KIM MYUNGSOO FANFICTION

[Chaptered] Remember Me – Part 2

Remember Me

REMEMBER ME

|Main cast: Kim Myungsoo (Infinite), Bae Sooji (Miss A)|Other cast: Jung Soojung (F(x)), Jang Wooyoung (2PM), Lee Jieun (IU), Lee Sungyeol (Infinite)|Genre: Drama, Angst/Sad, Romance, Fluff, Friendship, a little bit Comedy|Length: chaptered|Rating: General|

©Park Minrin

.

Ketika seseorang melupakan, sementara yang lain mengingat.

Previous: Short prolog | Prolog | Introduction Cast | Part 1

.

“Dia adalah cinta pertamaku.”

PART 2 : Hurt

“Tunggu!!!” kini Sooji menjerit. Membuat Myungsoo kembali menghentikan langkahnya dan dengan malas kembali berbalik, menatap Sooji seolah-olah gadis itu orang tidak berguna yang telah mengganggu waktunya.

“Ada apa lagi? Aku tidak punya banyak waktu,” ujar Myungsoo.

“Kau… benar-benar tidak mengingatku?” tanya Sooji.

Myungsoo mengernyitkan keningnya, memutar bola matanya, untuk setidaknya menemukan satu saja memori tentang gadis itu, namun nihil. Tidak ada yang bisa ia temukan. Jadi akhirnya ia menggeleng. “Aku benar-benar tidak tahu siapa kau. Aku tidak ingat pernah bertemu denganmu sebelumnya.”

Sooji menggigit bibirnya. Kepalan tangannya semakin mengerat. Ia menatap pria itu tajam, berusaha melihat setidaknya sedikit harapan bahwa pria itu sedang bercanda, atau ia berbohong dari kejauhan, namun tidak ada. Pria itu sepertinya memang tidak tahu siapa dirinya. Dan itu membuatnya marah sekaligus… bingung.

“Sudahlah, nanti ibu tanyakan pada Miss Kim,” ujar ibunya sambil mengelus-elus pundak Sooji lembut.

“Ada lagi yang ingin kalian katakan? Kalau tidak, aku permisi,” ujar Myungsoo lalu kembali berbalik.

Ya!!! Kau benar-benar tidak mengingatku! Apa yang salah denganmu?! Ya! Kim Myungsoo!!!” jerit Sooji, namun Myungsoo tak lagi berbalik. Pria itu malah memegangi telinga kirinya yang merasa sakit mendengar teriakan Sooji lalu masuk ke dalam rumah.

-o0o-

 

Kim Myungsoo benar-benar merasa keputusannya untuk memilih mengikuti keluarganya kembali ke Seoul adalah salah besar. Entah kenapa, saat ia baru saja sampai di bandara Incheon tadi, kepalanya terasa pusing dan untuk pertama kalinya pria itu merasakan bagaimana rasanya jetlag. Akhirnya, pria itu pun hanya bisa tertidur di sepanjang perjalanan menuju rumah lamanya. Sebenarnya ia tak ingat jelas dengan Seoul. Ia tak ingat di mana rumah lamanya, ia pun tak ingat seorang pun di sana, maka karena itu, awalnya ia menolak kembali ke Seoul. Ia takut merasa tidak nyaman. Namun orangtuanya memaksa dan karena ia pun ditugaskan ke Seoul untuk urusan pekerjaan, ia mengalah.

Setibanya di depan rumahnya, tidur Myungsoo harus diinterupsi oleh ibunya yang membangunkannya dengan kasar karena ia tak turut bangun. Begitu Myungsoo membuka mata, ia merasa berada di daerah yang sangat asing. Padahal kata ibunya, ini adalah tempat di mana Myungsoo tumbuh. Tapi entah kenapa, sejak ia menghentikan terapinya beberapa tahun lalu, ia tak mau lagi berusaha mengorek-ngorek ingatannya. Dan sekarang, ia semakin merasa asing di tanah kelahirannya sendiri.

Sebelum turun dari mobil, Myungsoo mengeluarkan ponselnya dan menyalakannya. Begitu terkejutnya ia mendapati ada sepuluh pesan masuk dan tujuh missed call yang semuanya berasal dari satu orang dalam kontaknya yang bernama Krystal.

Pria itu segera menghubungi orang bernama Krystal itu kembali lalu menempelkan ponselnya di telinga kanannya sementara ia menyandarkan kembali punggungnya pada sandaran kursi.

“Halo, Soojung? Maaf aku baru meneleponmu sekarang. Aku tadi tertidur di sepanjang perjalanan, rasanya lelah sekali sampai di sini.” Ujar Myungsoo di telepon. “Hmmm… semuanya masih tampak asing. Sepertinya akan sulit mengingat sesuatu di sini. Sama saja,” Lanjut Myungsoo.

“Apa? Sudahlah Soojung, jangan memaksaku seperti itu lagi. Jika ingatanku tidak kembali, tidak apa-apa. Tidak ada yang penting,”

Myungsoo menyipitkan matanya mendengar sesuatu yang dikatakan orang di seberang telepon. “Jung Soojung, jika kau meneleponku hanya karena kau peduli pada ingatanku dan bukan padaku, lebih baik tidak usah menghubungiku, aku tutup teleponnya, ya?” ancam Myungsoo ketus.

Soojung kembali berbicara. “Aku mengerti. Hmmm… aku akan segera melapor kepadamu jika aku mengingat sesuatu. Hm… bye,” Myungsoo pun memutuskan hubungan teleponnya dan kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya. Ia mendesah sejenak sambil bersandar pada sandaran kursi mobil.

Ada satu hal yang ia benci. Yaitu ketika orang-orang mulai memaksanya mengingat sesuatu yang tak bisa ia ingat. Ia benci hal itu. Menurutnya, tak ada yang penting di masa lalu, toh ia hidup untuk masa sekarang. Yang terpenting, ia bisa membuat memori-memori baru di masa depan, bukan? Ia tak seharusnya terus menoleh ke belakang.

Ah, dan sifat Soojung yang keras kepala itu juga terus mengganggunya. Walaupun Myungsoo menyukai gadis itu, namun sifatnya terkadang membuat Myungsoo gerah sendiri. Gadis itu terus mendesak Myungsoo untuk mengingat masa lalunya. Dan hal itu melelahkan.

Setelah dirinya merasa lebih rileks, Myungsoo pun mulai beranjak dan hendak keluar dari mobil ketika ujung kakinya menyentuh sesuatu yang keras yang tergeletak di lantai mobil. Ia kemudian kembali mendesah lebih keras dan memungut benda tersebut yang ternyata adalah sebuah kamera professional milik Myungsoo. Myungsoo pun keluar dari mobil sembari mencoba mengotak-atik kamera tersebut. Ia sempat melihat ibunya berbincang dengan seorang wanita paruh baya yang menempati rumah di sebelahnya, dan ia tak begitu menghiraukannya. Yang ia pikirkan sekarang adalah keadaan kameranya yang malang.

Myungsoo berprofesi sebagai fotografer. Entah fotografer untuk objek diam atau bergerak. Myungsoo sudah bekerja di berbagai tempat dan agensi. Ia pernah menjadi fotografer untuk mengisi majalah alam, ia pun pernah bekerja sebagai fotografer para model majalah. Kedatangannya ke Korea pun selain karena desakan orangtuanya dan Soojung, ia pun mendapat pekerjaan di sini selama beberapa dua musim sehingga ia pada akhirnya setuju untuk kembali.

Namun, mengingat kamera favoritnya yang malang itu tiba-tiba rusak, mood Myungsoo kembali jatuh ke bumi. Pria itu memakai topinya untuk menghindari sinar matahari yang agak menusuk lalu mulai mengutak-atik kameranya. Membidiknya ke sana ke mari, namun selalu ada yang salah dengan kameranya itu. Hingga pada akhirnya ia menyerah.

Myungsoo pun menggantungkan kamera itu di lehernya dan berjalan memasuki pagar rumah barunya. Ketika ia berjalan masuk, ia melihat beberapa orang turut memperhatikannya dari rumah sebelah—rumahnya dan rumah para tetangganya memang hanya dibatasi oleh tembok rendah yang memungkinkan masing-masing penghuni melihat halaman rumah satu sama lain—Myungsoo menyunggingkan senyum sopan pada mereka semua lalu melengos memasuki pelataran mewah rumah barunya. Baru saja satu langkah, ia mendengar seseorang berteriak padanya.

“Tunggu!”

Myungsoo berhenti melangkah lalu berbalik dan menatap beberapa orang dari rumah sebelah dan pandangannya bertemu dengan iris hitam milik seorang gadis cantik berambut panjang hitam, bermata besar, dan memiliki wajah yang proporsional. Jika ia tidak jatuh cinta pada Soojung dahulu, pastilah ia sudah jatuh cinta pada gadis itu.

“Ada apa?” tanya Myungsoo dengan kening berkerut.

“Apakah kau… Kim Myungsoo?” tanya gadis itu pelan dan hati-hati, namun Myungsoo bisa mendengarnya.

Bagaimana ia bisa tahu? Batin Myungsoo dalam hati. “Ya, aku Kim Myungsoo. Apakah kita pernah bertemu di suatu tempat?”

Setelah Myungsoo mengucapkan kata-kata itu, orang-orang yang berkumpul bersama gadis itu seolah-olah menyalurkan rasa simpati mereka pada si gadis dengan mengelus pundak gadis itu dan menatapnya seolah-olah ia orang aneh karena tidak mengenal gadis itu. Gadis itu pun menatapnya penuh perasaan… kecewa? Sedih? Tapi kenapa?

“Kau… tidak mengenal anakku?” tanya wanita paruh baya di samping gadis itu.

Myungsoo mengalihkan pandangannya pada wanita itu lalu kembali menatap gadis itu. Ia mengedikkan bahunya acuh. “Tidak ingat.”

Orang-orang itu kembali diam. Seolah-olah banyak hal yang ingin mereka katakan, namun mereka mencoba menahannya atau mereka terlalu sulit menemukan kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan mereka.

“Jika tidak ada yang mau kalian tanyakan lagi, aku akan masuk ke dalam,” ujar Myungsoo tidak sabar. Tanpa menunggu jawaban, pria itu kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya ke dalam. Belum tiga langkah, gadis itu sudah kembali memanggilnya. Kali ini, gadis itu menjerit. Jerit frustasi.

“Tunggu!!!”

Myungsoo menghela napas berat lalu kembali berbalik. “Ada apa lagi? Aku tidak punya banyak waktu,”

“Kau… benar-benar tidak mengingatku?”

Myungsoo mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan sungguh-sungguh dari gadis itu. Ia memutar bola matanya, mencoba mencari apa saja yang ada dalam ingatannya. Mungkin dalam ingatan masa lalunya. Namun nihil, ia tak menemukan satu pun ingatan tentang gadis itu. Jadi, setelah berpikir beberapa lama, ia menggeleng. “Aku benar-benar tidak tahu siapa kau. Aku tidak ingat pernah bertemu denganmu sebelumnya.”

Gadis itu kembali terdiam. Myungsoo tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu dan ia tidak mau tahu. Ia hanya melihat wanita paruh baya yang berada di sebelah gadis itu seperti mengatakan sesuatu, tapi gadis itu tak mengatakan apa-apa lagi.

“Ada lagi yang ingin kalian katakan? Kalau tidak, aku permisi,” ujar Myungsoo sambil kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya dengan sedikit jengkel karena waktu istirahatnya di dalam rumah terganggu.

Ya!!! Kau benar-benar tidak mengingatku! Apa yang salah denganmu?! Ya! Kim Myungsoo!!!” jerit gadis itu lagi. Kali ini, lebih memekakkan telinga. Namun Myungsoo tidak kembali berbalik seperti sebelumnya. Ia malah bersikap acuh dan terus masuk ke dalam rumah sambil sedikit mengorek-ngorek telinganya yang terasa sakit di tengah jetlag-nya yang belum sepenuhnya pulih.

Kenapa hari pertamanya di Korea harus seberat ini?

-o0o-

Sooji masih terpaku di tempatnya. Ia menatap pintu rumah keluarga Kim dengan pandangan putus asa. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Apakah itu adalah Kim Myungsoo yang lain? Bukan Kim Myungsoo yang dikenalnya? Tapi memangnya ada berapa Kim Myungsoo di dunia ini?

“Sudahlah, Sooji-ya…,” hibur ibunya sambil mengelus-elus punggungnya.

“Sooji-ya…,” lirih Jieun di samping kanannya. “Dia tidak akan keluar lagi. Ayo, kita masuk.”

Sooji hanya mengangguk kecil lalu kemudian menyambut uluran tangan Jieun yang menuntunnya memasuki rumahnya.

Jieun terlihat khawatir sementara Wooyoung terlihat kesal. Mungkin ia kesal karena perlakuan pria tadi yang menurutnya kurang sopan. Beberapa kali, Wooyoung mengumpat, terlebih melihat ekspresi Sooji yang terluka.

Eonni, kita ke kamar saja,” ujar Sooji yang akhirnya angkat bicara.

Jieun tersenyum. “Baiklah, kajja.”

Sesampainya Sooji, Jieun dan juga Wooyoung di kamar Sooji di lantai dua, Sooji segera duduk di atas kasurnya sambil mendesah pelan lalu tersenyum kecil, seolah-olah tidak mau memperlihatkan perasaan terlukanya pada semua orang. Namun Jieun dan Wooyoung terlalu lama mengenal Sooji, tentu saja mereka bisa mengetahuinya.

“Sooji-ya, sebenarnya… Myungsoo yang tadi itu… apakah Myungsoo yang ada di album fotomu tadi?” tanya Jieun hati-hati.

Sooji mengangguk. “Hm,”

“Boleh aku melihatnya?” pinta Wooyoung yang sedari tadi memilih diam.

“Tentu saja,” Sooji melangkahkan kakinya ke meja belajarnya dan mengambil sebuah buku yang cukup tebal di sana. Setelah itu, ia kembali duduk di kasurnya dan memberikan album fotonya pada Wooyoung karena ia tidak mau ikut melihatnya, cukup menyakitkan.

Wooyoung ikut duduk di atas tempat tidur Sooji diikuti Jieun yang duduk di sampingnya. Mereka mulai membuka lembar demi lembar album foto itu hingga mereka mencapai foto terakhir. Foto Sooji dan Kim Myungsoo saat SMP. Sooji terlihat masih mengenakan seragamnya, sementara Myungsoo mengenakan baju bebas. Mereka tersenyum ke arah kamera meskipun keduanya tampak tak rela. Dan background foto tersebut adalah di bandara.

Dari penampilannya, orang bodoh saja pasti tahu bahwa Kim Myungsoo yang tadi mereka lihat adalah Kim Myungsoo yang sama dengan di foto ini. Lalu kenapa pria itu bertingkah seolah-olah ia tidak mengenal Sooji? Apakah pria itu sedang mempermainkan Sooji?

“Di foto akhir… kalian berpisah?” tanya Wooyoung.

“Dia pindah ke Los Angeles,” jawab Sooji sambil menatap meja belajarnya kosong. Tiba-tiba hatinya terasa seperti ditusuk-tusuk lagi. Mengingatnya saja sudah menyakitkan.

“Sooji-ya, kalau boleh tahu… apakah hubungan kalian hanya sebatas teman? Maksudku…,” Jieun mengigit bibir bawahnya, kesulitan mengungkapkan pertanyaannya.

Hening sejenak, Jieun yang merasa pertanyaan itu terlalu pribadi, segera menyanggahnya,

“Ah, jika kau tidak mau menceritakannya tidak apa-apa, tidak usah diceritakan…,”

“Dia cinta pertamaku.” Ujar Sooji lirih, namun mampu didengar oleh Wooyoung dan Jieun. Diam-diam, air mata Sooji yang sedari tadi dibendungnya, akhirnya tak terbendung lagi.

-o0o-                                                                  

 

Kim Myungsoo menguap. Itu adalah kali kelimanya ia menguap sejak memasuki rumah barunya—yang katanya rumah lamanya—itu. Ia duduk di depan meja makan, menatap makanannya tanpa selera.

Hyung, jika kau lelah, kau bisa istirahat dulu,” ujar Moonsoo, adik laki-laki Myungsoo yang duduk di sampingnya.

Myungsoo mengibaskan tangannya. “Tapi aku juga tidak bisa membiarkan perutku kosong,” ujarnya.

Moonsoo hanya bisa mengedikkan bahu lalu kembali melahap makanannya. Sementara itu, Myungsoo mulai menyentuh makanannya meskipun ia terlihat hanya memainkannya saja dengan garpunya.

“Kim Myungsoo, ada apa?” tanya ibunya, merasa yakin anaknya ini memiliki masalah.

Myungsoo akhirnya meletakkan garpunya dan menatap ibunya dalam-dalam. “Ibu kenal dengan gadis yang tinggal di sebelah rumah kita?” tanyanya langsung.

Ibunya mengerjap beberapa kali sebelum menjawab. “Tentu… mereka sudah bertetangga lama dengan kita.”

“Tapi gadis itu aneh. Dia cantik, tapi aneh!” sembur Myungsoo. Dan tanpa disadarinya, Moonsoo mendelik tajam ke arahnya.

“Jangan bicara seperti itu. Dia adalah pasanganmu nanti,” ujar ayahnya kalem.

Pandangan Myungsoo beralih cepat ke arah ayahnya yang tengah duduk di ujung meja makan, memakan makanannya dengan penuh wibawa. Tanpa sadar, mulutnya membuka tanda tidak percaya.

“Maksud ayah, gadis itu akan dijodohkan denganku? Omong kosong macam apa ini?” Myungsoo menghempaskan punggungnya ke kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kami sudah merencanakan perjodohan kalian sejak dulu. Ini demi…,”

“Jadi alasan ayah dan ibu menyuruhku pulang hanya karena aku akan dijodohkan?” potong Myungsoo. Ia memajukan punggungnya ke depan. Kedua siku tangannya ditumpukan di atas meja sementara matanya menatap ayah dan ibunya tajam.

“Bukan itu, hanya saja, bertepatan… jadi…,”

“Sekalian saja?” Myungsoo kembali memotong perkataan ibunya. “Apa kalian tidak memikirkan perasaanku? Bagaimana jika aku sudah menyukai seseorang? Bagaimana jika aku tidak tertarik? Bagaimana jika aku membencinya?”

“Kau tidak mungkin membencinya, dia…,”

Hyung! Mengalahlah sekali saja!” kali ini Moonsoo yang sedari tadi diam, ikut bicara dan memotong perkataan ayahnya. “Ini juga demi keluarga kita. Kau tidak tahu keluarga kita hampir bangkrut? Tentu saja kau tidak tahu, kau terlalu sibuk dengan hobimu dan dunia luar hingga tidak memperhatikan keluarga sendiri.”

“Kalau begitu, kenapa bukan kau saja…,”

“Jika aku bisa akan kulakukan! Untuk apa aku mengambil jurusan bisnis jika bukan untuk meneruskan bisnis ayah? Tapi kaulah anak sulung keluarga ini! Sebelum perusahaan ini beralih padaku, kaulah yang akan mengambil alihnya lebih dulu!” seru Moonsoo, kehilangan kesabaran. Pandangan mata adiknya menusuk tepat ke manik mata Myungsoo. “Hyung, dia bukan gadis yang ada dipikiranmu. Dia itu gadis baik-baik, dia seseorang yang kau kenal di masa lalu. Seseorang yang sangat kau kenal.”

Myungsoo menggertakkan giginya diam-diam. Ia mendesah keras-keras. Lalu dengan sentakan cepat, ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ke kamarnya di lantai dua tanpa mengatakan apa pun lagi.

“Aku akan menyusulnya…,” gumam ibunya lalu beliau beranjak dari kursinya, namun ditahan oleh tangan suaminya. Dengan gerakan halus, pria itu menggeleng.

Moonsoo juga ikut menatap ibunya. “Hyung akan menerimanya, tenang saja,” ujar pria muda itu santai.

-o0o-

Myungsoo menghempaskan diri di atas tempat tidurnya. Ia merentangkan kedua tangannya sembari menatap langit-langit, lalu mendesah keras, seakan semua bebannya ikut keluar dalam satu hembusan napasnya itu, namun tak kunjung menghilang. Ia merasa kacau dan asing. Semua kondisi ini begitu aneh baginya. Padahal belum sehari ia berada di Seoul. Seharusnya ia tidak pulang saja sejak awal.

Pria itu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Ia mengetikkan nomor telepon seseorang yang telah dihapalnya, lalu meletakkan ponselnya di sampingnya, tak lupa menjadikannya mode loudspeaker sehingga ia tak perlu meletakkannya di dekat telinganya.

Pada dering kelima, seseorang menyahut dari seberang.

Kim Myungsoo?” sapa sebuah suara lembut dari seberang.

Eoh, Krystal,” sahut Myungsoo.

Jika kau memanggilku Krystal, pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Ada apa?

Myungsoo mengangkat ujung bibirnya. Gadis itu memang terlalu mengerti dirinya. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mendengar suaramu.”

Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa.”

Terdengar suara helaan napas dari seberang. Sepertinya gadis itu menyerah untuk memaksa Myungsoo mengaku. “Kalau begitu, mau kunyanyikan sebuah lagu?

-o0o-

 

“Kau sudah merasa lebih baik?” tanya Sangmoon, adik Sooji yang baru saja pulang dari universitas. Ia duduk di samping gadis itu dan terlihat khawatir, karena sedari tadi, kakak perempuannya yang biasanya ceria itu terlihat muram.

Sooji menyunggingkan seulas senyum lalu menggeleng. Mencoba meyakinkan orang-orang bahwa ia baik-baik saja. Padahal, sekali lihat saja, semua orang pasti tahu ada sesuatu yang terlihat salah dengan gadis itu.

Sore tadi, mood Sooji sedikit membaik kembali berkat hiburan kedua sahabat SMA-nya. Namun, malam ini, Wooyoung dan Jieun sudah kembali ke rumah masing-masing, mempersiapkan diri untuk hari yang melelahkan esok. Ya, besok adalah hari Senin, awal dari minggu yang sibuk. Dan besok pun, Sooji sudah harus bekerja di kantor barunya.

“Oh iya, Sooji, aku tidak tahu apakah kau keberatan atau tidak, tapi… kau akan dijodohkan,” ujar ibunya.

“Begitu? Boleh saja,” komentar Sooji singkat sambil melahap dessert-nya yang berupa puding strawberry.

Ibu dan ayahnya berpandangan. “Benar, tidak apa-apa?” tanya ayahnya.

Sooji mengangguk. “Terserah saja. Lagipula aku tidak sedang menyukai siapa-siapa sekarang ini.”

“Kau tidak mau tahu siapa yang akan dijodohkan denganmu?” tanya ibunya.

“Kurasa tidak perlu. Sebentar lagi pun aku akan bertemu dengannya, bukan?”

“A-ah… begitu…,” gumam ibunya. Sedikit gugup karena tidak biasanya Sooji tidak biasa dibujuk semudah ini. Masih jelas diingatannya saat teman masa kecilnya harus pindah jauh dan Sooji bersikeras ingin menyusulnya. Perlu waktu yang lama untuk mencegah gadis itu menyusul temannya itu. Saat gadis itu diterima di universitas di London pun sama, perlu waktu lama untuk membujuknya agar mau tinggal di kota metropolitan kelas dunia itu. Tapi untuk menentukan pasangan hidup, kenapa semudah ini?

Sooji tiba-tiba meletakkan sendoknya di atas meja, menimbulkan sebuah suara hentakan kecil. “Aku selesai,” ujar gadis itu sambil beranjak dan berlalu ke kamarnya. Meninggalkan kedua orangtuanya dan adiknya yang saling berpandangan.

Noona terlihat aneh. Apa ada yang terjadi?” tanya Sangmoon sambil menatap kedua orangtuanya.

Ayahnya mengangkat bahu, jelas-jelas tidak tahu apa yang terjadi, sementara ibunya beralih menatap gadis itu hingga ia menghilang dari pandangannya. Di bawah meja, wanita paruh baya itu meremas kedua telapak tangannya gugup.

-o0o-

Ketika tiba di kamarnya, gadis itu segera mengunci pintu kamar dan beralih menuju sebuah meja kecil di sebelah tempat tidurnya yang terdapat sebuah gelas yang penuh terisi air putih. Ia beruntung dulu dirinya selalu meminta ibunya menyimpan segelas air putih di kamarnya dan masih dilakukan hingga sekarang. Jika tidak, ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya. Perlahan, gadis itu membuka laci di meja itu lalu mengeluarkan sebuah tabung plastik kecil berwarna putih. Dari kemasannya, bisa dilihat bahwa itu adalah sebuah obat herbal khusus yang tak sembarangan orang bisa meminumnya. Namun di dalam tabung tersebut, obat herbal itu sudah diubah menjadi bentuk pil sehingga mudah dikonsumsi.

Sooji mengeluarkan sebutir pil lalu meminumnya dengan dibantu air putih. Setelah selesai, ia mendesah lega. Kemudian ia kembali memasukkan obat tersebut di laci mejanya, tepat di ujung lacinya, lalu ia mendudukkan diri di sisi tempat tidur. Banyak pikiran yang berkelebat di benaknya, namun ia sulit mengungkapkannya dengan kata-kata sehingga gadis itu hanya bisa diam dan menatap kosong ke arah jendela.

Kemudian gadis itu memukul pelan kepalanya sendiri. “Aku tidak boleh memikirkan hal-hal itu! Aku harusnya fokus memikirkan pekerjaanku besok! Ya, benar!” gumam gadis itu menyemangati diri sendiri.

Dengan pikiran itulah, baru gadis itu bisa tidur dengan nyenyak.

TO BE CONTINUED

 

A/N:

Halooooo~ akhirnya part 2-nya berhasil di publish juga. Koneksi internet di rumahku lagi jelek banget sih, jadi aja. Asalnya kalau gagal terus mau aku tunda perilisannya, eh… akhirnya bisa juga :”’)

So, gimana? XD Mungkin agak aneh (gatau kenapa) ._. Kritik dan saran yang membangun sangat ditunggu loh! Dan bagi yang bilang kalau ini kependekan, maaf banget… karena aku biasanya bikin satu chapter itu sekitar 10 lembaran–mungkin lebih. Dan tiap part di sini udah mentok banget berhentinya di situ. Jadi… ga ada pilihan lain selain men-cut-nya dan dilanjut di part selanjutnya. (ngerti ga aku ngomong apa? ._.)

Ngomong-ngomong, aku lagi kehilangan feel buat ngelanjutin FF ini… padahal udah sampe part 6 *bocoran* dan masih panjaaaaaang lanjutannya~ Aku lagi kena writer’s block yang selalu menjangkit kalau udah urusan tulis menulis kaya gini -_- jadi… aku minta semangatnya ya ^^ fighting!

Last, don’t forget to leave me some comments! 😉

95 responses

  1. snowwhite679

    Dibagian depan, cara menyampaikan ceritanya jujur, berantakan. Klo sudut pandang ketiga kan ceritain aja sisi pandang myungsoo dan sooji secara bersamaan, tidak perlu satu-satu. Tp aku tetep baca sampai end, karna myungzy shipperku lg kumat.

    June 3, 2014 at 5:05 am

  2. 2pmHottest

    daebak … ffnya keren …

    *myungzy_shipper

    June 7, 2014 at 6:11 am

  3. L dyaputri

    Aduh maapkan saya ya ..sbelum saya ngomen ttg critanya ..mau ngomen ttg kata” yg rada aneh bacanya ..dibagian suzy lg makan trus ortunya ngsih tau klo suzy dijodohin ..dan ada kalimat karena tidak biasanya suzy mudah dibujuk semudah itu …emm agak aneh aja sih thor ..hehe biar cocok kan sharusnya “tdk biasanya suzy bisa/mau dibujuk smudah itu” cuma saran sih thor ..maap klo sotoy .hehe
    urusan crita smpet pngen nangis thor ..tp ketahan gara” ada ortu ..hihii tp critanya emang sad ..and i like it ..keep fighting aja buat author 🙂

    June 7, 2014 at 11:00 am

    • gapapa koook malah aku seneng ada yang ngomen tentang kesalahan tulisan aku^^ hehehe iyaaa itu kesalahan aku lagiiii._. aku edit ya~
      waaaah jangan nangis dooong… ini belum klimaks koook~ wkwkwk
      iyaaaa makasih banyak yaaaa 😀

      June 11, 2014 at 3:04 am

  4. ji

    suzy sakit ternyata aigoo…

    June 23, 2014 at 11:25 pm

  5. bgs

    June 27, 2014 at 11:19 am

  6. dinii

    Aigoi suzy sakit apaa ?? Sampe minum obat herbal gitu ? Apa sakitnya parah ? Mudah mudahan engga deh ya . Lanjut yaa thor 😉

    July 1, 2014 at 1:57 am

  7. ikrari

    penasaran masa thor,suzy tuh sakit apaa?? 😦 next thor ^^

    July 1, 2014 at 4:00 am

  8. gwen

    suzy sakit apa thorr moga ga sad ending 😉

    July 2, 2014 at 3:44 am

  9. Myungzy140114

    kasihaan suzy /.\
    myungsoo hilang ingatan kah? :/ next ya

    July 6, 2014 at 2:00 am

  10. rere

    suzy sakit apa ya?
    nexxttt

    September 25, 2014 at 12:59 am

  11. via

    penasarannn

    October 10, 2014 at 11:18 am

  12. Aigoo, Myung udah lupain Suzy , skarang malh suka ama Krystal! Ckckck
    Suzy sakit apa? Kok pake minum obat sgala?

    December 2, 2014 at 3:32 pm

  13. bungairis

    Hadehh.. myung knp malah suka sama Krystal…
    kasian banget uri Suzy..

    April 4, 2015 at 2:26 pm

  14. rahmadani fitria

    Baru sich thor tapi aku ngak dapat feel nya di chapter ini thor terlalu datar thor menurut aku terima kasih author

    April 16, 2015 at 1:52 pm

  15. aigooo.
    kasian suzy???
    suzy sakit???

    May 30, 2015 at 6:33 am

  16. anin

    belum klimaks aja udah berasa feelnya,.semangat terus thor lanjutin ff ini.,
    walopun ada kesalahn penulisan di atas tp tetep bisa di mengerti ko.,
    keep fighting

    October 20, 2015 at 4:33 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s