KIM MYUNGSOO FANFICTION

[Chaptered] Remember Me – Part 7A

Remember Me

REMEMBER ME

|Main cast: Kim Myungsoo (Infinite), Bae Sooji (Miss A)|Other cast: Jung Soojung (F(x)), Jang Wooyoung (2PM), Lee Jieun (IU), Lee Sungyeol (Infinite)|Genre: Drama, Angst/Sad, Romance, Fluff, Friendship, a little bit Comedy|Length: chaptered|Rating: General|

©Park Minrin

.

Ketika seseorang melupakan, sementara yang lain mengingat.

Previous: Short prolog | Prolog | Introduction Cast | Part 1 | Part 2 |Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6

.

Kita memiliki jadwal yang padat hari ini.

PART 7A : Incheon Memories

Angin dingin terasa menusuk kulit Myungsoo yang hanya dibalut oleh jas dan kemeja. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghangatkan diri sambil terus mengikuti gadis itu secara perlahan. Langkah gadis itu terlihat pasti terutama ketika ia telah menanggalkan heels-nya di ujung pantai. Dan ia sama sekali tidak melihat gadis itu gemetar, padahal gadis itu hanya mengenakan gaun panjang tanpa lengan!

“Waaah… sudah lama sekali!” seru Sooji kencang begitu melihat laut terhampar di sepanjang matanya.

Ya, Sooji-ya, apa yang sebenarnya akan kau lakukan di sini? Kau tidak kedinginan? Kita kembali ke hotel saja, kajja!” ajak Myungsoo yang berhenti di garis ujung pantai. Enggan melangkahkan kakinya lebih jauh.

Tapi gadis itu terus berjalan, tak menghiraukan seruan Myungsoo, gadis itu terus melangkah semakin mendekati laut.

Apa yang ia pikirkan? Batin Myungsoo.

Akhirnya mau tak mau, Myungsoo melangkahkan kakinya juga mendekati Sooji. Ia tak ingin gadis itu melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya sendiri. Dan Myungsoo semakin mempercepat langkahnya ketika gadis itu tiba-tiba menaiki sebuah batu karang yang condong ke laut dengan ombak-ombak ganas menghantam batu karang tersebut.

Ya, Sooji-ya, berbahaya, cepat turun!” seru Myungsoo yang kali ini mulai berlari mendekati Sooji ketika menyadari gadis itu sama sekali tidak mendengarnya.

Sooji berdiri tegak di atas batu karang tersebut dan merentangkan tangannya, menikmati hembusan angin kencang yang menerpanya. Myungsoo sampai di bawah batu karang tersebut dan bisa melihat Sooji tersenyum. Myungsoo menelan ludah. Apa yang akan terjadi jika tiba-tiba gadis itu kehilangan keseimbangannya?

Ya, Bae Sooji!”

“Myungsoo-ya, coba naik ke sini! Pemandangannya indah!” seru Sooji dari atas.

Myungsoo mendesah keras. “Ya, bodoh! Jangan berdiri di ujung seperti itu! Kau bisa jatuh!” seru nya lagi sembari berusaha menaiki batu karang itu.

Semakin ia naik, semakin keras ia mendengar dentuman ombak yang menghantam batu karang tersebut, membuatnya merinding. Satu langkah, dua langkah, lalu ketika Myungsoo menatap Sooji, tiba-tiba  pandangannya berubah.

Matahari yang bersinar tepat di atas matanya, membuat Myungsoo harus menyipitkan mata untuk menatap ke depan. Tapi ia masih bisa melihat dengan jelas. Ada seseorang di hadapannya. Seorang anak perempuan yang tengah mendaki batu karang yang cukup tinggi untuk ukuran mereka dengan bersemangat.

“Hati-hati! Nanti kau jatuh!” Myungsoo bisa mendengar dirinya berseru.

“Tenang saja, aku tidak akan jatuh!” balas anak perempuan itu.

Myungsoo masih berusaha menaiki batu karang tersebut, selangkah demi selangkah, akhirnya ia sampai di  puncak batu karang tersebut.

“Kau lama sekali, Kim Myungsoo!” protes anak perempuan itu yang tengah berdiri di ujung batu karang tersebut, menatap ombak-ombak kecil yang menghantam batu karang yang ia pijak. “Lihat ke sini, waaah… indah sekali! Kalau aku terjun ke bawah, bagaimana rasanya, ya?” ujar anak perempuan itu tanpa sadar.

Myungsoo segera bergerak cepat dan memegangi anak perempuan itu. Rasa takut yang teramat sangat menghantuinya. Takut jika sewaktu-waktu anak perempuan itu benar-benar melompat.

“Kau tidak boleh melompat!” seru Myungsoo.

Anak perempuan itu diam-diam tersenyum, “Jika aku melompat dan jatuh pun, aku tidak akan mati, kau tahu?” ujar anak perempuan itu lagi. Lalu anak perempuan itu menoleh sambil tersenyum menatap Myungsoo. “Karena kau akan menyelamatkanku,”

 

Kilasan itu pun berakhir dan tubuh Myungsoo terasa lemas. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu mendengar sebuah suara,

“Aku tidak akan ja—“

Ketika Myungsoo mendongak untuk menatap Sooji, Myungsoo melihat gadis itu kehilangan keseimbangan tubuhnya yang mulai condong ke laut. Dan tubuh Myungsoo bergetar, ia belum pernah merasa setakut ini. Dengan cepat, ia mendaki batu karang dan berlari menghampiri  Sooji secepat yang ia bisa. Tak ia hiraukan rasa sakit batu karang yang menusuk kakinya karena kurang hati-hati hingga berdarah. Yang ia tahu, ia harus menyelamatkan gadis itu. Tanpa ragu, ia meraih pinggang gadis itu dan memeluknya dengan kedua tangan. Badan Sooji pun kembali stabil setelah Myungsoo memeluk tubuh Sooji dari belakang, menghapus jarak diantara mereka. Napas keduanya sama-sama memburu. Setiap detik, Myungsoo semakin mengeratkan pelukannya seolah takut angin akan kembali menggoyahkan gadis itu.

Mereka terdiam selama beberapa menit sebelum akhirnya Sooji angkat bicara.

“Kim… Myungsoo,” ujarnya lirih.

Myungsoo menelan ludah, ia tak pernah merasa setakut ini sepanjang hidupnya. Ia tak tahu mengapa ia begitu ketakutan ketika ia berpikir ia bisa kehilangan Sooji. Ia pun tak tahu mengapa ia merasa marah di saat yang bersamaan. Seketika, ia tahu siapa anak perempuan yang tadi muncul di kilasan masa lalunya. Anak itu adalah Bae Sooji.

Myungsoo membuka mulut, mengatakan hal yang seharusnya ia katakan sejak dulu—jika kilasan itu benar-benar terjadi—ketika mereka masih kecil.

“Jangan… pernah… lakukan hal… seperti ini… lagi,” ujar Myungsoo tepat di telinga kanan Sooji, di antara napasnya yang tersengal-sengal.

-o0o-

 

Myungsoo kembali pada Sooji yang kini sedang duduk di pinggir pantai dengan jas hitamnya bertengger manis di bahunya. Memberi cukup kehangatan di pantai yang dingin itu. Meskipun dengan begitu, Myungsoo harus rela hanya memakai kemeja di badannya.

“Minumlah, kau tidak kedinginan?” ujar Myungsoo sambil memberikan segelas coklat panas pada Sooji sementara dirinya sendiri telah memegang satu gelas. Ia mengambil posisi di sebelah Sooji.

Gomawo,” ujar Sooji sambil mengambil gelas miliknya dari tangan Myungsoo.

Keheningan kembali menyapa mereka. Kini, mereka berdua berdiam diri sembari menatap lautan luas beberapa belas meter dari tempat mereka duduk. Ditemani oleh coklat panas dan taburan bintang, seharusnya malam itu bisa berlangsung indah seperti pesta pertunangan mereka beberapa jam yang lalu. Namun, karena insiden tadi, semuanya menguap hingga hanya ada rasa khawatir yang menggantung di udara yang mereka hirup.

“Maafkan aku soal yang tadi, aku tidak mendengarkanmu,” ujar Sooji memulai pembicaraan. “Dan terima kasih telah menyelamatkanku.”

“Apakah dulu kita pernah ke sini?” tanya Myungsoo tiba-tiba.

Sooji menoleh menatap Myungsoo dengan pandangan bingung, namun kemudian menjawab, “Pernah beberapa kali. Pantai ini adalah pantai tempat segala kenangan kita berlangsung. Banyak sekali kenangan kita di sini. Salah satunya batu karang itu. Terkadang, kita sering menghabiskan sore sambil duduk di sana dan menatap matahari terbenam. Meskipun kau awalnya menolak mentah-mentah untuk menghabiskan waktu di sana karena kau takut akan terjatuh ke laut, tapi akhirnya kau mau juga,” jelas Sooji.

“Dulu, saat pertama kali kita ke sini, aku sedang depresi sehingga aku terkadang tak bisa berpikir jernih. Saat pertama kali menemukan batu karang itu, aku sempat berpikir untuk terjun ke laut. Tapi kau mencegahku dan memegangiku erat sekali. Saat itu, aku dengan konyolnya berkata bahwa kau pasti akan menyelamatkanku jika aku terjatuh. Saat itu aku hanya bercanda, tapi aku tak menyangka bahwa kau benar-benar akan menyelamatkanku ketika aku akan jatuh dari karang itu tadi.” Lanjut Sooji.

Myungsoo terdiam. Matanya terus menatap Sooji.

“A-ah… maaf aku bicara yang aneh-aneh, aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu terkesan atau bagaimana, tapi karena waktu itu kau bilang kau minta bantuanku untuk membuatmu ingat kembali, jadi aku menceritakannya. Maaf jika kau menganggapnya tak terlalu penting—“

“Tidak apa, lanjutkan,” potong Myungsoo singkat.

“Apa?”

“Tidak apa, aku ingat bagian itu. Lanjutkan lagi, apa saja yang pernah kita lakukan di sini?”

Sooji tidak mengerti, namun ia tetap melanjutkan dan menjelaskan kejadian di setiap inci pantai yang telah mereka kunjungi bersama. Saat ketika Myungsoo menemukan sebuah kerang besar yang berakhir menjadi pajangan di rumahnya namun pecah berkeping-keping ketika ia bertengkar dengan Moonsoo saat kecil dulu, saat ketika Myungsoo mengajarinya diving untuk melihat keindahan bawah laut, membuat istana pasir bersama, berlari-lari bersama anak anjingnya—Mysoo—ketika binatang mungil itu masih ada, dan saat Myungsoo menghilangkan kalung pemberian salah seorang teman Sooji saat Sekolah Menengah—yang pindah ke Prancis yang mengatakan bahwa ketika ia bertemu dengan Sooji lagi, ia akan memperlakukan gadis itu dengan baik—dengan sengaja dan tanpa rasa bersalah hingga membuat Sooji menangis.

Tiba-tiba, sebuah suara terdengar memanggil-manggil Sooji dari belakang mereka. Ketika mereka berbalik, terlihat Wooyoung tengah  berlari menghampiri mereka sambil membawa sebuah mantel.

“Sooji-ya! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Wooyoung ketika ia telah sampai di dekat mereka sambil mendelik kesal pada Myungsoo.

Oppa? Maaf, tadi aku merasa ingin ke sini,” jawab Sooji.

“Tak apa, tapi setidaknya jangan berpakaian seperti ini,” Wooyoung menyampirkan mantel itu ke tubuh Sooji untuk memberinya kehangatan. “Kau tahu, di musim dingin ke pantai dengan pakaian seperti ini, kau bisa jatuh sakit.”

Ara, mian,” ujar Sooji lagi.

Tatapan Wooyoung beralih pada Myungsoo yang diam saja di samping Sooji. “Kau juga, sebagai seorang pria sekaligus tunangannya, bagaimana bisa kau membiarkan dia ke sini dengan baju seperti itu?” tanya Wooyoung sarkastik.

Myungsoo tak menjawab, ia malah balas menatap Wooyoung dingin.

“Aku yang memaksanya! Hajima, oppa,” ujar Sooji sambil berdiri diantara mereka berdua sebelum terjadi adu mulut lagi.

“Kalau begitu masuklah ke dalam, semua orang mencarimu—ehm, kalian berdua,” ujarnya setelah sebelumnya melirik Myungsoo selintas lalu memapah Sooji untuk mengikutinya.

Sebelum melangkah, Sooji menoleh ke belakang. Tanpa suara, ia mengisyaratkan Myungsoo untuk mengikutinya dan Myungsoo hanya mengangguk singkat sambil melambaikan sebelah tangannya. Sepeninggal Sooji dan Wooyoung. Ia berdiri dan menghembuskan napas. Ia tahu bahwa Wooyoung tidak menyukainya—itu sangat jelas jika mengingat kunjungannya tempo hari. Sepertinya Wooyoung masih belum mempercayainya. Ia mengerti.

Myungsoo menunduk menatap pasir pantai di kakinya yang telah berbalut sepatu sejak tadi. Ketika ia berputar, beberapa meter darinya, tergeletak sepatu high heels milik Sooji. Myungsoo menghela napas dan menunduk mengambil heels tersebut lalu membawanya.

-o0o-

 

“Oh, Kim Myungsoo!” Sungyeol melambaikan tangannya penuh semangat ketika melihat Myungsoo memasuki pintu hotel. Sungyeol kelihatannya hendak pulang, namun ia segera menundanya setelah melihat Myungsoo dan menghampirinya. “Ke mana saja, kau? Kau tidak ikut berpesta? Kukira kau menculik Sooji ke suatu tempat,” candanya.

Myungsoo hanya tersenyum menanggapi gurauan Sungyeol.

“Tapi ke mana Sooji?” tanya Sungyeol lagi. Ia menatap heels yang dibawa Myungsoo. “Kalian dari mana?”

“Kami ke pantai,” jawab Myungsoo.

“Pantai? Sedingin ini? Micheosseo? Suhu di luar saja hampir minus 5 derajat!”

“Aku tahu,”

“Lalu kenapa—“

“Karena dia menginginkannya. Aku tak bisa menolak.”

Sungyeol terdiam dengan kening berkerut. “Dia? Maksudmu Sooji? Ya, ada apa denganmu? Kau sepertinya mulai kembali menjadi Myungsoo yang kukenal. Seharusnya kau pulang lebih awal ke Korea! Tampaknya ingatanmu akan segera pulih!”

Myungsoo lagi-lagi hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Sungyeol.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus memenuhi jadwal untuk besok. Lain kali kita bertemu lagi. Oh, dan jaga Sooji baik-baik!” seru Sungyeol sambil berjalan menjauh dan Myungsoo hanya mengangguk.

“Ah, Lee Sungyeol!” tiba-tiba Myungsoo berseru. Pria itu segera mendekati Sungyeol yang telah berdiri di depan mobilnya.

“Ada apa?” tanya Sungyeol.

“Apa kau… mau membantuku?” ujar Myungsoo lirih.

-o0o-

 

Sooji baru saja berganti pakaian dan mandi di kamarnya ketika pesta telah berakhir beberapa belas menit yang lalu sebelum ia kembali ke hotel. Ia berjalan menuju meja rias dan menyisir rambutnya yang basah. Setelah membubuhkan beberapa pelembab dan krim pada wajahnya, ia terdiam. Ia menumpukan kedua sikunya ke atas meja dan kembali merentangkan tangan kirinya, dengan sebelah tangan menopang dagu, ia kembali memperhatikan cincin tunangannya tersebut. Cincin itu memang tidak terlalu mahal, tidak terlalu istimewa, tapi baginya cincin ini sudah lebih dari cukup. Cincin ini menandakan bahwa ia telah dipesan untuk menjadi milik seseorang. Dan perasaan itu tetap tak bisa diungkapkan dengan kata-kata hingga kini.

Bunyi bel dari depan pintu kamarnya membuyarkan segala pemikirannya. Dengan bingung, Sooji bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu lalu membukanya. Ketika pintu kamarnya terbuka, tak ada siapa pun di sana. Sooji merasa jengkel, di hotel bintang lima seperti ini, kenapa masih saja ada orang iseng yang mengganggu penghuni?

Baru  saja ia akan menutup kembali pintunya, tiba-tiba ia melihat sebuah benda asing tergeletak di samping pintunya. Sooji kembali membuka lebar pintunya dan keluar dari kamarnya ke tempat benda itu tergeletak. Melihatnya, Sooji tersenyum.

Sebuah high heels berwarna putih tergeletak di sana dengan sepucuk surat. Sooji baru ingat bahwa tadi, ia masuk ke dalam hotel bertelanjang kaki yang mengakibatkan ia terpaksa meminjam salah satu sepatu milik seorang staff hotel agar tak begitu memalukan. Sooji menunduk untuk mengambil heels itu beserta suratnya.

Ia pun kembali masuk ke dalam kamar hotelnya lalu duduk di tempat tidurnya setelah meletakkan high heels itu di bawah tempat tidur. Ia membuka surat dengan kertas berwarna hijau tadi.

Kau lupa sepatumu. Maaf karena aku tidak ikut masuk bersamamu. Maaf karena aku belum mengingatmu, aku akan berusaha keras untuk bisa mengingatmu lagi.

K.M.S

Sooji tersenyum. “Kenapa kau minta maaf, Kim Myungsoo?” gumamnya sambil tersenyum.

-o0o-

 

Kim Myungsoo masuk ke dalam kamar hotelnya dengan jalan yang terpincang-pincang meskipun ia sudah berusaha sebisa mungkin menyembunyikannya. Ketika ia melepas sepatunya, darah telah membasahi telapak kaki kirinya. Namun, Myungsoo terlihat tak merasa sakit. Pria itu pun segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci dan mengobati luka di kakinya. Setelah kakinya telah terbalut perban, Ia menghempaskan dirinya di sofa diiringi desahan keras. Kepalanya pusing dan badannya terasa lemas. Myungsoo melepas cincin perak di tangan kirinya dan meletakkannya di atas meja pendek di hadapannya. Ia mengamatinya lalu kembali mendesah keras sambil mengistirahatkan kepalanya ke sandaran sofa di belakangnya. Ia tidak tahu apakah pilihannya tepat, karena tentu saja menurutnya, ini salah. Ia telah menyukai orang lain. Tapi di sisi lain, ia ingin kembali mengingat masa lalunya dan apa yang terjadi padanya hingga ia bisa sedekat itu dengan Sooji? Ia ingin tahu semua hal itu.

Tapi apakah ini adalah cara yang tepat?

-o0o-

 Ketika pagi mulai datang di bumi Korea, ketika matahari bahkan belum muncul, ketika Myungsoo bahkan belum kembali dari dunia mimpinya, bel pintu di kamarnya berbunyi nyaring. Myungsoo mengerang. Ia menutup sebelah telinganya dengan bantal tidur, namun suara bel itu tidak mau berhenti. Ia berguling membelakangi pintu kamar dan menarik selimutnya sampai ke ujung kepala, mencoba untuk mengabaikan bunyi bel itu sekali lagi, namun suara itu tetap terdengar, dan tetap berbunyi nyaring.

Akhirnya Myungsoo menyerah. Setelah mengerang dan mengumpat pelan pada siapapun yang telah mengganggu waktu tidurnya, ia pun bangkit dari tempat tidur dan berjalan setengah sadar menuju pintu masuk kamar hotelnya. Ia membuka kunci pintunya dan pintunya pun menjeblak terbuka. Sebuah suara riang yang lembut namun dalam waktu yang bersamaan terdengar nyaring, segera memasuki indra pendengarannya dan membuatnya hampir terjengkang ke belakang akibat kaget—dan kesadarannya yang belum pulih.

“Pagi, Kim Myungsoo! Kenapa kau lama sekali membukakan—ya! Kau baru bangun?!” Sooji memekik kaget melihat Myungsoo di hadapannya seolah-olah sedang melihat hantu.

Myungsoo—dengan rambut acak-acakan, matanya yang enggan membuka, kaus oblong berwarna hitam dan celana training—menggaruk-garuk tengkuknya sambil menguap dan menatap Sooji dengan mata mengantuk yang disipitkan.

“Ada perlu apa kau datang pagi-pagi sekali? Matahari bahkan belum terbi—“ tanpa memberikan Myungsoo kesempatan untuk melanjutkan kata-katanya, gadis itu telah membalik tubuh Myungsoo dan mendorong pria itu menuju kamar mandi.

“Yang kau perlukan sekarang adalah mandi! Kita memiliki jadwal yang padat hari ini!” seru Sooji sambil mendorong tubuh tinggi besar milik Myungsoo.

Ya, apa maksudmu? Kita kan tidak sedang be—“

BLAM!

Pintu kamar mandi tertutup tepat di belakang Myungsoo. Pria itu segera mendapatkan kesadarannya kembali dan berbalik lalu memutar kenop pintu beberapa kali yang tak turut membuat pintu di hadapannya terbuka.

Ya, Bae Sooji!” seru Myungsoo.

Sooji tersenyum jahil di luar kamar mandi. Sebelah tangannya melempar-lemparkan sebuah kunci yang merupakan kunci kamar mandi. “Pokoknya kau mandi saja dulu, aku punya ide bagus untuk memulihkan ingatanmu,” ujar gadis itu. “Aku tidak akan membukakan pintu jika kau belum mandi. Jadi, mandilah dengan cepat, Kim Myungsoo,” sambungnya lagi sembari tersenyum senang.

Myungsoo berhenti berteriak dan menghela napas. Ia akhirnya menyerah dan memilih menuruti keinginan gadis itu.

Beberapa menit berlalu dengan keheningan yang menggelayuti langit-langit kamar hotel tersebut. Terdengar suara shower dimatikan. Setelah Myungsoo mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan memakai pakaian bekasnya terlebih dahulu—karena tak mungkin, bukan, ia keluar tanpa pakaian?—ia segera menghampiri daun pintu dan berteriak,

“Sooji-ya, bukakan pintu! Aku sudah selesai!” serunya.

“Sebentar!” balas Sooji dari luar.

Setelah beberapa menit, barulah terdengar suara kunci terbuka dan Myungsoo pun akhirnya bisa keluar dari kamar mandi itu. Myungsoo melihat Sooji tengah tersenyum ganjil padanya, dan ketika Myungsoo menatap sekeliling kamar hotelnya, keningnya mulai berkerut samar. Sungguh, terakhir kali ia meninggalkan kamar hotelnya—10 menit yang lalu—kamarnya masih seperti kapal pecah. Tapi lihat apa yang sekarang tersaji di hadapannya? Sebuah kamar bersih layaknya belum pernah dipakai. Baju-bajunya yang tersebar di sofa kini telah terlipat rapi di atas tempat tidur yang juga telah dibereskan. Terdapat sepiring sarapan di atas meja rendah di dekat sofa lengkap dengan susu vanilla dan segelas teh manis hangat.

“Kau membereskan ini semua?” tanya Myungsoo bingung.

Sooji hanya tersenyum. Ia kemudian kembali mendorong punggung Myungsoo hingga membuat pria itu berjalan menuju lemarinya.

“Sekarang, kau ganti dulu dan sarapanlah, aku akan menunggumu di restoran lantai dasar, eoh? Aku akan membawamu menuju ke tempat-tempat bersejarah selagi kita di sini. Kita bertemu lagi jam setengah 6, oke?!” seru Sooji bersemangat sambil mengacungkan jempolnya.

Myungsoo hanya bisa menatapnya heran. Sooji mendesah dan akhirnya menarik sebelah tangan Myungsoo kemudian mengaitkan kelingking tangan kanannya pada kelingking tangan kanan Myungsoo.

“Kau sudah berjanji,” ujar gadis itu kemudian. Ia melepaskan tangan Myungsoo lalu melambaikan tangannya sendiri. “Sampai jumpa jam setengah enam!” serunya sambil keluar dari kamar hotel Myungsoo.

Myungsoo hanya bisa menatap pintu yang baru saja menutup dan telapak tangannya yang terasa aneh. Sentuhan itu terasa seperti mimpi yang seolah-olah hanya sekejap, seperti dejavu, seperti sesuatu yang dikenalnya. Dulu. Pria itu kemudian menggeleng samar sambil tersenyum tipis. Lalu mulai membuka lemari pakaiannya.

“Bae Sooji… gadis macam apakah kau itu?” gumamnya pelan.

-o0o-

 

Sooji duduk di salah satu meja yang terletak di dekat pintu masuk restoran sembari menggenggam segelas coklat panas kesukaannya. Ia terlihat bersemangat—sangat bersemangat. Semalam, ia baru saja memikirkan ide ini. Ia akan membawa Myungsoo ke tempat-tempat yang dulu biasa mereka kunjungi. Pria itu sendiri yang bilang ingin mengingat masa lalunya, jadi pria itu tak bisa menolak lagi saat ia mengajaknya.

Sooji menghirup coklat panasnya dan meminumnya hingga beberapa teguk. Ia kemudian mengedarkan pandangannya keluar restoran—ia duduk menghadap jendela hingga bisa melihat keadaan di luar. Incheon adalah salah satu tempat yang dulu sering dikunjungi keluarganya dan keluarga Myungsoo. Selain karena cabang perusahaan mereka banyak terdapat di Incheon dan Gangnam—sementara keluarga Myungsoo di Busan, di sini banyak pula tempat-tempat liburan yang sengaja dibuat keluarganya. Ada pula beberapa saudaranya yang tinggal di sini, tapi Sooji tak begitu ingat sebab sudah lama ia tak mengunjungi mereka.

Incheon adalah satu dari beberapa tempat bagi mereka untuk menyimpan kenangan. Dan selagi mereka berada di sini, Sooji harus memanfaatkan hal ini untuk mengajak Myungsoo menelusuri masa lalu mereka.

Saking tidak sadarnya, Sooji bahkan tak melihat bayangan seseorang di belakangnya melalui kaca bening di depannya. Ketika sebuah tangan menepuk halus pundaknya, barulah gadis itu berjengit dan berbalik lalu tersenyum mendapati seorang Kim Myungsoo berdiri di belakangnya. Pria itu telah mengenakan pakaian yang pantas. Baju serba hitam—yang Sooji tahu merupakan warna favourite pria itu—serta syal abu-abu yang Sooji berikan padanya beberapa hari lalu—serta sebuah kamera digital yang menggantung di lehernya. Sooji tersenyum melihat Myungsoo lebih memilih memakai syal pemberiannya daripada membeli yang lain jika memang pria itu tidak memiliki syal lainnya. Namun Sooji sedikit menyesal tidak membuat syal itu sendiri.

“Kau sudah siap?” tanya Sooji.

Myungsoo memasukkan kedua telapak tangannya ke saku mantelnya. “Hmm,” balas Myungsoo singkat.

“Sudah sarapannya?” tanya Sooji.

Myungsoo mengangguk. Ia mengingat kala ia memakan sarapan yang disiapkan Sooji di kamarnya tadi.

Sooji tersenyum lalu meneguk habis coklat panasnya dan keluar dari kursi yang ia duduki lalu berdiri di samping Myungsoo. Ia menatap pria itu dengan pandangan berbinar-binar dan penuh harapan—yang Myungsoo takutkan tak bisa ia penuhi. Gadis itu lalu mengedikkan kepalanya ke arah pintu keluar.

Kajja,” ujarnya sambil berjalan menuju pintu keluar.

Tanpa menjawab, Myungsoo mengikutinya dari belakang.

-o0o-

 

Sooji yang berjalan di depan Myungsoo selama beberapa menit yang lalu, kini tiba-tiba berhenti, membuat Myungsoo yang mengikutinya pun turut menghentikan langkahnya. Sooji memutar tubuhnya ke Timur, menghadap pantai yang terhampar di sana. Ia melirik jam tangannya lalu berbalik menatap Myungsoo sembari tersenyum. Tanpa mengucapkan sepatah kata, gadis itu berdiri di samping Myungsoo—masih sambil menghadap ke Timur. Myungsoo mengikuti arah pandang gadis itu dengan bingung. Angin laut berhembus ke arah mereka, membuat Myungsoo harus merapatkan mantelnya, berbeda dengan Sooji yang malah santai-santai saja meskipun ujung hidung dan pipinya memerah.

“Sebentar lagi,” gumam gadis itu.

Myungsoo menoleh cepat ke arah Sooji sambil mengernyitkan kening.

“Sepuluh… sembilan… delapan… tujuh… enam… lima…,”

Myungsoo kembali mengalihkan pandangannya dari Sooji dan menatap hamparan laut di depan matanya. Semburat kekuningan mulai menghiasi langit di ujung lautan luas yang semula berwarna kelam.

“Empat… tiga…,”

Mata Myungsoo terbelalak. Awan-awan hitam yang semula melingkupi langit mulai menyingkir digantikan oleh warna biru yang masih samar dan juga sinar keemasan yang berasal dari sang surya yang baru saja kembali dari peristirahatannya. Sang surya terlihat malu-malu dan dengan perlahan mengintip dari balik lautan luas.

“Dua… satu…,”

Myungsoo menahan napas. Ia tak bisa mengungkapkan apa yang ia lihat dengan kata-kata. Indah. Hanya itu yang terpikir di benaknya. Seumur hidupnya, ia tak akan pernah melupakan fenomena alam seindah ini. Perlahan, tangannya terangkat mengambil sebuah kamera digital yang menggantung di lehernya—kamera professionalnya rusak beberapa bulan yang lalu, sehingga ia hanya bisa membawa kamera digital untuk mengabadikan sesuatu. Dengan tangan sedikit gemetar, Myungsoo mulai membidik pemandangan di hadapannya.

“Kini kau melihatnya,” ujar Sooji menginterupsi Myungsoo yang masih terkagum-kagum dengan pemandangan di hadapannya dan hasil jepretan kameranya. “Pemandangan matahari terbit yang mungkin pertama kalinya kau lihat di Korea,” sambung gadis itu.

Myungsoo mengalihkan tatapannya pada Sooji di sampingnya. “Apakah dulu kita juga sering melihat pemandangan matahari terbit seperti ini di sini?” tanyanya.

Sooji termenung sembari memutar kotak memori di otaknya. “Tidak, ini adalah pertama kalinya aku melihat matahari terbit bersamamu,”

Myungsoo terdiam. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada matahari yang telah benar-benar kembali ke angkasa dan menyinari dunia di sekitarnya. Perlahan, ujung bibirnya mengukir sebuah senyuman. “Begitu…,” gumamnya pelan. Ia tak tahu apa yang membuatnya merasa sesenang itu mendengar perkataan Sooji tadi.

Kajja,” ajak Sooji lagi.

“Ke mana? Aku belum selesai—“

Sooji tiba-tiba menarik sebelah lengan Myungsoo hingga membuat pria itu bergerak. “Kajja… masih banyak hal yang harus kita lakukan!”

-o0o-

 

Matahari kini sudah bersinar cukup terang untuk menerangi langkah mereka berdua. Juga cukup untuk membuat penglihatan tajam Myungsoo tertarik pada objek-objek pemandangan di sekitar mereka. Tangan Myungsoo sudah gatal ingin memotret pemandangan-pemandangan yang baru saja ia lihat, namun ia lupa ia tak membawa kamera profesionalnya karena rusak. Dan lagi, baterai kamera digitalnya ini tidak diisi penuh semalam lantaran ia tak tahu hal seperti ini akan terjadi—berjalan-jalan menelusuri Incheon di pagi hari.

  Pandangan Myungsoo kembali beralih ke depan, pada sosok Bae Sooji yang tengah berjalan dengan bersemangat sembari bersenandung kecil. Terkadang, tubuh gadis itu bergerak aneh seperti ikut menari dengan lagu yang ia senandungkan. Myungsoo menggeleng-gelengkan kepala, tidak menyangka bahwa gadis di hadapannya ini ternyata sepolos ini.

Ya, kau mau membawaku ke mana?” tanya Myungsoo, memecah keheningan diantara mereka berdua.

Sooji berbalik. Baru saja mulutnya membuka, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya dari kejauhan.

“Oh, apa itu kau, Sooji-ya?”

Sooji kembali berbalik membelakangi Myungsoo dan menatap seorang wanita paruh baya yang berada di depan pintu rumahnya dan baru saja memanggil namanya. Senyum terukir di bibir merah muda Sooji. Gadis itu berbalik singkat lalu kembali menarik sebelah tangan Myungsoo tanpa sempat menjawab pertanyaan pria itu, membuat pria itu tentu saja berontak.

Ya, apa-apaan? Kau mau membawaku ke mana lagi?” tanyanya penuh nada curiga.

Sooji mendengus. “Diamlah, Kim Myungsoo. Kukira ini adalah awal yang bagus untuk memulihkan ingatanmu,”

“Apa yang—“

Sebelum Myungsoo menyelesaikan umpatannya, Sooji telah menariknya dan membawanya menuju wanita paruh baya tadi.

Wanita paruh baya itu tersenyum lembut pada mereka begitu keduanya berada di hadapan wanita itu.

Annyeong haseyo, ahjumma,” sapa Sooji sopan sembari menunduk dan segera diikuti Myungsoo meskipun ia tidak tahu mengapa ia merasa harus mengikuti tingkah Sooji terhadap wanita paruh baya itu.

Aigo… sudah lama sekali, ya?” ujar wanita itu. “Sooji­-ya, bagaimana di Inggris? Dan Myungsoo-ya, kapan kau kembali? Kenapa kau tidak memberitahuku?”

Kening Myungsoo berkerut samar melihat pengetahuan wanita paruh baya ini terhadap mereka berdua. Ia hendak mengutarakan pertanyaan pada wanita itu, tapi segera diserobot Sooji.

“Kami kembali dalam waktu yang bersamaan, mungkin satu bulan yang lalu,” jawab gadis itu. “Inggris cukup baik, ahjumma, tapi tetap saja aku selalu merindukan Seoul. Oh, bagaimana dengan anak-anak? Apakah mereka belajar dengan baik ketika aku pergi? Sudah lama sekali… boleh aku mencoba mengajar mereka lagi?”

Kini Myungsoo benar-benar bingung hingga ia tak tahan untuk bertanya, “Kau pernah mengajar di sini?” tanya Myungsoo dengan nada yang benar-benar bingung.

Wanita paruh baya itu terkekeh melihat reaksi Myungsoo. “Ya, dia pernah mengajar di sini beberapa kali tiga tahun lalu sebelum ia pergi ke Inggris. Lucu sekali, dulu kalian yang selalu ikut belajar di sini, sekarang kalian yang mengajar. Kau mau ikut mencobanya, Myungsoo-ya?” tanya wanita itu lagi.

Sooji menoleh ke arah Myungsoo. “Anak-anak di sini sangat lucu! Mereka ramah-ramah, dan aku yakin mereka akan menyambutmu dengan baik. Ayolah… kau sudah lama tidak ke sini, bukan? Sekalian mengenang masa kecil kita di sini,” bujuk Sooji.

“Bukan begitu, tapi aku tidak punya bakat menga—“ Myungsoo berhenti ketika ia menatap mata Sooji yang tengah menatapnya balik dengan pandangan memelas. “Baiklah,” pria itu akhirnya mengalah dan Sooji pun mengembangkan senyum penuh kemenangan di bibirnya.

Wanita paruh baya itu masih tersenyum sambil menatap mereka. “Aigo, kalian lucu sekali. Sangat serasi. Apa kalian telah berpacaran?” tanya wanita itu.

Entah kenapa, disebut seperti itu membuat pipi Myungsoo terasa memanas. “Bukan seperti itu, kami hanya—“

“Kami telah bertunangan,” ujar Sooji santai.

Wanita itu juga Myungsoo, segera mendelik ke arahnya secepat kilat dan dengan bola mata yang dibesarkan secara berlebihan. Sementara yang ditatap hanya tersenyum manis lalu menarik tangan Myungsoo untuk memasuki rumah wanita paruh baya itu sembari berkata,

Ahjumma, sebelum kelas dimulai, apa ada yang bisa kami bantu?”

-o0o-

 

Myungsoo tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari sosok Sooji yang tengah menyusun meja-meja kecil di suatu ruangan tempat anak-anak yang tadi disebutkan Sooji belajar. Pria itu tak mengerti mengapa ia berada di sini, ia tak mengerti mengapa ia harus ikut mengajar, ia tak mengerti tentang kenangan mereka berdua di tempat ini dan terlebih, ia tak mengerti apa maksud Sooji yang tiba-tiba menyebutkan bahwa mereka telah bertunangan—meskipun itu benar—tapi maksudnya, ayolah, tunangan itu bukanlah sesuatu yang ‘nyata’ baginya. Karena menurutnya tunangan itu hanyalah sebagai formalitas hubungan kerja antara perusahaannya dengan perusahaan keluarga Bae. Ia tidak benar-benar menyukai gadis itu, bukan?

Meskipun begitu, ia pun tak mengerti mengapa ia tidak bisa membantah kata-kata gadis itu tadi.

“Dulu, kita berdua sering ke sini. Ketika kita masih kecil, tentunya. Setiap kita mengunjungi Incheon, tempat ini adalah salah satu destinasi utama kita. Di sini adalah tempat bagi beberapa anak-anak tidak mampu untuk menimba ilmu. Wanita tadi adalah pendirinya sekaligus pengajarnya. Meskipun sekarang sudah banyak pengajar-pengajar muda lainnya. Karena kita masih kecil dan selalu tertarik dengan dunia rakyat kelas bawah yang tak pernah kita temui, kita pun sering ke sini untuk sekedar bermain atau belajar bersama. Tiga tahun yang lalu, sebelum aku pergi ke Inggris, aku rutin menjadi pengajar di sini. Dan itu cukup menyenangkan, kau harus mencobanya!” jelas Sooji tanpa diminta.

Myungsoo terdiam, mencoba mencerna informasi yang diberikan Sooji pelan-pelan untuk dimasukkan kedalam otaknya dan ditambahkan ke dalam memori kosong dalam otaknya yang menghilang 6 tahun yang lalu.

“Dan soal tadi, maaf, aku tak bermaksud menyebarkan status baru kita. Aku tahu kau tidak akan menyukainya karena kau bahkan belum mengingatku, jadi aku—“

“Tidak apa-apa,” potong Myungsoo.

Sooji yang semula masih sibuk menyusun meja-meja kecil tempat anak-anak itu belajar, mendadak terdiam dan menatap pria itu dengan pandangan bingung dan kaget.

Myungsoo masih terlihat santai, satu persatu, ia memunguti mainan-mainan yang masih tercecer di lantai lalu memasukkannya ke dalam box. Setelah itu, barulah ia mengalihkan pandangannya pada Sooji.

“Tidak apa-apa. Aku tidak peduli tentang hal itu,” lanjut Myungsoo acuh.

Ketika Sooji hendak angkat bicara, tiba-tiba sebuah seruan ramah datang dari bagian dalam rumah. Seorang wanita paruh baya yang tadi mereka temui datang menghampiri mereka sembari menyajikan segelas teh manis hangat untuk mereka.

Aigo, kalian baik sekali. Aku jadi merasa sangat terbantu. Kalian akan menjadi calon orangtua yang baik kelak,” ujar wanita paruh baya itu.

Sooji segera menanggapi ucapan wanita itu dengan senyum sementara Myungsoo tetap tanpa ekspresi. Mereka berdua segera menyerbu segelas teh manis hangat tersebut dan meminumnya sampai habis untuk menghilangkan dahaga serta rasa dingin di tubuh mereka.

“Apa di musim dingin seperti ini anak-anak itu masih akan datang juga?” tanya Myungsoo.

“Tentu saja, di sini tidak ada liburan musim dingin atau musim panas. Jika mereka merasa ingin belajar, mereka akan datang. Jika tidak, kami pun sebagai pengajar akan mengerti.”

Myungsoo mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar penjelasan wanita paruh baya tadi sementara dirinya mendudukkan diri di atas salah satu kursi kecil terdekat. Sooji sedikit tertawa melihat sikap Myungsoo, namun tak berkomentar.

“Jika kalian sudah selesai, kalian boleh beristirahat atau berkeliling di sekitar sini untuk mengenang masa lalu—walaupun tak banyak yang bisa dikelilingi karena tamannya sangat sempit—tapi buatlah senyaman mungkin seperti di rumah sendiri sampai anak-anak tiba,” ujar wanita itu sembari membawa gelas-gelas kosong dari mereka dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua kembali.

Sooji menatap Myungsoo yang masih terdiam di kursi kecil sambil menatap sekeliling seolah-olah sedang mengingat sesuatu. Sooji tersenyum, ia lalu menepuk pundak pria itu beberapa kali hingga pria itu mengalihkan pandangannya padanya. Sooji mengedikkan kepalanya ke luar kelas—sebuah teras kecil yang biasa ada di setiap bangunan rumah tradisional Korea. Myungsoo menurut dan mengikuti gadis itu lalu duduk tepat di sebelah kanan gadis itu.

Setelah terdiam beberapa lama, Myungsoo akhirnya angkat bicara. “Jadi tujuanmu mengajakku jalan-jalan adalah ingin membantuku mengembalikan ingatanku?” tanya Myungsoo.

“Seperti itulah,” gumam Sooji pelan.

Myungsoo kembali terdiam. Bingung ingin berkata apa.

“Dulu, kita juga sering duduk-duduk di sini sambil melihat ayunan di bawah pohon itu atau sekedar menikmati udara bersih di sekitar sini,” jelas Sooji sambil menatap pada sebuah pohon besar di hadapan mereka.

Myungsoo ikut menatap ke arah yang ditunjuk Sooji. Sebuah pohon akasia besar berdiri anggun di depan mereka. Pohon tersebut memang telah menggugurkan semua daunnya, menyisakan ranting-ranting beserta dahan-dahan kokohnya. Meskipun salju masih belum datang, tapi tetap saja ketika Myungsoo menatap pohon itu, ada angin aneh yang berdesir kepada dirinya—atau dirinya saja yang merasakannya?

Tapi ada satu yang aneh. Tidak seperti kata Sooji, di pohon tersebut tidak terpasang sebuah ayunan.

“Ayunannya sudah dilepaskan beberapa tahun yang lalu,” terang Sooji seolah bisa membaca pikiran Myungsoo.

Myungsoo menarik napas sejenak lalu menatap pohon tersebut lekat-lekat. Siapa tahu saja ingatannya akan kembali, atau mungkin sebuah kilasan baru yang belum pernah muncul di benaknya selama ini.

Tawa anak kecil, decit ayunan dari tambang yang menggantung di dahan pohon, daun berguguran, aroma laut…

Myungsoo mendesah. Hanya itu yang muncul di benaknya, dan jujur saja, itu tak banyak membantu. Pria itu pun kemudian mengangkat kamera digitalnya lalu memotret pohon besar itu sebaik dan sedetil mungkin.

Sooji tiba-tiba mendesah keras hingga uap putih mengepul keluar dari mulutnya. “Kajja, sudah waktunya mengajar. Sebentar lagi jam 7 dan anak-anak pasti akan segera datang,” ujarnya lalu beranjak dari duduknya dan kembali masuk ke dalam ruangan yang dikatakannya sebagai kelas.

Berbanding terbalik dengan gadis itu, Myungsoo tak bergerak. Ia masih terpaku menatap pohon besar di hadapannya, seolah mencari sesuatu.

-o0o-

 

Benar saja, anak-anak itu tetap datang. Mereka datang dengan memakai mantel kumal milik masing-masing yang Myungsoo yakin tidak akan mampu menghangatkan mereka di musim dingin seperti ini. Beberapa bahkan mengenakan mantel kebesaran yang sepertinya adalah milik kakak atau orangtua mereka dulu. Melihatnya, Myungsoo sempat merasa prihatin, namun Sooji sudah mengingatkan padanya agar jangan mengasihani mereka, karena mereka tak suka perlakuan itu—gadis itu telah mencobanya ketika ia masih berada di tingkat Sekolah Menengah Atas.

Karena tak tahu apa yang harus ia lakukan, jadi Myungsoo hanya memperhatikan gerak-gerik Sooji dan wanita paruh baya, serta beberapa orang lainnya yang sibuk berada di dalam kelas, dari pojok kelas. Sesekali ia mengangkat kameranya dan mengabadikan momen-momen yang menurutnya menarik. Lalu ketika dirinya tengah membidik kameranya pada seorang anak yang terlihat asyik bermain sendirian di pojok ruangan, tiba-tiba dan tanpa diminta, sosok gadis itu turut masuk dalam bidikannya dan ikut terpotret, tepat ketika gadis itu tengah merunduk untuk berbicara dengan anak yang bermain sendirian itu. Myungsoo mendecakkan lidahnya kesal. Ia segera membuka foto yang baru saja ia ambil tadi dan berniat menghapusnya ketika tiba-tiba dirinya terdiam.

Foto itu memang bukan merupakan salah satu foto terbaik darinya, terlebih karena objeknya yang sederhana dan kameranya yang apa adanya. Namun, entah mengapa, ketika Sooji berada di dalamnya, semuanya terlihat menarik. Postur dan gerak-gerik gadis itu sangat sesuai dengan bidikan kamera. Terlebih paras polos dan cantik gadis itu. Saat itu, Myungsoo baru sadar bahwa ia tak pernah membidikkan kameranya pada Sooji. Ia tak mempunyai satu pun foto gadis itu. Dan ia baru sadar bahwa Sooji adalah salah satu objek yang bagus.

-o0o-

 

Sooji merasa senang, ia merasa terobati. Mengajar anak kecil memang selalu sukses mengembalikan mood-nya yang buruk—bukan berarti mood-nya tadi buruk. Ia juga senang melihat semangat belajar anak-anak kurang mampu ini. Baginya, di zaman modern seperti sekarang, semangat belajar anak-anak ini patut diacungi jempol.

Pandangan Sooji akhirnya teralih ke pojok kelas. Ia menatap Kim Myungsoo yang tengah membidikkan kameranya ke setiap sudut di kelas itu. Diam-diam, gadis itu tersenyum. Entah apa yang kembali membuatnya tenang—antara pria itu yang tak marah ketika ia pinta untuk menunggu di pojok kelas—karena pria itu menolak mengajar—atau karena pria itu yang tidak kabur saat ia tengah sibuk dengan anak-anak.

Sooji melirik jam tangannya yang hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh yang artinya waktu istirahat bagi anak-anak ini akan segera tiba. Ketika anak-anak tengah membereskan buku-buku mereka untuk menyambut datangnya jam istirahat, Sooji tiba-tiba maju ke depan kelas.

“Perhatian sebentar, adik-adik!” seru gadis  itu, mengalihkan pandangan seisi kelas padanya. “Sebelum istirahat tiba, aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian,” tambahnya.

Ketika Sooji mengalihkan pandangannya pada Myungsoo, pria itu tengah balas menatapnya dengan ekspresi kaget sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak untuk diperkenalkan. Tapi Sooji malah tersenyum dan berjalan mendekat. Pria itu sejak dulu tidak begitu menyukai perhatian, jika memperhatikannya sekarang, mungkin itu satu-satunya yang tidak berubah dari pria itu selain ketidakmampuannya di suhu yang terlalu panas dan terlalu dingin.

Tanpa meminta persetujuan dari pria itu, Sooji segera menarik sebelah tangan pria itu dan membawanya ke depan kelas. Anak-anak memperhatikan mereka berdua dengan antusias.

“Dia adalah Kim Myungsoo, dia—“

“Apa dia pacarmu, noona?” tanya seorang anak laki-laki yang duduk di barisan paling depan.

Sooji tertegun sejenak, lalu kemudian tertawa sementara Myungsoo terdiam namun diam-diam ia menelan ludah.

Eonni, dia pacarmu? Wah… tampan sekali! Aku ingin punya pacar seperti dia!” timpal seorang anak perempuan berambut keriting.

Lagi-lagi Sooji tertawa. Tapi tawanya berhenti ketika Myungsoo tiba-tiba menggenggam telapak tangan kirinya, lalu mengangkatnya sebatas bahu dan disandingkan dengan sebelah telapak tangan Myungsoo.

“Dia bukan pacarku lagi, tapi dia tunanganku,” ujar Myungsoo yang akhirnya buka suara.

Suara kasak-kusuk anak-anak itu semakin meriah. Ucapan-ucapan seperti ‘wah’ ‘jadi kalian akan menikah?’ dan ‘semoga kalian bahagia’ mengalir deras dari mulut anak-anak itu yang menjadi lebih antusias.

Sooji menatap pria itu bingung sementara Myungsoo menatap Sooji dengan sedikit senyum dan pandangan acuh sambil mengedikkan sebelah bahunya.

“Salam kenal, semuanya. Sekarang… siapa yang ingin bermain di luar?” tawar Myungsoo kelewat bersemangat, yang kembali menghasilkan kerutan samar di kening Sooji.

-o0o-

 

Myungsoo tidak tahu apa ini yang disebut dengan bermain. Karena sejujurnya, berlari-lari di tengah dingin sama sekali tidak menyenangkan. Setidaknya untuknya begitu. Tapi tetap saja ia mengikuti keinginan anak-anak yang menariknya ke sana ke mari dan mengikuti permainan mereka. Ketika akhirnya ia memiliki waktu luang, ia berdiri di samping Sooji yang hanya berdiri diam di pinggir taman dan menyaksikannya bermain dengan anak-anak sambil tersenyum.

“Kukira kau benci anak-anak,” ujar Sooji.

“Apakah dulu aku membenci anak-anak?” tanya Myungsoo.

“Tidak… kau sama sepertiku, kau menyukai mereka.”

Well, sepertinya satu hal itu masih tidak berubah. Ternyata tak seburuk yang kuduga.”

Sooji tertawa lalu mengangguk-anggukan kepalanya. “Ya, sepertinya yang satu itu tidak berubah.”

Myungsoo mengangkat kamera digitalnya lalu memotret beberapa aktifitas anak-anak itu lalu memeriksa fotonya dan tersenyum puas.

Noona!!!”

Sebuah teriakan sukses mengambil alih perhatian mereka berdua. Keduanya segera menolehkan kepala ke segala arah, mencari sumber suara dari seorang anak laki-laki yang cukup nyaring.

Noona! Hyung!” serunya lagi.

Setelah mengetahui letak sumber suara, keduanya bergegas mendekati anak kecil tersebut. Anak itu tengah berjongkok di tanah. Di hadapannya ada sebuah lubang kecil yang sepertinya ia buat sendiri. Di dalam lubang tersebut, ada sesuatu.

“Jooni-ya, ada apa?” tanya Sooji lembut sambil turut berjongkok di sebelah anak itu sementara Myungsoo berdiri di belakang keduanya.

“Aku tadi baru saja ingin mengubur mimpi-mimpiku di sini karena katanya mimpiku bisa jadi nyata kalau aku menguburnya di dalam tanah. Tapi ketika aku menggali, ada sesuatu di dalam tanah,” Tutur anak kecil itu.

Myungsoo akhirnya ikut berjongkok di depan anak itu sambil mengintip ke dalam lubang. Ia memasukkan tangannya ke lubang tersebut lalu agak berjengit ketika merasakan sesuatu yang kasar namun rata berada di dalam tanah. Dengan mudah, Myungsoo segera menariknya ke atas, memunculkan sebuah kotak lusuh yang mungkin telah dikubur bertahun-tahun lamanya.

“Oh, apakah itu mimpi orang lain yang dikubur di sini?” tanya anak itu setengah takjub.

Myungsoo membalik-balikkan kotak seukuran telapak tangan yang ada di genggamannya. Kotak ini benar-benar lusuh, dan modelnya pun sangat kuno—walaupun ia tak begitu bisa membedakan bagaimana kotak model baru dan model lama—seperti sudah disimpan di sana selama beberapa tahun. Myungsoo mengusapkan jemarinya ke permukaan kotak tersebut, mencoba membersihkan sisa-sisa tanah yang melekat di sana. Lalu jemarinya berhenti. Ia terdiam.

“Myungsoo-ya, ada apa?” tanya Sooji yang sadar bahwa Myungsoo termenung sambil menatap kotak di genggamannya.

Myungsoo mendongak menatap Sooji. “Apa aku pernah mengubur sesuatu di sini?” tanyanya.

Sooji mengerutkan kening sambil menggeleng. “Aku tidak tahu, kau tidak pernah bercerita padaku sebelumnya. Memang kenapa?”

Myungsoo menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Entah kenapa, mengatakannya saja rasanya sulit. Aneh.

“Karena di kotak ini, terdapat namaku di atasnya.” Ujar Myungsoo sambil menunjukkan sisi atas kotak yang sudah sedikit lebih bersih dari tanah karena dibersihkan Myungsoo. Mungkin karena usia kotak tersebut yang sudah tua, tulisan di atasnya terlihat samar. Namun jika diperhatikan dengan seksama, tulisan tersebut jelas-jelas membentuk sebuah nama dan tanggal lahir yang ditulis dengan tulisan anak kecil.

Kim Myungsoo

13/03/92

TO BE CONTINUED

Hai~

Maaf lagi-lagi aku ngepostnya jam seginian ._. tapi sumpah! aku bisanya emang jam seginian! 😦 mohon pengertiannya ya dari readers sekalian…Oke, part ini nelusurin tentang kenangan masa lalu Myungsoo dan Sooji di Incheon mumpung mereka masih ada di sana. Sebenernya, tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi di Incheon itu gak banyak, tapi walaupun sedikit, memorinya itu yang banyak. Dan kenapa aku ngasih nama part ini part 7A? Karena menurutku di part ini nggak ada konfliknya sama sekali. Ini bener-bener murni nelusurin masa lalu mereka. Warning! Alur lambat selambat-lambatnya! XD

Jadi, gimana menurut kalian? let me know, ya! Cukup isi kolom komentar. Gak maksa juga sih, cuma dianjurkan 🙂 apakah jelek? absurd? aneh? random? gak bisa dimengerti? aku maklum, kok, soalnya aku nulisnya juga pas lagi semrawut ._. terus aku juga selalu nerima kritik dan saran dari kalian. jangan malu-malu ya 😉

Oh dan terakhir, makasih buat readers yang udah setia baca fanfic ini sampe part ini. Kalau suatu saat publish fanfic ini terganggu/mandet, mohon maklum ya, soalnya aku udah kelas tiga SMA, jadi bisa main di dunia per-fanfic-an paling cuma sampe November/Desember nanti. Huhu… doakan agar aku mendapatkan yang terbaik ya 🙂

And… mind to RCL? 😀

Advertisements

81 responses

  1. apa myung mulai menerima suzymeski ingatannyablomkembali???
    ayo myung buka, maybe itu malah rahasia terbesarmu 🙂

    September 24, 2013 at 2:38 am

  2. SHS

    mimin, lanjutin ceritanya, saya kepo!!!

    September 26, 2013 at 12:18 pm

  3. pink_queen

    myungsoo~ah (sksd) terus gali ingatanmu, baik ingatan hati maupun ingatan otak. hati kamu pasti masih terdapat sisa sisa kenangan sama suzy kann ?? pasti bisa ngingat suzy dehhh….
    ffnya bikin main tebak tebakkan gimana cerita selanjutnya, bikin penasarann /.\
    lanjut lanjutt ^^9

    September 28, 2013 at 12:28 am

  4. asha listari

    Kotak apa itu ^^

    October 5, 2013 at 1:41 am

  5. pipit

    Makin penasaran sama critanya thor,,wahh smoga ff ini selesai sbelum author ujian biar author bsa focus ujian trus readers jga ga pnasaran he he,,stelah ujian comeback deh dgn ff myungzy Чƍ lbh daebakkk,,fighting thor 🙂

    October 6, 2013 at 6:27 pm

  6. lily

    Part yg membangunkan memori myungsoo.. Ternyata mrk banyak kenanGan… Dan myungsoo bener2 tidak ingat sama sekali.. Seandainya ingat pasti moment romantisnya udh terjadi… Lanjut ya thor

    November 4, 2013 at 2:44 pm

  7. reginadirk

    Sebenarnya myungsoo yg skrg udh pnya perasaan ke suzy apa blm yaa? Apa dia msh igt soojung ?

    November 19, 2013 at 2:58 pm

  8. rizkyaputri97

    FF nya gak lanjutkah?

    April 8, 2014 at 2:10 pm

  9. L dyaputri

    Thor ..koreksi lagi yaw ..hehe …pas wktu suzy di pantai trus wooyoung dteng dan marahin myung ..suzy bilang kajima ..seharusnya hajima thor ..klo kajima artinya jgn pergi ..nah klo hajima artinya berhenti ..hehe
    trus apa lagi ya tadi ?emm ah iya ..wktu suzy pagi” dteng ke kmar myung ..trus pas myung slesei mandi dan dia liat kamarnya udah rapii ..di sana bilang klo myung liat ada sepiring sarapan dan susu, juga teh …
    tapi knapa pas di restoran suzy msih nanya udh srapan apa blom ..pdahal dia yg nyiapin di kmar myung …klo emang sengaja dibuat suzy nanya gt ..sharusnya myung herannya bukan karna suzy tau sgalanya ttg dia yg gk bs ninggalin sarapan ..tapi heran krna suzy yg nyiapin sarapan masa dia lupa dan msih tnya ..hehe itu aja sih thor ..maap kbanyakan ngoceh …
    Sperti biasanya ..critanya kereen ..dan aku msih pnasaran pnyakit suzy apa ..zzz ditambah apa yg ada di dlem kotak yg dikubur myung ??haah si author bikin kpala aku pusing krna pnasaran

    June 7, 2014 at 2:44 pm

    • boleh boleeeh^^ oh iya bener hehehehe… edited~
      oh… itu maksudnya Suzy nanya apa dia udah habisin sarapannya yang dia siapin di kamarnya tadi… tapi kata2nya aneh ya._. edited~
      makasih koreksinyaaaa 😀
      yaaah jangan pusing doong~ ceritanya kan buat bikin orang seneng bukan pusing 😉

      June 11, 2014 at 3:14 am

  10. snowwhite679

    Itu kotak mimpi myungsoo.

    June 14, 2014 at 2:29 am

  11. ji

    apa isinya penasaran penasaran hehehe

    June 24, 2014 at 2:53 am

  12. kakashi

    wah ingatan myung perlahan muncul..
    apa yg dtulis myung di kotak itu y?

    June 24, 2014 at 3:14 pm

  13. bgs

    June 27, 2014 at 11:15 am

  14. dinii

    Wahh kotak apa tuh ? Apa jangan jangan itu kotak isinya tentang kenangan suzy sana myungsoo lagii , lankut ya thor 😉

    July 1, 2014 at 4:40 am

  15. gwen

    next thorr uh ga sabaran deh jadinya ;3

    July 2, 2014 at 5:18 am

  16. Myungzy140114

    seruuuuuu
    next 😀

    July 6, 2014 at 3:54 am

  17. Lim

    Njirrr nemu kotak yang isinya masa lalu. Gua nggak pernah ngubur kotak dalem tanah, pernahnya cuma ngubur kertas didalem tanah. Mungkin udah nggak ada wujudnya, tapi gua masih inget sama isi kertasnya. “Aku cinta kamu malik” hahahaha #curhat #abaikan

    October 6, 2014 at 3:25 am

  18. via

    pnasaran itu isinya apaannn wkwk

    October 10, 2014 at 2:32 pm

  19. bungairis

    kerenn makin keren ..

    April 4, 2015 at 5:06 pm

  20. huaaa…. penasarannnn…..
    apa isinya….??

    June 17, 2015 at 4:24 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s