras, basa-basi apa yang harus ia lontarkan. Sesekali ia melirik ke arah namja itu, tapi rasanya akan kedengaran terlalu bersahabat jika ia bertanya ini itu, seolah ia temannya saja. Dan dipikir-pikir, bukankah sekarang kastanya lebih rendah daripada si congkak ini? Memang seharusnya ia diam saja. Lagipula, untuk apa mereka bicara dan apa manfaatnya? Lebih baik selesaikan tugasnya dengan cepat agar bisa segera terlepas dari namja ini. Jieun terus berpikir, sibuk sendiri dengan pikiran dan sangkaannya sendiri.

Tapi akhirnya, suaranya meluncur begitu saja, bertanya; “Apa kau selalu dapat posisi pertama setiap ujian?”

Myungsoo menatapnya sejenak, merasa bersyukur bukan ia yang mengawali untuk memecahkan keheningan ini.

“ya.”jawabnya singkat.”meskipun aku sudah menjalaninya beratus kali, aku tak pernah main-main.”

“woow.”

“apanya yang wow?”

“ternyata manusia memang tak pernah puas.”ucap Jieun datar, dan tak sadar itu membuat Myungsoo tergangggu.

“tak pernah puas?”Tanya Myungsoo, dingin.

“manusia selalu saja menginginkan lebih, meskipun aku mengerti akhirnya kau adalah orang yang sangat ambisius, tapi rasanya kau adalah contoh yang sempurna untuk kalimatku tadi. Aku pikir, mungkin kau akan merasa cukup setelah hidup begitu lama tapi nyatanya..”

Jieun terus bicara, tanpa sadar sekarang ia membuat Myungsoo bukan hanya terganggu, tapi juga marah. Ia dengan mendadak mengerem mobilnya, membuat perkataan Jieun terpotong dengan jeritannya sendiri.

“ya! apa kau gila?”Tanya Jieun, masih kaget. Myungsoo menatapnya tajam, dan itu adalah tatapan paling tajam yang pernah Jieun lihat. Perasaan merindingnya kembali, dan ia baru memberitahu dirinya lagi bahwa ia takkan pernah bisa bersahabat dengan Myungsoo.

“aku, tak pernah puas?”Tanya Myungsoo, ia menggeram marah.”kau pikir, aku menginginkan hidup selama ini? Kau pikir aku tak pernah puas hingga menginginkan hidup selamanya? Jika bisa, aku ingin mengakhiri hidupku enam ratus tahun lalu!!”Myungsoo berteriak marah.

Jieun terkesiap. Ia menciut di depannya, ia sama sekali tidak bermaksud menyinggung Myungsoo, apa yang ada di pikirannya saat mengucapkan kalimat itu adalah kakak dan ibunya, tapi kelihatannya menjadikan Myungsoo sebagai contoh untuk kalimat tadi adalah kesalahan terbesarnya. Bukan hanya membuat Myungsoo marah, tapi juga terluka. Ya, Jieun bisa melihat luka di kilatan matanya dengan jelas….

Myungsoo yang masih mengatur nafasnya mendesis.”sial.”umpatnya, mati-matian mencoba mengatur lagi amarahnya. Jieun masih membisu, tak tahu harus berkata apa. Myungsoo menarik nafas dalam-dalam, setelah yakin emosinya mereda, ia menyalakan lagi mobilnya.

“jangan ungkit hal itu lagi didepanku.”gumam Myungsoo, membuat Jieun merinding di cuaca yang mulai memanas. Kata-katanya membuatnya membeku. Dan membuat mobil itu seperti di daerah kutub sepanjang sisa perjalanan.

 

Mereka sampai di sebuah pemukiman sederhana yang tak jauh dari pantai dan laut. Begitu sampai, tanpa bicara sama sekali Myungsoo keluar dan mengambil pesanan, lalu pergi tanpa mengajak Jieun sama sekali. Amarahnya sudah reda, tapi ketika melihat wajah gadis itu lagi, emosinya seperti mau meledak lagi. Jadi, untuk pelajaran bagi Jieun – pikir Myungsoo – ia akan mendiamkannya dan membiarkannya sendirian di mobil sementara ia mengantar makanan. Jieun hanya terdiam melihat kepergiannya, ia tak punya keberanian untuk mengikutinya, dan menatap punggung yang semakin menjauh itu dengan perasaan bersalah yang semakin menyiksanya.

 

“kamsahamnida..”Myungsoo menggumam terimakasih setelah mengambil uang bayaran. Ia memberi bow darisana, dan ia dengan cukup jelas bisa mendengar suara debur ombak laut. Ia tersenyum simpul, ternyata suara alam itu bisa membuat hatinya ringan dan kembali lapang. Setelah dipikir kembali, ia merasa sedikit bersalah meninggalkan Jieun begitu saja. Bukankah gadis itu ingin ikut dengannya untuk menghindari kesedihan dari ibu dan kakaknya? Dan sekarang ia malah menambahkan kesedihan itu.

Myungsoo berjalan sambil memikirkan cara untuk menghibur Jieun dengan cara yang biasa agar anak itu setidaknya tidak ketakutan padanya, dan ia terhenti begitu melihat anak-anak keluar dari sebuah toko sambil menggenggam eskrim stik. Myungsoo menatap toko itu, menimang-nimang, dan akhirnya masuk ke dalamnya.

 

Myungsoo menggengam dua eskrim stik itu dengan kewalahan, ia berjalan cepat agar eskrim itu tidak meleleh di perjalanan. Ia merasa konyol sendiri, tapi ini adalah cara yang jitu untuk symbol perdamaian. Di cuaca yang panas seperti ini, siapa yang akan menolak eskrim dingin ini? Myungsoo dengan yakin Jieun akan kembali menyebalkan seperti wataknya.

“J….”langkahnya terhenti ketika sampai di depan mobilnya, mobilnya yang kosong. Myungsoo sekarang berlari ke arah mobil itu, dan ia juga tak menemukan Jieun di jok belakang. Ia menjatuhkan eskrimnya, merogoh ponselnya buru-buru. Ia menelepon Jieun, dan suara dari dalam mobil lah yang menjawabnya. Myungsoo menengok ke dalam mobil, dan menemukan tas kecil Jieun. Ia tak membawa ponsel maupun dompetnya, ia meninggalkannya di mobil.

“sial.”umpat Myungsoo, ia mengedarkan pandangannya, sedetik kemudian ia sadar, ini bukanlah Seoul lagi. Dan seorang Lee Jieun yang hanya tahu belajar telah berkeliaran di daerah ini tanpa membawa dompet dan ponselnya, dan semua itu adalah karena dirinya.

Myungsoo mengacak-acak rambutnya sendiri dan mulai berlari, entah kemana. Yang pasti, ia harus menemukan anak itu sesegera mungkin.

“ahjussi, permisi, maaf apakah Anda melihat seorang yeoja usia 18 tahunan, rambutnya hitam panjang dan ia memakai hoodie biru tua. Apa Anda melihatnya?”

“maaf, apa anda melihat seorang yeoja memakai hoodie hitam dengan rambut panjang? Tidak?”

“permisi sebentar, maaf menganggu, apa anda melihat yeoja melewati daerah ini? Yang memakai hoodie hitam, rambutnya hitam panjang…”

“apa kalian melihat seorang nuna, memakai hoodie hitam, berjalan kemari? Tidak? Ah.. oke, maaf menganggu kalian, silahkan main lagi!”

Myungsoo menghela nafas berat. Ia sudah menanyai banyak orang, mulai dari ahjussi-ahjussi yang sedari tadi nongkrong dan hanya mengobrol, pada orang-orang di jalanan, pada ibu-ibu yang sedang menggosip, hingga pada anak-anak yang bermain bola. Perasaan bersalah makin lama makin menguasainya, dan ia bersumpah takkan pernah memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada anak itu.

Myungsoo mengelap keringatnya dan berlari lagi. Ia harus menemukannya, harus.

 

Ia sudah mencari terlalu jauh sekarang. Apakah ia harus menghubungi INFINITE dan meminta bantuan mereka? Tidak. Ia pasti sudah dicincang duluan oleh Sunggyu sebelum sempat mencari Jieun jika ia memberitahu anak itu hilang karenanya. Myungsoo mengatur nafasnya, merasa lelah dengan semua pencarian ini, dan dengan gontai ia berjalan ke dekat pagar pembatas, menatap pantai di bawahnya yang membentang luas. Ia menatap ombak, dan ia melihat seorang gadis disana juga, sedang duduk…

Hey, itu kelihatan seperti Jieun. Myungsoo memperhatikannya, dan setelah diperhatikan, apalagi setelah melihat hoodie hitam yang tergeletak di sampingnya, ia yakin bahwa itu Jieun. Dengan cepat ia berlari ke pantai, ke arah gadis itu, dan begitu sampai, itu memang benar-benar dia.

“Ya! memangnya kau bisa seenaknya pergi begitu saja, apalagi tanpa membawa ponselmu! Kau tak tahu seberapa…”kalimat marah-marah Myungsoo terhenti ditengah jalan, ia terengah-engah sendiri, dan ia kaget ketika mendengar suara isak tangis. Hey, hey. Ia juga membuatnya menangis? Myungsoo mengacak-acak rambutnya sendiri. Tapi bagaimanapun, ia merasa lega menemukannya dalam keadaan baik-baik saja. Diam-diam, ia berjalan mendekat dan duduk disampingnya. Jieun masih menangis, membenamkan kepalanya sendiri ke kedua lututnya yang ditekuk.

Myungsoo menunggu dan duduk disampingnya tanpa mengatakan apapun hampir sepuluh menit lamanya. Tangis Jieun kini sudah tak terdengar lagi, gadis itu perlahan menegakkan kepalanya, menghapus airmatanya, sesekali masih terisak.

“mianhae.” Tiba-tiba Jieun berkata dengan serak.”mianhae.”ia ulangi itu lagi. Myungsoo menatapnya kaget.

“aku tahu aku kurang ajar. Meskipun kau menyebalkan, harusnya aku memikirkan perasaanmu juga. Mianhae.”

“ya kau tidak kelihatan seperti Lee Jieun.”ucap Myungsoo bingung.

Jieun menatap Myungsoo, dengan hidung kecilnya yang berubah merah dan matanya yang sembap. Myungsoo tak tahu seberapa banyak ia menangis.”memangnya Lee Jieun seperti apa?”tanyanya, tersenyum getir.”Lee Jieun. Kasar, sok tahu, sombong, keras kepala dan maniak belajar. Itulah Lee Jieun, benarkan?”

Myungsoo tak tahu harus berkata apa. Mungkin beginilah perasaan Jieun tadi saat ia sedang membentaknya.

“Lee Jieun memang seperti itu, tapi juga tidak seperti itu.”ujarnya mendesah berat. Myungsoo masih diam membisu, perkataan Jieun hanyalah disambut debur ombak.

“ia bukan sok tahu, tapi memang tak tahu apa-apa….” Lagi-lagi Myungsoo tak menjawab. Ia hanya diam mendengarkan.

Jieun memeluk lututnya, merasa kedinginan di tengah terik matahari. Entah kenapa ia mengatakan semua hal ini di depan orang yang sama sekali tak ada hubungannya, tapi karena perkataannya tadi yang membuat Myungsoo marah, entah kenapa ia ingin sekali memberitahukan hal yang selama ini membebani hatinya.“aku hanya tak tahu apa-apa. Aku hanya ingin Ibu melihat ke arahku, itu saja. Tapi hal yang simple itu tak bisa kuwujudkan selama bertahun-tahun, dan malah membuatku seperti ini.”

“kau tahu Myungsoo, aku rasa aku bisa cukup puas jika Ibu menatapku. Hanya menatapku, melupakan semua kesenangan yang ia dapat dari keluarga barunya. Aku rasanya tak menginginkan hal lain, itu alasan kenapa aku belajar begitu keras meskipun sekarang aku tahu semua itu hanya sia-sia. Maafkan perkataan kurang ajarku tadi, bisakah? Aku tahu aku kelewatan. Hanya saja aku… tak seharusnya aku jadikan kau pelarian, dan mengungkit masalah pribadimu. Mianhae.”

Entah berapa kali Lee Jieun yang keras kepala ini meminta maaf padanya. Tidak, mungkin Lee Jieun memang tidak keras kepala. Ia memang kelihatan tegar, tapi kesedihan di raut wajahnya itu terpancar dengan jelas.

Dan dengan mengejutkan Myungsoo bisa melihat refleksinya sendiri dari kedua matanya, merefleksikan dirinya di enam ratus tahun silam, atau bahkan yang sekarang.

“keluargaku juga alasanku kenapa aku begitu ambisius, seperti yang kau bilang.”ucap Myungsoo tiba-tiba. Jieun menatapnya kaget sekaligus heran.

Myungsoo mendesah, tak yakin menceritakan masa lalunya, dan membicarakan masa lalu bagi INFINITE adalah hal yang paling sensitive, terutama bagi dirinya. Tapi tahu-tahu saja mulutnya sudah melanjutkan ceritanya,

“dulu keluargaku adalah keluarga bangsawan. Kakakku adalah orang yang serba bisa, ia dipuji bahkan semenjak ia terlahir ke dunia, dan semua keluargaku membanggakannya, dan aku yang lahir dengan biasa saja, tak ada sesuatu yang special pada diriku langsung menjadi kasatmata. Aku tumbuh dengan perasaan iri.”

Jieun menatap Myungsoo kini, ia berhenti menatap laut yang membentang luas di depannya, dan ia bahkan sudah menulikan dirinya dari suara debur ombak dan mendengarkan dengan seksama cerita Myungsoo.

“jika kakakku tumbuh dengan prestasi dan pujian, maka aku tumbuh dengan segudang masalah dan cacian.”

“aku tumbuh memberontak, menimbulkan banyak masalah untuk mencari perhatian, tapi Ayahku malah menganggapku jadi aib keluarga, tak mau menganggapku sebagai anaknya lagi, juga tak mau lagi menemuiku. Ibuku masih membelaku meskipun aku tahu ia begitu kecewa padaku. Rasanya, tatapan matanya yang kecewa itu masih jelas di kepalaku.”

“suatu saat kakakku lulus dari akademi. Ia kemudian menjadi pejabat Negara paling muda, dan Ayah sebagai menteri begitu bangga padanya. Bisa dibilang nama keluarga kami pun jadi harum karena kakak. Ayah mengadakan pesta besar-besaran, dan aku yang begitu marah saat itu menghancurkan pesta itu. aku mempermalukan Ayah di depan banyak pejabat lainnya. Saat itu Ayah begitu marah, dan ia mencaciku, bilang tak ada gunanya mencari perhatian seperti ini, dan memarahiku harusnya aku belajar dengan benar seperti kakakku. Aku hanya menganggap itu omong kosong, pergi ke kamarku dengan amarah yang membuncah-buncah, dan aku tetap di kamarku selama tiga hari penuh.”

“di hari kedua ibuku datang dan bicara dengan lembut diluar kamarku. Bisa kubilang itulah alasanku di keesokan harinya mencuri semua buku dan gulungan kertas milik kakak dan membawanya semua ke kamarku. Aku mengunci kamarku, mempelajari itu semua dengan rasa benci, dan setelah itu aku tak menemui siapapun sepulang dari akademi. Aku pulang ke kamarku dan belajar. Aku bahkan pergi ke perpustakaan dan menghabiskan berjam-jam waktuku disana. Tubuhku semakin kurus, tapi aku tak peduli. dan semua itu berhasil, Aku harus membuat ayahku berhenti memakiku.”

“akhir tahun datang dan aku mendapat peringkat pertama di akademi. Aku pulang dengan tergesa-gesa ke rumahku, tapi Ayah sama sekali tak bangga mendengar hal ini. Maka dari itu aku belajar lagi, bahkan lebih ekstrem. Aku bahkan tidur di tumpukan buku, karena hampir tak ada ruang lagi untuk kasur.”

Myungsoo tertawa getir mengingat itu. rasanya, semua kejadian enam ratus tahun silam itu masih sejelas kejadian di hari kemarin.

“tahun keduaku di akademi, aku mendapatkan berbagai penghargaan. Aku jadi juara umum seluruh akademi elit itu, tapi begitu aku pulang ke rumah, apa yang Ayah siapkan adalah pesta untuk merayakan naik pangkatnya kakak. Aku? Sama seperti nasibku begitu dilahirkan. Kasatmata.”

“barulah aku menyadari sejak saat itu. takdirku memang seperti itu, kasatmata. Entah sampai seberapa pintarnya aku, Ayah takkan pernah melihatku. Baru kuketahui belakangan, Ibu juga menerima perlakuan yang sama. dan baru aku tahu penyebab dari itu semua, aku adalah anak Ibu. Dan Ibu adalah istri simpanan Ayah, sedangkan istrinya yang melahirkan kakakku telah meninggal. Itu juga jadi alasan kenapa kakak tak pernah mau menganggapku ada, tak hormat pada Ibu, dan hanya ingin makan semeja dengan Ayah. Alasan mengapa aku diperlakukan berbeda oleh seluruh keluargaku bahkan sejak kelahiranku. Kau tahu persis bagaimana status seorang istri simpanan. Tak ada harganya.”

“aku rasanya ingin tertawa, sampai sekarang pun aku masih ingin tertawa. Ayah telah mempermainkan hidupku, atau aku yang memang begitu bodoh masuk dalam permainannya? Sejak saat itu rasanya hidupku tak ada artinya lagi. Semua penghargaan itu malah jadi semacam penghinaan. Mereka seharusnya tak mungkin memberi penghargaan pada sampah, kan?”

Jieun terisak, Myungsoo tak tahu kenapa, dan tahu-tahu saja anak itu menggenggam tangannya. “Jadi setelah kejadian itu aku menyadari, harusnya aku hidup bebas dan sendiri, aku harusnya bisa bahagia tanpa orang-orang yang awalnya kusebut keluarga, yang sekarang lebih seperti Tuan rumah menampung budaknya. Aku pergi dari sana, Jieun. Mencari hidupku sendiri. Mencari kebahagiaanku sendiri. Dan disinilah aku sekarang.”

Jieun masih menatapnya dengan mata berair. Genggaman tangannya semakin erat. Myungsoo masih tak tahu kenapa, tapi ia tak mau melepaskan genggaman tangan itu. ia membiarkannya.

“jadi Jieun, kau harus mencari kebahagiaanmu sendiri. Berhenti hidup untuk orang lain.”Myungsoo mengakhiri ceritanya, merasa lega melewatkan salah satu hal yang paling sensitive dari cerita masa lalunya, dan merasa lebih lega ketika Jieun tidak bertanya kelanjutan hidupnya.

“apa kau bahagia sekarang, Myungsoo?”Tanya Jieun. Myungsoo terhenyak, ia tak tahu. Ia hendak menjawab, namun malah tergagap sendiri. Apakah ia sudah bahagia?

“a..aku pernah bahagia sekali, dulu. Tapi entahlah. Apa yang ada dipikiranku sekarang ini hanyalah aku ingin pergi secepat mungkin. Rasanya terlalu melelahkan.”

Jieun menatap Myungsoo nanar dengan matanya yang bulat itu, matanya yang berair, Myungsoo menatap itu dan bayangan-bayangan masa lalunya berkelebatan di pikirannya. Senyum gadis itu terbayang kembali, bahkan tawanya yang merdu, seolah ia dengar dengan jelas seperti gadis itu ada di hadapannya. Myungsoo memalingkan mukanya. Tidak, ia tidak mau mengingat itu semua. Terlalu menyakitkan. Dan ia sudah seharusnya mengubur memori itu dalam-dalam, tak pernah boleh menguaknya lagi.

“ayo kita pergi.”ajak Myungsoo, beranjak dari sana. Jieun menghapus airmatanya, dan tersenyum menghibur diri.”setidaknya aku tidak sendiri. Tapi lucu juga, ternyata nasib sepertiku sudah terjadi sejak Jaman Jeoson.”ia tertawa kecil.

Myungsoo tertawa.”Ternyata kejadian di Jaman Jeoson masih terjadi di jaman modern ini.”

Keduanya tertawa.

“ayo, pergi main.”ajak Myungsoo setelah reda tawa mereka.

“main?”Tanya Jieun bingung sambil memungut hoodienya.”ya, main. Ujian sebentar lagi, otak kita harus segar.”Myungsoo berkata asal.”ku traktir.”tambah Myungsoo, dan Jieun berjingkrak-jingkrak sendiri di tempatnya.

Baiklah, hanya untuk hari ini, mari lupakan semua orang dan berbahagialah untuk dirimu sendiri, Lee Jieun.

**

Myungsoo mengajaknya pergi ke Amusement Park. Ini kedua kalinya bagi Jieun, dan pergi ke sini memanggil semua memorinya dengan mendiang ayahnya. Ia tersenyum dan mulai mencoba semua wahana, ia berteriak kencang dan tertawa, merasa bebas untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

“kau tak mual, Lee Jieun?”Tanya Myungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya.”tidak! ayo coba lagi yang lain. Ayo ayo ayo!”dengan semangat Jieun mengambil langkah memimpin, mencoba permainan ekstrem lainnya. Saat pertama kali mencoba dulu, Myungsoo muntah-muntah dan gadis ini malah sebaliknya. Setelah permainan berakhir, semangatnya malah semakin memuncak dan mencoba lagi yang lainnya. Ternyata, badan kecilnya itu hanya tipuan saja. Myungsoo menggeleng-geleng lagi ketika Jieun duluan naik ke roller coaster yang lebih menantang.

Myungsoo menyerah dan hanya duduk menunggunya, dan sementara Jieun berteriak-teriak diatas sana ia pergi membeli eskrim.

“nih.”Myungsoo memberikan salah satu eskrim ditangannya begitu Jieun selesai bermain.

“wow, gomawo.”sedetik kemudian Jieun sudah ada di dunianya sendiri dengan eskrimnya. Hari semakin sore, dan mereka bisa melihat awan berubah oranye, suatu pemandangan favorit Jieun.

“cantik ya?”tanyanya, duduk di sebuah kursi menghadap ke pemandangan Seoul di sore hari, dan Myungsoo yang duduk di sampingnya mengangguk saja mengiyakan.

“aku memikirkan kata-katamu lho.”ujar Jieun.”aku akan mencari kebahagiaanku sendiri. Tapi nanti, karena aku tak tahu apa. Sudah kubilang,kan. Aku tak tahu apa-apa. Selama ini aku hanya tahu belajar. Aku bahkan tak tahu apa hobiku. Jadi untuk sekarang ini, aku hanya akan focus masuk kelas special, baru nanti kupikirkan.”

“ck. Ternyata kau memang maniak belajar.”tanggap Myungsoo berdecak.

“sudah kubilang, aku hanya tahu belajar, ish.”desis Jieun, mencibir Myungsoo dan kembali menjilat eskrimnya. Myungsoo hanya mendengus dan kembali menatap pemandangan kota di hadapannya, hatinya selalu saja berdecak pada perubahan Seoul. Ia terkadang merindukan ladang luas tempat ia dan INFINITE selalu berkuda, atau hutan lebat dimana ia dan rekannya itu pergi berburu. Hobi lama yang sudah tak bisa dilakukannya lagi. Tapi terkadang di saat seperti ini, ia ingin menghentikan waktu. Ia selalu saja ingin menghentikkan waktu disaat merasa bahagia dan nyaman. Ia tersenyum.

Tapi, tunggu. Bahagia dan nyaman, apa maksudnya tadi?

Ia menatap Jieun disampingnya yang hampir selesai dengan eskrimnya. Tidak, pastilah bukan dia penyebabnya. Mungkin karena pemandangan ini memang benar-benar bagus.

“ayo pulang. Baru kusadar Sunggyu hyung pasti marah besar.”

**

Dan Sunggyu memang marah besar. Ia mengomel tentang betapa banyaknya pengunjung siang tadi dan Myungsoo malah pergi keluyuran. Dan ia semakin marah ketika menemukan tiket masuk ke Amusement Park.

“ya, kalian bahkan tidak memikirkan kami yang kebosanan setengah mati, keterlaluan…”Hoya berdecak-decak, dan Dongwoo yang disebelahnya ikut berdecak sebal.

“Jieuni! Kenapa tidak mengajakku? Padahal aku senang sekali naik bianglala…”Sungjong merengut kecewa.

“Sudah! Pokoknya kau harus membayar waktu bolosmu ini nanti! Aku tak mau tahu!”Sunggyu mengomel lagi.

“Maafkan dia sekali ini saja, ya? aku yang memintanya, kami pulang melewati amusement park dan aku tiba-tiba saja ingin pergi kesana setelah sekian lama. Jadi ini salahku, Oppa.”Jieun memelas, ia tidak memakai aegyo apapun karena ia memang tidak tahu bagaimana melakukannya, dan ia hanya menyebut Oppa karena Sunggyu memang lebih tua darinya (secara umur samaran mereka sekarang)

Sunggyu cukup terkejut mendengar Jieun memanggilnya oppa. Ia berdehem kikuk, dan menyumpahi sikap noraknya sendiri.”em.. Baiklah, oke. Lain kali jangan lakukan itu lagi.”Sunggyu berkata pelan, jauh berbeda dengan omelannya yang melengking begitu mereka baru datang.

“sudahlah ayo ke atas.”ajak Myungsoo yang daritadi telinganya panas diomeli.

“eh, aku kan harus pulang.”

“oke kalau begitu tunggu di mobil. Aku antar.”ujar Myungsoo dan pergi tanpa sempat mendengar persetujuan Jieun.

“Whoa whoa. Benar juga, ada yang aneh di sini. Kalian baru saja berbaikan?”Tanya Woohyun, kaget ketika Myungsoo menawarkan dirinya sendiri mengantar Jieun pulang.

“eh, entahlah.”jawab Jieun, ia sendiri pun tak tahu.

“kalian juga pergi ke Amusement Park bersama. Whoaaaaaaaaaaaaa, ada apa nih?”Tanya Sungyeol menggoda.

“aish, ia hanya membayar hutangnya, itu saja!”jawab Jieun asal. Ada apasih dengan mereka semua?

Untungnya semua itu tak berlangsung lama, Myungsoo turun dari atas dan berdecak ketika menemukan Jieun masih mematung ditempat yang sama saat ia tinggalkan tadi.

“sudah kubilang tunggu di mobil. Sudahlah, ayo.”

Jieun mengangguk dengan cibiran, ia memberikan salam perpisahan singkat pada INFINITE dan pergi keluar mengikuti Myungsoo dari belakang.

“Myungsoo kata mereka semua kita sudah berbaikan.”Jieun mengumumkan begitu mereka ada di tengah perjalanan.

“Jangan lupa, kau ini budakku.”

Jieun berdecak. Myungsoo yang berbaik hati membelikannya eskrim tadi sudah hilang. Ini Myungsoo yang biasa.

“baik Doryeonnim. Al-ge-sseum-ni-da.”Jieun sengaja menyebutkannya dengan penuh penekanan dan sok imut. Myungsoo mengerling dan mencibirnya sekaligus.

Sisa perjalanan itu mereka habiskan untuk membahas sekolah, dan tak terasa mereka sampai di depan rumah Jieun.”Tunggu.”tahan Myungsoo begitu Jieun hendak keluar dari mobil.

“ini.”Myungsoo memberikan buku berwarna biru pastel itu lengkap dengan kalung yang tersangkut dibuku itu. mata Jieun terbelalak begitu melihat buku itu, ia dengan cepat menariknya.

“ini, bagaimana bisa ada di tanganmu?”Tanya Jieun, jelas sedang menahan dirinya sendiri untuk tidak membentak Myungsoo.

“terjatuh di mobil kemarin.”

“kau membacanya?”Tanya Jieun, berharap tidak. Tapi jawaban nya malah berbeda.

“Ya. salah kau sendiri tidak ada kunci disana. Dan ketika aku mau mengembalikannya, tampaknya kau sedang ada masalah dengan ibumu. Jadi aku pulang membawa buku ini. Lagipula, kita impas.”

“Impas apanya!?! Kau membaca buku orang sembarangan!”pekik Jieun marah.

“aku tahu sedikit masa lalumu dari buku itu, dan kau tahu sedikit masa laluku dari ceritaku tadi. Masa lalu itu adalah hal yang sama-sama paling kita ingin hindari untuk bicarakan. Aku membaca buku itu, dan aku memberikanmu balasannya. Sekarang jangan marah. Bukankah kau bilang kita sudah berbaikan?”

Jieun terdiam di jok mobil itu untuk kedua kalinya hari ini. Ia masih memeluk buku biru itu erat. Tulisan di dalamnya terlalu pribadi, dan ia tak senang siapapun membacanya. Tapi ia tak bisa marah lagi. Seolah Myungsoo menyembur air pada kepalanya yang sedari tadi berapi-api.

“baiklah.”ujar Jieun akhirnya, lagipula ia terlalu lelah untuk berkelahi. Hari sudah gelap, dan ia ingin segera pergi mandi dan tidur. Oh tidak, ia harus belajar.

“gomawo, untuk hari ini.”ujar Jieun.”aku juga, gomawo.”ucap Myungsoo, dan Jieun yang tak mengharapkan itu datang dari mulut Myungsoo sendiri merasa kaget sendiri.”dan maaf. Aku memang tidak sopan membaca buku orang.”akhirnya si Myungsoo itu mengakui kesalahannya.

Jieun tersenyum simpul.”diterima.”ujarnya dan keluar dari mobil. Tapi, Myungsoo malah memanggilnya lagi.

“apa?”

“jangan lupa bekalku besok. Dan cari buku itu, kau budakku.”

Jieun menjitak kepalanya.”cerewet! demi keselamatan jiwaku aku pasti cari buku itu. dan bekal, bekal apa?!”

“sialan, kau baru saja menyakiti majikanmu! Pokoknya, bawakan bekal itu ke kelas! awas kalau tidak. Waktumu pasti kupersulit!”ancam Myungsoo, tapi bedanya kali ini Jieun sama sekali tak takut.

“dasar gila.”umpatnya.”Sudah pulang sana!”

Myungsoo tetap bicara soal bekal meskipun mobilnya sudah melaju. Jieun hanya bisa meleletkan lidahnya pada tuannya yang punya empat sisi yang berbeda itu. Jieun terus memperhatikan mobil itu sampai hilang di tikungan, lalu berdiri mematung disana.

Ia mendesah dan berjalan masuk ke rumahnya, tapi sesuatu melayang dari keluar dari bukunya.”eo?” Jieun memungut secarik kertas note berwarna kuning itu, dan disana tertulis tulisan hangul yang ketinggalan jaman.

 

Jika bukan untuk Ibumu, maka lakukanlah untuk Ayahmu, pasti dia bangga melihatmu di surga sana. Atau setidaknya, lakukan untuk dirimu sendiri jika kau memang benar-benar menyukai belajar.

 

Jieun tersenyum, senyuman lebar. Meskipun tak ada nama di note itu, ia tahu persis siapa yang menulisnya. Jieun kembali menyelipkan kertas note itu, dan bergumam sendiri sambil masuk ke rumahnya.

“dasar gila.”

TBC

 



 

 

Hiyaa akhirnya sedikit rahasia ttg Myungsoo terbongkar /yiha/

Btw akhirnya chap ini khusus untuk MyungU moment. Hope you like it muehehehhe

 

And thank you so much for my lovely readers who still love to read my fict. So much love for ya guys!!!!!!!!!!

 

[[ and btw, if you like to read another IU’s fanfict, would you like my new fanfict? It’s IU x Baekhyun 🙂 ]]

click here to read ß-

 

 

 

 

31 responses

  1. uwwwaaaaa! cinta banget sama kakak yang satu ini >< ! cepet banget updatenyaa, ceritanya bagus banget lagi, sampek nggak tau mau comment kayak gimana lagi.
    ternyata masa lalunya myungsoo juga sama kayak masa sekarangnya jieun, wah cocok banget tuh, bisa saling melengkapi satu sama lain wkwkwk xD
    oh iya, aku visit wp pribadinya ya kak.
    untuk ff ini, pokoknya daebak banget. serasa kayak nonton dramkor(?) update soon ya 🙂 fighting!

    April 25, 2014 at 2:54 pm

    • hoho iya jadi mereka kurang lebih senasib/?
      huwaaaaaaa awas nanti tersesat kesana//apa
      iyaaaaaaaaaaa pengennya ff ini jadiin dramkor sekalian biar myungu moment nya real huwaaa too excited even when i’m just imagining about it xD it’ll be legit if it’s trueee hohoho. anw thanks banget udah mau bacaaaaaaa <33

      May 1, 2014 at 6:30 pm

      • Iya iyaaa! Kalo jadi dramkor pasti bakalan seru tuh. Apa lagi yg main myungu, pasti keren banget kaan! Aku juga jadi excited, wkwkwk xD
        Sama sama 😀

        May 2, 2014 at 2:03 am

  2. Ninda13

    nice story 😉
    next~
    keep writing and fighting!

    April 27, 2014 at 12:06 am

    • thankyou ❤
      thanks bgt udh mau baca hehe <333

      May 1, 2014 at 6:17 pm

  3. asdfghjkl xd cepet juga nih updatenya thor :3 yeay!

    “Senyum gadis itu
    terbayang kembali, bahkan tawanya
    yang merdu, seolah ia dengar
    dengan jelas seperti gadis itu ada di
    hadapannya. Myungsoo memalingkan
    mukanya. Tidak, ia tidak mau
    mengingat itu semua. Terlalu
    menyakitkan. Dan ia sudah
    seharusnya mengubur memori itu
    dalam-dalam, tak pernah boleh
    menguaknya lagi” INI APA THOR MAKSUDNYAAA???? Penasaran sumpah!

    Well aku masih penasaran apa myungsoo dan member lainnya itu dulunya manusia biasa atau udh jadi infinite? Kalo mereka manusia biasa, gimana bisa jadi infinite kaya gitu? #plak!

    and please thor, kata kata myung yg bilang dia mau segera mengakhiri hidupnya itu apa berhubungan sama buku yg mereka cari2? Arghhh jebal jom, happy ending thor kekeke

    Lanjutkan!
    Well, thor mungkin karena ini sangat seru masih kelihatan pendek buatku -,- #pletak reader maruk dasar! LOL~

    Tebar kisseu :3

    April 28, 2014 at 6:24 pm

    • wkwk niat bangeet sampe ditulis disitu wkwk. nanti pokoknya masa lalu myungsoo bakal terkuak habis! //apabanget sih bahasanya
      dulunya mereka manusia biasa dan karena ‘sesuatu’ jadi infinite di chap2 selanjutnya pasti bakal ada hohoo
      happy ending ga ya?????wkkwk 😀
      wah wah harus lebih panjang lagi dong next part wkwk thanks banget yaaa udah mau bacaaaa<33

      May 1, 2014 at 6:17 pm

      • Harus happy ending pokoknya gamautau #plakkk haha

        May 5, 2014 at 3:15 am

  4. 😀 asikk udah dilanjut aja 😀

    suka banget mereka walaupun kayak gitu tapi romantis :3 haha

    ternyata masa lalu myungsoo lebih parah -,- wkwk

    walaupun si myungsoo gk cheesy, tapi kelihatan romantis gitu. :3 wkwk

    ditunggu next partnya 😀

    April 28, 2014 at 10:33 pm

    • iya haha semangat nulisnya kebetulan lagi menggebu-gebu/?
      thanks banget udah mau baca yaaa<3333

      May 1, 2014 at 6:15 pm

  5. daebak thor ,, suka suka bahasanya mudah dipahami (?) hehe
    lanjutkan … !

    April 29, 2014 at 3:29 pm

    • hehe thanks ya udh mau baca, ok i will 😀

      May 1, 2014 at 6:14 pm

  6. BaeLyrii (@_tazkiaslsbl)

    AAA Kakaaaaak nggak kusangka kakak update cepat sekali >o< whoaaa puas kuadrat bacanya, Kakak.

    Hmm… awalnya, aku bingung kenapa kok Myungsoo marah waktu Jieun bicarain soal 'manusia yang tidak pernah puas'. Dan ternyata, emang bukan kemauman Myungsoo sendiri dia hidup dengan umur yang panjaaang banget.

    Hoho.. Myungsoo khawatir banget ya waktu Jieun pergi dari mobil. Dan soal masa lalu, sumpah, Kak, itu bikin terenyuh. Belajar belajar dan belajar. Jujur *meski nggak ada yang nanya* aku dulunya maniak belajar *dulu* supaya seenggaknya, aku bisa dianggep di lingkungan temen-temenku *duh curhat* kurang lebih sama kaya MyungU, tapi sekarang.. ya, belajar kalau emang mood lagi dateng XD

    Dan… oh my God itu Sunggyu jadi luluh gegara Jieun yang minta XD Sungjong juga ngerajuk tuh nggak diajak main XD

    And last, aku nangis, Kak, baca note Myungsoo di buku Jieun. Menyentuh sekali!

    Oke, kakak. Seperti biasanya, aku cuma bisa bilang fighting, and keep writing buat kakak! Semangat~

    April 30, 2014 at 11:35 am

    • kuadrat berapa dek?wkwk
      haha iya nanti di chap selanjutnya bakal terungkap kok kenapa bisa jd infinite dan gimana wkwk
      iya meskipun si myungsoo wataknya kurang ajar(?) tp sbnernya dia gentleman(?) //apasih
      huaaaa dek dulu dan sekarang aku juga gitu. biar dianggap belajar meskipun sekarang belajarnya bolong2 kalo cuma ada angin rajin//malah curhat panjang oke skip

      iya sunggyu kan kalo masih ga suka ntar jd repot/? wkwk ntar deh aku ajak sungjong main tp harus sekalian ajak myungsoo 😀 /apasi
      beneran kamu nangis dek? huweee //lempar tisu
      makasih bangeeet dek, beneran ke motivasi deh ini asli hohoho thanks thanks //throw bunch of loves

      May 1, 2014 at 6:10 pm

  7. Hai meongnamji, aku panggilnya apa nih? Namaku viye 97l, aku juga nulis ff MyungU loh hehehehe. Sorry ya cuma drop comment di bberapa chap ;p baru buka lagi setelah dulu prnah komen di chap awal kalau ga salah haha x)

    Aku penasaran tuh sama yg memori2 myungsoo, feelingku gadis yg di bayangan myungsoo itu jieun yg dulu yah? Haha yg ceritanya pas hidup 600 th lalu semacem reinkarnasi gitu kali ya, lol
    Btw, aku nikmatin alurnya
    Masalah typo n eyd gausah aku komen lah yaa yang penting ff MyungU ♡~♡ hahaha
    Btw kalau berkenan, coba baca ff MyungU ku juga yah xD

    MyungU shipper all the hail~~~~~♡

    May 3, 2014 at 4:13 pm

  8. Aidah

    Makin cinta sama ffnya authorrr ><
    Cepet lanjut thorr gk sabar nunggu 😉

    May 4, 2014 at 7:57 am

  9. Wiwid Widya Astuti

    Bagus banget , dtggu kisah selanjutnya semoga cepat kelar:Dhehe

    May 4, 2014 at 8:28 am

  10. jennifer

    baek U boleh juga min!! tp selesain ff ini dulu. ^^
    ceritanya keren banget……. >< gk sabar nunggu kelanjutanya. tolong jangan lama2 ya min, karena itu menyiksaaa bikin penasaran akut… ^^

    May 4, 2014 at 10:17 am

  11. cly

    lanjut thor,, KEReN..

    May 9, 2014 at 11:25 am

  12. Wahh mulai deket nih iu ma Myungsoo, ditunggu kelanjutannya 🙂

    May 9, 2014 at 1:39 pm

  13. anna uaena

    aku baca dulu cuman teaser sama chapter 1, kayaknya udah dulu bgt, ceritanya seru bgt… abis itu aku cek terus apa ff ini udah ada lanjutannya,,, tp naasnya nggak nemu… dan baru nemu akhir2 ini. itu juga dari link di fb…. keke,,, mungkin usaha aku aja yg belum maksimal buat nemuin ff ini…

    sumpah, suka bgt sama ceritanya, alurnya, gaya bahasanya, cast-nya og course…. dan sangat sangat penasarannnn…. penasaran akut….

    pliisss update really soon authornim… dan plisss buat happy ending ya,,, plissss…

    and last,,,, FIGHTING!!! and Keep Writing great story’s…. aku padamu dah.. udah ah,,, basi bgt komen gw…kekeek…

    May 10, 2014 at 10:57 pm

  14. cly

    THOR chapter 9 nya udah keluar belum?

    May 14, 2014 at 11:30 pm

  15. Thorrrr chapter 9 thorr *nangis bareng myung dipojok kamar
    Hiks udh lumutan thor ini hahaha :3

    June 30, 2014 at 7:29 am

  16. with_frd09

    mian baru komen pas di part ini >< aku suka ceritanya juga karena aku emang suka pairing IU Infinite ditunggu part/chapter selanjutnya author. fighting~

    July 26, 2014 at 12:01 pm

  17. Mana nih thorrrr >< udah ga sabarr wuluuuhh XD
    Fighting! ^o^)/

    July 31, 2014 at 2:43 pm

  18. nunui

    Annyeong thor..
    Aku reader baru..
    Maaf baru coment di chap ini..
    Ini penasaran ama lanjutannya myung ama iu…
    Dilanjut yah thor

    August 4, 2014 at 5:31 am

  19. Kmsel

    Ini ff mana lanjutannya ? Uda nunggu lama banget =_=

    September 14, 2014 at 9:22 am

  20. deyo

    annyeong thor,, aku reader baru, dan baru aja suka sama myungU couple hehe
    ffnya author daebak banget!!! ^0^
    lanjut thot, chapter 9

    October 31, 2014 at 2:25 am

  21. halo thor, aku readers baru di blog ini dan aku jadi suka sama MyungU >,<
    sumpah demi apa ini ff keren abis, btw aku komennya paling ujung :' chap 9 udah ada belum?
    someone tolong jawab pertanyaan aku ya

    November 22, 2014 at 8:58 am

  22. Reyna93

    thor.kpan kelanjutN-A?kok lama amat ea.aku nunggunya udah lma.hehe.tiap saat aku buka ini blog hanya buat nyari kelanjutan ini ff#lebay.bneran deh.al-a aku penasaran bget ama kisah myungU.apa gal d lnjutin lgi ea thor?:-(:'(

    December 12, 2014 at 3:32 pm

  23. Pingback: [CHAPTERED] A WEIRDOS BOY CHAP 9 | Kimmy World

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s