KIM MYUNGSOO FANFICTION

Yellow Tulips

yellow-tulips

By Kiddoyeoja

Cast :
• Park Jiyeon (T-ara)
• Kim Myungsoo (L Infinite)

Subcast :
• Krystal Jung (Fx)
• Lee Sungyeol (Infinite)

Genre : Sad, Angst, Drama, Romance

Rate : PG 15

Length : 4300word> (oneshoot)

A/N : Thanks to crussialines for awesome poster!<3
happy reading and enjoy it guys!

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

Park Jiyeon mengulas senyum termanisnya ketika menatap berbagai macam bunga di hadapannya. Ia tengah berada di toko bunga milik keluarganya. Setiap hari ia menghabiskan waktunya di toko bunga untuk merawat berbagai macam bunga yang cantik.

Pintu rumah kaca itu terbuka dan menampakan sosok pria tampan bermata elang.
“Hei!” Sapanya pada Jiyeon.

“Oh Myungsoo-ya” Jiyeon tersenyum menyapanya. Merasa senang akan kehadiran pria itu. Jantungnya berdegup cepat ketika melihatnya.

Kim Myungsoo adalah alasan ia bertahan hidup.

Park Jiyeon gadis berusia 20 tahun itu mengidap penyakit gagal jantung. Dokter mengatakan hidupnya tak akan berlangsung lama. Ia sudah mendapatkan penyakit ini ketika ia masih sangat belia. Saat pertama kali ia mengetahui penyakitnya, ia putus asa. Ia sudah pasrah jika hari esok jantungnya berhenti berdetak. Namun ketika itu ia bertemu dengan seseorang yang membuatnya ingin terus hidup.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

5 years ago.

Park Jiyeon menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Wajahnya pucat tak berekspresi. Gadis itu tengah menyirami bunga di dalam toko bunga keluarganya.

Baginya hidupnya sudah tak ada artinya lagi. Jantungnya bisa berhenti kapan saja.

Karena penyakitnya ini ia tak punya teman. Lebih tepatnya ia yang menjauh. Ia tak ingin merepotkan orang lain karena penyakitnya. Dan juga ia tak ingin orang-orang berteman dengannya karena kasihan. Ia benci dikasihani. Itu membuatnya terlihat lemah dan tak berguna.

Baginya hidup ini terasa sia-sia. Ibu dan ayahnya telah pergi lebih dulu meninggalkannya dalam kecelakaan. Sehingga ia kini diangkat oleh keluarga Park. Sungguh miris hidupnya. Di usianya yang lima belas tahun ia sudah mendapat cobaan yang berat. Ia merasa telah banyak merepotkan keluarga Park. Mereka telah membiayai hidup Jiyeon ditambah dengan pengobatan penyakitnya ini.

Maka dari itu Park Jiyeon berharap jantungnya segera berhenti berdetak.

Andai saja jantungnya dapat ia kendalikan. Ia akan menyuruhnya berhenti saat itu juga.

Pintu dari kaca itu terbuka. Jiyeon menoleh dan melihat anak laki-laki sebayanya bersembunyi dibalik pot. Anak laki-laki itu mengintip dari celah daun. Berjaga-jaga agar persembunyiannya tidak ketahuan.

Jiyeon menatap datar pria itu dan bertanya dingin. “Sedang apa kau?”

Anak laki-laki itu menoleh. Ia menarik tangan Jiyeon sehingga gadis itu ikut berjongkok di sampingnya. Anak laki-laki itu menaruh telunjuknya di bibir seraya berbisik “Jangan berisik. Nanti ketahuan”

Jiyeon menengadahkan kepalanya. Berusaha mengintip dari celah-celah daun.

Anak laki-laki itu menatap wajah pucat Jiyeon. Detik itu ia gunakan untuk mengagumi keindahan wajahnya. Cantik. Jiyeon tetap cantik meskipun dengan wajah tanpa ekspresi.

“Kau pucat sekali” Ujar anak laki-laki. “Apa kau sakit?” Lanjutnya.

“Gwaenchana.”

“Aku Myungsoo. Kim Myungsoo. Kau?” Anak laki-laki itu bertanya sembari mengulurkan tangannya.

“Park Jiyeon”

Kim Myungsoo menatap ke sekelilingnya yang penuh dengan bunga-bunga yang cantik. Seketika ia tersadar ia berada di toko bunga kini. Ia begitu terburu-buru tadi.

Myungsoo berdiri lalu berjalan dengan perlahan sambil bertanya “Kau yang merawat semua ini?”

Jiyeon ikut berdiri lalu bergumam “Neh”

Myungsoo mendekati bunga tulip berwarna Kuning dan mengambilnya satu tangkai.

“Dia cantik.”

“Tulip kuning” gumam Jiyeon sambil mengambil setangkai tulip kuning juga.

“Dia yang paling menarik diantara bunga yang lain. Aku menyukai ini.” ujar Myungsoo menghirup aroma wangi dari tulip kuning.

“Kebanyakan anak laki-laki tidak suka bunga”

“Yeah- aku berbeda karena aku istimewa.” Ujar Myungsoo ringan membuat Jiyeon terkekeh pelan.

Tunggu!

Park jiyeon terkekeh?

Hey Myungsoo orang pertama yang membuatnya tersenyum.

Melihat gadis itu tersenyum Myungsoo pun menarik kedua sudut bibirnya. Membentuk sebuah senyuman hangat. Jantung Jiyeon terasa berhenti berdetak melihat senyum itu. Dadanya sesak dan ada sesuatu yang membuncah seperti kembang api.

Penyakitnya kambuh atau…

Ia sedang jatuh cinta?

“Myungsoo-ssi menurutmu apa hidup itu menyenangkan?”

“Menyenangkan jika kau menikmatinya”

“Tapi bagaimana jika hidupmu hanya menjadi beban orang lain?”

“Kau tetap harus menikmatinya. Karena bagaimanapun hidup kau harus tetap menjalaninya hingga akhir.”

Seperti tersiram air dingin Jiyeon tersadar akan ucapan Myungsoo.

Ya.

Kim Myungsoo benar.

Anak laki-laki itu memberikan Jiyeon secercah harapan.

Dan terlebih ia ingin hidup untuk dapat bersama anak laki-laki ini.

Anak laki-laki yang menyadarkannya.

Anak laki-laki yang mengajarkannya untuk menikmati hidup.

Pintu kaca itu terbuka menampakan sosok anak laki-laki tampan. “Hei kau disini rupanya Kim Myungsoo”

Anak laki-laki itu menyeret Kim Myungsoo keluar sembari mulutnya terus bergumam.

“Yah! Sungyeol-ya lepaskan tanganmu” protes Myungsoo yang terus diseret oleh pria bernama Lee sungyeol.

Jiyeon hanya menatap datar pada mereka berdua. Tangannya melambai pada Myungsoo saat pria itu berkata “Sampai jumpa lagi Park Jiyeon”

***

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jiyeon terduduk di sebuah kursi. Tangannya merangkai sebuah buket pesanan pelanggan. Disampingnya Kim Myungsoo duduk bersantai sambil sesekali memotret berbagai bunga yang ada. Myungsoo menatap gadis itu dengan mata elangnya. Menulusuri setiap inchi wajah cantiknya yang selalu pucat namun senyum menghiasi wajahnya.

Park Jiyeon sudah berubah.

Ia menjadi ekspresif dibandingkan dulu yang selalu memunculkan wajah datar.

Ia menjadi lebih bersemangat.

Dan Myungsoo senang melihatnya. Ia tersenyum lalu mengarahkan kameranya pada Jiyeon. Memotret wajah pucatnya yang tengah berkonsentrasi pada buket ditangannya.

Jiyeon yang menyadari tengah dipotret bergumam sambil terus berkutat pada buketnya. “Apa aku terlalu cantik hingga kau mau mengabadikan wajahku?”

“Cih. Percaya diri sekali”

“Jujur saja Myungsoo-ya aku cantik bukan?”

Myungsoo tak langsung menjawab. Ia kembali mengarahkan kameranya pada Jiyeon yang merapikan sebuket mawar merah yang baru saja dibuatnya.

“Lihat kesini Jiyeon-ah

Jiyeon menatap kearah Myungsoo lalu tersenyum. Tangannya membentuk huruf ‘V’ disamping wajahnya. Myungsoo tersenyum menatap hasil yang ia potret. Ia mendekatkan dirinya pada Jiyeon lalu berbisik di telinganya.

“Kau cantik ketika tersenyum”

Pipi Jiyeon terasa panas terbakar. Dadanya berdegup kencang dan terasa sesak. Ini bahaya.

Jiyeon mendorong tubuh Myungsoo untuk menjauh. Ia menghela nafas untuk menenangkan degupannya yang semakin cepat. Ia melirik jam di tangannya. Waktunya untuk check up ke rumah sakit.

“Uhm. Aku harus pergi” pamit Jiyeon mengambil tasnya.

“Kemana?” Tanya Myungsoo tanpa melihat Jiyeon. Ia masih sibuk dengan hasil potretnya.

“Ke suatu tempat. Aku pergi dulu Myungsoo-ya. Jangan lupa kunci pintu jika keluar”

Jiyeon bergegas pergi. Selama ini Jiyeon tak pernah memberi tahu tentang penyakitnya pada Myungsoo. Ia tak ingin Myungsoo berada di sampingnya hanya karena kasihan.

Park Jiyeon benci dikasihani.

***

.

.

.

.

.

.

.

“Kita mau kemana Myungsoo-ya?”

Jiyeon terus bertanya di dalam mobil. Sementara Myungsoo tengah fokus pada jalanan di hadapannya.

“Kita sampai sebentar lagi”

Jiyeon memilih diam. Bersabar pada rasa penasarannya. Sebentar lagi ia juga akan tahu kemana Myungsoo akan membawanya. Yang pasti kemana pun itu Jiyeon akan bahagia. Dimana pun asal bersama Myungsoo ia akan bahagia.

Aroma tubuh Myungsoo tercium oleh indra penciumannya. Membuatnya merasa tenang dan nyaman. Ia menyukai aroma ini. Ia bersyukur pada Tuhan bisa hidup untuk menghirup aroma ini yang bagaikan oksigen untuknya.

Kim Myungsoo bagaikan oksigen untuknya.

Jja! Kita sampai” pekik Myungsoo senang lalu turun dari mobil.

Myungsoo membantu membukakan pintu mobil untuk Jiyeon. Dan menggengam tangannya untuk turun dari mobil. Myungsoo mengambil kain panjang dari sakunya. Melilitkan kain itu untuk menutupi mata Jiyeon.

“Apa yang kau lakukan?” Protes Jiyeon ketika matanya ditutup kain.

“Hanya sebentar saja Jiyeon-ah

Jiyeon diam. Menurut pada Myungsoo yang menuntunnya. Genggaman tangan Myungsoo terasa hangat. Membuatnya nyaman dan terlindungi. Ia tersenyum lalu mempererat genggamannya. Dan rasa hangat kembali menjalar melalui jemari mereka yang bertaut. Langkah mereka diiringi senyuman kecil Jiyeon yang bahagia.

Langkah mereka berhenti di sebuah pijakan lunak seperti tanah. Myungsoo melepas lilitan kain yang menutupi mata Jiyeon. Perlahan Jiyeon mengerjapkan matanya. Membiasakan cahaya yang masuk ke retina matanya. Jiyeon membuka matanya dan menatap ke sekelilingnya dengan mata berbinar-binar.

Ia berjalan selangkah sembari terus mengulum senyuman bahagia. Di hadapannya terdapat berbagai macam bunga tulip. Ada warna merah, peach, putih, pink, kuning dan warna yang lainnya. Ia menatap takjub sekelilingnya.

“Kau suka?”

Jiyeon mengangguk semangat.

“Terimakasih sudah membawaku kesini Myungsoo-ya

“Kau harus mentraktirku karena sudah membawamu kesini”

“Cih.” Jiyeon berdesis lalu terkekeh pelan. Ia mendekati bunga tulip kuning dan memetiknya.

“Apa bunga favoritmu?” Tanya Myungsoo.

Jiyeon menyodorkan Tulip Kuning pada Myungsoo.

“Aku suka tulip kuning”

“Kenapa?” Tanyanya lagi sambil menghirup aroma bunga itu.

Jiyeon melangkah kecil mengelilingi bunga sambil menjawab dengan pelan. Hampir berbisik.

“Karena kau bilang bunga ini cantik dan kau menyukainya” ujar Jiyeon sepelan angin.

“Apa? Aku tidak dengar” Myungsoo berjalan mendekati Jiyeon.

Jiyeon tak menjawab hanya tersenyum. Membuat Myungsoo tertawa melihat ia begitu senang pergi ke ladang bunga tulip.

Jiyeon berlari kecil sambil merentangkan tangannya mengelilingi bunga tulip yang cantik. Rambutnya melambai-lambai dibelai angin. Myungsoo mengikuti dibelakangnya. Merentangkan tangannya menerjang angin. Ia dengan segera menyusul Jiyeon hingga berlari di sampingnya.

“Myungsoo-ya gomawo. Jeongmal”

Myungsoo mengacak-acak rambutnya pelan.

“Myungsoo-ya kita sudah berteman selama lima tahun. Kau terus menemaniku selama lima tahun. Dan kau akan tetap menemaniku kan?”

“Tentu saja. Aku akan menemanimu selamanya”

Deg.

“Maukah kau berjanji akan selalu di sisiku apapun yang terjadi?”

“Aku janji.”

Jiyeon tersenyum tenang pada Myungsoo. Ia sudah berjanji untuk berada di sisinya.

“Hei ayo kita balapan” ajak Myungsoo.

“Cih. Kau seperti anak kecil” cibir Jiyeon.

“Yang penting kita bersenang-senang bukan?”

“Baiklah.”

“Siapa yang paling cepat sampai di ujung sana dia yang menang”

“Jika kalah?”

“Kau pesimis sekali” cibir Myungsoo yang mendapat tendangan kecil di kakinya.

“Jika kalah harus menggedong!” seru Myungsoo semangat.

Mwoya!”

“Ayo kita mulai!”

Myungsoo memajukan kaki kirinya. Memposisikan kaki kanannya di belakang. Bersiap untuk lari.

Hana…

 

Dul…

 

Set…

 

Jiyeon berlari secepat yang ia bisa. Ia tak ingin menggendong pria yang sangat berat itu. Begitup pun dengan Myungsoo. Ia berlari sangat cepat tak ingin kalah berlari. Yang benar saja masa ia kalah dalam berlari dengan seorang gadis. Harga dirinya bisa jatuh.

Jiyeon tertinggal jauh di belakang Myungsoo. Ia lelah. Nafasnya tersengal-sengal. Ia berhenti sejenak untuk mengumpulkan oksigen. Kepalanya terasa pusing.

Jiyeon ingat sesuatu.

Ia sakit. Dan ia tidak boleh terlalu lelah.

Tapi sudah terlanjur.

Jiyeon memejamkan mata mencoba menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Jantungnya kembali berulah. Rasa nyeri menjalar dari jantung ke seluruh tubuhnya. Nadinya berdenyut teramat lambat. Ia mulai lemas. Ia hampir kehilangan keseimbangannya karena kakinya terlalu lemas. Keringat dingin mengalir di sekitar pelipisnya.

Dalam remang-remang ia melihat Myungsoo sudah jauh di depan sana. Nafasnya terasa sesak kini. Ia meremas dada sebelah kirinya untuk menahan rasa sakit. Tapi tetap saja rasa sakit itu malah semakin menjadi-jadi.

Tuhan, apa aku akan mati sekarang?

“Jiyeon-ah!” Teriak Myungsoo di kejauhan sana sambil melambaikan kedua tanganya. “Kau harus menggendongku!”

Jiyeon membuka mulut untuk menjawab. Namun tak ada kata apapun yang keluar. Rasa sakit itu seakan menahannya untuk mengeluarkan suara.

Bagaimana jika Myungsoo melihatnya seperti ini?

Jiyeon tak ingin Myungsoo melihatnya seperti ini. Jiyeon tak ingin Myungsoo tau tentang penyakitnya. Dilihatnya lagi Myungsoo yang kini tengah sibuk dengan bunga di genggamannya. Kesempatan itu digunakan Jiyeon untuk pergi diam-diam. Dengan langkah yang berat ia berjalan menjauh dari Myungsoo. Meninggalkan ladang tulip itu. Ia menengok ke belakang dan melihat Myungsoo yang masih asyik sendiri dengan bunga.

Myungsoo-ya mianhae…

Jiyeon berjalan keluar sembari menahan rasa nyeri di dada. Ia langsung menyetop taksi pertama yang melintas kala itu.

Myungsoo mengamati bunga tulip kuning dalam genggamannya. Ia hendak memberikannya pada Jiyeon.

“Jiyeon-ah” panggilnya. “Cepat gendong aku” katanya lagi sambil berbalik.

Namun saat ia berbalik ia tak mendapati sosok gadis berambut cokelat panjang itu. Ia menghernyitkan dahinya. Mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru ladang. Tetap saja ia tak menemukan gadis itu.

“Kau bersembunyi karena tak ingin menggendongku huh?” Gumam Myungsoo sembari berjalan mencari gadis itu.

Matanya tertuju pada balik pohon yang cukup besar. Myungsoo berpikir pasti Jiyeon bersembunyi disana.

“Kau benar-benar licik Jiyeon-ah”

Ia berjalan dengan perlahan dan hati-hati. Berusaha untuk tak menimbulkan suara apapun.

“Aku akan menemukanmu sebentar lagi” gumamnya menyeringai.

Ia sampai pada pohon besar itu. Tangannya meraih batang pohon dan mengendap-endap ke sisi pohon yang lainnya. Namun langkahnya terhenti karena ponselnya berbunyi. Ia langsung mengambilnya dari saku dan membaca pesan yang masuk.

From : 박지연

Myungsoo-ya mianhae …
Aku pulang terlebih dahulu tanpa pamit.
Aku sangat terburu-buru.
Mianhae. Jeongmal.

“Cih jadi kau meninggalkanku?” Gumam Myungsoo pada layar ponselnya.

***

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari ini hari minggu. Dimana tak banyak aktivitas yang orang-orang lakukan. Myungsoo duduk santai di depan tv. Tangannya menekan tombol remot mengganti-ganti channel. Namun ketika ia mendengar bel rumahnya berbunyi ia langsung melompat berdiri. Ia berjalan ke arah intercom. Ia tersenyum dan langsung membuka pintu ketika melihat Jiyeon datang membawa berbagai bahan makanan. Hari ini mereka akan memasak bersama sebagai permintaan maaf Jiyeon karena meninggalkan Myungsoo di ladang tulip kemarin.

“Apa menu kali ini Chef Park?” Tanya Myungsoo seraya mengambil plastik berisi bahan makanan dari tangan Jiyeon.

“Uhm. Entahlah”

Jiyeon langsung menuju dapur dan Myungsoo mengikutinya di belakang.

“Bagaimana jika kita mencoba masakan itali?” Ajak Myungsoo membuka kulkas dan mengambil apel merah.

“Atau masakan jepang?” Jiyeon mengeluarkan berbagai macam makanan dari dalam plastik.

“Sushi. Kita buat sushi” katanya lalu menggigit apel merah itu.

“Baiklah.”  Jiyeon segera memakai celemek dan menyiapkan alat-alatnya.

“Sebentar-” gumam Myungsoo langsung menuju kamarnya mencari Handycam.

Myungsoo mengarahkan lensa kameranya menghadap wajah tampannya. Lalu menekan tombol record.

“Halo aku Chef Kim yang paling tampan seperti bintang hollywood.” Ujarnya sambil melambaikan tangan. Lalu diarahkan Handycamnya menghadap Jiyeon yang sibuk mengeluarkan belajaannya dari plastik.

“Dia sahabatku Chef Park. Dia sangat pintar memasak tapi tetap saja tak jauh lebih baik dariku”

“Cih. Mwoya!” Jiyeon mencibir.

“Hey lihat kesini dulu. Sapa para pemirsa dirumah”

Annyeong!” Jiyeon melambaikan sebelah tangannya sambil tersenyum.

“Lihat! Senyumnya seperti nenek sihir”

“Yak! Mati kau Chef Kim” pekik Jiyeon kesal sedangkan Myungsoo hanya tertawa mendengarnya.

Myungsoo menaruh handycamnya diatas meja putih. Mengarahkan kameranya pada dapur yang terdapat Jiyeon disana. Lalu ia segera bergabung dengan Jiyeon yang sudah siap dengan alat dan bahan-bahan membuat sushi.

“Jadi apa saja bahan-bahannya Chef Park?”

“Yang pertama ada nasi” Jiyeon menunjuk mangkuk yang penuh nasi.

“Hm ada gula, garam, dan cuka. Oh! Daging asap juga. Ini pasti akan lezat” ujar Myungsoo menambahkan.

Setelah semua bahan mereka sebutkan satu per satu. Mereka mulai membuatnya. Jiyeon mulai mencampurkan gula, garam dan cuka ke dalam nasi. Myungsoo mulai memotong wortel.

“Hey jangan banyak-banyak memberikan garamnya” Myungsoo mengingatkan.

“Kurasa ini cukup.”

“Tidak. Pasti itu sangat asin”

“Cih kau bahkan belum mencobanya”

“Tanpa mencobanya pun aku sudah- Aaaa!” Myungsoo memekik kesakitan karena tanpa sengaja ia mengiris jemarinya sendiri.

Jiyeon membersihkan luka di jemari Myungsoo dengan air. Jari Myungsoo terasa perih terkena air. Ia sedikit meringis dan menarik tangannya. Namun tak jadi karena ia langsung mendapat tatapan tajam dari Jiyeon.

Jiyeon mengobati luka Myungsoo dengan hati-hati. Sebenarnya gadis ini cemas sekali tadi.

“Karena kau acara memasak kita jadi tertunda” omel Jiyeon pada Myungsoo.

“Jadi kau menyalahkanku?”

“Ya. Kau bilang kau Chef profesional tapi kenapa memotong wortel saja tidak bisa?”

“Yak! Kau merasa hebat sekarang eoh?”

“Pada kenyataannya aku memang hebat”

“Begitukah?”‘ Ujar Myungsoo sembari menempelkan sebutir nasi di hidung Jiyeon.

Mwoya!” Jiyeon kembali menempelkan nasi di pipi Myungsoo sebagai balasan.

“Eish ini lengket!” Protes Myungsoo

“Kau yang mulai terlebih dahulu” Jiyeon menjulurkan lidahnya pada Myungsoo. Pria itu mencubit pipinya pelan sebagai balasan.

Senang rasanya seperti ini. Suasana hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Kim Myungsoo membuatnya merasa hangat dan bahagia. Andai saja ia bisa terus merasakan seperti ini.

“Uhm Myungsoo-ya” gumam Jiyeon pelan.

“Hm?”

“Jika aku tidak ada apa kau akan melupakan aku?” Jiyeon menatap serius pada Myungsoo. berharap mendapat jawaban yang enak terdengar.

“Memang kau ingin pergi jauh eoh?” jawab Myungsoo santai.

“Tidak. Aku hanya bertanya”

“Cih. Jika tidak kenapa bertanya?”

“Kau hanya perlu menjawabnya”

“Kau ingin tahu?”

Jiyeon menganggukan kepalanya. Kemudian Myungsoo memberinya isyarat untuk mendekatkan telinganya. Jiyeon mendekatkan telinganya pada Myungsoo. lalu…

“YAK!!” Pekik Jiyeon sebal karena baru saja Myungsoo menaruh sebutir nasi di pipi mulus gadis itu.

 

***

Jiyeon dan Myungsoo duduk berhadapan di meja makan. Menikmati makanan yang mereka buat tadi. Setelah membuat dapur Myungsoo berantakan akhirnya jadi juga makanan yang mereka buat.

“Rasanya tidak buruk” komentar Myungsoo.

“Menurutku ini enak” sahut Jiyeon sembari mengunyah.

“Oh ya Jiyeon-ah aku ingin bertanya” Myungsoo menampilkan wajah serius.

Mwoga?

“Kau pernah jatuh cinta?”

Deg.

Jiyeon terdiam. Jantungnya bertalu saat Myungsoo menanyakannya.

“Jiyeon-ah kurasa aku sedang jatuh cinta”

Tidak. Jiyeon tidak ingin mendengar ini sungguh!

“Aku jatuh cinta pada gadis di kampusku. Kau tahu? Dia cantik sekali. Dia primadona di kampus!”

Hati Jiyeon tersayat mendengarnya. Jiyeon tak ingin mendengarnya. Namun kata-kata itu masuk ke indra pendengarannya. Berputar-putar di otaknya. Jantungnya serasa dipukul. Perih sekali.

“Benarkah?” Tanya Jiyeon pelan dan datar.

Myungsoo mengangguk semangat. Ekspresinya berubah ceria ketika membahas tentangnya.

“Namanya Krystal Jung. Dia pindahan dari California. Kau harus melihatnya dia benar-benar cantik!”

“Kau berpacaran dengannya?”

“Belum. Tapi aku akan membuatnya jadi pacarku. Dan saat itu orang pertama yang akan kuberitahu adalah kau.”

Nafas Jiyeon terasa sesak. Dadanya berdenyut nyeri. Badannya terasa lemas. Ia meremas ujung bajunya untuk menahan sakit.

“Myungsoo-ya aku harus pulang” pamit Jiyeon.

Ia langsung berbalik menuju pintu rumah Myungsoo. Air matanya mengalir membentuk sungai kecil yang deras. Kesakitan mengiringi setiap langkahnya.

Bisakah aku mati sekarang?

***

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di akhir musim semi ini Jiyeon terbaring lemah di sebuah rumah sakit. Keadaannya semakin memburuk saat mereka memasak bersama kemarin lalu. Wajah cantiknya terlihat pucat dengan tubuh yang lemah. Sampai saat ini Myungsoo belum tahu bahwa Jiyeon memiliki penyakit gagal jantung. Jiyeon memang sengaja untuk tidak memberitahunya. Dia pikir ia hanya akan menyusahkan Myungsoo jika pria itu tahu.

Namun Jiyeon merindukan pria itu.

Merindukan tatapan tajam dari mata elangnya.

Merindukan senyumannya.

Dan semakin ia memikirkan Myungsoo ia merasa sakit. Hatinya terasa sakit. Nafasnya kembali sesak. Seakan asupan oksigen di udara tak cukup lagi. Ia hanya bisa mengeluarkan tetesan bening dari matanya untuk meluapkan rasa rindunya.

Ia bangkit dari tidurnya dengan susah payah. Mencoba duduk bersandar pada bantal. Ia mengambil kertas dan pulpen yang ada diatas meja samping ranjangnya. Ia mencoba menuliskan beberapa kata. Tulisannya berubah sangat jelek sekali karena tangannya terasa lemas. Namun ia tetap menuliskannya. Meskipun setetes demi tetes air matanya jatuh membasahi kertas.

***

Kim Myungsoo memasuki toko bunga milik keluarga Jiyeon. Namun ia harus menelan kekecewaan saat penjaga toko bunga mengatakan ia tak tahu dimana Jiyeon berada.

“Dimana sebenarnya gadis itu?” Gumam Myungsoo sambil melangkahkan kakinya entah kemana.

Sudah beberapa hari ini ia tak bertemu dengan gadis itu. Myungsoo bahkan berkali-kali menengok ke toko bunganya namun hasilnya tetap sama. Ia bertanya-tanya dalam benaknya.

Apa aku melakukan kesalahan padanya?

Tanpa sadar ia sudah berada di depan cafe. Tempat biasa ia duduk bersantai bersama Jiyeon. Myungsoo memasuki cafe yang langsung disambut aroma kopi yang hangat. Ia terduduk di meja pojok samping jendela. Memesan black coffe favoritnya. Matanya menangkap sosok gadis berambut hitam ikal panjang. Gadis itu sedang asyik menyeruput minumannya. Mata Myungsoo berbinar melihatnya. Jantung berdegup lebih cepat dari biasanya.

Myungsoo memutuskan untuk menghampirinya.

“Boleh aku duduk disini?”

Gadis itu terdiam namun setelah beberapa saat ia memperbolehkannya.

“Kau Krystal Jung bukan?”

Neh. Bagaimana bisa kau tahu?”

“Hey kau begitu populer”

“Kurasa aku tidak sepopuler dirimu Kim Myungsoo.”

“Hey kau tahu namaku?”

“Tentu saja. Kau cukup populer diantara para gadis.”

Myungsoo menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil berkata “Aku tak sehebat itu”

“Tidak. Kau hebat sekali saat bermain gitar di acara sekolah kemarin”

Jinjja? Kau juga menari sangat keren waktu itu”

“Benarkah? Kupikir tarianku kacau sekali.”

“Tidak. Kau sungguh hebat!” Myungsoo mengacungkan jempolnya pada sang gadis. Krystal terkekeh pelan melihatnya.

Cukup lama ia bebincang-bincang dengan gadis itu. Mereka cepat sekali akrab. Sesekali mereka tertawa bahkan hingga terpingkal-pingkal.

Aku harus memberitahukan ini pada Jiyeon nanti.

 

 

***

Sementara itu di sebuah ranjang rumah sakit seorang yeoja berambut cokelat panjang tengah menahan kesakitan. Tangan kanannya memegang pulpen dengan gemetar. Sementara tangan kirinya meremas dada kirinya yang terasa nyeri. Penyakit sialan itu kembali datang. Kali ini terasa sangat sakit. Lebih sakit daripada yang biasanya. Jantungnya terasa lemah berdetak. Keringat dingin mengalir dari pori-pori kulitnya. Nafasnya terasa sesak. Tenaganya terasa menghilang entah kemana. Membuat pulpen yang ia genggam terjatuh.

Tangannya menekan bell untuk memanggil perawat. Air matanya mengalir bercampur dengan keringat dingin. Rasanya ia ingin sekali memejamkan matanya namun tiba-tiba bayangan Kim Myungsoo yang sedang tersenyum hadir dikala kesakitannya. Membuatnya sedikit bertahan. Bahkan disaat tengah kesakitan yang luar biasa hanya pria itu yang ia pikirkan. Kenyataan bahwa pria itu tak ada di sisinya saat ini membuat kesakitannya bertambah.Jiyeon meremas seprai putih itu dengan kuat. Mencoba melampiaskan kesakitannya pada seprai putih yang mulai kusut.

“Myungsoo-ya” gumamnya.

Tanpa sadar Park Jiyeon menggumamkan namanya. Ia benar-benar ingin bertemu dengannya. Setidaknya sebelum ia pergi jauh ke dunia yang berbeda.

Tak lama seorang perawat dan dokter masuk ke ruangannya. Sang dokter dengan segera memeriksa Jiyeon. Dengan raut wajah sedikit cemas ia segera mengambil tindakan. Sedangkan sang perawat membantu dokter untuk menyiapkan alat apa saja yang ia butuhkan. Tanpa sengaja perawat itu menemukan kertas lusuh yang sedikit basah. Diambilnya kertas itu yang langsung ia masukan ke dalam saku.

 

***

Myungsoo tertawa saat Krystal menceritakan kejadian lucu di kampus. Mata itu menyipit saat ia tertawa. Tak sengaja ia menjatuhkan cangkirnya ketika akan mengambilnya. Membuat tawa mereka terhenti. Bahkan semua mata di cafe tertuju padanya. Namun Myungsoo tak peduli. Yang ia pedulikan adalah sesuatu yang janggal yang ada di benaknya. Ia teringat pada sahabatnya Park Jiyeon.

Ia tertegun sejenak. Apa sesuatu terjadi pada gadis itu?

Segera saja ia bangkit dari duduknya. Membuat Krytal Jung si gadis populer di kampus terkejut.

“Myungsoo-ssi eodiga?” Teriak Krystal di belakang sana. Namun Kim Myungsoo tak mendengarnya. Ia bahkan sedikit berlari karena rasa cemas mulai menghinggapi hatinya.

Kakinya berjalan begitu saja ke arah rumah Jiyeon. Hingga tanpa sadar ia sudah berada di depan rumah bercat putih yang mewah. Ini kedua kalinya ia berada disini. Yang pertama ketika ia mengendap-endap mengikuti Jiyeon saat pulang dari toko bunga. Sampai sekarang Jiyeon tak pernah memberitahu dimana rumahnya. Bagaimana orang tuanya. Atau kehidupannya sebelum mengenal Myungsoo. Jiyeon tak pernah memberitahunya. Gadis itu sangat tertutup. Membuat Myungsoo yang harus mencari tahu sendiri tentang gadis itu. Ditambah gadis itu tak punya teman selain Myungsoo.

Myungsoo melangkah maju menemui satpam yang berada di balik gerbang. Ia menyapanya singkat lalu langsung bertanya maksud dan tujuannya.

“Oh Nona Park tidak ada dirumah. Ia berada di rumah sakit” ujar satpam bertubuh gemuk itu.

Deg.

Tanpa aba-aba ia langsung berlari menuju rumah sakit. Kakinya melesat dengan sangat cepat. Ia cemas. Oh sangat cemas hingga ia sedikit membentak sang recepsionist ketika menanyakan ruangan Jiyeon.

Ia sudah sampai dihadapan ruangan Jiyeon. Segera saja ia mengulurkan tangannya untuk membuka pintu. Pintu ruangan terbuka dan kosong seketika. Hanya ada ranjang putih yang rapih dan bersih, meja putih di sampingnya dan gorden berwarna senada.

Myungsoo menatap bingung pada ruangan di depannya. Harusnya Jiyeon berada disana bukan? Apa ia salah masuk kamar?

“Maaf apa kau Tuan Kim Myungsoo?” Sebuah suara asing membuat Myungsoo menolehkan kepalanya.

“Ya. Benar aku Kim Myungsoo”

Perawat itu menyodorkan amplop padanya sambil berkata “Itu dari Nona Park Jiyeon”

“Dimana Jiyeon sekarang?”

“Dia baru saja dipindahkan ke kamar mayat”

Deg.

Myungsoo membeku. Tak dapat menggerakkan anggota tubuhnya sama sekali. Bahkan berkedip pun ia tak bisa. Jatungnya serasa dipukul dengan kuat. Sesuatu di dalam hatinya robek dan hancur. Sesak sekali.

“Nona Park juga memberikan ini padaku” perawat itu menyodorkan setangkai bunga padanya.

Tulip kuning.

Myungsoo mengambil bunga tulip kuning itu dengan tangan gemetar. Hatinya seperti berlubang sangat dalam. Ditambah dengan suara Jiyeon yang terngiang di kepalanya.

“Aku suka tulip kuning”

“Karena kau bilang bunga ini cantik dan kau menyukainya”

Myungsoo berjalan dengan pandangan kosong menuju kamar mayat. Ia berdiri tepat di samping ranjang tubuh Jiyeon yang tak bernyawa. Ia menyingkap kain putih itu sebatas perutnya menampakan wajah pucat yang cantik. Di sentuhnya pergelangan tangan Jiyeon yang dingin dan tak berdetak. Hal ini seakan meyakinkan Myungsoo bahwa gadis itu telah tiada. Telah pergi jauh.

Jika aku tidak ada apa kau akan melupakan aku?”

 

“Memang kau ingin pergi jauh eoh?”

 

“Tidak. Aku hanya bertanya”

 

“Cih. Jika tidak kenapa bertanya?”

 

“Kau hanya perlu menjawabnya”

 

“Kau ingin tahu?”

 

Air mata Myungsoo mengalir melalui sudut matanya. Sesak, perih, sakit memenuhi rongga dadanya.

Pabbo!” Gumam Myungsoo pada gadis tak bernyawa yang terbaring pucat.

Air matanya mengalir sangat deras seperti sungai Han. Sulit sekali baginya untuk mengatakan bahwa ini semua kenyataan. Ini bagaikan mimpi buruk. Secepat itu kah Jiyeon pergi?

Bahkan Myungsoo belum bertemu dengannya di saat terakhirnya.

Penyesalan menggerogoti hatinya. Harusnya ia ke rumah Jiyeon lebih cepat. Harusnya ia tak usah berbincang bersama Krystal. Harusnya ia mencari tahu keberadaan Jiyeon lebih tekun. Harusnya ia mengetahui apapun tentang Jiyeon.

Dan harusnya ia sadar lebih awal tentang betapa ia mencintai gadis itu.

 

 

***

Myungsoo-ya.
Saat kau membaca ini mungkin aku sudah pergi jauh.
Sangat jauh.

Kau tahu?
Sebenarnya aku tak ingin pergi.
Aku masih ingin terus bersamamu.
Tapi takdir tak berjalan seperti apa yang kumau.
Mungkin ada baiknya juga aku pergi sekarang.
Karena aku tak akan jadi pengganggu kebahagiaanmu dengan Krystal.
Semoga kau bahagia bersamanya.
Kim Myungsoo.
Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.
Aku pengecut tak bisa mengaku tentang perasaan ini padamu.
Aku tak mau menghancurkan persahabatan kita.

Myungsoo-ya aku ingin berterimakasih padamu.
Berkat kau muncul di kehidupanku aku jadi punya semangat hidup.
Kau membuatku kuat untuk bertahan dengan penyakit ini.

Terimakasih telah menemaniku selama ini.

Hidupku terasa sempurna saat bersamamu.
Kau yang menghapus awan gelap di kehidupanku.
Kau yang memberikan pelangi di hidupku.
Kau yang membuat hidupku berwarna.
Salah satunya berwarna kuning seperti tulip kesukaanmu.
Ah tidak. Kesukaan kita.
Kuning yang cerah dan terang menyinari kehidupanku.
Namun apa kau tau apa arti tulip kuning?
Tulip kuning berarti cinta yang tak ada harapan.
Cocok sekali bukan denganku?

Myungsoo-ya.
Kuharap kau bahagia.
Kumohon hiduplah dengan baik.
Kurangi sifat narsismu, jangan terlalu sering minum kopi itu tak baik bagi lambungmu. Kau harus jaga kesehatanmu. jangan telat makan, dan lindungi orang-orang di sekitarmu.

Park Jiyeon.

Pipi Myungsoo sudah basah dengan air mata. Baru kali ini ia menangis sampai seperti ini. Penyesalannya semakin lebar di rongga dadanya. Rasa penyesalan yang semakin menyesakkannya. Di otaknya berputar kenangannya bersama gadis itu. Membuat rasa sakit yang semakin dalam.

Ini semua salahnya.

Bahkan Myungsoo belum mengucapkan satu kata maaf pun padanya.

Ia menatap bunga tulip itu dengan lirih. Seolah-olah bunga itu adalah Jiyeon.

“Jiyeon-ah maaf. Dan-”

Saranghae

 

***

END

Advertisements

69 responses

  1. Wina

    Akhir yg mengharukan.. MyungyeoN tdk brsatu,,tpi ff.nya kren, feelnya dpt bnget,, dtunggu ff myungyeon slanjutnya

    December 15, 2013 at 10:47 am

    • makasihh:—) iya wait next myungyeon ff yappp ehehe xD

      December 15, 2013 at 11:01 am

  2. Hyunka

    Ige bwoya-ahh?? I hate sad ending… Huaaaa banjirr air mata baca nya.

    Debakk chingu..
    tapi jangan bikin cerita sad ending jeballl
    Gak mau Myungyeon berpisahh. Hikss

    December 15, 2013 at 11:08 am

    • /lempar tisu/ ehehe makasih ya udah baca sama komen:-) lain kali aku bikin yang fluff deh wk=))

      December 15, 2013 at 11:27 am

  3. myungie

    Ff nya sedih, bikin aku nangis ;;-;; aigoo kasian myungsoo ditinggal jiyeonnn

    December 15, 2013 at 11:10 am

    • Makasih yaaa udah baca sama komen:-)

      December 15, 2013 at 11:29 am

  4. Huwaaaaa Chingu sumpah kerennnn ceritany q Pe nangis hiks hiks sedih sih jiyi meninggal tapi ga nyesek kok bagus feelny dapat

    Walau myungyeon ga bersatu tapi udah seneng tau Lo L juga mencintai Jiyeon 😭😭😭😭

    Ditunggu Ff myungyeon selanjutny Chingu tapi yg Happy ending y fighting 😊😊😊

    December 15, 2013 at 11:29 am

    • Thanks for read and comment:-) awwkkaayy tunggu next ff myungyeon yang happy ending ya! Love♡

      December 15, 2013 at 11:31 am

  5. rhea rose

    T_T Huwaaa dluar hujan tp kmar q knapa jd bnjir #plaak lebay daah
    duh sungguh menyedhkan skali &jiye0n udah pergi tanpa tau perasaan myungsoo yg sbenarny .. Naas 😦
    tp kren crtany feelny dpet bgt ^^ mpek mwek2 q hehehe

    December 15, 2013 at 12:26 pm

    • Aduh segitunyakah;~; hwhw makasih ya udah baca sama komen! Love♥

      December 15, 2013 at 2:48 pm

  6. teenlite

    Hwaaa nyesek banget.. banjir airmata.. Cinta yg d pendam emang menyiksa, dan kadang kita baru sadar cinta itu ada ketika sudah kehilangan.. Kenapa hrus sad ending.. Tp tetep bagus kok..

    December 15, 2013 at 1:06 pm

    • Aku lagi suka bikin ceita yang sad ending soalnya hwhw. Dan mereka bedua cocok banget dapet peran begituan=)) thanks for read and comment!

      December 15, 2013 at 2:50 pm

  7. Nrl

    Baru tau klu tulip kuning maknanya cinta tak berbalas.
    Hiks kasian sekali jiyi.

    December 15, 2013 at 1:14 pm

    • iyaapp aku abis searching dari gugel itu juga hwhw=)) thanks for ead and comment! love♥

      December 15, 2013 at 2:57 pm

  8. Hidra

    Myungsoo PABOOOOO !!!!! T_T

    December 15, 2013 at 1:39 pm

    • tapi dia ganteng jadi ya termaafkan:-(

      December 15, 2013 at 2:58 pm

  9. aishh oppa percuma nyesel,, jiyeon na uda gag ada eohh

    December 15, 2013 at 2:21 pm

  10. titis

    huwaaaa nangis sesenggukan..

    December 15, 2013 at 2:31 pm

  11. jiyeon always

    sedihh huhu hiks hiks, knpa skrg kbnyakn ff myungyeon sllu sedih. next ff jiyi lainnya ^^

    December 15, 2013 at 3:42 pm

    • Mereka cocok buat peran sedih sih:–( okay thanks for read and comment

      December 15, 2013 at 3:53 pm

  12. hhuuuaaaaa 😥 Igeo bwoya ???? Sad !!! KEREN thor.. (y)
    Nangiss dereessss ini thorrr…
    sampe ingus pun ikut2an netesss T.T *jorokmemang*
    MyungYeon emang Jjang !!!
    Myungsoo babo,, jiyi udah pergi baru dehh Nyadarrr u,u
    ditunggu ff myungyeon karya mu lagi thor.. *shrott* *elapingus* 😛

    December 15, 2013 at 3:42 pm

    • Aduh sampe segitunya;~; okay makasih yaaa! Love♥

      December 15, 2013 at 3:54 pm

  13. huaaaaaaa author kau sukses bikin nangis.knp myungyeon hrus d psah?huaaaaa ikut nngis ah brsma myung” krna d tiggal jiyi.smpah in mghrukan.aah cnta yg trlmbat.cnta L yg trlmbat.bnr” sdih aq.thor d tuggu ff myungyeon slnjutny tp yg cria ya thor?aq ingn ktw.fiting

    December 15, 2013 at 3:44 pm

    • aku belom bisa bikin yang comedy:-( takut garing gitu hwhw. Tapi bisa di coba sih ehehe=)) thanks for read and comment

      December 15, 2013 at 3:55 pm

  14. nia joe or ljoe

    Benar bagus ff nya thor
    Feelnya dpt banget..
    Mski sad ending tp ttp suka..
    Yaa,,walaupun agak tak rela si myungyeon tak bersatu…
    Tp untunglah trnyata Myungsoo juga pnya perasaan yang sama..dan bodohnya ia tak menyadari hal itu!!! -_-
    Next ff myungyeon…

    December 15, 2013 at 4:30 pm

    • Makasih udah baca dan komen:—) love!♥

      December 15, 2013 at 4:39 pm

  15. Maiianx honeys

    uuuuu apa ini T__T
    jiyi meninggal 😥
    kenapa di saat jiyi kesakitan myungie malah lgy ketawa” am cw lain , sedangkan jiyi lagy merasa kesakitan , gg adil buat jiyi 😦
    KERENNNNNN FF nie bikin aq nanggis di malam hri 😥
    semoga next ff myungyeon nya harus happy ending logh thor , harus #maksa -_-
    FIGHTINGGGGG

    December 15, 2013 at 5:01 pm

    • Ahaha iya lain kali aku bikin yang happy ending:—)

      December 16, 2013 at 12:49 am

  16. salsa

    Huwaaa .. Aku nngis ! T_T .. Emngnya bnar itu arti bunga tulip ? Pdhal aku ska bnget ama tulip ! Lnjut sma ff terbaru lgi ya eon , dan jngan lupa main castnya ji eon !

    December 15, 2013 at 6:45 pm

    • iyaa tapi tiap warna punya arti yang beda-beda sih=)) aku juga suka tulip<333 okay! thanks for read and comment<3

      December 16, 2013 at 3:07 am

  17. chocobanana

    ffnya bagus pake bingit feelnya dapet peeeet walopun akhirnta keciwa karna sad ending hiksss 😥 sepanjang bacanya bikin hati nyesek apalagi pas myung bilang dia suka krys, huwaaa poor jiyi T.T myung telat nyadar kalo dia cinta sm jiyi pas uda nyadar percuma uda telat jiyi uda pergi bahkan mereka ga ada momen terakhir di detik2 sebelum jiyi pergi. next ditunggu ff myungyeon lainnya kekeke^^~

    December 15, 2013 at 6:59 pm

    • Thanks fo read and comment! Kalo jd myung aku bakal nyesel seumur hidup kali ya-_-wk

      December 16, 2013 at 12:51 am

  18. aigoo.. author harus tanggung jawab nih..
    aku sampai nangis bacanya sumpah 😥
    feelnya dapat bgt 😥 menyedihkan skali aigooo

    December 16, 2013 at 1:05 am

    • /lemparin tisu/ tuh udah tanggung jawab kan?wk. Aduh makasih ya udah baca sama komen! Love♥

      December 16, 2013 at 1:28 am

  19. mkdJY

    Aku gak suka sad ending . Krn bkin nyesekkkkk . Huaaaaaa
    Tapi aku suka critanyaaaa ..
    Knp uri jiyeon telah tiadaaa . Gak rela myungyeon gak bersatu .huuuhuu

    December 16, 2013 at 7:29 am

    • Ahaha thanks for read and comment! Love♥

      December 16, 2013 at 11:13 am

  20. red beans 97queeny

    wah daebak!! sukses bikin mewek T.T

    December 16, 2013 at 10:33 am

    • ahaha /lempar tisu/ makasih udah ninggalin jejak:–)

      December 16, 2013 at 11:15 am

  21. Djeany

    Nyesek,bcx,Akhir yg menyedihkan.ternyata myung hanya nganggap jiyeon it cm tmn.stlah mati br blg saranghae.dtggu ff jiyeon lainx.

    December 16, 2013 at 1:25 pm

    • Awkayyy:-) wait next ff yappp! Love♥

      December 16, 2013 at 1:57 pm

  22. bikin nangis bacanya ;-; daebakk..bikin happy ending ya thor

    December 16, 2013 at 1:40 pm

    • okay~ lain kali bikin yang fluff deh:-)

      December 16, 2013 at 3:40 pm

  23. kyeon

    nyesek banget ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
    myungsoo ru sdar akan perasaannya di akhir,,,,, sudah telat,,,,,,,,,,
    jiyeon terlanjur sudah pergi ke dunia lain….
    keren bgt thor ff’ya,,,,,,,
    di tungu project ff jiyeon myungsoo lain’ya y,,,

    December 16, 2013 at 3:35 pm

    • tunggu yaappp=)) okay thanks for read and comment! love♡

      December 16, 2013 at 3:38 pm

  24. hiks hiks T_T thor…knpa jiyi onnie meninggal sih..ngis bwang kan q jdinya..,,tp keren feelnya dpt bgt…,,bwt ff myungyeon lgi yah..tp yg happy ending..:D
    Keep Hwaiting!!!

    December 16, 2013 at 4:36 pm

    • Okay lain kali aku bikin happy ending yaapp=)) thanks for read and comment!love♡

      December 17, 2013 at 12:58 am

  25. euis queenelf

    hizkh…hizkh..hizkh gx tega ngliat myungyeon gx brsatu
    Myungsoo oppa knpha bru sdar klau yeoja yg d’cintai nya itu jiyeon
    V kren dpet bgd feel nya mpe buat q nangis
    Next author bkin ff myungyeon lg v yg happy ending

    December 16, 2013 at 11:44 pm

    • Iyaa makasih yaaa<33 tunggu next ff yapp!

      December 17, 2013 at 1:00 am

  26. Ifahsiwonest

    Huahhh nyesekk hiks hiks
    MyungYeon ngak bersatu,, tapi perasaan mereka sama-sama saling mencintai..
    Penyesalan selalu datang belakangan
    Ditunngu ff MyungYeon lainnya thor

    December 17, 2013 at 12:40 am

    • Iyaa myung telat banget yaa-_-wk oke thanks udah berkunjung dan meninggalkan jejak!love♥

      December 17, 2013 at 1:01 am

  27. yuli

    Hiks…hiks.. Sedih bgt ceritanya.
    Tp deabak thor..
    Ditunggu ff selanjutnya..

    December 17, 2013 at 11:56 am

    • Aku ga sehebat itu kok:—) okay! Love♡

      December 17, 2013 at 1:18 pm

  28. Kim Hachan

    nah! ff beginian itu ff favorit saya! yang ada meninggal-meninggalnya pada endingnya. ffnya bagus dan kata katanya bagus. hebat lah

    December 18, 2013 at 12:41 pm

    • Aduh kita samaan kayaknya aku juga demen yang begini atau sad ending hwhw.

      Engga aku belom sehebat itu kok:-) thanks for read and comment♡

      December 18, 2013 at 5:08 pm

  29. thor tanggung jawab udah bikin aku nangis ;(( /ga
    ffnya keren thor walaupun sad ending.. tapi tetep bagus kok feelnya dapet banget. daebak’-‘)b

    December 19, 2013 at 3:18 pm

    • ga ini belom hebat aku masih ngerasa ada yang kurang:–(( tapi makasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak. love!♡

      December 19, 2013 at 7:40 pm

  30. Nia

    Aigooo sedih banget, napa sad ending, nangis bacanya#hiks.. Hiksss;(
    jiyeon eonni mati:(

    December 20, 2013 at 3:05 pm

    • ㅠㅠ

      thanks for read and comment! love♡

      December 20, 2013 at 4:09 pm

  31. Nia

    Aigooo sedih banget, napa sad ending, nangis bacanya#hiks.. Hiksss;(…jiyeon eonni mati:(

    December 20, 2013 at 3:12 pm

  32. tonia

    aku terharu banget..
    Jujur aku menangis membaca FF ini.
    Hiks..hiks..
    Aku terbawa dengan suasana FF ini..
    Jinjha daebak..
    Di tunggu ff selanjutnya…

    January 6, 2014 at 4:55 pm

    • /kasih tisu/ ini belom daebak tau-_- tapi makasih yaaa<3love!

      January 11, 2014 at 5:31 am

  33. shincaegyong

    huhuhu, sedihnya 😥

    saya sempaat nangis loh baca ff ini 😦

    kerenkeren (y)

    March 13, 2014 at 10:21 am

  34. yupue

    Gilaa ini ff bkin gue nangisss:'( feellnya dapet bnget :’) kerenn thorr!:’)

    April 15, 2014 at 9:32 am

  35. galuh

    ahhh nyeseekk bgt..

    April 1, 2015 at 1:14 pm

  36. Udah baca ini berkali kali tapi tetep aja nangis:”(

    June 28, 2015 at 11:41 pm

  37. niajoe

    Ud bnyk sekian kalinya ttp aja nyesek
    Benar2 jdi salah satu favorite ff ku..
    Hehe

    July 31, 2015 at 2:23 am

  38. waaa baru bacaaaa. huhu aku suka bgt ceritanya walau bikin nyesek banget bahkan sampe bikin nangis :””(( huhu

    July 16, 2016 at 12:55 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s