KIM MYUNGSOO FANFICTION

Sewindu

sewindu1

Main casts: Kim Myungsoo & OC

Genres: angst, songfic \\ Length: ficlet \\ Rating: G

Disclaimer: terkecuali plot, hak kepemilikan lainnya bukan atas nama saya. saya tidak mengambil keuntungan dari fiksi ini, murni untuk kesenangan pribadi. :]

Uluku seakan digerus. Senyum gadis di depanku tak kunjung luntur. Alih-alih, malah makin merekah. Ia nampak bahagia hari ini. Silakan saja kautilik dari raut wajahnya; kaudengar dari lantunan suaranya. Segala di dirinya bak permata; bersinar. Seyogianya aku juga merasa demikian. Kala ia bahagia, akupun demikian. Saat ia terluka, tak ayal aku merasakan pedihnya juga.

Tapi, kali ini tidak begitu.

Kukira apa tujuannya datang padaku dengan senyum mengembang dan air muka cerah. Ia mendongengiku. Berkisah tentang pangeran dan cinta bualan di masa mendatang. Tetek bengek tentang cerita bertajuk akhir bahagia.

Aku bukan alasan mengapa ia sebahagia itu.

Kemudian aku bertanya pada diriku sendiri: mengapa aku munafik? Berlagak tidak tahu tapi terluka. Sewindu lamanya aku dengan tenang memakai topeng kepalsuan. Sembunyi dari  keegoisan gadis itu yang hampir transparan. Tololnya, aku tak kunjung lesap dari kesehariannya kendati aku tahu ia menafikkan keeksistensianku.

“Menurutmu Sungyeol sibuk atau tidak akhir pekan ini?”

Aku selalu meluangkan waktuku untukmu, Bodoh.

Aku mencecap busa cappuccino di bibirku. Memberi spasi sekian detik untuknya. “Um. Mungkin sibuk. Divisinya tenggelam dalam proyek baru yang cukup besar, kudengar.” Jawabku sekenanya. Berharap ia tidak banyak menyinggung si pangeran. Karena, ya, kau tahu maksudku. Menyebalkan.

Gemeretak cangkir porselen yang menumbuk muka meja lirih terdengar. Ia mengusap dua telapak tangannya cepat-cepat. Agaknya supaya suhu dingin kapok mampir ke tubuhnya.

“Kalian beda divisi?”

Aku memanggut. Mana mungkin ia akan bertanya lebih jauh perihal di divisi apa aku bernaung. Ia hanya akan bertanya soal Sungyeol; bercerita tentang Sungyeol. Sungyeol, Sungyeol, Sungyeol.

“Setelah ada kelas, siang nanti kau ada rencana? Makan siang, mungkin?”

Ia menerawang sekilas, berpikir. Beberapa kali kerjapan, lalu berucap, “Makan siang dengan Sungyeol, jika ia tidak sibuk. Ah, kau mau ikut?”

Aku menyamarkan ringisanku dengan kekehan timpang. “Aku tidak mau jadi obat nyamuk.”

Satu tangannya mengibas cepat di depan wajah jelitanya. “Tidak. Jangan begitu. Kau sobat terbaikku.” Lantas apa yang akan kulakukan melihat kalian berdua? Makan hati? “Jika tidak ada kau, Sungyeol dan aku mustahil bisa bertemu.”

Aku menggeleng. “Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan hingga siang nanti. Kalian tidak mungkin menungguku.” Pembual. Hanya menyerahkan beberapa proposal pada pimpinan direksi saja hari ini. Selebihnya tinggal melakukan pengecekan ulang berkas dan bla-bla-bla.

“Oh. Pekerjaan apa?”

“Um. Survei lokasi dan, eh… hunting bahan-bahan. Semacam itu.”

Setelah membayar bill, aku mengantarnya ke kampus. Kelasnya mulai jam sembilan sementara kolom presensiku sudah harus terisi sebelum jam setengah sepuluh. Ah, waktu masih bisa dikejar. Salahkan rasa simpatiku pada gadis ini yang saban pagi harus menunggu di halte dengan mata setengah tertutup—kurang tidur, katanya.

“Myungsoo.”

“Ya?”

Ia melongok sedikit ke dalam jendela. “Aku titip manusia merepotkan itu, ya?”

“Oh?” aku tertawa. “Sungyeol hyung memang terkadang merepotkan. Tapi, tentu saja akan kukabari kau jika ada sesuatu.”

Ia berterima kasih dan aku melajukan kembali mobilku.

///

Sewindu sudah aku bersamanya. Sebagai pendengar tiap lansir kehidupannya; serbet penghapus laranya. Juga, sebagai orang lain dalam kubang hidupnya. Dengan segala ujar manisku padanya kuharap ia menyadari jika akulah mentarinya; bintangnya; pangerannya. Pelik, ia tidak menoleh barang sekilas.

Sewindu aku menaung di bawah kanopi bualan ciptaan sendiri.

Ia melupakanku. Kendati demikian, aku tidak berusaha membuatnya ingat.

Semuanya singkat saja. Ia kehilangan serpihan memorinya tentangku. Payah-payah aku berdoa agar Tuhan berkehendak lain. Kehendak-Nya ternyata mengubah hidupku selamanya. Rebecca, atau kerap kupanggil Re, bertemu Sungyeol yang siap mendekapnya kapan saja. Menjadi mentari, bintang, dan pangerannya yang baru.

Sejatinya, Sungyeol mengotori tajuk persahabatan kami. Ia menyukai Re sejak lama. Itu kisah usang masa SMU. Tak kusangka, ia serigala yang menerkam dalam selimutku. Sejak itu Sungyeol menjadi figur prianya. Bukan lagi aku.

Aku tersandung undukan kesetiakawanan, jika kautanya mengapa aku hanya tinggal diam. Masuk akal? Pikir sekali lagi.

Sewindu aku terisolir oleh cekungan yang makin dalam; kesakitan yang kupikir tidak berujung. Terdepak begitu saja dalam sekali kerjap. Persepsinya, aku terlalu tolol. Kepingan ingatan itu tidak akan kembali lagi ‘kan? Layaknya berkas yang dihapus permanen dari suatu peranti keras. Di mana akan kaucari berkas itu? Tidak di mana-mana.

Kaucari hingga ke ujung semestapun, tidak akan kautemukan.

Kautunggu sampai kapanpun, tidak akan kembali.

“Myungsoo.” Aku mendongak dan mendapati diriku sendiri terkesiap. “Bagaimana aku?” tanyanya, meminta pendapatku. Beri aku sekian detik untuk menggondol sejumput oksigen yang lupa kuhirup barusan. Re dalam bungkusan gaun satin putih mengembung hingga mata kaki? Anugerah Tuhan. Pertanyaannya yang diulang membuatku turun kembali ke bumi.

Aku gelagapan mengangkat kameraku. Klik. Terabadikan sudah. “Kau cantik,” gumamku. Tidak melihat ke arahnya melainkan ke hasil jepretanku. Tidak mungkin menatapnya dengan wajah memanas seperti ini.

“Sungguh?” suaranya memekik. Naik satu oktaf. Kupikir seharusnya ia telah mengerti betapa elok parasnya. Mengingat Sungyeol sering berkata padanya demikian secara terang-terangan.

Aku mengangguk. “Sumpah. Maaf kalau kadang aku suka mengejek jersey dan celana training lusuhmu. Tapi, sekarang kau… anggun sekali.” Lidahku kelu mengucap kalimat barusan.

“Terima kasih.” Katanya. Re meremas-remas jarinya, kepalanya tertunduk. Aku tidak mengerti. Tanpa aba-aba, ia berlari menerjangku. Lengannya melingkar di bahuku sementara wajahnya membenam di muka tuksedo putihku.

Tunggu. Aku mendengar isakan lirih. “Re?”

“Aku berusaha mengingatnya sejak kecelakaan itu, Myungsoo. Sama sekali tidak ada. Apapun tentangmu, aku tidak menemukannya.” Suara paraunya membuat uluku yang lain teriris menjadi bagian-bagian kecil. “Maaf. Aku minta maaf.”

Aku masih di posisiku, tidak bergeming sama sekali. Ingin kulepas jeratan lengannya, aku merindukannya. Ingin kubalas dekapannya, aku akan jadi orang tertolol di dunia.

“Jika kau tidak segera menuju altar… mereka akan mencarimu,” ucapku. Kalau Re tidak segera pergi, kubawa ke mana air mata yang mulai menggenang ini? Memalukan, bukan?

Re meloloskanku. Lucu, ia bilang make-up-nya antiair dan tidak akan luntur. Aku menepuk bahunya. Re mencintai Sungyeol. Setidaknya analogi itu diamini semua orang setelah ia, katakanlah, membuangku. Melupakan aku dan segala usahaku. Melupakan malamnya, paginya, siangnya bersamaku.

“Terima kasih, Myungsoo.”

Seperti yang kuucap: kala ia bahagia, akupun demikian. Saat ia terluka, tak ayal aku merasakan pedihnya juga. Aku mengantar lesap bayangannya dari ruang tata rias. Re mengangkat juntai gaunnya. Terlihat pumps warna perak yang kupilihkan kemarin untuknya, mengiringi langkahnya. Kuangkat kameraku. Bersiap menyimpan kenangan momen itu.

Klik.

a/n:

halo! terposnya fiksi ini menandai selesainya masa semi-hiatusku~ yeay~ masa semi-hiatus-nya selesai, berganti jadi resmi hiatus. oke. hahaha. ini agak ngelawak dikit. sebenernya, um, masih semi-hiatus, kok.

well, see ya di fiksi lainnya! :]

Advertisements

7 responses

  1. Kim Hachan

    Soswit sekalih. Btw sungyeolnya mana :<

    January 9, 2014 at 10:15 am

    • sayangnya sungyeol bukan cast disini:( tapi thanks sudah baca!:]

      January 24, 2014 at 2:57 am

  2. HINTS OF TULUS HEREEE!
    Btw, myungsoo yang kuat yah.

    January 16, 2014 at 10:44 am

    • yea, aku keranjingan Sewindu belakangan ini. thanks ya sudah baca~

      January 24, 2014 at 2:58 am

  3. pertama yang harus dikomen adalah: bahasanya keren! aku suka diksi kamu dan bagaimana peristiwa dalam cerita tergambar perlahan-lahan dan semakin jelas di akhir cerita. ternyata re sama myungsoo dulu sepasang kekasih, sebelum re kecelakaan dan sungyeol yang mengambil alih perasaan re. seakan belum habis, myung jadi semacam juru foto di pernikahan mereka, poor myung *puk puk*
    walau ceritanya galau-mellow begini, yang jelas tetep daebak! good job, author!

    January 18, 2014 at 8:49 am

    • terima kasiiiih! diksiku masih jauh banget dari bagus, masih harus banyak belajar juga. thanks ya sudah baca!:]

      January 24, 2014 at 3:06 am

  4. junor

    Baru baca ini ff, setelah googling “songfict sewindu” hehe… Mantap! bagus banget pemilihan katanya (y) 🙂

    January 8, 2015 at 4:15 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s