KIM MYUNGSOO FANFICTION

[Chaptered] Remember Me – Part 1

Remember Me

REMEMBER ME

|Main cast: Kim Myungsoo (Infinite), Bae Sooji (Miss A)|Other cast: Jung Soojung (F(x)), Jang Wooyoung (2PM), Lee Jieun (IU), Lee Sungyeol (Infinite)|Genre: Drama, Angst, Romance, Fluff, a little bit Comedy|Length: chaptered|Rating: General|

©Park Minrin

.

Ketika seseorang melupakan, sementara yang lain mengingat.

Previous: Short prolog | Prolog | Introduction Cast

.

“Apakah kita pernah bertemu di suatu tempat?”

PART 1 : New Neighbor

Bae Sooji terbangun dari mimpi buruknya dengan napas yang terengah-engah seolah-olah baru saja berlari beratus-ratus meter. Ia menyambar segelas air putih yang tersedia di meja kecil di sebelah tempat tidurnya dan meneguknya sampai habis. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya lalu mencubit lengannya sendiri.

Ia sudah bangun.

Setelah itulah Sooji baru bisa bernapas dengan normal.

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, memunculkan sosok anggun ibunya yang telah berpakaian rapi. Mata Sooji kembali berkedip beberapa kali ketika melihat sosok ibunya.

“Bangunlah, ada Jieun di depan,” ujar ibunya.

Mata Sooji membesar. “Jieun eonni?!” ia segera berdiri lalu bergegas menuju kamar mandi di kamarnya. Jieun adalah salah satu sahabat dekatnya saat sekolah menengah atas. “Ah, bilang padanya untuk menunggu sebentar!” tambahnya sebelum masuk ke kamar mandi.

Ibunya yang melihat tingkah laku anak satu-satunya itu hanya bisa mengulum senyum lalu kembali menutup pintu kamar Sooji. Meninggalkan putrinya untuk bersiap-siap.

-o0o-

Sekejap kemudian, Sooji dan Jieun sudah kembali berada di kamar Sooji. Mereka tengah membereskan barang-barang Sooji yang baru saja diantar dari Inggris, tempat Sooji menimba ilmu selama 3 tahun.

Sooji mengambil beberapa buku dari kardus yang ada di bawahnya dan meletakkan buku-buku tersebut di rak buku kosong di hadapannya secara bergantian.

Eonni, bagaimana kabar paman? Apakah penyakitnya sudah sembuh selama aku berada di Inggris?” tanya Sooji.

“Apa? Oh… itu… ya… lumayan membaik,” sahut Jieun sambil tersenyum. Ia kembali berkutat memasukkan album foto Sooji selama di Inggris pada sebuah lemari. Ketika ia membuka lemari tersebut, ternyata lemari itu tidak kosong. Terdapat sebuah album foto usang di dalamnya. “Apa ini?” tanya Jieun sambil membawa keluar album tersebut.

Sooji menoleh ke arah Jieun, merasa sahabatnya itu menemukan sesuatu yang aneh. Dan ketika ia melihat album foto yang ada di tangan Jieun, gadis itu segera menghambur pada Jieun dan mengambil album foto tersebut sebelum Jieun sempat membukanya.

“Ini album fotoku ketika aku masih kecil…,” ujar Sooji sambil mengelus-elus sampul album foto yang sudah usang tersebut. Matanya berbinar takjub seakan tak percaya album ini masih ada.

“Benarkah? Aku ingin melihatnya!” seru Jieun bersemangat.

Sooji terkekeh. “Baiklah…,” ia pun duduk di sebelah Jieun. Punggung mereka berdua bersandar pada lemari kosong tadi. Sooji meletakkan album tersebut di pangkuannya dan mulai membuka lembar pertama album tersebut.

Lembar pertama, menampilkan satu buah foto close-up seorang anak perempuan dengan rambut diikat dua, tengah tersenyum lebar ke arah kamera. Itu Sooji.

“Kau berbeda sekali, Sooji…,” komentar Jieun takjub. Sooji hanya tertawa menanggapi komentar tersebut.

Lembar kedua pun dibuka, dan kini menampilkan foto close-up seorang anak laki-laki. Matanya sipit dan bibirnya tipis. Rambutnya dipotong pendek rapi berwarna hitam, dan ia tengah tersenyum manis ke arah kamera. Mendadak, Sooji tertegun. Potongan memori itu kembali ke benaknya setelah beberapa tahun.“Kau tidak berubah sama sekali.” Dan mengenang kata-kata itu, membuat hatinya sakit dilanda rasa rindu yang berlebihan.

“Siapa dia?” tanya Jieun yang tak menyadari Sooji yang mendadak terpekur menatap foto di pangkuannya. “Bae Sooji!”

Sooji mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali lalu tersenyum menatap Jieun, kemudian ia menatap kembali foto di pangkuannya. “Itu… Kim Myungsoo,”

Kening Jieun masih berkerut, menyatakan bahwa gadis itu masih menunggu penjelasan Sooji.

Sooji menghela napas sejenak sebelum kembali menjelaskan. “Dia adalah sahabatku ketika aku berada di Taman Kanak-kanak hingga Sekolah menengah. Sekarang, aku tidak tahu ia berada di mana. Kami berpisah saat aku di kelas dua sekolah menengah,” jelas Sooji sebelum Jieun sempat bertanya lagi.

Jieun akhirnya mengangguk-anggukan kepalanya lalu mengisyaratkan Sooji agar kembali membuka lembar berikutnya. Dengan agak ragu, Sooji pun membukanya. Dan foto itu menampilkan sepasang anak kecil kira-kira berumur 5 tahunan tengah berpegangan tangan sambil mengenakan seragam Taman Kanak-kanak. Yang perempuan, terlihat imut dengan bando di kepalanya sementara rambutnya terurai, sebelah tangannya terangkat seolah melambai ke arah kamera. Yang laki-laki, terlihat lucu dengan rambut tebalnya yang sedikit berlebihan, namun, anak laki-laki itu terlihat lebih menggemaskan, ia hanya mengangkat sebelah tangannya sedikit—sebatas bahu—seolah melambai, namun tak seekspresif Sooji kecil.

“Wah… lucunya…,”

Sooji tak lagi mendengarkan komentar-komentar Jieun ketika ia mulai membuka lembar demi lembar album foto tersebut. Ia pun tak begitu memperhatikan setiap foto yang ada. Hatinya terlalu sakit melihat itu semua. Seolah-olah seseorang memaksanya membuka kembali lukanya hingga menganga. Membuka kembali memori yang tak diinginkannya.

“Yap, sudah dulu… jika kita terus seperti ini, kapan kita selesai membereskan kamarku?” Sooji tiba-tiba menutup album foto tersebut, membuat Jieun mengeluh.

“Sebentar lagi saja, kita masih memiliki banyak waktu. Pekerjaanmu ‘kan dimulai besok.”

“Tidak bisa, kajja, eonni… kita harus selesai sekarang atau kita tidak akan mendapatkan makan siang!”

Aish… baiklah! Kau ini… seperti anak kecil saja!” Jieun menjitak pelan kepala Sooji lalu berdiri dari duduknya dan kembali bekerja sementara Sooji meringis kecil mendapat jitakan di kepalanya. Namun, dalam hati, ia lega ia tak harus membuka lebih banyak memori lamanya. Ia pun menyimpan album foto tersebut di atas meja belajarnya.

Eonni… apa yang bisa kubantu?”

-o0o-

“Sudah selesai?” tanya ibu Sooji ketika Sooji dan Jieun kembali ke lantai dasar.

“Sudah kami bereskan semuanya,” sahut Jieun.

“Aku dan Jieun eonni benar-benar tim yang hebat, bukan? Bisa membereskan berkardus-kardus barang dalam waktu singkat?” seru Sooji sambil mendekap Jieun. Jieun hanya tertawa mendengarnya, begitu pula ibu Sooji.

“Jika kalian sudah selesai, sana makan siang. Makanan sudah disiapkan!” lanjut ibu Sooji.

“Baik, eomonim,” ujar Jieun sambil menundukkan kepala singkat.

Belum sempat mereka beranjak, tiba-tiba terdengar suara bel pintu. Baru saja ibu Sooji hendak berjalan kembali ke arah pintu, Sooji telah menyelanya lebih dulu. “Biar aku saja,” ujar Sooji.

Sooji berjalan menuju pintu utama rumahnya dan menekan tombol interkom untuk melihat siapa yang baru saja menekan bel rumahnya. Begitu layar interkom menyala, mata Sooji berbinar.

“Sooji, ini aku!” seru seorang pria dengan senyum manisnya sambil mengangkat sebelah tangannya, seolah melambai.

Tanpa membuang waktu, Sooji menekan tombol untuk membuka pintu dan pintu pun terbuka. Sosok pria itu pun masuk ke dalam rumah.

“Wah… sudah lama sekali aku tidak ke sini,” komentarnya begitu kakinya menginjak lantai mewah rumah Sooji.

Oppa!” seru Sooji.

Pria itu menoleh dan tersenyum. Sooji menghampirinya dan berdiri di sampingnya. “Wah, wah… adik kecilku ternyata sudah besar, ya?” ujar pria itu sambil mengacak-acak rambut Sooji.

“Hentikan!” pinta Sooji sambil tersenyum, sudah lama sekali sejak ia merasakan momen-momen ini. Momen ketika ia berkumpul bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya.

“Bagaimana sekolahmu di Inggris? Ah… seharusnya bukan itu yang kutanyakan lebih dulu!” pria itu mengaitkan sebelah tangannya pada bahu Sooji lalu mengacungkan sebelah tangannya ke hadapan Sooji. “Mana oleh-olehku?”

Sooji hanya tertawa menanggapi tingkah laku pria tersebut. Sooji pun menepukkan sebelah tangannya pada tangan pria tersebut sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Setelahnya, ia melepaskan diri dari rangkulan pria itu dan menatap wajah pria itu, masih sambil tertawa jenaka.

“Itu! Oleh-oleh dariku,” seru Sooji.

Ya, kau!”

“Apa yang kalian lakukan? Makanannya sudah mau dingin!” seruan Jieun dari arah sekat menuju ruang makan, menyadarkan mereka untuk segera beranjak menuju ruang makan.

Sooji berlari ke ruang makan, takut akan tertangkap oleh pria tadi sementara pria tadi hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk tengkuknya.

Aigo… ternyata dia belum berubah,” komentarnya ketika sudah berada di dekat Jieun.

Jieun segera memukul lengan pria itu. Membuat pria itu berjengit kaget.

Ya! Ada apa?” seru pria itu.

Jieun hanya tersenyum manis. “Tidak. Aku hanya senang melihatmu lagi, Jang Wooyoung-ssi,” ujarnya.

Mata pria yang bernama Wooyoung itu membesar. “Apa-apaan itu? ‘ssi’? Sudah berapa tahun kita saling kenal, hei!” teriakan Wooyoung yang tak terima diberi julukan formal oleh Jieun, tak didengarkan oleh gadis itu. Alih-alih mendengarkan, gadis itu malah berlalu sebelum Wooyoung sempat protes. Meninggalkan Wooyoung sendirian sementara tersungging senyum tipis di wajah Jieun.

-o0o-

“Jadi, bagaimana Inggris?” tanya ibu Sooji ketika semua sudah berkumpul di meja makan kecuali ayah Sooji yang sedang berada di luar kota.

“Biasa saja,” sahut Sooji sambil melahap makanannya.

Ya, kenapa kau tidak menghubungi kami selama di sana? Kau tahu, kami selalu mengkhawatirkanmu di sini, kalau-kalau penyakitmu kambuh,” cerocos Wooyoung yang langsung mendapatkan jitakan halus dari Jieun yang duduk di sebelahnya.

Oppa, penyakitku sudah sembuh,” Sooji cemberut.

“Itu benar, Sooji baru saja pulang, jangan memusingkannya dengan pernyataan menuduh seperti itu!” seru Jieun.

“Aku hanya bertanya untuk jaga-jaga, lagipula aku ‘kan ingin selalu tahu apa yang adik kecilku lakukan.”

“Memangnya kau siapanya? Hingga berhak mengetahui segala yang dilakukan Sooji?”

“Aku kakaknya!”

“Bukan kakak kandung!”

“Itu karena aku menyukainya! Kau tahu sendiri berapa banyak aku menyukainya!”

“Sudah-sudah…,” lerai Sooji susah payah sambil sedikit tertawa sementara ibunya berdeham di sebelahnya. “Aku bukannya tidak ingin menghubungi kalian, aku hanya… sibuk. Ketat sekali di sana, hingga tak ada waktu sama sekali menghubungi kalian, mianhae oppa, eonni,”

“Sudahlah, Sooji, yang penting, kau tidak benar-benar melupakan kami, ‘kan? Biarkan saja pria aneh ini,” ujar Jieun sambil mendelik ke arah Wooyoung.

Wooyoung yang berada di sampingnya hanya bisa mendengus sebal lalu kembali melanjutkan makanannya.

Ah, omong-omong, aku ingin memberitahukan sesuatu pada kalian semua,” ujar Sooji tiba-tiba. Membuat seluruh perhatian tertuju ke arahnya. “Aku sudah mendapat pekerjaan!” serunya.

“Benarkah?! Selamat! Aku tahu, orang sepintar dirimu pasti akan cepat sukses di sini!” sorak Jieun.

Aigo… adik kecilku ini sudah dewasa, ya? Kukira kita akan lebih sering melewati waktu bersama setelah kau pulang, tapi sepertinya tidak bisa, ya? Kau pasti akan sibuk sepanjang hari. Fighting!” sahut Wooyoung, membuat Sooji tersenyum.

“Secepat itukah? Pekerjaan apa itu?” tanya Ibu Sooji lembut.

Sooji mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menunduk, seolah menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakan ini atau tidak, tapi… “Penata busana di sebuah perusahaan majalah fashion.” Ujar Sooji lantang.

Hening tiba-tiba melanda meja makan tersebut. Ia tahu, semua orang pasti terkejut mengapa ia memilih pekerjaan kecil seperti itu, namun, meskipun banyak tawaran lain padanya, bahkan tawaran dengan jabatan yang lebih tinggi, Sooji akan tetap memilih pekerjaan ini.

“Wah… kau… jjang!” komentar Wooyoung singkat sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.

Jieun segera menyikut perutnya setelah menyadari ekspresi wajah Ibu Sooji tampak tidak begitu baik. “Tapi Sooji, kenapa kau memilih pekerjaan itu? Kukira kau… bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih tinggi. Contohnya sebagai designer yang sebenarnya?” tanya Jieun, mewakili pertanyaan Ibu Sooji yang sudah berada di ujung lidah.

Sooji tersenyum simpul. “Itu karena… aku ingin belajar dari bawah. Bagaimana cara mengkombinasikan pakaian yang tersedia agar terlihat bagus dan sesuai dengan tema, baru aku bisa menciptakan tema dan gayaku sendiri di tingkat yang lebih tinggi.”

“Tak apa,” ucapan tiba-tiba Ibunya, membuat Sooji dan yang lain ikut menoleh menatap beliau. “Itu adalah keputusan Sooji, aku hanya bisa mendukungnya dan mendoakan yang terbaik, bukan begitu? Semangat, Sooji!” ucapan itu pun diakhiri dengan sebuah tepukan lembut di pundak Sooji.

“Terima kasih,” timpal Sooji.

-o0o-

“Aku selalu merindukan Korea,”

Jieun menoleh, menatap Sooji yang berdiri sambil memegang erat pagar balkon kamarnya. Matanya terpejam, ia menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia menikmati saat-saat ketika ia bisa kembali menghirup oksigen di Korea. Karena entah bagaimana cara mendeskripsikannya, oksigen di Korea terasa lebih ‘hidup’ daripada oksigen di Inggris. Lebih berbeda. Lebih hangat.

“Tidak terjadi apa pun di sana, bukan? Kau tidak disakiti lagi?” tanya Jieun hati-hati.

Sooji tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku merasa senang di sana. Tidak ada lagi yang mendiskriminasiku hanya karena aku anak seorang CEO, tidak ada lagi yang mendiskriminasi wajahku, tinggi tubuhku, aku senang. Tapi entah kenapa aku tetap merindukan Korea.”

“Jika ada seseorang yang menyakitimu lagi, katakan pada kami. Kami akan membantumu,” ujar Jieun lagi.

Tiba-tiba, sebuah tangan merangkul pundak kiri Sooji dan pundak kanan Jieun, lalu orang pemilik tangan tersebut muncul di tengah-tengah mereka.

“Tentu saja… kami akan menjagamu, jangan khawatir, aku tahu kau merasa khawatir setelah berada di sini,” ujar Woohyun.

Sooji tersenyum senang. “Ya, aku memiliki kalian,”

“Tentu saja!” kali ini, tangan Wooyoung melepaskan rangkulannya dari pundak Sooji. “Kita ini tim yang hebat, bukan?”

Ya, lepaskan tanganmu! Apa yang kau lakukan? Kau mencari-cari kesempatan, ya?” hardik Jieun sembari melepaskan lengan Wooyoung dari pundaknya.

Sooji yang sekali lagi melihat pertengkaran mereka hanya bisa tertawa. Jieun dan Wooyoung. Mereka mengingatkannya pada kartun Tom & Jerry. Tak bisa dipisahkan, namun selalu bertengkar di setiap kesempatan. Semakin lama Sooji memperhatikan mereka, semakin dalam pula ia menyadari perasaan rindu yang merasuk ke dalam jiwanya.

Karena tak kunjung mereda, Sooji mengalihkan pandangannya dari pasangan Jieun-Wooyoung dan kembali menatap ke luar balkon rumahnya. Saat itulah ia baru menyadari ada sebuah mobil berhenti di sebelah rumahnya. Tak lama, sebuah mobil pengangkut muatan pun berhenti di sebelah rumahnya. Sepertinya seseorang baru saja pindah ke sana.

“Oh, ada yang baru pindah?” tanya Sooji—lebih tepatnya berseru—sehingga mengalihkan pertengkaran Jieun dan Wooyoung dan membuat mereka ikut melihat ke bawah.

“Ah… benar… kau mau ke bawah? Menyapa tetangga barumu itu?” tanya Jieun.

Sooji tertegun sesaat. Ia merasa ada sesuatu yang dilupakannya, tapi apa?

“Sooji!”

“Oh? Ya, tentu saja! Ayo!”

-o0o-

Sooji menuruni tangga berletter S tersebut dengan penuh semangat. “Kuharap orangnya menyenangkan!” serunya.

“Mungkin ia pria tampan?” sambung Jieun.

Aish… aku tidak mengerti kenapa para gadis selalu tertarik dengan orang baru,” keluh Wooyoung.

Eomma!” panggil Sooji ketika ia berada di bawah. Ia hendak mengatakan ada seseorang yang baru pindah ke sebelah rumah mereka, dan ia ingin ibunya menyapa mereka juga, bukan hanya dirinya. Namun, tak ada jawaban dari mana pun, sehingga Sooji pun memutuskan untuk membuka pintu depan dan mendahului ibunya menyapa tetangga barunya itu. Namun, ketika ia membuka pintu, ibunya tampak tengah berbicara akrab dengan wanita paruh baya yang baru saja pindah ke sebelah rumah mereka. Sooji mendesah. Ternyata ia keduluan.

Eomma!” panggil Sooji sekali lagi. Ibunya berbalik, beliau tersenyum lalu mengisyaratkan Sooji untuk mendekat, diikuti oleh Jieun dan Wooyoung.

Di komplek mewah tempat kediaman keluarga Bae, letak antara satu rumah dengan rumah yang lain nyaris tanpa batas, hanya dibatasi oleh tembok pendek sehingga mereka bisa saling melihat halaman rumah masing-masing. Kecuali, jika ingin diubah agar menjadi lebih privasi. Dan untungnya, rumah Sooji tidak menerapkan hal itu, begitu pula rumah tetangganya, sehingga ia masih bisa melihat dengan jelas halaman rumah tetangganya yang kebanyakan diisi oleh pohon buah, berbeda dengan halaman rumahnya yang didominasi oleh tanaman bunga beraneka warna. Ia juga memperhatikan beberapa orang yang sibuk memindahkan barang-barang ke dalam.

“Ini anakku, Bae Sooji. Dan itu teman-temannya,” jelas Ibu Sooji ketika Sooji sudah berada di belakangnya, di samping sekat pendek antara rumahnya dan rumah tetangga barunya.

Sooji menundukkan badannya diikuti oleh Jieun dan Wooyoung.

Aigo… Sooji ternyata sudah dewasa, ya? Aku masih ingat sekali saat-saat ia masih sering bermain dengan Myungsoo. Rasanya seperti baru terjadi kemarin saja,” komentar wanita paruh baya yang berbicara dengan ibunya itu.

Sooji tertegun. “Anda… ibu Myungsoo?”

Wanita paruh baya itu menoleh. Keningnya berkerut. “Tentu saja. Kau sudah lupa? Aigo… anak zaman sekarang ini,”

“Maafkan dia, ingatannya memang lemah, lagipula sudah lama sekali kita tidak melihat satu sama lain, benar, ‘kan?” papar ibunya.

“Itu berarti… kalian sekeluarga kembali pindah ke sini?” tanya Sooji. Matanya berbinar penuh harap.

Wanita paruh baya itu tersenyum, memaklumi perkataan Sooji dan menjawab, “Ya, kami sekeluarga kembali dari Amerika.”

Sooji maju selangkah, kedua tangannya diletakkan di batas rendah antara rumahnya dan rumah tetangganya. Jantungnya berdebar-debar. Ia menelan ludah sebelum akhirnya berkata, “Jadi, Myungsoo ada di sini?”

Wanita paruh baya itu mengangguk. “Tentu saja.”

Tiba-tiba saja, Sooji seakan tidak bisa bernapas.

“Jika boleh permisi, saya harus kembali membantu di dalam rumah,” ujar wanita itu sambil menunduk sopan.

“Oh silahkan, silahkan,” sahut ibu Sooji sambil ikut menunduk singkat.

Sooji tampak ingin menanyakan sesuatu lagi pada wanita paruh baya itu, namun wanita itu terlanjur masuk ke dalam rumah. Sepeninggal wanita itu, Jieun dan Wooyoung segera mendekatinya dan menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.

Ya, siapa Myungsoo-Myungsoo yang kau katakan tadi itu?” tanya Wooyoung protektif.

“Dia teman masa kecilmu itu, ya? Yang ada di foto album?” tanya Jieun.

“Sooji, ayo kita masuk,” Ajak ibunya.

Sooji terdiam. Matanya diam-diam terus menatap ke satu arah. Sosok seorang pria yang sibuk dengan kamera profesionalnya dan terus menerus berdiri di luar pagar yang terbuka. Perawakannya yang tinggi, memudahkan Sooji melihat dengan jelas sosok pria itu. Tampaknya, pria itu sedang kesal pada kameranya.

“Bae Sooji…,” panggil ibunya sekali lagi, namun Sooji tetap tak bergeming.

Ia sibuk merasakan dentuman-dentuman menyenangkan di dalam dadanya ketika menyadari siapa pria yang berada di luar pagar.

Pria itu akhirnya tampak pasrah dan menggantungkan kamernya ke lehernya lalu masuk melalui pagar. Ia tak sengaja melihat kerumunan yang tengah menatapnya dan berasal dari rumah di sebelahnya. Tatapannya pun bertemu dengan tatapan Sooji. Dan ia hanya menyunggingkan senyum sopan sebelum akhirnya berlalu tanpa kata-kata.

“Tunggu!” seru Sooji. Dan seruan itu berhasil menghentikan pria itu tepat beberapa meter sebelum ia mencapai pintu. Pria itu berbalik, pandangannya kembali bertemu dengan milik Sooji.

Sooji mengamati paras pria itu baik-baik. Pria itu memiliki mata sipit, kulit putih, hidung mancung, bibir tipis, dan rambut yang tertata sempurna di balik topi yang dikenakannya. Tak salah lagi, dia adalah dia!

Cara berpakaian pria itu pun patut diacungi jempol. Terkesan modern dan sangat mengikuti mode terbaru. bagi orang-orang yang sekolah design sepertinya, cara berpakaian seseorang menentukan sifat orang tersebut. Dan melihat dari tampilan orang tersebut yang memakai pakaian yang didominasi warna hitam, pria itu terkesan misterius. Seperti memiliki sesuatu yang disembunyikan atau memiliki sifat yang berbeda dari ‘biasanya’. Sooji bisa merasakan hal itu.

Namun, ia juga merasa bahwa pria itu memiliki sisi hangat dibalik wajahnya yang dingin dan sorot matanya yang tajam. Entah dari mana Sooji mengetahuinya, ia hanya tahu. Karena ia merasa mengenal pria ini. Bukan hanya merasa, ia mengenal pria ini!

“Ada apa?” tanya pria itu. Keningnya berkerut menandakan rasa bingung tengah melandanya.

“Apakah kau… Kim Myungsoo?” tanya Sooji pelan, nyaris tak terdengar.

Namun pria itu bisa mendengarnya. Dan dengan gerakan ringan, ia menjawab. “Ya, aku Kim Myungsoo. Apakah kita pernah bertemu di suatu tempat?” tanyanya.

Saat itu, entah apa yang dirasakan Sooji. Kecewa, sedih, dan bingung datang nyaris bersamaan. Ibunya pun menatap pria bernama Kim Myungsoo itu dengan pandangan aneh, pun Jieun. Sementara Wooyoung sibuk mengelus-elus pundak Sooji yang dirasanya akan segera menangis.

“Kau… tidak mengenal anakku?” tanya Ibu Sooji.

Myungsoo menatap Sooji lalu mengedikkan bahu. “Tidak ingat.”

Sooji mengepalkan telapak tangannya, berusaha menahan amarah yang tiba-tiba menguasainya.

“Jika tidak ada yang mau kalian tanyakan lagi, aku akan masuk ke dalam,” ujar Myungsoo sambil menunduk singkat dan kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.

“Tunggu!!!” kini Sooji menjerit. Membuat Myungsoo kembali menghentikan langkahnya dan dengan malas kembali berbalik, menatap Sooji seolah-olah gadis itu orang tidak berguna yang telah mengganggu waktunya.

“Ada apa lagi? Aku tidak punya banyak waktu,” ujar Myungsoo.

“Kau… benar-benar tidak mengingatku?” tanya Sooji.

Myungsoo mengernyitkan keningnya, memutar bola matanya, untuk setidaknya menemukan satu saja memori tentang gadis itu, namun nihil. Tidak ada yang bisa ia temukan. Jadi akhirnya ia menggeleng. “Aku benar-benar tidak tahu siapa kau. Aku tidak ingat pernah bertemu denganmu sebelumnya.”

TO BE CONTINUED

Haaaaai readers yeoreobun~ sesuai janji, aku post part 1-nya hari ini ^^

Gimana? Gimana? Apakah mengecewakan? Maaf ya di sini Myungsoonya baru muncul pas akhir-akhir, karena aku ingin nyeritain tentang suzy-nya dulu ._. Jadi… apa pendapat kalian? Apakah terlalu membosankan? Or it’s not worth to wait? ._.

Kasih pendapat kalian ya di komentar 😉 Kritik dan saran juga sangaaaaaat di terima! Mau kritik pedas, manis, asin, pahit(?) semua diterima! Jadi ga usah ragu-ragu kalau ada yang ngeganjel di hati kalian… Just let me know! Terlebih karena ini FF Myungzy+angst pertama aku, jadi… begitulah. Kita di sini sama-sama belajar, kok 🙂 Eh, tapi ingat ya, pake bahasa yang sopan agar aku dan kalian sama-sama enak 😉

Terakhir… Selamat hari raya Idul Fitri bagi readers muslim sekalian ^^ Minal aidzin wal faidzin ya 😀

Advertisements

95 responses

  1. kereeeeeen…. Maaf Buat Suzy jika mYungsoo mmlupakanmu. mungkin waktunya habis memkirkan sya #Plak.
    hehehhe

    December 1, 2013 at 3:21 pm

  2. Mianova

    Suzy lemah ingatan ? Nah myungsoo ? Dia kok lupa sama suzy ?

    December 7, 2013 at 12:25 am

  3. Nurhasanah

    Eonni hai hai
    Aku reader baru disini 🙂

    Eon,, mian di part sebelumnya aku gak komen,, aku komennya dri part 1 aja ya kekke

    Itu knapa myungsoo bisa lupa babarblas ama bae,, ckckc
    Kasian bae

    March 16, 2014 at 10:49 pm

  4. snowwhite679

    sudah lama aku tidak membaca ff yang castnya wooyoung bareng jieun lagi.
    Mungkin karna part 1 jadi masih rada bingung.

    June 2, 2014 at 5:12 am

  5. 2pmHottest

    knp myungsoo ngak ingat sma suzy…

    June 7, 2014 at 5:53 am

  6. L dyaputri

    Thor ..sbelum aku ngomen ttg critanya ..aku pngen ngoreksi kata” yg aneh ..emm yg di awal” crita ..yg nyritain ttg foto album suzy wktu kecil ..di situ ditulis seorang anak perempuan diikat dua …yah jd brasa klo suzy yg diiket dua ..pdahal rambutnya kan ya ??hehe cuma mau ngingetin aja kog ..
    dan msalah critanya ..oke aku bner” sebel sama myung ..zzz
    wooyoung msih suka suzy ya ?dia siih ..bilangnya ky orang lg becanda ..gmna suzy mau prcaya :v
    hehe ffnya bagus thor ..kyanya konfliknya berat deh ..siap”in tisu kyaknya ..wkwk
    andai crita author ini dibikin novel dgn cast myungzy ..wuaah aku pasti beliiiii …

    June 7, 2014 at 10:31 am

    • Haaaai Dyaputriii aaaaa iya bener-bener! itu memang kesalahankuuuu ya ampun… maaf yaaaa hehe~ pantesan tiap dibaca ulang ada yang ganjil. udah aku edit ya… aduh jadi malu nih udah bikin pembaca ga nyaman._. *bow ke semua readers*
      tapi makasih bangeeeet udah mau koreksi^^ memang ini yang aku butuhin 😀 kalau kamu nemu(?) ada yang harus dikoreksi lagi, jangan ragu buat kasih tau aku ya 😉
      waaaah hmmm… berat ga ya~~~ kekeke~
      wuaaaah author masih punya banyak kekurangan dan masih harus banyak belajar buat bikin novel… kamu liat sendiri koreksi di atas hehe~ tapi itu emang salah satu ‘goal’ aku… doain aja ya^^
      Anyway, makasih bangeeet udah baca dan makasih banget koreksinya^^

      June 11, 2014 at 2:59 am

  7. ji

    aigoo pertemuan yang kurang baik….

    June 23, 2014 at 11:08 pm

  8. dinii

    Wahh baru part satu aja udah mau nangis begini thor 😥
    Koo myungsoo bisa gak inget sama suzy ya ?? Apa jgn jgn dia pernah kecelakaan lagi jadinua lupa sama suzy gituu
    Okee next ya thor 😉

    July 1, 2014 at 1:43 am

  9. ikrari

    annyeong thor ^^
    aigoo jieun ama wooyoung berantem mulu,awas nnti jd suka :p
    yaah,myungsoo kau knp gk inget sama sooji?hmmm
    next thor

    July 1, 2014 at 3:45 am

  10. gwen

    myung pasti hilang ingatan nih haha

    July 2, 2014 at 3:33 am

  11. Myungzy140114

    aaaa seru seruuu
    nah loh myungsoo knapa ga inget sma suzy :/
    next yaa

    July 6, 2014 at 1:41 am

  12. rere

    uwahhh
    daebak

    September 24, 2014 at 4:23 pm

  13. via

    myung lga inget sm suzy :(:(

    October 10, 2014 at 11:19 am

  14. Myung kok lupa pada Suzy? Suzy sudh pasti sedih! Dilupakan? Hehhh… Sakitny tuh d sini! 😦

    December 2, 2014 at 3:16 pm

  15. bungairis

    haaaaaa andweeeee… myung oppa, kau menyakiti hati Suzy eon..
    kenapa myung oppa gak inget Suzy Eon… 😦

    April 4, 2015 at 1:42 pm

  16. rahmadani fitria

    Wahhh myungsoo ngelupain suzy apa yg salah sama anak itu haduhhhh thor penasaran bingit

    April 16, 2015 at 11:55 am

  17. huaaaaaaaaaaaaa…..
    myung melupakan suzy????
    apa ada sesuatu di masa lalu yg membuat myung melupakan masalalunya???

    May 30, 2015 at 3:29 am

  18. anin

    annyeong thor..izin baca ne,,.
    wuah msh part 1 jd bnyak bnget pertanyaan yg mncul d kepala..
    knapa myung bsa lupa sama suzy.,apa ada sesuatu yg terjadi sebelumnya?

    October 20, 2015 at 4:00 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s