KIM MYUNGSOO FANFICTION

[CHAPTERED] A WEIRDOS BOY CHAP 7

awb7

Author : Meongnamji  [@chanerds]| Length : Chaptered [TEASER] [CHAP 1] [CHAP 2] [CHAP 3] | [CHAP 4] [ CHAP 5 ] [CHAP 6] | Genre : School life romance, fiction, fantasy | Main Cast : Kim Myungsoo INFINITE, Lee Jieun [IU] | Minor Cast : Sungyeol, Sunggyu and the rest of INFINITE members, others. | Poster : GDesign (Meongnamji)

A/N : Hai again—v maaf banget udah ngilang berbulan2 ga updateee. Sebenernya ada rencana mau hiatus / berenti nulis, tapi pas baca lagi folder ini kemarin jadi pengen ngelanjutin dan yeah, inilah diaaaa. Buat yang udah nunggu maafkan lama banget nunggunya sampe jamuran, but I still hope you’ll like this update and keep continuing loving this story ^_^ sebagai tanda permintaan maaf/? Khusus di chap ini aku buat lebiiiih panjang karena dua chap disatuin jadi satu, moga suka yaa hehe><

 

PART 7

Restoran sup samkyetang itu bergaya kuno dan klasik, meski begitu Jieun menyukainya karena begitu masuk ke dalam restoran yang ternyata cukup luas itu langsung menimbulkan kesan nyaman dan tenang. Dan ia tidak tahu, restoran ini ramai sesak dipadati oleh pengunjung. Padahal ketika sampai, melihat restoran ini dari depan, kelihatan begitu tidak meyakinkan. Jieun jadi makin penasaran dengan rasa samkyetang disini.

“Hyung, apa yang lain sudah datang? Belum? Kalau begitu porsi biasa ditambah satu yap! Antarkan ke atas!” Sungyeol setengah berteriak pada pekerja dibalik kasir, pekerja yang sudah mengenali Sungyeol dan anak-anak lain sebagai pelanggan tetapnya mengangguk mengerti.

“ayo ke atas.” Sungyeol membiarkan Jieun melangkah duluan. Jieun ragu-ragu untuk melangkah dan sikap baik Sungyeol yang mendadak hari ini membuatnya kikuk dan tak tahu harus bagaimana bertindak. Melihat Jieun yang diam saja Myungsoo berdecak sebal. “minggir.” Ujarnya dingin dan berjalan duluan menaiki anak tangga.

“ya- ish.” Jieun mencoba menjaga sikapnya. Ia tidak bisa marah saat ini, tidak saat orang yang membuatnya , kesal itu akan mentraktirnya semangkuk samkyetang hangat. Maka ia menarik nafas dalam-dalam, mengatur emosinya.

“ayo.”Sungyeol masih bersikeras mempersilahkan Jieun naik duluan, malah sekarang diiringi dengan senyum. Jieun tersenyum balik dengan kaku, kemudian naik. Begitu sampai di lantai ketiga seperti yang dimaksud Sungyeol, ia menghela nafas lega karena tak ada satupun pengunjung disana. Di atas hanyalah ada satu meja besar dan panjang dengan tujuh kursi, lalu di sisi lain ruangan ada tiga pintu yang Jieun tak tahu apa fungsi ruangan itu. Di seberang meja, ia menemukan sofa-sofa panjang dan karpet, juga tv berlayar lebar dan playstation. Ia juga memperhatikan bingkai jendela, yang dimana berjejer dengan rapi dalam pot-pot kecil yang ditanami tanaman kaktus berbagai jenis.

“oh, ya, tunggu sebentar.” Sungyeol pergi menghilang, masuk ke dalam salah satu pintu, kemudian keluar lagi membawa sebuah kursi.

“nah, duduklah Jieun-a.”suruh Sungyeol ramah, dan Jieun merasa curiga ketika Sungyeol membawa kursi plastik berwarna merah mencolok itu, berbeda dengan semua kursi yang ada di ruangan itu. semuanya kursi berwarna putih.

Entah apa maksudnya, tapi Jieun merasa buruk harus duduk disana. Disana ada tujuh kursi, dan kenapa Sungyeol harus membawa lagi kursi – kursi merah yang Jieun rasa punya maksud tersembunyi – padahal mereka makan hanya bertiga.

“ya Hyung, wajahmu kusut sekali.”

Jieun berbalik dan mendapati seorang namja dengan mata sipit dan rambut acak-acakan baru saja keluar dari salah satu pintu. seketika, tatapan mereka bertemu. Dan langsung saja, namja itu melemparkan tatapan tak senang pada Jieun.

“ya Hyung, berhenti menatapnya seperti itu. Ia memang budak Myungsoo, tapi ia temanku sekarang. Aku yang mengajaknya makan bersama. Lagipula, ia masih bersedia datang kemari setelah tahu apa kita sebenarnya. Hal ini sangat jarang terjadi, Hyung.” Sungyeol menjelaskan panjang lebar.

Sunggyu masih merengut seperti hamster.”Kau jadi mirip Sungjong.”ia mengeluh.

“Hyung, ayolah.”Sungyeol memohon. Sunggyu akhirnya menyerah, meski masih belum bisa beramah tamah pada Jieun. Jieun mencoba ramah, tersenyum kikuk, tapi pernyataan Sungyeol tadi masih membuatnya kaget – sekaligus terharu, kalau boleh ia menambahkan.

Sungyeol, menganggapnya teman? Whoa. Beruntung saja ia kesini sebagai teman Sungyeol, bukan sebagai budak Myungsoo. Ia merasa sedikit terhibur setelah memikirkan itu.

“Jieun, duduklah.”suruh Sungyeol lagi. Ia kemudian kembali teringat kursi itu, yang membuat kecurigaannya masih meningkat. Meski begitu, ia menurut dan duduk, meski dalam hati ia masih siaga dan waswas, siapa tahu dengan kursi ini ia akan jadi korban ritual, atau hal semacamnya, yang penting ia tak boleh lengah. Ia tak boleh percaya pada Sungyeol yang kian ramah, apalagi pada namja mata sipit yang tak ramah itu, dan tak perlu kau Tanya apa ia boleh percaya pada Myungsoo atau tidak.

Tak lama ia duduk, terdengar suara orang-orang naik tangga. Jieun merasa takut, karena pikiran buruknya yang tak bisa ia kendalikan, ia berbalik dan mengawasi tangga itu, hingga muncullah empat anak dalam seragam berbeda.

“eo, Noona!” Jieun langsung tahu bahwa itu Sungjong. Dan hatinya mendadak lega bahwa itu hanyalah saudara-saudara Myungsoo yang kemarin, dan ia lega karena ada Sungjong yang dari awal begitu ramah padanya.

“kau akan makan dengan kami? Whoaaaaaa!”ia tampak kegirangan. Dengan buru-buru ia duduk disamping Jieun, seolah tak ingin ada orang lain yang mendahuluinya. “Noona, kau harus datang kemari dan makan dengan kami setiap sore!”

“Annyeong Jieun-ssi.”ketiga dari mereka bergantian saling menyapanya ramah, lalu duduk. Dan sekarang, bangku itu terisi penuh. Sekarang Jieun bisa sedikit mengerti kenapa Sungyeol membawakan kursi untuknya, meski masih tak mengerti kenapa harus berbeda warna, dan terlebih, berwarna merah menyala.

“Senang sekali kau ada disini!”Dongwoo berseru jujur. Jieun tersenyum berterimakasih.

“Sunggyu hyung! Kalau begini caranya aku ingin pindah sekolah!”Sungjong tiba-tiba merengek.

“Ya, kau senang saja menggunakan uangku dan bersekolah, sementara aku disini pusing memikirkan semua bisnis ini!”Sunggyu bicara kesal. Jieun jadi tahu dua hal, bahwa namja bermata sipit itu ternyata bernama Sunggyu, dan mungkin alasan dibalik wajahnya yang merengut daritadi adalah karena pusing memikirkan bisnis ini.

“ayolah Hyung. Kau yang paling baik menjalankan bisnis ini bahkan dari Jaman Jeoson.”Hoya memuji, membuat wajah Sunggyu sedikit merileks.

Jieun agak asing mendengar kata Jaman Jeoson yang mereka ucapkan seolah itu adalah masa-masa sekolah dasar mereka, menyebutkannya dengan nada mengenang, dan Jieun kemudian sadar bahwa sang maknae saja sudah menjalani hidup selama 500 tahun.

Dan Jieun mendadak membayangkan mereka beratus tahun lalu di Jaman Jeoson, memakai hanbok dan berkumpul seperti ini. Agaknya ini agak sinting, tapi Jieun bagaimanapun harus mulai terbiasa dengan hal ini. Ia mendesah pelan.

Untung saja imajinasi Jieun tentang Jaman Jeoson berhenti disana juga, karena tiga pelayan datang dengan membawa nampan berisi mangkuk-mangkuk samkyetang yang masih berasap. Jieun menahan airliurnya dan mencoba bersikap wajar, meskipun wangi samkyetang itu membuatnya ngiler setengah mati.

Mangkuk-mangkuk itu disebar, dan kini sudah ada satu mangkuk samkyetang di hadapannya.

“Jal mokgegesseumnida!”seru Sunggyu memulai. Yang lainnya kemudian mengikuti, begitu juga Jieun. Dan semuanya mulai makan dengan bahagia – mungkin ungkapan ini khusus untuk Jieun.

**

Perutnya kenyang sekarang. Dan ia juga suka teh herbal yang disediakan disini, dan selain itu, harus ia akui, SUP NYA BENAR-BENAR ENAK. Mungkin, inilah sup paling enak yang pernah dicicipinya. Dan jujur saja, Jieun menahan keinginannya mati-matian untuk tidak meminta menambah porsinya. Ayolah, ia sedang ditraktir disini, oleh orang yang bisa dibilang musuhnya, dan ia minta tambah? Bagaimana dengan image nya nanti.

Sungjong yang disebelahnya menerangkan dengan senang hati tanpa diminta selama Jieun makan bahwa restoran ini milik Sunggyu sejak satu abad lalu, dan dengan rutin Sunggyu mengganti pegawainya agar tidak dicurigai. Dan resep ini telah bertahan selama satu abad, tak pernah berubah, maka dari itu rasanya bisa sangat enak. Jieun mengangguk mengerti, dan merasa ajaib bahwa ia sekarang ini memakan samkyetang yang telah berusia satu abad lamanya.

Mereka sekarang semua sedang mengobrol dan tertawa-tawa. Dan tak ada tanda-tanda ia dilibatkan dalam percakapan itu, jadi, ia memberanikan diri untuk bertanya.

“eum, maaf aku memotong, terimakasih untuk semuanya, jadi bolehkah aku pulang sekarang? Euh, begini, aku bukannya tidak tahu terimakasih, tapi, aku tak tahu apa yang harus kulakukan disini dan yah, aku punya banyak hal untuk dilakukan.”Jieun mengakhiri bicaranya. Semua orang terdiam dan menatap ke arahnya.

“Noona! Jangan dulu pulang.”Sungjong memelas. Lama-lama, ia agak risih Sungjong memanggilnya Noona. Ayolah, umurnya baru mau menginjak delapan belas dan Sungjong yang berusia 500 tahun memanggilnya noona? Ia merasa sangat tua.

“bisakah kau memanggilku Jieun saja?”pinta Jieun sopan. Sungjong merengut, tapi kemudian ia kembali lagi ke topic awal.”jangan dulu pulang noona. Kalau kemalaman nanti kami akan mengantarmu. Sekarang duduk dulu.”

Jieun hendak mencari alasan, tapi Sunggyu keburu memotongnya.”Baiklah duduk dulu. Ada beberapa hal yang perlu kutanyakan.”

Dan setelah Sunggyu menyuruhnya, yang kemudian Jieun sadari adalah leadernya, Jieun tak bisa melakukan hal apapun lagi selain menurut.

“oke, jadi apakah hari ini kau mencari buku itu?”

oh Tuhan. Matilah ia! Ia sama sekali tak punya waktu – dan lagipula ia sama sekali tak ingat dan tak punya keinginan untuk itu, dan kemudian ia sadari itulah kesalahannya. Tapi, sebagaimana yang sudah-sudah, ia tak pernah bisa berbohong.

“Tidak.”jawab Jieun. Lalu dengan cepat ia menambahkan,”jadwalku padat sekali pekan-pekan ini. Sebagaimana yang kalian ketahui, ujian sebentar lagi, dan aku ada di tingkat terakhir. Aku harus lulus dengan nilai terbaik, dan sebelum itu aku harus masuk kelas special. Jadi, aku harus belajar ekstra keras, dan tentunya kalian mengerti aku sama sekali tak bisa bolos pelajaran hanya untuk mencari buku itu.”

“Tapi itu tugasmu!”Myungsoo menuding tak senang. Jieun tak bisa menahan dirinya untuk menatap Myungsoo sadis.

“eh, tunggu sebentar. Memangnya ujian sebentar lagi ya?”Woohyun tiba-tiba bicara. Jieun menatapnya sengit. Ujian sudah sedekat ini, dan ia tak tahu?! Ia pasti gila – pikir Jieun serius.

“entahlaaaaah, lagipula kita hanya tinggal mengisinya saja.”ucap Hoya enteng, setengah malas-malasan.

Jieun menatap Hoya tak percaya. Tinggal mengisinya? Lalu, lalu bagaimana dengan hasilnya nanti? Bagaimana dengan kelulusan? Jieun ngeri membayangkan itu, tapi kemudian ingatannya memberitahunya, mereka telah hidup beratus tahun, dan coba bayangkan! ada berapa puluh ribu macam kertas ujian yang telah mereka isi? Berapa puluh ribu kali mereka telah mengisinya? Jieun mendadak paham.

Ujian bukanlah hal genting bagi mereka. Jieun mendadak merasa tak adil.

Jieun mencoba mengabaikan itu dan kembali ke topic awal.“baiklah, aku tahu ini salahku. Tapi tak bisakah kalian membiarkanku dulu, em.. setidaknya sampai aku berhasil masuk kelas special? Ayolah, sama seperti buku itu, kelas special sama pentingnya bagiku seperti buku itu penting bagi kalian.”

Sunggyu tampak berpikir. Tak bijak juga memaksa orang biasa dengan urusan pribadinya hanya demi kepentingan mereka, meskipun Jieun telah jadi budak Myungsoo, ia tetap punya hak-haknya.

“Baiklah. Tapi setidaknya di hari libur kau usahakan mencarinya.”

Meskipun di hari libur Jieun punya jadwal les, ia mengiyakan demi keselamatan nyawanya.

“kamsahamnida.”

“oke, jadi bisa kita ganti topic lain?”Dongwoo mengusulkan, berusaha mencairkan suasana.

“ayo main tebak kata!”seru Sungjong antusias.

“tidak, sambung kata saja.”Sungyeol menolak.

“main kartu saja ayoooooo~”

Sekarang semuanya sibuk mengusulkan permainan, dan Jieun sibuk memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa pulang.

“hei maaf menganggu kalian – lagi, tapi apakah aku boleh pulang sekarang?”

Sekali lagi suasana menjadi hening gara-gara Jieun.

“kau tak mau ikut main memangnya?”Tanya Woohyun.

“ayolah main saja, lagipula besok kan libur.”tawar Dongwoo.

“rileks saja Jieun. Kami akan mengantarkanmu pulang.”Sungyeol menenangkan, dan kemudian sebuah ide terlintas di kepalanya.”Oke, bagaimana kalau yang menang pergi mengantar Jieun pulang?”

“yang menang? Kalau begitu aku akan berusaha menang!”Sungjong berseru.

“ingat tahun ini ceritanya kau belum tujuh belas, Sungjong. Masih belum bisa membuat SIM, dan itu artinya kau tak bisa mengendarai mobil.”Sunggyu mengingatkan. Sungjong mencuatkan bibirnya kesal.

Jieun sendiri merasa tak senang ia dijadikan objek taruhan permainan ini, tapi tanpa menunggu persetujuannya, game itu dimulai. Yang menang mengantar Jieun, dan yang kalah harus membayar semua mangkuk samkyetang tadi.

Meskipun restoran ini punya Sunggyu, tapi ia tetap bersikap keras dan disiplin bahwa semuanya tetap harus bayar, termasuk ia sendiri. Dan mendapat giliran membayar adalah hal paling menjengkelkan, jadi semuanya berusaha untuk menang – termasuk Myungsoo.

Dan tentu saja Jieun harus menang. Intinya, ia tak boleh kalah, karena sekarang ini uangnya tak cukup untuk membayar delapan mangkuk samkyetang.

Maka permainan dilangsungkan. Semuanya berlomba, dan Jieun sendiri mendadak lupa, bahwa ia bermain dengan orang yang membuatnya ketakutan. Malah, ia tertawa keras, ia seolah melupakan segala yang membebaninya. Dan Jieun tak tahu kapan kali terakhir ia tertawa keras seperti ini.

Meskipun ia agak enggan mengakui hal ini, tapi bagaimanapun ia harus mengakuinya: INFINITE membuatnya nyaman. Mereka sejenak membuat Jieun melupakan segala ambisinya, dan hanya menjadi seorang Jieun, Jieun yang begitu suka tertawa dan makan.

Entah kemampuan apa yang mereka miliki hingga Jieun bisa merasa seperti ini. Entah apa yang membuat Jieun tak bisa berhenti tersenyum.

Mungkinkah karena si polos Sungjong?

Atau karena Dongwoo yang tawanya begitu renyah?

Sungyeol yang ternyata jail dan licik ketika bermain hingga membuat perutnya sakit karena tertawa terus-menerus?

Atau Sunggyu yang kekanak-kanakan ketika dikalahkan?

Mungkin karena Woohyun yang daritadi tak berhenti memujinya – semuanya bahkan ia sendiri setuju bahwa Woohyun ini gombal – meski begitu tak gagal membuatnya tersenyum?

Mungkin juga karena Hoya, yang kelihatan pendiam, tapi ternyata begitu bersemangat dan ambisius untuk memenangkan game ini, mungkin juga karena ia benci membayar, tapi ia juga mampu menghibur Jieun.

Atau, Jieun tak terlalu suka membahas yang terakhir – ya Jieun tak bisa menyangkal kalau dirinya mulai menyukai keenamnya kecuali Myungsoo.

Myungsoo sendiri, masih kelihatan menyebalkan, tapi Jieun tak tahu bahwa Myungsoo adalah orang yang paling tidak suka dengan kekalahan. Ia membenci kalah, dan ia berusaha sebaik mungkin di setiap game untuk memenangkan semuanya. Mungkin, Myungsoo memang tipe pekerja keras dibalik sikap congkaknya itu.

“Yeah!”Myungsoo berseru keras, membuyarkan lamunan Jieun yang diam daritadi karena sudah kalah di ronde semi-final.

“aish sial!”seru Sungyeol, semua strateginya yang licik, menyimpang maupun brilian ternyata masih tak mampu mengalahkan si jenius Myungsoo.

Myungsoo berseru senang.”kau takkan pernah bisa mengalahkanku Yeol, ha!”serunya puas.

“baiklah, selamat Kim Myungsoo, kau menang – lagi. Dan selamat! Kau sekarang harus mengantar Jieun pulang.”

“APA?!”Myungsoo dan Jieun berseru lantang bersamaan.

“Ya, kesepakatannya memang begitu kan? Yang kalah membayar, dan yang menang mengantar Jieun.”

Jieun menganga – begitu juga Myungsoo – dan Myungsoo tak pernah merasa sesial ini ketika menang.

Jieun seharusnya tahu bahwa Myungsoo akan menang, dan harusnya ia sadar bahwa yang menanglah yang akan mengantarnya pulang, tapi otaknya macet gegara game tadi hingga ia tak memikirkan apapun untuk mencegahnya menang. Dan sekarang, celakalah ia.

“Antarkan dia, Myungsoo. Hari sudah gelap. Nih.”Sunggyu melemparkan kunci mobil.”jangan kau turunkan ditengah jalan, oke?!”

Myungsoo menangkap kunci itu dengan naas. Jieun meliriknya dan menatapnya tajam seolah berkata; ‘kenapa-kau-yang-harus-menang!’ Myungsoo balas menatapnya tak senang.

“oh ya Jieun. Kalau dia berani menurunkanmu di jalan, telpon saja aku.”Sunggyu tersenyum. Ditengah game tadi mereka saling tukar nomor karena Sungjong yang memintanya, dan berakhir dengan semuanya yang saling bertukar nomor. Bahkan, Myungsoo sekalipun.

Jieun tersenyum senang. Sunggyu jadi berubah baik padanya setelah game tadi, dan ia bersyukur. Kalau Myungsoo berani macam-macam padanya, ia tinggal menelepon Sunggyu dan Sunggyu bisa melakukan apa saja untuk menghukumnya. Ha, awas kau Kim Myungsoo!

“apa yang kau tertawakan, hah?! Ayo cepat, aku ingin cepat tidur!”serunya kasar.

Jieun mencibirnya dan mengikutinya dari belakang dengan setengah hati.

**

Perjalanan itu berlangsung kikuk dan dingin. Tak ada yang bicara. Jieun hanya menyebutkan alamatnya dan Myungsoo tak bertanya lagi setelah itu. Jieun sendiri menikmati keheningan itu, ia menyandarkan kepalanya dan melihat keluar jendela.

Tiba-tiba saja suatu pertanyaan melintas, dan ia bergumam tanpa bisa ia cegah.

“kalian kelihatan dekat sekali. Dan ……. Bahagia.”

Myungsoo agak kaget mendengar itu, namun ia menanggapinya dengan cuek.

“memangnya hidup itu harus dijalani dengan cara bagaimana? Tentu saja harus bahagia. dan tentu saja kami dekat, kami sudah bersama begitu lama.”

“entah kenapa aku iri.”gumam Jieun pelan, meski begitu Myungsoo masih bisa mendengarnya.

“kau tak punya saudara?”Tanya Myungsoo.

Jieun hanya tersenyum getir.”Punya.”jawabnya pendek, tak berniat menjelaskan lebih jauh. Myungsoo sendiri tak ingin bertanya lagi. Hening menyelimuti mereka, tapi kemudian sayup-sayup ia bisa mendengar Jieun bergumam:

“kalian beruntung sekali…”

Myungsoo meliriknya dan ia tertidur. Myungsoo tak tahu apa maksud kalimat itu, dan ia tak ingin bertanya, apalagi membangunkannya.

 

 

Mobil itu sampai di suatu rumah yang cukup besar. Dan juga, Jieun tinggal di kawasan elite. Myungsoo tak percaya gadis keras kepala satu ini merupakan orang kaya, karena dilihat dari penampilannya, ia tak mengenakan satupun aksesoris dan ia benar-benar berpakaian biasa dengan seragamnya. Rambutnya juga tidak diberi gaya ataupun aksesoris apapun. Jieun hanya membiarkan rambut panjang hitamnya digerai begitu saja.

“ya, bangun.”Myungsoo mengguncang-guncang tubuh Jieun pelan. Ia terbangun dengan mudah.”e..eo, sampai?” dengan setengah sadar ia mencari-cari tasnya.

“nih.”Myungsoo membantunya, dan Jieun mengambilnya lalu otomatis berkata terimakasih.”whoa. kau berterimakasih padaku.”

“dan kau menolongku.”ucap Jieun datar.”terimakasih banyak untuk hari ini. Aku betul-betul senang.”entah kenapa ia malah bicara jujur.”aku pasti cari buku itu. tapi nanti.”ucapnya kemudian lalu keluar dari mobil, dan berjalan menuju rumahnya tanpa berbalik lagi.

“dasar.”decak Myungsoo. Ia hendak menyalakan lagi mesin mobilnya tapi matanya menangkap sesuatu yang berkilauan. Ia memungutnya, dan itu adalah sebuah buku yang dimana ada sebuah kalung yang melingkar di buku itu. Buku itu buku catatan, bersampul warna biru pastel dan Myungsoo membaca judulnya; “Aku Lee Jieun, dan Aku bukan Sampah!”

Ia tertegun sendiri dengan judulnya, dan memutuskan untuk mengembalikan buku itu dengan segera sebelum niat jahatnya membuka dan membaca buku itu. ia keluar dari mobil, dan begitu sampai di depan pintu rumahnya, ia terdiam.

**

Jieun masuk ke dalam rumahnya sambil menguap lebar-lebar. Sekarang ini yang ada dipikirannya hanyalah kamar dan kasurnya yang hangat dan nyaman, tapi tampaknya tidak secepat itu ia mendapatkan kebebasannya. Ia terhenti di ruang tamu, melihat ke depannya dimana berserakan kado-kado yang terbuka, isinya tak jauh dari tas dan sepatu yang bermerk terkenal.

Ia kemudian melihat ibunya, juga kakaknya yang berada di tengah-tengah tumpukan kado itu, yang kini melihatnya, lalu tersenyum puas.

“darimana saja Jieun? Kau pulang selarut ini masih dalam baju seragammu.”kakaknya menyapa – sapaan ramah yang dibuat-buat. Ia hanya diam.

“Tampaknya kau bersenang-senang. Siapa yang mengantarmu pulang? Pacarmu?”

Jieun masih diam. Nada bicara kakaknya sama sekali tak menyenangkan.

Ibunya yang sibuk memperhatikan kalung perak yang baru saja dihadiahi oleh kakaknya kini menyimpan perhiasan itu dan menatapnya. Menatapnya tajam.

“Kau harusnya malu dengan kakakmu.”Ibunya memulai.”Lihat ini, lihat semua ini Jieun. Ia mampu membelikanku semua ini. Dan ia memberinya padaku cuma-cuma sebagai oleh-oleh.”

Jieun merasa tenggorokannya sangat kering.”betapa cerdas dan baiknya ia, Jieun…”

Jieun tak ingin mendengarkan. Tapi kata-kata itu tetap masuk ke dalam otaknya, mengiris hatinya.”ia baru saja pulang dari Prancis. Ia jadi pujaan semua dosen dan sekarang bahkan ia mendapatkan pekerjaan yang direkomendasikan khusus selama s2 nya. Ia menjadi kebanggaan Korea, juga tentunya kebanggaan keluarga ini. Dan di sela-sela kesibukannya, lihatlah, Jieun. Ia masih menyempatkan mampir kemari dan menghibur hati ibunya, ibu yang bahkan tidak mengandungnya!”

Jieun menunduk. Ia tahu kata-kata selanjutnya.”dan kau Jieun… sebagai anak kandungku… anak yang ku kandung sendiri! kau malah menyakiti hatiku dengan pulang malam, diantar oleh entah siapa…”

“dia temanku.”Jieun membela diri, dengan kemampuannya yang tersisa.”Oleh temanmu yang pastinya mengajakmu melakukan hal yang tidak berguna Jieun, bukan belajar seperti yang sudah seharusnya kau lakukan.”Ibunya geram.”Berapa kali Ibu harus bilang padamu? Jangan bermain dengan mereka! Mereka hanya membuat nilai-nilaimu turun, dan itu terbukti! Jieun, guru bilang beberapa nilaimu turun! Kenapa? Kenapa, eo?”

“itu cuma free test. Aku sedang pusing waktu itu. dan lagipula, mereka baik.” free test itu saat ia awal-awal memergoki Myungsoo dan membuat pikirannya kacau. Lagipula, nilainya turun hanya 0,2. Dan ia tidak suka ketika Ibunya mengungkit soal teman, menganggap mereka hanya sebagai parasit.

“Cuma free test? Kau harus melakukan yang terbaik dalam segala hal seperti kakakmu!”Ibunya berteriak marah.”Dan kau seharusnya malu pada dirimu sendiri! Kakakmu mengikuti ujian dalam keadaan sakit parah, dan ia bisa lulus di peringkat terbaik! Ia nomor satu! Sedangkan kau, pusing sedikit nilaimu langsung turun? Apa yang salah denganmu, Jieun?”

Jieun menatap Ibunya dengan tatapan terluka. Selama ini memang tak bisa menjadi nomor satu di sekolahnya, karena ada Myungsoo. Myungsoo, bagaimana mungkin mengalahkannya? Ia telah belajar berabad-abad! Jieun baru menyadari hal itu kemudian. Pantas saja ia tak bisa mengejarnya… bagaimana mungkin mengalahkan orang yang telah mengikuti pelajaran dan test yang sama selama berabad-abad! Dan lagipula, ia belajar begitu keras. ia belajar.. belajar dan belajar… ia mengorbankan semuanya, ia mengorbankan waktunya, hanya untuk belajar dan membuat ibunya bangga.

Tapi Ibunya masih saja tak menganggap apapun yang ia usahakan.

“Kenapa kau tak bisa, sedikit saja, mencontoh kakakmu?”

Kalimat itulah yang selalu membuat Jieun marah. Kalimat itulah! Ia tak suka dibandingkan dengan kakak tirinya. Ia benar-benar tak suka.

Ia akui, kakak tirinya itu begitu cantik, pintar, dan kau boleh sebut ia memiliki segalanya, dan Jieun adalah kebalikan dari kakaknya. Ia biasa saja, dengan otak standar, dan ia tak bisa menjadi kakaknya.

Ia sendiri berusaha, ia belajar begitu keras, tapi ia lelah. Ia lelah ketika ia belajar hingga jam dua dinihari hasil belajarnya masih saja tak bisa membuat ibunya puas. Ia lelah ketika ia mengorbankan waktu liburnya berkutat dengan buku tapi ia tetap saja jadi nomor dua. Dan ia lelah belajar agar menjadi kakaknya!

“tak bisakah ibu berhenti membandingkanku dengan unni?”Jieun memohon. Suaranya bergetar karena airmatanya mulai menggenang. Hatinya masih saja sangat sakit seperti dulu ketika ia pertama kali dibanding-bandingkan.”tak bisakah ibu menyayangiku sebagai Jieun saja? Hanya seorang Jieun yang biasa? Aku akui aku bodoh ibu!”Jieun berseru sedih.”Aku berusaha, aku berusaha sekuat yang aku mampu! Tapi..”

“Jika kau berusaha kau pasti akan berhasil, Jieun. Tapi nyatanya…”

“Aku tak bisa! Aku tak bisa seperti unni! Aku sudah berusaha, ibu tak tahu seberapa keras aku berusaha!”Jieun berteriak putus asa, ia mengusap dengan kasar airmatanya yang baru saja turun cepat-cepat. Ia menatap ibunya dengan bibir bergetar, berharap Ibunya mengerti untuk kali ini saja, tapi tampaknya sepatu, tas dan perhiasan bermerk itu telah menyihir ibunya – membuat Ibunya berubah, menjadi orang asing baginya. Jieun membuang muka, merasa jijik entah pada ibunya, kakaknya, atau dirinya sendiri. Ia bergegas meninggalkan ruangan itu, memberi kakaknya tatapan paling benci, dan berlari ke kamarnya, menutup kuncinya lalu menangis sejadi-jadinya tanpa suara.

**

Myungsoo – yang karena indra nya yang tajam, bisa mendengar pertengakaran dan teriakan itu dengan jelas. Ia juga bisa mendengar suara pintu dibanting dan suara tangisan Jieun.

Myungsoo memutuskan untuk kembali ke mobilnya, tapi entah kenapa enggan untuk pulang dan malah duduk saja di mobilnya, mendengarkan. Ia mendengar tangis Jieun entah untuk berapa lama, hingga tangisan itu mereda dan tak ada sama sekali. Pastilah gadis itu tertidur – pikir Myungsoo.

Ia mulai menyalakan mesin mobilnya dan melaju. Kemudian ia sadari dua hal setelah itu; alasan dibalik Jieun yang selalu memikirkan belajar dan belajar – juga arti judul buku yang Myungsoo urung kembalikan. Mungkin, niat jahatnya menang kali ini dan ia akan membacanya.

**

Jieun terbangun keesokan paginya, masih dalam baju seragamnya. Ia tertidur di karpet kamarnya, dan badannya langsung terasa sakit semua.”sial.”umpatnya. matanya terasa sulit dibuka dan dengan susah payah ia bangun dan pergi mandi.

Ia mendesah lega ketika selesai mandi dan turun ke bawah, ia tak menemukan siapapun. Dengan perasaan senang ia bergegas ke dapur, tapi tak ada makanan jadi. Mungkin, kakaknya membawa Ibunya pergi keluar untuk sarapan. Kakaknya memang nomor satu dalam segala hal, termasuk mengambil hati orang.

“ah lapar.”Jieun menggumam, terlalu malas untuk memasak karena bahan yang ada tidak menarik. Seketika ia ingat restoran kemarin, dan perutnya mendemo semakin liar.

Ia tertawa sendiri, naik lagi ke atas dan memakai hoodienya. Baiklah, semangkok samkyetang hangat dari abad lalu, go go go!!

 

Jieun sampai di restoran itu – untung saja ia mengingat jalan kemari dengan baik. Ia memakai tudung hoodienya dan merapatkannya, memastikan bahwa ia akan membeli samkyetang itu tanpa diketahui satupun member INFINITE dan langsung kembali ke rumahnya – meskipun setelah dipikir-pikir lagi ia tak ingin kesana ketika memikirkan ia akan menghadapi lagi wajah ibu dan kakaknya.

“satu samkyetang.”pesan Jieun.

“Jieun?”pelayan itu bertanya. Jieun mendongak dan harusnya ia tak melakukan itu, karena seketika ia bertatapan dengan Woohyun.

“eh..”Jieun lupa siapa namanya, tapi Woohyun dengan penuh pengertian buru-buru mengenalkan dirinya.”Panggil saja Woohyun. Jangan bilang kau ketagihan dengan samkyetang kami kan?”tanyanya menggoda. Jieun hanya tersenyum kikuk, menggaruk kepalanya yang tak gatal, dan beginilah ternyata rasanya tertangkap basah.

“kenapa kau disini?”Tanya Jieun membunuh rasa kikuknya sendiri.”setiap libur kami bekerja dari pagi sampai jam satu siang.”jelas Woohyun.

“Woi, satu samkyetang!”seru Woohyun. “Ne!”sebuah suara menyahut dari belakang.”kalian semua bekerja?”Tanya Jieun, dan pertanyaannya dijawab oleh seorang berpakaian kerja yang baru saja keluar dari dapur, membawa sebuah nampan berisi semangkuk samkyetang, dan Jieun tak bisa menahan tawanya sendiri. Ia tertawa lepas.

Myungsoo berhenti di ambang pintu. ia kaget melihat Jieun disana, lebih kaget lagi ia menemukan gadis yang baru menangis semalaman itu tertawa begitu keras pagi ini. Begitukah ia menyembunyikan masalahnya? Myungsoo terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga lupa alasan kenapa Jieun tertawa begitu geli.

“tak kusangka kau bisa bekerja dan memakai pakaian seperti itu.”ucap Jieun di akhir tawanya, sambil menyeka airmatanya yang keluar karena tertawa terlalu keras. Myungsoo akhirnya sadar bahwa ialah yang jadi bahan tertawaan Jieun, ia hendak marah dan mengomelinya, tapi urung ketika mengingat kejadian kemarin.

“memangnya kenapa?”tanyanya sinis.

“entahlah. Image mu tidak cocok bekerja seperti ini. Mungkin Jei akan mengatakan aku gila lagi jika bilang kau bekerja paruh waktu di restoran samkyetang.”

“tutup mulutmu.”suruh Myungsoo kasar, tapi Jieun hanya tertawa geli. Ia mengambil nampan itu dari Myungsoo, dan mencari tempat duduk yang nyaman. Setelah dapat, ia membuka hoodienya. Rasanya tak perlu lagi bersembunyi karena semuanya sudah mengetahuinya.

Tak lama, datang Sungjong menghampirinya.”Jieun! kukira mereka bohong soal kau ada disini, kukira halusinasiku saja. Tapi ternyata kau benar-benar disini!”seru Sungjong cerah, menarik bangku dan duduk di hadapan Jieun. Jieun tersenyum. Melihat senyum cerah Sungjong, rasanya tak pantas menyebutnya tak berguna – seperti apa kata ibunya. Nyatanya, Sungjong mampu membuat moodnya membaik. Dan Jieun senang kini Sungjong memanggilnya Jieun saja.

“habiskan makananmu dulu, aku pergi bekerja lagi ya. jangan pergi kemana-mana!”

Jieun mengangguk saja. Setelah menghabiskan samkyetang nya, ia memperhatikan INFINITE bekerja kesana kemari mengantar pesanan. Rasa-rasanya ia tahu mengapa Woohyun disimpan di kasir, karena para wanita memberikan uang tambahan begitu saja karena pujian dan senyum lebar Woohyun. Ia tertawa geli.

Ia memperhatikan semuanya, tapi jujur, yang paling menarik perhatiannya adalah Myungsoo. Sikap congkaknya sama sekali tak keliatan, meskipun melayani pelayannya dengan senyum yang irit, ia begitu sopan. Dan ia juga bekerja dengan cekatan, satu sisi baru dari Myungsoo yang baru dilihatnya.

“kau melihatku daritadi.”ujar Myungsoo begitu datang ke meja Jieun, sambil membawa mangkuk kosong dan mengelap mejanya.”aku hanya tak percaya kau bisa bekerja.”ucap Jieun jujur.”aku bisa lakukan apa saja.”ucap Myungsoo setengah mencibir, dan Jieun mencibirnya balik. Ya, semua orang bisa melakukan apa saja kecuali dirinya. Huft.

“Myungsoo!”seru Sunggyu yang baru turun dari tangga, memanggil orang pertama yang ia lihat.”Antarkan pesanan ke alamat ini, oke?”

Myungsoo mengangguk, sebenarnya senang diberi tugas mengantar keluar karena disini rasanya terlalu sumpek.”eh kau mau kemana?”Tanya Jieun.”mengantar pesanan.”jawab Myungsoo pendek.

“boleh aku ikut?”Jieun memelas, ia tak ingin segera pulang dan menghadapi ibunya, dan ia tak bisa terus-terusan disini karena pengunjung terus datang. Myungsoo menatapnya, tahu benar bahwa ia tak ingin pulang, dan akhirnya ia berkata; “tunggu aku ganti baju.”

Jieun mengangguk, tersenyum senang. Entah sejak kapan hubungan mereka jadi begini, dan entah kenapa Jieun bisa tersenyum padanya, pada majikannya yang ekstra menyebalkan.

TBC

 

 

Akhirnya part ini beres juga hahaa, gimana panjangkan? *I hope so*

Dan yeay akhirnya masalah Jieun terungkap dan banyak momen sama infinite & myungsoo nya! /apa

Untuk part selanjutnyaaaaaa, pokoknya tunggu aja hahaha

See you all on the next chappie!

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

14 responses

  1. Huaaa! Ini dia yg kutunggu tunggu! Chapter ini bagus banget deh! Beneran! ><
    Duh, unni sama ibu nya ji eun agak nyebelin deh. Ngebayangin aku yg jadi ji eun, pasti nggak bakal betah di rumah.
    Wah wah.. udah mulai nih myungu moment nya. Hehe, jadi nggak sabar nunggu next chap nya. Keep writing yaa! Fighting! ^^

    April 16, 2014 at 7:27 am

    • syukuran gede2an kalo kamu suka part ini /criesss
      emang nyebeliiin wkwk pastinya>><<
      next chap udah aku post, dan emang banyak myungu momentnya hoho
      btw makasih banget masih mau bacaaaaaaaaaaaaaaa ❤ //hugyou//

      April 25, 2014 at 6:51 am

  2. Woaaahhh jieun sama myungsoo jadi sedikit lebih deket ya? 😀 tapi kasian juga juga punya ibu yang ga ada pengertian sama sekali kayak gitu… yang ada malah nambah beban buat jieun sendiri… 😦 ditungu update nya. ^ ^

    April 16, 2014 at 8:38 am

  3. Omo omo omo… Yeay akhirnya baca juga! Haha

    Btw eomma dan eonni nya jieun jahat banget sih ih jadi sebel. sebenernya dia ibu kandung apa ibu kandung yang ketiri-tirian sih? /lah/
    Jadi inget kalo mau ulangan pasti belajarnya sampe jam 2 an pagi (sama keya nonton drama) , tapi tetep aja hasilnya sama -iyalah ya belajarnya pas mau ulangan doang haha /curcol *abaikan

    Well, myungu mommentnya udh mulai mencuat *?* nih. semoga author yang baik, cantik dan unyu kaya aku menambahkan lebih banyak myungu momment di chap selanjutnya ya, amien~
    dan jujur thor ini masih kurang panjang loh *woooo maruk xd

    Keep writing,
    Fighting!!!!! *tebar cinta ke bang usoo eh ke author deh haha

    April 17, 2014 at 5:04 pm

    • hoho sbenernya eommanya itu eomma kandung jieun cuma gegara harta keluarga barunya jadi gitu/? sama banget dong T__T ayo toss //apa
      wkwkwk buat reader yg unyu baik cantik di part selanjutnya aku bikin khusus myungu kok dan udah aku post^_^
      whaha ntaran harus segimana dong panjangnya??:(
      wwkwk thanks banget msh mau baca yaaa ❤ //spread love

      April 25, 2014 at 6:54 am

  4. BaeLyrii (@_tazkiaslsbl)

    Kakaaaak, aku dataaaang XD

    Di chapter kali ini aku puas banget bacanya XD apalagi Jieun sama member INFINITE yang lain udah semakin akrab.

    Kak, aku nangis yang karuan pas baca part ibu Jieun ngebandingin Jieun sama kakak tirinya. Kesannya yang dianggep anak kandung malah bukan Jieun :”( padahal Jieun juga udah mati-matian belajar buat nyenengin hati ibunya, tapi ibunya sendiri malah nggak perhatian.

    Ha! Myungsoo biar pun dingin dan sadis gitu ternyata pekerja keras juga XD dan… cukuplah mulai keliatan baiknya sama Jieun.

    Hadeuh… segini aja ya, Kak. Semangat, Kakak^^

    April 18, 2014 at 12:54 am

  5. jennifer

    kyaaaaa >< author, plis plis plis lanjutin secepetnya… ini greget pengen baca kelanjutannya!!! myungsoo ternyata hatinya baik ya thor. kekekeke lanjutin ya thor, secepetnya ^^ fighting!!!! ^^

    April 18, 2014 at 12:01 pm

  6. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
    DAEBAK! ^O^)/

    April 18, 2014 at 12:50 pm

  7. Asikk dilanjut juga akhirnya. 😀

    gak nyangka jieun punya masalah keluarga seperti itu *pukpuk.

    -,- myungsoo sama jieun itu sebenernya mesra cuma gimana gitu wkwk 😀

    lanjutt 😀

    April 19, 2014 at 5:48 am

    • iya akhirnya haha<//3
      wkwk mesra cuma musuhan //hah
      ok next part udh aku post yaa, thanks masih mau baca<33

      April 25, 2014 at 6:55 am

  8. sarie cang

    akhirnya. . ku tunggu selanjutnya. . jangan lama2 thor. .

    April 20, 2014 at 3:10 am

    • iyaa haha next part udah aku post ya makasih banget masih mau baca<333

      April 25, 2014 at 6:56 am

  9. Aidah

    Bener”deh sama si sungjong thor manggil IU noona gk sadar apa ya udh hidup ratusan taun gitu-_-,buat jieun yang sabar ngadepin ibunya,oh y min msih blom ngerti juga sih itu ibu kandungnya jieun? Kakak kandungnya jieun? Ayahnya kemana?

    May 4, 2014 at 7:17 am

  10. alydya

    Poor jieun. cuma myungsoo yg tau masalah jieun nih cie cie. mau kencan secara tidak langsung nih. Slamat mengetik ya thor. saya pembaca baru nih.

    July 8, 2014 at 12:32 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s