KIM MYUNGSOO FANFICTION

Valentine

melurmutia-cafeposterart

melurmutia-cafeposterart

VALENTINE by PASIEUN / SIEUNA | Casts SON NAEUN, KIM MYUNGSOO| fluff, romance, comedy? | rated T | oneshot

tidak ada hubungannya dengan kenyataan. karena ini sebuah fiksi /youdon’tsay?. remake/terinspirasi dari sebuah side story dari sebuah komik – ‘choco and red train’.

enjoy reading!

-×-

 

Seorang gadis membuka gerbang bangunan itu. Dilihatnya banyak orang berkumpul di depan sesuatu.

Disana, batinnya dalam hati. Lalu ia berlari menerobos kerumunan itu. Sampai akhirnya beberapa orang keluar dari keramaian itu, dia mulai bisa mendekati sesuatu itu.

Sebuah daftar yang ditempel di sebuah papan informasi. Gadis itu sibuk mencari sebuah nomor di daftar itu.

“1002… 1002… ah! Ada tuh, ada!” Seru gadis itu girang di depan papan informasi itu. Setelah itu, dia langsung pergi menjauh darinya, agar orang lain bisa memeriksa apakah dia akan sebahagia dirinya atau sedih karena gagal.

Bunga bermekaran di kehidupan baru Son Naeun. Dia mendapat peringkat 73 pada ujian masuk tahap 3 alias terakhir Universitas S, universitas yang sangat beken disana.

Ada sebuah alasan kenapa Naeun mendaftar di universitas beken ini. Karena Kim Myungsoo, orang yang disukai Naeun sejak SMA juga diterima di universitas ini.

Siswa SMA D -sekolah mereka, yang diterima di Universitas S ini hanya mereka berdua, walaupun mereka tidak pernah saling sapa.

“Ah! Myungsoo-gun!” Naeun langsung berlari ke arah papan informasi setelah melihat Myungsoo yang berdiri di depannya.

“Gi… gimana hasilnya? Kau diterima?”

“Hm, aku dapat peringkat delapan,” jawab Myungsoo dengan dingin.

“Eh, ah… selamat ya, mohon bantuannya ya di universitas ini sesama anak SMA D!” Kata Naeun malu-malu.

“Maaf, tapi kamu siapa ya?”

Pertanyaan Myungsoo membuat Naeun membeku. Sambil tertawa kecil, Naeun menjawab “Aku Son Naeun dari kelas 3-5… kita menyerahkan formulir bareng kan…”

“Oh, berarti kelas sebelah dong. Sori aku nggak kenal,” jawab Myungsoo dingin sambil berbalik.

“E-Eh… Myungsoo, mau kemana?” Tanya Naeun sambil berlari mengejar Myungsoo yang sedang menuju ke tempat parkiran sepeda.

“Mau ke sekolah, melaporkan kalau aku diterima,” jawab Myungsoo sambil menaiki sepedanya dan berlalu.

“Eh… tunggu dulu… Kim Myungsoo!”

“Sudah, susul saja,”

“Hei! Aku tidak bisa naik sepeda!” Ucap Naeun dengan nada marah sambil menjatuhkan diri. Tetapi Myungsoo tetap mengayuh sepedanya tanpa melihat kebelakang.

-Naeun’s POV-

Karena tidak bisa naik sepeda, akhirnya aku menaiki bus ke sekolah untuk menyusul Myungsoo.

Uh, harusnya aku senang satu universitas dengan Myungsoo, tetapi kenapa aku murung begini… sudahlah, yang penting satu kampus. Kesempatanku masih banyak!

esoknya, SMA D.

“Naeun-ya, kau diterima?” Tanya Eunji -teman sekelasku, sambil mendekatiku yang sedang berada di koridor di depan ruang guru. Aku hanya mengangguk sambil terus berjalan.

“Kau pasti senang,” kata Eunji menebak. Langkahku terhenti, lalu menggeleng kecil.

“Yah wae? Kau suka Myungsoo dari dua minggu lalu pada pandangan pertama, kan?” Tanyanya lagi.

“Dia tidak kenal aku,” jawabku sambil menghela nafas kesal. “Tapi aku bakal kasih cokelat valentine buat dia,” lanjutku sambil tersenyum kecil, lalu menunjukan buku resep snack cokelat yang kupegang.

“Wah, benarkah? Aku juga mau dong!” Goda Eunji sambil mengambil buku resep itu dari tanganku.

“Eit, enak saja,” candaku sambil merebut buku itu darinya lalu memukul pelan lengannya.

“Permisi,” kata seseorang di belakangku.

“Ah, ya, maaf,” jawabku sambil melangkah ke samping. Kulihat siapa yang dibelakangku. Itu Myungsoo.

“Hei! Kim Myungsoo! Sebentar!” Kata Ryu-ssaem sambil membuka pintu ruang guru dengan kasar. Ia berlari pelan mengejar Myungsoo. Tetapi langkahnya terhenti karena capek tepat di depanku.

“Ada apa pak?” Tanya Eunji.

“Itu, Kim Myungsoo masuk Universitas negeri S yang beken, tetapi dia ingin pindah ke Universitas swasta R yang mahal!” Jawab Ryu-ssaem. Eh?

“APA?! Masa aku masuk Universitas S sendirian? Gak mau!” Omelku sambil menarik celana Ryu-ssaem sampai kedodoran. “Kalau gitu aku nolak lulus! Aku bakal daftar Universitas R tahun depan!” Tambahku.

“Apa-apaan kau! Susah payah ujian malah disia-siakan!” Omel Ryu-ssaem sambil memperbaiki celananya yang kedodoran itu.

“Naeun, bukannya Universitas S dan R itu dekat?” Tanya Eunji.

“Eh, masa?” Tanyaku balik.

“Dulu aku lihat peta akademis, lewat minimarket di sebelah Universitas S, belok kanan, ada perempatan ambil terus, lalu sampai di Universitas R,” Jelas Eunji. Aku hanya mengangguk.

Jadi… aku harus bisa naik sepeda sendiri?

hari Minggu

Aku membawa sepeda adikku ke depan perumahan tempat aku tinggal, aku akan belajar naik sepeda hari ini!

Aku duduk di jok sepeda, mengangkat salah satu kakiku naik ke pedal.

“Pelan pelan saja, aku pasti bisa! Fighting!” Ucapku monolog sambil mengangkat kakiku yang satu lagi ke pedal. Lalu dengan perlahan aku mulai mengayuh.

“Hei, hei, minggir!” Suara dari belakangku membuat sepedaku oleng dan tidak terkendali, aku menoleh dan itu Myungsoo.

brukk

Aku terjatuh bersama dengan sepedaku. Myungsoo juga jatuh dari sepedanya.

“Ma… maaf! Maafkan aku! Kau masih harus ikut ujian masuk kan? Duh, maaf!” aku menyebutkan kata ‘maaf’ berkali-kali. Lalu mengulurkan tanganku untuk membantunya bangun.

“Ugh, iya. Sori juga.” Katanya dingin.

“Betul gak terluka? Syukurlah!” Kataku.

“Sebenarnya kamu sedang apa sih?” Tanyanya.

“Aku sedang belajar naik sepeda…” Jawabku dengan jujur.

“Kau gak bisa naik sepeda? Memalukan sekali,” katanya.

“Ada urusan yang mengharuskan aku naik sepeda, jadi aku harus.” Jelasku dengan muka merah.

“Yasudah. Berjuang ya,” balas Myungsoo dingin.

“I… iya,” Kataku sambil naik ke sepeda adikku lalu mulai berlatih lagi. Tetapi kemudian aku oleng lagi.

“Hei, mau aku ajari naik sepeda?” Tanya Myungsoo.

“Bu… Bukannya kau harus belajar?” Kataku.

“Iya sih, tapi aku tak tega lihat kamu,” jawab Myungsoo dengan wajah malu.

Senangnya… diajari naik sepeda oleh Myungsoo… tapi malu juga, sih.

“Nah, pegang setang dengan kuat, lalu pandangan ke depan,” jelas Myungsoo. Aku menjalankan apa yang diperintahkannya. ”Nah, cepat kayuh!” Kata Myungsoo. Aku mengayuh sepeda itu.

bruukk

Aku terjatuh lagi. Kini aku tertimpa sepedaku. Sakit sekali.

“Maaf, sekali lagi!” Kataku penuh semangat, lalu duduk di jok sepedaku lagi.

“Masih mau latihan lagi? Sudah sore nih. Nanti kamu malah luka beneran,” katanya dingin.

“Gak apa-apa! Aku mesti bisa!” Kataku yang masih semangat.

“Aaah!” Teriak Myungsoo. “Aku ingat! Kamu yang sering ke perpustakaan sekolah dan belajar mati-matian itu kan?” Tanyanya.

“Eh… iya. Kau lihat ya…” Jawabku sambil tersipu.

“Ternyata kamu memang selalu mati-matian kalau mengejar sesuatu ya. Aku suka sifat begitu.” Puji Myungsoo.

Aku ingin bersama Myungsoo walau hanya sebentar. Makanya aku yang mati matian. Ucapannya tadi membuatku ingin bersepeda ke bulan! Tapi… aku belum bisa naik sepeda…

3 hari setelahnya

“Sudah siap? Aku lepas ya?” Tanya Myungsoo yang masih memegang bagian belakang sepedaku. Ya, kami masih belajar sepeda bersama sampai sekarang.

“Aku takut! Tapi baiklah!” jawabku tegas sambil terus mengayuh sepeda sialan itu.

“Kayuh terus! Jangan menyerah! Jangan lihat bawah! Lihat depan saja!” perintah Myungsoo dengan cerewet.

“Nah! Go!” seru Myungsoo sambil melepas pegangannya.

“Wuah! Aku meluncur!” teriakku kagum diatas sepedaku. Aku bisa! Aku bisa naik sepeda!

“Waaah, berhentinya gimana?” Tanyaku kewalahan.

“Tarik saja remnya!” jawab Myungsoo sambil tertawa kecil.

“Makasih, Myungsoo!”

“Oh ya, sebelumnya aku minta maaf,” kata Myungsoo. “Sebenarnya karena ayahku ada kepentingan lain, aku tidak jadi masuk Universitas S,”

“Me… memangnya kenapa?” Tanyaku.

“Ayahku salah satu professor Universitas R, jadi aku batal masuk Universitas S.” jawab Myungsoo. “Jadinya kamu sendirian. Maaf ya,”

“Tidak sama sekali! Myungsoo hebat kok, wajar kalau kamu mendahulukan keluarga,” ujarku. “Memang sih aku bakal kesepian, tapi Myungsoo kan ada di dekatku,”

“Iya, ya. R dan S kan berdekatan!” sahut Myungsoo sambil tersenyum kecil.

Myungsoo baik sekali. Aku jadi serius menyukainya. Aku bersyukur bisa dekat dengannya.

no one’s POV

14 Februari, hari Valentine

Seorang gadis nampak sedang berdiri di depan rumah Myungsoo dengan sepedanya. Siapa lagi kalau bukan Naeun?

Naeun memegang sebuah kantong plastik berisi sebuah kotak kecil. Mungkin itu sekotak cokelat untuk Myungsoo?

ting tong

Naeun menekan tombol bel rumah Myungsoo setelah menghabiskan sekian menit untuk mengumpulkan keberanian. Hening, tidak ada jawaban. Padahal terlihat beberapa lampu menyala dari jendela depan.

Setelah semenit, seseorang keluar dari pintu depan.

“Ah, kau adiknya Myungsoo ya?” Tanya Naeun.

“Benar. Aku Moonsoo,” Jawab Moonsoo -adik lelaki Myungsoo.

“Bisa tolong panggilkan Myungsoo?” Pinta Naeun ramah.

“Myungsoo! Ada cewek di depan rumah!” Panggil Moonsoo sambil masuk ke rumahnya.

“Berisik! Kakak lagi belajar!” Sahut Myungsoo dari lantai dua.

Setelah mendapatkan jawaban dari kakaknya, Moonsoo kembali keluar.

“Dia sedang belajar. Mungkin dia tidak ingin diganggu,” jelas Moonsoo.

“Ah, baiklah. Terima kasih,” kata Naeun. Setelah itu, Moonsoo kembali masuk ke rumahnya. ”Oh iya, dia sedang belajar ya. Aku tidak boleh ganggu dong,”

Naeun melirik sekelilingnya. Dilihatnya sebuah sepeda serba hitam milik Myungsoo. Setelah memastikan tidak ada orang, ia menggantung kantong plastik transparan di setang sepeda Myungsoo.

“Kasihan sekali cokelatnya digantung. Tapi akhirnya kuberikan juga, eh, maksudnya kugantung juga,” gumam Naeun sambil naik ke sepedanya lalu meluncur kembali ke rumahnya.

“Dia bakal sadar gak ya kalau aku yang beri dia cokelat? Kalau sampai gak sadar keterlaluan sekali. Aku kan buat sendiri,” dengus Naeun sambil tetap mengayuh sepedanya di jalan kecil dengan jurang kecil di pinggirnya.

“Son Naeun!” Panggil seseorang dari belakang Naeun. Itu Myungsoo dan sepedanya. “Makasih cokelatnya! Enak banget! Kau bikin sendiri kan?” Tambahnya sambil mempercepat sepedanya dengan mengayuh pedal sepedanya lebih kencang.

“Eh bukan… eh iya…” jawab Naeun sambil menoleh kebelakang. Tanpa ia sadari, roda sepedanya menggilas sebuah batu yang membuatnya kehilangan keseimbangan.

“Naeun!” Seru Myungsoo sambil turun dari sepedanya dan datang kearah Naeun untuk menolongnya.

brukk

Mereka jatuh ke jurang kecil dipinggir jalan itu.

“Kau gak apa-apa?” Tanya Myungsoo.

“Myungsoo melindungiku, jadi aku tidak apa-apa…” jawab Naeun. “Kau baik baik saja?” Lanjutnya.

“Apa?! Patah kaki?” Tanya ibu Myungsoo setelah mendapati Myungsoo terduduk di sebuah klinik.

“Maaf eomoni, dia melindungiku saat aku jatuh, jadi dia yang terluka,” jelas Naeun.

“Tidak apa-apa, ini bukan salah agashi,” kata Nyonya Kim ramah.

“Maaf ya Myungsoo,” kata Naeun sambil menghadap ke Myungsoo.

“Iya, nggak apa-apa,” ujar Myungsoo dingin.

“Tapi kan…”

“Keras kepala banget. Bukan salah kamu kok,” omel Myungsoo datar. ”Sudah, sana pulang. Nanti ibumu khawatir,” lanjut Myungsoo.

“Maaf!” Naeun berlari keluar dengan air mata yang menumpuk di matanya.

“Hei…” panggil Myungsoo sambil mencoba berdiri. Tapi tetap saja ia tidak bisa.

Ini Valentine yang menyedihkan. Aku tak berani memandang wajah Myungsoo lagi. Tapi aku tidak mau. Aku ingin bisa membantu Myungsoo.

15 Februari, Hari ujian Myungsoo

“Myungsoo, sarapan!” Panggil Nyonya Kim dari bawah.

“Aku sudah di tangga! Aku tidak bisa jalan cepat,” kata Myungsoo kesal.

“Kalau tidak bisa cepat, jatahmu kumakan,” canda Moonsoo sambil meminum teh manisnya.

“Heh, tidak boleh!” sahut Myungsoo yang baru saja datang ke meja makan.

“Kau baik baik saja? Apa perlu bawa tongkat?” tanya Nyonya Kim sambil menyajikan beberapa buah sajian lagi di meja makan besar itu.

“Aku naik bus saja. Jadi takut naik sepeda,” jawab Myungsoo sambil menyendok nasinya.

“Baiklah. Hati hati ya,” pesan Nyonya Kim. Myungsoo hanya mengangguk kecil.

“Ah, sudah ada bus disana,” kata Myungsoo sambil melihat sebuah bus stop di depan kompleks perumahannya. Tapi karena tidak bisa berjalan dengan cepat, bus itu sudah meninggalkan bus stop itu. “Sialan. Bisa terlambat nih,” katanya sambil duduk di bangku yang ada di tanda bus stop itu.

“Myungsoo-gun!” Panggil seseorang dari belakang Myungsoo dengan iringan bel sepeda. Yah, siapa lagi jika bukan Naeun?

“A… ayo bonceng! Dibelakangku!” seru Naeun ragu.

Myungsoo melangkah mendekati sepeda Naeun. Membuat Naeun tinggi akan harapannya.

“Naik sepeda denganmu? Ogah,” jawab Myungsoo singkat yang membuat Naeun membeku.

“Haha, bercanda kok. Jangan dibuat serius dong,” canda Myungsoo sambil menyentil pelan kening Naeun yang tidak pernah ditutupi poni itu. Naeun memang bukan gadis berponi.

“Ayo cepat. Jangan gilas batu sampai jatuh ya,” goda Myungsoo sambil duduk di jok belakang membelakangi punggung Naeun.

“Hahaha, iya.” ucap Naeun gembira sambil mulai mengayuh sepeda berkeranjangnya.

“Aku tahu kok, Universitas S dan R berdekatan. Makanya aku belajar naik sepeda karena ingin pulang pergi bersama Myungsoo,” aku Naeun sambil terus memegang kencang setang sepedanya. “Karena aku suka Myungsoo, makanya aku ingin bersepeda denganmu meski berbeda kampus,” jelas Naeun tanpa sadar. ”Eh, bukan itu… maksudku…”

“Nah, su… sudah sampai!” sahut Naeun dengan wajah merah padam sambil menarik rem sepedanya. Mereka berdua turun dari sepeda itu.

“Makasih tumpangannya ya. Pulang nanti jemput aku di taman depan Universitas R.” kata Myungsoo.

“Sama sama. Aku pulang dulu,” kata Naeun sambil berbalik.

“Na… Naeun!” panggil Myungsoo.

“A… apa?” tanya Naeun sambil berbalik.

Myungsoo menarik tangannya, memegang wajahnya dan mengecup bibir Naeun.

“Makasih cokelatnya. Ini balasanku,” ujar Myungsoo santai. Dengan senyum manisnya, ia melambaikan tangannya dan berbalik kembali ke kampus barunya itu.

“Myungsoo!” Panggil Naeun tepat sebelum Myungsoo masuk ke gerbang tinggi itu.

“Kenapa lagi? Aku sibuk,”canda Myungsoo sambil berbalik.

“Aku hanya akan memberikan satu kata padamu,” perkataan Naeun ini membuat Myungsoo penasaran.

“Wow, itu lebih dari satu kata,” kata Myungsoo.

“Bukan yang itu, yang ini,” jelas Naeun sambil merogoh sakunya, sebuah kertas putih berukuran A3 yang dilipat sampai lima kali melipat.

Naeun membuka kertas itu. Kertas yang dipenuhi warna krayon dan dihias oleh beberapa pita dan bertuliskan saranghae.

“Hei, apa itu? Kau terlalu jauh dariku. Aku punya rabun jauh,” kata Myungsoo.

Naeun melangkah ke arah Myungsoo sambil membuang kertas A3 itu di sebuah tong sampah di depan gerbang Universitas R.

“Kita tidak butuh itu lagi sekarang,”

Naeun makin dekat dengan Myungsoo, dia berjinjit kecil dan mencium pipi Myungsoo yang putih itu.

“pesannya, saranghae!” jelas Naeun sambil membuat bentuk hati dari tangannya.

“Oh, kalau itu aku juga punya!” kata Myungsoo sambil mengambil sesuatu dari tasnya.

Sebuah cincin mainan dengan bandul sebuah hati. Sungguh kekanak-kanakan. Tapi itulah Myungsoo.

“Ini saja untuk sekarang. Lima tahun lagi akan kubelikan yang berlian,” goda Myungsoo. “Son Naeun, jadilah gadisku,”

“Jadian denganmu? Ogah,” canda Naeun mengikuti gaya bicara Myungsoo tadi.

“Jangan nangis. Bercanda kok,” kata Naeun sambil tertawa.

freetalk with pasieun!

kamfretos! akhirnya buat juga ff ini. saya sih gak ngerayain valentine. tapi ini kan remake dari sebuah komik. sebenernya baru kali ini bikin ff sepanjang ini. RCL jan lupa. makasih udah baca ff gila ini. kritik dan saran sangat diperlukan.

saya pasieun pamit undur diri. wasalam!

Advertisements

9 responses

  1. LKIM

    ahahaha MyungEun<

    February 14, 2014 at 3:40 pm

  2. lucu banget! >.<
    aku suka fanficnya, apalagi castnya myungeun 🙂
    udah bagus sih, cuma dialognya yg masih kecampur bahasa baku & tidak baku, sama kurang feel di karakter myungsoo. itu aja sih, hehe 😀
    keseluruhan, aku suka ffnya!^^

    February 15, 2014 at 1:42 pm

    • Kim Hachan

      thanks commentnya ♡

      February 16, 2014 at 4:30 am

  3. DheeZhaa

    Holla ,Ketemu lagi .
    Maaf ya Baru Komen,Soalnya baru dapet FF MyungEun Jjang .
    habis Baca FF Ini , teringat masa kecil yg baru belajar bersepeda .
    hehehehe .
    FF MyungEun selalu saya tunggu Thor.
    Faighting ^_^ .

    *kibarkn bendera MyungEun *

    February 17, 2014 at 12:05 pm

    • Kim Hachan

      Heheheehe makasih komennya

      February 21, 2014 at 10:03 am

  4. waaah lucu lucu thor..
    gemes sama Naeun Myungsoo ..

    April 26, 2014 at 1:39 pm

  5. MyungEun

    buat lagi myungeunnya ya thor .. yang romance ..

    July 10, 2014 at 9:38 am

  6. eLement 929088

    HUAHUAAA INI ONESHOT CAST MYUNGEUN PALING MANIS YG PERNAH AKU BACA XD ❤ ditunggu karya selanjutnyaaa

    December 12, 2014 at 6:23 pm

  7. Pingback: [Oneshot] Valentine | peri;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s